Anda di halaman 1dari 29

KEBIJAKAN PELAYANAN

KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Disampaikan pada Pertemuan Pengembangan Pelayanan


Kesehatan Dasar dan Rujukan
pada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat
di Padang, 12 – 13 Maret 2015

Sub Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut


Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
LANDASAN HUKUM

Landasan Landasan
UUD 1945 UU No 36 tahun 2009
Konstitusi Operasional tentang Kesehatan , pasal
Pasal 28 H 93 dan 94.
ayat 1 Pasal 93 :
‘‘Pelayanan kesehatan dilakukan
untuk memelihara derajat
kesehatan masyarakat dalam
“Setiap orang berhak bentuk peningkatan kesgilut,
hidup sejahtera lahir pencegahan penyakit gigi dan
mulut, pengobatan dan pemulihan
dan bathin, bertempat kesehatan gigi, dilakukan secara
tinggal dan terpadu, terintegrasi dan
mendapatkan berkesinambungan dalam bentuk
Permenkes yankes perseorangan, masyarkat
lingkungan hidup yang Yankesgilut dan usaha kesehatan gigi sekolah’’
baik dan sehat serta (dalam proses
berhak memperoleh pembahasan)
Peraturan per UU, Perpres,
pelayanan kesehatan” PP, Kepmenkes,
Permenkes terkait Yankes
Gigi dan |Mulut
KOMITMEN GLOBAL

Global Goals for Meminimalkan dampak penyakit mulut dan kraniofasial,


mengurangi dampak manifestasi oral penyakit
Oral Health 2020 sistemik dengan diagnosa dini, pencegahan & pengelolaan
(WHO, 2003) penyakit secara efektif

The Sixtieth World Rekomendasi untuk negara-negara anggota WHA


Health Assembly -menjamin kesgilut terintegrasi dengan program PTM, HIV Aids,
(WHA-60) Tahun 2007 -menjamin kebijakan nasional berdasarkan evidence base
- mengupayakan yankesgilut terintegrasi dengan PHC
-Memperkuat promotif preventif
-Meningkatkan kemampuan petugas
Oral Health South -Mengintegrasikan sistem informasi
East Asian Region -Memperkuat pengembangan riset
-Meningkatkan penyediaan anggaran
Strategic (WHO, 2007) -Memperkuat kemitraaan

Regional Oral Health Penyakit gigi dan mulut berpengaruh negatif terhadap produktifitas
Strategy, 2013 – 2020 kerja dan performa pendidikan, mempengaruhi tumbuh kembang
anak dan menrunkan kwalitas hidup, karies gigi diderita oleh
(WHO, Regional Office
60% - 90% anak sekolah dan penyakit gigi mulut terbanyak
South East Asia) di South East Asia

6
Dimensi Kesehatan dalam Pembangunan Nasional

Norma Pembangunan Nasional Kabinet Kerja


Membangun untuk Mewujudkan Memulihkan Mewujudkan
ppertumbuhan ekonomi, keseimbangan antar
manusia dan pembangunan sosial dan sektor, antar wilayah dan
perekonomian yang
masarakat ekologi yg berkelanjutan strata sosial inklusif

3 Dimensi Pembangunan Nasional

Dimensi Dimensi Dimensi


Pembangunan Pembangunan Pemerataan dan
Manusia Sektor Unggulan Kewilayahan
Kedaulatan pangan
Pendidikan Antar kelompok
Kedaulatan energi &
kelistrikan pendapatan
Kesehatan
Kemaritiman Antar kewilayahan
Ekonomi Pariwisata & Industri

Memerlukan kondisi
Kepastian dan penegakan Keamanan dan Kestabilan ekonomi, Tata kelola pemerintahan
hukum ketertiban masyarakat politik dan demokrasi yang baik dan RB
ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Arah kebijakan RPJM-K ke 1 2004-2009 RPJM-K ke 3


RPJP-K 2015-2024
RPJM-K ke 2 2010-2014
2005-2025
Akses masyarakat
terhadap pelayanan
Peningkatan Akses RPJM- K ke 3 2015-2019 kesehatan yang berkualitas
dan Mutu Pelayanan telah mulai mantap
Kesehatan
RPJM-K ke 4 2020-2024
Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Bidang Kesehatan (2005-2024)
Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan

RPJMN I
RPJMN II
RPJMN II RPJMN III RPJMN IV Indonesia Sehat
2005 -2009 2010-2014
2010 -2014 2015 - 2019 2020 - 2024

Universal
Coverage
Masyarakat
Upaya Kuratif
Sehat Yang
Mandiri Dan
Berkeadilan

Pendukung/penunjang
Menuju Indonesia Sehat

Penguatan Jaminan Kesehatan


Paradigma Sehat
Pelayanan Kesehatan Nasional
Program
Program Program
• Pembangunan berwawasan
kesehatan • Peningkatan Akses • Benefit
• Pengutamaan upaya • Peningkatan Mutu • Sistem pembiayaan: asuransi
promotif-preventif tanpa – azas gotong royong
• Regionalisasi Rujukan
mengabaikan kuratif- • Kendali Mutu dan Kendali
rehabilitatif Biaya
• Pemberdayaan masyarakat Indikator • Sasaran: PBI dan Non PBI
• Sinergi dan kemitraan • Jumlah Kecamatan yang
memiliki minimal 1
Puskesmas yang Tanda kepesertaan
terakreditasi KIS – Kartu BPJS
Indikator • Jumlah Kab/Kota yang
• Kota Sehat memiliki minimal 1 RSUD Indikator
yang terakreditasi
• Kecamatan Sehat Total coverage

7
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
dalam Perspektif KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
KESEHATAN

Kebijakan pembangunan Pengembangan dan Pengembangan dan


kesehatan untuk peningkatan pelayanan peningkatan pelayanan
memenuhi hak dasar kesehatan di semua strata kesgilut di semua strata
rakyat akan pelayanan pelayanan pelayanan adalah bagian
kesehatan • pelayanandalam bentuk yang tidak terpisahkn dari
pencegahan, peningkatan, upaya peningkatan akses
• Arah kebijakan pengobatan dan pemulihan yankes berkualitas
meningkatkan akses kesehatan perorangan,
masyarakat terhadap yankes • Peningkatan mutu
keluarga, kelompok pelayananyankesgilut
berkualitas
• Pengutamaan kepada perorangan, masyarakat dan
• Melalui pengembangan dan kelompok rentan dan
peningkatan yankes yang usaha kesehatan gigi di
jaminan pembiayaan sekolah
client oriented, aman, kesehatan kepada orang
bermutu dan terjangkau • Yankesgilut sesuai lingkup
miskin masalah kesgilut dengan
pendekatan life cycle
Arah Kebijakan
PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Yankesgilut
dengan
Optimalisasi pendekatan
Peningkatan Peningkatan Peningkatan
Peningkatan Pemenuhan PHC
dan Input, Proses akses dan mutu
dan dan pengembangan Regionalisasi
pengembangan pemerataan dan Output Yankesgilut di
sumber daya Pelayanan Yankesgilut di FKTP dan Rujukn
Upaya Kesehatan Gigi
Kesehatan upaya semua strata FKTRL Jaminan
kesehatan dan Mulut pelayanan Kesehatan
Kebijakan dan Strategi
Pelayanan secara berjenjang (level of care), menyeluruh, sesuai sumber daya yang ada

Pencegahan dan pengendalian penyakit serta penurunan prevalensi penyakit gigi dan mulut
dilakukan secara terintegrasi (integrated health approach)

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan dengan pendekatan Primary Oral Health Care

Tersedia payung hukum, norma, standar, prosedur dan kriteria yang mendukung pelayanan

Penguatan manajemen, sistem informasi, surveilans, monitoring evaluasi

Pemberdayaan masyarakat, sinergi dan kemitraan

Meningkatkan upaya promotif-preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif

Meningkatkan pelayanan kepada kelompok rentan dengan pendekatan life cycle

Mengutamakan kelompok rentan dan mendorong pemberdayaan masyarakat dan tenaga kesehatan

Mendorong pemenuhan sarana, prasarana, dana dan SDM yang mendukung pelayanan

Meningkatkan efisiensi dan efektifitas manajemen pelayanan kesehatan gigi dan mulut

Mendorong peningkatan kapasitas tenaga kesehatan gigi dan mulut

Mengembangkan dan mengoptimalkan sistem informasi kesehatan gigi dan mulut

12
KOMITMEN GLOBAL

Global Goals for Meminimalkan dampak penyakit mulut dan kraniofasial,


mengurangi dampak manifestasi oral penyakit
Oral Health 2020 sistemik dengan diagnosa dini, pencegahan & pengelolaan
(WHO, 2003) penyakit secara efektif

The Sixtieth World Rekomendasi untuk negara-negara anggota WHA


Health Assembly -menjamin kesgilut terintegrasi dengan program PTM, HIV Aids,
(WHA-60) Tahun 2007 menjamin kebijakan nasional berdasarkan evidence base
- mengupayakan yankesgilut terintegrasi dengan PHC
-Memperkuat promotif preventif
-Meningkatkan kemampuan petugas
Oral Health South -Mengintegrasikan sistem informasi
East Asian Region -Memperkuat pengembangan riset
-Meningkatkan penyediaan anggaran
Strategic (WHO, 2007) -Memperkuat kemitraaan

Regional Oral Health Penyakit gigi dan mulut berpengaruh negatif terhadap produktifitas
Strategy, 2013 – 2020 kerja dan performa pendidikan, mempengaruhi tumbuh kembang
anak dan menrunkan kwalitas hidup, karies gigi diderita oleh
(WHO, Regional Office
60% - 90% anak sekolah dan penyakit gigi mulut terbanyak
South East Asia) di South East Asia

6
KONSEPSI PENINGKATAN
PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT
DIMENSI
DIMENSI INTERMEDIASI DIMENSI
SUPPLY UKS, guru, DEMAND
- Ketersediaan Infrastruktur
PAUD -Kejelasan Sasaran
- Dukungan regulasi
Posyandu, - Kondisi Epidemi
- Dukungan Sarana- dukungan kader - Kejelasan target
- Dukungan Tenaga- lintas sektor, - Kesadaran Masy.
Dukungan kemitraan - Kondisi Geografis,
- Dukungan Peralatan- - Kondisi Sosial Ekonomi
- Dukungan Lintas program- dll
(disparity)

PENDUKUNG
Regulasi, Sumber Daya, Pembiayaan Kesehatan, Sistem Informasi
Indikator Output, M0nev/Supervisi,
Prinsip Dasar Penguatan
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

Implementasi
JKN

meningkatnya demand masyarakat


Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan mengacu
Penguatan

untuk mendapatkan yankes


dimulai dari Fasilitas
pada konsep “managed care”
Kesehatan Tingkat FKTP sebagai
yaitu keterpaduan antara
Pertama (Puskesmas, gate keeper
pelayanan kesehatan yang
Klinik Pratama,
bermutu dan pembiayaan yang
Praktik
terkendali
Dokter/Dokter Gigi
Didukung
Pelayanan kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif
penguatan
dan rehabilitatif dengan pola pembiayaan yang dapat
Yankesgilut
mengendalikan kenaikan biaya pelayanan dengan
di FKTP
prospectif payment dan pelayanan kesehatan berjenjang
sesuai kebutuhan medis
KERANGKA LOGIS PENGUATAN
PELAYANAN KESEHATANGIGI DAN MULUT

Penguatan input, Tenaga medis


RPJMN ke 3 proses dan output yang mampu dan
2015-2024 yankesgilut dan menguasai tata
Era JKN menetapkan visi laksana
yang akan dicapai ke komprehensif
depan suatu penyakit

yankesgilut yang multi beban


tidak memenuhi karies gigi
standar pelayanan

kuantitas dan dampak jangka panjang


kualitas SDM penyakit gigi dan mulut;
faktor resiko penyakit
kesgilut belum sistemik, penurunan
merata QoL dan kwalitas SDM
MULTI BEBAN KARIES GIGI
Beban karies gigi mengenai
seluruh aspek. Berbagai Beban
Penyakit
penelitian telah membuktikan,
karies gigi dapat
mempengaruhi produktivitas
kerja individu, performance
pendidikan, mengganggu
pertumbuhan dan
perkembangan anak KARIES Beban
Beban Ekonomi
dan menurunkan kualitas Kesehatan GIGI
hidup. Memicu atau
memparah beberapa penyakit
sistemik kronis, menimbulkan
beban kesehatan dan beban
ekonomi yang besar bagi
individu, keluarga, masyarakat Beban
dan sistem pelayanan Sosial
kesehatan.
KONDISI SAAT INI,
STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 013 adalah survey nasional yang mempresentasikan
pencapaian status kesehatan masyarakat, termasuk kesehatan gigi dan mulut di wilayah nasional, provinsi dan
kabupaten/kota. Data kesehatan gigi dan mulut dari ke dua survey ini menjadi base line data kondisi saat ini
status kesehatan gigi dan mulut, jangkauan pelayanan dan perilaku kesehatan gigi masyarakat Indonesia.

Pengalam Karies
Komponen DMF-T
Prevalens an karies Aktif
kelompok umur 12 Rerata
i pendudu pendudu Indeks tahun ke atas Indeks
masalah k k umur Angka DMF-T
SURVEY umur 12 12 tahun DMF-T
kesehata bebas umur
NASIONAL tahun ke ke atas umur 12
n gigi karies 12
atas tahun
dan tahun D-T M-T F-T keatas
mulut

RISKESDAS
2007
23,4% 67,2% 43,4% t.a.d 0,91 1,22 3,86 0,08 5,42

RISKESDAS
2013
25,9% 72,6% 53,7% 27,4 1,38 1,6 2,9 0,08 4,58

Sumber data Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2013


Riskesdas 2007 : Angka bebas karies : t.a.d = tidak ada data 20
26

PETA INDEKS DMF-T PROVINSI (RISKESDAS 2013)

NAD
4,0
3

Sumut
3,55 Kepri
Kaltim Gorontalo
Riau 4,87
4,57 4,30 Sulut
3,99 Malut
Kalbar 5,37
6,24 2,96
Sumbar P.Barat
Jambi
4,74 Sulteng 2,57
5,48 Kalteng Sulbar
Babel 5,59
5,03 5,52
8,46
Maluku Papua
Bengkulu Sumsel Kalsel 4,45 3,13
3,32 5,33 7,21
Sultra
Lampung Sulsel 4,25
DKI 5,96
4,47 Jateng
3,82
4,35 Jatim
Banten 5,45
3,67
Jabar NTB
4,14 3,00 NTT
DIY 3,21
Bali
5,98
tinggi > 4,5 4,14

sedang (2,7-4,4)

rendah (1,2-2,6)
INDEKS DMF-T KELOMPOK UMUR 12 TAHUN
Target WHO tahun 2010, indeks DMF-T anak usia 12 tahun ≤ 1, artinya kerusakan gigi pada
anak umur 12 tahun hanya 1 (satu) gigi.

29
EFFECTIVE MEDICAL DEMAND
Seseorang yang bermasalah gigi dan mulut seharusnya menerima
pengobatan/perawatan yang tepat dari tenaga medis gigi. Keterjangkauan atau
kemampuan penduduk mendapatkan pelayanan tenaga medis gigi (dokter gigi,
drg spesialis dan perawat gigi) dihitung sebagai Effectivie Medical Demand (EMD) .

25,9 %
bermasalah gigi
dan mulut

8,1%
Effective
Medical
Demand
(EMD)
31,1%
menerima
perawatan
tenaga
medis gigi

22
PERILAKU MENYIKAT GIGI PENDUDUK USIA ≥10 TAHUN

34
GAMBARAN KETERSEDIAAN FASYANKES DAN
TENAGA KESEHATAN GIGI DAN MULUT

KEBUTUHAN KONDISI SAAT INI


Jumlah
FASYANKES
(2014) DRG DRG Terapis DRG (PKM) DRG Terapis Gigi
Spesialis Gigi Spesialis

Puskesmas 9655 9655 - 9655 5091 - 5908


(PKM)

RUMAH SAKIT UMUM & SWASTA


A 56 224 392 616
B 309 927 927 1854

C 788 1576 788 2364


4846 1606 6436
D 461 461 - 461

Non Kelas 764 764 - 764

Total 2378 3952 2107 6059


JUMLAH DAN SEBARAN DOKTER GIGI DI
PUSKESMAS PER PROVINSI (Sumber BPPSDM Kes, Data Dit BUKD Tahun 2013

47
KETERSEDIAAN DOKTER GIGI DAN DOKTER GIGI SPESIALIS
(Sumber Data KKI dan BPPSDM Kesehatan 2013 – Nov 2014)

Dokter Gigi dan Drg Spesialis yang Telah Teregistrasi s.d. Desember 2013

Dokter Gigi Spesialis

Bedah Mulut &

Prosthodonsia
Maksilofasial

Orthodonsia
TOTAL

Periodonsia

Kedokteran
Konser vasi

Konservasi
Dokter Gigi

Gigi Anak

Radiologi
Penyakit
Mulut
Gigi

Gigi
307 306 514 537 64 152 288 14
26.780
24.598
2.182

Dokter Gigi yang didayagunakan sebagai SDM Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Tahun 2013 Tahun 2014

11.857 13.092

Kebijakan :
1. Permenkes 75 tahun 2014 tentang Puskesmas, 1 Puskesmas 1 dokter gigi
2. Formasi PTT tahun 2014 : 320, hanya terpenuhi 160  TIDAK TERPENUHI 160
3. Tugas belajar untuk drg spesialis (Bedah Mulut, Konservasi, Penyakit Mulut)
Gambaran Permasalahan
PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT

• Tidak
tersedia
SDM REGULASI/
Sarana- • Cakupan
Prasarana • Tidak ada
KEBIJAKAN indikator
sesuai alokasi pelayanan
standar • Disparitas khusus tidak
distribusi, • Kesgilut non
pengadaan program tercapai
proporsi alat,
tidak prioritas, tidak
operasional terakomodir
seimbang, dan
SARANA - tdk
dalam Renstra
maintenan daerah, tidak
PRASARANA merata ce di tegaskan OUTPUT
jenis& dalam Perda
kualitas DANA
GARIS BESAR KEBIJAKAN YANKES GIGI DAN MULUT

Peningkatan Akses dan Mutu Strategi Sasaran Program


Upaya pengendalian karies Penguatan Program Yankesgilut di
FKTP (UKP dan UKM) dan FKTRL
Pelayanan dengan pendekatan siklus
Visi Indonesia Bebas Karies
hidup (life cycle)
2030
Peningkatan cakupan output
Penyusunan indikator keberhasilan
yankes gigi dan mulut
Peningkatan kapasitas tenaga medis agar Penerapan Panduan Praktik Klinik
mampu tata laksana penyakit gigi dan (PPK) bagi dokter gigi di semua strata
mulut pelayanan kesgilut
Peningkatan kwalitas pencatatan Melaksanakan alur catat dan lapor
pelaporan dan rekam medik gigi kesgilut secara berjenjang
Meningkatnya yankes gigi dan
Melaksanakan sistem informasi yang mulut yang memenuhi standar
terintegrasi pelayanan kesehatan gigi dan
mulut di FKTP dan FKRTL
Melaksanakan rekam medik gigi
dengan odontogram
Penempatan petugas pengelola program
kab/kota dan prov
26

KR-BUKD- FEB 2015

Tahapan Pencapaian Target


Visi Indonesia Bebas Karies 2030
2030

2025 1. DMF – T 1,1


2. 100 % PUSKESMAS DGN
1. DMF – T 2,8 STANDAR PROG. KES.
2. 75 % PUSKESMAS DGN GILUT BAIK
STANDAR PROG. KES. 3. 100 % SD UKGS THP.III
GILUT BAIK
4. 100 % UKGM
2020 3. 75 % SD UKGS THP.III
4. 75 % UKGM
1. DMF – T 3,3
2. 50 % PUSKESMAS DGN
STANDAR PROG. KES. GILUT
BAIK
3. 50 % SD UKGS THP.III
4. 50 % UKGM
2015

1. DMF – T 4,5
2. 25% PUSKESMAS DGN
STANDAR PROG. KES.
GILUT BAIK
3. 25% SD UKGS THP.III
4. 25% UKGM DATA DASAR
(Base line)
KONSEP INDIKATOR KEBERHASILAN
PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT
Menuju Indonesia Bebas Karies 2030

KAB/KOTA
UKGS PUSKESMAS

1. ANAK YG DILAKUKAN UKGS UKGS


PENJARINGAN % SD. UKGS % SD. UKGS OPTIMAL
2. ANAK YG MENDAPAT OPTIMAL
PERAWATAN
UKGM
3. PENYULUHAN
UKGM % UKBM YG DIBINA
4. SIKAT GIGI BERSAMA
% UKBM YG DIBINA (POSYANDU & PAUD)
(POSYANDU &
PAUD) % PUSKESMAS
UKGM DENGAN
PELAYANAN KES. GIGI
1. ANAK YG DILAKUKAN PELAYANAN KES. & MULUT SESUAI
PENJARINGAN GILUT STANDAR
2. PENYULUHAN 1. PELAYANAN
3. SIKAT GIGI BERSAMA RUJUKAN DR % RS YG SESUAI
UKGS & UKGM DENGAN STANDAR
2. PELAYANAN PELAYANAN. KES.
GIGI UMUM GIGI & MULUT

MONEV PROG. YANKES


GIGI & MULUT
28

KEMENTERIAN
KESEHATAN,
POLRI,
AkKADEMISI,
Pelaksanaan Rekam Medik
“Odontogram”
PDGI, IKATAN
PROFESI (IPOFI, TUJUAN REKAM MEDIK :
PORMIKI) a. Sebagai sarana identifikasi
seseorang
PUSKESMAS b. Merupakan dokumen legal
yang dapat melindungi
dokter gigi maupun pasien.

RUMAH SAKIT
MANFAAT
a. Sebagai resume keadaan gigi DATA
dan mulut pasien baik untuk INDIVID
kepentingan pasien maupun
DRG rujukan. U
PRAKTIK b. Dasar perencanaan perawatan
SWASTA / kebutuhan alat/ bahan
& KLINIK kedokteran gigi melalui
perhitungan DMF/T
c. Sebagai bahan penelitian.
d. Sebagai sarana
identifikasi untuk
PELAKSANA melengkapi data ante
mortem

Kebijakan : 1. Apakah diperlukan regulasi khusus terkait bank data?


1. UU No.29 tentang Praktik Kedokteran, pasal 46 2. Apakah perlu Tim atau Organisasi khusus yang
2. Permenkes 269 tentang Rekam Medik, pasal 3 mengurus dental record?
3. Bagaimana cara mengatur praktik swasta dalam rekam
3. Manual rekam medik Konsil Kedokteran Indonesia
medik
29

KR-BUKD- FEB 2015


PERAN STAKEHOLDER DALAM KEBERHASILAN
PROGRAM KES. GIGI & MULUT

PROFESI

INSTITUSI
PENDIDIK
AN KKI

MASYARA PROG.
KAT YANKES LP/LS
MADANI
GILUT

KAB/KOT
PUSAT
A

PROVINSI