Anda di halaman 1dari 20

DIAGNOSIS DAN

PENATALAKSANAAN EKLAMSIA
PADA IBU HAMIL

ISALIN SILVANNY HOMER


10.2014.155
KELOMPOK D5
SKENARIO
Perempuan berusia 21 tahun, primigravida dibawa ke UGD karena kejang-kejang haid
SKENARIO
terakhir tgl 25 November 2016. tanggal dibawah ke UGD 26 Mei 2017.

Identifikasi istilah tidak diketahui tidak ada


ISTILAH

Perempuan berusia21 tahun, primigravida kejang-kejang, haid teratur , haid terakhir 25


RUMUSAN November 2016
MASALAH
MINDMAPING
RUMUSAN MASALAH

ANAMNESIS EPIDEMIOLOGI

PEMERIKSAAN FISIK MEDIKA MENTOSA

PEMERIKSAAN PENUNJANG NON-MEDIKA

WORKING DIAGNOSIS KOMPLIKASI

DEFFERENTIAL PROGNOSS
DIAGFNOSIS

ETIOLOGI PENCEGAHAN
ANAMNESIS HASIL ANAMNESIS
1. Keluhan : kejang sudah dari kapan ? Sudah pernah mengalami
ANAMNESIS
kejang sebelumnya ?
2. Riwayat penyakit sekarang : gejala apa yang menyertai mual,
muntah , sakit kepala, penglihatan kabur? Nyeri epigastrik ?
3. Anamnesis obstrektik umum :kapan hari terakhir menstruasi ?
Berapa lama siklusnya ?Teratur atau tidak ?sudah berapa bulan
kehamilannya?
4.Riwayat Obstretric dahulu
• Apakah pernah hamil sebelumnya ?berapa kali ? Apakah ada penyulit Wanita Usia 21
kehamilan sebelumnya ?
• Apakah pernah melahirkan sebelumnya? Berapa kali melahirkan ? tahun,primigravida, mengalami
Bagaimana cara melahirkan, apakah ada penyulit selama persalinan
sebelumnya ? Ada komplikasi persalinana sebelumnya ?
kejang-kejang ,haid teratur
• Apakah pernah mengalami abortus sebelumnya ? Berapa kali ? dengan usia getasi 26 minggu .
Mengapa terjadi ? Ada komplikasi akibat abortus ?
• Kondisi anak yang pernah dilahirkan, berat badan bayi saat lahir ,
umur bayi , keadaan bayi saat dilahirkan , keadaan anak sekarang ?
• Berapa kali keguguran ? Pada usia kehamilan keberapa?
6.Penyebab lain : apakah sebelum hamil memiliki riwayat hipertensi
epilepsi, pernah trauma kepala, riwayat kardiovaskular ?
7. Kebiasan mengkomsusi alkohol, merokok ?
PEMERIKSAN FISIK (1)

 Keadaan umum, kesadaran


 TTV :  Keadaan umum : sakit berat
 Pemeriksaan Fisik  Kesadaraan
1. Inspeksi : wajah, leher, dada, perut, vulva.  TTV : 180/120mmhg, n:90x/mnt
2.Palpasi : Leopold I-IV  PF : edem kaki tangan dan muka ( Udem
3.Perkusi anasarka)
4.Asukultasi : stetoskop fetal heart detect).
PEMERIKSAAN FISIK (2)
Tinggi fundus : usia kehamilan Posisi punggung di kiri/kanan Kepala udah masuk kerongga panggul

PEMERIKSAAN LEOPOLD
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN LABORATORIUM PEMERIKSAAN RADIOLOGI
 Pemeriksaan transabdominal USG ;
Darah rutin  Untuk memperkirakan umur kehamilan
 Melihat keadaan umum janin
 Urin  Melihat pertumbuhan janin, normal atau adakah kelainan, terutama plasenta
abruption yang dapat mempersulit eklampsia, oligohidramnion, atau

Fungsi Hepar pertumbuhan janin terhambat (PJT).


Pemeriksaan CT scan kepala dapat juga dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari
kejang pada pasien, misal menilai pendarahan intrakranial, perdarahan subarachnoid, atau
Fungsi Ginjal kecelakaan serebrovaskular

Albumin serum dan faktor Koagulasi

Hasil PP : Protenuria Dipstik +4


WORKING DIAGNOSIS

Berdasarkan hasil anamnesis ,pemeriksaan fisik , pemeriksaan penunjangan :


- Ibu hamil 21 tahun primigravida
- Terdapat kejang-kejang
- Tekanan darah 180/120 mmHg
- Terdapat udem anasarka
- Protein urin +3

WD : EKLAMSIA
PRE-EKLAMSIA RINGAN PRE-EKLAMSIA BERAT EPILEPSI
DEFFERENTIAL DIAGNOSIS
Defenisi : pre-eklamsia merupakan penyulit kehamilan yang akut. Pre-eklamsia ringan adalah
suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yg berakibat pada
Defenisi : preeklamsia berat ialah preeklamsia dengan tekana darah
sistolik ≥ 110 mgHg disertai proteinuria 5 g/24 jam .
Defenisi : epilepsy merupakan
kelainan serebral yang ditandai
vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel. dengan faktor predisposisi menetap
untuk mengalami kejang dan
terdapat konsekuensi neubiologis,
koginitif psikologis dan sosial
Diagnosis : diagnosis preeeklamsia ringan ditegakan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai Diagnosis: preeklamsia berat ditemukan satu atau lebih gejala Epidemilogi : Laki : perempuan –
proteinuria edema setelah kehamilan 20 minggu. berikut : 3,4%: 2,8%
- Hipertensi : sistolik/diastolic ≥140/90mmhg.kenaikan sistolik ≥ 30 mmhg dan kenaikan - Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekana darah diastolic 110
diastolic 15 mmhg tidak dipakai lagi kriteria preeklamsia. mmHg .
- Proteinuria ≥ 300 mg/24jam atau ≥ +1 dipstik. - Protenuira lebih 5g/24 jam atau 4+ kualitatif
Etiologi : hamper setengah dari
- Edema : edema local tidak dimasukan dalam kriteria preeklamsia, kecuali edema pada - Oliguria priduksi urin kurang dari 500cc kasus epilepsy idiopatik , beberapa
lengan, muka, perut , edema generalisata. - kenaikan kadar kreatinin plasma penyepap epilepsy yang dapat
- Gangguan visus serebral ditemukan adalah pengaruh
- PP: lakukan pemeriksaan hb,hematocrit, fungsi hati, urin lengkap, dan fungsi ginjal - Trombositopenia berat ≤100.000sel/mm genetuk, trauma kepala,kelainan
- Gangguan fungsi hepar medis (stroke, kelainan jantung)
- Sindrom HELP ( Hemolisis, Elevated Liver Enzym , Low Platetl
Count)
Manejemen umum preeklamsia ringan : pada setiap kehamilan disertai penyulit suatu Pembagian preklamsia berat menjadi : a. preeklamsia berat tanpa penunjang : radiiologi , ct scan ,
penyakit, maka selalu dipertanyakan bagaimana : impending dan b. preeklamsia berat dengan impending. MRI.
-sikap terhadap penyakitnya , pemberian obatan atau medikamentosa
-mau dipakah kehamilannya , apakaha kehamilan diteruskan sampai aterem ?atau apakah
kehamilan diakhiri (terminasi) ?

Tujuan utama perawatan preeklamsia : menjegah kejang, pendarahan intracranial,mencegah Perawatan dan pengobatan preeeklamsia berat:pengolahan Tatalaksana : obat lini pertama
gangguan fungsi organ vital dan melahirkan bayi sehat preeklamsia dan eklamsia mencakup pencegahan kejang,pengobatan untuk hipertensi karbamazepin,
hipertensi , cairan, pelayan suportif terhadap penyulit kehamilan. lamotrigin

Pengobatan : Pengobatan : segera masuk rs rawat inap , tirai baring satu sisi (kiri)
- banyak istirahat (tirai baring) -pengobatan cairan 5 RL/dextrose jlh tetes 125cc/jam atau Dextrose
- Diet yang megandung natrium 2gr atau 4-6 NaCL gram dapur sdh cukup 5%yang tiap 1liternya diselingidengan infus RL (60-125cc/24jam)
- Diet di berikan cukup protein, rendah karbohidrat, lemak garam secukupnya 500cc
- obat-obat diuretic, antihipertensi, -dipasangFoley Cather u/ hitung produksi urin < 30 cc/jam dalam 2-3
jam atau <500cc/jam
- Antisida u.cegah aspirasi lambung
- Pemberian MGSO4 (Diazepam, fenitoin)
- Antihipertensi (Nifedipin )
MANISFESTASI KLINIS
Eklamsia dapat terjadi saat antepartum, intrapartum atau postpartum
(48 jam postpartum).eklamsia paling sering terjadi pada trisemester
Terakhir dan semakin sering mendekati aterm. Ada 4 fase eklamsia :
1. Premonitory stage : gejala seperti preeklamsia berat

2. Tonic Stage : serangan kejang biasanya dimulai sekitarmulut dalam


Bentuk kedutan (Twitching) wajah. Setelah beberapa detik, seluruh tubuh
menjadi kaku dalam suatu kontraksi otot generalisata. Fase ini menetap
15 sampai 20 detik.

3. Clonic Stage : mendadak rahang mulai membuka dan menutup secara


kuat , dan segera diikuti oleh kelopak mata. Fase ini berlangsung selama
1 menit

4. Stage of coma : ia kemudian mengalami koma dan tidak akan


Mengingat serangan kejang tersebut maupun kejadian sesaat sebelum
Atau sesudah bangkitan kejang . Namun seiring waktu akan pulih .
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI
Adapaun teori-teori tersebut antara lain : Amerika Serikat
Kejadian eklamsia dilaporkan berkisar dari 1 dalam 2.000
1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan sampai 1 dalam 3.448 kehamilan di dunia Barat. Nilai ini
meningkat pada populasi sosial ekonomi rendah, pada
2. Peran Faktor Imunologis wanita lebih muda dari 20 tahun, kehamilan multifetal, dan
pada mereka tanpa antenatal care.
3. Peran Genetik/Familial
4. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron
Sytem (RAAS) Internasional
Diperkirakan, eklamsia terjadi 10% dari kehamilan yang
dipengaruhi oleh hipertensi di seluruh dunia. Kira-kira
setengah dari semua gangguan kehamilan hipertensi
disebabkan preeklamsi.
Mortalitas / Morbiditas
• Preeklampsia-eklampsia tingkat fatalitas kasus adalah sekitar 6,4 kasus per 10.000 kasus saat melahirkan.
• 75 % terjadi pada primigravida.
• Kejadian 5 kali lebih sering pada kehamilan kembar.
• Komplikasi ibu yang paling signifikan pada eklampsia berhubungan dengan SSP permanen adalah pendarahan
intracranial. Tingkat kematian ibu adalah 8-36% pada kasus ini.
• Angka kematian janin bervariasi 13-30% karena kelahiran prematur dan komplikasinya. Plasenta infarcts, abrupsio
plasenta , dan pertumbuhan janin terhambat intrauterin juga berkontribusi terhadap kegagalan janin.
• Eklampsia biasanya terjadi pada pasien pada kedua usia ekstrem reproduksi, namun resiko eklampsia yang terbesar
ada pada perempuan < 20 tahun. Risiko kematian meningkat untuk wanita berusia >35 tahun, yang tanpa
perawatan kehamilan, dan perempuan berkulit hitam, kemungkinan besar karena akses yang tidak memadai untuk
perawatan prenatal dan peningkatan insiden penyakit genetik yang berhubungan dengan sirkulasi
antiphospholipids.

• Wanita yang telah eklampsia sebelum 28 minggu umur kehamilan juga memiliki resiko kematian yang lebih tinggi.
PERAWATAN PREHOSPITAL PERAWATAN RUMAH SAKIT

Dilakukan oleh petugas medis Perwatan dasar eklamsia ialah terapi suportif untuk
stabilisasi fungsi vital
Membersihan jalan napas-> oksigen
Airway, Breathing, Circulation (ABC)
Pemantauan jantung
Mengatasi dan mencegah kejang
Transportasi lateral pasien dalam posisi
Mengatasi hipoksemia dan asidemiav
decubitus kiri
Mencegah trauma pada pasien waktu kejang
Mengendalikan tekanan darah (krisis hipertensi )
Melahirkan janin pada waktu yang tepat dengan cara
yang tepat .
MEDIKAMENTOSA MEDIKAMENTOSA
Rawat Inap Perawatan saat Koma
Tirai baring kiri secara intermiten

Infus ringer laktat atau dekstrose 5%

Antikonvlsi :
Magnesium sulfat (Mgs04) : kejang eklamsia
Manuver Head tilt-neck lift ->
Fenitoin
Diasepam : gol. Benzodiasepine ini selaian antiansietas juga
Head tilt-chin lift -> Jaw-thrust-
sebagai antikonvulsi. > Oropharyngeal airway .
Antihipertensi : obat antihipertensi menjaga tekanan darah
diastlolik <110 mm Hg .

Niferidin : Termasuk kedalam golongan antagonis kalsium. Dosis


yang diberikan 30-60 mg peroral

Metidopa

Hidralazin :Dosis yang diberikan 50-10 mg IV 15-20 menit yang


diperlukan untuk menjaga tekanan darah diastolik < 110 mm Hg.
Onset of action 15 min; peak effect 30-60 min; duration of action 4-
Mulai aksi 15 menit, efek puncak 30-60 menit, durasi kerja 4-6 jam.
KOMPLIKASI PROGNOSIS
Sekitar 25% dari wanita dengan eklampsia
1. Solusio plasenta memiliki hipertensi pada kehamilan berikutnya.
2. Hipofibrinogenemia
3. Hemolisis 5% dari pasien dengan hipertensi mengembangkan
4. Pendarahan otak preeklampsia berat. Sekitar 2% dari wanita dengan
5. Kelainan mata eklampsia mengembangkan eklampsia dengan
6. Edema paru kehamilan berikutnya.
7. Sindrom HELLP
8. Prematuritas , dismaturitas , kematian janin Prognosis janin sangat bergantung pada usia gestasi
intrauterine pada saat kelahiran dan masalah-masalah yang
berhubungan dengan prematuritas.
PENCEGAHAN

Upaya prevensi eklampsia, terutama dianjurkan untuk wanita hamil dengan resiko terhadap
preeklampsia-eklampsia
1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti
2. Perubahan gaya hidup
3. Olaraga
4. Diet dan nutrisi
5. Obat-obatan
KESIMPULAN

Dalam rangka menurunkan angka kematian maternal dan perinatal akibat preeklampsia-eklampsia deteksi dini dan penanganan
yang adekuat terhadap kasus preeklampsia ringan harus senantiasa diupayakan. Penelitian-penilitian sebagai usaha untuk
melakukan pencegahan terjadinya eklampsia pada penderita preeklamsia telah banyak dilakukan, namun sampai saat ini masih
belum didapat hasil yang diharapkan. Baik proteinuria, maupun tekanan darah hingga saat ini tidak jelas peranannya dalam
memperkirakan timbulnya kejang eklampsia ini. Oleh sebab itu, sampai saat ini belum ada cara mencegah timbulnya
preeklampsia yang bila tidak dikontrol dengan baik dapat menjadi eklampsia. tindakan yang dapat dilakukan saat ini adalah
mengontrol keadaan pasien agar walaupun sudah terdeteksi preeklampsia tidak berlanjut dan bertambah parah hingga
menimbulkan eklampsia pada puncaknya. Untuk itulah sangat dibutuhkan kesadaran yang baik dari masyarakat terutama
wanita hamil yang memiliki faktor risiko tinggi terkena preeklampsia agar menjalani pemeriksaan antenatal secara rutin.