Anda di halaman 1dari 39

FARMAKOLOGI DASAR

PERTEMUAN 3
FARMAKOKINETIK

Ramdhani M. Natsir, M.Si., Apt


Farmakokinetik
ilmu yang mempelajari kinetika absorpsi, distribusi
metabolisme dan ekskresi, obat pada manusia atau
hewan dan menggunakan informasi ini untuk
meramalkan efek perubahan-perubahan dalam
takaran, rejimen takaran, rute pemberian, dan
keadaan fisiologis pada penimbunan dan disposisi
obat
Gambaran skematik peristiwa absorpsi, metabolisme, dan ekskresi dari obat-obat
setelah berbagai rute pemberian dapat dilihat pada gambar dibawah ini
(Ansel, 1989)
efek obat Kuantitatif

data kinetika obat

hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh


dengan intensitas efek yang ditimbulkannya.

daerah kerja efektif obat (therapeutic window) dapat


ditentukan.
Bioavailabilitas

kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai


sirkulasi sistemik.

Oleh karena itu bioavailabilitas suatu obat


mempengaruhi daya terapetik, aktivitas klinik, dan
aktivitas toksik obat. (Shargel & Yu, 1988 ).
Faktor-faktor yang mempengaruhi
bioavailabilitas obat:
1. Faktor-faktor fisiologik yang berkaitan dengan absorpsi obat
 pH medium
 Adanya pori-pori
 Banyaknya vili dan mikrovili yang ada di daerah
duodenum dan usus halus
 Sifat kapiler membran sel.
 Jumlah pembawa
 Waktu transit obat dalam saluran cerna
 Gerakan peristaltik dari duodenum
 Aliran (perfusi) darah dari saluran cerna
 Adanya makanan dan obat lain didalam saluran cerna
 Adanya penyakit
2. Faktor-faktor farmasetik yang mempengaruhi
bioavailabilitas obat
1) Sifat Fisikokimia Obat
• Ukuran Partikel
• Luas permukaan efektif obat
• Bentuk geometrik
• Kelarutan Obat
• Bentuk kimia obat, yaitu garam, asam atau basa serta bentuk
anhidrous atau hidrous
• Polimorf obat
• Konstanta Disosiasi
• Lipofilisitas
• Stabilitas Obat

2) Faktor Formulasi Yang Mempengaruhi


Bioavailabilitas Obat.
Lanjutan

 Dalam peredaran, kebanyakan obat-obat didistribusikan


melalui cairan tubuh dengan cara yang relatif lebih
mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan eliminasi
atau pengeluaran.
 Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ
sekresi dalam bentuk metabolik hasil biotransformasi
atau dalam bentuk asalnya (Ganiswara, et al, 1995 ).
 Ada beberapa obat yang berikatan kuat dengan protein
sehingga menunda lewatnya ke jaringan
sekitarnya.(Ansel, 1989)
 Konsentrasi obat diukur pada sampel biologis seperti
susu, saliva, plasma, dan urin. Secara umum serum
atau plasma sering digunakan untuk mengukur obat
(Shargel, et al, 2005).
 Konsentrasi obat dalam tiap cuplikan plasma digambar
pada koordinat kertas grafik rektangular terhadap
waktu pengambilan cuplikan plasma. (Shargel & Yu,
1988).
Beberapa parameter
farmakokinetik pada sediaan oral,
yaitu:
1.Tetapan Laju Absorpsi (Ka) dan Waktu Paruh
Absorpsi (t½a)
Tetapan laju absorpsi (Ka) adalah tetapan laju
absorpsi order kesatu dengan satuan waktu-1.
Ka diperoleh dengan membuat kurva antara
waktu absorpsi dengan log Cpdiff kemudian
diregresikan sehingga diperoleh persamaan
regresi. Harga Ka dapat dihitung dengan
rumus:
Ka (waktu-1) = 2, 303 x (-slope) atau
Ka (waktu-1) = 2,303 x (-b)
Sedangkan t½a ddihitung dengan menggunakan
rumus:
t½a = 0, 693/Ka
2. Tetapan kecepatan eliminasi (Ke) dan waktu
paruh eliminasi (t½e)
Tetapan laju eliminasi (Ke) adalah tetapan laju
eliminasi order kesatu dengan satuan waktu-1.
Harga Ke diperoleh dengan membuat kurva
antara waktu eliminasi dengan log Cp kemudian
diregresikan sehingga diperoleh persamaan
regresi. Harga Ke diperoleh dengan rumus:
Ke (waktu-1) = 2,303 x (-slope) atau
Ke (waktu-1) = 2,303 x (-b)
t½e = 0,693/Ke
3. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar
maksimum (tmaks)
tmaks adalah waktu konsentrasi plasma mencapai
puncak dapat disamakan dengan waktu yang
diperlukan untuk mencapai konsentrasi obat
maksimum setelah pemberian obat.
Waktu yang diperlukan untuk mencapai
konsentrasi maksimum tidak tergantung pada
dosis tetapi tergantung pada tetapan laju
absorpsi (Ka) dan eliminasi (Ke). Harga tmaks
dapat dihitung sebagai berikut:
In (Ka/Ke)
Tmaks =
Ka – Ke
4. Kadar maksimum dalam darah (Cpmaks)
Cpmaks adalah konsentrasi plasma puncak
menunjukkan konsentrasi obat maksimum
dalam plasma setelah pemberian obat
secara oral
Pada konsentrasi maksimum, laju absorpsi
obat sama dengan laju eliminasi, sehingga
harga Cpmaks dapat dihitung dengan rumus
di bawah ini:
Cpmaks = Cpo (e-Ke.tmaks – e-Ka.tmaks)
5. Volume distribusi (Vd)
Volume distribusi dipengaruhi oleh
keseluruhan laju eliminasi dan jumlah
perubahan klirens total obat di dalam
tubuh.
Do x F x Ka
Vd =
Cpo (Ka – Ke)
6. Area di bawah kurva (AUC)
AUC mencerminkan jumlah total obat aktif yang
mencapai sirkulasi sistemik. AUC merupakan area
di bawah kurva kadar obat dalam plasma – waktu
dari t = 0 sampai t = ~ (lihat gambar 2). Harga AUC
dapat diperoleh dengan cara:
a. AUC dari 0 - n jam, dapat dihitung dengan rumus luas
segitiga yaitu ½ x alas x tinggi
b. AUC dari waktu n1 – nx dihitung dengan rumus
Cn-1 + Cn (tn – tn-1)
2

c. AUC dari waktu nx - ~ dihitung dengan rumus


Cpnx
Ke
7. Klirens total (Cltot)
Klirens adalah volume plasma yang dibersihkan
dari obat persatuan waktu oleh seluruh tubuh
(ml/menit). Klirens obat merupakan ukuran
eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya.
Klirens total adalah jumlah total seluruh jalur
klirens di dalam tubuh termasuk klirens melalui
ginjal dan hepar.
Cltot = Vd . Ke
8. Volume kompartemen sentral (Vp)
Volume kompartemen sentral berguna untuk
menggambarkan perubahan konsentrasi obat
karena merupakan kompartemen yang diambil
sebagai kompartemen cuplikan. Vp berguna
dalam menentukan klirens obat. Besaran Vp
memberikan petunjuk adanya distribusi obat di
dalam tubuh.
Harga Vp dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
Do
Vp =
Ke x [AUC]~
9. Jumlah obat terabsorpsi, persen obat terabsorpsi dan
persen obat tidak terabsorpsi
a. Jumlah obat terabsorpsi menurut waktu dapat
dihitung dengan menggunakan rumus:
Ab Cp + Ke [AUC]t
=
Ab~ Ke [AUC]o

b. Persen obat terabsorpsi dapat dihitung dengan


menggunakan rumus:
Ab
% terabsorpsi = x 100%
Ab~
c. Persen obat tidak terabsorpsi :
% obat tidak terabsorpsi = 100% - % obat terabsorpsi
KEGUNAAN FARMAKOKINETIKA
1. Bidang farmakologi
Farmakokinetika dapat menerangkan mekanisme kerja suatu obat dalam tubuh, khususnya
untuk mengetahui senyawa yang mana yang sebenarnya bekerja dalam tubuh; apakah
senyawa asalnya, metabolitnya atau kedua-duanya. Data kinetika obat dalam tubuh sangat
penting untuk menentukan hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh dengan
intensitas efek yang ditimbulkannya. Dengan demikian daerah kerja efektif obat
(therapeutic window) dapat ditentukan. (Cahyati, 1985)

2. Bidang farmasi klinik


a) Untuk memilih route pemberian obat yang paling tepat.
b) Dengan cara identifikasi farmakokinetika dapat dihitung aturan dosis yang tepat untuk
setiap individu (dosage regimen individualization).
c) Data farmakokiketika suatu obat diperlukan dalam penyusunan aturan dosis yang
rasional.
d) Dapat membantu menerangkan mekanisme interaksi obat, baik antara obat dengan obat
maupun antara obat dengan makanan atau minuman.

3. Bidang toksikologi
Farmakokinetika dapat membantu menemukan sebab-sebab terjadinya efek toksik dari
pemakaian suatu obat.
• Kinetik= pergerakan  farmakokinetik=
mempelajari pergerakan obat sepanjang
tubuh:
– Absorpsi (diserap ke dalam darah)
– Distribusi (disebarkan ke berbagai jaringan tubuh)
– Metabolisme (diubah menjadi bentuk yangdapat
dibuang dari tubuh)
– Ekskresi (dikeluarkan dari tubuh
Absorps
i
• Absorpsi obat meliputi
proses obat dari saat
dimasukkan ke dalam
tubuh, melalui jalurnya
hingga masuk ke dalam
sirkulasi sistemik
• Pada level seluler, obat
diabsorpsi melalui beberapa
metode, terutama transport
aktif dan transport pasif.
Metode
absorpsi
Transport pasif
• Transport pasif tidak memerlukan energi, sebab hanya
dengan proses difusi obat dapat berpindah daridaerah
dengan kadar konsentrasi tinggi ke daerah dengan
konsentrasi rendah.
• Terjadi selama molekul-molekul kecil dapat berdifusi
sepanjang membran dan berhenti bila konsentrasipada
kedua sisi membran seimbang.

TransportAktif
• Transport aktif membutuhkan energi untuk menggerakkan
obat dari daerah dengan konsentrasi obat rendah kedaerah
dengan konsentrasi obat tinggi.
Pinositosis
• Pinositosis adalah
bentuk transfer aktif
yang unik dimana sel
‘menelan’ partikel obat.
Biasanya terjadi pada
obat-obat larut lemak
(vit A, D, E, K).
Kecepatan
Absorpsi
Apabila pembatas antara obat aktif dan sirkulasi sitemik hanya sedikit
sel  absorpsi terjadi cepat  obat segera mencapai level
pengobatan dalam tubuh.
• Detik s/d menit: SL, IV,inhalasai
• Lebih lambat: oral, IM topikal kulit lapisan intestinal, otot, kulit
menghambat jalan
• Lambat sekali, nerjam-jam / berhari-hari: per rektal/ sustainedf
release.

Faktor yang mempengaruhi penyerapan:


• Aliran darah ke tempat absorpsi
• Total luas permukaan yang tersedia sebagai tempat absorpsi
• Waktu kontak permukaanabsorpsi
Kecepatan
Absorpsi
Diperlambat oleh nyeri dan stres
• Nyeri dan stres  mengurangi aliran darah, mengurangi pergerakan
saluran cerna, retensi gaster

Makanan tinggi lemak


• Makanan tinggi lemak dan padat akan menghambat pengosongan
lambung dan memperlambat waktu absorpsi obat

Faktor bentuk obat


• Absorpsi dipengaruhi formulasi obat: tablet, kapsul, cairan, sustained
release, dll)

Kombinasi dengan obat lain


• Interaksi satu obat dengan obat lain dapat meningkatkan atau
memperlambat tergantung jenis obat.
Bioavailabilit
as
• Bioavailabilitas adalah
fraksi obat yang
diberikan yang sampai
ke sirkulasi sistemik
dalam bentuk kimia
aslinya.
Faktor yang
mempengaruhi
bioavailabilitas
• First-pass metabolism hepar (metabolisme
lintas pertama hepar)
• Solubilitas obat
• Ketidakstabilan kimiawi
• Formulasi obat
Hepa
r
Obat yang diserap oleh usus halus ditransport ke
hepar sebelum beredar ke seluruh tubuh.
Hepar memetaboliisme banyak obat sebelum
masuk ke sirkulasi. Hal ini yang disebut
dengan efek first-pass.
Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat
menjadi inaktif sehingga menurunkan jumlah
obat yang sampai ke sirkulasi sitemik  dosis
obat yang diberikan harus banyak.
Distribus
i
• Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan
dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan cairan
tubuh.
• Distribusi obat yang telah diabsorpsi
tergantung beberapa faktor:
– Aliran darah
– Permeabilitas kapiler
– Ikatan protein
Aliran darah

• Setelah obat sampai ke aliran darah, segera


terdistribusi ke orga berdasarkan jumlah
aliran darahnya. Organ dengan aliran darah
terbesar:
– jantung
– Hepar
– Ginjal
• Distribusi ke organ lain kulit, lemak dan otot lebih
• lambat

• Permeabilitas Kapiler
• Tergantung:
– Struktur kapiler
Ikatan dengan protein
Obat beredar di seluruh tubuh
 berkontak dengan
protein> Dapat terikat atau
bebas.
Obat yang terikat protein tidak
aktif dan tidak daptbekerja.
Hanya obat bebas yang dapat
memberikan efek.
Obat dikatakan berikatan protein
tinggi bila >80% obat terikat
protein
Metabolisme
Metabolisme /biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi
obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluartubuh.

Obat dapat dimetabolisme melalui beberapa cara:


- Menjadi metabolit inaktif kemudian diekskresikan
- Menjadi metabolit aktif  memiliki kerja farmakologi tersendiri  bisa
dimetabolisme lanjutan
- Beberapa obat diberikan dalam bentu tidak aktif kemudian setelah
dimetabolisme baru menjadi aktif (=prodrugs)

Metabolisme terjadi di:


- Hepar
- Ginjal
- Membran usus
Metabolisme
Kondisi Khusus
• Beberapa penyakit tertentu dapat mengurangi metabolisme, al. penyakit hepar
seperti sirosis.
Pengaruh Gen
• Perbedaan gen individual menyebabkan beberapa orang dapat
memetabolisme obat dengan cepat, sementara yang lain lambat.
Pengaruh Lingkungan
• Lingkungan juga dapat mempengaruhi metabolisme, contohnya:
– Rokok
– Keadaan stress
– Penyakit lama
– Operasi
– Cedera
Usia
• Perubahan umur dapat mempengaruhi metabolisme, bayi vs dewa vs orangtua
Ekskressi
Ekskresi obat artinya eliminasi/pembuangan obat dari tubuh. Sebagian besar
obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat juga dapat
dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan
taraktus intestinal

Waktu Paruh
Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan sehingga setengah dari obat
dibuang dari tubuh.
Faktor yang mempengaruhi waktu paruh adalah absorpsi, metabolisme dan
ekskresi.

Waktu paruh penting diketahui untuk menetapkan berapa sering obat harus
diberikan.
 Satu obat diberikan dalam 4 jam obat terbuang habis dari tubuh 
diberikan berulang mencapai steady state (pemberian obat ~ ekskresi
obat)
Onset, puncak, anddurasi
Onset:
• Waktu dari saat obat diberikan hingga obat terasa kerjanya.
• Sangat tergantung rute pemberian dan farmakokinetikobat

Puncak
• Setelah tubuh menyerap semakinbanyak obatmaka konsentrasinya
di dalam tubuh semakinmeningkat
• Namun konsentrasi puncak ~ puncak respon

Durasi
• Durasi kerja adalah lama obat menghasilkan suatu efekterapi