Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS PENERAPAN EXPERIENTIAL MARKETING TERHADAP

KEPUASAN KONSUMEN PADA HOTEL DALAM MEMBENTUK MINAT


BERKUNJUNG KEMBALI.
( Studi kasus pada kawasan wisata Senggigi )

Oleh:
Baiq Tatas Tresna
Pembenahan kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Mandalika, dimana kawasan wisata Mandalika akan
menerima pembangunan berbagai hotel besar dari
perusahaan dalam negri hingga perusahaan luar negri
(Sari, 2017).
Walaupun belum terealisir, berbagai fenomena terjadi
yang menjadi tolak belakang perkembangan wisata
mandalika, ini berdampak pada kawasan wisata
Senggigi, kawasan wisata senggigi terancam sepi di
kunjungi wisatawan, baik wisatawan Domestik
maupun wisatawan mancanegara (Turmuzi,2017).
Tahun Jumlah Wisatawan Total

Nusantara Mancanegara

2013 117.332 212.185 439.519

2014 184.327 245.016 429.343

2015 160.176 236.592 396.768

2016 134.961 381.791 516.752

2017 300.265 375.048 675.315


adalah suatu konsep pemasaran yang bertujuan
untuk membentuk pelanggan-pelanggan yang
loyal dengan menyentuh emosi mereka dan
memberikan suatu feeling yang positif terhadap
produk dan service (Kartajaya dalam Handal,
2010:6).

Sense

INDIKATOR
Relate Feel

NEXT
Act Think
“Menciptakan pengalaman panca
indera melalui mata, telinga, kulit,
lidah dan hidung (Schmitt dalam
Amir Hamzah, 2007:23).”

Back
“Ditujukan terhadap perasaan dan
emosi dengan tujuan mempengaruhi
pengalaman”

Back
“Menciptakan kognitif, pemecahan
masalah yang mengajak konsumen
untuk berfikir kreatif”(Schmitt
dalam Hamzah, 2007:23)

Back
“Mempengaruhi perilaku, gaya
hidup dan interaksi dengan
konsumen.” (Schmitt dalam
Hamzah, 2007:23).

Back
“Penggabungan sense, feel, think
dan act”

Back
Kualitas yang dirasakan

Nilai yang dirasakan

Harapan pelanggan
“perilaku pelanggan dimana pelanggan merespon
secara positif terhadap kualitas pelayanan suatu
perusahaan dan ahirnya memunculkan minat
kunjung ulang pada perusahaan tersebut atau
minat beli ulang produk tersebut”
1. Minat transiksional, yaitu kecendrungan seseorang untuk membeli
produk.
2. Minat Refrensial, kecendrungan seseorang unruk merefresikan
produk kepada orang lain.
3. Minat prefensial, minat yang menggambarkan prilaku seseorang
yang memiliki prefrensi utama pada produk, preferensi ini hanya
dapat di ganti jika terjadi sesuatu pada produk prefrensinya.
4. Minat eksporatif, minat ini menggambarkan prilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk
tersebut.
Penelitian Terdahulu
Tetanoe & Pengaruh Experiential Marketing Terhadap
Dharmayanti Pembelian Ulang Dengan Kepuasan
(2014) Pelanggan Sebagai Variable Intervening di
Breadtalk Surabaya Town Square

Sagitarini Analisis pendekatan experiential marketing yang


(2016) menciptakan kepusan tamu menginap di hotel
kawasan wisata Lovina, Bali.

Sugiharto Analisis pengaruh Experiential Marketing terhadap


(2015) kepuasan konsumen untuk membentuk minat beli
ulang konsumen cafe Buntos 99 Sidoarjo.

DKK
Kerangka Konseptual

KEPUASAN
KONSUMEN

H1 H2

EXPERIENTIAL MINAT
MARKETING BERKUNJUNG
KEMBALI
H3
METODELOGI
PENELITIAN
Penelitian
kuantitatif
Kawasan
menggunakan
metode survei Wisata
Senggigi
Sampel survey
Penetuan Responden

Wisatawan domestic ataupun mancanegara yang berkunjung


ke daerah wisata senggigi

Jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini


adalah sebanyak 50 wisatawan.

Non probability sampling dengan menggunakan


sampling incidental
IDENTIFIKASI VARIABEL
• 1. Experiential Marketing
: Variabel Independen
• 2. Kepuasan Konsumen
: Variabel Moderator
• 3. Minat Berkunjung Kembali
: Variabel Dependen
ANALISIS JALUR ( PATH ANALYSIS )
X1
(X1 ) Experiential
Transparansi Pyx1 e
Marketing

Y
kembali
rx1x2 Kinerja Instansi
berkunjung
Pemerintah
(Y) Minat
(X2X) 2Kepuasan
konsumen
Akuntabilitas PYX2

Y = Pyx1 x1 + Pyx2 X2 +e
PENGUJIAN HIPOTESIS
Uji Signifikansi Critical Ratio (CR)

Uji hipotesis yang dilakukan adalah uji signifinikansi


Critical Ratio (CR). Output tabel pengujian hipotesis
penelitian dengan menggunakan program AMOS.

Koefisien Determinasi Adjusted R2

Koefisien determinasi (Adjusted R2) intinya


digunakan untuk mengukur seberapa jauh
kemampuan dalam menerangkan variasi. Nilai
koefisien determinasi diantara nol dan satu