Anda di halaman 1dari 11

TYPHUS ABDOMINALIS

penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai


saluran pencernaan dengan gejala demam yang
lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan
gangguan kesadaran.
Patofisiologi
Penularan nya dapat ditularkan melalui berbagai
cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food
(makanan), Finger (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses, dan ini akan
mengakibatkan resiko tinggi infeksi.
Pengkajian Keperawatan
 Demam
Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remitten dan suhu
tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari,
biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam
minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu
berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
 Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah (ragaden).
Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang
disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus).
Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi
konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.
 Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis sampai
somnolen. Di samping itu gejala tersebut mungkin terdapat gejala lain yaitu pada
punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola, yaitu bintik kemerahan karena
emboli basil dalam kapiler kulit, yang daapt ditemukan pada minggu pertama demam.
Kadang ditemukan bradikardia dan epistaksis pada anak besar (Ngastiyah ,1997)
 Kuman masuk melalui mulut, sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung dan
sebagian lagi masuk ke usus halus (terutama di ileum bagian distal), ke jaringan limfoid
dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke peredarahan
darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel retikula endotelial, hati, limpa dan
organ-organ lainnnya.
 Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikula endotelial
melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua
kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh, terutama limpa,
usus dan kandung empedu.
 Pada minggu pertama sakit, terjadi hyperplasia plaks player. Ini terjadi pada kelenjar
limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi
plaks peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan
sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu
hepar, kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar.
 Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan
disebabkan oleh kelainan pada usus halus (Suriadi, Yuliani Rita, 2001).
Bagan/skema patofisiologi
Diagnosa

 Bradikardi relatif (frekuensi denyut jantung relatif lambat bila


dibanding dengan tingkat kenaikan suhu tubuh).
 Lidah tifoid (Awalnya merah di tengah dengan tepi hiperemis dan
bergetar, bila penyakit berat lidah menjadi kering dan pecah-
pecah serta berwarna kecoklatan).
 Perkusi abdomen: timpani
 Palpasi abdomen: Nyeri tekan khususnya di fosa iliaka
 Stupor
 Bergumam
 Delirium
 Twitching otot-otot
 Karpologia
 Koma vigil
PENATALAKSANAAN
 1. Medik
- isolasi pasien desinfeksi pakaian
- perawatan yang baik untuk menghindari infeksi
- istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali
(istirahat total) kemudian boleh duduk, jika tidak panas boleh berdiri terus
berjalan.
- Diet makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein.
Bahan makanan tidak boleh banyak mengandung serat, tidak merangsang dan
tidakmenimbulkan gas. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair
melalui sonde lambung.
Obat pilihan adalah kloramfenikol dengan dosis tinggi yaitu 100 mg/kgbb/hari
(maksimum 2 gram perhari) diberikan 4 kali sehari peroral/intravena
kloramfenikol tidak boleh diberikan apabila jumlah leukosit<=2000/ul. Bila
pasien alergi dapat diberikan penicillin/kotrimoksazol.
 2. Keperawatan
Masalah pasien Typus Abdominalis yang perlu diperhatikan adalah:
Kebutuhan nutrisi / cairan dan elektrolit
Gangguan suhu tubuh
Gangguan rasa aman dan nyaman
Pengawasan komplikasi
Tindakannyan adalah:
Untuk mencegah komplikasi pasien yang terlalu lama berbaring
perlu diubah sikap baringnya tiap 3 jam.
Jika terjadi komplikasi keluarga perlu diberi penjelasan mengapa
dapat terjadi (mungkin terlambat berobatnya atau kuman
penyakitnya sangat ganas). Diminta agar orang tua membantu
menenangkan (beri penjelasan secara bijaksana agar keluarga
tidak cemas).
Rencana Keperawatan
 Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu
ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan klien.

A. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual dan
kembung.
Tujuan : – Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan.
Intervensi :
1. Nilai status nutrisi anak.
2. Izinkan anak untuk makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi
pada saat selera makan anak meningkat.
3. )Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
4. Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering.
5. Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama.
6. Pertahankan kebersihan mulut anak.
7. Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit.
8. Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral. Jika pemberian makann melalui oral tidak
memenuhi kebutuhan gizi anak
B. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan
peningkatan suhu tubuh.
Tujuan : – Mencegah kurangnya volume cairan.
Intervensi :

1. Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh ) paling sedikit setiap empat jam.
2. Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis,
ubun-ubun cekung, produksi urine menurun, membran mukosa kering, bibir pecah-
pecah.
3. Observasi dan catat intake dan output dan mempertahankan intake dan output
yang adekuat.
4. Monitor dan catat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang
sama.
5. Monitor pemberian cairan intravena melalui intravena setiap jam.
6. Kurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (insensible water loss/IWL) dengan
memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge.
7. Berikan antibiotik sesuai program.
C. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan
penurunan kesadaran.
Tujuan : – Mempertahankan fungsi persepsi sensori.
Intervensi :

1. Kaji status neurologis


2. Istirahkan anak hingga suhu dan tanda-tanda vital stabil.
3. Hindari aktivitas yang berlebihan.
4. Pantau tanda-tanda vital.
5. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat
total.
Tujuan : – Kebutuhan perawatan diri terpenuhi