Anda di halaman 1dari 9

BADAN INTELIJEN NEGARA

BINDA SULAWESI BARAT

“PERAN BIN DALAM CEGAH DINI TERJADINYA


KONFLIK SOSIAL”

disampaikan pada Sosialisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor


42 Tahun 2015 Tentang Pencegahan Konflik Sosial

Majene, 21 Nopember 2015


DASAR HUKUM

1. Pancasila (sila ketiga Persatuan Indonesia).


2. UU Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Penanganan Konflik Sosial
3. UU No. 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara.
4. PP No. 2 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan
Konflik Sosial.
5. Permendagri No. 42 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan
Koordinasi Penanganan Konflik Sosial dan Pencegahannya.
PENDAHULUAN
POSITIF
memberikan kontribusi
bagi terciptanya
kesejahteraan
NEGATIF
bila ada ketimpangan,
ketidakadilan dan
kesenjangan
Rawan
Konflik
terutama
horisontal

UU No 7 Th 2012 Penanganan Konflik


masih bersifat sektoral
tentang Penanganan
dan reaktif
Konflik Sosial
UU PENANGANAN KONFLIK SOSIAL

Konflik Sosial
perseteruan dan/atau benturan
fisik dengan kekerasan

UU No 7 Th 2012 Penanganan Konflik


tentang Penanganan pencegahan konflik, penghentian
Konflik Sosial konflik, dan pemulihan pasca
konflik
Tujuan Penanganan
menciptakan kehidupan
masyarakat yang aman, tenteram,
damai dan sejahtera
UU PENANGANAN KONFLIK SOSIAL
Pencegahan
Konflik Penghentian
Penanganan Konflik Sosial
Konflik
Giat untuk Pemulihan Pasca
Konflik
mencegah terjadinya mengakhiri
konflik dengan kekerasan, mengembalikan
peningkatan menyelamatkan keadaan dan
kapasitas korban, membatasi memperbaiki
kelembagaan dan perluasan dan hubungan yang tidak
sistem peringatan eskalasi konflik: harmonis dalam
dini:  penghentian masyarakat akibat
 memelihara kekerasan fisik, konflik:
kondisi damai,  penetapan Status  rekonsiliasi,
 mengembangkan Keadaan Konflik,  rehabilitasi, dan
penyelesaian  tindakan darurat rekonstruksi
perselisihan penyelamatan
secara damai,  pelindungan
 meredam potensi korban,
Konflik,  bantuan
 membangun penggunaan dan
PERAN BIN
DALAM PENANGANAN KONFLIK SOSIAL
Tupok:
Melakukan upaya intelijen strategis dalam mendukung
Presiden untuk menentukan kebijakan pemerintah,
mengamankan dan mensukseskan
Fungsi:
Intelijen Negara menyelenggarakan fungsi penyelidikan,
Perpres No. 90
Th 2012 pengamanan, dan penggalangan

BIN : Penanggulangan Konflik


deteksi dini dalam rangka pencegahan , penangkalan, dan
penanggulangan terhadap setiap hal yang berpotensi
menimbulkan terjadinya konflik sosial
BIN (UU No. 17 Th 2011) BIN
mengupayakan penyelesaian masalah konflik tidak berperan
sosial, diantaranya dengan upaya mediasi atau sebagai
melakukan kegiatan secara tertutup dengan eksekutor atau
menggunakan kaidah dan prosedur operasi penegak
PENUTUP
UU No 7 Th 2012
tentang Penanganan
Konflik Sosial
Pemerintah wajib meredam
potensi konflik dalam
1.Pencegahan konflik, masyarakat, dan membangun
2.Penghentian konflik, sistem peringatan dini untuk
3.Pemulihan pasca mencegah konflik atau
konflik perluasan konflik
tindakan kekerasan fisik, harus
dikoordinasikan dan dikendalikan
menjamin kepada
Polri; melibatkan tomas, toga,
masyarakat Indonesia
dan/atau todat; dan sesuai dengan
rasa aman, persatuan,
Bupati/Walikota dan ketentuan
Gubernurper-UU-an
dapat meminta
perdamaian, dan yang
pasti keutuhan wilayah bantuan penggunaan kekuatan TNI kepada
NKRI di atas pemerintah, skala nasional pengerahan TNI
segalanya dilakukan dengan lebih dulu konsultasi oleh
Presiden kepada DPR
SARAN

Untuk mengefektifkan pencegahan


konflik sosial perlunya upaya
peningkatan kapasitas dan kemampuan
kelembagaan intelijen dalam rangka
deteksi dini untuk pencegahan konflik.
Selain itu perlunya dilaksanakannya
sosialisasi UU No. 7 Tahun 2012,
peningkatan kerjasama dengan pakar
sosial, koordinasi dan sinergitas jajaran
intelijen, serta peningkatan komunikasi
dengan masyarakat.
SUMATERA
KALIMANTAN

IRIAN JAYA

JAVA