Anda di halaman 1dari 24

Infeksi Bakteri Leptospira pada

Manusia

OLEH
SR. KRESENSIANA ERNIWATI
NIM : 102016112
SKENARIO 8

Seorang laki-laki berusia 45


tahun datang dengan keluhan
demam tinggi sejak 4 hari yang
lalu.
RUMUSAN MASALAH

Laki-laki 45 tahun mengalami demam


tinggi sejak 4 hari yang lalu.
ANALISIS MASALAH

Laki-laki 45 tahun mengalami demam tinggi sejak 4 hari yang lalu.

Pemeriksaan Work
Anamnesis Fisik Pemeriksaan Diagnosis
Penunjang
HIPOTESIS

Seorang laki-laki 45 tahun


mengalami demam tinggi
sejak 4 hari yang lalu karena
leptospirosis.
SASARAN
PEMBELAJARAN
Mahasiswa mampu
memahami:

1. Anamnesis, pemeriksaan fisik pada leptospirosis.


2. Patofisiologi dan manifestasi klinis leptospirosis.
3. Pemeriksaan penunjang dan penanganan
leptospirosis.
4. Menginterpretasi pemeriksaan penunjang untuk
kasus leptospirosis.
ANAMNESIS

1. Identitas pasien: “Laki-laki, 45 tahun” (Riwayat pekerjaan


pasien, apakah termasuk kelompok org dengan resiko tinggi spt
berpergian di hutan belantara, rawa, sungai atau petani).
2. Keluhan utama: “Demam tinggi sejak 4 hari yang lalu”
3. Riwayat penyakit sekarang: (termasuk keluhan penyerta:
nyeri kepala terutama di bagian frontal, mata merah; keluhan
gastrointestinal: mual, muntah, sakit perut, dispepsi; nyeri otot
betis, paha, pundak, pinggang). ”Demam terus menerus
sepanjang hari dan sampai menggigil. Keluhan disertai
nyeri pada kedua betis dan nyeri pada perut kanan atas”
4. Riwayat Penyakit Dahulu.
5. Riwayat Keluarga.
6. Riwayat Sosial, lingkungan: tinggal di daerah banjir.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum.
TTV: suhu, tekanan darah,
pernafasan, nadi. 1. Kesadaran compos mentis, keadaan umum
(inspeksi, palpasi, perkusi, tampak sakit sedang.
auskultasi). 2. Suhu 39.0 0C.
3. Tekanan darah 120/80 mmHg.
 Demam, suhu >38 0C
4. Frekuensi nafas 18 kali/ menit.
 Bradikardia 5. Nadi 90 kali/ menit.
 Nyeri kepala terutama di 6. Pemeriksaan Mata (inspeksi) :
bagian frontal, mata merah. -Kedua mata tampak kemerahan
 Nyeri tekan otot betis, paha, -Terdapat Sclera Ikterik.
- Injeksi subkonjungtiva.
pundak, pinggang. 7. Pemeriksaan abdomen :
 Ruam pada kulit - Nyeri tekan kuadran kanan atas.
 Hepatomegali - Hepar teraba 2 jari di bawah arcus costae.
 Sclera icterus - Konsistensi lunak.
8. Pemeriksaan ekstremitas bawah:
 Conjunctival injection,
- Nyeri tekan pada kedua betis.
iridosiklitis.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis Pemeriksaan:
1. Test darah lengkap – CBC
2. Kreatinin kinase
3. Enzim hati
4. Urinalisis
Pada laboratorium darah
rutin terdapat:
 Leukositosis, normal/
sedikit menurun, disertai Hasil Pemeriksaan
LED meningkat.
 Pada urin dijumpai
proteinuria, leukosituria. Kadar yang diuji Skenario 8 Normal
 Terdapat hepatomegali,
transaminase dan Hb 13 g/dL 13-18 g/dL
bilirubin meningkat. Leukosit 14.000 /µL 4.500-11.000 /µL
 BUN, ureum, creatinin
bisa meningkat bila Trombosit 220.000 /µL 150.000-400.000 /µL
terdapat komplikasi pd Hematokrit 40 % 40-48 %
ginjal.
DIAGNOSIS KERJA

Leptospirosis
Suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikro
organisme Leptospira interogans.
Diagnosis Banding

1. Malaria
 Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium
yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk
aseksual di dalam darah.
 Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil, anemia, dan
splenomegali.
 Keluhan awal dapat terjadi sebelum terjadinya demam, berupa: keluhan
kelesuan, malaise, sakit kepala, sakit belakang, merasa dingin di
punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia, perut tidak
enak, diare ringan.
 Gejala yang klasik yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara berurutan. Periode
dingin (15-60 menit): mulai menggigil, penderita sering membungkus diri
dengan selimut. Selanjutnya periode panas: penderita muka merah, nadi
cepat dan panas badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti dengan
berkeringat. Dilanjutkan dengan periode berkeringat: penderita berkeringat
banyak dan temperatur turun.
Diagnosis Banding

2. Demam Dengue
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari,
ditandai dengan atau lebih manifestasi klinis sebagai
berikut:
 Nyeri kepala
 Nyeri retro-orbital
 Mialgia/ artaglia
 Ruam kulit
 Manifestasi pendarahan (petekie atau uji bendung
positif).
 Leukopenia dan pemeriksaan serologi dengue positif.
Diagnosis Banding

3. Demam Typoid
Demam tipoid ialah infeksi akut pada saluran
pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi.
 Demam lebih dari 7 hari adalah gejala yang paling
menonjol.
 Demam ini sifatnya ialah meningkat perlahan-lahan
terutama pada sore dan malam hari.
 Demam ini bisa diikuti oleh gejala khas lainnya yaitu
diare, anoreksia, mual, muntah, batuk dan epiktasis.
ETIOLOGI
How Leptospirosis is
spread?
Genus
Leptospira,
family
treponema-
taceae, suatu
mikro-
organisme
spirochaeta.
EPIDEMIOLOGI

 Tersebar ke seluruh dunia kecuali benua


antartika, banyak di daerah tropis.
 Leptospira hidup di dalam ginjal/ air kemih.
 Vektor utama – tikus. Leptopsira menetap
dan membentuk koloni serta berkembang
biak di dalam epitel tubulus ginjal tikus dan
ikut mengalir dalam urin.
 Yang tersering menginfeksi manusia :
1. L. icterohaemorrhagica dengan reservoir
tikus.
2. L. canicola dengan reservoir anjing.
3. L. pomona dengan reservoir sapi dan
babi.
PATOFISIOLOGI
How you can get
infected?
 Penularan dari hewan/ binatang bisa langsung atau
melalui air, tanah dan lumpur yang tercemar urin
hewan.
 Sering terjadi saat banjir, membersihkan selokan
atau sungai.
 Kuman yaitu Leptospira masuk melalui kulit atau
selaput lendir mata, mulut dan hidung, masuk dalam
darah, menyebar ke organ-organ dan jaringan
tubuh.
 Sistem imun tubuh akan berespon sehingga jumlah
Leptospira akan berkurang.
 Kecuali pada ginjal yaitu tubulus, Leptospira
menetap dan membentuk koloni pada lumen yang
mengeluarkan endotoksin, dan kemudian masuk ke
dalam urin.
FASE LEPTOSPIREMIA GEJALA KLINIS
-Adanya leptospira di dalam darah dan cairan
serebrospinal.
-Sakit kepala di bagian frontal.
-Rasa sakit pada otot yang hebat terutama
pada paha, betis dan pinggang disertai nyeri
tekan.
-Myalgia yang diikuti dengan hiperestesi kulit. FASE IMUN
-Demam tinggi yang disertai menggigil.
-Mual tanpa atau disertai muntah. -Peningkatan titer antibody.
-Demam yang mencapai suhu 40°C.
-Diare.
-Menggigil.
-Rasa sakit yang menyeluruh pada leher,
perut, dan otot-otot kaki terutama otot betis.
-Perdarahan terutama epistaksis.
-Gejala kerusakan pada ginjal dan hati,
uremia, ikterik.
-Meningitis merupakan tanda pada fase ini,
walaupun hanya 50% gejala dan tanda
meningitis, tapi pleositosis pada CSS dijumpai
pada 50-90% pasien.
-Leptospira dapat dijumpai dalam urin.
SINDROM WEIL

 Gejala khas sindrom Weil


muncul pd hari ke 3-6 dan
didahului dgn gejala awal
yg tidak berbeda dgn
Leptospirosis biasa tetapi
diikuti gejala2 perburukan
(Leptospirosis berat),
diantaranya:
 -Jaundice
-Disfungsi ginjal
-Nekrosis hati
-Disfungsi paru-paru
-Diathesis perdarahan
PENGOBATAN

Indikasi Regimen Dosis


Leptospirosis Doksisiklin 2 x 100 mg
ringan Ampisiklin 4 x 500-750 mg
Amoksisilin 4 x 500 mg

Leptospirosis Penisilin G 1,5 juta unit/6 jam


sedang/berat Ampisilin 1 gram / 6 jam
Amoksisilin 1 gram / 6 jam

Kemoprofilaksis Doksisiklin 200 mg / minggu

 Untuk pasien yang hipertensif pada


Penicillin  eritromisin 250mgs 4x/hari
selama 5 hari
Komplikasi

Umumnya terjadi :
-Iridosiklitis
-Gagal ginjal
-Miokarditis
-Meningitis aseptic dan hepatitis
-Pendarahan : jarang, kalau terjadi 
kematian
PENCEGAHAN
 Higiene Perorangan
 Kebersihan Lingkungan
 Pengobatan Pencegahan
PROGNOSIS

 Non ikterus - jarang fatal.


 Ikterus
- Angka kematian 5 % pada umur di bawah
30 tahun.
- Angka kematian 30-40% pada usia lanjut.
KESIMPULAN

Leptospirosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh


mikro organisme leptospira yang menimbulkan gejala klinis yang
disertai ikterus. Perantara penyakit Leptospirosis adalah binatang/
hewan seperti anjing, kucing, tikus dan lainnya. Air yang tercemar
oleh urin dari perantara berkontak dengan kulit, sehingga akan
memungkinkan manusia terkena leptospirosis. Penyakit ini sangat
beresiko bagi manusia khususnya yang tinggal di daerah banjir,
petani, peternak serta orang-orang yang mengadakan
perkemahan di hutan. Dalam skenario ini, pasien mengalami
demam tinggi secara terus menerus sampai menggigil disertai
nyeri tekan pada kedua betis dan sklera icterus. Pasien tinggal di
lingkungan padat penduduk dengan sanitasi kurang, dimana 1
minggu sebelumnya daerahnya terkena banjir. Beberapa gejala
ini mendukung penegakkan diagnosa pasien dengan
Leptospirosis.

HIPOTESIS DITERIMA