Anda di halaman 1dari 52

REFERAT

KANKER PARU

pembimbing : dr Ari Prabowo, Sp.P

Oleh
Putri Anggana Dewi

SMF pulmonologi RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang


Kepaniteraan Klinik Program Studi Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura
2018
Definisi

 Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru,


mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri
(primer) maupun yang berasal dari organ lain
(sekunder).

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Etiologi

Umumnya tidak diketahui namun beberapa paparan atau inhalasi


berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor
utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh dan genetik.
 Merokok
 Iradiasi
 Genetik
 Diet
 Polusi udara

Stover DE. Women, smoking and lung cancer. Chest 2010; 113:1-2.
Patogenesis
 Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan
adanya zat yang bersifat initiation yang
merangsang permulaan terjadinya
perubahan sel
 Keadaan selanjutnya akibat keterpaparan
yang lama ditandai dengan
berkembangnya neoplasma dengan
terbentuknya formasi tumor
 Dari etiologi yang menyerang percabangan
segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi
pengendapan karsinogen
 pengendapan karsinogen menyebabkan
metaplasia ,hyperplasia dan displasia
 Bila lesi perifer menembus ruang pleura,
biasanya akan timbus efusi pleura, dan
diikuti invasi langsung pada kosta dan
korpus vertebra
 Lesi sentral menyebabkan obstruksi dan
ulserasi bronkus diikuti dengan supurasidi
bagian distal Sun S, et al. Nature Rev 2007;7:778-790
Patogenensis

Wong, E. Lung cancer ; pathophysiology of lung cancer . McMaster pathophysiology review . 2012
Wong, E. Lung cancer ; pathophysiology of lung cancer . McMaster pathophysiology review . 2012
Klasifikasi menurut lokasi timbulnya
tumor
 Tipe sentral : tumor yang timbul di bronkus proksimal dari ostium bronkus
segmental

 Tipe perifer : tumor yang timbul di bronkus distal dari ostium bronkus
segmental, yaitu dari bronkus subsegmental hingga alveolus

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Klasifikasi berdasarkan karakteristik
biologis dan metode terapi
 Karsinoma paru sel kecil
 Menempati 20-25% dari seluruh karsinoma paru
 Derajat keganasan tinggi
 Mudah bermetastasis
 Memerlukan terapi gabungan dengan kemoterapi sebagai terapi utama
 Karsinoma paru bukan sel kecil
 karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma, karsinoma sel besar (KSB), dan jenis
lain yang jarang ditemukan
 Semua karsinoma paru lain selain karsinoma paru sel kecil, menempati 75-80% dari
seluruh karsinoma paru.
 Terapi karsinoma paru jenis ini umumnya operasi sebagai terapi utama dalam terapi
gabungan.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Deteksi Dini
Kelompok pasien risiko tinggi

Usia > 40 tahun dengan riwayat Kelompok faktor risiko lainnya


merokok > 30 tahun dan yaitu :
berhenti merokok dalam kurun 1. pajanan radiasi, paparan
waktu 15 tahun sebelum okupasi terhadap bahan
pemeriksaan kimia karsinogenik,
2. riwayat kanker pada
Usia ≥ 50 tahun dengan riwayat pasien atau keluarga
merokok ≥ 20 tahun dan pasien,
adanya minimal 1 faktor risiko 3. riwayat penyakit paru
lainnya seperti PPOK atau fibrosis
paru

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional


pelayanan kedokteran : Kanker Paru. Jakarta : Kementerian
Low dose CT scan Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Manifestasi klinis
Gejala intra pulmoner : batuk berulang, sesak napas, nyeri dada, batuk
darah(gejala respirasi yang tidak kunjung sembuh dengan
pengobatan biasa pada pasien “kelompok risiko”

Gejala intratorasik
ekstrapulmoner Menekan struktur di dalam mediastinum, dengan akibat :
N. Phrenicus : parese / paralisis diafragma
N. Recurrens : parese/ paralisis korda vokalis
Saraf simpatik : sindrom horner
Esofagus : diasfagia
Vena cava superior : sindrom vena kava superior
Trakea dan bronkus : sesak
Jantung : gangguan fungsional, efusi perikard

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Gejala intratorasik Neuromuskular : neuropatia karsinomatosa
nonmetastatik Metabolik endokrin : cushing syndrome, hiperparatiroid,
sekresi ADH, sekresi insulin, ginekomastia, hiperpigmentasi
kulit
Jaringan ikat dan tulang : hyperthopic pulmonary
osteoarthropathy
Vaskular dan hematologik : migratory thrombophlebitis,
purpura, dan anemia

Gejala intratorasik
metastatik Karsinoma bronkogenik adalah satu satunya tumor yang
berhubungan langsung dengan sirkulasi arterial sehingga
kanker dapat menyebar hampir pada semua organ.

Gejala sistemik Penurunan berat badan, nafsu makan menurun, dan


demam hilang timbul

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Diagnosis
1. anamnesis
 Keluhan
 Batuk lama, batuk berdarah, sesak nafas, nyeri dada, suara serak, sulit/nyeri
menelan, penurunan BB, demam hilang timbul, nyeri kepala, pembengkakan /
benjolan di leher, aksila atau dinding dada. Sembab muka dan leher, disertai
nyeri yang hebat
 BB berkurang, Nafsu makan hilang, Demam hilang timbul, Sindrom
paraneoplastik
 Kebiasaan
 Pekerjaan
 Riwayat penyakit

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
2. Pemeriksaan fisik

 Inspeksi : simetris, kecuali massa menekan keluar atau efusi pleura


 Palpasi : stem fremitus normal atau melemah bila massa tumor membesar
 Perkusi : normal atau berbeda bila ada massa yang membesar atau efusi
pleura
 Auskultasi : vesikuler mengeras, atau melemah, dapat terdengar ronkhi
basah bila disertai dengan pneumonitis.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
3. Pemeriksaan penunjang (radiologis)
 Dilakukan untuk menentukan lokasi tumor primer dan metastasis serta staging
 foto thorax AP/lateral merupakan pemeriksaan awal untuk menilai pasien
dengan kecurigaan terkena kanker paru.
 Jika pada foto thorax ditemukan lesi yang dicurigai sebagai keganasan,
pemeriksaan CT scan dilakukan untuk mengevaluasi lesi tersebut.
 Pemeriksaan USG abdomen dilakukan kecuali pada stadium IV
 Bone scan dilakukan untuk mendeteksi metastasis ke tulang
 PET scan dilakukan untuk mengevaluasi hasil pengobatan.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Foto thorax

 Foto thorax dapat mendeteksi 61% tumor paru.


 Ciri ciri gambaran radiologis pada kanker paru

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
 Menunjukkan lesi yang luas,
gambaran opak yang meluas ke  Kolaps pada bagian paru kiri,
bagian atas paru, terlihat juga nodul hampir selalu terjadi pada
di bagian kanan bawah paru yang
menunjukkan metastase, endobronchial bronchogennis
paratrakeal kanan menunjukkan carcinoma
lemfadenopati, dan efusi pleura
minimal pada paru kiri
CT SCAN

 Teknik pencitraan ini dapat menentukan kelainan di paru secara lebih baik
dari foto thorax. CT scan dapat mendeteksi tumor paru dengan ukuran
<1cm secara lebih tepat.
 Dapat memperlihatkan gambaran bila ada penekanan terhadap bronkus,
tumor intrabronkial, atelektase, efusi pleura, dan melihat keterlibatan KGB.
 CT scan kepala /MRI kepala dengan kontras diindikasikan bila penderita
mengeluh nyeri kepala hebat atau adanya parese untuk menilai adanya
metastasis ke otak

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
 Non–small cell lung cancer. Kolaps pada bagian atas paru kiri hampir
selalu terjadi pada endobronchial bronchogenic carcinoma
Pemeriksaan khusus
1. bronkoskopi
Bronkoskopi adalah Gold Standard untuk mendiagnosis tumor paru. Apabila
dilakukan bronkoskopi akan dapat
 menentukan lokasi lesi primer, pertumbuhan tumor intraluminal
 mendapatkan spesimen untuk pemeriksaan sitologi dan histopatologi
 Melihat perubahan pada bentuk cincin trakea samapi ke karina.
 Melihat adanya perubahan pada bronkhus utama.
 Melihat adanya massa di bronkhus serta percabangannya.
 Pengambilan sampel massa atau bronkus dengan bilasan bronkus, sikatan
bronkus, dan biopsi bronkus.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
 Gambaran bronkoskopi massa berada di B5

National Collaborating Center for Acute Care. Lung cancer: The diagnosis andtreatment of lung
cancer. Clinical Effectiveness Unit, London, 2005
2. Endobrachial ultrasound (EBUS)

 dilakukan untuk membantu menilai kelenjar getah bening mediastinal,


hilus, intrapulmoner juga untuk penilaian lesi perifer dan saluran
pernapasan

 mendapatkan jaringan sitologi dan histopatologi pada kelenjar getah


bening yang terlihat pada CT scan toraks maupun PET CT scan.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
 Biopsi Aspirasi Jarum : Apabila biopsi tumor intrabronkial tidak dapat
dilakukan, misalnya karena amat mudah berdarah sebaiknya dilakukan
aspirasi biopsi jarum
 Transbronchial Needle Aspiration (TBNA) : TBNA di daerah karina atau
trakea 1/3 bawah (2 cincin diatas karina) pada posisi jam 1 bila tumor
berada di kanan akan memberikan informasi ganda yakni didapatkannya
bahan untuk sitologi dan informasi metastase KGB sub karina
 Transbronchial Lung Biopsi (TBLB) Jika lesi cukup kecil dan lokasi agak di
perifer serta adanya sarana fluoroskopi maka biopsi paru lewat bronkhus
dapat dilakukan

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
 Transthorasic Needle Aspiration (TTNA) Jika lesi terletak di perifer dan
ukuran lebih dari 2cm, TTNA dilakukan dengan bantuan fluoroskopi atau
USG. Namun jika lesi lebih kecil dari 2cm dan terletak di sentral dapat
dilakukan TTNA dengan bantuan CT Scan
 Biopsi Transtorakal (Transthorasic Biopsy/TTB) Biopsi dengan TTB dilakukan
terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2cm,
sensitivitasnya mencapai 90%-95% dan dilakukan dengan bantuan CT Scan
 Biopsi KGB Biopsi KBG harus dilakukan bila teraba pembesaran KGB
supraklavikula, leher atau axila, apalagi jika diagnostik sitologi/ histologi
primer di paru belum dikatahui

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Pemeriksaan lainnya

 Pleuroscopy dilakukan untuk melihat masalah intrapleura dan


menghasilkan spesimen intrapleura untuk mendeteksi adanya sel ganas
pada cairan pleura yang dapat merubah stadium dan tatalaksana pasien
kanker paru.

 Mediastinoskopi dengan VATS kadang dilakukan untuk mendapatkan


spesimen, terutama penilaian kelenjar getah bening mediastinal, dan
torakotomi eksplorasi dilakukan sebagai modalitas terakhir, jika dengan
semua modalitas lainnya tidak ditemukan sel ganas.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Rekomendasi pemeriksaan
Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Pemeriksaan patologi anatomi

 Pemeriksaan patologi anatomi mencakup pemeriksaan sitologi dan


histopatologi, pemeriksaan imunohistokimia untuk menentukan jenis tumor

 pemeriksaan petanda molekuler, seperti mutasi EFGR, yang dilakukan


apabila fasilitasnya tersedia

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Pemeriksaan laboratorium

 Sitologi sputum, dikerjakan teurutama pada pasien dengan keluhan batuk,


Pemeriksaan sitologi sputum dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin dan
skrining untuk diagnosis dini untuk kanker paru
 Tumor marker, beberapa tes yang dipakai yaitu
 CEA (Carcinoma Embryonic Antigen)
 NSE (Neuron-spesific enolase) yang spesifik untuk SCLC degan sensitivitas sebesar
42%.
 Cyfra 21-1 (Cytokeratin fragments 21-1) yang spesifik untuk SCLC dengan
sensitivitas sebesar 50%

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Penentuan stadium

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Pengelompokan stadium

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Tampilan Umum
Skor karnfosky WHO Batasan
90-100 0 Aktivitas normal
70-80 1 Ada keluhan, tapi masih
aktif, dapat mengurus diri
sendiri
50-60 2 Cukup aktif, namun
kadang memerlukan
bantuan
30-40 3 Kurang aktif, perlu
perawatan
10-20 4 Tidak dapat
meninggalkan tempat
tidur, perlu dirawat di
rumah sakit
0-10 - Tidak sadar
Tatalaksana

Manajemen terapi untuk kanker paru dibagi dua, yaitu


 kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK = non small cell
carcinoma)
 kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = small cell carcinoma).

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Kebijakan umum pengobatan KPKBSK

 Pilihan pengobatan sangat tergantung pada stadium penyakit, tampilan


umum penderita, komorbiditas, tujuan pengobatan dan cost-effectiveness.
 Modalitas penanganan yang tersedia adalah bedah, radiasi, kemoterapi,
dan terapi target

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
1. Bedah

 Modalitas ini adalah terapi utama untuk sebagian besar KPKBSK, terutama
stadium I-II dan stadium IIIA yang masih dapat direseksi setelah kemoterapi
neoadjuvan
 Jenis pembedahan yang dapat dilakukan adalah lobektomi,
segmentektomi dan reseksi sublobaris

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
2. radioterapi

 radioterapi dapat berperan di semua stadium KPKBSK sebagai terapi


kuratif definitif, kuratif neoajuvan, ajuvan maupun paliatif.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
3. kemoterapi

 Kemoterapi dapat diberikan sebagai modalitas neoadjuvan pada stadium


dini, atau sebagai adjuvan pasca pembedahan.
 Terapi adjuvan dapat diberikan pada KPKBSK stadium IIA, IIB dan IIIA
 Pada KPKBSK stadium lanjut, kemoterapi dapat diberikan dengan tujuan
pengobatan jika tampilan umum pasien baik (Karnofsky >60%; WHO 0-2
 Namun, guna kemoterapi terbesar adalah sebagai terapi paliatif pada
pasien dengan stadium lanjut

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
4. Terapi target

 Terapi target diberikan pada penderita dengan stadium IV KPKBSK mutasi


EGFR positif yang sensitif terhadap EGFR-TKI.
 Terapi EGFR-TKI yang tersedia yaitu Gefitinib, Erlotinib atau Afatinib.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
5. Terapi kombinasi

 Terapi radiasi dan kemoterapi dapat diberikan pada kasus-kasus tertentu,


terutama yang tidak memenuhi syarat untuk menjalani pembedahan.
 terapi kombinasi dapat diberikan untuk tujuan pengobatan pada pasien
dengan tampilan umum baik (Karnofsky >70%) dan penurunan berat
badan minimal,
 pasien usia lanjut yang mempunyai komorbiditas berat atau kontraindikasi
operasi.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Pilihan Terapi Berdasakan Stadium
 Pada stadium 0, modalitas terapi pilihan adalah pembedahan atau Photo Dynamic
Therapy (PDT )
 stadium I, modalitas terapi pilihannya adalah pembedahan yang dapat dilakukan
bersamaan dengan VATS.
 stadium IB, dapat diberikan kemoterapi adjuvan setelah reseksi bedah.
 stadium II, terapi pilihan utama adalah reseksi bedah jika tidak ada kontraindikasi. Terapi
radiasi atau kemoterapi adjuvan dapat dilakukan bila ada sisa tumor atau keterlibatan KGB
intratoraks, terutama N2 atau N3
 Pada stadium IIIA, dapat dilakukan pembedahan (bila tumor masih dapat dioperasi dan
tidak terdapat bulky lymphadenopathy), terapi radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dari
ketiga modalitas tersebut
 stadium IIIB, modalitas pengobatan yang menjadi pilihan utama bergantung pada kondisi
klinis dan tampilan umum pasien
 stadium IV, tujuan utama terapi pada stadium ini bersifat paliatif
Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Kanker Paru jenis Karsinoma Sel Kecil
(KPKSK)
 Secara umum, jenis kanker paru ini dapat dibagi menjadi dua kelompok,
Stadium terbatas (limited stage disease = LD), dan stadium lanjut (extensive
stage disease = ED)
 pasien dengan KPKSK tidak memberikan respon yang baik terhadap terapi
target

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
1. Stadium terbatas
 Pilihan modalitas terapi pada stadium ini adalah kombinasi dari kemoterapi
berbasis platinum dan terapi radiasi toraks
 Kemoterapi dilakukan paling banyak 4-6 siklus, dengan peningkatan toksisitas
yang signifikan jika diberikan lebih dari 6 siklus.
 Pada pasien usia lanjut dengan tampilan umum yang buruk (>2), dapat diberikan
kemoterapi sisplatin,
 pasien dengan tampilan umum baik (0-1) dapat diberikan kemoterapi dengan
karboplatin
 Setelah kemoterapi, pasien dapat menjalani iradiasi kranial profilaksis (prophylaxis
cranial irradiation/PCI).
 Reseksi bedah dapat dilakukan dengan kemoterapi adjuvan atau kombinasi
kemoterapi dan radiasi terapi adjuvan pada TNM stadium dini, dengan/tanpa
pembesaran kelenjar getah bening

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
2. Stadium lanjut

 Pilihan utama modalitas terapi stadium ini adalah kemoterapi kombinasi.


 Regimen kemoterapi yang dapat digunakan pada stadium ini adalah
sisplatin/karboplatin dengan etoposid (pilihan utama) atau
sisplatin/karboplatin dengan irinotecan
 Pilihan lain adalah radiasi paliatif pada lesi primer dan lesi metastasis.

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Dukungan Nutrisi

Kebutuhan
energi 25- 30 kkal/kgBB
• Malnutrisi pada pasien
kanker paru terjadi mikronutrien
sebesar 46% pemberian vitamin dan mineral sebesar
satu kali angka kebutuhan gizi
• Malnutrisi disebabkan • protein 1,2-2,0 gr/kgBB/hari,
oleh gangguan Makronutrien • lemak 25-30 % dari energi total,
metabolisme terkait • karbohidrat sisa dari perhitungan protein
dengan adanya sel dan lemak
tumor, dengan gejala
penurunan berat badan Cairan • usia <55 tahun 30-40 ml/kgBB/hari,
(BB) dan kesulitan • usia 55-65 tahun 30 ml/kgBB/hari,
makan atau minum • usia >65 tahun 25 ml/kgBB/hari
akibat efek terapi • branched-chain amino acids
Nutrien spesifik
antikanker. (BCAA),
• asam lemak omega 3
Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Farmakoterapi

 Progestin
 Kortikosteroid
 Siprohepatadin
 Anti emetik

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Perawatan paliatif

 Dilakukan pada pasien dengan stadium akhir


 Dilakukan pada pasien dengan prognosis buruk
 Paliatif care dapat memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi kesakitan
dan memperpanjang hidup pasien.
 Penelitian membuktikan bahwa perawatan paliatif secara dini dapat
memperpanjang hidup pasien kanker paru. Perawatan paliatif juga
mengurangi kesakitan, biaya perawatan, dan memberikan kepuasan yang
lebih besar kepada pasien dan keluarga

Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional pelayanan kedokteran : Kanker Paru.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Prognosis

Karsinoma sel kecil : karsinoma bronkogenik tipe bukan sel kecil tergantung
0%
stadium dan dilakukan pembedahan atau tidak

stadium 1 + • karsinoma epidermoid = 54%


operasi
• adenokarsinoma dan sel besar = 51%

stadium 2 + • Ca epidermoid = 35%


operasi • adenokarsinoma dan sel besar = 18%

Tanpa • ketahanan hidup 5 tahun, kurang dari


Komite penanggulangan kanker nasional. Pedoman nasional
pelayanan kedokteran : Kanker Paru. Jakarta : Kementerian
operasi 10%
Kesehatan Republik Indonesia ;2017
Terimakasih