Anda di halaman 1dari 81

Strategi Pengawasan

Bidang Bahan
Berbahaya & Beracun

Disampaikan oleh:
Rosliana
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Cegah Kecelakaan !!!

File : Merck, Sumber: Tempo


BAHAYA dapat menimbulkan RISIKO terhadap
kesehatan dan keselamatan
Gambar ular dan anak kecil

Bahaya : suatu potensi yg dpt


menyebabkan luka atau sakit
Risiko : kemungkinan dan
konsekwensi terjadinya luka/sakit.
HILANGKAN bahaya pada sumbernya
• GANTI

Latar Belakang

 
Tata Laksana Peran serta
Pengelolaan B3 masyarakat &
Kewenangan
Pengelolaan B3

 
Penyimpanan & Pengawasan
Tanggap Pengelolaan B3
Darurat


Studi kasus
Latar Belakang
PERTAMA

UNCED (Rio-1992): Agenda 21 Bab 8


 Pengelolaan Bahan Kimia Beracun
 Bidang Program Peningkatan Kemampuan dan
kapasitas nasional dalam pengelolaan bahan-
bahan kimia
 Penyerasian klasifikasi dan pelabelan bahan kimia
 Penyebarluasan informasi bahan kimia beracun
dan resiko kimianya
 Penurunan resiko & pencegahan lalu lintas
domestik/internasional illegal produk B3
Latar Belakang

KEDUA Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya


dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah [Pasal 58, UU No. 32 Tahun 2009]

KETIGA PP 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan B3

KEEMPAT B3 mempunyai dimensi internasional Montreal


Protocol (Bahan Perusak Lapisan Ozon) Rotterdam
Convention (PIC) Stockholm Convention (POP’s)
KONVENSI ROTTERDAM  PIC
Mengatur prosedur  Prosedur notifikasi ke
Persetujuan yang Sekretariat
diinformasikan dini (PIC)  Prosedur pencantuman
untuk bahan kimia dan dalam Lampiran III
pestisida berbahaya  Kewajiban legal dan
tertentu dalam administrasi dalam
perdagangan internasional ekspor
(kec. Narkotika, radioaktif,  Kewajiban legal dan
limbah, senjata kimia, obat, administrasi dalam impor
pangan dan B3 untuk riset B3 pada Lampiran III
dan perorangan)
KONVENSI ROTTERDAM:
27 B3 Subyek Prosedur PIC (Annex III)
1. 2,4,5-T 14. Hexachlorobenzene
2. Aldrin 15. Lindane
3. Captafol 16. Pentachlorophenol
4. Chlordane 17. Senyawa Merkuri
5. Chloidimeform 18. Monochrotophos
6. Chlorobenzilate 19. Metamidophos
7. DDT 20. Phosphamidon
21. Metil parathion
8. Dieldrin
22. Parathion
9. Dinoseb dan Garamnya 23. Crocidalite
10. 1,2 dibromoethane (EDB) 24. Polybrominated biphenyls (PBBs)
11. Fluoroacetamide 25. Polychlorinated byphenyls (PCBs)
12. HCH (mixed isomer) 26. Polychlorinated terphenyls (PCTs)
13. Heptachlor 27. Tris (2,3) – dibromopropyl) phosphate

11 chemical tambahan pada tahun 1998:


pestisida, 1 SHPF dan 4 bahan kimia industri
ditambahkan dalam Prosedur PIC interim
KONVENSI STOCKHOLM POPs
MENGATUR PENGURANGAN ATAU
PENGHENTIAN PELEPASAN POPs:
• Produksi
• Impor dan ekspor
• Penggunaan
• Pembuangan
• Pelepasan POPs tidak disengaja
KONVENSI STOCKHOLM POPs
NO POPs INFORMASI
1 Aldrin Tidak terdaftar, dilarang sejak tahun 1973
2 Dieldrin Dilarang sejak tahun 1992
3 Endrin Tidak terdaftar, dilarang tahun 1973
4 Heptaklor Tidak pernah terdaftar
5 Klordan Dilarang tahun 1992
6 DDT Tidak pernah terdaftar
7 Mireks Tidak pernah terdaftar
8 Toksafen Dilarang tahun 1980
9 PCB dan HCB Poliklorobifenil(PCB) dan Heksaklorobenzena (HCB)

10 PCDD, PCDF Dioksin dan furan



Latar
Belakang

 
Tata Peran serta
masyarakat &
Laksana Kewenangan
Pengelolaan Pengelolaan
B3 B3


Penyimpanan Pengawasan
& Tanggap Pengelolaan
Darurat B3


Studi kasus
B3
PP 74 Tahun 2001

tentang

Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun


DEFINISI
PP Nomor 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan B3

adalah bahan yang karena sifat dan atau


konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung
dapat mencemarkan dan atau merusak
lingkungan hidup, dan atau dapat
membahayakan lingkungan hidup manusia
serta makhluk hidup lainnya.
KARAKTERISTIK B3
 Mudah meledak (explosive)
 Pengoksidasi (oxidizing)
 Sangat mudah sekali menyala
(extremely flammable)
 B3  Sangat mudah menyala (highly
flammable)
 Mudah menyala (flammable)
 Amat sangat beracun (extremely toxic)
 Sangat beracun (highly toxic)
 Beracun (moderately toxic)
 Berbahaya (harmful)
 Korosif (corrosive)
 Bersifat iritasi (irritant)
 Berbahaya bagi lingkungan (dangerous
to the environment)
 Karsinogenik (carcinogenic)
 Teratogenik (teratogenic)
 Mutagenik (mutagenic)
KARAKTERISTIK B3

a. Mudah meledak (explosive), adalah bahan yang pada suhu


dan tekanan standar (25 oC,760mmHg) dapat meledak atau
melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas
dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat
merusak lingkungan di sekitarnya. Pengujiannya dapat
dilakukan dengan menggunakan Differential Scanning
Calorymetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA),
2,4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida sebagai senyawa
acuan. Dari hasil pengujian tersebut akan diperoleh nilai
temperatur pemanasan. Apabila nilai temperatur pemanasan
suatu bahan lebih besar dari senyawa acuan, maka bahan
tersebut diklasifikasikan mudah meledak.
KARAKTERISTIK B3

b. Pengoksidasi (oxidizing)
Pengujian bahan padat yang termasuk dalam kriteria B3 pengoksidasi
dapat dilakukan dengan metoda uji pembakaran menggunakan
ammonium persulfat sebagai senyawa standar. Sedangkan untuk bahan
berupa cairan, senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam
nitrat. Dengan pengujian tersebut, suatu bahan dinyatakan sebagai B3
pengoksidasi apabila dalam waktu pembakaran bahan tersebut sama atau
lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar.
c. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammabel) adalah B3 baik
berupa padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala dibawah 0 oC
dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35 oC.
d. Sangat mudah menyala (highly flammable) adalah B3 baik berupa
padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala 0 oC – 21 oC.
KARAKTERISTIK
B3

e. Mudah menyala (flammable) mempunyai salah satu sifat sebagai berikut:


1. Berupa cairan
Bahan berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume
dan atau pada titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60 oC (140 oF) akan
menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api, atau sumber
nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg. Pengujiannya dapat dilakukan
dengan metode “Closed-Up Test”.
2. Berupa padatan
B3 yang bukan merupakan cairan, pada temperatur dan tekanan standar
(25 0C, 760 mmHg) dengan mudah terjadinya kebakaran melalui gesekan,
penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan dan apabila
terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus dalam 10
detik. Selain itu, suatu bahan padat diklasifikasikan B3 mudah terbakar
apabila dalam pengujian dengan metode “ Seta closed-Up Flash Point Test”
diperoleh titik nyala kurang dari 40 oC.
KARAKTERISTIK B3

f. Beracun (moderately toxic)


B3 yang bersifat racun bagi manusia akan menyebabkan
kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh
melalui pernafasan, kulit atau mulut.
Tingkatan racun B3 dikelompokkan sebagai berikut:
Karakteristik B3
i. Berbahaya (harmful) adalah bahan baik padatan maupun cairan ataupun
gas yang jika terjadi kontak atau melalui inhalasi ataupun oral dapat
menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.
j. Korosif (corrosive)
B3 yang bersifat korosif mempunyai sifat antara lain:
(1) Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit;
(2) Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja SAE 1020 dengan
laju korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55
oC.
(3) Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam dan
sama atau lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.
k. Bersifat iritasi (irritant)
Bahan baik padatan maupun cairan yang jika terjadi kontak secara langsung,
dan apabila kontak tersebut terus menerus dengan kulit atau selaput lendir
dapat menyebabkan peradangan.
KARAKTERISTIK B3
l. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
Bahaya yang ditimbulkan oleh suatu bahan seperti merusak
lapisan ozon (misalnya CFC), persisten di lingkungan
(misalnya PCBs), atau bahan tersebut dapat merusak
lingkungan.
m.Karsinogenik (carcinogenic) adalah sifat bahan penyebab sel
kanker, yakni sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh.
n. Teratogenik (teratogenic) adalah sifat bahan yang dapat
mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio.
o. Mutagenik (mutagenic) adalah sifat bahan yang
menyebabkan perubahan kromosom yang berarti dapat
merubah genetika.
Sasaran
• Terciptanya pengelolaan B3 yang aman bagi manusia
dan lingkungan dalam pelaksanaan
- Import
- Export
- Penggunaan
- Pengangkutan
- Produksi
- Penggudangan
- Penandaan(Label $& simbol)
• Sistem Administrasi/Registrasi
• Informasi
Ruang Lingkup
PENGECUALIAN :
• Narkotika,bahan-bahan psikotropika & prekursor
• Bahan radioaktiv
• Bahan peledak
• Senjata kimia
• Bahan-bahan farmasi
• Bahan kimia untuk makanan (food aditive)
• Makanan
• Hasil produksi tambang serta minyak dan gas bumi
Pengelolaan B3

Kegiatan yang menghasilkan,


mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, menggunakan dan
membuang B3
Penggolongan B3

Terdiri dari:
B3 yang dapat dipergunakan
PERTAMA
[Daftar Lampiran I PP 74/2001]

B3 yang dilarang dipergunakan:


KEDUA
Jenis-jenis B3 yang dilarang digunakan,
diproduksi, diedarkan dan atau diimpor
[Daftar Lampiran II Tabel 1 PP 74/2001]

B3 yang terbatas dipergunakan:


KETIGA
B3 yang dibatasi penggunaan, impor dan
atau produksinya
[Daftar Lampiran II Tabel 2 PP 74/2001]
KELEMBAGAAN PENGELOLAAN B3

“KOMISI B3”

• Memberi saran
• Memberi Kepada pemerintah
pertimbangan • Perindag
• Energi & SDM
• Kesehatan
• Pertanian
• Perhubungan
Dibentuk
dengan Kepres

Yg sdh terbentuk : KOMISI B3


- komisi pestisida – Wakil dari Dep.teknis
– Wakil dari perguruan tinggi
- komisi untuk – NGO
masalah obat & – KLH
makanan
REGISTRASI
SETIAP B3 WAJIB DIREGISTRASIKAN OLEH PENGHASIL DAN ATAU
PENGIMPOR

Dikelompokkan menjadi :
> B3 yang baru diproduksi & pertama kali di-impor ke Indonesia
> B3 yang sudah diproduksi / di-impor

Kewajiban registrasi B3 :
berlaku 1 (satu) kali untuk setiap B3
yg diproduksi dan atau diimpor
Registrasi dilakukan ke KLH
Contoh Nomor Registrasi
• Nonylphenol polyglycol ether :
No registrasi : 005.0805.u.h.S.9016-45-9.34.058
No urut 005
Tanggal bulan tahun registrasi 8 Agustus 2005
Penggunaan bahan Unlimited
Klasifikasi B3 h = beracun
Karakteristik fisik Solid
Nomor CAS 9016-45-9

Kode negara penghasil 34

Kode wilayah perusahaan pengimpor

No urut registrasi 058


NOTIFIKASI

• Setiap orang yang melakukan kegiatan


ekspor B3 yang terbatas dipergunakan
• Setiap orang yang melakukan kegiatan
impor B3 yang terbatas dipergunakan dan
atau pertama kali diimpor
IMPOR
IMPOR

• Izin impor B3 diterbitkan kementerian yang


membidangi impor (perdagangan)
• Persetujuan impor diterbitkan setelah ada
notifikasi dari negara eksportir
• Pelaksanaan notifikasi Min 1(satu) x dalam 1
(satu) tahun dengan syarat :
• Jenis B3
• Banyaknya pengiriman
• Negara pengirim
• Eksportir
• Periode pengiriman
EKSPORT
EKSPORT

• Izin diterbitkan oleh instansi terkait (dep.


Perdagangan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku
setelah mendapat persetujuan dari otoritas negara
tujuam eksport dan transit serta KLH
TATA CARA REGISTRASI [Pasal 6]
TATA
1. Penghasil B3 3. Penghasil & pengimpor
LAKSANA 2. Pengimpor B3 4. B3 yang telah beredar/belum
teregistrasi

TATA CARA NOTIFIKASI

B3 baru/diluar daftar
EKSPOR IMPOR terlampir [Pasal 9]
[Pasal 7]

B3 terbatas Disampaikan
B3 terbatas [Pasal 8] ke KLH
Saran & pertimbangan
Disampaikan Diberitahukan ke
Disampaikan ke ke KLH (90 hr) Komisi B3
• Otoritas neg. tujuan
• otoritas neg. transit • persetujuan utk inst yg berwenang
• inst. yg bertanggung di bid.perdagangan utk izin impor
jawab • sebagai dasar pengajuan
perubahan daftar lampiran

Persetujuan untuk
Komisi B3 [Pasal19]
izin ekspor
 terdiri dari beberapa subkomisi
 keanggotaan : wakil instansi & KLH
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN PENGELOLA B3
(yang harus diawasi)

PENGHASIL
 Wajib mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan
lingkungan;
 Wajib meregristrasikan B3 yg diproduksi;
 Wajib membuat MSDS;
 Wajib mengemas setiap B3 sesuai klasifikasinya serta memberi
simbol dan label;
 Wajib memiliki tempat penyimpanan yang memnuhi syarat;
 Wajib melengkapi sistem tanggap darurat dan prosedur
penanganan B3;
 Wajib menjaga keselamatan dan kesehatan kerja;
 Wajib menanggulangi kecelakaan dan keadaan darurat;
 Wajib menyampaikan laporan kegiatan.
Lanjutan…

PENYIMPAN

 Wajib mencegah terjadinya pencemaran atau kerusakan


lingkungan;
 Wajib memiliki MSDS;
 Wajib mengemas setiap B3 sesuai klasifikasinya dan memberikan
simbol dan label;
 Wajib memiliki sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan
B3;
 Wajib melakukan penanggulangan kecelakaan dan keadaan
darurat;
 Wajib menjaga keselamatan dan kesehatan kerja;
 Wajib menyampaikan laporan kegiatan.
Lanjutan….

PENGGUNA

 Wajib mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan


lingkungan;
 Wajib menjaga keselamatan dan kesehatan kerja;
 Wajib memiliki MSDS;
 Wajib memasang simbol dan labelsesuai klasifikasinya;
 Wajib melakukan penanggulangan kecelakaan dan keadaan
darurat;
 Wajib memiliki prosedur penanganan dan keadaan darurat;
 Wajib menyampaikan laporan kegiatan.
Lanjutan…

PENGANGKUT
 Wajib mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan
lingkungan;
 Wajib memiliki MSDS;
 Wajib menggunakan sarana yang layak operasi;
 Wajib mengemas B3 sesuai klasifikasinya dan meberi simbol dan
label;
 Wajib melengkapi sistem tanggap darurat dan prosedur
penanganan B3;
 Wajib melakukan penanggulangan keadaan darurat dan
kecelakaan;
 Wajib menjaga keselamatan dan kesehatan kerja;
 Wajib menyampaikan laporan kegiatan
 Izin pengangkutan B3 dari Dephub dengan rekomendasi dari KLH
Lanjutan…

PENGEDAR

 Wajib melakukan pencegahan terjadinya pencemaran dan


kerusakan lingkungan;
 Wajib memiliki MSDS;
 Wajib mengemas sesuai dengan klasifikasinya, memberi simbol
dan label;
 Wajib menjaga keselamatan dan kesehatan kerja;
 Wajib melakukan penanggulangan kecelakaan dan keadaan
darurat;
MSDS (Material Safety Data Sheet)
MSDS /LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN

a. Merek dagang
b. Rumus Kimia B3
c. Jenis B3
d. Klasifikasi B3
e. Teknik Penyimpanan
f. Tanggap darurat bila terjadi kecelakaan
CONTOH MSDS
Contoh : MSDS
SIMBOL B3
(Sumber : Permen LH 03/2008 Tata Cara Pemberian Simbol & Label B3)

mudah meledak pengoksidasi (oxidizing).


(explosive).

beracun (toxic)

mudah menyala
(flammable) berbahaya (harmful)
SIMBOL B3
(Sumber : Permen LH 03/2008 Tata Cara Pemberian Simbol & Label B3)

iritasi (irritant) korosif (corrosive)

berbahaya bagi lingkungan


karsinogenik, teratogenik dan mutagenik
(dangerous for the environment)
(carcinogenic, tetragenic, mutagenic).
B3
KADALUARSA

Pengelolaannya sesuai
TDK dengan PP 18/1999 jo.
MEMENUHI PP 85 /1999 tentang
SPESIFIKASI Pengelolaan Limbah B3

BEKAS KEMASAN

Latar
Belakang

 
Tata Peran serta
masyarakat &
Laksana Kewenangan
Pengelolaan Pengelolaan
B3 B3


Penyimpanan Pengawasan
& Tanggap Pengelolaan
Darurat B3


Studi kasus
PERAN SERTA MASYARAKAT
KETERBUKAAN INFORMASI

 Sosialisasi  Pengelolaan lingkungan di dalam


industri
 Mengikutsertakan beberapa kegiatan dengan
melibatkan masyarakat (forum komunikasi)
 Melibatkan peran masyarakat dalam
penanganan keadaan darurat
 SOP diberitahukan kepada masyarakat
KEWENANGAN

Pengelolaan Bahan
Berbahaya dan Beracun
Kewenangan Pemerintah Pusat
PP 38/2007

Penetapkan kebijakan mengenai pengelolaan Limbah


B3 yang antara lain mencakup:
 Penetapan status B3.
 Notifikasi B3
 Pengawasan pelaksanaan sistem tanggap darurat
skala nasional.
Menyelenggarakan registrasi B3.
Pengawasan pengelolaan (B3).
Kewenangan
Pemerintah Provinsi :

Pengawasan pelaksanaan
sistem tanggap darurat skala
provinsi.
Kewenangan
Pemerintah Kabupaten/Kota:

 Pengawasan pelaksanaan
sistem tanggap darurat skala
kabupaten/kota.
PENGAWASAN
PENGELOLAAN B3 (UU 24/2007)

Latar
Belakang

 
Tata Peran serta
masyarakat &
Laksana Kewenangan
Pengelolaan Pengelolaan
B3 B3

 
Penyimpanan Pengawasan
& Tanggap Pengelolaan
Darurat B3


Studi kasus
PENYIMPANAN & TANGGAP DARURAT

Bahan Berbahaya dan Beracun


PENYIMPANAN
LOKASI BANGUNAN PENYIMPANAN B3
 Berlokasi pada lahan yang bebas atau memiliki perlindungan
dari berbagai kemungkinan gangguan yg berasal dari
sekelilingnya (efek domino dari suatu kejadian mis :
kebakaran, sambaran petir)
 Ada jarak antara bangunan sehingga memudahkan akses
 Berada pada daerah bebas banjir
 Diupayakan sejauh mungkin dengan aktivitas umum
ataupun aktivitas manusia
PENYIMPANAN
Bangunan Penyimpanan B3
 Lantai penyimpanan dirancang untuk menahan kebocoran bahan kimia dan kontaminasi air
pemadam kebakaran
 Tersedianya jalur evakuasi dan pintu darurat
 Tumpahan bahan kimia tidak boleh dialirkan langsung ke sumber air (adanya
penampungan tumpahan)
 Adanya ventilasi untuk sirkulasi udara
 Penerangan yang memenuhi persyaratan
 Sistem sprinkler air/foam
 Safety Data Sheet (SDS) atau Lembar Data Keselamatan Bahan harus tersedia di lokasi yang
mudah dijangkau
 Penyimpanan dengan pemisahan berjarak, jarak yg cukup aman utk bahan yg tdk
bersesuaian cairan atau padatan adalah 1,5 m, untuk bahan gas adalah 3 m
 Daerah untuk lalu truk fork-lift harus lebih lebar dari daerah khusus berjalan kaki (prinsip:
dibedakan)
 Packaging harus dipastikan aman diatas pallet, tidak jatuh/runtuh
PENYIMPANAN
Kelas Penyimpanan (LGK)

+ saling
bersesuaian

- Tdk
bersesuaian
O dengan
persyaratan
tertentu

Sumber : Merck
PENYIMPANAN
RENCANA TANGGAP DARURAT

Sumber : Merck
DETEKTOR BENCANA
 Detektor api : detektor infra merah,
ultraviolet (memberikan peringatan lebih
awal)
 Detektor asap : ionisasi dan optikal
 Detektor panas : merespon setelah
kebakaran menghasilkan panas yang cukup
PERALATAN PEMBERSIH
TUMPAHAN BAHAN KIMIA
Peralatan yang
perlu disiapkan
• Sapu
• Penyeka
• Material
absorbent
• Ember
penampung
• Sekop
• Larutan
detergent
• APD
Sumber : Merck
ALAT PEMADAM KEBAKARAN

Selang pemadam
Fire extinguisher tipe A B
kebaran dan lemarinya

Sumber: Merck Thailand


Fire extinguisher CO2
KOORDINASI SISTEM TANGGAP DARURAT

• PEMERINTAH
Informasi – Koordinasi
PEMERINTAH
Undang- (pusat dan daerah)
Jelas – Pengembangan
undang ttg STD organisasi UU 24/2007 ttg
Penanggulangan Bencana :
Badan Nasional
Penanggulangan
Bencana Prov, Badan
Penanggulangan
Bencana Kab/Kota
• INDUSTRI/ PEMRAKARSA
INDUSTRI – Kebijakkan STD
(PEMRAKARSA)
MASYARAKAT – SOP Tanggap darurat
– Pemulihan
• MASYARAKAT
Transparansi – Informasi
Informasi
GARIS KOMANDO SISTEM TANGGAP
DARURAT (STD)
SKENARIO BENCANA
 Bencana tumpahan minyak di lepas pantai
 Kecelakaan lalu lintas dengan ledakan tanki
LPG
 Kerusakan tanki penyimpanan bahan bakar
minyak
 Kebakaran dalam fasilitas penyimpanan
bahan kimia
 Kerusakan tanki klorin

Latar
Belakang

 
Tata Peran serta
masyarakat &
Laksana Kewenangan
Pengelolaan Pengelolaan
B3 B3

 
Penyimpanan Pengawasan
& Tanggap Pengelolaan
Darurat B3


Studi kasus
PENGAWASAN

Bahan Berbahaya dan Beracun


PENGAWASAN
PENGELOLAAN B3

Wewenang pengawasan kegiatan pengelolaan B3 dilakukan oleh


instansi yg bertanggungjawab & instansi berwenang sesuai dgn bidang
tugasnya masing-masing

Berkaitan dengan pengawasan tersebut, maka setiap orang yang


melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib :

 Mengizinkan pengawas untuk memasuki lokasi kerja & membantu


terlaksananya tugas pengawasan
 Mengizinkan pengawas untuk mengambil contoh B3
 Memberikan keterangan dengan benar baik lisan maupun tulisan
 Mengizinkan pengawas untuk melakukan dokumentasi di lokasi kerja
 Menyampaikan laporan tertulis tentang pengelolaan B3 secara berkala
sekurangnya 6 bulan kepada instansi yang bertanggungjawab & instansi yang
berwenang di bidang tugas masing2x dengan tembusan kepada Gubernur/
Bupati/Walikota.
A. PERSIAPAN INSPEKSI
 Merumuskan tujuan dan ruang lingkup inspeksi;
 Mengkoordinasikan dengan semua personil yg terkait dgn
kegiatan yang akan diinspeksi;
 Memahami secara cermat aspek teknis, peraturan dan
penegakan hukum;
 Mengembangkan strategi/rencana pengawasan;
 Menentukan keperluan PPE.
 Review dokumen-dokumen hasil pengawasan sebelumnya
 Menyusun Checklist Inspeksi
Check list inpeksi sangat penting dibuat untuk menentukan
langkah-langkah yg hrs ditempuh oleh inspektur agar kegiatan
inspeksi dan pengumpulan data jangan ada yang terlewat.
B. PELAKSANAAN INSPEKSI
1. Review semua rekaman dari fasilitas akan akan
diinspeksi,meliputi:
 Laporan kegiatan dan jadwal produksi,
 Laporan pembelian,
 Laporan pemindahan/manifes,
 Laporan penyimpanan/gudang,
 laporan penggunaan,
 Sistem Inventory Control,
 Laporan accident dan incident,

2. Evaluasi Perizinan & Pelaporan


– Apakah B3 yg dihasilkan atau diimpor sudah diregistrasi
– Apakah melakukan pelaporan pengelolaan B3 secara rutin
*MANFAAT MSDS BAGI INSPEKTUR*

 Menunjukan sifat-sifat kimia, fisik dan karakteristik


bahan;
 Menentukan kecocokan bahan kimia dan
pencampurannya dengan benar;
 Memberikan informasi tentang tatacara penyimpanan
dan penanganan dengan benar;
 Memudahkan pencegahan kerugian-kerugian bahan
yang kadaluwarsa;
 Menunjukkan tindakan pencegahan keamanan yang
benar serta tindakan pengawasan yang diperlukan
termasuk penggunaan alat pelindung diri (PPE);
 Informasi tentang keadaan darurat bila terjadi
tumpahan, kebakaran, ledakan dsb;
Lanjutan…..

 Menunjukkan langkah-langkah P3K;


 Merinci tingkat bahaya B3 sebagai petunjuk tentang
dampak yang terjadi pada air, tanah dan kesehatan
manusia;
 Merinci titik nyala (flash point) yaitu suhu terendah
dimana bahan kimia memberikan uap yang menyala.
Makin rendah titik nyala makin bahaya bahan kimia
tersebut sebagai sumber bahan bakar untuk
pembakaran atau peledakan;
 Merinci titik didih untuk menentukan kemampuan
menguap bahan. Makin rendah titik didih makin tinggi
kemampuan menguapnya.
3. Pemeriksaan Fasilitas :

a. Tempat Pemindahan/bongkar-muat:

 Bila penyimpanannya menggunakan bulk tank, maka periksa


slang, apakah bocor atau pecah, terjadi tumpahan/ceceran;
 Cek saluran/selokan slank/pipa transfer;
 Aliran air dari luar/drainase apakah tercampur dgn aliran
selokan;
 Cek bahan yg digunakan untuk menanggulangi tumpahan
(absorbent, cairan, air atau bahan lain);
 Cek peralatan yg digunakan dalam handling dan cara handling.
b. Tempat Penyimpanan :

 Cek tumpukan kontainer dan bandingkan dgn MSDS, apakah


melebihi seperti yg direkomendasikan oleh produsen;
 Cek pencahayaan dan ventilasi;
 Cek SOP insternal inspection dan corrective action yg dilakukan;
 Simbol dan label;
 MSDS dari bahan yg disimpan;
 cek kondisi curbing/tanggul utk mengatasi keadaan darurat;
 Cek tata letak bahan dan penyimpanan B3 yg kemungkinan saling
dapat bereaksi (oxidizer, reactive, korosif, dll)
 Apakah ada B3 yang kadaluarsa, reject atau kemasan B3 yang
sudah kosong  limbah B3  bagaimana pengelolaannya
c. Tanggap darurat

A. Apakah fasilitas memiliki prosedur (SOP)tanggap darurat?


B. Apakah (SOP) tsb diperlihara dan dilaksanakan dengan baik?
C. Bila ya, apakah SOP tsb mencakup :
1) Nama, alamat, no. telp koordinator tanggap darurat?
2) Daftar nama peralatan tanggap darurat dan uraian masing-
masing peralatan?
3) Rencana evakuasi utk karyawan dan msyarakat sekitarnya?
4) Apakah SOP tsb dikomunikasikan dgn Pemda setempat?
D. Apakah Koordinator lapangan bisa dihubungi setiap saat?
E. Apakah alat-alat tanggap darurat tersedia tersedia dan
berfungsi dengan baik?
4. Dokumentasi inspeksi

 Dokumentasikan bukti-bukti yang diperoleh meliputi : hasil


analisis lab yang dimiliki oleh fasilitas, laporan-laporan yang
terkait dgn pencemaran atau ketidak taatan, isian check list,
foto, video, gambar, catatan lapagan (logbook) selama inspeksi;

 Anggota tim inspeksi (masing-masing inspektur) wajib menyimpan


catatan detail, foto, dokumen-dokumen yang diambil selama
mengadakan investigasi. Pada saatnya akan didiskusikan dgn
ketua dan anggota tim lainnya;

 Setiap anggota tim hrs menjaga masing-masing catatan harian


(field notebook) . Catatan harian hanya berisi fakta-fakta dan
catatan observasi yg nantinya akan dijadikan bahan laporan dan
kemungkinan akan menjadi data yg sangat diperlukan bila
dilanjutkan di pengadilan.
5. Sampling

 Alasan pengambilan sampel : utk mengidentifikasi atau


memverifikasi bahan kimia atau yg lepas ke lingkungan;

 Dalam inspeksi rutin biasanya sampling tidak diperlukan. Tapi


dlm hal tertentu inspektur perlu mengambil sample terutama utk
mengidentifikasi potensi ketidak taatan yang nantinya dapat
dikembangkan menjadi penyidikan bila terbukti fasilitas
melakukan pelanggaran;

 Pengambilan sample memang sangat diperlukan bila dijumpai


hal-hal sbb:

- Untuk memastikan apakah tumpahan/ceceran yg dijumpai di


lapangan berasal dari B3;
lanjutan

 Penanganan B3 di dalam fasilitas menunjukan tidak berlabel atau


mungkin mislabeling / misidentifikasi hasil dari tindakan
manajemen B3 yg tidak memadai;

 Ada bukti bahwa berdasarkan observasi kemungkinan terjadi


lepasan B3 dari tempat penyimpanan B3 ;

Latar
Belakang

 
Tata Peran serta
masyarakat &
Laksana Kewenangan
Pengelolaan Pengelolaan
B3 B3

 
Penyimpanan Pengawasan
& Tanggap Pengelolaan
Darurat B3


Studi kasus
CONTOH KASUS

Bahan Berbahaya dan Beracun


Kasus 1
 Suatu industri mempunyai gudang
penyimpanan bahan kimia berupa
Permanganat dan Etil Alkohol. Gudang
tersebut agak gelap. Hanya ada satu pintu
masuk. MSDS tersedia di kantor
administrasi. Identifikasi temuan lapangan
dari kasus tersebut.
Tengkiyu
Kamsia
Semoga Bermanfaat