Anda di halaman 1dari 73

SISTEM SKELETAL

Ida Ayu Eka Widiastuti


Bagian Fisiologi FK Unram
Tujuan Pembelajaran
• Mendiskusikan fungsi umum sistem skelet
• Mendeskripsikan struktur-fungsi kartilago
• Mendiskusikan pertumbuhan kartilago
• Mengklasifikasikan tulang berdasarkan bentuk dan organisasi
internal beserta contoh
• Mendeskripsikan bagian tulang panjang
• Mengidentifikasikan fungsi utama jenis sel tulang
• Membandingkan struktur-fungsi tulang kompak dan busa
Tujuan Pembelajaran
• Membandingkan osifikasi endrokondral dan intramembran
• Menghubungkan peran kalsium terkait dengan pembentukan tulang
• Menunjukkan mekanisme remodelling tulang
• Mendeskripsikan kelompok persendian utama secara fungsional dan
struktural
• Mendeskripsikan pergerakan yang terjadi pada persendian
• Memberikan contoh interaksi sistem skelet dengan sistem lain
• Menghubungkan efek olahraga, hormon, dan nutrisi terhadap
perkembangan sistem skelet
• Memberikan contoh aplikasi sistem skelet dalam kondisi klinis dan terapi
SISTEM SKELETAL
Bagian Sistem Skeletal:
1. Tulang
2. Persendian
3. Kartilago
4. Ligamen (tulang dg tulang)/tendon (tulang dengan otot)
Fungsi Umum Sistem Skeletal
 Menyangga tubuh (kerangka tubuh)
 Melindungi organ dari cedera
- tengkorak melindungi otak
- vertebra melindungi medulla spinalis
- costa melindungi jantung dan paru
 Membantu pergerakan
hampir semua otot skelet melekat pada tulang. Saat otot
berkontraksi, akan menarik tulang sehingga terjadi gerakan
 Homeostasis mineral (penyimpanan dan pelepasan)
 tulang menyimpan beberapa mineral, terutama Ca dan P, yang
berperan untuk kekuatan tulang
 99% Ca tubuh disimpan dalam jaringan tulang
 apabila diperlukan tulang dapat melepaskan mineral ke dalam darah
 Membentuk/memproduksi sel darah
 sumsum tulang merah pada tulang tertentu memproduksi eritrosit,
lekosit, dan trombosit HEMOPOIESIS
 Menyimpan trigliserida
 sumsum tulang kuning terutama terdiri dari sel-sel adiposit yang
menyimpan trigliserida (cadangan energi)
Tipe Dasar Tulang
• Pada dewasa memiliki 206 tulang
• Dua tipe dasar jaringan tulang:
1. Tulang kompak
• Homogeneous
• Rapat/padat dan keras
2. Tulang busa
• Small needle-like
pieces of bone
• Banyak ruang terbuka

Figure 5.2b
Klasifikasi Tulang Berdasarkan Bentuk

Figure 5.1
Klasifikasi Tulang
1. Tulang panjang
• Khas: ukuran panjang > lebar
• Memiliki batang/tangkai dengan ‘kepala’ pada kedua
ujungnya
• Hampir seluruhnya merupakan tulang kompak
 Contoh: Femur, humerus

2. Tulang pendek
• Umunya berbentuk seperti kubus
• Terutama merupakan tulang busa (spongy bone)
Contoh: Carpals, tarsals
Klasifikasi Tulang
3. Tulang pipih
• Tipis dan pipih, biasanya lengkung
• Lapisan tipis tulang kompak mengelilingi selapis tulang
busa
Contoh: tengkorak, costae, sternum

4. Tulang bentuk tidak teratur (irregular)


• Bentuknya tidak beraturan
• Tidak dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi tulang yang ada
Contoh: Vertebrae dan tulang panggul
Anatomi Makroskopik
Tulang Panjang
Diaphysis
• Batang/tangkai
• Tersusun dari tulang kompak
Epiphysis
• Ujunng tulang panjang
• Tersusun terutama dari
tulang busa

Figure 5.2a
Struktur Tulang Panjang
• Periosteum
• Lapisan luar yang
membungkus diaphysis
• Merupakan membrane
jaringan ikat fibrosa
• Tempat melekatnya otot
• Sharpey’s fibers
• Melindungi periosteum ke
tulang di bawahnya
• Arteri
• Mensuplai nutrisi bagi sel-
sel tulang

Figure 5.2c
Struktur Tulang Panjang
• Kartilago Artikular
• Membungkus permukaan
eksternal epfisis
• Terbuat dari kartilago
hyalin
• Mengurangi gesekan pada
permukaan sendi

Figure 5.2a
Struktur Tulang Panjang
• Kavitas Medular (Medullary
cavity)
• Ruang/rongga dalam batang
tulang
• Mengandung sumsum kuning
pada dewasa
• Mengandung sumsum merah
pada bayi

Figure 5.2a
Anatomi Mikroskopik Tulang
Osteon (Sistem Haversian)
 Merupakan unit tulang
Kanalis sentral
(Haversian)
 Membawa pembuluh
darah dan saraf
Kanalis Perforata
(Volkman’s)
• Saluran tegak lurus ke
kanalis sentralis
• Membawa pembuluh
daran dan saraf
Perubahan pada Tulang Manusia
Pada saat embrio, tulang terutama merupakan kartilago
hyalin
Selama fase perkembangan, banyak dari kartilago
tersebut digantikan oleh tulang
Kartilago yang tersisa:
Bagian dari hidung
Bagian dari tulang iga (costae)
Persendian
Pembentukan Tulang (Bone Formation)
• Terdapat 2 metode pembentukan tulang:
1. osifikasi intramembranosa
2. osifikasi endokondral

OSIFIKASI INTRAMEMBRANOSA
• Lebih sederhana dibandingkan osifikasi endokondral
• Misal: pada tulang pipih tengkorak dan mandibula
OSIFIKASI INTRAMEMBRANOSA
Tahapan:
1. Perkembangan pusat osifikasi
- sel-sel mesenkimal mengumpul dan mengalami diferensiasi, mula-
mula sel osteogenik  osteoblast (tempat: pusat osifikasi)
- Osteoblast mensekresikan matriks ekstraseluler organik tulang
2. Kalsifikasi
- sekresi matriks ekstrasel berhenti  osteosit
- dalam beberapa hari kalsium dan garam mineral lainnya dideposit
dan matriks ekstrasel mengeras (kalsifikasi)
OSIFIKASI INTRAMEMBRANOSA
OSIFIKASI INTRAMEMBRANOSA
3. Pembentukan trabekula
 matriks ekstraseluler tulang terbentuk, berkembang ke dalam
trabekula, saling bergabung membentuk tulang busa
 Pembuluh darah tumbuh pada ruangan antar trabekula
 Jaringan ikat yang berhubungan dengan pembuluh darah di
dalam trabekula berdefersiasi menjadi sumsum tulang merah
OSIFIKASI INTRAMEMBRANOSA
4. Perkembangan periosteum
 bersamaan dengan pembentukan trabekula, mesenkim
memadat pada bagian perifer tulang dan berkembang menjadi
periosteum
 Pada akhirnya lapisan tipis tulang kompak menggantikan lapisan
superfisial tulang busa, namun tulang busa tetap ada di bagian
tengah
OSIFIKASI INTRAMEMBRANOSA
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
Merupakan proses penggantian kartilago oleh tulang
Sebagian besar tulang terbentuk melalui proses ini
Meliputi 6 tahap:
1. perkembangan model kartilago
2. pertumbuhan model kartilago
3. perkembangan pusat osifikasi primer
4. perkembangan kavitas medular (sumsum)
5. perkembangan pusat osifikasi sekunder
6. pembentukan kartilago artikuler dan lempeng epifiseal
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
1. Perkembangan Model Kartilago
Pada tempat tulang akan dibentuk, sel-sel mesenkimal mengumpul dan
berkembang menjadi kondroblast
Kondroblast mensekresikan matriks ekstraseluler kartilago, menghasilkan
model kartilago yang terdiri dari kartilago hyalin
Pembungkusnya disebut perikondrium yang berkembang di mengelilingi
model kartilago
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
2. Pertumbuhan Model Kartilago
Ketika kondroblast terbenam dalam matriks kartilago disebut KONDROSIT
Model kartilago tumbuh melalui pembelahan kondrosit dibarengi dengan sekresi
lebih lanjut matriks ekstraseluler kartilagointerstisial growth (pertumbuhan
dari dalam) dan hasilnya adalah penambahan panjang
Model kartilago juga tumbuh akibat adanya tambahan material matriks
ekstraseluler pada bagian perifer model oleh kondroblast yang berkembang dari
perikondrium appositional growth (pertumbuhan pada permukaan luar), yang
menyebabkan peningkatan ketebalan
Saat model kartilago terus tumbuh, kondrosit pada bagian tengah mengalami
hipertrofi dan matriks ekstraseluler kartilago yg mengelilinginya mengalami
kalsifikasi
 Kondrosit lain di dalam kartilago yg mengalami kalsifikasi mati akibat nutrient
tidak dapat berdifusi cepat
Kondrosit mati terbentuk lacuna bergabung membentuk kavitas
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
3. Perkembangan pusat osifikasi primer
 arteri yg membawa nutrisi menembus perikondrium dan model kartilago yg
mengalami kalsifikasi  menstimulasi sel pada perikondrium berdeferensiasi
menjadi OSTEOBLAST
Saat perikondrium mulai membentuk tulang periosteum
Pusat osifikasi primer  area tempat jaringan tulang akan menggantikan
sebagian besar kartilago
Osteoblast mendeposit matriks ekstraseluler tulang membentuk trabekula tulang
busa
Osifikasi primer menyebar ke kedua ujung model kartilago
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
4. Perkembangan kavitas medular
Osteoklast memecah beberapa trabekula tulang busa yg baru
terbentuk  membentuk kavitas medular (marrow) pada diafisis
Pada akhirnya sebagian besar dinding diafisis digantikan oleh
tulang kompak
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
5. Perkembangan pusat osifikasi sekunder
Perkembangan pusat osifikasi sekunder terjadi saat cabang arteri epifiseal masuk
ke dalam epifisis, biasanya sekitar waktu kelahiran
Pembentukan tulang = pembentukan tulang pada pusat osifikasi primer
Perbedaannya???
tulang busa tetap ada di bagian inferior epifisis (tidak ada pembentukan
kavitas medular)
OSIFIKASI ENDOKONDRAL
6. Pembentukan kartilago articular dan lempeng epifiseal
Kartilago hyalin yang membungkus epifisis akan menjadi kartilago
articular
Sebelum dewasa kartilago hyalin tetap ada antara diafisis dan epififis 
LEMPENG EPIFISEAL, yg berperan dalam pertumbuhan panjang tulang
panjang
Pertumbuhan Panjang Tulang
Pertumbuhan panjang tulang panjang, meliputi 2 peristiwa:
1. pertumbuhan interstisial kartilago pada sisi epifiseal lempeng
epifiseal
2. penggantian kartilago pada sisi diafiseal lempeng epifisis dengan
tulang oleh osifikasi endokondral
Pertumbuhan Tulang
LEMPENG EPIFISEAL
Merupakan lapisan kartilago hyaline pada metafisis tulang yang
sedang tumbuh
Terdiri dari 4 zona, yaitu:
1. Zona istirahat (resting cartilage)
2. Zona proliferasi (proliferating cartilage)
3. Zona hipertrofi (hypertrophic cartilage)
4. Zona kalsifikasi (calsified cartilage)
Pertumbuhan Tulang
ZONA ISTIRAHAT
• Lapisan yg paling dekat dg epifisis
• Terdiri dari kondrosit kecil yang tersebar
• Sel-sel tidak berfungsi dalam pertumbuhan tulang (resting)
• Hanya menambatkan lempeng epifiseal pada epififis

ZONA PROLIFERASI
• Kondrosit yg berukuran agak besar tersusun menyerupai tumpukan
koin
• Sel-sel membelah dan mensekresikan matriks ekstraseluler
Pertumbuhan Tulang
ZONA HIPERTROFI
• Terdiri dari kondrosit matur berukuran besar, diatur dalam ‘kolom’
ZONA KALSIFIKASI
• Terutama terdiri dari kondrosit yang telah mati karena matriks ekstraseluler di
sekitarnya telah mengalami osifikasi
• Osteoklast menghancurkan kartilago yg terkalsifikasi sedangkan osteoblast dan
kapiler dari diafisis masuk ke dalam area ini
• Osteoblast meletakkan matriks ekstraseluler tulang, mengganti kartilago
terkalsifikasi melalui proses osifikasi endokondral (penggantiang kartilago dg
tulang) diafisis baru
Pertumbuhan Tulang
 Lempeng epifiseal memungkinkan untuk pertumbuhan
tulang panjang bertambahnya ukuran panjang tulang
panjang
 Selama pertumbuhan tulang, kondrosit baru tetap dibentuk
pada sisi epifiseal lempeng, sementara kondrosit tua pada
sisi diafisis lempeng akan digantikan oleh tulang

 Pada usia 18 th (perempuan) dan 21 th (laki-laki)lempeng


epifiseal menutup, sel-sel kartilago epifiseal berhenti
membelah, dan tulang menggantikan semua kartilago
Lempeng episeal memudar dan digantikan dg struktur
tulang EPIPHYSEAL LINE
Pertumbuhan Lebar Tulang
 Pertumbuhan tebal tulang  appositional growth (pertumbuhan pada
permukaan luar)
 Pada permukaan tulang, sel-sel di periosteum mengalami deferensiasi
menjadi osteoblast yg mensekresikan matriks ekstraseluler tulang
 Osteoblast berkembang menjadi osteosit, lamellae bertambah pada
permukaan tulang dan terbentuk jaringan tulang kompak baru
 Pada waktu bersamaan osteoklast pada endosteum menghancurkan
jaringan tulang yg membatasi kavitas medular
 Penghancuran tulang oleh osteoklast terjadi lebih lambat dibandingkan
pembentukan tulang kavitas medular membesar lebar tulang
bertambah
Remodeling Tulang
Merupakan pergantian terus-menerus jaringan tulang yang sudah tua dengan
jaringan tulang baru
Meliputi 2 proses, yaitu:
1. Resorpsi tulang pembuangan mineral dan serabut kolagen dari tulang
oleh osteoklast
2. Deposisi tulang  penambahan mineral dan serabut kolagen ke tulang oleh
osteoblast
Di samping dapat memperbaharui dirinya, remodeling dapat menghilangkan
tulang yg mengalami cedera/rusak dan menggantinya dg jaringan tulang baru
Remodeling dipicu oleh beberapa faktor: olahraga, sedentary lifestyle, dan diet
Tulang baru lebih resisten terhadap fraktur dibandingkan tulang lama
Kerja osteoblast dan osteoklast harus seimbang
Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan
Remodeling Tulang
Mineral Ca dan P dibutuhkan dalam jumlah yg cukup besar, sedangkan Mg,
F, dan Mn dalam jumlah kecil
Vitamin
- vitamin A  menstimulasi aktivitas osteoblast
- vitamin C sintesis kolagen
- vitamin D  membantu pembentukan tulang dg meningkatkan absorpsi
Ca dalam makanan di GIT
- vitamin K dan B 12 membantu sinteisis protein tulang
Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan
Remodeling Tulang
Hormon
• IGFs (Insulin Growth Factors) hormone terpenting untuk petumbuhan
tulang pada masa anak-anak, diproduksi oleh hepar dan jaringan tulang
 menstimulasi osteoblast
 Meningkatkan pembelahan sel pada lempeng epifiseal dan periosteum
 Meningkatkan sintesis protein untuk pembentukan tulang baru
 Diproduksi sebagai respon dari sekresi GH
• Hormon Tiroid (T3 dan T4)
 Meningkatkan pertumbuhan tulang dg menstimulasi osteoblast
• Insulin
 Mendorong pertumbuhan tulang dg meningkatkan sintesis protein
tulang
Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan
Remodeling Tulang
• Hormon seks (estrogen dan testosterone)
Meningkatkan aktivitas osteoblast
Sintesis matriks ekstraseluler tulang
Pertumbuhan yg cepat selama remaja
Estrogen - pelebaran pelvis
- menghentikan pertumbuhan pada lempeng epifiseal
Pada masa dewasa, hormone seks berperan dalam remodeling, yaitu
memperlambat resorpsi tulang lama dan memicu deposisi tulang baru
Pengaturan Kalsium
Fraktur
 Patahnya tulang
 Tipe fraktur
 Fraktur Tertutup/Closed (simple) fracture – patahan tulang tidak menembus
kulit
 Fraktur Terbuka/Open (compound) fracture – patahan tulang menembus kulit
 Tulang yg patah ditangani dg reduksi dan imobilisasi
 Realignment of the bone
Fraktur
TAHAPAN PENYEMBUHAN PADA FRAKTUR
1. Pembentukan hematom
pbl darah pecah massa darah membentuk hematom (± 6-8 jam setelah cedera)
Aliran darah terhenti di tempat terbentuknya hematoma kematian sel-sel
tulang di sekitarnya
Terjadi pembengkakan dan inflamasi
Fagosit (netrofil dan makrofag) dan osteoklast mulai
membersihkan/menghancurkan jaringan mati dan rusak di sekitar hematom
Tahapan ini berlangsung beberapa minggu
Fraktur
2. Pembentukan kalus fibrokartilaginosa
Fibroblast dari periosteum menginvasi tempat fraktur dan memproduksi kolagen
Sel-sel dari periosteum berkembang menjadi kondroblast dan memproduksi
fibrokartilago
Terbentuk kalus fibrokartilaginosa, yaitu massa jaringan yg diperbaiki, terdiri
dari serabut kolagen dan kartilago, yg menjembatani ujung tulang yg patah
Memerlukan waktu sekitar 3 minggu
Fraktur
3. Pembentukan kalus tulang
Pada area yg letaknya dekat dengan jaringan tulang yg sehat dan memiliki
vaskularisasi yg baik sel-sel osteogenic berkembang menjadi sel osteoblast, yg
mulai menghasilkan trabekula tulang busa
 Trabekulae menggabungkan bagian yg masih hidup dan yg mati dari fragmen
tulang asal
 Fibrokartilago dikonversi menjadi tulang busa bony callus
 Kalus tulang ini bertahan hingga 3-4 bulan
Fraktur
4. Remodeling Tulang
Bagian mati dari fragmen tulang asal tulang yg patah, secara bertahap diresorpsi
oleh osteoklast
Tulang kompak menggantikan tulang busa pada bagian perifer fraktur

Penyembuhan fraktur membutuhkan waktu berbulan-bulan


Kalsium dan Fosfor sangat diperlukan untuk memperkuat dan mengeraskan
tulang baru
Fraktur
TAHAPAN PENYEMBUHAN PADA FRAKTUR
Jenis Sel Tulang

1. Osteosit
 Merupakan sel tulang yg matur
2. Osteoblast
 Sel pembentuk tulang
3. Osteoklast
 Sel penghancur tulang
 Memecah matriks tulang pada saat remodeling dan
pelepasan Kalsium
Sistem Skeletal
Dibagi menjadi 2 bagian:
 Tulang Aksial  tulang kranium, wajah, kolumna vertebra dan
tulang dada
Tulang Appendicular  tulang pelvis, tulang-tulang ekstremitas
atas dan bawah
Tulang Aksial

 Membentuk bagian longitudinal tubuh


 Terbagi dalam 3 bagian:
 Tengkorak
 Kolumna Vertebra
 Tulang di Dada (thoracic cage: sternum,
costae, vertebra thoracica)
Tulang Appendicular

 Limbs (appendages)
 Pectoral (shoulder) girdle
 Pelvic girdle
Persendian
 Fungsi persendian:
 Menahan tulang
 Memberikan fleksibilitas dalam gerakan
 Sendi diklasifikasikan berdasarkan:
 Fungsi
 Struktur
Klasifikasi Sendi Berdasarkan
Fungsinya

 Synarthroses –> sendi yg tidak dapat


bergerak
 Amphiarthroses –> sendi yang mampu
sedikit bergerak
 Diarthroses –> sendi yang bebas
bergerak
Klasifikasi Sendi Berdasarkan
Strukturnya
 Sendi Fibrosa
 Umumnya tidak dapat bergerak
 Sendi Kartilaginosa
 Tidak atau sedikit bergerak
 Sensi Sinovial
 Bebas bergerak
Sendi Fibrosa
 Tulang disatukan oleh jaringan fibrosa –
synarthrosis atau sebagian besar tidak dapat
bergerak
Sendi Kartilagonosa – sebagian
besar amphiarthrosis
 Tulang dihubungkan oleh kartilago
 Contoh:
 Simfisis pubis

 Persendian Intervertebral
Sendi Sinovial

 Artikulasio tulang
dipisahkan oleh
kavum/ruang sendi
 Terdapat cairan
synovial dalam
kavum sendi
 Diperkuat oleh
ligamen
Sendi Sinovial

Figure 5.28

Copyright © 2003 Pearson Education, Inc. publishing as Benjamin Cummings Slide 5.51
Tipe Sendi Sinovial

Terdapat 6 tipe sendi synovial, yaitu:


• Hinge joint
Gerakannya menyerupai 2 buah papan yg digabungkan dengan engsel
Gerakannya ke satu arah
siku, lutut, jari-jari
Tipe Sendi Sinovial
• Ball and Socket Joint
Seperti sebuah tulang yg ujungnya berbentuk bola (bulat) tepat masuk ke
dalam kantong yg menyerupai cangkir
Tulang dapat digerakkan dalam banyak arah
Bahu, panggul
Tipe Sendi Sinovial
• Pivot Joint
Memungkinkan untuk gerakan rotasi
Head (side to side “no” action)
sendi lengan bawah (telapak tangan)  supinasi dan pronasi
Tipe Sendi Sinovial
• Saddle Joint
Ketika permukaan kedua artikulasi tulang berbentuk menyerupai ‘pelana’
Cembung/cekung
Persendian pada Ibu jari
Mampu melakukan beragam gerak
Tipe Sendi Sinovial
• Gliding Joint
Interaksi dari permukaan yg datar dari artikulasio tulang
Menghasilkan gerakan yang terbatas, namun kompleks
Pergelangan tangan , pergelangan kaki
Tipe Sendi Sinovial
• Condyloid Joint
Permukaan articular berbentuk oval dari suatu tulang sesuai dengan/pas
dengan depresi berbentuk oval pada tulang satunya
Mandibula, buku-buku jari
Kondisi Peradangan yg
Berhubungan dg Sendi

 Bursitis – inflamasi dari bursa, biasanya


disebabkan oleh pukulan atau gesekan
 Tendonitis – inflamasi selubung tendon
 Arthritis – inflamasi pada persendian
(penyakit degeneratif)
Jenis-jenis artritis
 Osteoarthritis
 Artritis kronik yg paling sering
 Kemungkinan berhubungan dengan proses
menua
 Rheumatoid arthritis
 Merupakan penyakit autoimun
 Gejala diawali dengan inflamasi bilateral sendi
tertentu
 Seringkali menyebabkan deformitas
 Gout Arthritis
 Inflamasi persendian yang disebabkan oleh
deposisi Kristal urat dari darah
 Biasanya dapat dikontrol dengan diet
(mengatur makanan yg dikonsumsi)