Anda di halaman 1dari 24

DISUSUN OLEH :

Milda Rosevita Anggraheni

Dokter Pembimbing Klinis:

dr. Pandit Sarosa, Sp.An


DEFINISI
 Sepsis adalah disfungsi organ yang
mengancam jiwa akibat disregulasi atau
ketidakseimbangan respon tubuh terhadap
adanya infeksi

 Disfungsi Organ diidentifikasikan sebagai


perubahan akut total SOFA score > 2
terhadap adanya infeksi.
KRITERIA DIAGNOSIS SEPSIS
GEJALA UMUM :

1. Demam (>38,3°C)
2. Hipotermia (suhu pusat tubuh < 36°C)
3. Heart rate > 90/menit atau lebih dari dua standar
deviasi diatas nilai normal usia
4. Takipneu
5. Perubahan status mental
6. Edema signifikan ataukeseimbangan cairan positif (>
20 mL/Kg lebih dari 24 jam)
7. Hiperglikemia (glukosa plasma > 140mg/dL atau 7,7
mmol/L) dan tidak diabetes
 INFLAMASI:

1. Leukositosis (Hitung sel darah putih > 12.000 μL–1)

2. Leukopeni (Hitung sel darah putih < 4000 μL–1)

3. Hitung sel darah putih normal dengan lebih dari 10%


ditemukan bentuk imatur

4. C-reactive protein plasma lebih dari dua standar deviasi


diatas nilai normal

5. Prokalsitonin plasma lebih dari dua standar deviasi


diatas nilai normal
DISFUNGSI ORGAN

1. Hipoksemia arterial (PaO/FiO2 < 300)

2. Oliguria akut (jumlah urin < 0,5 mL/Kg/jam selama


minimal 2 jam meskipun resusitasi cairan adekuat

3. Peningkatan kreatinin > 0,5 mg/dL atau 44,2 μmol/L

4. Koagulasi abnormal (INR > 1,5 atau aPTT > 60 s)

5. Ileus (tidak terdengar suara usus)

6. Trombositopeni (hitung trombosit < 100.000μL–1)

7. Hiperbilirubinemia (bilirubin plasma total > 4mg/dL atau


70μmol/L)
 Perfusi Jaringan:

1. Hiperlaktatemia (> 1 mmol/L)

2. Penurunan kapiler refil


 Kriteria Sepsis Berat adalah sebagai berikut:

1. Sepsis-induced hipotensi
2. Laktat diatas batas atas nilai normal laboratorium
3. Jumlah urin < 0,5 mL/kg/jam selama lebih dari 2 jam
walaupun resusitasi cairan adekuat
4. Acute Lung Injury dengan PaO2/FiO2 < 250 dengan
tidak adanya pneumonia sebagai sumber infeksi
5. Acute Lung Injury dengan PaO2/FiO2 < 200 dengan
adanya pneumonia sebagai sumber infeksi
6. Kreatinin > 2,0 mg/dL (176,8μmol/L)
7. Bilirubin > 2 mg/dL (34,2μmol/L)
8. Hitung platelet < 100.000Μl
9. Koagulopati (international normalized ratio > 1,5)
DIAGNOSIS
 Panduan dari surviving sepsis campaign (SSC) untuk
penegakan diagnosis dengan cara:

 Kultur, dilakukan sebelum pemberian antibiotik


awal. Setidaknya 2 set kultur darah (aerob dan
anaerob) diambil
 Gunakan pemeriksaan 1,3 beta-D-glucan, antibodi
mannan dan anti-mannan (jika tersedia) untuk
dugaan infeksi invasif jamur candida
 Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk
mengkonfirmasi kemungkinan sumber infeksi
TERAPI
Resusitasi awal :

 Langkah 1: Skrining dan manajemen infeksi pengambilan


kultur darah dan kultur lain sesuai indikasi berikan
antibiotik yang sesuai dengan peta kuman yang ada 
secara simultan dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk
mengevaluasi adanya disfungsi organ.

 Langkah 2: Skrining adanya disfungsi organ dan


manajemen sepsis  Bila disfungsi organ teridentifikasi,
pastikan bundle 3 jam dilakukan sebagai prioritas utama
tindakan
Langkah 3:

• Identifikasi dan manajemen hipotensi awal


• pasien dengan infeksi ditambah hipotensi
atau kadar laktat > 4 mmol/L berikan 30
ml/kgBB cairan kristaloid dan dilakukan
penilaian ulang respon cairan yang diberikan
serta penilaian perfusi jaringan  bundle 6
jam harus dilengkapi
• jangan lupa menilai ulang nilai laktat bila
laktat awal nilainya > 2 mmol/L
 Sepsis Bundles

 HARUS DILENGKAPI DALAM 3 JAM KEDATANGAN


 Hitung nilai awal laktat
 Ambil kultur darah sebelum pemberian antibioik
 Berikan antibiotik spektrum luas
 Berikan kristaloid 30 ml/kgBB pada hipotensi atau nilai awal
laktat > 4 mmol/L

 HARUS DILENGKAPI DALAM 6 JAM KEDATANGAN


 Berikan vasopresor (untuk hipotensi yang tidak respon pada
resusitasi cairan dini) untuk mempertahankan MAP > 65 mmHg
 Pada hipotensi yang menetap setelah pemberian cairan yang
adekuat (MAP < 65 mmHg) atau nilai laktat awal > 4 mmol/L,
nilai ulang status volume pasien dan perfusi jaringan
 Nilai ulang laktat bila nilai awal laktat meningkat
. Terapi antimikroba

 Berikan antibiotik empirik dengan konsentrasi


adekuat pada 1 jam pertama terdiagnosis sepsis.

 Gunakan kombinasi antibiotik untuk pasien


syok sepsis, pasien netropeni, dan pasien
dengan infeksi bakteri patogen MDR (multi
drug resistant).

 Durasi terapi berkisar 7-10 hari, penggunaan


lebih lama pada pasien dengan respon klinis
lambat, bacteremia S.aureus, infeksi jamur dan
infeksi virus atau defisiensi imunologis
Kontrol sumber infeksi
 Beberapa diagnosis sepsis memerlukan tindakan operasi
darurat untuk keperluan diagnostik dan kontrol sumber
infeksi.

4. Terapi cairan
 Cairan inisial untuk resusitasi pasien sepsis dan syok
sepsis adalah cairan kristaloid.
 Hindari penggunaan HES.
 Apabila pasien memerlukan cairan resusitasi dalam
jumlah besar, dapat digunakan albumin
 Resusitasi awal pasien sepsis dan syok sepsis yaitu
dengan pemberian kristaloid sebanyak 30 ml/kgBB
. Vasopresor

 Terapi vasopresor inisial ditargetkan untuk


tercapainya nilai minimal MAP > 65
mmHg.

 pilihan pertamanya adalah norepinefrin.

 Epinefrin dapat ditambahkan atau bahkan


menggantikan NE (bila tidak ada), untuk
mencapai target minimal MAP.
6. Inotropik

 Pada pasien dengan disfungsi miokard dapat


digunakan dobutamin sebagai inotropik

7. Kortikosteroid

 Jangan menggunakan hidrokortison intravena


untuk terapi syok sepsis apalagi bila MAP
sudah tercapai dengan penggunaan vasopresor
dan/atau inotropik. Kortikosteroid tidak
diberikan
. Pemberian produk darah

 Transfusi sel darah merah hanya bila :


 konsentrasi hemoglobin < 7 gr/dl dengan target Hb 7- 9 gr/dl
kecuali bila ada iskemi jantung, hipoksemia berat, perdarahan
akut, atau penyakit jantung iskemik; yang mungkin
memerlukan kadar Hb lebih dari itu.

 Tidak perlu pemberian eritropoietin sebagai terapi spesifik


anemia yang disebabkan oleh sepsis.

 Transfusi fresh frozen plasma FFP tidak untuk


memperbaiki nilai laboratoris, diberikan hanya bila ada
perdarahan atau akan direncanakan tindakan invasif.

 Transfusi platelet profilaksis bila trombosit 50.000/mm3 .


9. Pemberian imunoglobulin

 Tidak memberikan imunoglobulin intravena untuk


pasien sepsis dan syok sepsis.

10. Terapi selenium

 Tidak menggunakan selenium untuk terapi sepsis.

11. Penggunaan recombinant activated protein C


(rhAPC)22

 Penggunaan rhAPC tidak lagi direkomendasikan oleh


SSC.
12. Ventilasi mekanik pada ARDS akibat
sepsis
 Pada pasien ARDS (acute respiratory distress
syndrome) target tidal volume 6 ml/kgBB
dengan plateau pressure

13. Sedasi, analgesia dan pelumpuh otot


pada sepsis
 Minimalisir penggunaan sedasi dengan
penilaian harian untuk dititrasi. Penggunaan
pelumpuh otot pada pasien ARDS dihindari
karena resiko pemanjangan efek setelah obat
distop.
14. Kontrol kadar gula darah
 Pada pasien sepsis dilakukan kontrol gula darah
dengan insulin intravena bila 2x pemeriksaan
kadarnya > 180 mg/dl dengan targetnya < 180 mg/dl.
 Gula darah diperiksa setiap 1-2 jam sampai stabil
kemudian setiap 4 jam bila telah stabil

15. Renal replacement therapy (RRT) pada sepsis


 Continuous renal replacement therapy (CRRT) dan
hemodialisa intermiten sering diperukan pada pasien
sepsis dan syok sepsis.
 Gunakan teknik CRRT pada pasien dengan
hemodinamik yang tidak stabil.
16. Terapi Bikarbonat
 Tidak menggunakan terapi Natrium bikarbonat
untuk tujuan memperbaiki hemodinamik atau
menurunkan dosis vasopresor pada pasien
hipoperfusi akibat asidosis laktat dengan pH >
7,15.

17. Profilaksis DVT


 Untuk mencegah tromboemboli berikan
pencegahan dengan LMWH (low molecular
weight heparin) subkutan setiap hari atau dapat
juga diberikan dengan heparin (UFH-
unfractionated heparin).
18. Profilaksis stress ulcer
 Profilaksis stress ulcer pada pasien sepsis dikelola dengan
pemberian H2 blocker atau proton pump inhibitor. Pasien
tanpa resiko tidak tidak perlu mendapat profilaksis stress
ulcer.

19. Pengelolaan nutrisi


 Selama toleransi baik utamakan pemberian diet melalui oral
atau enteral, puasa atau pemberian dextrose intravena sejak
diagnosis sepsis ditegakkan sebaiknya tidak lebih dari 48
jam.

 Hindari pemberian diet kalori penuh pada minggu pertama,


sebaiknya mulai dengan dosis rendah dulu (500 kkal/hari).