Anda di halaman 1dari 49

Diskusi Kasus

Oleh:

Sisca, S. Ked 04084821719197


M. Muharrary Akbar, S. Ked 04054821719124

1 Pembimbing:
dr. M. Ali Apriansyah, SpPD, K-Psi
BAGIAN/DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
2018
2
STATUS PASIEN
3 IDENTIFIKASI
 Nama : Tn. Supriyanto Bin Sumarjo
 Umur : 33 tahun
 Alamat : KP 1, Kelurahan Tirta Mulya, Makarti Raya,
Kabupaten Banyuasin
 Suku : Sumatera
 Bangsa : Indonesia
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Petani
 No. RM : 1046733 (RI18005743)
 Tanggal MRS : 28 Februari 2018
ANAMNESIS
4
Autoanamnesis dan Alloanamnesis
tanggal, 2 Maret 2018 pukul 07.00 WIB

Keluhan Utama:
Pasien muntah darah ± 5 jam SMRS.
Riwayat Perjalanan Penyakit :
 Sekitar 5 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh perut yang terasa
membesar. Pembesarannya terasa perlahan namun tidak berhenti membesar.
Keluhan perut membesar seperti ini baru pertama kali pasien rasakan. Pasien
juga mengeluhkan perut begah atau seperti penuh ketika makan, sehingga
pasien tidak dapat makan dalam jumlah yang banyak. Mual terkadang
dirasakan oleh pasien. Nyeri perut dan muntah disangkal. BAB dan BAK normal.
Pasien belum berobat.
 Sekitar 2 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh perut yang semakin
membesar. Pasien mengeluhkan demam yang dirasakan hilang timbul dan tidak
terlalu tinggi. BAK warna air kencing tampak seperti teh. BAB tidak ada keluhan.
Pasien berobat ke bidan kemudian diberikan obat maag. Pasien kemudian
disuruh untuk datang ke puskesmas. Di puskesmas pasien dikatakan
kemungkinan menderita hepatitis dan di dirujuk ke poli PDL RSMH untuk
dilakukan pemeriksaan darah. Hasilnya dikatakan pasien menderita hepatitis B.
Riwayat Perjalanan Penyakit :

 Sejak sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh


perut semakin membesar disertai kuning pada seluruh badan dan
mata. Pasien mengeluhkan badan lemas, nafsu makan berkurang,
dan mual. Pasien juga mengeluhkan BAB encer yang berwarna
hitam. Pasien kemudian dirawat ke RSK Charitas selama 1 minggu.
Diberi obat diuretik, hepatovitamin. Merasa perbaikan, pasien
diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.
 Sekitar 5 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh muntah
darah kurang lebih 2 gelas air mineral (300 ml) dan badan lemas.
Pasien kemudian dibawa ke IGD RSUP dr. Mohammad Hoesin.
Riwayat Penyakit Dahulu:
7

Riwayat kencing manis (-)


Riwayat darah tinggi (-)
Riwayat terkena hepatitis B (+)
Riwayat Penyakit Dalam Keluarga:
8

 Riwayat hipertensi disangkal.


 Riwayat kencing manis disangkal.
 Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (+) ibu pernah
sakit kuning dan sudah meninggal pada usia 30 tahun.
Riwayat Kebiasaan dan Pengobatan:
9

Riwayat merokok (+) sejak ± 20 tahun yang lalu,


kurang lebih 5-10 batang per hari.
Riwayat minum alcohol (-)
Riwayat minum jamu (-)
Riwayat menggunakan narkoba suntik (-)
Riwayat transfusi darah (-)
PEMERIKSAAN FISIK
10
KEADAAN UMUM
 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 Tekanan Darah : 100/70 mmHg
 Nadi : 100 x/ menit, isi/kualitas cukup, reguler
 Respirasi : 20x/menit, reguler
 SpO2 : 97%
 Suhu : 36,8oC
 Vas score :2
PEMERIKSAAN FISIK
11

Kepala Mata
 Bentuk : Normocephali  Eksoftalmus : (-)
 Ekspresi : Wajar  Endoftalmus : (-)
 Rambut : Hitam, lurus dan tidak mudah  Palpebral : Edema (-)
dicabut  Konjungtiva palpebra: Pucat (+)
 Alopesia : (-)  Sklera : Ikterik (+)
 Deformitas : (-)  Kornea : Katarak (-)
 Perdarahan  Pupil : Bulat, isokor, diameter
temporal : (-) 3mm/3mm, reflek
 Nyeri tekan : (-) cahaya (+/+)

 Wajah sembab: (-)


PEMERIKSAAN FISIK
Hidung
 Sekret : (-) Mulut
 Epistaksis : (-)  Higiene : baik
 Bibir : Cheilitis (-), rhagaden (-)
sianosis (-),
Telinga12  Lidah : Kotor (-), atrofi papil (-)
 Meatus akustikus eksternus : Lapang
 Tonsil : T0-T0
 Nyeri tekan : Processus mastoideus
(-/-), tragus (-/-)  Mukosa
 Nyeri tarik : Aurikula (-/-)  Mulut : Basah, stomatitis (-), ulkus
(-)
 Sekret : (-)
 Gusi : Hipertrofi (-), berdarah (-),
 Pendengaran : Baik
stomatitis (-)
 Faring hiperemis : (-)
 Bau Pernapasan : Bau keton (-)
PEMERIKSAAN FISIK
13

Leher
 Inspeksi : Trachea deviasi (-)
 Palpasi : Pembesaran kelenjar tiroid / struma (-)
 Auskultasi : Bruit (-)
 Tekanan vena jugularis : (5-2) cmH2O.

Dada
 Inspeksi : Bentuk dada normal, sela iga melebar (-), retraksi
dinding dada (-), spider nevi (-), venektasi (-)
 Palpasi : Nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-)
PEMERIKSAAN FISIK
 14
Paru-paru (Anterior) Paru-paru (Posterior)
Inspeksi : Inspeksi:
 Statis : Kanan sama dengan kiri, retraksi  Statis : Kanan sama dengan kiri
(-)
 Dinamis : Kanan sama dengan kiri
 Dinamis : Kanan sama dengan kiri, retraksi
(-) Palpasi : Stem fremitus kanan sama dengan
kiri
Palpasi : Nyeri tekan (-), sela iga melebar
Perkusi : Nyeri ketok (-), sonor pada kedua
(-), stem fremitus kanan sama lapangan paru.
dengan kiri.
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-/-),
Perkusi : Nyeri ketok (-), sonor pada kedua wheezing (-/-)
lapangan paru, batas paru hepar
pada ICS V linea midclavicularis
sinistra, peranjakan 1 sela iga.
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronkhi
(-/-), wheezing (-/-)
PEMERIKSAAN FISIK
15
Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak  Auskultasi : HR 90 x/menit, reguler, BJ
terlihat I-II normal, Murmur (-), gallop (-)
 Palpasi : Ictus cordis tidak
teraba
 Perkusi : Batas atas ICS II
linea parasternalis
dextra,
Batas kanan ICS V
linea sternalis
dextra,
Batas kiri ICS V
linea midclavicularis
sinistra
PEMERIKSAAN FISIK
16
Abdomen
Inspeksi : Cembung, venektasi (-), skar (-).
Palpasi : Tegan, nyeri tekan (-), Hepar sulit dinilai, Lien teraba di
S1 Ballotement ginjal (-), lingkar perut 80 cm.
Perkusi : shifting dullness (+), undulasi (+)
Auskultasi : Bising usus normal,
PEMERIKSAAN FISIK
 17
Ekstremitas
 Inspeksi:
Superior : Deformitas (-), kemerahan (-),  Palpasi :
edema (-/-), koilonikia (-), sianosis (-), Superior : Akral hangat (+/+), Edema (-/-), krepitasi
jari tabuh (-), palmar eritem (+), kulit (-/-)
lembab, flapping tremor (-), onikomikosis
(-) Inferior : Akral hangat (+/+), Edema pretibial (+),
krepitasi (-/-)
Inferior : Deformitas (-), kemerahan (-), edema
pretibial (+), koilonikia (-), sianosis (-),
jari tabuh (-), onikomikosis (-)
18 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 5,7 g/dL 14-18 g/dL
Eritrosit 2,566/mm3 4,5-5,5. 106/mm3
Leukosit 17.000/mm3 5000-10.000/mm3
Hematokrit 17% 40 - 50%
Trombosit 339.000/µL 150.000-400.000/µL
Diff count 0/0/73/15/12 0-1/1-6/50-70/20-40/2-8

BSS 132 g/dL <200 g/dL


SGOT 151 U/L 0-38 U/L
SGPT 114 U/L 0-41 U/L
Bilirubin total 21,4 mg/dL <1,5 mg/dL
Bilirubin direk 14,2 mg/dL 0,1-0,5 mg/dL
Bilirubin indirek 7,2 mg/dL <1,0 mg/dL

Protein total 5,3 mg/dL 6,6-8,7 mg/dL


Albumin 2,5 mg/dL 3,8-5,8 mg/dL
Globulin 2,8 mg/dL 1,3-2,7 mg/dL
Imunologi
HBsAg Positif Negatif
19

Diagnosis Sementara:
Hematemesis dan melena e.c. pecahnya varieses
esophagus e.c. sirosis hepatis

Diagnosis Banding:
• Hematemesis dan melena e.c. pecahnya varieses
esophagus e.c. sirosis hepatis
• Hematemesis dan melena e.c.Gastritis erosif
20
PENATALAKSANAAN

Non Farmakologi Farmakologi


 IVFD RL gtt X/menit
Istirahat  Spironolakton tab 2x100 mg PO
Edukasi  Propanolol tab 2x10 mg PO
 Omeprazol vial 1x40mg IV
Pemasangan NGT  Asam traneksamat amp 3x500mg IV
 Vit. K 3 x 1 ampul IV
 Cefoperazon 2x1gr IV
 Ondansentron amp 2x4mg IV
 Lactulac syr 3x10ml PO
 Transfusi PRC III kolf
 Ca glukonas 3 x 1 (IV)
 Albumin 20% selama 3 hari.
21
Rencana pemeriksaan
 Darah perifer lengkap
 Darah kimia: SGOT, SGPT,
albumin, globulin, bilirubin.
 HbSAg
 Urinalisa rutin
 Endoskopi
 USG abdomen
 Cek Hb serial / 24 jam
22
PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Dubia ad malam
Quo ad Functionam : Dubia ad malam
Quo ad Sanationam : Malam
FOLLOW UP
23
FOLLOW UP
24
FOLLOW UP
25
26
TINJAUAN PUSTAKA
27

SIROSIS HEPATIS
28 Definisi

Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang


menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik
yang berlangsung progresif yang ditandai
dengan distorsi dari arsitektur hepar dan
pembentukan nodulus regeneratif. Gambaran
ini terjadi akibat adanya nekrosis hepatoselular
Etiologi
29
Epidemiologi
30
Sirosis hepar mengakibatkan terjadinya 35.000 kematian
setiap tahunnya di Amerika.
 Di Indonesia data prevalensi sirosis hepatis belum ada.
Di RS Sardjito Yogyakarta jumlah pasien sirosis hepatis
berkisar 4,1% dari pasien yang dirawat di Bagian
Penyakit Dalam dalam kurun waktu 1 tahun (data tahun
2004).
Lebih dari 40% pasien sirosis adalah asimptomatis sering
tanpa gejala sehingga kadang ditemukan pada waktu
pasien melakukan pemeriksaan rutin atau karena
penyakit yang lain.
Faktor Risiko
31
Faktor Kekurangan Nutrisi
Hepatitis Virus
Zat Hepatotoksik
Penyakit Wilson
Hemokromatosis
Klasifikasi
32
Secara Klinis Secara Morfologi
Sirosis hepatis  Makronoduler (Ireguler,
multilobuler)
kompensata
 Mikronoduler (reguler,
Sirosis hepatis monolobuler)
dekompensata
 Kombinasi antara bentuk
makronoduler dan
mikronoduler.
Klasifikasi
33
Ada tidaknya varises, asites, dan perdarahan varises
Stadium 1 : tidak ada varises, tidak ada asites
Stadium 2 : varises (+), tidak ada asites
Stadium 3 : asites dengan atau tanpa perdarahan
varises
Stadium 4 : perdarahan varises dengan atau tanpa
asites
Patofisiologi
34
Manifestasi Klinis
35
Komplikasi
36
Diagnosis
37
Tata Laksana
38
39

Varises Esofagus
40 Definisi

Varises esofagus adalah pembesaran vena


yang berkelok-kelok pada dinding esofagus.
Epidemiologi
41
Prevalensi, insidens dan etologi sirrosis mungkin berbeda
tergantung pada lokasi gepgrafis, tetapi insidens
internasional dan tingkat risiko tahunan varises esophagus
adalah serupa.
Sebagian besar varises terjadi karena hipertensi portal
karena sirrosis.
Insidens varises esophagus sebanyak 50% pada pasien
dengan sirrosis. Risiko terbentuknya varises esophagus
adalah 5-15 %.
Patofisiologi
42
Faktor Risiko perdarahan
43

 (i) tekanan di dalam varix,


 (ii) ukuran varises,
 (iii) dinding varises,
 dan (iv) keparahan penyakit hepar.
Penegakan Diagnosis
44

 Anamnesis
 Jika tidak terjadi perdarahan , biasanaya
asimtomatis
 Jika terjadi rupture varises, terdapat keluhan
hematemesis dan melena.
 Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Laboratorium
 Esofagoskopi  gold standard
Penatalaksanaan
45

 Terapi farmakologi  menrunkan tekanan portal


 vasokonstriktor splanchnic seperti golongan
vasopressin (analog), somatostatin (analog) dan non-
selektif beta-blocker
 Terapi endoskopi  digunakan terutama jika
perdarahan
 Endoscopic Sclerotherapy (EST)
 dan Endoscopic Variceal Ligation (EVL)
Penatalaksanaan
46
Penatalaksanaan
47
48
ANALISIS MASALAH
49

TERIMA KASIH