Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS ANESTESI

Regional Anestesi pada Sectio Caesarea G2P0A1 Hamil Aterm 40


minggu dengan Cephalopelvik Disproporsi (CPD)

Pembimbing :

dr. Bambang Sutanto, Sp.An

Diajukan Oleh :
Muhammad Ali, S.Ked J510185005
Imam Lutfi Hidayat J510170018
Septa Kristiyan Triani, S.Ked J 510165009

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI


RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
BAB I

Identitas Pasien
Nama : Ny. S

Usia : 26 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Karangasem

Agama : Islam

Suku : Jawa

Tanggal Masuk : 25 April 2018

Nomor RM : 0289***
Anamnesis
Keluhan Utama
• G2P0A1 aterm dengan CPD untuk pre operasi sectio Caesarea

Riwayat Penyakit Sekarang


• Pasien dirawat di RS PKU Surakarta sejak 25 April 2018 dgn
G2P0A1 aterm uk 40 mgg dgn cephalopelvic disproporsi (CPD)
• Keluhan lain lendir darah (-), air ketuban rembes (-). Hari
Pertama Haid Terakhir (HPHT) 18-7-2017, Hari Perkiraan Lahir
(HPL) 25-4-2018
Riwayat Penyakit Dahulu

• Riwayat Hipertensi : disangkal


• Riwayat operasi caesar : disangkal
• Riwayat keguguran : diakui (Februari 2017)
• Riwayat asma : diakui (terakhir konsumsi
obat bulan Mei 2012)
• Riwayat alergi : disangkal
• Riwayat mondok di rumah sakit : diakui
• Riwayat DM : disangkal
• Riwayat penyakit jantung : disangkal
• Riwayat trauma : disangkal
Pemeriksaan Fisik

Status Generalis

• Keadaan Umum : Sedang


• Kesadaran : Compos Mentis, GCS E4V5M6
• Gizi : Kesan gizi baik

Vital Sign

• Tekanan Darah : 125/76 mmHg


• Nadi : 86kali/menit
• Respiratory Rate : 18 kali/menit
• Suhu : 36,60C
Cont’d

Pemeriksaan Fisik SIstem

• Kepala : rambut hitam, tidak mudah rontok, tidak tedapat deformitas


•Leher : peningkatan JVP (-/-), pembesaran KGB (-)
•Mata : CA (-/-) SI (-/-/)
• Thorax : SDV (-/-), Rho (-/-), Wheezing (-/-), Bunyi Jantung I-II reguler
• Abdomen : TFU 30 cm, tidak terdapat luka bekas operasi caesar sebelumnya
•Ekstremitas : akrak hangat, oedem (-)
•Urogenital : BAK dalam batas normal.
•BAB : dalam batas normal.
•Genitalia : dalam batas normal.
Diagnosis
• G2P0A1 hamil aterm 40 minggu dengan CPD riwayat asma

Planning
• Tindakan operasi SCTP hari jumat tanggal 26 April 2018 jam
07.30WIB
• Puasa 6 jam preoperasi
• Konsul ke dokter anestesi
• Pemberian antibiotik
• O2 3 liter permenit
• Ketorolac 30 mg
• Inf RL 20 tpm
Leukosit 12 x 10^3
Hemoglobin 11,2
Hematokrit 30,5
Trombosit 402 x 10^3
Protein -
GDS 86
Golongan Darah A
PT 2 mnt 30 dtk
APTT 3 mnt 20 dtk
Assessment Medis Anestesi dan
Sedasi
Diagnosa pre operatif

• G2P0A1 hamil aterm 40 minggu dengan CPD riwayat asma

Macam Operasi

• Sectio Caesaria Transperitoneal Profunda ( SCTP )

Tanggal Operasi

• 26 April 2018
Cont’d
Keadaan Pra Induksi
• Berat badan : 63 kg
• Tinggi badan : 150 cm
• Tekanan darah : 125/76 mmHg
• Respirasi : 18x/menit
• Nadi : 86 x/menit
• SpO2 : 99%
• Alergi : tidak
• Suhu : 36,6oC
• GCS : 15
• Rh : Positif
• Hemoglobin : 11.2

Pemeriksaan Fisik
• Jalan nafas : normal
• Anamnesis : autoanamnesis
Status ASA
• ASA 2
Cont’d
Teknik Anestesi
• Regional Anestesia:
• Tipe : Subarachnoid Blok
• Posisi puncture : Duduk
• Jenis jarum : spinocan no.27G
• Daerah puncture : L3-4
• LCS : (+)
• Barbotage : (+)
• Obat
• Lidokain 100 mg
• Hasil : Blok komplit
Monitoring durante operasi
• Obat obatan :
• Ondansentron 4mg/2ml (07.47)
• Oxytocin 10 mg (07.47)
• Efedrin 10mg (07.30)
• Metylergometrin 2 mg (07.50)
• Midazolam 5mg (07.55)
• Infus / darah : RL
Cont’d

Keterangan

• Induksi jam 07.38


• Pasien siap insisi 07.44
• Insisi mulai jam 07.45
• Operasi selesai 08.15
• Pasien keluar kamar operasi 08.25
Pemantauan tanda vital
Cont’d
Intruksi pasca anestesi dan sedasi
• Posisi : semi fowler
• Analgesia : Ketorolac 30 mg iv
• Antimuntah :Ondansentron 4mg iv
• Obat lain : RL  20 tetes/menit
• Infus : HES 24 tpm
• Makan/minum : post operasi pasien boleh makan dan minum
• Pemantauan tensi, nadi, napas tiap 15 menit selama 1-2 jam. Bila tensi
(systol) kurang dari 100 mmHg injeksi efedrin 10 mg iv
Laporan Bedah

•Dokter Bedah I : dr.Anik Suryaningsih., Sp. OG


•Dokter Bedah II :-
•Dokter Anestesi : dr. Bambang S., Sp. An.
•Diagnosis Pra Bedah : G2P0A1 hamil aterm 40 minggu dengan CPD riwayat asma
•Diagnosis Pasca Bedah : G2P0A1 hamil aterm 40 minggu dengan CPD riwayat asma post Re SC
•Nama Prosedur : Sectio Caesaria Transperitoneal Profunda (SCTP)
•Jenis Pembedahan : Bersih
•Operasi ke :1
•Profilaksis : Ya
•Jenis Antibiotik : Ceftriaxone
•Waktu Pemberian : 1 jam sebelum operasi
•Uraian Pembedahan : Sesuai dengan instruksi kerja
•Pasien dispinal anestesi
•Disinfeksi lapangan operasi
•Insisi linea mediana kurang lebih 10 cm
•Irisan diperdalam lapis demi lapis sampai lapisan peritoneal
•Segmen bawah rahim diiris semiluner
•Luksasi kepala bayi, bayi lahir
•Placenta dilahirkan, kontrol perdarahan
•Jahit, Tutup abdomen
•Selesai
•Komplikasi
•Resiko rentan terjadinya perdarahan
•Resiko rentan dengan hipotensi
BAB II PENDAHULUAN

Anelgesi dan
Definisi Anestesi
Anestesi

Regional
Tipe Anestesi
Anestesi

Keuntungan dan
kerugian
ANESTESI REGIONAL
DEFINISI

Hambatan impuls nyeri pada bagian tubuh sementara pada


impuls saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari satu bagian
tubuh diblokir untuk sementara. Fungsi motorik juga dapat
terpengaruh sebagian atau seluruhnya
Spinal

Blok sentral (blok


Epidural
neuroaksial),

Kaudal.

Analgesia Regional
Anestesi topikal
1.

Infiltrasi lokal
1.

Blok perifer (blok saraf),


1. Blok lapangan

Analgesia regional
1.
intravena.
Keuntungan Kerugian
1.Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi. 1.Tidak bisa dilakukan pada lokasi tertentu

1.Durasi pembiusan yang cepat jika operasi memakan


1.Tidak ada polusi kamar operasi oleh gas anestesi.
waktu lama

1.Alat minim dan teknik relatif sederhana, sehingga 1.Terdapat kemungkinan kegagalan pada teknik
biaya relatif lebih murah. anestesi regional.

1.Relatif aman untuk pasien yang tidak puasa (operasi 1.Membutuhkan kerjasama pasien yang kooperatif,
emergency, lambung penuh) karena penderita sadar. sulit pada anak.

1.Perawatan post operasi lebih ringan. Intoksikasi


ANESTESI SPINAL

DEFINISI

Anestesi blok subaraknoid atau biasa disebut anestesi spinal


adalah tindakan anestesi dengan memasukan obat analgetik ke
dalam ruang subaraknoid di daerah vertebra lumbalis yang
kemudian akan terjadi hambatan rangsang sensoris mulai dari
vertebra thorakal
• Bedah ekstremitas bawah
• Bedah panggul
• Tindakan sekitar rektum perineum
• Bedah obstetrik-ginekologi
INDIKASI •


Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
• Pada bedah abdomen atas dan bawah
pediatrik biasanya dikombinasikan
dengan anestesi umum ringan
KONTRAINDIKASI

RELATIF ABSOLUT
• Infeksi sistemik • Infeksi pada tempat suntikan
• Infeksi sekitar tempat suntikan • Hipovolemia berat karena dehidrasi,
perdarahan, muntah ataupun diare
• Kelainan neurologisKelainan • Koagulapatia atau mendapat terapi
psikis koagulan.
• Bedah lama • Tekanan intrakranial meningkat
• Fasilitas resusitasi dan obat-obatan
• Penyakit jantung yang minim
• Hipovolemia ringan • Kurang pengalaman tanpa didampingi
konsulen anestesi
• Nyeri punggung kronik • Pasien menolak.
PERSIAPAN ANESTESI SPINAL
Informed consent
1)

• Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan anestesi, kemungkinan yang akan
terjadi selama operasi dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan Fisik
1)

• Kulit tempat penyuntikan untuk menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi


• Gangguan anatomis seperti scoliosis atau kifosis, atau pasien terlalu gemuk sehingga
tonjolan processus spinosus tidak teraba.

Pemeriksaan laboratorium
1)

• Hematokrit,
• Hb
• Masa protrombin (PT) dan masa tromboplastin parsial (PTT)
OBAT-OBATAN PADA ANESTESI SPINAL
Golongan ester
Golongan amide
Kokain
Benzokain Lidokain
Oksibuprokain Mepivakain
Ametokain Bupivakain
Prokain Etidokain
Tetrkain Dibukain
Klorprokain Ropivakain
Levobupikain
Toksisitas Obat Anesthesi Regional
Intoksikasi akan terjadi bila secara tidak sengaja masuk kedalam intravaskuler atau
melebihi dosis maksimal.

Gejala intoksikasi akan timbul < 5 menit, sedangkan pada pemberian infiltrasi atau
epidural gejala akan timbul dalam 20 menit.

1. Gejala

• Sistem Saraf Pusat : eksitasi dan depresi


• Sistem Kardiovaskuler : hipotensi, hipertensi, syok, bahkan cardiac arrest
• Kerusakan saraf
• Gangguan otot
• Alergi
• Methemoglobinemia
• Adiksi
KOMPLIKASI TINDAKAN ANESTESI SPINAL

Trauma
1.
Hipotensi
1.
Bradikardia
1. Hipoventilasi
1. pembuluh
berat
saraf

Blok spinal
1.
Gangguan
1.
Trauma saraf
1. Mual-muntah
1. tinggi atau
pendengaran
spinal total
Sectio Caesarea (SC)
Definisi SC
• Melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara
transabdominal melalui insisi uterus12

Indikasi SC
• Disproporsi chepalopelvik atau kelainan panggul.
• Plasenta previa
• Gawat janin
• Pernah seksio sesarea sebelumnya
• Kelainan letak janin
• Hipertensi
• Rupture uteri mengancam
• Partus lama (prolonged labor)
• Partus tak maju (obstructed labor)
• Distosia serviks
• Ketidakmampuan ibu mengejan
• Malpresentasi janin
Cont’d
Komplikasi SC

• Infeksi puerpuralis
• Perdarahan
• Luka dan keluhan kandung kemih
• Emboli paru
• Ruptur uteri kehamilan selanjutnya

Tatalaksana Pasca SC
• Pemantauan tanda vital 2 jam post partum
• Pantau PPV dan produksi urin
• Transfusi bila diperlukan
• Antibiotik
• Mobilisasi
• Pemulangan
CephaloPelvic Disproportion (CPD)
Definisi SC
• Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala
janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina.13

Anatomi Panggul
• Tindakan yang melibatkan tungkai bawah, panggul, dan perineum
Anestesi
spinal

• Mutlak : infeksi kulit pada tempat dilakukan pungsi lumbal, bakteremia, hipovolemia berat
(syok), koagulopati, dan peningkatan tekanan intrakranial.
• relatif meliputi neuropati, nyeri punggung, penggunaan obat-obatan praoperasi golongan AINS
KontraIndikasi (antiinflamasi nonsteroid seperti aspirin, novalgin, parasetamol), heparin subkutan dosis
rendah, dan pasien yang tidak stabil.

• Menggunakan obat analgetik lokal untuk menghambat hantaran saraf sensorik untuk
sementara (reversible). Fungsi motorik juga terhambat sebagian. Dan pada teknik anestesi ini,
pasien tetap sadar.
• Prosedur ini merupakan sebuah alternatif pada operasi dengan durasi singkat. Pilihan ini
Prinsip menyediakan opsi yang memiliki komplikasi yang lebih sedikit ketimbang melakukan prosedur
anestesi umum diantaranya adalah waktu pemulihan pasca-dilakukan posedur anestesi.