Anda di halaman 1dari 32

KOASISTENSI KESMAVET

“PENILAIAN HIGIENE DAGING


& IKAN DARI PASAR INPRES,
KARANTINA, RPH & DINAS
PETERNAKAN
OLEH KELOMPOK:
M A R S E LY Y. D B U N G A , S . K H
KURNIA RIWU MANU, S.KH
D I D A K U S W. N J A N I S , S . K H
A. PEMERIKSAAN JUMLAH MIKROBA DAGING DENGAN
METODE HITUNGAN CAWAN
PEMERIKSAA DAGING DAGING DAGING IKAN
N SAPI BABI AYAM
JUMLAH TOTAL Est Est Est Est >56x100x106
CEMARAN >56x100x106 >56x100x106 >56x100x106
MIKROBA

Hasil pemeriksaan total cemaran mikroba pada daging sapi, daging babi, daging ayam dan ikan sudah melebihi
standar total cemaran mikroba. Total cemaran mikroba pada daging maksimum 1 x 106 cfu/g (SNI 3932:2008).
Dan total cemaran mikroba pada ikan maksimum 5 x 106 (SNI 7388:2009). Hal ini krn penanganan distribusi
daging babi dan sapi ke pasar dan pada saat pnjualan tdk higiene. Penanganan distribusi daging dr RPH Oeba ke
pasar kurang bersih merupakan salah satu faktor meningkatnya kontaminasi mikroba pada daging sapi dan daging
babi. Daging2 yg dibawa ke pasar sdh dlm keadaan dipisahkn dgn tulang dan lemak, kmudian dikemas dgn
menggunakan karung plastik dan langsung dibawa ke pasar menggunakan mobil pick up.
Peningkatan jumlah bakteri pd daging diperparah oleh kurang bersihnya kondisi pasar
sbg tempat distribusi daging, berdasarkan pengamatan pedagang pasar tdk melakukan
praktek higiene, lingkungan sanitasi di tempat penjualan daging menjadi sumber
pencemaran bakteri.
Sedangkan Ikan tongkol yg dijual di pasar diperoleh dari karantina ikan, selama proses
distribusi ikan disimpan dlm coolbox stelah tiba dipasar ikan disimpan dlm ember
berisi air dan ada yg diletakkan diatas meja penjual tanpa alas. Ikan tongkol yg trlalu
lama disimpan pd suhu ruang, atau pd suhu dingin sekalipun dlm jangka waktu lama
akan menyebabkan kontaminasi bakteri krn ikan tongkol memiliki kandungan asam
amino histidin yg dapat dikontaminasi oleh bakteri (Hidayati, 2008). Selain itu
kontaminasi juga dpt berasal dari higiene penjual dan pembeli serta sanitasi pasar yg
kurang baik.
Sedangkan daging ayam yg dijual di pasar inpres diperoleh dr tempat pemotongan
ayam di Oeba, distribusi, proses pnjualan tdk bersih, sanitasi dan higiene yg kurang
baik menyebabkan sumber kontaminasi mikroba pd daging ayam. Dan juga sterilisasi
yg kurang baik selama proses pemeriksaan daging dan ikan jg menjadi salah satu
faktor tingginya jumlah cemaran mikroba.
B. PEMERIKSAAN KESEMPURNAAN PENGELUARAN DARAH

PEMERIKSAAN DAGING SAPI DAGING BABI DAGING AYAM IKAN

Hasil Biru Biru Biru Hijau

Pada daging sapi, babi, dan ayam diperoleh hasil proses pengeluaran darah sempurna krn hewan yg dipotong
tdk mengalami stres dan proses pemotongan dilakuan dengan baik. Sedangkan utk ikan terjadi proses
pengeluaran darah tdk sempurna, hal ini terjadi krn ikan tongkol yg dijual tdk melalui proses pemotongan
seperti pada daging.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan, jumlah TPC pada daging ayam, sapi, babi dan ikan disebabkan
oleh proses higiene dan sanitasi yg kurang baik pd saat distribusi dan di pasar. Dan jg
disebabkan oleh sterilisasi yg kurang baik saat pemeriksaan di lab. Kesempurnaan pengeluaran
darah terjadi pada daging sapi, ayam dan babi, Sedangkan pada ikan tdk terjadi kesempurnaan
pengeluaran darah.
C. RESIDU ANTIBIOTIK
Pemeriksaan Daging sapi Daging babi Daging ayam Ikan

Hasil pemeriksaan Tdk ada zona Tdk ada zona Tdk ada zona Tdk ada zona bening
bening bening bening

Pada uji residu antibiotik, sampel daging sapi, daging ayam, daging babi dan ikan tidak
mengandung residu antibiotik tetrasiklin, hal ini dpt dilihat dgn tdk adanya zona bening
disekitar cakram disc. Menurut Murdiati et al.(1998) setiap residu akan hilang dalam suatu
produk peternakan dalam waktu seminggu setelah pemberian terakhir. Hal ini mungkin
merupakan faktor tdk ditemukannya residu antibiotik dlm daging. Tidak ditemukannya
keberadaan residu antibiotik tetrasiklin pada daging ayam dan sapi, kemungkinan karena
pemahaman peternak dalam penggunaan antibiotik sesuai dengan masa henti obat (Withdrawal
time) dan dosis yang tepat (Donkor et al. 2011).
• Menurut Ditjennak (1993) yang diacu dalam Murdiati (1997), waktu henti tetrasiklin yang
diaplikasikan secara injeksi pada ayam adalah 15 hari, sedangkan pada sapi yang diaplikasikan
secara per oral adalah 30 hari. Tetrasiklin dalam bidang peternakan digunakan untuk
pengobatan penyakit pernafasan dan jika dosisnya rendah dapat digunakan sebagai pemacu
pertumbuhan (Reig & Toldra 2009). Batas maksimum residu antibiotik golongan tetrasiklin
pada daging adalah 0.1 ppm sesuai petunjuk teknis SNI nomor 01-6366-2000 tentang Batas
Cemaran dan Residu Antibiotik.
D. UJI AWAL PEMBUSUKKAN (UJI
EBER)
PEMERIKSAAN DAGING SAPI DAGING BABI DAGING AYAM IKAN

Uji Eber Terbentuk awan Terbentuk awan Terbentuk awan Terbentuk awan
putih disekitar putih disekitar putih disekitar putih disekitar daging
daging daging daging

Pada uji awal pembusukan (uji eber), semua sampel yg diuji menghasilkan awan putih pd dinding tabung. Hal ini
menunjukkan bahwa daging menghasilkan gas NH3 yang kemudian berikatan dengan HCl sehingga membentuk
awan putih pada dinding tabung reaksi. Pada uji Eber jika daging mengalami pembusukan, maka daging akan
mengeluarkan gas NH3. Gas NH3 ini kemudian berikatan dengan asam kuat (HCl) sehingga membentuk
NH4Cl (gas) pada dinding tabung reaksi.
• Menurut Zhou et al (2010) daging adalah produk makanan yang sangat cepat rusak
(highly perishable) karena komposisi biologisnya. Penanganan daging yang tidak
baik dapat menimbulkan kerusakan karena kandungan nutrisi yang baik menjadikan
daging bersifat mudah rusak sebagai akibat proses mikrobiologis, kimia, dan fisik.
Bentuk kerusakan tersebut salah satunya adalah pembusukan. Pembusukan daging
meliputi perubahan substrat pada daging yang disimpan (Lawrie, 1995). Bakteri-
bakteri yang sering berperan sebagai pembusuk adalah Pseudomonas,
Acinetobacter/Moraxella, Aeromonas, Alteromonas putrefaciens, Lactobacillus, dan
Brochothrix thermosphacta (Huffman 2002).
• Walaupun sudah mengalami awal pembusukan namun tampilan fisik sampel daging
babi, sapi, ayam dan ikan belum menunjukkan perubahan secara organoleptik
seperti perubahan warna, bau, dan adanya lendir pada permukaan daging. Hal
tersebut diakibatkan karena daging dan ikan belum busuk namun sudah pada tahap
awal pembusukan. Daging dan ikan yang positif mengalami proses awal
pembusukan diduga akibat sanitasi dan higienitas produk daging dan ikan yang
dijual di Pasar tradisional inpres kurang terjaga. Daging dan ikan yang dijajakan
diatas meja dan di ruang terbuka. Kondisi demikian memungkinkan bakteri dari
lingkungan termasuk bakteri pembusuk dapat mengontaminasi daging.
KESIMPULAN

• Pada uji bioassay tidak terlihat adanya zona bening pada cakram disk ketiga daging artinya,
tidak adanya residu antibiotik pada daging sapi, daging babi, daging ayam dan ikan.
• Pada uji awal pembusukan, terbentuk awan putih disekitar tabung ketiga sampel daging artinya,
sudah terjadi awal pembusukan pada daging sapi, daging babi, daging ayam dan ikan.
KARANTINA HEWAN
8 Tindakan Karatina atau yang disebut dengan 8P yaitu: pemeriksaan, pengasingan,
pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan.

Mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina dari luar negeri kedalam
wilayah Negara Republik Indonesia dan mencegah tersebarnya hama dan penyakit
hewan karantina ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia serta
mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan karantina dari wilayah Negara Republik
Indonesia

Adapun media pembawa penyakit antaralain hewan (semua jenis hewan), bahan asal hewan (daging, telur,
susu, jeroan, kulit hewan mentah/jadi, darah, tulang, sarang burung wallet, madu, dll.), hasil bahan asal hewan
(daging, telur, susu, jeroan, kulit hewan mentah/jadi, darah, tulang, sarang burung wallet, madu, dll.) dan atau
benda lain (vaksin, sera, hormon, obat hewan) yang dapat membawa hama penyakit hewan karantina
Instalasi Karantina Hewan Pelabuhan

Mengekspor maupun mengimpor hewan/bahan asal hewan harus memenuhi


beberapa persyaratan melalui karantina hewan antara lain (1) Adanya sertifikat
kesehatan yang diterbitkan oleh pejabat berwenang dari tempat asal, (2) Adanya
surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong
benda lain, (3) Melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah
ditetapkan; (4) Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina ditempat-
tempat pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.

Proses pembuatan sertifikat kesehatan


hewan (A), sertifikat kesehatan hewan yang
sudah jadi (B), paraf dari pemilik hewan (C),
dan paraf dari dokter hewan (D)
Proses penolakan ayam jago Bangkok
dikirim kembali ke daerah asal
Tindakan penahanan ayam jago Surabaya menggunakan kapal
Bangkok karena dokumen tidak
lengkap
Pemeriksaan kelengkapan dokumen Pemeriksaan dokumen masuknya
masuknya telur ayam pakan babi

Proses pengambilan sampel


darah sapi untuk diuji RBT
Pemeriksaan preparat ulas
darah kuda>> infestasi
parasit trypanosoma equin
penyebab penyakit surra
pada kuda. Dari hasil
pemeriksaan 8 sampel ulas
darah tersebut dinyatakan
negatif atau bebas dari
penyakit surra.

Pemeriksaan brucellosis pada ternak sapi >> di pulau Timor masih merupakan daerah endemik
brucellosis. Dari hasil pengujian tersebut hewan dinyatakan bebas brucellosis atau hasilnya
dinyatakan negatif >> pemohon dapat mengekspor sapi dengan memperoleh sertifikat pelepasan
karantina dan sertifikat kesehatan hewan. Namun apabila hasil RBT positif >>hewan akan ditahan
dikandang karantina >> untuk sementara tidak dilalulintaskan (ditunda untuk berangkat) >> jika
pemilik berkenan maka akan dilakukan uji lanjut sampai CFT, apabila CFT positif maka akan
dikeluarkan dari karantina dan di bawa ke RPH oleh pemilik untuk dilakukan pemotongan
bersyarat
Instalasi Karantina Hewan Bandara

Pemeriksaan dokumen pemasukan Day Old Chicks (DOC) yang berasal dari
Surabaya, yakni dari Wonokoyo Group dan P.T. Charoen Pokphand.
Pemeriksaan kelengkapan dokumen >> sertifikat kesehatan hewan (KH-9)
atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Bila dokumen tersebut
dapat ditunjukkan maka DOC dapat dibawa oleh pemilik/pihak yang
bersangkutan. Sebaliknya, biladokumen tersebut tidak dapat ditunjukkan
maka akan dilakukan penahanan untuk selanjutnya diberikan kesempatan
kepada pengguna jasa untuk melengkapi dokumen. Jika sampai batas waktu
yang ditentukan, dokumen tidak dapat dilengkapi maka dilakukan penolakan.
Karantina Ikan

Dilakukan untuk pemeriksaan parasitologi pada ikan cakalang dengan cara


pengambilan insang dan isi perut dan diamati terdapat cacing Anasakis sp.
Cacing Anisakis sp. merupakan endoparasit yang bersifat zoonosis (penyakit
pada ikan yang dapat ditularkan ke manusia) dan menyebabkan penyakit
Anisakidosis. Serangan parasit lebih sering terjadi pada ikan-ikan dewasa
karena mengakumulasi lebih banyak parasit. Sedangkan distribusi Anisakis sp.
dalam tubuh ikan adalah di mulut, lambung, usus, hati, rongga tubuh, gonad
dan ginjal serta beberapa ditemukan di otot.

Pemeriksaan pada ikan kering yaitu pengujian formalin, uji


organoleptik dan pengukuran pH. Ikan tersebut negatif tidak
mengandung formalin. Pada uji organoleptik ikan tersebut
masih baru, warnanya normal, kepadatan masih bagus, dan
baunya khas ikan. Untuk pengukuran pH 13.
DINAS PETERNAKAN KOTA
Hal-hal yang dilakukan selama di Dinas Peternakan
adalah :
1. Mengetahui mekanisme sistem admnistrasi yang
berkaitan tentang progam surveilance penyakit
2. Penyakit hewan endemis di Kota Kupang
3. Mengetahui mekanisme sistem administrasi yang
berkaitan tentang progam penanggulangan wabah
penyakit hewan dan mekanisme penerapan progam
vaksinasi rutin 4. Mengetahui mekanisme sistem administrasi
perijinan pengiriman hewan dan produk asal hewan
dari wilayah Kota Kupang keluar Kota Kupang
5. Mengetahui mekanisme sistem administrasi
perijinan pemasukan hewan dan produk asal
hewan dari luar ke Kota Kupang
6. Mengetahui mekanisme ijin praktek dokter
hewan dan mendirikan depo obat hewan
Ada beberapa mekanisme sistem administrasi antara lain :
• Penyakit hewan endemis di Kota Kupang
Menurut data dari Dinas Peternakan Kota terdapat beberapa
penyakit endemis yang biasa menyerang ternak di Kota Kupang
yaitu Newcastle disease, hog cholera, brucelosis, anthrax,
Septicemia epizootica, Colibacilosis, Scabies, distemper, parvo
dan orf. Sehingga perlu dilakukan progam vaksinasi rutin untuk
penanggulangan wabah penyakit endemis tersebut.

Mekanisme administrasi progam penanggulangan wabah


penyakit dan sistem penerapan progam vaksinansi yaitu
pertama pemohon mengajukan permohonan kepada Dinas
Peternakan langsung dikantor atau melalui telepon untuk
kemudian petugas dari Dinas Peternakan melakukan
pelayanan kesehatan pada ternak pemohon.
• Mekanisme sistem administrasi perijinan pengiriman hewan dari
wilayah Kota Kupang ke luar Kota Kupang.
Pemohon harus mengurus surat ijin yaitu dengan berkas-berkas
surat permohonan, Kartu Tanda Penduduk (KTP), pas foto, SKK
dari UPTD Kesmavet Kota, SKS dari daerah asal, khusus untuk
DOC disertai daftar distribusi DOC dan untuk anjing dan kucing
disertai buku vaksin.

Mekanisme pemasukan hewan dan produk asal


hewan dari luar ke Kota Kupang (sama halnya
dengan mekanisme pemasukan hewan dan
produk hewan dari luar ke Kota Kupang).
Uraian kegiatan/alur yang akan dilalui adalah sebagai berikut:
• Pengajuan permohonan kepada Kepala DinasPeternakan.
• Kepala Dinas mendisposisikan permohonan kebidang peternakan.
• Kepala Bidang Peternakan mendisposisikan ke sub bidang yang menangani usaha
pengembangan ternak dan produksi.
• Pelayanan kesehatan hewan sesuai permintaan
• Penandatanganan sertivikat sehat oleh dokter hewan yang berwenang.
• Proses ijin atau rekomendasi
• Penyerahan ijin atau rekomendasi
• Penyelesaian administrasi sesuai SK walikota No.61/KEP/HK Tahun 2008 ke
bendahara penyetor.
Mekanisme pengurusan ijin praktek dokter hewan dan ijin mendirikan DepoObat Hewan:

Masyarakat yang ingin mengurus surat ijin/rekomendasi mengisi form sesuai dengan surat
ijin mana yang mau dibuat >> kemudian masuk tahap perlengkapan berkas. Berkas yang
sudah diisi dan dilengkapi akan diteruskan ke tata usaha untuk diperiksa >> Setelah itu
diteruskan ke Bidang Peternakan untuk di verifikasi >> Kemudian diteruskan ke Kepala
Dinas Peternakan untuk dimintai persetujuan >> Setelah disetujui, dilakukan verifikasi ulang,
Penerbitan SK/Surat Ijin/Surat Tugas/Surat rekomendasi. (Biasanya untuk depo obat hewan,
depo daging dan sebagainya minimal 2 tahun sekali harus melakukan perpanjangan surat
ijin).
KEGIATAN LAPANGAN DI DINAS
PETERNAKAN KOTA KUPANG
Pemberian Vitamin 5 ml IM
pd babi di Lasiana, Kupang

Pemberian AB 3 ml
pada babi yg trkena
Hoc Cholera
Pemberian Ivermectin
1 ml pada anjing yg
trkena Scabies
RUMAH POTONG HEWAN
Rumah Potong Hewan adalah kompleks bangunan
dengan desain dan konstruksi khusus yang
memenuhi persyaratan teknis dan higiene tertentu
serta digunakan sebagai tempat memotong hewan
potong selain unggas bagi konsumsi masyarakat
(SNI 01- 6159 - 1999).
PENERAPAN KESEJAHTERAAN HEWAN
Berdasarkan undang-undang 18 tahun 2009
kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang
berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan
menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu
diterapkan dan ditegapkan untuk melindungi hewan
dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap
hewan yang dimanfaatkan manusia.
Adapun 5 prinsip kesejahteraan hewan adalah sebagai berikut :
Bebas dari rasa haus dan lapar
Bebas dari rasa ketidaknyamanan/ penyiksaan fisik.
Bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit
Bebas untuk mengekspresikan perilaku alamiah
Bebas dari ketakutan dan rasa tertekan
Penerapan kesejahteraan hewan di RPH adalah untuk menghasilkan
produk hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).

• Adapun kesrawan yang sudah diterapkan di RPH Oeba dapat dilihat yaitu
mulai dari hewan diatas alat pengangkut dimana jenis kendaraan yang
digunakan sesuai jenis dan ukuran hewan, hewan tidak berdesak-desakan
dan kenyamanan dan keamanan hewan diatas alat angkut terjaga.

• Cara penurunan hewan yaitu menggunakan tangga penurunan hewan dan


menarik hewan menggunakan tali yang dililit dari pada ternak sapi
tersebut, namun hal berbeda pada Rumah Potong Hewan babi dimana cara
penurunan hewan babi tidak menggunakan tangga dan langsung menarik
turun ternak babi dengan menggunakan tali.
Kesrawan di tempat penampungan hewan baik di
Rumah Potong Hewan sapi maupun babi telah
menyediakan kandang penampungan hewan untuk
melindungi hewan dari panas dan hujan,
ketersediaan pakan dan minum yang cukup, luas
kandang yang cukup, kebersihan tempat
penampungan, terhindar dari benda-benda,
perlakuan dan konstruksi tempat yang dapat
mencederai hewan serta memiliki kandang
peristirahatan hewan dgn pencahayaan yang
cukup.
Kesrawan pada perobohan sebelum
penyembelihan dilakukan secara manual
menggunakan tali, dimana ternak sapi
ditarik kepalanya menggunakan tali hingga
sapi tsb roboh.
Kesrawan pada penyembelihan yaitu
penyembelihan dilakukan segera setelah
hewan dirobohkan. Penyembelihan
menggunakan pisau yang tajam dengan
ukuran yang sesuai dan bersih.
Penyembelihan memastikan telah memutus
3 saluran (tenggorokan, kerongkongan dan
pembuluh darah) dengan sekali potong.
Memastikan hewan telah mati sempurna
sebelum melakukan proses lebih lanjut.
PEMERIKSAN ANTEMORTEM
Pemeriksaan antemortem meliputi pemeriksaan
perilaku dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
perilaku dilakukan pengamatan dan mencari
informasi dari pemilik ternak.

PEMERIKSAAN POSTMORTEM
Setelah hewan dipotong, dilakukan
pemeriksaan postmortem pada bagian-
bagian sebagai berikut yaitu karkas, paru-
paru, jantung, hati, ginjal, lambung, usus,
kepala.
PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN HATI
KEPALA

PEMERIKSAAN PARU-PARU, USUS, KARKAS


DAN LAMBUNG