Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA TN.R DENGAN


HALUSINASI PENDENGARAN
DI RUANG BELIMBING
RSKD DUREN SAWIT

Disusun oleh :
Hansen Satriawan Hikmah Pujiati
Nurhayati Pardi
Putri Diah Kusuma
• Kelompok praktik di ruang Belimbing selama 15 hari yaitu
mulai tanggal 17 April 2017 s/d 05 Mei 2017 dengan
metode tim

• Kelompok tertarik dengan kasus yang dialami oleh Tn.R


karena kasus yang dialami oleh klien cukup kompleks

• Tn. R berusia muda, sering merasa sendiri, malas


bergaul, suka menyendiri, riwayat mendengar suara yang
sering mengajak diri pergi, merasa malu dengan
kondisinya sekarang karena tidak berpenghasilan
Asuhan keperawatan pada Tn. R dilakukan sejak
tanggal 02 mei 2017

Strategi yang dilakukan kelompok adalah


menunjuk salah satu anggota kelompok untuk
memulai interaksi untuk membina hubungan saling
percaya dengan klien

Selanjutkanya implementasi dan evaluasi


dilakukan sesuai masalah yang ditemukan secara
bergantian oleh anggota kelompok yang lain

Pada setiap terminasi, tim melakukan tindak lanjut


pada klien dan evaluasi oleh anggota kelompok
yang selanjutnya kelompok melakukan diskusi
untuk membahas masalah keperawatan klien
Predisposisi
Tn. R umur 30 tahun anak satu-satunya,
pendidikan SI informatika

awalnya klien menunjukkan gejala gangguan


jiwa sejak gagal terus dalam mencari
pekeraan dan ayahnya meninggal dunia

Klien mengatakan orang terdekat adalah


bapaknya dan semenjak bapaknya
meninggal orang terdekatnya ibu

Keluarga mengatakan sejak saat itu klien


suka menyendiri dan cepat tersinggung
Presipitasi
Alasan masuk rumah sakit klien sering marah-marah,
gelisah, ngoceh-ngoceh dan tertawa sendiri

Saat pengkajian diperoleh data klien nampak sering


menyendiri,nampak gelisah, mondar- mandir, bicara
sendiri, Kontak mata kurang dan sering menunduk,
suara pelan, nampak tegang

Klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain


karena tidak nyambung, klien mengatakan lebih suka
menyendiri, Klien mengatakan dirinya tamatan S1
informatika dan dirinya merasa malu karena belum ada
tempat kerja yang mau menerimanya untuk bekerja.
Klien mengatakan malas untuk
berinteraksi dengan yang lain

Klien mengatakan sering mendengar


suara-suara, suara itu mengajaknya untuk
berjalan terus

Klien anak satu-satunya dalam kelurga,


sekarang hanya tinggal bersma ibunya.
Sejak saat itu klien menunjukkan gejala
tidak mau keluar rumah, suka marah dan
tersenyum dan tertawa sendiri
• Hasil observasi didapatkan data klien selalu
tampak duduk menyendiri, tampak bicara
sendiri, senyum-senyum sendiri, tidak mau
interaksi dengan orang lain, kontak mata
kurang, bicara lambat dengan suara pelan dan
seperlunya, tidak mau memulai pembicaraan,
sering menunduk, sering diam, ekspresi wajah
tampak sedih dan menurut data klien putus
minum obat, yang menjadikan klien 5 x dirawat
Analisa Data
Data Masalah
Data Subyektif: Gangguan Sensori Persepsi :
Klien mengatakan sering mendengar Halusinasi
suara-suara, suara itu mengajaknya
untuk berjalan terus.
Data Obyektif :
Klien nampak mondar-mandir, tampak
bicara sendiri, senyum-senyum sendiri,

Data Subyektif: Isolasi sosial: Menarik diri


Klien mengatakan lebih suka menyendiri.
Klien mengatakan malu untuk berbaur
dengan teman yang lainnya
Data Obyektif :
Kontak mata kurang
Klien tampak sering menyendiri
Tidak nampak jarang berinteraksi dengan
orang lain.
klien selalu tampak duduk menyendiri
Data Masalah
Data Subyektif: Gangguan konsep diri: Harga diri
Klien mengatakan malu untuk berbaur rendah
dengan teman yang lainnya
malu karena belum mendapatkan
pekerjaan
Data Obyektif :
Klien nampak sering menunduk,
Suara pelan,
Kontak mata kurang

Koping keluarga inefektif Penatalaksanaan regimen


Data Subyektif: terapeutik inefektif
Klien mengatakan dirawat yang kelima kali Koping keluarga inefektif
Klien mengatakan tidak teratur minum obat
saat dirumah klien.
Data Obyektif :
Menurut data klien putus minum obat
Pohon Masalah

Gangguan sensori
persepsi : Halusinasi

Isolasi Sosial :
Penatalaksanaan regimen
Menarik Diri
teraputik inefektif

Ganguan konsep diri :


Harga Diri Rendah Koping keluarga tidak efektif
Perubahan
sensori persepsi :
Halusinasi

Koping Keluarga Isolasi Sosial :


Inefektif Menarik Diri

Diagnosa
Keperawatan

Penatalaksanaan
Gangguan
regimen
Konsep diri :
terapeutik
HDR
inefektif
PROSES TERJADINYA MASALAH
• merupakan persepsi terhadap stimulus dari luar
tanpa obyek nyata dari dunia luar
Halusinasi

• Hal itu memungkinkan mempengaruhi pemikiran


mereka mencakup perasaan merasa mendengar,
melihat, membau, meraba atau merasa

• Klien akan membuka persepsi didalam pemikirannya


sehingga memungkinkan memaksa klien untuk
mempercayainya daripada kenyataan dari luar.
• Hal yang sangat penting untuk
diingat bahwa halusinasi
terlihat sangat nyata bagi klien
dan klien mungkin melihat
halusinasi sebagai kenyataan
dan mengingkari kenyataan
lingkungan sekitarnya atau
orang-orang sekitarnya (Judith
and Sheila, 1998 : 113)
RENTANG RESPONS
NEUROBIOLOGIK
Respon Adaptif Respon Maladaptif

Pikiran logis Pikiran kadang Kelainan pikiran/delusi


menyimpang

Persepsi akurat Ilusi Halusinasi

Emosi konsisten dgn Reaksi emosial berlebihan Ketidakmampuan untuk


pengalaman mengawali emosi

Perilaku sesuai hub. sosial Menarik diri Isolasi sosial


TINDAKAN KEPERAWATAN

Gangguan persepsi sensori :Halusinasi


Tujuan khusus :
1. Membina hubungan saling percaya
Tindakan keperawatan :
• Sapa klien dengan ramah baik verbal/non verbal
• Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan
perawat berkenalan
• Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan
yang disukai klien
• Buat kontrak yang jelas
• Tunjukkan sikap empati dan menerima apa
adanya
• Beri perhatian kepada klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
• Tanyakan perasaan klien dan masalah yang
dihadapi klien
• Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi
perasaan klien
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
(mengidentifikasi jenis, isi, waktu,
frekuensi, perasaan, situasi dan kondisi
yang menimbulkan halusinasi serta
respon klien terhadap halusinasi )
Tindakan keperawatan
• Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
• Observasi tingkah laku klien terkait dengan
halusinasinya
• Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika
terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya
• Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk
mengatasi perasaan tersebut
• Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya
bila klien menikmati halusinasinya
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
Tindakan keperawatan
• Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang
dilakukan jika terjadi halusinasi
• Diskusikan cara yang digunakan klien (jika cara
yang digunakan adaptif beri pujian, jika mal adaptif
diskusikan kerugian cara tersebut)
• Ajarkan klien cara mengontrol halusinasi (
menghardik, bercakap-cakap, aktifitas dan obat)
• Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan
dan latih untuk mencobanya
• Beri kesempatan untuk melakukan cara yang
dipilih dan dilatih
• Anjurkan dan bantu klien memasukkan kedalam
jadwal kegiatan harian
• Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih,
jika berhasil beri pujian
Pelaksanaan Tindakan

Perubahan sensori persepsi:


halusinasi dengar.
• Tujuan umum:
• Klien dapat mengontrol halusinasinya.
• Tindakan yang telah dilakukan:
• Membina hubungan saling percaya
• Mengidentifikasi halusinasi (jenis, isi, waktu,
frekuensi, situasi yang menimbulkan
halusinasi, respon terhadap halusinasi)
• Mengajarkan klien cara mengontrol
halusinasi (menghardik, bercakap-cakap,
aktifitas dan obat)
• Menganjurkan dan membantu klien
memasukkan kedalam jadwal kegiatan
harian
• Mengajurkan melakukan cara mengontrol
halusinasi bila muncul
Evaluasi
S :Klien sudah bisa mempraktekkan cara
mengontrol halusinasi dengan menghardik,
bercakap-cakap, aktifitas dan obat
0 : klien sudah jarang mendengar suara-suara
lagi, klien mengatakan senang karena sudah
tidak mendengar suara suara itu lagi
sudah tidak nampak mondar-mandir maupun
bicara sendiri
Rencana Tindak Lanjut
• Rencana tindak lanjut untuk klien adalah
mengingatkan , memotivasi dan memberi
dukungan kepada klien untuk meminum
obat teratur, melatih cara mengontrol
halusinasi. Dan menganjurkan mengontrol
halusinasi bila halusinasinya muncul lagi i.
Untuk perawat adalah mendiskusikan
dengan klien untuk menyusun jadwal
kegiatan yang dapat dilakukan selama di
rumah sakit, memberikan pendidikan
kesehatan kepada keluarga saat
berkunjung ke rumah sakit tentang cara
merawat klien dengan halusinasi
Hambatan yang ditemukan selama
berinteraksi dengan klien terjadi hanya
pada pertemuan awal klien masih nampak
malu namun kooperatif dan dilakukan
pendekatan (BHSP) di pertemuan kedua
tidak ada habatan lagi dalam berinteraksi
jadi tidak ada hambatan yang berarti
dalam melakukan asuhan keperwatan
perdiagnosis klien