Anda di halaman 1dari 12

KONSEP PENDIDIKAN

MENURUT DRIYARKARA

Disusun Oleh :
Yunita Gracesary Hutagalung
173306020057
1. LATAR BELAKANG
 Dewasa ini masyarakat dunia menghadapi sebuah perubahan global. Hal ini
ditandai antara lain oleh semakin maraknya pertumbuhan industri
kapitalisme dunia. Semua bidang kehidupan tidak bisa tidak terjerat dengan
pengaruh global ini. Tidak terkecuali dengan pranata pendidikan.

 Oleh karena itu, pembahasan mengenai ‘Pendidikan sebagai Pemanusiaan


Manusia Muda’ ini akan diuraikan dalam beberapa bagian. Bagian pertama
berupa riwayat singkat dari filsuf Nicolaus Driyarkara. Kemudian akan
disusul dengan uraian pemikirannya tentang pendidikan. Dan pada bagian
terakhir “Pendidikan vis-a-vis Industrialisasi” akan diuraikan relevansi
pemikiran Driyarkara mengenai pendidikan dengankondisi masyarakat
global masa kini.
2. RIWAYAT SINGKAT NICOLAUS DRIYARKARA
 Nicolaus Driyarkara dilahirkan di Pegunungan Menoreh,
tepatnya di Desa Kedunggubah (kurang lebih 8 km sebelah
timur Purworejo, Kedu), Jawa Tengah, pada 13 Juni 1913.
Semula Driyarkara masuk Volksschool dan Vervolgschool di
Cangkrep. Diteruskan dengan HIS (Hollandsch Inlandsche
School) di Purwurejo dan Malang.

 Sesudah itu selama tiga tahun ia belajar filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat di
Yogyakarta yang waktu itu disebut Ignatius College. Semua ini dijalani antara tahun
1935-1941. Driyarkara diangkat menjadi pengajar filsafat pada Ignatius College di
Yogyakarta. Waktu PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) Sanata Dharma,
Yogyakarta didirikan pada awal tahun ajaran 1955-1956, Driyarkara diangkat manjadi
pimpinannya. PTPG ini kemudian berubah menjadi FKIP (Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan)
3. FENOMENA PENDIDIKAN MENURUT N. DRIYARKARA

 Dalam bagian Fenomena Pendidikan Driyarkara menulis tentang


pendirian-pendiriannya mengenai pendidikan: bahwa pendidikan
merupakan kegiatan sadar untuk memanusiakan manusia muda,
yang dia sebut sebagai “hominisasi dan humanisasi”. Untuk itu,
berikut ini akan diuraikan ringkasan pemaparan Driyarkara
mengenai Fenomena Pendidikan. Pertama-tama akan diberikan
uraian Driyarkara tentang pendidikan sebagai aktivitas fundamental.
Kemudian disusul dengan gambaran dasar pendidikan, yang akan
menjadi latar bagi pendirian Driyarkara bahwa pendidikan
merupakan pemanusiaan manusia muda, atau dengan kata
lainhominisasi dan humanisasi.Berikutnya akan dilanjutkan dengan
penjelasannya mengenai bapak, ibu dan anak sebagai Bhineka-
Tunggal dan struktur (kesatuan) pendidikan. Dan pada akhirnya
diberikan penegasan Driyarkara mengenai definisi Pendidikan.
A. PENDIDIKAN SEBAGAI AKTIVITAS FUNDAMENTAL

 Menurut Driyarakara, perbuatan fundamental terkait


denganperbuatan yang menyentuh akar kehidupan sehingga
mengubah dan menentukan hidup manusia.Perbuatan
fundamental itu keluar dari sikap fundamental, seperti sikap
moral, sosial, atau religi. Sikap fundamental mengubah,
menentukan, membangun hidup manusia, baik hidupnya sendiri
maupun hidup sesama. Sikap ini berdasarkan kodrat manusia
sendiri sehingga manusia dalam hal ini saling mengangkat;
menyebabkan kita saling terhubung dan membuat berbagai
macam kesatuan dalam hidup kita. Oleh karena itu, bagi
Driyarakara perbuatan mendidik merupakan perbuatan
fundamental, yang mengubah dan menentukan hidup manusia.
B. GAMBARAN DASAR DARI PENDIDIKAN
 Bagi Driyarkara, sangat mungkin bahwa bila orang yangberpikir tentang
pendidikan dan mencari sesuatu yang lebih dalamhanya sampai ke satu hal
yang biasa disebut pergaulan. Namun, Driyarkara menegaskan bahwa tidak
setiap pergaulan antara setiap orang dewasa dan anak bersifat mendidik.
Tetapi justru pergaulan antara pendidik dan anak didik yang sekalipun
tanpapikiran mendidik, pada dasarnyabersifat mendidik. Driyarkara di sini
ingin mempertanyakan; Apakah arti perbuatan mendidik?
C. PENDIDIKAN SEBAGAI HOMINISASI DAN HUMANISASI

 Menurut Driyarkara, Hominisasi merupakan proses pemanusiaan secara


umum, yakni memasukkan manusia dalam lingkup hidup manusiawi secara
minimal. Berbeda dengan binatang, manusia tidak dengan sendirinya
bersifat manusia sesudah kelahirannya. Di situlah peran pendidikan.
Sesudah masuk dalam lingkup manusiawi dengan memenuhi kodratnya
niscaya, pendidikan selanjutnya memanusiakan manusia secara khusus
dalam proses humanisasi. Humanisasi adalah perkembangan kebudayaan
yang lebih tinggi, seperti tampak dalam kemajuan-kemajuan budaya dan
ilmu pengetahuan. Manusia turun tangan dalam mengangkat alam menjadi
alam manusiawi. Tidak ada batas antara hominisasi dan humanisasi.Tidak
akan ada hominisasi tanpa humanisasi sedikit pun.
D. BAPAK, IBU, DAN ANAK SEBAGAI BHINNEKA-TUNGGAL

 Bagi Driyarkara, kesatuan hidup terwujud nyata terutama


dalamperkawinan. Perkawinan adalah pelaksanaan cinta kasih dalam
kesatuan hidup. Cinta kasih itu antara dua pribadi yang sama
tingginya, derajatnya, haknya. Dua pribadi menjadi satu; dua aku
menjadi kita. Itulah ideal perkawinan. Dalam kesatuan hidup lalu
muncullah keturunan. Kesatuan cinta kasih, selain biologis, juga
merupakan kesatuan jasmani-rohani. Anak manusia itu tidak hanya
lahir dari badan, melainkan juga “lahir dari jiwa”. Karena terdapat
anak, kesatuan itu menjadi lebih erat. Kesatuan hidup ini dapat
disebut Bhinneka Tunggal atau tritunggal karena ketiganya
merupakan konfigurasi tersendiri. Jadi hubungan bapak, ibu dan
anak merupakan relasi Bhineka Tunggal, tempat perwujudan primer
dari pendidikan.
4. STRUKTUR PENDIDIKAN
 Menurut Driyarkara, struktur atau organisasi adalah kesatuan. Dalam
realitanya, Driyarkara membedakan dua macam kesatuan, yakni
kesatuan buatan dan kesatuan makhluk hidup. Kesatuan buatan
merupakan kesatuan yang berasalatau terbentuk dari unsur luar. Jadi,
jika rusak tidak dapat pulih sendiri.Misalnya, arloji yang tersusun dari
perangkat-perangkatnya. Berbeda dengan kesatuan buatan, kesatuan
mahkluk hidup berasal dari dalam.Jadi mahkluk hidup membangun
kesatuannya sendiri, sehingga jika terjadi kerusakan dalam
kesatuannya,ia akan mencoba memulihkankerusakan itu sendiri. Dalam
hal ini, Driyarakara menegaskan bahwa realita pendidikan jelas
merupakan pertumbuhan suatu makhluk hidup (manusia).
5. DEFINISI PENDIDIKAN
Dari pemaparannya, Driyarkara merumuskan definisi pendidikan dalam tiga rumusan yang satu
sama lain tidak terpisah, melainkan saling memuat. Tiga rumusan itu adalah sebagai berikut:

 Berdasarkan pemanusiaan yang dilakukan pendidik dan anak didik: pendidikan adalah
hidup bersama dalam kesatuan tritunggal bapak-ibu-anak, di mana terjadi pemanusiaan
anak, dengan mana dia berproses untuk akhirnya memanusia sendiri sebagai manusia
purnawan.

 Berdasarkan ide mengenai hominisasi dan humanisasi: pendidikan adalah hidup bersama
dalam kesatuan tritunggal bapak-ibu-anak, di mana terjadi pembudayaan anak, dengan
mana dia berproses untuk akhirnya bisa membudaya sendiri sebagai manusia purnawan.

 Berdasarkan pandangan mengenai pelaksanaan nilai-nilai: pendidikan adalah hidup


bersama dalam kesatuan tritunggal bapak-ibu-anak, di mana terjadi pelaksanaan nilai-nilai,
dengan mana dia berproses untuk akhirnya bisa melaksanakan sendiri sebagai manusia
purnawan.
6. PENUTUP
Dalam memperkembangkan manusia muda dalam
lapangan pengertian menurut Driyarkara harus sesuai
dengan kodrat manusia. Karena bagi Driyarkara, pendidikan
merupakan kegiatan sadar untuk memanusiakan manusia
muda, yang dia sebut sebagai hominisasi dan humanisasi.
Berhadapan dengan situasi global yang membawa serta
kapitalisme dan juga kecenderungan industrialisasi
pendidikan, Pemikiran Driyarkara mengenai pendidikan
kiranya relevan. Driyarkara menegaskan suatu pendidikan
humanis, dimana pendidikan mesti diarahkan pada kodrat
rohani manusia. Jadi, pembentukkan manusia yang
berkeahlian saja tidak cukup, melainkan pemanusiaan
manusia secara utuh.
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH