Anda di halaman 1dari 27

PELURUHAN BETA

BENING PUSPA DEWI


PEBRIANTI
PELURUHAN BETA

 Peluruhan 𝛽 merupakan proses transformasi isobarik, dalam hal ini cacah


proton berubah (berkurang) tanpa disertai perubahan cacah nucleon.
Terdapat 3 macam proses terjadinya peluruhan 𝛽 yakni sebagai berikut:
𝐴 𝐴 0
1. Pemancaran elektron (𝛽 − ) ∶ 𝑍 𝑋 → 𝑍+1 𝑌 + −1𝑒 + 𝑣ҧ

2. Pemancaran positron (𝛽 + ) : 𝐴𝑍𝑋 → 𝑍−1𝐴𝑌 + +10𝑒 + 𝑣ҧ


3. Penangkapan elektron : 𝐴𝑍𝑋 + −10𝑒 +→ 𝑍−1𝐴𝑌 + 𝑣ҧ
PROSES TERJADINYA PELURUHAN BETA

 Proses terjadinya peluruhan 𝛽 dapat dijelaskan dari skema tingkat dasar (state awal)
proton dan neutron seperti pada gambar :
Energi
Tak Mantap Mantap Tak Mantap

12 12
5𝑩
12
6𝑪 7𝑁

Gambar 1. Skema Tingkat Dasar Proton dan Neutron dalam Peluruhan Beta
PELURUHAN BETA

 Ketiga nuklida memiliki cacah nukleon yang sama, tetapi cacah neutron dan protonnya
berbeda. 126𝑪 adalah inti stabil dengan cacah neutron dan proton sama (N=Z=6).
Pada 125𝑩 dengan N=7 dan Z=5 memiliki (N>Z). Selanjutnya pada nuklida 127𝑁 dengan
N = 5 dan Z = 7 memiliki (Z>N).
12
 Inti atom 5𝑩yang tak stabil meluruh dengan mengubah satu neutronnya menjadi
proton agar stabil menjadi 126𝑪. Karena elektron tak dapat berada dalam inti atom
maka ia harus dikeluarkan dan dipancarkan sebagai radiasi sinar 𝛽− dan anti neutrino
sebagai berikut :
12
 5𝑩 → 12
6𝑪 + −10𝜷 + 𝑣ҧ
PELURUHAN BETA

12
 Analog untuk, 7𝑵
cacah proton lebih besar dibandingkan dengan
cacah neutronnya, sehingga inti tersebut meluruh dengan mengubah
satu protonnya menjadi neutron disertai dengan pemancaran zarah
positif dalam bentuk radiasi sinar 𝛽+ dan neutrino sebagai berikut :
 12
7𝑵 → 12
6𝑪 + +10𝜷 + 𝒗
TABELPROSES PELURUHAN BETA

Persamaan peluruhan Macam Peluruhan


23
10 𝑁𝑒 → 23
11 𝑁𝑎 + 0
−1𝑒 + 𝑣ҧ 𝛽−
99
43 𝑇𝑐 → 99
44 𝑅𝑢 + 0
−1𝑒 + 𝑣ҧ 𝛽−
25
13 𝐴𝑙 → 25
12 𝑀𝑔 + 0
+1𝑒 + 𝑣 𝛽+
124
53 𝐼 → 124
52 𝑀𝑔 + 0
+1𝑒 + 𝑣 𝛽+
15
8 𝑂 + −1
0
𝑒 → 15
7𝑁 + 𝑣 EC
41
20 𝐶𝑎 + −1
0
𝑒 → 41
19𝐾 + 𝑣 EC
SYARAT TERJADINYA PELURUHAN BETA

1. Peluruhan 𝛽 −
2. Peluruhan 𝛽 +
3. Penangkapan Elektron
1. PELURUHAN 𝛽 −

 Reaksi peluruhan inti atom induk menjadi inti atom anak dengan peluruhan 𝛽 −
memenuhi :
 𝐴
𝑍𝑋𝑖 → 𝐴
𝑍+1𝑋𝑖 + −10𝑒 + 𝑣ҧ
 Berdasarkan hukum kekekalan energi sebelum dan sesudah peluruhan :
 𝑚𝑖 𝑐 2 + 0 = 𝑚𝑡 𝑐 2 + 𝐾𝑡 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝐾𝑒 + 𝐾𝑣ത …………………………………1
 Dengan mengabaikan energi ikat elektron maka dapat diekspresikan hubungan antara
massa inti atom 𝑚𝑥 dengan massa atom 𝑀𝑥 dan massa elektron 𝑚𝑒 dari nuklida
𝐴
𝑍𝑋 adalah :
 𝑚𝑥 = 𝑀𝑥 − 𝑍𝑚𝑒 …………………………………………………………….....2
1. PELURUHAN 𝛽 −

 Substitusi persamaan 1 dan 2 sehingga diperoleh :


 𝑀𝑖 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 = 𝑀𝑡 − 𝑍 + 1 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝐾𝑡 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝐾𝑒 + 𝐾𝑣ത …………………………………………… 3
 Energi disintegrasi
 𝑄 = 𝐾𝑡 + 𝐾𝑒 + 𝐾𝑣ത ……………………………………………………………………………………………... 4
 Substitusi persamaan 3 dan 4
 𝑀𝑖 𝑐 2 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 = 𝑀𝑡 𝑐 2 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 − 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑄
 𝑄 = (𝑀𝑖 − 𝑀𝑡 )𝑐 2
 Syarat terjadinya peluruhan adalah Q>0 sehingga 𝑀𝑖 > 𝑀𝑡
 Peluruhan 𝛽 − hanya dapat terjadi jika massa atomik nuklida induk lebih besar dibandingkan massa atomik
nuklida anak.
2. PELURUHAN 𝛽+

 Tinjau kembali persamaan peluruhan 𝛽 + :


 𝐴
𝑍𝑋𝑖 → 𝐴
𝑍−1𝑋𝑡 + +10𝑒 + 𝑣
 Berdasarkan hukum kekekalan energi sebelum dan sesudah peluruhan :
 𝑚𝑖 𝑐 2 + 0 = 𝑚𝑡 𝑐 2 + 𝐾𝑡 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝐾𝑒 + 𝐾𝑣 ……………………………………………..5
 Dengan mengabaikan energi ikat elektron maka dapat diekspresikan hubungan antara massa inti atom 𝑚𝑥 dengan
massa atom 𝑀𝑥 dan massa elektron 𝑚𝑒 dari nuklida 𝐴𝑍𝑋 adalah :
 𝑚𝑥 = 𝑀𝑥 − 𝑍𝑚𝑒 …………………………………………………………………………6
PELURUHAN 𝛽 +

 Substitusi persamaan 5 dan 6 diperoleh;


 𝑀𝑖 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 = 𝑀𝑡 − 𝑍 − 1 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝐾𝑡 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝐾𝑒 + 𝐾𝑣 ……………………………..7
 Energi disintegrasi :
 𝑄 = 𝐾𝑡 + 𝐾𝑒 + 𝐾𝑣 ………………………………………………………………………………..8
 Substitusi persamaan 7 dan 8
 𝑀𝑖 𝑐 2 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 = 𝑀𝑡 𝑐 2 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑄
 𝑄 = (𝑀1 − 𝑀𝑡 − 2𝑚𝑒 )𝑐 2
 Syarat terjadinya peluruhan adalah Q > 0 sehingga,
 𝑀𝑖 > 𝑀𝑡 + 2𝑚𝑒
 Peluruhan 𝛽 + hanya dapat terjadi jika massa atomik nuklida induk setidak-tidaknya 2𝑚𝑒 lebih besar dibandingkan massa
atomik nuklida turunannya
3. PENANGKAPAN ELEKTRON
Persamaan peluruhan dengan penangkapan elektron:
𝐴
𝑍 𝑋𝑖 + −10𝑒 +→ 𝐴
𝑍−1𝑌 + 𝑣 ……………………………………………………………… 9
Berdasarkan hukum kekekalan energi sebelum dan sesudah peluruhan :
𝑚𝑖 𝑐 2 + 𝑚𝑒 𝑐 2 = 𝑚𝑡 𝑐 2 + 𝐾𝑡 + +𝐾𝑣 ……………………………………………………10
Dengan mengabaikan energi ikat elektron maka dapat diekspresikan hubungan massa inti atom
𝑚𝑥 dengan massa atom 𝑀𝑥 dan massa elektron 𝑚𝑒 dari nuklida 𝐴𝑍𝑋 adalah :
𝑚𝑥 = 𝑀𝑥 − 𝑍𝑚𝑒 ………………………………………………………………………..11
PENANGKAPAN ELEKTRON

Substitusi persamaan 11 dan 10 diperoleh menjadi :


 𝑀𝑖 𝑐 2 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑚𝑒 𝑐 2 = 𝑀𝑡 𝑐 2 − 𝑍𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑚𝑒 𝑐 2 + 𝑄
 𝑄 = (𝑀1 − 𝑀𝑡 )𝑐 2
Syarat terjadinya peluruhan adalah Q > 0 sehingga 𝑀𝑖 > 𝑀𝑡
Penangkapan elektron hanya terjadi jika massa atomik nuklida induk lebih besar
dibandingkan massa atomik nuklida turunannya.
SKEMA PELURUHAN BETA
 Peluruhan beta biasanya diikuti oleh pancaran radiasi gamma. Skema peluruhan
beta untuk inti 64
29𝐶𝑢adalah sebagai berikut
64
29𝐶𝑢

𝛽 − 0,773 MeV

EC (0,34 MeV)
2𝑚𝑐 2 1,02 MeV 64
30𝑍𝑛
EC (1,68 MeV)

𝛾(1,34 𝑀𝑒𝑉) 𝛽 + 0,66 MeV

64
30𝑁𝑖
SPEKTRUM ENERGI BETA

 Spektrum beta bersifat kontinu. Energi sinar beta memiliki rentang dari 0 sampai
dengan nilai maksimum.
 Energi kinetik maksimum beta adalah Q jika tenaga kinetik neutrinonya nol dan
berlaku pula sebaliknya senergi kinetik sinar beta minimum sama dengan nol jika
tenaga kinetik neutrino maksimum sama dengan Q.
 Setelah ditemukannya sintilator cair, neutrino dapat dideteksi secara langsung oleh
Reines dan Cowan (1953). Pada peluruhan beta terjadi transformasi neutron menjadi
proton dan sebaliknya proton menjadi neutron.
KONSTANTA PELURUHAN BETA

Hasil pengukuran umur paruh peluruhan beta bervariasi antara 10-3 sekon sampai
dengan 1016 tahun. Sebagaimana dalam peluruhan gamma, kita dapat mengklasifikasikan
jenis-jenis peluruhan beta berdasarkan pada momentum sudut yang dibawa oleh
elektron dan neutrino, dan perubahan paritas yang terjadi. Kita dapat membedakan
peluruhan dengan mengamati bahwa spin intrinsik elektron dan neutrino sejajar
(Peluruhan Gamow-Teller) atau berlawanan (Peluruhan Fermi), Klasifikasi yang paling
umum dalam peluruhan beta, transisi yang diijinkan bila mana momentum sudut yang
dibawa zarah nol. Konstanta peluruhan meningkat secara kasar 5 kali dari energi
peluruhan. Efek ini dapat diterangkan dengan teori peluruhan beta yang dikembangkan
oleh Fermi (1934).
KONSTANTA PELURUHAN BETA

 Teori klasik hanya membahas proses emisi radiasi elektromagnetik yang dipancarkan
oleh zarah bermuatan yang mengalami percepatan. Laju radiasi ditentukan sifa-sifat
spesifik medan listrik dan medan magnet, oleh karena itu tidak dapat diadopsi secara
langsung pada medan elektron-neutrino. Fermi mengembangkan sebuah teori
kuantum peluruhan beta yang analog dengan teori kuantum peluruhan
elektromagnetik.
KONSTANTA PELURUHAN BETA

 Sebuah sistem ditempatkan dalam sebuah kotak besar yang tertutup. Didalam kotak
bentuk medan radiasinyaadalah gelombang-gelombang berdiri, yang masing-masing
memiliki energi tertentu seperti ditunjukkan pada gambar 1.a. Keadaan awal terdiri
dari inti tereksitasi dan radiasi nol yang melingkupi tingkat energi tertentu saja.
Tingkat – tingkat energi yang lainn kosong. Kita dapat menunjukkan dari persamaan
Schrodinger bahwa jika sistem dijaga pada potensial gayut waktu seperti ditunjukkan
pada gambar 1.b, maka sistem dapat melakukan transisi ke tingkat-tingkat energi di
dekat tingkat energi awal.
KONSTANTA PELURUHAN BETA

Gambar 1. Probabilitas transisi, (a) Transisi dari keadaan awal ke grup keadaan akhir. daerah yang diarsir tipis kosong,
sedangkan yang tebal ditempati. (b) Potensial gangguan (peturbasi) menghasilkan transisi.
KONSTANTA PELURUHAN BETA

Konstanta peluruhan (peluang transisi per satuan waktu) diperoleh secara proporsional dari Dn/De, yang
menyatakan jumlah keadaan akhir per satuan energi. Persamaan lengkap yang menyatakan konstanta
peluruhan adalah sebagai berikut:

Integral ini dikerjakan dalam seluruh volume kotak yang berisi sistem. Perlu diingat bahwa fungsi
gelombang mengacu pada seluruh sistem. Pada kasus peluruhan gamma
 Fungsi gelombang foton diasumsikan sebagai fungsi gelombang berdiri
dalam kotak tertutup. Selanjutnya momentum foton p dapat ditentukan
sebagai berikut

Jumlah keadaan dN berkaitan dengan momentum yang terletak diantara p


dan p+dp, sama dengan jumlah himpunan bilangan bulat nx, ny, nz yang
terletak diantara n dan n+dn.
 Karena volume yang dihimpun dalam ruang n dengan masing-masing himpunan bilangan
bulat nx, ny, nz adalah sebuah volume satuan kubus, setiap volume dalam ruang n secara
numeris sama dengan jumlah himpunan bilangan bulat yang terdapat di dalamnya sehingga
 Dalam hal ini faktor 2 harus dimasukkan untuk memperhitungkan dua kemungkinan arah
polarisasi transversal radiasi elektromagnetik, yang mempresentasikan keadaan-keadaan
independen foton
UNTUK PELURUHAN BETA BENTUK PERSAMAAN GELOMBANG
KEADAAN AWAL DAN KEADAAN AKHIR
 Untuk menentukan densitas keadaan, sistem ditempatkan kembali dalam kotak besar seperti
pada gambar 3. Jumlah akhir keadaan per satuan energi adalah jumlah dNtot dari keadaan
elektron-antineutrino dalam jangkauan energi dQβ. Karena untuk setiap keadaan elektron
terdapat sebuah himpunan independen dNv dari keadaan antineutrino yang ada
Persamaan tersebut kemudian disubstitusi menjadi

dengan indeks i dan t secara berurutan menyatakan induk dan turunan (anak).
GAMBAR PELURUHAN BETA NEGATIF

Peluruhan beta negatif