Anda di halaman 1dari 21

Dermatoterapi

Oleh: Karel Respati (2011730144)

Pembimbing: Dr. Chadijah Rifai,SpKK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RSIJ CEMPAKA PUTIH
2018
Dermato Terapi

Definisi

Ilmu pengetahuan yang mempelajari pengobatan


pada penyakit kulit.
Medikamentosa

Bedah Kulit
JenisTerapi
Penyinaran

Psikoterapi
Prinsip Umum

 Holistik
 Alamiah
 Perhatikan dari sisi anatomi,
Prinsip fisiologi, dan biokimia
Pengobatan  Kuasai materi medis
Prinsip Khusus
 Farmakologi
 Terapi kausal
 Obat yang paling sederhana
 Individualisasi
 Ekonomi
 Pemilihan vehikulum yang tepat
 Pemilihan bahan aktif dan juga konsentrasinya
Prinsip Khusus  Instruksi pemakaian dan pembersihannya

ObatTopikal  Hindari sensitizer


 Batasi penggunaan obat yang tidak stabil
Vehikulum Zat Aktif

ObatTopikal

Vehikulum merupakan bahan dasar pembawa zat aktif.


monofasik

Jenis Obat bifasik


Topikal
trifasik
Vehikulum
 Efek:
 Mendinginkan
 Anti inflamasi ringan karena ada sedikit efek vasokonstriksi
 Anti pruritus lemah
 Mengurangi pergeseran pada kulit yang berlipat
 Proteksi mekanis

BEDAK  Indikasi:
 Dermatosis yang kering dan superfisial
 Vesikobulosa akut
 Kontraindikasi:
 Dermatosis yang basah dan eksudatif
 Cara pemakaian: ditaburkan, menggunakan spons atau kapas
 Terdiri atas: solusio (larutan dalam air) dan tingtura (larutan dalam
alkohol)
 Sifat cairan:
 Membersihkan – eksudat, skuama, krusta
 Mengeringkan – dengan kompres terbuka
CAIRAN  Protektif
 Mendinginkan – pada radang akut
 Memanaskan – dengan kompres tertutup
 Epitelialisasi
 Anti pruritus
 Indikasi: dermatosis yang basah atau akut, dermatitis akut
 Kontraindikasi: lesi kering
 Cara pemakaian:
 Bathing (berendam)
 Kompres terbuka
 Kompres tertutup
 Merupakan bahan berlemak atau seperti lemak, pada suhu kamar
memiliki konsistensi seperti mentega.
 Sifat:
 Menutupi
 Protektif
SALEP 

Melicinkan
Penetratif
 Memanaskan
 Indikasi: dermatosis kering, kronis
 Kontraindikasi: dermatosis basah, daerah berambut, lipatan
 Terdiri atas campuran cairan dan bedak, biasanya ditambah dengan
gliserin sebagai bahan perekat.
BEDAK  Sifat: mengeringkan, anti pruritus
KOCOK  Indikasi: dermatosis yang luas dan generalisata
(LOTION)  Kontraindikasi: dermatosis produktif, daerah berambut, dermatosis
yang kering
 Merupakan campuran air (W), minyak (O), dan emulgator.
 Krim ada 2 jenis:
 W/O → air dalam minyak (minyak >>)
 O/W → minyak dalam air (air >>)

KRIM  Efek: proteksi, mengeringkan


 Indikasi: dermatosis subakut, dermatosis luas
 O/W → untuk daerah berambut
 W/O → untuk lesi kering
 Kontraindikasi: dermatosis produktif dan basah
 Salep + bedak → pasta
 Bersifat protektif dan mengeringkan
 Indikasi: dermatosis subakut yang tidak produktif
PASTA  Kontraindikasi:
 Dermatosis yang produktif
 Daerah berambut
 Daerah genitalia eksterna dan lipatan
 Salep + bedak + cairan → pasta pendingin
PASTA  Indikasi → dermatosis yang subakut
PENDINGIN  Kontraindikasi → dermatosis akut dan produktif
 Dibagi menjadi:
 Bedah skapel → untuk berbagai tumor.
 Bedah listrik → menggunakan elektrokauter misalnya pada verucca
BEDAH KULIT vulgaris.
 Bedah kimia → penggunaan pododlin untuk kondiloma akuminata.
 Bedah beku → menggunakan CO2 padat atau nitrogen cair untuk
neurofibroma.
 Radioterapi → misal pada basalioma
PENYINARAN  Sinar UV → misal pada psoriasis
 Laser → misal pada hemangioma
 Terapi ini diberikan pada penderita neurodermatitis, dilakukan
PSIKOTERAPI kombinasi dengan terapi medikamentosa.
Terima Kasih
Daftar Pustaka

• Trivedy R. Mastering Emergency Medicine a Practical Guide.Hodder Arnold.2011: Hal :337


• Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC; 2004.
• Adhi Djuanda, dkk. 2017. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. Jakarta:
• Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
• 4. Travers JB, Mousdicas N. Gram-positive Infections Associated with Toxin Production. In: Freedberg IM,
Eisen AZ, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, eds. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine, 7th ed.
New York: McGraw-Hill; 2008. p. 1710-19.
• 7. Morgan MB, Smoller BR, Somach SC, eds. Staphylococcal Toxin-Mediated Scalded Skin and Toxic
Shock Syndromes. In: Deadly Dermatologic Diseases Clinicopathologic Atlas and Text. Cleveland:
Springer; 2007. p. 133-6.
• 8. French LE, Prins C. Erythema multiforme, Stevens-Jhonson Syndrome and Toxic
• Epidermal Necrolysis. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, editors. Dermatology.
• 2 ed. UK: Elsevier Inc; 2008.