Anda di halaman 1dari 82

DEMAM DAN RUAM

PADA ANAK

1
PENDAHULUAN
 Demam dan ruam adalah tanda yang sering
dijumpai  dapat membatasi spektrum
diagnosis
 Sistemik dan lokal, diperantarai toksin,
vaskulitis
 Kesalahan diagnosis dapat berakibat besar
terhadap pasien, kontak, maupun
masyarakat
 Kulit : kunci awal pengenalan penyakit

2
PENDAHULUAN
 Memeriksa dan mendeskripsikan lesi kulit
seperti mengamati lukisan ( jauh, dekat,
sangat dekat )
 Penyebab : infeksi ( terutama virus ) dan
non infeksi
 Dalam 4 dekade terakhir :
– Banyak virus baru
– Banyak penyebab lain yang sebelumnya tidak
dikenal
– Perubahan pola epidemiologis
3
SEJARAH

 Campak dan cacar : awal abad masehi


 Demam skarlatina : abad 17
 Cacar air : abad 18
 Rubella : abad 19
 Ada nomor berdasarkan urutan
kemunculannya dalam sejarah

4
Nomenklatur Eksantema Infeksi Klasik

DISEASES INFECTIOUS AGENTS


First Rubeola or measles
Second Streptococcal scarlet fever
Third Rubella or German measles
Fourth Filatov-Dukes disease
Fifth Erythema infectiosum ( parvovirus B19 )
Sixth Human herpes virus 6 ( roseola )

5
6
7
MORFOLOGI DAN DEFINISI

 Eksantema : erupsi kulit yang terjadi


sebagai tanda dari penyakit sistemik
 Enantema : erupsi di dalam rongga
mulut yang terjadi sebagai tanda
infeksi sistemik
 Rentang eksantema sangat luas
 Dikenal berbagai metode pembagian
berdasarkan morfologi
8
MORFOLOGI

 Pembagian menurut Siemens (1958) :


– Setinggi permukaan kulit
– Bentuk peralihan, tidak terbatas pada
permukaan kulit
– Di atas permukaan kulit
– Bentuk peralihan, tidak terbatas pada
satu lapisan saja

9
MORFOLOGI

 Pembagian menurut Prakken (1966) :


– Lesi primer  muncul paling awal
– Lesi sekunder  sudah mengalami perubahan
 Pembagian menurut Garg (2008) :
– Raised
– Depressed
– Flat
– Surface change
– Fluid filled
– Vascular 10
Jenis Lesi Primer dan Sekunder
– Prakken -
LESI PRIMER LESI SEKUNDER
Makula Erosi dan oozing
Papula Krusta
Plak Scaling / skuama
Nodul (Nodus dan Nodulus) Atrofi
Wheal / Urtika Ekskoriasi
Vesikel Fisura
Bulla Ulkus
Kista Sikatriks
Pustula
11
Berbagai Ukuran Lesi Kulit

UKURAN DESKRIPSI
Miliar Sebesar kepala jarum pentul
Lentikular Sebesar biji jagung
Numular Sebesar uang logam 5 rupiah atau
100 rupiah
Plakat (en Lebih besar daripada nummular
plaque)

12
Bentuk dan Susunan Lesi Kulit

13
14
15
MORFOLOGI

Makula Nodula
16
MORFOLOGI

Papula Urtika
17
MORFOLOGI

Vesikula Pustula
18
MORFOLOGI

Kista Atrofi
19
20
21
DEFINISI
SKIN LESION DESCRIPTION

Macule Flat discoloration <1 cm in diameter


Patch Flat discoloration >1 cm in diameter
Papule Solid elevated lesion <1 cm in diameter
Plaque Flat-topped elevated lesion >1.5 cm in diameter
Nodule Rounded elevated lesion >1 cm in diameter
Vesicle Fluid-filled elevated lesion up to 1 cm in diameter
Bulla Vesicle >1 cm in diameter
Pustule Elevated lesion filled with pus
Wheal Well-demarcated raised lesion lasting <24 hours
Petechiae Pinpoint hemorrhage
Ecchymosis Large areas of bleeding into the skin
Diffuse erythema Large area of redness that blanches with pressure22
PATOGENESIS RUAM
 Patogenesis manifestasi kulit dari penyakit
sistemik :
– Penyebaran mikroorganisma melalui darah yang
kemudian menghasilkan infeksi sekunder di kulit
(Varicella, enterovirus, meningococcemia)
– Infeksi terjadi di lokasi tertentu, namun toksin
yang dihasilkan kemudian menyebar dan
mencapai kulit melalui darah (TSS, SSSS)
– Dugaan dasar imunologis (eritema multiforme
eksudativum)
– Keterlibatan vaskuler
23
KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI

 Pembagian ruam dapat dilakukan


menurut beberapa metode seperti :
– Morfologi ruam
– Infeksi dan non infeksi
– Penyebab infeksi
– Gejala dan tanda penyerta
– Klaster temuan / syndromic diagnosis
– Potensi tingkat kegawatan

24
KLASIFIKASI –
MORFOLOGI RUAM
 Krugman : makulopapular dan papulovesikular
 Pakar lain :
– Makular
– Makulopapular
– Vesikular, Bullosa, dan Pustular
– Petekial dan Purpural
– Urtikarial
– Papular, Nodular, Ulseratif
– Eritema Multiforme
– Eritema Nodosum
– Eritroderma Difus
– Distinctive Rashes
– Ruam Anulare
25
Klasifikasi Krugman
MAKULOPAPULAR PAPULOVESIKULAR
Measles Varicella zoster infection
Atypical measles Smallpox
Rubella Eczema herpeticum
Scarlet fever Eczema vaccinatum
Staphylococcal scalded skin syndrome Coxsackievirus infection
Staphylococcal toxic shock syndrome Other enterovirus infections
Meningococcemia Atypical measles
Typhus and tick fever Rickettsialpox
Toxoplasmosis Impetigo
Cytomegalovirus infection Insect bites
Erythema infectiosum (parvovirus) Papular urticaria
Roseola infantum (HHV-6) Drug eruptions
Enteroviral infections Molluscum contagiosum
Infectious mononucleosis Dermatitis herpetiformis
Toxic erythema
Drug eruptions
Sunburns
Miliaria
Kawasaki disease
26
Klasifikasi Krugman
 Krugman membuat deskripsi dari
setiap penyakit di dalam daftar yang
meliputi 5 aspek :
– Riwayat penyakit infeksi dan imunisasi
sebelumnya
– Gejala prodromal
– Bentuk ruam
– Tanda patognomonik dan tanda
diagnostik lain
– Tes laboratorium
27
Empat penyakit makulopapular (Krugman) 28
Empat penyakit papulovesikular (Krugman) 29
Eksantema Makulopapular - Virus

PENYEBAB PENYAKIT KARAKTER RUAM


DISKRIT KONFLUEN
VIRUS
Parvovirus Erythema infectiosum +++ +
Adenovirus 1, 2, 3, 4, 7, 7a +++ +
HHV-6 Roseola infantum +++ +
Epstein-Barr virus Infectious mononucleosis +++ +
CMV ++++
Vaccinia virus Roseola vaccinatum +++ +
Coxsackievireus A2, 4, 5, 7, 9, 10, 16 +++ +
Coxsackievirus B1-5 +++ +
Echoviruses 1-7, 9, 11, 13, 14, 16-19, 22, 25, +++ +
30, 33
Enterovirus 71 ++++
Rhinoviruses ++++
Colorado tick fever virus Colorado tick fever ++++
Reoviruses 2, 3 ++ ++
Rotavirus ++++
Alphavirus: chikungunya, sindbis, o’nyong nyong ++ ++
fever, ross river
Rubella virus Rubella +++ +
Flavi virus: dengue, kunjin Dengue fever, Kunjin fever ++ ++
Influenza viruses A, B ++++
RSV ++++
Parainfluenze viruses 1-4 ++++
Mumps virus Mumps ++++
Measles virus Measles + +++
Hepatitis B virus ++++ 30
Marburg virus Marburg fever ++ ++
HIV
Ruam Petekial (Nonblanching) Menurut El-Radhi

PENYEBAB TEMUAN
BAKTERIAL Demam tinggi, tampak sakit, letargi, nyeri kepala, perfusi
Meningococcal septicemia perifer menurun, pucal, mottled skin, capillary refill time
memanjang, CRP tinggi, sel darah putih tinggi
VIRAL Demam rendah, tampak sehat, tak ada tanda syok
CMV, Rubella
Enteroviruses
HIV, EBV, HHV-6
COLLAGEN / VASCULAR Tidak tampak sakit, bisa demam tinggi, tidak syok, dan ada
SLE keterlibatan organ lain
Vasculitis
MALIGNANCY Tampak sakit, anemia, hepatosplenomegali, pembesaran
Leukemia kelenjar. Pemeriksaan darah dan sumsum tulang merupakan
kunci diagnosis.
THROMBOCYTOPENIA Tampak sehat, biasanya tidak panas (kecuali ada infeksi
ITT saluran pernapasan atas)
DRUGS Tampak sehat, demam ringan, ruam pruritik, riwayat minum
obat, eosinofilia, ruam menghilang 12-24 jam setelah obat
dihentikan
31
Eritroderma Difus

PENYEBAB PENYAKIT
BAKTERI
Group A streptococcus Scarlet fever
Other streptococci
Staphylococcus aureus Toxic shock syndrome
Ehrlichia chaffeensis Ehrlichiosis

FUNGI
Candida albicans Candidiasis

32
INFEKSI DAN NON INFEKSI

 Non infeksi : Kawasaki, Obat,


Otoimun, dll.
 Infeksi : Virus, Bakteri, Jamur,
Protozoa, Metazoa, Rickettsia,
Klamidia, Mycoplasma

33
GEJALA, TANDA, DAN ORGAN
PENYERTA
 Artritis/Artralgia
 Deskuamasi
 Limfadenopati
 Meningitis
 Enantema
 Telapak tangan dan kaki
 Infiltrat pulmonologis
 Ruam terutama pada ekstremitas
 Stomatitis

34
GEJALA, TANDA, DAN ORGAN
PENYERTA
GEJALA / TANDA PENYERTA DIAGNOSIS BANDING
Arthritis / arthralgia Acute meningococcemia
Disseminated gonococcal infection
Erythema marginatum ( acute rheumatic fever )
Hepatitis B virus, prodromal phase
Desquamation Corynebacterium haemolyticum infection
Kawasaki syndrome
Measles
Rocky Mountain spotted fever
Scarlet fever
Staphylococcal scalded skin syndrome ( SSSS )
Lymphadenopathy Cervical :
Kawasaki syndrome
Rubella
Scarlet fever
Generalized :
Infectious mononucleosis
Secondary syphilis
Meningitis Acute meningococcemia
Cryptococcosis 35

Enterovirus ( coxsackie, echo )


KLASTER TEMUAN

 Beberapa penyakit dimasukkan dalam


sebuah kelompok berdasarkan
sekumpulan temuan yang serupa
 Tiga kelompok contoh :
– Mucocutaneous-lymphnode cluster
– Reticuloendothelial cell hyperplasia
cluster
– Mononucleosis like syndrome cluster
36
KLASTER TEMUAN
KLASTER DESKRIPSI KECURIGAAN DIAGNOSIS
Mucocutaneus- Konjungtivitis bilateral Penyakit Kawasaki
lymphnode cluster Eritema palmar/plantar Sindroma syok toksik
Edema induratif pada tangan dan Sindroma Stevens-Johnson
kaki Demam skarlatina streptokokal
Eritema mukosa orofaring atau Dengue
lidah strawberry Leptospirosis
Limfadenopati servikal
Reticuloendothelial cell Hepatosplenomegali dengan atau Infeksi luas yang disebabkan oleh :
hyperplasia cluster tanpa adenopati umum bakteri (Salmonella atau bakteri
enterik lain)
Virus (CMV, HIV-1, Epstein-Barr)
Rickettsia (scrub typhus)

Mononucleosis-like Faringitis eksudatif Infeksi streptokokus grup A, F.


syndrome cluster Limfadenopati regional tularensis, Epstein-Barr,
Splenomegali toxoplasma, CMV, atau
coxsackie
Reaksi hipersensitifitas yang 37
disebabkan obat seperti
fenitoin
KLASTER TEMUAN

 STAR Complex :
– Sore throat
– Temperatur meninggi
– Artritis sedang / berat
– Ruam pruritik / urtikarial
 Dibagi atas :
– Kurang dari 3 minggu (umumnya virus)
– 3-6 minggu (demam reuma)
– Lebih dari 6 minggu (JRA)
38
SYNDROMIC DIAGNOSIS

 Pada penyakit yang :


– Mempunyai beberapa kondisi dasar yang muncul
sebagai gambaran klinis yang saling tumpang
tindih
– Penyakit dasar tidak diketahui
 diagnosis berdasarkan :
– Kriteria klinis eksplisit
– Sekumpulan gejala dan tanda
– Hasil tes laboratorium
39
SYNDROMIC DIAGNOSIS

 Contoh :
– Sindroma syok toksis
– Demam reuma akut
– Penyakit Kawasaki
– Eritema Multiforme

40
DIAGNOSIS

 Sebagian diagnosis definitif sulit ditegakkan


 Bisa :
– Cukup dengan pengamatan semata
– Menggunakan tes laboratorium yang minimal
– Menggunakan tes laboratorium yang lebih
lengkap
 Untuk kasus toksik, ketidakstabilan tanda
vital, perubahan status mental, atau ruam
petekial / purpurik  bisa segera diterapi
41
DIAGNOSIS

 Tiga pilar diagnosis : anamnesis,


pemeriksaan fisik, pemeriksaan tambahan
 Satu paket tes ( kultur strep, serologi
rubella, campak, hepatitis A dan B, Epstein-
Barr, parvo, dan M. pneumoniae ) 
mampu menemukan 65% kasus eksantema
luas yang tidak dapat didiagnosis dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik saja

42
ANAMNESIS
 Tanyakanlah :
– Data demografik
– Paparan
– Keadaan ruam
– Gejala yang berhubungan
– Riwayat umum penyakit
– Kondisi kesehatan sebelumnya
– Riwayat keluarga
– Riwayat sosial
 Waspadai “red-herrings”

43
ANAMNESIS
 Paparan/Kontak :
– Orang sakit
– Musim
– Perjalanan
– Makanan
– Gigitan tick
– Splenektomi
– Kontak hewan
– Penasun
– Infeksi kulit
– Tampon
– Seksual
– Air
– Imunokompromais
44
PEMERIKSAAN FISIK
 Periksalah :
– Tanda vital
– Keadaan umum
– Keadaan ruam
– Pembesaran kelenjar
– Hepatosplenomegali
– Gejala dan tanda penyerta lain
– Status neurologis
– Enantema
– Pemeriksaan fisik umum lainnya
45
PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan ruam
– Tipe
– Diskrit atau uniform
– Deskuamasi
– Konfigurasi atau lesi individual
– Susunan lesi
– Pola distribusi
– Lokasi

46
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Umum : darah lengkap, urinalisis, kimia klinik


• Aspirat lesi kulit : pengecatan Gram dan kultur
• Biopsi
• Kultur dari sumber lain :
- Darah
- Hapus tenggorok / rektum
- Tenggorok, rektum, uretra, cervix, sendi
• Tes serologis
• Pengecatan Wright atau Giemsa dari cairan vesikular

47
CONTOH SYNDROMIC
DIAGNOSIS
PENYAKIT KAWASAKI
1. Demam lebih dari 38oC
2. Injeksi konjungtiva noneksudatif, bilateral, bulbar
3. Ruam polimorf, terutama daerah perineal dan perianal
4. Perubahan pada ekstremitas: edema induratif tangan
dan kaki, eritema palmar dan plantar, atau deskuamasi
terutama di daerah periungual
5. Perubahan mukosa mulut termasuk pecah-pecah dan
fisura pada lidah, lidah strawberry, dan eritema orofaring
difus
6. Pembesaran kelenjar limfe leher tunggal atau ganda
yang berdiameter lebih dari 1,5 cm
48
49
ALGORITMA PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
 Secara umum (berdasarkan jenis
ruam)  Pomeranz dkk
 Secara umum (6 pertanyaan awal) 
Mancini
 Algoritma per ruam

50
ALGORITMA PENGAMBILAN
KEPUTUSAN - POMERANZ
 Setelah mendapatkan keterangan dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik, garis
algoritma dibagi dalam :
– Petekial / purpurik
– Makula / makulopapular
– Eritroderma difus
– Urtikarial
– Vesikular, bullosa, pustular
– Eritema nodosum
– Distinctive rashes
51
52
ALGORITMA PENGAMBILAN
KEPUTUSAN - MANCINI
 6 pertanyaan awal :
– Adakah petekie ?
– Adakah faringitis ?
– Blisters, erosi, nekrosis
– Demam episodik dan ruam ?
– Eritema fasialis ?
– Karakter ruam? (morbilliform, makulopapular,
urtikarial, nodul subkutan, eritroderma,
telengiektasia)

53
Are petechiae Yes
present ? Oral mucosal petechiae
Skin petechiae
Skin and palms/soles
Is pharyngitis Yes
present ?

Blisters, Yes
erosions, or Blisters, erosions
necrosis ? Necrosis

Episodic fever Yes


and rash ?
Intense facial Yes
erythema ?
Characteristics Morbilliform
of rash ? Maculopapular
Urticarial
Subcutaneous nodules
Erythroderma
54
Nail fold telangiectasia
ALGORITMA PENGAMBILAN
KEPUTUSAN – PER RUAM
 Makulopapular eritematus
 Vesikulobullosa
 Papuloskuamous
 Demam, mata merah, kulit merah

55
56
57
INFEKSI VIRUS
 Eksantema virus adalah yang terbanyak
diantara mikroorganisma penyebab infeksi
 Insiden pasti sulit diketahui
 Beberapa penyakit seperti morbili, rubella,
varicella, menunjukkan eksantema yang
klasik
 Eksantema yang tidak spesifik 
kebanyakan tidak dapat dipastikan pada
akhir perjalanan sakitnya

58
Eksantema Virus Berdasarkan
Pola Lesi
POLA LESI PENYAKIT
Erupsi makulopapular general Measles
morbiliform Rubella
RInfectious mononucleosis
Pytiriasis rosea
Erupsi petekial (erupsi morbiliform Echovirus 9
dengan petekie) EBV
Dengue
Parvovirus B19 (petechial gloves-and-
socks syndrome)
Erupsi vesikulobulosa Herpes simpleks
Varicella-zoster
Hand-foot-mouth disease
(coxsackievirus A16)
Variola
Vaccinia (cowpox)
Erupsi skarlatiniform
Erupsi papulonodular 59
Erosi oral
INFEKSI VIRUS
 Lesi yang tidak khas pada umumnya makula atau
papula eritematus yang “blanchable” yang tersebar
difus di tubuh dan ekstremitas
 Presentasi lain, terutama purpura, jarang
ditemukan
 Enterovirus adalah virus penyebab eksantema yang
terbanyak (terutama echo dan coxsackie)
 HHV 1-7  manifestasi kulit berbeda-beda
 CMV dan influenza : jarang
 Parainfluenza dan RSV : sering

60
INFEKSI VIRUS
 Tabel lengkap menurut RM Lembo:
penyakit, penyebab, umur, musim,
transmisi, inkubasi, prodromal, gambaran
dan struktur ruam, enantema, komplikasi,
dan prevensi
 Tabel lengkap menurut JD Cherry: virus,
penyakit, masa inkubasi, musim, karakter
klinik, eksantema, dan lama sakit

61
TABEL INFEKSI VIRUS –
LEMBO (contoh)
 Penyakit : roseola / exanthema subitum
 Penyebab : HHV 6 dan 7
 Umur : 6 bulan – 2 tahun
 Musim : semua
 Transmisi : tidak diketahui, saliva atau karier
tanpa gejala
 Inkubasi : 5 – 15 hari

62
TABEL INFEKSI VIRUS –
LEMBO (contoh)
 Prodromal : Rewel, demam tinggi, 3-4 hari,
pembesaran kelenjar servikal dan oksipital
 Gambaran dan struktur ruam : Makula
diskrit pada tubuh dan leher, ruam
mendadak timbul lalu menghilang, 0,5 – 2
hari, beberapa pasien tanpa ruam
 Enantema :berbagai makula eritematus
pada palatum molle

63
TABEL INFEKSI VIRUS –
LEMBO (contoh)
 Komplikasi : kejang demam tunggal atau
berulang, sindroma hemofagositik,
ensefalopti, penyebaran pada pasien
imunokompromais
 Prevensi : tidak ada
 Komentar : tidak ada epidemi

64
INFEKSI BAKTERI

 Jumlahnya tidak sebanyak virus


 Penting mengingat :
– Derajat berat penyakitnya
– Tersedia terapi definitif
 Tabel menurut RM Lembo : serupa dengan
pada infeksi virus
 Tabel menurut JD Cherry : agen, penyakit,
karakteristik klinik, lesi dan distribusi

65
TABEL INFEKSI BAKTERI
– CHERRY (contoh)
 Agen : Streptococcus pyogenes
 Penyakit : Scarlet fever / demam
skarlatina
 Karakteristik klinik : Demam, faringitis,
limfadenitis servikal, ruam muncul
dalam 2 hari sejak gejala pertama.
Masa inkubasi 3-4 hari

66
TABEL INFEKSI BAKTERI
– CHERRY (contoh)
 Lesi : Makulopapular halus, difus, dan
eritematus. Tampak dan terasa seperti
kertas pasir merah. Ruam lebih gelap
pada lipatan kulit (garis Pastia). Ada
deskuamasi
 Distribusi : Kepucatan di sekeliling
mulut, ruam general terutama pada
tubuh dan ekstremitas proksimal
67
INFEKSI LAIN

 Meliputi :
– Jamur
– Protozoa dan cacing
– Chlamydia, Rickettsia, dan Mycoplasma

68
TABEL INFEKSI JAMUR
MENURUT CHERRY (contoh)
 Agen : Histoplasma capsulatum
 Penyakit : Histoplasmosis
 Karakter Klinik : Infeksi pernapasan
primer
 Lesi : Eritema nodosum, eritema
multiforme, makulopapular eritematus
 Distribusi : -
69
TABEL INFEKSI RICKETTSIA
MENURUT CHERRY (contoh)
 Penyebab : Rickettsia typhi
 Penyakit : Endemic, murine typhus
 Inkubasi : 7 – 14 hari
 Musim : -
 Karakter klinik : demam, nyeri kepala,
ruam pada hari 4 - 7

70
TABEL INFEKSI RICKETTSIA
MENURUT CHERRY (contoh)
 Lesi : Makula diskrit pada awalnya,
kemudian berubah menjadi makulopapular
eritematus. Bisa pruritik
 Distribusi : Awalnya tubuh bagian atas dan
aksila, selanjutnya seluruh tubuh kecuali
wajah, telapak tangan, dan kaki
 Durasi : 7 – 14 hari

71
RUAM PADA NEONATUS
 Fisher dan Boyce membagi menjadi 3 :
– Pustular
– Bullosa
– Selulitis
 Pustular :
– Erythema toxicum neonatorum
– Infectious pustules
– Herpes simplex virus
– Candida albicans
– Transient neonatal pustular melanosis
– Acropustular of infancy
– Neonatal scabies 72
RUAM PADA NEONATUS
 Herpes simplex virus :
– Pustula dikelilingi daerah eritema dan
berkelompok 2-6 vesikel konfluen yang dengan
cepat berubah menjadi pustula
– Pengecatan gram akan menemukan netrofil
– Pemeriksaan histologis (Giemsa) mungkin
mendapatkan multinucleated giant cell
– Hapusan Tzanck tidak sensitif dan tidak spesifik
– Tes cepat dengan direct fluorescent antibody
– Pengobatan asiklovir tidak menunggu konfirmasi
diagnostik

73
DEMAM DAN RUAM MASA
KANAK YANG MUNCUL PADA
DEWASA
 Sebagian pemahaman mengacu pada
pengetahuan infeksi pada anak
 Beberapa contoh (kelompok makulopapular) :
– Scarlet fever
– Rubeola
– Rubella
– Erythema infectiosum
– Roseola infantum

74
TERAPI

 Bisa berupa petunjuk antisipatif


maupun intervensi spesifik
 Petunjuk antisipatif, bila :
– Pasien dan penyakit dapat diidentifikasi
dengan jelas
– Penyakit akut
– Self limited
– Noninvasif

75
TERAPI

 Intervensi spesifik :
– Suportif  cairan, oksigenasi, antipiretik
– Empirik  bila penyakit itu mempunyai
angka morbiditas dan mortalitas yang
tinggi, namun dengan sarana
laboratorium yang terbatas
– Definitif

76
ANTIBIOTIKA
 Bisa untuk :
– Infeksi kulit lokal seperti selulitis
– Ruam petekial dan atau purpurik
– Pasien toksik
– Ketidakstabilan kardiovaskular
 Selulitis pada pejamu imunokompeten 
penisilin atau sefalosporin generasi pertama
 Lama pengobatan untuk bakteriemia : 7-10
hari

77
ANTIBIOTIKA
 Jika rickettsia :
– Tambahkan doksisiklin 4 mg/kg/hari
 Terapi empiris untuk antibiotika dapat
ditentukan oleh usia pasien dan adanya
fokus infeksi (seperti meningitis, dll)
 Bagi neonatus  sering dipakai ampisilin
dan aminoglikosida
 Untuk pasien yang lebih tua : sefalosporin
generasi ketiga

78
ANTIBIOTIKA

 Strep grup A, demam skarlatina, dan


demam reuma akut  penisilin
 Sindroma syok toksik  penisilin yang
resisten beta laktamase
 S. pneumoniae  bila resisten
penisilin, tambahkan vankomisin

79
TERAPI

 Herpes simpleks dan varicella-zoster 


asiklovir
 Inflamasi sistemik dengan penyebab yang
tidak diketahui  obat antiinflamasi seperti
NSAID dan kortikosteroid
 Penyakit Kawasaki  IVIG 2g/kg/biasanya
diberikan dalam 12 jam, ditambah aspirin
80-100 mg/kg/hari pada saat demam

80
Terapi untuk Beberapa
Kompleks Gejala Mukokutaneus
PENYAKIT PENATALAKSANAAN
Kawasaki Disease IVIG 2g/kg
Toxic shock Kristaloid, koloid, pressor agents;
penicillinase resistant antibiotics
plus clindamycin
Staphylococcal exfoliative toxin Penicilinase resistant antibiotics; cairan
syndromes suportif
Streptococcal scarlatina Penicillin
Stevens-Johnson syndrome Supportif; stop obat; kortikosteroid;
IVIG tidak terbukti
Viral infection Suportif; kadang perlu antivirus

81
THANK YOU

82