Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

Gangguan Afektif Bipolar, Gangguan Siklotimia dan Distimia


Depresi Postpartum dan Baby Blues Syndrome

Oleh
Enter Presentation Title
Agus Fathul M Farid
Nuzulut Fiana

Pembimbing
dr. Tendry Septa, Sp., Kj (K)

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
PENDAHULUAN
Gangguan suasana perasaan itu sendiri didefinisikan sebagai
perubahan suasana perasaan atau afek biasanya kearah depresi
dengan atau tanpa ansietas yang menyertainya atau ke arah elasi
(suasana perasaan yang meningkat). Apabila perubahan ini terjadi
secara bergantian maka disebut unipolar, sedangkan apabila terjadi
secara bersamaan disebut bipolar.
Gangguan suasana perasaan (mood (afektif)) terbanyak ditemukan
baik di pelayanan kesehatan mental maupun dalam praktek dokter
medis umum. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di
Amerika Serikat dan Eropa, diperkirakan 9-26% wanita dan 5-12%
pria pernah mengalami depresi yang gawat didalam kehidupan
mereka.
Kehamilan, melahirkan dan menjadi seorang ibu merupakan proses
fisiologis seorang wanita. Gangguan psikis pada ibu pasca
melahirkan dikenal dengan depresi postpartum. Banyak ibu baru
melahirkan mengalami depresi pasca persalinan atau lebih dikenal
sebagai baby blues syndrome.
TINJAUAN PUSTAKA
Gangguan Afektif Bipolar
Menurut PPDGJ III, gangguan afektif bipolar adalah suatu
gangguan suasana perasaan yang ditandai oleh adanya episode
berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien
dan tingkat aktivitas jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri
dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas
(mania atau hipomania).
Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung
antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi berlangsung
lebih lama (± 6 bulan) meskipun jarang melebihi satu tahun
kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode tersebut
sering terjadi setelah peristiwa kehidupan yang penuh stres atau
trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakan
diagnosis).

Amir N. 2013. Gangguan Bipolar dalam Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
PREVALENSI
• Gangguan bipolar I memiliki prevalensi seumur hidup
sekitar 0,4-1,6% dan gangguan bipolar II sekitar 0,5%.
• Episode manik lebih sering terjadi pada laki-laki dan episode
depresif lebih sering pada perempuan.
• Awitan gangguan bipolar I terjadi pada usia dini. Awitan usia
berkisar dari masa kanak-kanak (5-6 tahun) sampai 50 tahun
atau ada juga pada usia lebih tua namun jarang.
• Usia rata-rata saat terjadinya awitan pada usia 30 tahun

Sadock BJ, Sadock VA.2007. Kaplan & sadock’s synopsis of psychiatry: behavioral sciencesclinical psychiatry. 10 th edition.
New York: Lippincott Williams & Wilkins.
KLASIFIKASI
Episode Manik

Episode Hipomanik
DSM IV -TR Episode Depresi

Episode Campuran

F31.0
Gangguan Afektif F31.1
Bipolar
F31.2
F32.3
F31.4
F31.5
PPDGJ III F31.6
F31.7
F31.8
F31.9
Pedoman Diagnostik
Episode Manik
Kriteria manik menurut DSM-IV-TR
• Mood elasi, ekpansif yang menetap secara abnormal selama periode tertentu dan berlangsung 1 minggu.
• Selama periode gangguan mood,3 atau lebih gejala berikut :
• Meningkat percaya diri atau kebesarannya
• Menurun kebutuhan untuk tidur
• Lebih banyak bicara daripada biasa atau ada tekanan untuk terus berbicara.
• Pikirann yang tidak teratur atau pikiran yang saling bersliweran.
• Distractibility
• Peningkatan dalam berbagai macam kegiatan
• Keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan menyenangkan yang memiliki potensi tinggi untuk
mendapatkan konsekuensi yang menyakitkan
• Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.
• Gangguan mood dapat;
• Terjadi hingga cukup parah yang menyebabkan penurunan fungsi kerja
• Memerlukan rawat inap
• Memiliki gejala-gejala psikotik.
• Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat (misalnya, penyalahgunaan obat, obat atau
pengobatan lainnya) atau kondisi medis umum (misalnya, hipertiroidisme).
Episode Hipomanik
• Periode berbeda dari normal dan terus-menerus meningkat, expansive
atau mudah tersinggung, berlangsung setidaknya 4 hari.
• Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut:
• Meningkat percaya diri atau kebesarannya (grandiositas)
• Menurun kebutuhan untuk tidur
• Lebih banyak bicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus berbicara
• Pikirann yang tidak teratur atau pikiran yang saling bersliweran.
• Distractibility
• Peningkatan dari berbagai macam kegiatan
• Keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan menyenangkan yang memiliki
potensi tinggi untuk mendapatkan konsekuensi yang menyakitkan
• Episode dikaitkan dengan perubahan dalam fungsi yang jelas yang tidak
khas bagi orang tersebut ketika tidak bergejala.
• Gangguan dalam suasana hati dan perubahan dalam fungsi yang
diamati oleh orang lain.
• Episode yang penyebabnya tidak cukup parah ditandai penurunan
dalam hubungan sosial atau fungsi pekerjaani, tidak memerlukan rawat
inap, dan tidak memiliki gejala psikotik.
• Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat atau
kondisi medis umum
Episode Depresi
• Lima (atau lebih) gejala yang ada berlangsung selama 2 minggu paling
tidak satu (1) mood depresi (2) kehilangan minat.
• Mood depresi terjadi sepanjang hari atau bahkan setiap hari
• Ditandai dengan hilangnya minat disemua hal, atau hampir semua hal.
• Penurunan berat badan yang signifikan ketika tidak diet, atau penurunan atau
peningkatan nafsu makan hamper setiap hari.
• Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.
• Agitasi psikomotor atau retardasi hampir setiap hari.
• Cepat lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari.
• Merasa tidak berguna atau perasaan bersalah yang berlebihan hampir setiap hari.
• Tidak dapat berkonsentrasi atau berpikir hampir setiap hari.
• Pemikiran untuk mati yang berulang, ide bunuh diri yang berulang tanpa
perencanaan yang jelas, atau ide bunuh diri dengan perencanaan.
• Gejala yang ada tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.
• Gejala-gejalanya menimbulkan gangguan pada sosial, okupasi dan area
fungsional penting lainnya.
• Gejala tidak disebabkan langsung oleh afek fisiologis, sebuah zat, atau
kondisi medis umum lain.
• Gejala bukan disebabkan oleh berkabung, gejala menetap lebih dari 2
bulan, atau ditandai dengan hambatan fungsi yang jelas, preokupasi
dengan rasa tidak berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik atau retardasi
psikomotor.
Episode Campuran
• Kriteria terpenuhi dari episode mania maupun untuk episode depresi
berat hampir setiap hari selama setidaknya 1 minggu periode.
• Gangguan mood yang cukup parah ditandai dengan adanya gangguan
dalam fungsi pekerjaan, biasa kegiatan sosial, atau hubungan dengan
orang lain; memerlukan rawat inap untuk mencegah kerugian untuk diri
sendiri atau orang lain; atau memiliki fitur psikotik.
• Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat (misalnya,
penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau kondisi
medis umum (misalnya, hipertiroidisme).
Pedoman Diagnostik

• F 31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Hypomania


Pasien saat ini pada episode hypomania, dan telah memiliki
setidaknya satu episode afektif lain (hypomania, mania, depresi,
atau campuran) di masa lalu.
• F 31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Mania tanpa
Ciri Psikotik
Pasien saat ini episode mania, tanpa gejala psikotik (seperti dalam
F 30.1), dan telah memiliki setidaknya satu episode afektif lain
(episode hypomania, mania, depresi, atau campuran) di masa
lalu.
• F 31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Mania dengan
Ciri Psikotik
Pasien saat ini mania, denga gejala psikotik (seperti dalam F 30.2),
dan telah memiliki setidaknya satu episode afektif lain
(hypomania, mania, depresi, atau campuran) di masa lalu.
• F 31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Depresi ringan atau
sedang.
Pasien saat ini depresi, seperti dalam episode depresi dari keparahan
ringan atau sedang (F 32.0 atau F 32.1), dan telah memiliki setidaknya
satu episode hypomania, mania, atau episode afektif campuran dahulu.
• F 31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Depresi tanpa Ciri
Psikotik
Pasien saat ini depresi, seperti dalam episode depresi berat tanpa gejala
psikotik (F 32.2), dan telah memiliki setidaknya satu episode hypomania,
maik, atau episode afektif campuran di masa lalu.
• F 31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Depresi dengan Ciri
Psikotik
Pasien saat ini depresi, seperti dalam episode depresi berat dengan ciri
psikotik (F32.2), dan telah memiliki setidaknya satu episode hypomania,
mania, atau episode afektif campuran di masa lalu.
• F 31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Saat ini Episode Campuran
Pasien telah memiliki setidaknya satu episode hypomania, mania,
depresi, atau episode afektif campuran di masa lalu, dan saat ini
menunjukkan baik campuran arau perubahan yang cepat dari
gejala mania dan depresi.
• F 31.7 Gangguan Afektif Bipolar
Saat ini dalam Remisi Pasien telah memiliki setidaknya satu
episode hypomania, mania, atau episode afektif campuran di
masa lalu, dan setidaknya satu episode afektif lain (hypomania,
mania, depresi, atau campuran) di samping itu, tetapi saat ini
tidak menderita dari setiap gangguan mood yang signifikan, dan
belum melakukannya selama beberapa bulan.
• F 31.8 Gangguan Afektif Bipolar lainnya
• F 31.9 Gangguan Afektif Bipolar tidak terindentifikasi
PENATALAKSANAAN
Berikut rekomendasi obat injeksi untuk agitasi akut pada gangguan bipolar
Lini 1
• Injeksi IM aripiprazol
Dosis adalah 9,75 mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30 mg/hari ( 3
kali injeksi/hari dengan interval 2jam).
• Injeksi IM
Dosis 10 mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30 mg/ hari. Berespon
dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi dalam 2 jam.
• Injeksi larazepam 2 mg/ injeksi
Dosis maksimum lorazepam 4 mg/ hari.
Lini 2
• Injeksi IM haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30
menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari
• Injeksi IM diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi.
Rekomendasi terapi pada mania akut pada gangguan bipolar
adalah sebagai berikut :
• Lini 1
Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin,
quetiapin XR, aripiprazol, litium atau divalproat + risperidon,
litium atau divalproat + quetiapin, litium atau divalproat +
olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazole
• Lini 2
Karbamazepin, Terapi Kejang Listrik (TKL), litium +
divalproat, paripalidon
• Lini 3
Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat
haloperidol, litium + karbamazepin, klozapin
Gangguan Siklotimia
Gangguan siklotimik merupakan gangguan yang lebih
ringan dimana periode depresi dan kegembiraan tidak
terlalu berat, berlangsung hanya beberapa hari, dan
kambuh dalam selang waktu yang tidak beraturan. Pada
akhirnya gangguan siklotimik berkembang menjadi
gangguan manik-depresif bukan mania maupun depresi.

Elvira, Silvia D. 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2. Jakarta: FKUI.


ETIOLOGI

Penyebab Gangguan
Siklotimia dan
Distimia

Faktor Biologis Faktor Genetik Faktor Psikososial


Gejala gangguan siklotimik adalah identik dengan gejala yang ditemukan pada pada
gangguan bipolar I tetapi biasanya tidak parah.

Gambaran klinis dari episode manik: Gambaran klinis episode depresif :


• Rasa harga diri yang tinggi • Perasaan murung atau sedih
berlebihan. • Mudah menangis
• Selalu gembira secara berlebihan • Minat dan kegembiraan hilang
• Gangguan tidur. Pasien biasanaya • Kelelahan
hanya butuk waktu 3-4 jam untuk • Nafsu makan terganggu
tidur tapi tidak merasa kelelahan.
• Gangguan tidur
• Bicara cepat, kata-kata dan idenya
• Mudah putus asa dan pesimis
banyak secara berlebihan.
• Sulit konsentrasi
• Perhatian gampang teralih
• Merasa bersalah
• Aktivitasnya berlebihan
• Sering berpikir untuk bunuh diri.
• Nafsu seksual yang meninggi
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III adalah sebagai
berikut:
• Ciri esensial ialah ketidakstabilan menetap dan afek
(suasana perasaan), meliputi banyak periode depresi ringan
dan hipomania ringan, di antaranya tidak ada yang cukup
parah atau cukup lama untuk memenuhi kriteria gangguan
afektif bipolar (F31.-) atau gangguan depresif berulang
(F33.-).
• Setiap episode alunan afektif (mood swings) tidak
memenuhi kriteria untuk kategori mana pun yang disebut
dalam episode manik (F30.-) atau episode depresif (F32.-).
PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi
• Mood Stabilizing Medications
• Atipikal antipsikotik
• Antidepresan

Psikoterapi
• Terapi kognitif
• Terapi interpersonal
• Terapi perilaku
• Terapi berorientasi psikoanalitik

Terapi Lain
• ECT (Electro Convulsive Therapy)
• Medikasi Tidur
Gangguan Distimia
Gangguan distimik merupakan suatu gangguan
kronis yang ditandai oleh adanya mood yang
terdepresi (atau mudah marah pada anak-anak dan
remaja) yang berlangsung hampir sepanjang hari dan
ditemukan pada sebagian besar hari.

Amir N. 2013. Gangguan Bipolar dalam Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III adalah sebagai
berikut :
• Ciri esensial adalah afek depresif yang berlangsung
sangat lama yang tidak pernah atau jarang sekali cukup
parah untuk memenuhi kriteria gangguan depresif
berulang ringan atau sedang (F33.0 atau F33.1).
• Biasanya mulai pada usia dini dari masa dewasa dan
berlangsung sekurang-kurangnya beberapa tahun,
kadang-kadang untuk jangka waktu tidak terbatas. Jika
onsetnya pada usia lebih lanjut, gangguan ini seringkali
merupakan kelanjutan suatu episode depresif tersendiri
(F32.) dan berhubungan dengan masa berkabung atau
stress lain yang tampak jelas.
Slide Title

Penatalaksanaan

Psikoterapi Farmakoterapi

Terapi Terapi Psikoterapi


Terapi Terapi
kognitif perilaku berorientasi Penggunaan
Keluarga interpersonal
tilikan Antidepresan
Depresi Postpartum
Depresi postpartum adalah depresi berat yang biasa
timbul mulai 1-2 hari dan 4 minggu setelah melahirkan.
Depresi postpartum sangat umum terjadi pada ibu yang
baru melahirkan, khususnya melahirkan anak pertama.
Depresi postpartum serupa dengan depresi mayor atau
minor lainnya yang dapat timbul kapan saja. Dianggap
depresi postpartum jika mulai dalam tiga sampai enam
bulan setelah melahirkan.

Tomb, David A., 2004. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: EGC


Etiologi
Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya depresi postpartum adalah
sebagai berikut:
• Faktor-faktor predisposisi meliputi riwayat psikosis puerperium,
gangguan bipolar (sebelumnya disebut manik-depresif), delirium dan
halusinasi, perubahan suasana hati yang cepat agitasi atau bingung dan
potensial bunuh diri atau membunuh anaknya.
• Depresi postpartum dengan atau tanpa psikosis dilihat dari tiga
perspektif, yaitu:
• Teori biologis, meliputi perubahan fungsi hipotalamus, kemungkinan
berhubungan dengan pengaruh hormonal.
• Teori psikologis, meliputi sistem pendukung yang buruk, stres psikologis atau
hubungan yang kurang baik dengan pasangannya.
• Teori sosiokultural, meliputi tingkat kepuasan sosial yang rendah, dukungan, dan
kontrol baik di rumah maupun peran sebagai sebagai orang tua.
• Sensitivitas individual ibu terhadap perubahan hormon
• Faktor demografi (umur dan jumlah persalinan)
• Faktor pengalaman
• Faktor pendidikan
Gejala klinis
Gejala pada depresi postpartum adalah sebagai berikut:
• Merasa sedih
• Suasana hati yang tertekan atau kehilangan minat hampir sepanjang
hari
• Penurunan atau peningkatan berat badan
• Kehilangan nafsu makan
• Sulit tidur atau terlalu banyak tidur
• Rasa lelah dan tidak bersemangat
• Iritabilitas dan kemurungan
• Tidak memperhatikan bayi
• Merasa tidak berharga atau merasa bersalah
• Berkurang kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan
• Pikiran bunuh diri atau membunuh bayi
PENATALAKSANAAN

Talk Therapy
• Melibatkan pembicaraan dengan seorang psikolog,
terapis, atau pekerja sosial

Farmakoterapi
• Obat antidepresan
• Asam lemak omega-3 yang mengandung DHA
Baby Blues Syndrome
Baby blues syndrome adalah suatu gangguan
psikologis sementara yang ditandai dengan
memuncaknya emosi pada minggu pertama setelah
melahirkan. Menurut Cunningham, baby blues
adalah gangguan suasana hati yang berlangsung
selama 3-6 hari pasca melahirkan.

Sadock BJ, Sadock VA.2007. Kaplan & sadock’s synopsis of psychiatry: behavioral sciencesclinical psychiatry. 10 th
edition. New York: ippincott Williams & Wilkins.
Etiologi

Riwayat depresi
Keadaan bayi yang sebelumnya Wanita dengan
Faktor hormonal
mengalami BBLR setelah proses penyakit bipolar
melahirkan
Gambaran Klinis
Baby blues syndrome relatif ringan dan biasanya berlangsung 2 minggu.
Beberapa gejala baby blues syndrome:
• Dipenuhi oleh perasaan kesedihan dan depresi disertai dengan
menangis tanpa sebab
• Mudah kesal, mudah tersinggung dan tidak sabar
• Tidak memiliki atau kurang bertenaga
• Cemas, merasa bersalah dan tidak berharga
• Menjadi tidak tertarik dengan bayi atau menjadi terlalu memperhatikan
dan kuatir terhadap bayinya
• Tidak percaya diri
• Sulit beristirahat dengan tenang atau tidur lebih lama
• Peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan atau
penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan
• Perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya.
Penatalaksanaan
• Baby blues syndrome biasanya ringan dan menghilang
secara spontan, tidak ada pengobatan khusus selain
dukungan dan reassurance yang diindikasikan.
• Konsultasi kejiwaan jika gejala menetap lebih dari dua
minggu untuk menidentifikasi dini gangguan afektif yang
lebih parah.
• Membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan
fisik lainnya yang harus juga dipenuhi.
THANK YOU