Anda di halaman 1dari 31

PENINGKATAN

EFISIENSI DAN
EFEKTIVITAS QUALITY
MONITORING SCHEME
IN LINE PROCESS
PRODUK SUSU UHT DI
PT INDOLAKTO
Andy Hartono
F2414044
Pembimbing:
Prof. Dr. Ir. Harsi Dewantari
Kusumaningrum
PENDAHULUAN
• Latar Belakang
• Tujuan
• Manfaat

METODE

AGENDA • Waktu dan Tempat


• Metodologi

PUSTAKA UTAMA
PENDAHULUAN

Susu
• Komoditas pangan yang
berperan sebagai
sumber protein hewani,
susu mempunyai
komponen gizi yang
kompleks (Utami dan
Susanti 2014).
Susu UHT
Suhu tinggi,
mempertahankan
Produk sterilisasi T > flavor, mutu, gizi
135°С t ± 4-6 detik

pH 6.3 – 6.9

Pangan steril komersial Pengemasan Aseptik


pengemasan secara
hermetis, disterilisasi
komersial dan disimpan
pada suhu ruang (BPOM
2016b)
Process

Milk Reception Unit Mixing Homogenisasi


Process

Pasteurisasi Aging ( Hydration UHT


Tank )
Process

Aseptic Tank Aseptic Tank to Filling Machine


Susu

Muhandri dan Kadarisman (2012) yang mengartikan


mutu sebagai kesesuaian serangkaian karakteristik produk
atau jasa dengan standar yang ditetapkan perusahaan
berdasarkan syarat, kebutuhan, dan keinginan konsumen
• Diperlukan QMS ( Quality Monitoring Scheme)
• Skema pemantauan mutu merupakan suatu prosedur
yang digunakan sebuah industri atau perusahaan untuk
mendeskripsikan mengenai parameter yang perlu
dimonitor (Ilmiawan et al. 2014).
• QMS umumnya berisi prosedur monitoring berupa 5W
+1 H
• QMS sebagai modal perusahaan melakukan
improvement

Efisiensi Efektivitas
CONTOH QMS DI PERUSAHAAN ( BERSIFAT RAHASIA)
TUJUAN
Mengkaji Quality Monitoring Scheme yang ada serta
menyusun Quality Monitoring Scheme proses produksi
susu UHT secara in line yang lebih efektif dan efisien.

MANFAAT
Membantu perusahaan menyusun skema monitoring mutu
proses produksi susu UHT secara in line yang lebih
efektif dan lebih efisien.
METODE

WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Februari s.d. Juni 2018

PT Indolakto
Cicurug, Sukabumi
METODOLOGI
Pengumpulan Pengembangan
data QMS

1 2 3 4 5

Studi Analisis Biaya


Pustaka Validasi
dan (Biaya waktu, QMS baru
Dokumen sampling, dan
beban kerja)
Studi Pustaka dan Dokumen
Pengumpulan Data
Sampling, pH,
Total solid ,
Density, fat,
protein, di
tahap mixing,
pasteurisasi,
Milkoscan hidrasi, dan
finished goods

Inspeksi volume
finished goods 2
jam sekali (
Lama Uji validasi dengan
spec)
Pengumpulan Data
Fat milk
globule
test

Lama Uji

• Frekuensi analisis per shift Kode dan


Performansi Pack
• Total sampel per shift
susu UHT
( Jelas, bentuk,
sesuai, goresan, flap
sealing
Tahap Kegiatan Paramet Frekuens Total waktu ( Vol Total Waktu
er i / shift @ shift) total / sampel ( total
shift ( 2 mL) / hari analisi
batch) s/
hari
Mixing Pengamb Vol 4x / shift 57.9 2000 6000 173.8
ilan sampel
sampel ( 500 mL
500 mL)

Analisis pH 2x / shift
kimia
Total 2x/ shift
Solid (°
brix)
Analisis Biaya
• Biaya sampling ( volume,
jumlah)

• Waktu analisis

• Beban kerja
Pengembangan QMS & Validasi
Efisiensi?
𝑄𝑀𝑆𝛼 − 𝑄𝑀𝑆𝛽
X 100 %
𝑄𝑀𝑆𝛼

Keterangan :
𝑄𝑀𝑆𝛼 = Biaya ( kerja, kuantitas) yang
dikeluarkan untuk analisis
berdasarkan QMS actual ( per
shift kerja)
𝑄𝑀𝑆𝛽 = Biaya ( kerja, kuantitas ) yang
dikeluarkan untuk analisis
berdasarkan QMS yang
Sudah diperbaiki ( Per shift
kerja)
Waktu total analisis / Efisiensi
Volume
Quality Monitoring shift kerja
sampling( L)
Beban kerja (%) Efisiensi kerja volume
( jam) sampel ( L)

A 6.5 22.5 81.25 23.08 33.33


B 5 15 62.5

Beban kerja Beban kerja


QMS A QMS B

(6.25/8) x100 (5/8) X 100


Quality Waktu total Volume Beban Kerja Efisiensi Efisiensi
Monitoring analisis / sampling (L) (%) Kerja (%) Volume ( %)
Scheme shift kerja (
Jam)
A 6.5 22.5 81.25 23.08 33.33
B 5 15 62.5

Efisiensi Kerja Efisiensi Volume

(6.5-5)/ 6.5 x 100 (22.5-15)/ 22.5 x100


Efektivitas?
Data Historis
𝑄𝑀𝑆𝛼 − 𝑄𝑀𝑆𝛽
X 100 % Perusahaan t
tertentu ( 3
𝑄𝑀𝑆𝛼 bulan
terakhir)
Keterangan :
𝑄𝑀𝑆𝛼 = Frekuensi penyimpangan kualitas
susu berdasarkan QMS aktual
𝑄𝑀𝑆𝛽 = Frekuensi penyimpangan kualitas
susu berdasarkan QMS yang
sudah diperbaiki
PUSTAKA UTAMA
Bastian I. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta (ID): Erlangga.

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2016a. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Kategori Pangan. Jakarta (ID): Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2016b. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Persyaratan Pangan Steril Komersial. Jakarta (ID):
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia

[Kementan RI] Kementrian Pertanian Republik Indonesia. 2017. Statistik Konsumsi Pangan Tahun 2017: Kementrian
Pertanian Republik Indonesia

Ilmiawan N, Astuti S, Nawansi O. 2014. Penggabungan penerapan sistem jaminan mutu ISO 9001:2008 dan sistem
HACCP ke dalam sistem manajemen keamanan pangan ISO 22000:2009 (studi kasus di PT Indokom
Samudra Persada). Jurnal Teknologi dan Industri Hasil Pertanian. 19(3): 229-242
PUSTAKA UTAMA
Muhandri T, Kadarisman D. 2012. Sistem Jaminan Mutu Industri Pangan. Bogor (ID): IPB Press
Nuraida I. 2008. Manajemen Administrasi Perkantoran. Yogyakarta (ID): Kanisius. Utami S. 2014.
Pengaruh lama fermentasi terhadap kandungan protein susu kefir. J Florea. 1(1) : 41-4
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN