Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

Crohn’s Disease
Disusun Oleh:
Putri Rachmawati

Dokter Pembimbing:
dr. Sumidi, Sp.B
ANATOMI
DEFINISI
Crohn’s Disease adalah suatu penyakit inflamasi kronis dan berulang pada
saluran cerna dengan etiologi yang tidak diketahui.

ETIOLOGI
Genetik, infeksi, imunologi, faktor lingkungan
EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia belum ada studi epidemiologi mengenai IBD. Data yang ada adalah
berdasarkan laporan Rumah Sakit (hospital based). Dari data di unit endoskopi
pada beberapa Rumah Sakit di Jakarta dilaporkan 1,4-2% mengalami crohn’s
disease dari total pemeriksaan kolonoskopi. Insidensi penyakit crohn pada laki-laki
lebih tinggi 20% daripada perempuan.

MANIFESTASI KLINIS
Diare kronik dan nyeri perut berulang. Hal ini seringkali diikuti oleh perdarahan
rectum, penurunan berat badan dan kadang-kadang disertai demam. Perdarahan
mungkin serius dan persisten sampai terjadi anemia.
PATOGENESA
PATOGENESA
ANAMNESA
Gambaran klinis umum pada Crohn’s disease adalah demam, nyeri abdomen,
diare, dan penurunan berat badan. Diare dan nyeri abdomen merupakan gejala
utama keterlibatan colon. Perdarahan per rectal lebih jarang terjadi.
Keterlibatan usus halus dapat berakibat nyeri yang menetap dan terlokalisasi
pada kuadran kanan bawah abdomen

PEMERIKSAAN FISIK
Didapatkan nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen yang dapat disertai
rasa penuh atau adanya massa. Pasien juga dapat menderita anemia ringan.
Pembentukkan fistula sering terjadi dan menyebabkan abses.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gold standar untuk diagnosis penyakit crohn sampai saat ini belum tersedia.
Oleh karena itu, diagnosis dikonfirmasi dengan evaluasi klinis dan kombinasi
endoskopi, histologis, radiologi dan pemeriksaan laboratorium.
Foto polos abdomen/Foto X-Ray tanpa kontras

Tampak adanya penebalan dinding usus besar dengan gambaran Thumb


Printing pada pasien dengan penyakit crohn
Foto X-Ray dengan kontras Barium Enema (Colon
inloop)

Pemeriksaan barium enema double kontras pada Crohn’s disease menunjukkan


sejumlah ulkus aptosa
Pemeriksaan barium enema pada Crohn’s disease menunjukkan cobblestone
appearance
Small-bowel follow-through

Pada ileum terminalis memperlihatkan beberapa penyempitan dan striktura,


yang memberikan gambaran “string sign”.
Pemeriksaan Laboratorium

Kelainan yang sering ditemukan adalah anemia (70%), peningkatan laju


sedimentasi eritrosit (80%), hipoalbuminemia (60%) dan Guiac-positif stool
(35%). Meskipun trombositosis sering terjadi, jumlah leukosit pada umumnya
normal.
Endoscopy

Typical endoscopic pada crohn’s disease (A) Longitudinal Ulcers (B)


Cobblestone appearance (C) Apthous ulcers
Diagnosa Banding
Terapi Farmakologis
Aminosalicylates merupakan senyawa anti-inflamasi yang mengandung 5-
aminosalicylic acid (5-ASA). Contohnya adalah sulfasalazine, balsalazide,
mesalamine, dan olsalazine. Obat-obat ini (diberikan secara oral atau rektal)
berfungsi untuk mengurangi peradangan pada dinding usus. Obat ini hanya
efektif untuk penyakit crohn pada usus halus

Kortikosteroid termasuk prednisone, prednisolone, dan budesonide,


mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memulai dan mempertahankan proses
inflamasi.
Terapi Farmakologis
Imunomodulator, Obat ini di modifikasi untuk aktivitas sistem kekebalan
tubuh sehingga tidak dapat menyebabkan peradangan yang sedang berlangsung
contohnya azathioprine, 6-mercaptopurine (6-MP), dan methotrexate. Obat ini
biasanya digunakan untuk maintain remission pada orang yang tidak berespon
pada obat lain atau yang hanya merespon pada steroid

Antibiotik seperti ciprofloxacin dan metronidazole. Obat ini dapat digunakan


ketika terjadi infeksi, seperti abses
Terapi Farmakologis

Terapi biologis adalah pengobatan yang paling baru yang dikembangkan untuk
IBD. diindikasikan untuk orang dengan moderat sampai severe dan tidak
merespon dengan baik terhadap terapi konvensional. Empat agen ini
(adalimumab, certolizumab pegol, Golimumab dan infliximab) ditargetkan
untuk protein inflamasi yang disebut tumor necrosis factor (TNF). Natalizumab
dan vedolizumab bekerja dengan memblokir jenis tertentu dari sel darah putih
dari masuk ke jaringan yang meradang.
TERAPI NUTRISI
Penderita penyakit crohn mengalami defisiensi makronutrien maupun
mikronutrien, sehingga peran terapi nutrisi menjadi sangat penting.

Terapi Bedah
Indikasi terapi bedah pada Crohn’s disease mencakup kegagalan terapi
medikamentosa dan/atau timbulnya komplikasi, seperti obstruksi saluran
cerna, perforasi usus dengan pembentukan fistula atau abses, perforasi bebas,
perdarahan saluran cerna, komplikasi-komplikasi urologis, kanker, dan
penyakit-penyakit perianal
PROGNOSIS

• Tingkat kekambuhan hingga 40 % setelah reseksi , biasanya di


lokasi ileum terminal yang baru dan biasanya dalam dua tahun
pertama pasca operasi
• Mortality rate sekitar 7 % pada 5 tahun dan 12 % pada 10 tahun
setelah reseksi pertama.