Anda di halaman 1dari 38

RUBELLA

• Rubella, umumnya dikenal sebagai campak


Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus rubella. Nama “rubella” berasal
dari,”Latin yang berarti sedikit merah”. Rubella
juga dikenal sebagai campak Jerman karena
penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh
dokter Jerman pada pertengahan abad
kedelapan belas.
Virus Rubella
Virus rubella pertama kali diisolasi dari kultur sel pada tahun 1962, oleh
Parkman dan Weller.

Rubella adalah Virus saluran nafas. Rubella (berarti ‘merah kecil’)


pertama kali dibedakan dari campak oleh seorang dokter jerman, dan
disebut juga german measles (agen penyebab penyakit rubella )

Memiliki satu untai positif genom RNA Virus rubella termasuk dalam
family Togaviridae dan merupakan satu-satunya anggota genus
Rubivirus
Jenis antigen tunggal tidak dapat bereaksi silang dengan sejumlah grup
Togavirus lainnya.
Sifat umum
 Rubella memiliki sifat-sifat (Kresno, 2000).
1. dapat menginfeksi jaringan tanpa menimbulkan respon inflamasi,

2. dapat berkembang biak dalam sel inang tanpa merusak sel tersebut,

3. dapat menganggu fungsi khusus sel yang terinfeksi tanpa merusaknya secara
keseluruhan, dan

4. dapat merusak sel janin dan menghambat organogenesis serta pembelahan sel.
Rubella memiliki satu tipe antigenik yang memberikan kekebalan seumur hidup

 Virus campak hanya menginfeksi manusia, dimana virus campak ini tidak aktif oleh
panas, cahaya, pH asam, eter, dan tripsin (enzim).

 Memiliki waktu kelangsungan hidup singkat di udara, atau pada benda dan
permukaan.

 Rubella tidak ditularkan melalui arthropoda.


Struktur virus
Struktur Virus rubella memiliki 3 protein struktural
utama yaitu :
1. 2 glycoproteinenvelope,
2. E1 dan E2
3. 1 protein nukleokapsid.

Secara morfologi virus rubella berbentuk bulat


(sferis)

Diameter 60 – 70 mm terdiri dari untai tunggal


(singlestranded ) dan intinya dikelilingi oleh selubung
lipoprotein. Dan amplop yang melingkari partikel
mengandung dua glikoprotein.

Memiliki inti (core) nukleopretein padat dikelilingi


oleh dua lapis lipid yang mengandung
glycoprotein E1 dan E2.
Virus rubella dapat dihancurkan oleh proteinase,
pelarut lemak, formalin, sinar ultraviolet, PH
rendah, panas dan amantadine tetapi nisbi
(relatif) rentan terhadap pembekuan, pencairan
atau sonikasi.
Penyakit- Penyakit yg Ditimbulkan
• Virus rubella dapat menyebabkan infeksi rubella postnatal
dan rubella kongenital.
• Virus Rubella ditularkan melalui udara, dengan tempat masuk
awal melalui nasofaring dan orofaring.
• Setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara 11-14
hari sampai timbulnya gejala.
• Hampir 60% penderita yang terinfeksi Rubella menunjukkan
gejala timbulnya ruam pada kulit bagian punggung.
Penyebaran virus Rubella pada hasil konsepsi terjadi secara
hematogen.
• Virus ini dapat masuk dalam barier plasenta tergantung
kemampuan virus menembus plasenta (Webster, 1998).
TRANSMISI
 Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan
mengalami replikasi dinasofaring dan di daerah
kelenjar getah bening.
 Viremia terjadi antara hari ke-5 sampaihari ke-7 setelah
terpajan virus rubella.
 Dalam ruangan tertutup, virus rubella dapat menular
ke setiap orang yang berada di ruangan yang sama
dengan penderita.
 Masa inkubasi virus rubella berkisar antara 14 – 21
hari.
 Masa penularan 1 minggu sebelum danempat (4) hari
setelah permulaan (onset) ruam (rash). Pada episode
ini, Virus rubellasangat menular (Kadek, dan Darmadi,
2007).
Penegakan Diagnosa
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang
timbul, dan dari pemeriksaan darah di laboratorium
dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya
terhadap rubela.
• Adanya peningkatan titer 4 kali lipat dari
hemagglutination-inhibiting (HAI) antibody dari dua
serum yang diperoleh dua kali selang waktu 2 minggu
atau setelah adanya IgM.
• Pemeriksaan dilakukan dengan cara isolasi virusr ubella
dengan swab tenggorok, sekret nasofaringeal dapat
memberikan hasil yangakurat.
Tata laksana
 Tidak ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan atau mempersingkat
penyakit campak jerman ini dan apalagi gejala yang muncul biasanya
sangat ringan sehingga pengobatan biasanya tidak diperlukan.

 Pengobatan campak jerman bersifat supportif, antara lain :

 Istirahat cukup
 Konsumsi makanan bergizi, tidak ada pantangan.
 Jaga jarak dengan teman, keluarga dan rekan kerja – terutama ibu hamil –
dan beritahu mereka tentang diagnosis Anda supaya mereka juga waspada
(ingat! cara penularannya).
 Jika muncul gejala seperti demam, sakit kepala, gatal, atau bahkan nyeri
sendi dan dirasa sangat mengganggu maka berobatlah ke dokter.
Dokter akan memberikan pengobatan sebatas gejala yang di keluhkan itu.
Sumber: Rubella – Campak Jerman - Mediskus
• http://journal.unair.ac.id/download-
fullpapers-PDF%20Vol.%2013-02-06.pdf
• Salimo H, Soegijanto S. Campak. Dalam:
Ranuh G, Hadinegoro SRS,Kartasasmita CB,
Ismoedijanto, Soedjatmiko, Gunardi H,
Hendrarto TW.
• Pedoman imunisasi di Indonesia. Edisi 6.
Satgas Imunisasi IDAI. 2017.329-33
Virus Rabies
• Rhabdovirus berasal dari bahasa Yunani yaitu Rhabdo
yang berarti berbentuk batang dan Virus yang berarti
virus.
• Jadi Rhabdovirus merupakan virus yang mempunyai
bentuk seperti batang.
• Rabies merupakan infeksi akut dari susunan saraf pusat
yang berakibat fatal.
• Virus ditularkan ke manusia melalui gigitan dan kadang
melalui jilatan (air liur) hewan yang terinfeksi rabies.
Hewan yang dapat menularkan penyakit rabies antara
lain anjing, kucing, kera, dan kelelawar.
Rabies
• Virus rabies atau Rhabdovirus merupakan salah satu virus
yang mempunyai sifat morfologik dan biokimiawi yang
lazim dengan virus somatis vesikuler sapi dan beberapa
virus hewan, tanaman, dan serangga.
• Virus rabies dan jenis virus lainnya terdiri dari dua
komponen dasar, yaitu sebuah inti dari asam nukleat yang
disebut genom dan yang mengelilingi protein yang
disebut kapsid.

• Sampai saat ini sudah dikenal 7 genotip Lyssavirus dimana


genotip 1 merupakan penyebab rabies yang paling banyak
di dunia.
Sifat virus
• Bersifat labil dan tidak viable bila berada
diluar inang.
• Virus menjadi tidak aktif bila terpapar sinar
matahari,sinar ultraviolet, pemanasan 1 jam
selama 50 menit, pengeringan, dan sangat
peka terhadap pelarut alkalis seperti sabun,
desinfektan, serta alkohol 70%. Reservoir
utama rabies adalah anjing domestik.
(Jawetz,2010).
Struktur
• Rhabdovirus merupakan partikel berbentuk batang atau
peluru berdiameter 75 nm x panjang 180 nm.
• Partikel dikelilingi oleh selubung selaput dengan duri
yang menonjol yang panjangnya 10 nm, dan terdiri dari
glikoprotein tunggal.
• Genom beruntai tunggal, RNA negative-sense (12 kb; BM
4,6 x 106 ) yang berbentuk linear dan tidak bersegmen.
• Sebuah virus rabies yang lengkap diluar inang (virion)
mengandung polimerase RNA.
• Komposisi dari virus rabies ini adalah RNA sebanyak 4%,
protein sebanyak 67%, lipid sebanyak 26%, dan
karbohidrat sebanyak 3%
• RNA adalah satu dari tiga makromolekul utama (bersama dengan DNA dan protein) yang berperan
penting dalam segala bentuk kehidupan.

Asam ribonukleat/RNA berperan sebagai pembawa bahan genetik dan memainkan peran utama
dalam ekspresi genetik. Dalam genetika molekular, RNA menjadi perantara antara informasi yang
dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein

• RIBONUCLEOPROTEIN adalah materi yang terkandung dalam RNA virus

• ENVELOPE (MEMBRANE) adalah pelindung virus dari lingkungan luar yang berbahaya bagi virus

• MATRIX PROTEIN adalah protein tidak terglikosilasi dan ditemukan sebagai lapis dalam amplop virion.
Protein matriks menambah kekakuan virion.

• GLYCOPROTEIN adalah suatu protein yang mengandung rantai oligosakarida yang


mengikat glikan dengan ikatan kovalen pada rantai polipeptidabagian samping. Struktur ini
memainkan beberapa peran penting di antaranya dalam proses proteksi imunologis, pembekuan
darah, pengenalan sel-sel, serta interaksi dengan bahan kimia lain dan bisa juga sebagai alat
penempel pada inangnya.
TRANSMISI
Melalui gigitan hewan tertular rabies, hewan yang
dapat menjadi sumber penularan anjing, kucing,
kelelawar atau kera

 Melalui non gigitan, terjilat pada luka oleh hewan


mengandung rabies, kontak dengan bahan yang
mengandung virus rabies pada kulit yang lecet atau
mukosa

 Transmisi dari orang yang telah terinfeksi Rabies

 Kecelakaan kerja (medis)

Infeksi secara inhalasi (gua kelelawar)


Diagnosis
• Selama periode awal infeksi rabies, temuan laboratorium tidak spesifik.
• Tes yang dapat digunakan untuk mengkonfirmasi kasus rabies antara lain
deteksi antibodi spesifik virus rabies, isolasi virus, dan deteksi protein virus
atau RNA. Spesimen yang digunakan berupa cairan serebrospinal, serum,
saliva, dan biopsi kulit.
• Pada pasien yang telah meninggal, digunakan sampel jaringan otak yang
masih segar.
• Diagnosis pasti postmortem ditegakkan dengan adanya badan Negri pada
jaringan otak pasien, meskipun hasil positif kurang dari 80% kasus.
• Tidak adanya badan Negri tidak menyingkirkan kemungkinan rabies.
Badan Negri adalah badan inklusi sitoplasma berbentuk oval atau bulat,
yang merupakan gumpalan nukleokapsid virus.
• Ukuran badan Negri bervariasi, dari 0,25 sampai 27 μm, paling sering
itemukan di sel piramidal Ammon’s horn dan sel Purkinje serebelum.
(Jawetz, 2010).
Penatalaksanaan Penyakit Rabies
• 3 unsur yang penting dalam PEP (Post Exposure
Praphylaxis), yaitu:
1. perawatan luka,
2. serum antirabies (SAR), dan
3. vaksin antirabies (VAR).
• Tindakan pertama yang harus dilaksanakan adalah
membersihkan luka dari saliva yang mengandung virus
rabies.
• Luka segera dibersihkan dengan cara disikat dengan sabun
dan air (sebaiknya air mengalir) selama 10-15 menit
kemudian dikeringkan dan diberi antiseptik (merkurokrom,
alkohol 70%, povidon-iodine, 1-4% benzalkonium klorida
atau 1% centrimonium bromida).
• Luka sebisa mungkin tidak dijahit.

• Jika memang perlu sekali, maka dilakukan jahitan situasi


dan diberi SAR yang disuntikkan secara infiltrasi di sekitar
luka sebanyak mungkin dan sisanya disuntikkan secara
intramuskuler ditempat yang jauh dari tempat inokulasi
vaksin.

• Disamping itu, perlu dipertimbangkan pemberian


serum/vaksin antitetanus, antibiotik untuk mencegah
infeksi, dan pemberian analgetik.

http://disnak.jabarprov.go.id/index.php/home/loadpdf/Rab
ies.pdf
• http://download.portalgaruda.org/article.php?article=2777
71&val=7169&title=Rabies
Virus Corona
• Middle East Repiratory Syndrome (MERS)
merupakan penyakit saluran napas yang
disebabkan oleh Corona virus tipe baru
(MERS-CoV).
• Virus ini pertama kali dilaporkan pada tahun
2012 di Arab Saudi dan sejauh ini terkait
dengan negara-negara di Semenanjung Arab
dan sekitarnya (Uni Emirat Arab, Qatar, Oman,
Yordania, Kuwait, Yaman dan Lebanon).
Sumber : Berita IPTEK Penulis : Dr. Andi Utama, Saff Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI
• Saat ini ada enam Corona virus yang dapat
memengaruhi manusia yaitu:
• Corona virus Alpha:
1. Corona virus 229E manusia
2. Corona virus NL63 manusia (HCoV-NL63, New
Haven coronavirus).
• Corona virus Beta:
1. Corona virus OC43 manusia,
2. Corona virus HKU1 manusia,
3. SARS-CoV, dan
4. MERS-CoV
• Coronavirus merupakan partikel berselubung,

• berukuran 80-160 nm yang mengandung genom tak


bersegmen dari RNA

• beruntai tunggal (27 – 30 kb; BM 5-6x106), genom


terbesar di antara virus RNA.

• Nukleokapsid heliks berdiameter 9-11 nm.

• Terdapat tonjolan berbentuk gada atau daun bunga


dengan panjang 20 nm yang berjarak lebar pada
permukaan luar selubung, menyerupai korona
matahari.

• Protein struktural virus meliputi protein


nukleokapsid, terfosforilasi 50-60K, glikoprotein 20-
30K (E1) yang bertindak sebagai protein matriks
yang tertanam dalam lapisan ganda lipid selubung
dan berinteraksi dengan nukleokapsid, dan
glikoprotein E2 (180-200K) yang membentuk
peplomer berbentuk daun bunga.

• Beberapa virus mengandung glikoprotein ketiga


(E3; 120-140K) yang menyebabkan hemaglutinasi
dan mempunyai aktivitas asetilesterase.
Penyakit yang ditimbulkan
• Sindrom Pernapasan Akut Berat (Severe Acute
Respiratory Syndrome - SARS)
• MERS dimulai dengan batuk, demam dan
sesak napas.
Trasmisi
• Transmisi terjadi melalui kontak dekat dengan
orang yang terinfeksi, termasuk dari pasien ke
petugas kesehatan.
• Orang dapat terinfeksi setelah terpapar pada
binatang (misalnya unta) dan lingkungan.
• Virus corona biasanya menyebar seperti
infeksi pernapasan lainnya misalnya influenza.
Diagnosa
• Hasil laboratorium inkonklusif bila didapatkan:

 Hasil positif pada pemeriksaan skrining yang tidak diikuti dengan


pemeriksaan konfirmasi molekuler.

 Hasil pemeriksaan serologis dinyatakan positif pada pemeriksaan


laboratorium.

 Harus mendapat pemeriksaan virologis dan serologis tambahan untuk


dapat menetapkan konfirmasi kasus MERS-CoV

 Bila memungkinkan, gunakan spesimen yang berasal dari saluran


pernapasan bagian bawah: dahak, aspirate endotracheal, cairan bilas
bronkoalveolar.

 Jika kasus tidak memiliki gejala atau tanda infeksi saluran napas bawah
dan tidak tersedia spesimen dari saluran napas bawah maka harus
diambil spesimen nasofaring dan orofaring
Penatalaksanaan
Terapi infeksi MERS adalah bersifat suportif tergantung kondisi
keadaan pasien.
 Pemberian hidrasi, antipiretik, analgesik, bantuan pernapasan, dan
antibiotik jika diperlukan untuk mengatasi infeksi sekunder.

 Pada pasien dengan gangguan pernapasan berat harus hati-hati


dalam pemberian cairan intravena, karena resusitasi cairan secara
agresif dapat memperburuk oksigenasi, terutama dalam situasi
terdapat keterbatasan ventilasi mekanik.

 Pada pasien pneumonia komunitas dan diduga terinfeksi MERSCoV,


dapat diberikan antibiotik secara empirik (berdasarkan
epidemiologi dan pola kuman setempat) secepat mungkin sampai
diagnosis ditegakkan.

 Terapi empirik kemudian disesuaikan berdasarkan hasil uji kepekaan


• Middle East Respiratory Syndrome Novie H.
Rampengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Manado Email: novierampengan@yahoo.com
Prion disease
• Prion (proteinaceous infectious particles) adalah
pembawa penyakit menular yang diketahui terdiri
dari protein.

• Beberapa peneliti percaya bahwa prion hanya berisi


protein tanpa asam nukleat, karena prion terlalu
kecil untuk menampung asam nukleat dan karena
prion tidak dapat dirusak oleh agen pencerna asam
nukleat.

• Dia tahan terhadap semua prosedur yang bertujuan


mengubah atau menghidrolisa asam nukleat
termasuk ensim protease, sinar ultraviolet, radiasi
dan berbagai zat kimia seperti deterjen, zat yang
menimbulkan denaturasi protein seperti obat
disinfektan atau pemanasan/perebusan.
Sruktur
• Prion berupa partikel kecil yang berisi protein
tanpa asam nukleat, karena prion terlalu kecil
untuk dapat menampung asam nukleat
Penyakit yang ditimbulkan

• Penyakit Creutzfeldt-Jakob disebabkan kelainan otak yang ditandai


dengan penurunan cepat fungsi mental disertai kelainan motorik.

• Penyakit yang disebabkan oleh prion disebut Transmissible


Spongiform Encephalopathies (TSEs) merupakan penyakit yang
menyerang susunan syaraf pusat

• Gejala histopatologik utama terbentuknya lubang-lubang kosong di


dalam sel-sel otak, dapat menular kepada manusia dan
menyebabkan penyakit yang dalam istilah kedokteran disebut
Subacute Spongiform Encephalopathy (SSE).

• TSE dapat berakibat fatal pada manusia dan hewan.

• Yang termasuk TSE di antaranya penyakit kuru, scrapie, Creutzfeldt-


Jakob disease (vCJD), dan bovine spongiform encephalopathy (BSE
atau sapi gila). Semua penyakit ini menyerang otak atau sistem
saraf lainnya, mematikan, dan belum dapat disembuhkan.
Transmisi
• Hewan – ke hewan melalui pemberian makanan dari
hewan sakit serbuk tulang dll)

• Dari hewan ke manusia melalui makanan yang berasal


dari hewan yang terinfeksi.

• Dari manusia ke manusia melalui latrogenik, misal


transplantasi kornea, penggunaan elektrode pada EEG,
hormon pituitery dan transfusi
Diagnosis
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan beberapa gejala berikut :
1. Kemunduran fungsi mental yang terjadi cepat

2. Kedutan otot dan kejang (mioklonus). Ketegangan otot


meningkat atau bisa ter jadi kelemahan dan penyusutan otot

3. Refleks abnormal atau peningkatan respons refleks normal

4. Terganggunya lapang pandang

5. Gangguan koordinasi yang berhubungan dengan perubahan


persepsi visuo-spasial dan perubahan serebelum
• EEG menunjukkan gambaran paku trifasik
yang khas, dari biopsi ditemukan gambaran
otak berpori.
• MRI otak sering menunjukkan intensitas sinyal
tinggi di nukleus kaudatus dan putamen
bilateral pada T2-WI (T2-Weighted images).
Penatalaksanaan
Indra Gunawan Affandi Departemen
Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin,
Bandung, Indonesia