Anda di halaman 1dari 48

GAMBARAN PENDERITA MALARIA

DI PUSKESMAS KOYA BARAT DISTRIK MUARA TAMI


KOTA JAYAPURA PERIODE JANUARI - JUNI 2017
Karya Tulis Ilmiah Sarjana
Periode 2017/2018
“Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KEDOKTERAN (S.Ked)”
Oleh:
CATUR MULYANINGSIH SUDIARSO
0130840040

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2018
BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP
BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang
Data WHO tahun 2014 mencatat 198 juta kasus malaria terjadi
secara global dan menjadi penyebab 584.000 kematian di tahun
2013.
Saat ini di Indonesia, malaria menjadi perhatian utama
Kementerian Kesehatan RI untuk dilakukan eliminasi.
Profil kesehatan Indonesia mencatat tahun 2016 terdapat 413
kabupaten/kota dengan API <1 per 1.000 penduduk.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua menunjukkan jumlah
kasus malaria tahun 2016 sebanyak 118.107 kasus, dengan kasus
terbanyak disebabkan oleh Plasmodium falciparum.
Malaria pada SKDI → tingkat kemampuan 4A.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran penderita malaria di
Puskesmas Koya Barat Distrik Muara Tami Kota
Jayapura pada periode Januari – Juni 2017?

Tujuan Penelitian

 Tujuan Umum Mengetahui gambaran penderita malaria di Puskesmas


Koya Barat Distrik Muara Tami Kota Jayapura pada
periode Januari – Juni 2017.

 Tujuan Khusus Berdasarkan:


1. Jenis Plasmodium
2. Jenis kelamin
3. Usia
Manfaat Penelitian

Peneliti Masyarakat

Sebagai salah satu syarat Memberi informasi serta


kelulusan di Fakultas Kedokteran pengetahuan mengenai malaria
Universitas Cenderawasih agar masyarakat dapat ikut
Menambah pengetahuan dan berperan dalam upaya
wawasan mengenai malaria pemberantasan malaria

Catur Mulyaningsih Sudiarso, 0130840040, Fakultas


Kedokteran Universitas Cenderawasih
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

• Definisi
• Etiologi
• Epidemiologi
• Siklus Hidup Plasmodium
• Manifestasi Klinis
MALARIA • Patogenesis & Patofisiologi
• Diagnosa
• Tatalaksana
• Diagnosa Banding
• Komplikasi
• Edukasi & Konseling
• Prognosis
MALARIA
• Penyakit → infeksi parasit → Plasmodium → di dalam eritrosit → gejala
demam
• Tanpa komplikasi → malaria ringan, dengan komplikasi sistemik →
Definisi malaria berat
• Terjadi secara alami → gigitan nyamuk Anopheles, secara induksi →
transfusi darah

Plasmodium falciparum
Plasmodium vivax
• Protozoa dari genus Plasmodium
Plasmodium ovale
Plasmodium malariae
Etiologi
• Penelitian → Plasmodium baru
yang ditularkan oleh nyamuk Plasmodium knowlesi
dari kera ke manusia

• Masalah kesehatan utama di negara tropis dan subtropis


• Di Indonesia → penyakit infeksi utama di Indonesia bagian timur
Epidemiologi (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua)
• Infeksi terbanyak → P. falciparum & P. vivax
Epidemiologi Menganalisis faktor yang berhubungan dengan timbulnya penyakit
Malaria

Environment

Host Agent

Intermediate Definitif P. falciparum → malaria


tropika
P. vivax → malaria tertiana
Jenis Usia Pekerjaan P. ovale → malaria ovale
Kelamin P. malariae → malaria kuartana

Nyamuk
Anopheles
2 jenis P. → malaria mix
Fisik
Suhu udara 25-27˚C

Sosial- Kelembapan 60-80%


Ekonomi
Hujan Min. 1,5mm/hari
Environment Sosial-
Budaya Angin Arah & jarak terbang
nyamuk
Sinar matahari ↑ suhu & kelembapan
Kimia

Ketinggian 2.000-2.500 mdpl


Siklus Hidup
Plasmodium*

Aseksual Seksual
(Skizogoni) (Sporogoni)

Eksoeritrositer/
Eritrositer Eksflagelasi Sporogoni
jaringan
Fase eksoeritrositer/jaringan

 Anopheles infektif → sporozoit → jaringan darah → sel hati → banyak hancur


oleh fagosit → sebagian masuk hepatosit → trofozoit hati → skizogoni
praeritrosit/eksoeritrositer primer.
 Setelah sel hati terinfeksi → terbentuk skizon → matang → merozoit (jumlahnya
tergantung spesies)* → sirkulasi darah → sebagian menyerang eritrosit di
sinusoid hati → beberapa difagositosis.

 P. vivax & P. ovale → sebagian sporozoit tidak membentuk skizon → dorman


dalam hati → hipnozoit → aktif kembali saat imunitas ↓ & mulai kembali →
eksoeritrositer sekunder → penyebab rekurens (long term relapse) → parasit
ditemukan kembali dalam darah setelah obat pemberian skizontosida darah yang
adekuat.
 Pada P. falciparum & P. malariae → tidak ada fase eksoeritrositer sekunder →
kambuhnya disebabkan proliferasi stadium eritrositik → rekrudesensi (short
term relapse) → skizontosida darah tidak seluruhnya eliminasi stadium parasit di
eritrosit, ↓ imunitas alami, atau ada jenis parasit baru yang tidak dikenali host.

 Pada P. malariae → kadang rekrudesensi yang panjang → stadium eritrositik


menetap dalam sirkulasi mikrokapiler.
 P. malariae → tidak ada rekurens/relaps → sembuh oleh skizontosida darah
saja.
Fase Eritrositer

 Merozoit → menyerang eritrosit → trofozoit muda (ring form) → berkembang →


trofozoit matur (bentuk tidak teratur) → membelah sitoplasma → skizon → matang
→ merozoit.

• Setelah skizogoni selesai → eritrosit pecah → merozoit dilepaskan ke aliran darah


→ sporulasi → masa inkubasi intrinsik → berbeda tiap spesies. *

 Merozoit yang telah lepas → masuk eritrosit baru → generasi lain dibentuk
dengan cara yang sama
 Setelah 2/3 generasi merozoit → bentuk seksual → gametogoni/gamesitogenesis
Eksflagelasi

• Anopheles → menghisap manusia → parasit aseksual → dicerna bersama eritrosit


→ gametosit tumbuh terus → pembuahan di lambung nyamuk → zigot (berbentuk
bulat & tidak bergerak).

Sporogoni

 Zigot → bentuk panjang & dapat bergerak (ookinet) → tembus dinding lambung
→ bentuk bulat (ookista) → makin lama membesar → pecah → ribuan sporozoit
→ bergerak mencapai kelenjar liur → nyamuk infektif → siap menularkan parasit
malaria melalui probocisnya → masa inkubasi ekstrinsik → berbeda tiap spesies *
Std. Menggigil

Std. Puncak
Demam Demam

Manifestasi Anemia Std. Berkeringat


Klinis

Splenomegali
Demam
• Bersamaan dengan masa sporulasi (berbeda untuk setiap P.) →
skizon pecah → antigen → rangsang makrofag → TNF →
hipothalamus → demam → secara periodik.
• P. falciparum → skizon matang kurang dari 24 jam → demam
setiap hari
• P. vivax & P. ovale → skizon matang setiap 48 jam → demam
setiap hari ke-3/tersiana
• P. malariae → skizon matang setiap 72 jam → demam setiap hari
ke-4/kuartana

• Diawali gejala prodromal


• Bersifat intermitten
• Serangan demam yang khas → trias malaria
Trias Malaria

Stadium Puncak
Stadium Menggigil Stadium Berkeringat
Demam
• Merasa dingin sekali • Merasa dingin sekali • Berkeringat banyak
→ menggigil. → merasa panas • Suhu tubuh ↓ cepat
• Nadi cepat namun sekali (41˚C/lebih) • Tidur nyenyak,
lemah, bibir & jari → • Nadi cepat & keras, terbangun →
biru, kulit kering & wajah merah, kulit kelelahan
pucat. kering & panas, sakit • 2 - 4 jam
• Kadang disertai kepala hebat, merasa
muntah. haus sekali
• 15 menit - 1 jam. • Biasa disertai mual
& muntah.
• 2 - 6 jam
• Derajat → tergantung spesies Plasmodium.
• P. falciparum → semua jenis eritrosit → infeksi akut & kronis.
• P. vivax & P. ovale → eritrosit muda (2% dari total eritrosit) →
infeksi kronis.
• P. malariae → eritrosit tua (1% dari total eritrosit) → infeksi
kronis.
Anemia
• Etiologi → penghancuran eritrosit, reduced survival time, &
diseritropoiesis.
• Jenis → anemia hemolitik, normokrom normositik, hipokrom,
makrositik (bila kurang asam folat).

• Plasmodium → infeksi limpa → difagosit sel makrofag & limfosit


Splenomegali → penambahan sel radang → limpa membesar.
• Infeksi akut → limpa teraba setelah 3 hari → bengkak, nyeri, &
hiperemis.
• Infeksi kronis → limpa keras → warna hitam
Patogenesis

• Waktu antara sporozoit masuk ke


Masa inkubasi intrinsik* dalam tubuh manusia → timbulnya
gejala klinis → demam.

• Sejak permulaan infeksi →


Masa inkubasi prapaten ditemukan parasit dalam darah tepi
untuk pertama kali.

• Saat parasit malaria ditularkan


Masa inkubasi melalui nyamuk Anopheles →
ekstrinsik* manusia.
Patofisiologi

• Pecahnya eritrosit yang mengandung


Demam skizon → merozoit masuk ke sirkulasi
darah.

• Destruksi eritrosit
Anemia • Hemolisis autoimun
• Gangguan eritropoiesis

• ↑ jumlah eritrosit → aktivasi RES →


Splenomegali fagositosis eritrosit yang terinfeksi
atau yang tidak terinfeksi.

• Eritrosit yang terinfeksi → kaku &


Anoksia jaringan lengket → melekat pada endotel
kapiler → hambat aliran kapiler.
Diagnosa

• Trias malaria disertai


sakit kepala, mual,
muntah, diare, & nyeri
otot. • Demam ≥37,5˚C
• Riwayat berkunjung & • Mikroskop → SD →
• Konjungtiva/tela positif/negatif,
bermalam 1-4 minggu pak tangan pucat
yang lalu ke daerah spesies & stadium
endemik/riwayat tinggal • Sklera ikterik Plasmodium,
di daerah endemik. • Splenomegali kepadatan parasit *
• Riwayat sakit malaria, • Hepatomegali • RDT
riwayat minum obat Pemeriksaan Pemeriksaan
malaria 1 bulan terakhir. Fisik Laboratorium
• Riwayat transfusi darah.

Anamnesa
Tatalaksana

• WHO → ACT (Artemisinin Combination Treatment)


• Artemisinin → skizontosida darah → malaria berat & malaria
ringan/tanpa komplikasi → harus kombinasi dengan obat malaria lain
→ bila tidak → diberikan selama 7 hari.
• Pada kehamilan → Trimester II & Trimester III.

ACT yang digunakan di Indonesia:

Kombinasi Artesunat & Amodiakuin*


Lini I.
Dosis → Artesunat : 4 mg/kgBB/hari, Amodiakuin : 10 mg/kgBB/hari,
diberikan p.o selama 3 hari.
Nama dagang → Artesdiakuin atau Arsuamoon.
ACT yang digunakan di Indonesia:

Kombinasi DHP
Lini I → resisten Artesunat & Amodiakuin, Klorokuin & Amodiakuin.
FDC; tiap tablet → Dihydroartemisinin : 40 mg & Piperakuin : 320 mg.
SD → Dihydroartemisinin : 2-4 mg/kgBB/hari, Piperakuin : 16-32 mg/kgBB/hari,
diberikan p.o selama 3 hari.
Nama dagang → Artekin, Darplex, Artekin, Duo Cotexin, Artep

Kombinasi AL (FDC)*
Lini II, tetapi Lini I → resisten Artesunat & Amodiakuin atau Klorokuin.
FDC; tiap tablet → Artemeter : 20 mg & Lumefantrin : 120 mg.
Nama dagang → Coartem
Tatalaksana

• Kegagalan ACT → lini II → WHO:


1.ACT lain → efektivitas lebih tinggi.
2.Artesunat kombinasi Doksisiklin, Tetrasiklin, atau Klindamisin, selama 7 hari.
3.Kina tablet kombinasi Doksisiklin, Tetrasiklin, atau Klindamisin, selama 7 hari.*

• Lini I & Lini II diberikan bersama → Primakuin → gametosidal & hipnozoidal.


• Dosis → 0,25 mg/kgBB.
• KI → bumil, bayi <6 bulan, penderita defisiensi enzim G6PD.
• ES → lemah, pusing, anoreksia, mual, muntah, kejang, nyeri perut, leukopenia,
anemia hemolitik, sianosis.
Tatalaksana Malaria Ringan

• Sejak 2007 Kemenkes → DHP di Papua


• Dosis DHP sama.
P. falciparum • P. falciparum → Primakuin hari ke-1 →
& P. vivax 0,25 mg/kgBB.
• P. vivax → Primakuin selama 14 hari →
0,25 mg/kgBB.

Jumlah Tablet Per Hari Menurut Berat Badan (Kg) dan Usia
>6-
<4 4-6 11-17 18-30 31-40 41-59 60
Jenis 10
Hari
Obat 0-1
2-5 6-11 1-4 5-9 10-14 15 15
bula
bulan bulan tahun tahun tahun tahun tahun
n
1-3 DHP 1ൗ3 1ൗ2 1ൗ2 1 11Τ2 2 3 4
Primak 1ൗ 1ൗ 1ൗ
3
Τ4
1 - - 4 4 2 1 1
uin
1-14
Primak 1ൗ 1ൗ 1ൗ
3
Τ4
• Dosis
viva - - 4 4 1 1
x
uin 2 berdasarkan BB
Tatalaksana Malaria Ringan

• Dosis DHP sama.


P. vivax relaps • Primakuin ↑ → 0,5
mg/kgBB.

P. ovale &
• Dosis DHP & Primakuin = P. vivax
Infeksi mix

• Dosis DHP sama.


P. malariae
• Tidak diberikan
Primakuin.

Tatalaksana Malaria Berat

• Puskemas/klinik (bukan perawatan) → Artesunat i.m, D : 2,4


mg/kgBB → rujuk.
• RS → Artesunat i.v, D : 2,4 mg/kgBB 3x (jam ke-O, 12, 24) →
setiap 24 jam → mampu minum obat sesuai jenis P.
Demam
Tifoid

Lepto Diagnosa Demam


spirosis Banding Dengue

ISPA
• Umumnya → P. falciparum → pernicious manifestations.
Komplikasi • Sekarang → P. vivax & P. knowlesi.
• Terjadi mendadak tanpa gejala sebelumnya.
• Digolongkan → malaria berat.

• Malaria berat → rawat di RS/Puskesmas Perawatan.


• Hindari gigitan nyamuk → kelambu, repellen, kawat kasar, &
pakaian lengan panjang.
Konseling
• Bunuh jentik nyamuk → penyemprotan
& Edukasi
• Hindari aktivitas malam hari
• Pengawasan minum obat
• Kemopreventif → Atovakuon & Proguanil (FDC → Malarone),
Doksisiklin, Primakuin.

• P. vivax, P. ovale, & P. malariae → baik


Prognosis • P. falciparum → parasitemia tinggi → buruk
• Umum → dubia ad bonam
Kerangka Konsep

Agent:
• P. falciparum
• P. vivax
• P. ovale
• P. malariae

Host:
• Usia KEJADIAN MALARIA
• Jenis kelamin
BAB III METODE PENELITIAN

• Penelitian deskriptif
Desain
• Studi cross sectional

Lokasi & • Puskesmas Koya Barat Distrik Muara Tami


Kota Jayapura
Waktu • 9 mei dan 19 mei

Populasi & • Seluruh data register pasien yang


Sampel didiagnosis malaria → 935 penderita

Teknik
Pengambilan • Total sampling
Sampel
• Jenis Plasmodium
Identifikasi
Variabel • Jenis kelamin
• Usia

• Penderita malaria (skala nominal) → berdasarkan hasil


pemeriksaan laboratorium & diagnosa dokter.
Definisi • Jenis Plasmodium (skala nominal) → Spesies penyebab
Operasional malaria
Variabel • Jenis kelamin (skala nominal) → keadaan biologis
pasien
• Usia (skala interval) → usia pasien berdasarkan
pedoman tatalaksana malaria oleh Kemenkes

Metode
• Data sekunder → data register
Pengumpulan Data

• Data deskriptif
Pengolahan & 𝐹
• Univariat → distribusi frekuensi & persentase → P =
𝑁
Analisis Data x 100%
• Anomity
Etika
• Confidentiality

Alur • Perizinan & pengajuan pengambilan data dari Fakultas

Permohonan & tanggapan kepada Dinas Kesehatan Kota


Jayapura

Permohonan & tanggapan kepada Puskesmas Koya Barat

Pengambilan data → Pengolahan data → Analisis data


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian didapatkan jumlah penderita


malaria sebanyak 935 penderita yang
dikelompokkan dalam karakteristik:

Penderita Malaria
berdasarkan Jenis
Plasmodium

Penderita Malaria
berdasarkan Jenis
Kelamin

Penderita Malaria
berdasarkan Usia
Hasil Penelitian
Pembahasan

Penderita Malaria Berdasarkan Jenis Plasmodium


70.00%
61.18% • P. falciparum → spesies yang paling
60.00%
banyak diteliti → angka morbiditas
50.00%
& mortalitas yang tinggi.
40.00%
35.19%
• Papua adalah daerah endemik → P.
30.00%
falciparum & P. vivax (infeksi mix).
20.00%
• P. malariae → umumnya dijumpai
10.00%
1.28% 2.35%
pada negara dengan malaria.
0.00%
VIVAX FALCIPARUM MALARIAE MIX
Penderita Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin

• Laki-laki → mobilisasi penduduk →


60.00%
pekerjaan
50.00%
• Kec. Koya Barat → agricultural →
40.00%
Petani & Berkebun → tipe pekerjaan
30.00%
55.83%
yang lebih berisiko → berada di

20.00%
44.17% hutan/sawah → tempat Anopheles
berkembang biak → kontak dengan
10.00%

vektor nyamuk.
0.00%
LAKI-LAKI PEREMPUAN
• Beberapa penelitian → perempuan
lebih banyak terinfeksi.
• Sejalan dengan teori → malaria dapat
menyerang baik laki-laki maupun
perempuan.
Penderita Malaria Berdasarkan Usia

• Penggolongan usia → tatalaksana


malaria Kemenkes 2017.
60.00%
53.48%
• Golongan usia dewasa (≥15 tahun) →
50.00%

usia produktif → lebih banyak


40.00%

aktivitas di luar rumah dibandingkan


30.00%

18.60%
golongan usia anak-anak → diduga
20.00%
15.50%

10.00%
10.49% lebih berpeluang untuk terserang
1.40%
0.00%
0.10% 0.43% malaria melalui kontak dengan
0 - 1 bulan 2 - 5 bulan 6 - 11 bulan 1 - 4 tahun 5 - 9 tahun 10 - 14 ≥15 tahun
tahun
nyamuk Anophles
BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Penderita malaria
berjumlah 935 penderita

P. falciparum P. vivax Infeksi mix P. malariae P. ovale tidak


berjumlah 572 berjumlah 329 berjumlah 22 berjumlah 12 ditemukan (0%)
penderita penderita penderita penderita
(61,18%) (35,19%) (2,35%) (1,28%)
Menggunakan
kelambu, repellen,
Upaya pencegahan
memasang kawat
malaria
kasa, membunuh
jentik nyamuk

Penduduk Koya Barat usia


≥15 tahun → mengurangi
Masyarakat kebiasaan di luar rumah
pada malam hari
Saran

Merasakan gejala malaria →


periksakan diri → berobat
hingga tuntas

Puskesmas Koya ↑ penyuluhan &


Barat edukasi
SEKIAN
&
TERIMA KASIH
Masa Inkubasi Intrinsik Plasmodium Malaria
Jenis Masa Inkubasi (rata-
Plasmodium rata hari)
P. falciparum 9 - 14 hari (12)
Skizogoni jaringan Plasmodium Malaria
P. vivax 12 - 17 hari (15)
Jenis Fase Jumlah P. ovale 16 - 18 hari (17)
Plasmodium Praeritrosit Merozoit
P. malariae 18 - 40 hari (28)
P. falciparum 51Τ2 - 7 hari 40.000
P. vivax 6 - 8 hari 10.000
P. ovale 9 hari 5.000
P. malariae 12 - 16 hari 2.000
Masa Inkubasi Ekstrinsik Plasmodium Malaria

Jenis
Masa Inkubasi
Plasmodium
P. falciparum 10 - 12 hari
P. vivax 8 - 11 hari
P. ovale 15 hari
P. malariae 14 hari
Interpretasi Hasil Pemeriksaan
Parasit Malaria menurut WHO
• Negatif (-) artinya tidak ditemukan parasit
pada 100 lapang pandang (LP).
• Positif 1 (+) artinya ditemukan 1 - 10
parasit per 100 LP Ciri khas Plasmodium Pada Apusan Darah
• Positif 2 (+ +) artinya ditemukan 11 - 100
• P. falciparum gametositnya seperti
parasit per 100 LP
berbentuk pisang (banana form) dengan
• Positif 3 (+ + +) artinya ditemukan 1 - 10
eritrosit berukuran tetap
parasit per 1 LP
• P. vivax memiliki trofozoit yang berbentuk
• Positif 4 (+ + + +) artinya ditemukan >10
amuboid dan eritrositnya membesar
parasit per 1 LP
• P. ovale memiliki bentuk eritrosit yang tidak
teratur dan bergerigi
• P. malariae memiliki trofozoit bentuk pita
(band form)
 Kina tablet 200 mg, D : 10 mg/kgBB 3x1.
 Doksisiklin tablet 100 mg, D : 3-5 mg/kgBB 2x1.
 Tetrasiklin tablet 250/500 mg, D : 4 mg/kgBB 4x1.
 Klindamisin kapsul 75/150/300 mg, D : 10 mg/kgBB 2x1

Jenis
Jumlah Tablet Menurut Usia
Obat
Hari
Dosis 0-11 1-4 10-14 15
5-9 tahun
Tunggal bulan tahun tahun tahun
3x 1Τ 3 x (2 -
Kina 1Τ 3 x 1 3 x1 2
2 3)
Doksisikli 2 x 50 2 x 100
- - -
n mg mg
1-7
4x4 4 x 250
Tetrasiklin - - -
mg/kgBB mg
Klindamis 2 x 10 2 x 10
- - -
in mg/kgBB mg/kgBB
1 Primakuin - 3ൗ 11Τ2 2 2-3
4
1-14 1ൗ 1ൗ 3ൗ
Primakuin - 4 2 4 1
vivax
Pengobatan P. falciparum & P. vivax
dengan Artesunat & Amodiakuin
Jumlah Tablet Per Hari Menurut Berat Badan (Kg)
dan Usia
Har Jenis <4 4-6 >6-10 11-17 18-30 31-40 41-49 50
i Obat 0-1 15
2-5 6-11 1-4 5-9 10-14 15
bula tahu
bulan bulan tahun tahun tahun tahun
n n
1-3 Artesunat 1ൗ 1ൗ 1ൗ 1 2 3 3 4
4 2 2
Amodiakui 1ൗ 1ൗ 1ൗ
1-3 n 4 2 2 1 2 3 3 4

1
Primakui
- - 1ൗ 1ൗ 1ൗ
3
Τ4
1 1
Pengobatan P. falciparum & P. vivax
4 4 2
n
Primakui 3
dengan Artemeter & Lumenfantrin
14 1ൗ 1ൗ 1ൗ Τ4
- - 4 4 2 1 1 Jumlah Tablet Per Hari
vivax n
Ja Menurut Berat Badan (Kg)
Jenis dan Usia
Hari
Obat m 5-14 15-24 25-34 41-59
<3 3-8 9-14 14
tahun tahun tahun tahun
0
1 AL 1 2 3 4
8
24
2 AL 1 2 3 4
36
48
3 AL 1 2 3 4
60
1 Primakuin 12 3ൗ 11Τ2 2 2-3
4
1-14 Primakuin 1ൗ 1ൗ 3ൗ 1
4 2 4
No Gambaran Laboratorium
1. Hipoglikemi (gula darah <9 mg%)
Asidosis metabolik (bikarbonat plasma
2.
<15 mmol/L)
Anemia berat (Hb <5 gr% untuk
No. Manifestasi Klinis endemis tinggi, <7 gr% untuk endemis
3.
1. Perubahan kesadaran (GCS <11) sedang sampai rendah atau hematokrit
Kelemahan otot (tidak bisa duduk atau <15%)
2. Hiperparasitemia (parasit >2% eritrosit
berjalan)
Kejang berulang atau lebih dari dua episode atau 100.000 parasit/L di daerah
3. 4. endemis rendah atau >5% eritrosit atau
dalam 24 jam
4. Distres pernapasan 100.000 parasit/L di daerah endemis
Gagal sirkulasi atau syok: pengisian kapiler tinggi)
5. >3 detik, tekanan sistolik <80 mmHg (pada Hiperlaktemia (asam laktat >5
5.
anak: <70 mmHg) mmol/L)
Jaundice (bilirubin >3mg/dL dan kepadatan Gangguan fungsi ginjal (kreatinin
6. 6.
parasit >100.000) serum >3 mg%)
7. Hemoglobinuria (black water fever)
8. Perdarahan spontan abnormal
Edema paru (radiologi, saturasi oksigen
9.
<92%)