Anda di halaman 1dari 41

Presented by

HILDA ANGGRAENI – 1 2 0 3 0 1 174 2 0 074


S U H I TA W H I N I S E T YA H U N I - 1 2 0 3 0 1 174 2 0 0 5 9
SUB POKOK BAHASAN

1 • Bribery and Corruption Schemes

2 • Detecting Bribery and Corruption

3 • Preventing Bribery and Corruption

4 • Relationship between fraud and money laundering

5 • Varying impact of money laundering on companies

6 • The five-point program for AML-regulated businesses


BRIBERY AND CORRUPTION SCHEMES

Bribery

Illegal
Kickback
Gratuities

Conflict of
Extortion
Interest

Procurement
Corporate
Fraud / Bid
Espionage
Rigging
Pemberian atau penerimaan
sesuatu yang bernilai dengan
tujuan mempengaruhi
sebuah transaksi dan
memastikan sesuatu hal
terjadi di masa datang.
ILLEGAL GRATUITIES (GRATIFIKASI)

Terjadi setelah
sebuah transaksi
selesai.

Hampir sama dengan bribery


EXTORTION (PEMERASAN)

Permintaan sejumlah uang


atau sesuatu yang berharga
disertai dengan ancaman
yang membahayakan
apabila keinginannya tidak
terpenuhi
CONFLICT OF INTEREST

Terjadi apabila karyawan mempunyai


kepentingan ekonomi atau
kepentingan personal dalam sebuah
transaksi
KICKBACK (UMPAN BALIK)
Biasanya diterima oleh karyawan bagian
pembelian. Sejumlah komisi atau keuntungan
akan diterima apabila kontrak diberikan kepada
vendor
CORPORATE ESPIONAGE (SPIONASI PERUSAHAAN)

Pencurian rahasia
perdagangan atau
kekayaan
intelektual lainnya,
termasuk
didalamnya
pembajakan hak
cipta.
PROCUREMENT FRAUD / BID RIGGING
(KECURANGAN PENGADAAN BARANG DAN
JASA)

Sulit dideteksi
karena diluar
kebijakan,
prosedur, dan
sistem
pembukuan
perusahaan.
Manipulasi proses kontrak untuk
pengadaan barang dan jasa.
KATEGORI PROCUREMENT
FRAUD

Kejahatan
Kolusi
Vendor yang Kolusi Multiple
Karyawan
Merugikan Vendor
dengan vendor
Perusahaan
PREVENTING BRIBERY AND CORRUPTION

Pengawasan proses pembelian dan akun hutang dagang.

Pemisahan fungsi

Pengecekan Dokumen

Rotasi Pekerjaan

Kebijakan Etika
MONEY LAUNDERING

Pencucian
Penipuan
Uang
Hubungan antara penipuan dan
pencucian uang
Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF) Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan
(OECD) telah menetapkan pencucian uang sebagai berikut:
Tujuan sejumlah besar tindakan kriminal adalah untuk menghasilkan keuntungan bagi
individu atau kelompok yang melakukan tindakan tersebut. Pencucian uang adalah proses
dari tindak pidana ini untuk menyamarkan asal usul ilegal mereka. Proses ini sangat
penting, karena memungkinkan penjahat untuk menikmati keuntungan ini tanpa
membahayakan sumbernya.
FATF adalah badan antar pemerintah yang dibentuk bersamaan dengan OECD dengan
mandat untuk mengembangkan kebijakan untuk memberantas pencucian uang. FAFT
dianggap sebagai pengawas AML global yang unggul. Peran utamanya adalah memantau
perkembangan strategi AML
Proses pencucian uang

Penempatan
Layering
Integrasi
Dampak Dampak
Pencucian Pencucian
Uang pada Uang pada
Perusahaan Mengakibatkan Perusahaan
Mengurangi
hilangnya kendali
pendapatan negara
pemerintah terhadap
dari sektor pajak
kebijakan ekonomi.

Membahayakan
upaya-upaya
Menimbulkan
privatisasi perusahan
ketidakstabilan
negara yang
ekonomi
dilakukan oleh
pemerintah
Lima poin Anti Money Laundry

Program Kepatuhan Tertulis

Standar Minimum Tuntutan Pelanggaran

Aktivitas Monitoring dan Pelaporan

Latihan

Pencatatan
DAMPAK PENCUCIAN UANG PADA
LAPORAN KEUANGAN

Kepentingan penegak hukum

Pencabutan regulasi

Bencana operasional

Kerusakan reputasi
RED FLAGS

Transfer masuk
atau keluar Frekuensi
Transaksi kas
rekening bank penarikan yang
yang tidak
dengan jumlah sering melebihi
biasa
yang sama limit tertentu
atau berlebihan
CONCLUSION

Skema korupsi dan penyuapan sulit dideteksi dibandingkan jenis fraud lainnya karena
perusahaan yang menjadi korban mempunyai sedikit informasi mengenai keberadaan fraud

Pencegahan korupsi dan penyuapan dapat dilakukan dengan pemisahan fungsi, monitoring
karyawan, pengujian dan pengecekan dokumen, serta penerapan kebijakan etika.

Money laundering merupakan proses yang timbul akibat adanya tindak criminal dengan
tujuan menyembunyikan perolehan harta yang didapatkan dari aktivitas criminal tersebut.

Money Laundering dapat diminimalkan dengan menerapkan program AML dan kerja sama
dengan seluruh institusi pelayanan jasa keuangan.
Presented By :
Hilda Anggraeni 12030117420074

Suhita Whini Setyahuni 12030117420059


PROFIL FRAUDSTER Jenis Kelamin Laki-laki

Pendidikan S2

Profesi Perwira Tinggi MABES POLRI

Gaji Rp 30 Juta per bulan

Jenis TPK Tindak Pidana Pencucian Uang

Tuntutan 1. Pidana Penjara : 18 (delapan belas) tahun,


dikurangi selama dalam tahanan
2. Denda : Rp1,000,000,000,- subsidiair 1
(satu) tahun kurungan, dengan perintah
Terdakwa tetap ditahan
3. Uang Pengganti : Rp35,000,000,000,- dan
apabila tidak dibayar dalam waktu 1 (satu)
bulan setelah putusan memperoleh
kekuatan hukum tetap, maka harta
bendanya dapat disita oleh Jaksa dan
dilelang untuk menutupi uang pengganti
tersebut. Apabila harta bendanya tidak
mencukupi, maka dijatuhi pidana penjara
selama 5 (lima) tahun ;
4. Menghukum Terdakwa dengan pidana
tambahan berupa pencabutan hak-hak
Inspektur Jendral Djoko Susilo tertentu untuk memilih dan dipilih dalam
jabatan publik.
5. Biaya Perkara : Rp10,000,-
PROFIL FRAUDSTER
No 36/PID/TPK/2013/PT.DKI, Tanggal
18 Desember 2013
MENGADILI :
1. Pidana Penjara : 18 (delapan
belas) tahun
2. Denda : Rp1,000,000,000,-
subsidiair 1 (satu) tahun kurungan
Putusan ;
3. Uang Pengganti :
Rp32,000,000,000,- dan apabila
tidak dibayar dalam waktu 1 (satu)
bulan setelah putusan
memperoleh kekuatan hukum
tetap, maka harta bendanya dapat
disita oleh Jaksa dan dilelang
untuk menutupi uang pengganti
tersebut. Apabila harta bendanya
tidak mencukupi, maka dijatuhi
pidana penjara selama 5 (lima)
tahun ;
4. Menghukum Terdakwa dengan
Inspektur Jendral Djoko Susilo pidana tambahan berupa
pencabutan hak-hak tertentu
untuk memilih dan dipilih dalam
jabatan publik.
5. Menetapkan Terdakwa tetap
ditahanan.
6. Biaya Perkara : Rp2,500,-
Keluarga Inspektur Jendral Djoko Susilo
DAFTAR KEKAYAAN INSPEKTUR JENDRAL
DJOKO SUSILO
Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi menilai harta milik Djoko Susilo yang diduga terkait dengan tindak pidana pencucian
uang (TPPU) jumlahnya mencapai Rp117,75 miliar dan diperoleh dalam kurun waktu 2003 hingga 2010.

Harta kekayaan Djoko sejak 2003 hingga Maret 2010 adalah sebesar Rp 53,89 miliar dan 60 ribu dolar AS itu patut diduga sebagai hasil
dari tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan jabatan.

Padahal pendapatan Djoko sejak September-Desember 2004 adalah Rp 12 juta, Januari-Desember 2005 adalah Rp 40,1 juta, Januari-Desember 2006 adalah
Rp 46,4 juta, Januari-Desember 2007 sebanyak Rp 59,1 juta, Januari-September 2008 sebanyak Rp 53,4 juta, Oktober-Desember 2008 adalah Rp 14,85 juta,
Januari-Desember 2009 adalah Rp 87 juta dan Januari-Desember 2010 adalah Rp 93,5 juta
Harta sebelum tahun 2012 ?

Mudjiharjo Eva Susilo Djoko Susilo


Tanah Handayani
Tanah

Suratmi Madiyah Dipta


Tanah 11 tanah Rumah

Zainal Abidin Eric Maliangkay


Herrier Tanah 6,3 M

Nopi Indah
Fortuner

Siti Maropah
Serena
KRONOLOGI KASUS
TAHUN 2010
SIMULATOR SIM
Agustus 2010, Budi Susanto mengadakan pertemuan dengan Sukotjo Sastronegoro Bambang di Starbucks Coffe-TIS-Tebet
Jakarta Selatan yang membicarakan bahwa pada TA 2010 di Korlantas Polri akan diadakan pekerjaan Pengadaan
Optimalisasi Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi Roda Dua (R-2) sebanyak 1000 unit dan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi Roda Empat (R-4) sebanyak 1000 unit yang akan dilaksanakan dari bulan Oktober-Desember 2010

Oktober 2010, Sukotjo menemui Darsian (bag. Keuangan Mabes Polri) atas permintaan Budi Susanto untuk
meminta informasi mengenai jumlah dana yang akan dialokasikan terkait Pengadaan Optimalisasi Driving
Simulator Uji Klinik Pengemudi R2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 dan kemudian
memberikan uang Rp50 juta kepada Darsian serta staffnya sebesar Rp15 juta

November 2010, Budi Susanto terkait pengadaan TA 2011 tersebut mengajukan Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp101
miliar ke Bank BNI SKM Jakrta Gunung Sahari menggunakan nama PT CMMA dengan menjaminkan Surat Perintah Kerja
(SPK) Pengadaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011.
Padahal Rencana Umum Anggaran belum ditetapkan dan belum diumumkan serta belum ada pengesahan Pagu
Anggaran Definitif Korlantas Polri TA 2011 dari Kementrian Keuangan.
KRONOLOGI KASUS
TAHUN 2011 SIMULATOR SIM
Djoko Susilo memimpin rapat yang dikiuti oleh Teddy Rusmawan, Budi Setyadi (Kabag Renmin), Endah Purwaningsih
(Kasubbag Ren dan anggota panitia pengadaan), Heru Trisasono (Kasubbag ADA dan anggota panitia pengadaan), Ni
Nyoman Suartini (anggota panitia pengadaan), dan Wandy Rustiwan (anggota panitia pengadaan) yang membahas
pengadaan Driving Simulator. Pada kesempatan tersebut Djoko Susilo secara bertentangan dengan hukum
memerintahkan Budi Setyadi bahwa produk milik Budi Susanto sebagi penyedia barang.

13 Januari 2011, Budi Susanto memerintahkan Sukotjo S.Bambang bersama Ijay Herno membawa uang
sebesar Rp2 miliar yang dibungkus 1 buah kotak kardus ke kantor Korlantas Polri untuk diberikan kepada
Djoko Susilo namun beliau tidak berada ditempat sehingga uang tersebut dititipkan kepada sekertaris
pribadinya Erna. Selanjutnya Sukotjo S.Bambang menghubungi Budi Susanto bahwa paket sudah diberikan
kepada Djoko Susilo

Saat pelaksanaan studi banding di Singapura, Teddy Rusmawan meminta uang sebesar Rp7 miliar kepada Budi Susanto
untuk disetorkan ke rekening PRIMKOPPOL Ditlantas Polri. Setelah kunjungan ke SSDC, Teddy Rusmawan melaporkan kepada
Djoko Susilo bahwa anggaran di Korlantas Polri tidak akan mencukupi apabila dibandingkan dengan harga Driving
Simulator dari Singapura. Berdasarkan hal tersebut kemudian Djoko Susilo meminta Budi Susanto dan Teddy Rusmawan
agar spesifikasi teknis Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011
disamakan dengan pengadaan TA 2010.
KRONOLOGI KASUS
TAHUN 2011 SIMULATOR SIM
Budi Susanto bersama-sama dengan Djoko Susilo melakukan kesepakatan tentang Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 yang nilainya tidak sama persis dengan HPS TA 2010 dengan tujuan untuk
menghindari kecurigaan pihak luar Korlantas. Demi mewujudkan kesepakatannya tersebut Budi Susanto meminta Sukotjo S.Bambang
bersama dengan Ni Nyoman Suartini menyusun HPS yang dimaksud dengan menggelembungkan harganya. HPS yang disusun tersebut
selanjutnya oleh Teddy Rusmawan diserahkan kepada Didik Purnomo selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untung ditandatangani dan
ditetapkan sebagai HPS Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan R-4 TA 2011.

13 Januari 2011, Budi Susanto memerintahkan Sukotjo S.Bambang bersama Ijay Herno membawa uang sebesar Rp2 miliar yang dibungkus 1 buah kotak
kardus ke kantor Korlantas Polri untuk diberikan kepada Djoko Susilo namun beliau tidak berada ditempat sehingga uang tersebut dititipkan kepada
sekertaris pribadinya Erna. Selanjutnya Sukotjo S.Bambang menghubungi Budi Susanto bahwa paket sudah diberikan kepada Djoko Susilo. Budi Susanto
atas sepengetahuan Teddy Rusmawan, memerintahkan Sukotjo S.Bambang agar menyiapkan perusahaan-perusahaan yang akan dijadikan sebagai
peserta pendamping dalam proses pelelangan tersebut. Sukotjo S.Bambang meminta bantuan Warsono Sugantoro alias Jumadi untuk menyiapkan
perusahaan-perusahaan yang dapat dipinjam namanya sebagai peserta pendamping untuk mengikuti lelang pengadaan tersebut dengan imbalan uang
sebesar Rp20 juta. untuk mengatur agar PT CMMA menjadi pemenang.

17 Februari 2011, Oleh Panitia Pengadaan PT CMMA ditetapkan sebagai pemenang lelang pengadaan tersebut.
Kemudian Teddy Rusmawan melaporkan pada Djoko Susilo bahwa pada saat proses pelelangan, tidak ada perusahaan-
perusahaan lain yang memasukan dokumen penawaran kecuali perusahaan-perusahaan yang sudah dikondisikan
oleh Budi Susanto.
KRONOLOGI KASUS
TAHUN 2011
SIMULATOR SIM
Indikasi fraud pada kasus ini adalah adanya mark-up yang dilakukan oleh Budi Santosa sebagai Direktur PT Citra Mandiri
Metalindo Abadi (CMMA) yang menjadi pemenang tender proyek pengadaan driving simulator SIM di Korlantas Porli tahun
2011 dengan nilai pengadaan driving simulator sebanyak 700 unit sepeda motor senilai Rp 54.453.000.000,- dan sebanyak
556 unit mobil senilai Rp 142.453.000.000 sehingga total proyek pengadaan driving simulator senilai Rp 196.870.000.000,-.

Dalam proses melaksanakan proyek pengadaan driving simulator SIM ini PT CMMA memperoleh keuntungan besar karena pengadaan Driving
Simulator SIM hanya Sebesar Rp 116.000.000.000,- dimana dalam dokumen perjanjian pembelian barang yang seharusnya harga simulator
sepeda motor senilai Rp 42.800.000,-/unit nilainya di mark up menjadi Rp 77.790.000,-/unit dan harga simulator mobil senilai Rp 80.000.000,-/unit
menjadi Rp 256.142.000,-/unit, namun keuntungan itu tidak dinikmati sendiri melainkan dibagi-bagi. Tiga teknik dalam penggelembungan yang
dilakukan Budi, yaitu komponen utuh dibuat harga terpisah, perincian komponen dihitung kembali sehingga terhitung sebanyak dua kali. Dan
memasukkan harga bagian yang tak terpakai. Kemudian, ketiga menaikkan harga setiap komponen menjadi lebih tinggi dari harga pasar

Rangkaian perbuatan Djoko Susilo dengan menyalah gunakan kewenangan dalam jabatannya selaku KPA atau
kedudukannya selaku Kepala Korps Lalulintas Polri yang telah melanggar Hukum dengan menyalahgunakan kewenangan
yang ada padanya karena jabatan selaku KPA bersama-sama dengan Didik Purnomo selaku pejabat pembuat Komitmen
dan Teddy Rusmawan selaku ketua Panitia Pengadaan serta bersama-sama dengan Budi Susanto selaku Direktur PT CMMA
dan Sukotjo S. Bambang selaku Direktur PT ITI telah menguntungkan Djoko Susilo sebesar Rp32 miliar . Akibat perbuatan
Djoko Susilo dengan menyalahgunakan kewenangan jabatannya tersebut telah merugikan keuangan negara sebesar
Rp145 miliar atau setidak-tidaknya Rp121.830.768.863,59 sesuai dengan Surat dari BPK tertanggal 27 Maret 2013
Pihak yang Terlibat

Sukotjo Sastronegoro Budi Susanto Tedi


Bambang Didik Purnomo Rusmawan Djoko Susilo
PT Citra Mandiri Pejabat Pembuat Dirlantas Polri
PT Inovasi Teknologi Metalindo Abadi Komitmen Ketua Tim
Indonesia (PT. ITI) (PT CMMA) Pelaksanaan
Pembagian Hasil Korupsi

Sukotjo Budi Susanto Didik Purnomo Tedi Rusmawan


Sastronegoro
RP 93 M RP 50 Juta Rp 15 M
Bambang
RP 3 M

Djoko Susilo
RP 32 M
Putusan Sidang Djoko Susilo

3 September 2013 19 Desember 2013

Putusan Pengadilan Djoko Banding Putusan Pengadilan Putusan


TIPIKOR Tinggi Jakarta Kasasi Mahkamah Agung

Putusan : Putusan :
Tuntutan : • 18 tahun penjara • 18 tahun penjara
18 Tahun penjara • denda Rp 32 M Denda Rp 32 M
Denda RP 1 M subsider 5 tahun
Putusan : • mencabut hak
hukuman pidana 10 politik
tahun penjara dan
denda Rp 500 juta
Putusan Sidang Budi Susanto
13 Oktober 2014

Putusan Pengadilan Banding Putusan Pengadilan Kasasi Mahkamah Agung


TIPIKOR Tinggi Jakarta

Putusan : Putusan : Putusan :


8 tahun 8 tahun
penjara 14 tahun penjara dan
denda Rp 500 penjara denda Rp 88,4 M
juta denda Rp 17
subsider 6 M
bulan
Putusan Sidang Didik Putusan Sidang
Purnomo Sukotjo Bambang
2012
22 April 2015 Tuntutan :
7 tahun penjara Putusan :
denda Rp 250 juta 3 tahun 10 bulan
Putusan Putusan penjara
Pengadilan TIPIKOR Pengadilan TIPIKOR
Putusan : Setelah menjalani
5 tahun penjara 2/3 masa hukuman
denda Rp 250 juta ia dibebaskan
bersyarat karena
telah menjadi
collaborator justice
FRAUD TRIANGLE DJOKO SUSILO
Pressure :
• Keserakahan untuk memenangankan
tender pengadaan simulator SIM
• 3 Istri
• Lifestyle

Rationalization :
Opportunity :
Perbuatan tersebut sudah
wajar, banyak yang • Jabatan strategis
melakukan • Kurangnya kontrol
internal
• Link yang luas
SKEMA FRAUD

• Djoko Susilo memakai hasil tindak


• BRIBERY pidana korupsi dengan

MONEY
menyamarkan hasil uang haram
• CONFLICT OF itu dengan membeli beberapa
rumah.
INTEREST
LAUNDE
• Menyamarkan beberapa hartanya
CORRUPTION • ILLEGAL tahun 2010 dengan menggunakan
nama Djoko Waskito (ayah
GRATUITIES
RING
kandung Dipta Anindita, istri
muda Djoko)
• ECONOMIC • Djoko menyamarkan hartanya
EXTORTION dengan menggunakan nama Eva
Handayani (istri ketiganya)
RED FLAGS

CONFLICT OF
BRIBERY INTEREST
• Anomali dalam • Sejumlah besar transaksi
menyetujui vendor dengan vendor tertentu
• Penemuan hubungan antara • Penemuan hubungan antara
karyawan dan vendor karyawan dan pihak ketiga
• Perubahan Gaya Hidup itu sebelumnya tidak
diketahui
DETECTION & PREVENTION
MODEL
DETECTION MODEL PREVENTION MODEL

• Dokumentasi • Pengawasan
• Hubungan antara pihak • Otorisasi Transaksi
pertama dan vendor • Pemisahan Fungsi
• Waktu Pemrosesan • Membangun Internal Control
• Keterlibatan karyawan yang Efektif
• Peserta Lelang yang tidak • Rotasi Pekerjaan
qualified • Kebijakan Etika
• Pembatalan Vendor Lainnya
• Seleksi vendor
• Proyek pengadaan driving simulator SIM dilakukan oleh Djoko Susilo, Didik Purnomo, Budi
Susanto, Sukotjo S. Bambang, dan Tedi Rusmawan
• Skema kecurangan kasus simulator SIM adalah Korupsi dan Pencucian Uang

• Model deteksi kasus simulator SIM adalah mengecek dokumentasi, mencari hubungan
antara pihak pertama dan vendor, menilai waktu pemrosesan kontrak lelang, menemukan
adanya keterlibatan karyawan, mereview apakah ada peserta lelang yang mengundurkan
diri, mereview kualifikasi peserta lelang, dan menyeleksi vendor serta background check
kepada setiap vendor peserta lelang.

• Metode pencegahan fraud kasus simulator SIM adalah : pengawasan,


otorisasi transaksi, melakukan pemisahan fungsi, membangun internal kontrol
yang efektif, melakukan rotasi kerja, dan menerapkan kebijakan etika.