Anda di halaman 1dari 153

Hukum & Hak Asasi

Manusia
Nadia Nurani Isfarin
Hak kodrat
(natural rights)

Hak dasar
HAM manusia
(human rights)
Hak mutlak
(fundamental
rights)
Hak asasi

Tanggung Kewajiban
jawab asasi asasi
Hak asasi manusia
• Hak dasar yang dimiliki dan melekat pada
setiap manusia karena hakikat manusia
sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME
kapan HAM melekat pada
manusia?
• Pandangan barat
HAM melekat pada setiap manusia sejak
dilahirkan hingga meninggal
• Pandangan Islam
HAM melekat pada setiap manusia sejak
dalam kandungan, ketika masih hidup dan
bahkan ketika sudah meninggal
Hukum hak asasi manusia
• Seperangkat hukum yang dimuat dalam
beragam peraturan perundang-undangan
nasional dan dalam berbagai instrumen
hukum internasional dalam rangka
mewujudkan hak-hak dasar manusia
seutuhnya tanpa diskriminasi
Konsep Dasar HAM
• Hak asasi manusia adalah hak-hak yang
dimiliki manusia semata-mata karena ia
manusia.
• Umat manusia memiliki bukan karena
diberikan oleh masyarakat atau hukum positif.
Tetapi semata-mata berdasarkan martabatnya
sebagai manusia
• Warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya
atau kewarganegaraan yang berbeda, ia tetap
mempunyai hak-hak tersebut.
• Sifat dasar HAM tidak dapat dicabut
(inaliable)
• Seburuk apapun perlakuan yang dialami
seseorang atau sekejam apapun
seseorang, ia tetaplah manusia, dan
tetap memiliki hak sebagai manusia
• Hak tersebut melekat sebagai makhluk
insani
Teori hak asasi
• Teori hak asasi berasal dari teori hak
kodrati (natural rights theory) – teori
hukum kodrat (natural law theory)
• John locke – mengajukan postulat bahwa
semua individu dikarunia oleh alam hak
yang melekat yaitu hak hidup, kebebasan,
dan kepemilikan yang merupakan milik
mereka sendiri yang tidak dapat dicabut
oleh siapapun termasuk negara.
Teori kontrak sosial
• Melalui suatu kontrak sosial perlindungan
hak-hak yang tidak akan dicabut ini
diserahkan kepada negara. Apabila
negara melanggar kontrak sosial ini, maka
rakyat di negara tersebut berhak
menurunkan penguasa dan
menggantikannya dengan penguasa
(pemerintah) yang bersedia menghormati
hak-hak tersebut.
Tantangan utilitarian dan
positifisme
• Bentham : hak dan hukum merupakan hal
yang sama, hak adalah anak kandung
hukum dari berbagai fungsi hukum lahirlah
beragam jenis hak.
• John Austin : eksistensi dan isi hak hanya
dapat diturunkan dari hukum negara.
Satu-satunya hukum yang sahih adalah
perintah dari yang berdaulat, ia tidak
datang dari alam atau moral.
Generasi pertama hak asasi
manusia
• Hak-hak yang muncul sebagai reaksi
terhadap absolutisme negara dan
kekuatan sosial lainnya (demokrasi liberal
– negara hukum dalam arti formal abad
19, hak klasik)
• Hak-hak tersebut ingin melindungi
kehidupan pribadi manusia atau
menghormati otonomi setiap orang atas
dirinya sendiri (kedaulatan individu)
• Hak-hak tersebut adalah hak hidup,
keutuhan jasmani, hak kebebasan
bergerak, hak suaka dari penindasan,
perlindungan terhadap hak milik,
kebebasan berpikir, beragama dan berke-
yakinan, kebebasan untuk berkumpul dan
menyatakan pikiran hak bebas dan
penahanan dan penangkapan sewenang-
wenang, hak bebas dari penyiksaan, hak
• Hak bebas dari hukum yang berlaku surut,
dan hak mendapatkan proses peradilan
yang adil.
• Hak-hak diatas disebut hak asasi negatif,
oleh karena melarang adanya campur
tangan dari pihak manapun , yang berhak
menentukan adalah dirinya sendiri.
• Kehidupan saya tidak boleh dicampuri
pihak lain (freedom from).
• Magna Charta (tahun 1215)
• Bill of Rights (1689 - UK dan 1789 - US)
• Pernyataan hak-hak manusia dan warga
negara 1789 (Declaration des droits de
l’homme et du citoyen)
Generasi kedua hak asasi
manusia
• Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Hak
yang muncul agar negara menyediakan
pemenuhan terhadap kebutuhan dasar
setiap orang misal, hak atas makan, kese-
hatan, pekerjaan, upah yang layak, jamin-
an sosial, pendidikan, perumahan, hak
lingkungan yang sehat dll. Negara dituntut
untuk aktif. Hak – hak ini tidak akan
terwujud kalau tidak dituntut oleh warga
negara
Generasi ketiga hak-hak asasi
manusia
• Hak-hak yang diwakili oleh tuntutan atas
hak solidaritas atau hak bersama. Hak ini
muncul dari tuntutan yang gigih dari
negara-negara berkembang yang
menginginkan terciptanya suatu tatanan
ekonomi dan hukum internasional yang
kondusif bagi terjaminnya hak-hak
• 1. hak atas pembangunan.
2. Hak atas perdamaian
3. Hak atas sumber daya alam sendiri
4. Hak atas lingkungan hidup yang baik
5. Hak atas warisan budaya sendiri.
Keberkaitan (indivisibility) dan
Kesalingtergantungan (interdependence)
• Karl Marx : pandangan universal tentang
hak asasi manusia yang pemikirannya
ber-kembang ke suatu ide untuk saling
me-nyeimbangkan antara konsep liberal
ke-bebasan Individu dan konsep hak
warga negara. Perkembangan berikutnya
dipeng-aruhi oleh munculnya negara-
negara yang baru merdeka, terutama hak
untuk menentukan nasib sendiri.
Universalisme
• Teori universal : hak asasi manusia be-
rangkat dari konsep universalisme moral
dan kepercayaan akan keberadaan kode-
kode moral universal yang melekat pada
seluruh umat manusia.
• Universalisme moral meletakkan kebera-
daan kebenaran moral yang bersifat lintas
budaya dan lintas sejarah yang dapat
diidentifikasi secara rasional.
Relatifisme Budaya
• Paham ini baru muncul ketika Perang
Dingin hampir berakhir sebagai respon
atas klaim universal dari gagasan hak
asasi manusia internasional.
• Gagasan tentang relativisme budaya
mendalilkan bahwa kebudayaan meru-
pakan satu-satunya sumber keabsahan
hak atau kaidah moral.
• Gagasan bahwa hak asasi manusia terikat
dengan konteks budaya umumnya
diusung oleh negara-negara berkembang
karena itu hak asasi manusia dianggap
perlu dipahami dari konteks kebudayaan
masing-masing negara. Bagaimana
dengan negara yang multikultural ?
Nilai-nilai Asia
• Lee Kuan Yew : di Asia Tenggara yang
dicari itu tidak begitu berkaitan dengan
demokrasi, melainkan dengan pemerin-
tahan yang bertanggungjawab, yakni su-
atu kepemimpinan yang transparan dan
tidak korup.
• Yang terlebih dahulu dicari adalah
pembangunan ekonomi yang ditopang
dengan kepemimpinan yang kuat,
• Bukan memberikan kebebasan dan hak a-
sasi manusia. Hak ini akan diberikan ma-
nakala negara-negara dikawasan ini mam-
pu menstabilkan pertumbuhan ekonomi
dan memberi kesejahteraan kepada rakyat
mereka.
• Mahathir M : saat kemiskinan dan tidak
tersedianya pangan yang memadai masih
merajalela dan kebutuhan-kebutuhan
• Dasar rakyat tidak terjamin, maka prioritas
mesti diberikan kepada pembangunan
ekonomi, maka Mahathir menolak pemak-
saan standar-standar hak asasi manusia
dari suatu negara ke negara lain.
• Asia tampaknya tidak mempunyai nilai-
nilainya sendiri tentang hak asasi
manusia.
• Jadi internasionalisasi hak-hak asasi
manusia harus ditolak.
Manipulasi nilai-nilai Asia
• Apa latar belakang dibalik justifikasi nilai-
nilai Asia ? Apakah ingin menegakkan hak
asasi ?
• Di Singapura berkembang wet state
• Di Malaysia kita mengenal ISA
• Mereka menolak dijadikannya hak-hak
asasi sebagai parameter pembangunan
internasional (menolak conditionality)
Memadukan universalisme
dengan pluralisme
• Hak asasi manusia dikondisikan oleh
konteks sejarah, tradisi, budaya, agama,
politik ekonomi yang beragam, tetapi dari
segala macam ragam itu tetap ada nilai-
nilai universal yang berpengaruh.
• Martabat manusia, kebebasan, keadilan,
persamaan merupakan sebagian yang
mengesampingkan perbedaan dan
merupakan milik kemanusiaan secara
utuh
• Memadukan perbedaan yang beragam
dari sisi agama, tradisi dan budaya
tidaklah mudah, maka penting menggali
konsep yang prinsipiil yakni martabat
manusia.
• Secara universal pelanggaran berat
terhadap hak-hak asasi manusia adalah
genosida, kejahatan terhadap
kemanusiaan dan kejahatan perang.
Hak perempuan sebagai hak
asasi manusia
• Hukum dan sistem hak asasi manusia
adalah sistem yang sangat maskulin dan
patriarki, dibangun dengan cara berpikir
dan dalam dunia laki-laki, maka sangat
menguntungkan laki-laki dan melegitimasi
situasi yang tidak menguntungkan perem-
puan.
1. Dikotomi wilayah publik dan privat.
2. Konsepsi pelanggaran hak asasi manusia
sebagai pelanggaran yang dilakukan
negara.
3. Pendekatan kesamaan dan perbedaan
yang dipakai oleh beberapa instrumen
pokok hak asasi manusia.
4. Pemilahan dan prioritas hak sipil dan
politik, ketimbang hak ekososbud.
Instrumen HI yang mengatur persamaan
hak laki2-perempuan
• konvensi tentang penghapusan segala
bentuk diskriminasi terhadap perempuan
tahun 1976 (CEDAW)
• Deklarasi Wina 1993
• The Beijing Platform for Action 1995
Prinsip-prinsip HAM
1. Prinsip kesetaraan, semua orang terlihat
bebas dan perdebatan yang bemiliki kese-
taraan dalam hak asasi manusia.
a. definisi dan pengujian kesetaraan
mensyaratkan adanya perlakuan yang
setara, pada situasi yang sama harus
diperlakukan sama, dan dengan dimana
pada sistuasi yang berbeda diperlakukan
berbeda pula.
b. Tindakan afirmatif (diskriminasi positif)
tindakan afirmatif mengijinkan negara
untuk memperlakukan secara lebih
kepada kelompok tertentu yang tidak
terwakili.
2. Prinsip diskriminasi
a. diskriminasi adalah kesenjangan
perbedaan perlakuan dari perlakuan yang
seharusnya sama.
b. Diskriminasi langsung dan tak langsung
seseorang diberlakukan secara langsung
atau tak langsung dengan berbeda dng
yang lain. Diskriminasi tak langsung mun-
cul ketika dampak dari hukum atau dari
hukum merupakan diskriminasi walaupun
tujuannya bukan diskriminasi.
c. Alasan diskriminasi. Ras, warna kulit,
aga-ma, bahasa, kebangsaan dll.
3. Kewajiban positif untuk melindungi hak-
hak terstentu.
negara tidak boleh secara sengaja meng-
abaikan hak kebebasan-kebebasan.
Seba-liknya negara diasumsikan memiliki
ke-wajiban melindungi secara aktif dan
memastikan terpenuhinya hak-hak dan
kebebasan-kebebasan
a. Arti
Negara boleh memberikan kebebasan
dengan memberikan sedikit pembatasan.
Mis untuk hak hidup negara tidak boleh
melakukan pendekatan yang pasif.
b. Contoh hak untuk hidup dan pelarangan
penyiksaan. Negara tidak boleh memban-
tu negara lain menghilangkan nyawa atau
melanggar larangan penyiksaan
• Misalnya yang berkaitan dengan status
pengungsi.
Sifat mengikatnya instrumen
HAM
1. Derogasi
Merupakan salah satu cara menghindari
tanggung jawab negara atas pelanggaran
HAM.
a. pengertian derogasi adalah pengecu-
alian, yaitu suatu mekanisme di mana
suatu negara menyimpangi tanggung
jawabnya secara hukum karena adanya
situasi yang darurat.
b. Alasan derogasi.
alasan yang boleh adalah digunakan un-
tuk suatu keadaan darurat dan mengan-
cam kelangsungan hidup suatu negara,
ancaman esensial terhadap dan keaman-
an nasional, disintegrasi bangsa, perang
saudara bencana alam.
c. Efek derogasi .
memungkinkan suatu negara untuk dapat
meloloskan diri dari pelanggaran thd bagi-
an tertentu suatu perjanjian internasional.
Derogasi yang sah atas penahanan berarti
tidak ada individu yang dapat mengajukan
pengaduan terhadap negara atas pena-
hanan yang tidak sesuai dengan hukum
dan tidak ada badan internasional yang
• dpt menyelidiki kesahihan penahanan yang dilakukan negara itu.
• Pasal 4 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik
menyatakan bahwa:
(1) Dalam keadaan darurat umum yang mengancam kehidupan
bangsa dan terdapatnya keadaan darurat tersebut telah diumumkan
secara resmi, Negara Pihak pada Kovenan ini dapat mengambil
tindakan untuk mengurangi kewajiban mereka menurut Kovenan ini,
sejauh yang sungguh-sungguh diperlukan oleh tuntutan situasi,
dengan ketentuan bahwa tindakan tersebut tidak bertentangan
dengan kewajiban lain Negara Pihak menurut hukum internasional
dan tidak menyangkut diskriminasi yang semata-mata didasarkan
atas ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama atau asal-usul
sosial.
Reservasi
• (Ps.2 ayat (1) huruf d Kovensi Wina 1969. Reservasi
adalah pernyataan unilateral,dalam rumus dan nama
apapun, yang dibuat oleh negara ketika menanda
tangani meratifikasi, menerima, menyetujui atau
mengesahkan suatu perjanjian internasional yang
bersifat multilateral,dimana negara tersebut bermaksud
mengecualikan atau memodifikasi efek hu-kum dari
ketentuan tertentu dalam perjanjian internasional yang
akan dilaksanakan di negara tersebut.
• Reservasi harus diberitahukan kepada semua negara
pihak
Pengecualian reservasi
1. Reservasi secara eksplisit dilarang oleh
perjanjian internasional yang bersangkut-
an baik untuk keseluruhan atau sebagian
dari PI yang bersangkutan.
2. PI yang bersangkutan menetapkan
bahwa hanya reservasi khusus yang
dapat dibuat.
3. Reservasi tidak sesuai dng sasaran dan
maksud PI yang bersangkutan.
Larangan reservasi
Larangan Reservasi terhadap keseluruhan
Perjanjian Internasional seperti Konvensi
Tambahan tentang Penghapusan
Perbudakan, Perda-gangan budak,
Lembaga dan Praktek yang Sama dengan
Perbudakan. Lihat pada Statuta Roma
Ps.120)
Reservasi Indonesia
Persyaratan terhadap Ps. 32 Konvensi
Internasional tentang Segala Bentuk
Diskriminasi Rasial 1965.
- perselisihan akibat penafsiran dan
penerapan isi diselesaikan melalui
Mahkamah Internasional, yang mana
membutuhkan kesepakatan para pihak
Akibat Reservasi
• 1. Membatasi suatu tanggung jawab
negara. Reservasi yang sah berarti negara
tidak terikat pasal atau ayat tertentu dalam
suatu perjanjian internasional.
Deklarasi
• Meratifikasi, menerima, menyetujui, atau
mengaksesi perjanjian internasional yang
bersangkutan, maka pernyataan demikian
walau dinamakan “deklarasi” pada hake-
katnya adalah reservasi sebagaimana
yang diatur dalam Konvensi Wina tentang
Perjanjian Internasional 1969.
Deklarasi dapat dilakukan oleh negara-
negara. Beberapa negara menggunakan
istilah deklarasi ketika efek dari suatu
tindakan adalah reservasi. Suatu
pernyataan itu menunjukkan kehendak
suatu negara untuk meniadakan atau
memodifikasi akibat hukum ketentuan
tertentu PI pada waktu menandatangani
Pernyataan Indonesia
• Pemerintah RI menyatakan bahwa keten-
tuan Pasal 20 ayat (1), ayat (2) dan (3)
Konvensi akan dilaksanakan dengan
memenuhi prinsip-prinsip kedaulatan dan
keutuhan wilayah suatu negara.
- Pernyataan tercantum dalam lampiran UU.
No.5 tahun 1998 yang mengesahkan Kon-
vensi menentang Penyiksaan dan Perla-
kuan atau Penghukuman Lain yang kejam.
• Posisi yang sama dilakukan Indonesia se-
sui Ps. 1 angka 6 UU No. 24 Tahun 2000
tentang Perjanjian Internasional pada
waktu mengesahkan Konvensi Internasi-
onal tentang Hak Sipil dan Politik , 1966.
• Istilah hak untuk menentukan nasib sen-
diri sebagaimana yang tercantum dalam
pasal ini (ps.1) tidak berlaku untuk bagian
rakyat dalam suatu negara merdeka yang
...berdaulat dan tidak dapat diartikan seba-
gai mensahkan atau mendorong tindakan-
tindakan yang akan memecah belah atau
merusak, seluruh atau sebagian dari
integritas atau kesatuan wilayah politik
dari negara yang berdaulat dan merdeka.
Hak-hak terbatas
Pasal 8 ayat 1 Konvensi Internasional ten-
tang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
menyatakan bahwa hak serikat buruh
untuk berserikat…………… tidak terikat
pada batasan2 kecuali batasan yang
ditetapkan oleh hukum.
Efek Pembatasan. Biasanya pembatasan
dicantumkan dalam hukum nasional, se-
mua orang dianggap tahu dan pelaksana-
annya tidak boleh sewenang-wenang.
Subyek Hukum Hak Asasi
Manusia
• Pengertian subyek HI adalah : Intitas
(individu, sekelompok orang, sebuah peru-
sahaan atau organisasi) yang memiliki hak
dan kewajiban berdasarkan HI.
• Mengajukan perkara ke pengadilan inter-
nasional, mengadakan perjanjian, melaku-
kan kontrol (dalam konteks tertentu) dlm
melaksanakan wewenang dan tanggung
jawabnya.
Subyek hukum Hak Asasi
Manusia
1. Aktor Negara – Pemangku Kewajiban
2. Aktor Non Negara – Pemangku
Kewajiban
3. Aktor non negara – pemangku hak
Aktor negara – pemangku hak
• Negara sebagai international personality
• Negara dianggap melakukan pelanggaran
berat HAM jika:
- negara tidak berupaya melindungi atau
justru meniadakan hak2 warga negaranya
yang digolongkan non derogable
- negara membiarkan terjadinya atau
justru melakukan kejahatan HAM
Aktor Non Negara-pemangku
kewajiban
• Organisasi internasional
• Korporasi multinasional
• Kelompok bersenjata
• individu
Aktor Non Negara – Pemangku Hak

1. Individu, legal person –


beberapa perjanjian internasional
memberikan hak kpd individu unt
mengajukan pengaduan secara langsung
ke badan2 internasional
2. Kelompok lain : indigenous people,
refugees, dan minorities.
Sumber-sumber Hukum
1. Hukum kebiasaan internasional
2. Perjanjian internasional
3. Kesepakatan bilateral dan regional
Sumber-sumber yang tidak
mengikat secara hukum
1. Deklarasi organisasi-organisasi internasi-
onal dan regional :
Deklarasi Universal HAM 1948.
Deklarasi Helsinki 1925.
2. Kebijakan dan praktek internasional, mis.
Resolusi Dewan Keamanan yang
menetap-kan sanksi atas Rhodesia 1968
dan Afrika Selatan 1977.
3. Kebiijakan dan Praktek Nasional
US instrumen tentang HAM diatur dalam
konstitusi dan pernyataan Hak Asasi
Manusia.
Indonesia instrumen HAM diatur dalam
Konstitusi dan berbagai undang-undang
yang sudah diratifikasi, UU No. 11 Th.
2005 tentang Ekosob, UU. No.12 Th 2005
tentang Hak Sipil dan Politik. (+ 27 UU)
Pelanggaran HAM
Definisi : “pelanggaran terhadap kewajiban
yg lahir dari instrumen-instrumen
internasional hak asasi manusia”.
1.Dapat dilakukan karena perbuatannya
sendiri (acts of commission).
2.Karena kelalaianya sendiri (acts ommissi-
on).
Dengan kata lain Pelanggaran HAM terjadi :
” tindakan atau kelalaian oleh negara terha-
dap norma yang belum dipidana dalam
hukum pidana nasional tetapi merupakan
norma hak asasi manusia yang diakui
secara internasional”.
* Titik tekanannya pada tanggung jawab
negara
Tanggung jawab negara
Timbul bila ada pelanggaran atas suatu
kewajiban internasional untuk berbuat
atau tidak berbuat sesuatu
Dalam HAM “tanggung jawab yang timbul
sebagai akibat dari pelanggaran terhadap
kewajiban untuk melindungi dan meng-
hormati hak asasi manusia oleh negara.
Kewajiban yang lahir dari Perjanjian Inter-
nasional HAM maupun dari hukum kebia-
saan internasional.
Pandangan yang diterima
umum
• Negara tidak hanya memiliki kewajiban
menghormati (to respect) HAM yg diakui
secara internasional, tetapi juga berkewa-
jiban memastikan (to ensure) penerapan
hak-hak tersebut di dalam yurisdiksinya.
• Tindakan pencegahan – tanggung jawab
pada masyarakat internasional (erga
omnes).
Doktrin imputabilitas
• Yaitu Suatu negara bertannggung jawab
atas kesalahan yang ditimbulkan oleh
organnya
• Tindakan organ negara (legislatif,
eksekutif dan yudikatif) dianggap sebagai
tindakan negara
Konsep reparasi
• Tindakan untuk memberikan ganti rugi
beserta pemulihan atas suatu kesalahan
yang timbul akibat perang atau kejahatan
atau pelanggaran terhadao kewajiban
internasional
Kejahatan Internasional
(the most serious international crimes)
• Genisida, kejahatan terhadap kemanusia-
an, agresi, terorisme dan kejahatan pe-
rang termasuk pelanggaran HAM, tetapi
tidak dapat begitu saja disamakan de-
ngan pelanggaran HAM, sebab tanggung
jawabnya berbeda.
Paradok Hukum HAM
• Dalam berbagai negara seringkali terjadi
pelanggaran HAM, terutama wilayah kon-
flik, hanya saja negara (penguasa setem-
pat) berusaha untuk menutupi pelang-
garannya. Pada hal seharusnya ia punya
kewajiban untuk melindungi HAM.
Pelanggaran HAM senantiasa disangkal
oleh aktor yang justru harus bertanggung
jawab terhadapnya, yaitu negara.
Penyelesaian Pelanggaran
HAM
• Penyelesaian penting untuk pemulihan
(reparation) hak-hak korban.
• Tidak terulangnya pelanggaran yg serupa
di masa depan.
• Penyelesaian pelanggaran HAM merupa-
kan bagian memajukan dan melindungi
HAM secara keseluruhan. Apabila tidak
ada penyelesaian berarti imunitas tetap
berlangsung.
Hukum Acara HAM
• Sebagaimana ditegaskan dalam Bab IX
Pasal 104 UU No. 39 Tahun 1999, ayat (1)
menyatakan: Untuk mengadili pelanggar-
an hak asasi manusia yang berat dibentuk
Pengadilan Hak Asasi Manusia di
lingkung-an peradilan umum.
• Pengadilan HAM tersebut pada akhirnya
dibentuk dengan UU No. 26 Tahun 2000.
• Ini berarti, bahwa ketentuan dalam Pasal
104 merupakan dasar dari pembentukan
pengadilan khusus atas kasus-kasus
pelanggaran HAM yang berat, sehingga
bisa dinyatakan bahwa UU No. 26 Tahun
2000 merupakan lex specialis (lebih tegas,
vide: Pasal 1 angka 3).
Yurisdiksi Pengadilan HAM
• Material jurisdiction (rationae materiae),
yakni jenis pelanggaran HAM yang
berat yang bisa diadili oleh pengadilan
HAM, meliputi: Kejahatan genosida dan
Kejahatan terhadap kemanusiaan
(Pasal 4 jo. Pasal 7 UU No. 26 Tahun
2000).
• Kejahatan genosida (Pasal 8) yang dimak-
sud kejahatan genosida adalah setiap per-
buatan yang dilakukan dengan maksud
untuk menghancurkan atau memusnahkan
seluruh atau sebagian kelompok bangsa,
ras, kelompok etnis, kelompok agama,
dengan cara: (a) membunuh anggota
kelompok;
(b) mengakibatkan penderitaan fisik
atau mental yang berat terhadap
anggota-anggota kelompok;
(c) menciptakan kondisi kehidupan ke-
lompok yang akan mengakibatkan
kemusnahan secara fisik baik selu-
ruh atau sebagiannya;
(d) memaksakan tindakan-tindakan
yang bertujuan mencegah kelahir-
an di dalam kelompok;
(e) memindahkan secara paksa anak-
anak dari kelompok tertentu ke
kelompok lain.
• Definisi ‘kejahatan genosida’ dalam pasal
8 UU No. 26 Tahun 2000 tersebut sesuai
dengan kerangka normatif hukum
internasional, khususnya pasal 6 dari
Rome Statute 1998 of International
Criminal Court dan Article II Genocide
Convention 1948.
Kejahatan kemanusiaan
• Pasal 9 kejahatan kemanusiaan : “salah
satu perbuatan yang dilakukan sebagai
bagian dari serangan yang meluas atau
sistematik yang diketahuinya bahwa se-
rangan tersebut ditujukan secara langsung
terhadap penduduk sipil, berupa:
(a) pembunuhan;
(b) pemusnahan;
(c) perbudakan;
(d) pengusiran atau pemindahan penduduk
secara paksa;
(e) perampasan kemerdekaan atau peram-
pasan kebebasan fisik lain secara sewe-
nang-wenang yang melanggar (asas-
asas) ketentuan pokok hukum
internasional;
(f) penyiksaan;
(g) perkosaan, perbudakan seksual,
pelacur-
an secara paksa, pemaksaan kehamilan,
pemandulan atau sterilisasi secara paksa
atau bentuk-bentuk kekerasan seksual
lain yang setara;
(h) penganiayaan terhadap suatu kelompok
tertentu atau perkumpulan yang didasari
• persamaan paham politik, ras, kebangsa-
an, etnis, budaya, agama, jenis kelamin
atau alasan lain yang telah diakui secara
universal sebagai hal yang dilarang menu-
rut hukum internasional;
(i) penghilangan orang secara paksa;
(j) kejahatan apartheid.
• Jenis pelanggaran tersebut jelas
mengadopsi Statuta Roma, namun
tidaklah lengkap. Hal ini terlihat dari
tiadanya adopsi jenis tindakan dalam
kejahatan terhadap kemanusian yang
memasukkan pasal 7 huruf (k) Statuta
Roma,
• “Other inhumane acts of a similar charac-
ter intentionally causing great suffering, or
serious injury to body or to mental or
physical health” (Tindakan-tindakan tidak
manusiawi lainnya dengan karakter sama
secara niat menyebabkan penderitaan
hebat, atau luka serius terhadap kese-
hatan tubuh atau mental atau fisik)
• ke dalam UU No. 26 Tahun 2000.
Padahal, ayat inilah yang bisa membuka
penafsiran hukum lebih luas, terbuka, dan
antisipatif terhadap jenis-jenis kejahatan
terhadap kemanusiaan lainnya yang tidak
secara definitif disebutkan (Wiratraman
2008a).
(ii) Temporal jurisdiction (rationae temporis).
Berlakunya UU No. 26 Tahun 2000 adalah
sejak undang-undang ini diundangkan,
atau pada 23 Nopember 2000. Meskipun
demikian, berdasarkan pasal 43 ayat (1),
• dinyatakan bahwa: Pelanggaran hak asasi
manusia yang berat yang terjadi sebelum
diundangkannya Undang-undang ini, dipe-
riksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad
hoc. Ini berarti diberlakukan pula asas
retroaktif atas penyelesaian kasus-kasus
pelanggaran HAM berat sebelum 23
Nopember 2000,
• seperti kasus pembumihangusan di Timor-
Timur pasca jajak pendapat 1999, kasus
pembantaian selama DOM Aceh, kasus
Tanjung Priok, kasus Talangsari, dan
kasus Trisakti, Semanggi I-II. Pasal 43
ayat (1) dan (2) pernah diujimaterialkan
oleh Abilio Jose Osorio Soares ke
Mahkamah
• Mahkamah Konstitusi, namun mayoritas
hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat
bahwa retroaktif bisa dijalankan terhadap
kasus-kasus kejahatan paling serius seba-
gai extra-ordinary crimes yang menjadi
perhatian masyarakat internasional (Vide:
Putusan MKRI No. 065/PUU-II/2004).
• Menyangkut pelanggaran HAM yang berat
masa lalu, pernah pula dipersoalkan
mengenai wewenang DPR dan Keputusan
Presiden melalui Mahkamah Konstitusi,
yang mana kedua lembaga non-yudisiil
tersebut mempengaruhi pembentukan
Pengadilan HAM ad hoc.
• Sebelum putusan MK No. 18/PUU-V/2007,
pengaturan kasus-kasus kategori “masa
lalu”, haruslah ditempuh melalui DPR ber-
dasarkan peristiwa tertentu dengan Kepu-
tusan Presiden, khususnya atas “dugaan
pelanggaran HAM yang berat”. Kontrol ke-
kuasaan non-yudisiil terjadi di Indonesia
saat itu bisa dipahami karena suasana
transisi politik pasca rezim otoritarian,
• yang kekuatan politiknya masih terlampau
kuat di eksekutif dan legislatif. Namun,
setelah putusan tersebut, tidak lagi
memerlukan “persetujuan politik” DPR
dalam mengupayakan penyelidikan
Komnas HAM maupun penyidikan
Kejaksaan Agung.
• “Persetujuan politik” memang sudah
seharusnya dihapus, karena dinilai
mencampuri kewenangan yudisiil dalam
mekanisme penyelesaian pelanggaran
HAM berat masa lalu, dan tidak sesuai
dengan upaya mendorong integrated
justice system
(iii) Personal jurisdiction (rationae per-
sonae). Berdasarkan Pasal 6, pengadilan
HAM ditujukan pada individu (seseorang),
dan tidak berwenang memeriksa dan me-
mutus perkara pelanggaran hak asasi ma-
nusia yang berat yang dilakukan oleh se-
seorang yang berumur di bawah 18 (dela-
pan belas) tahun pada saat kejahatan dila-
kukan.
(iv) Territorial jurisdiction (rationae loci).
Pasal 5 UU No. 26 Tahun 2005 menya-
takan bahwa Pengadilan HAM berwe-
nang juga memeriksa dan memutus
perkara pelanggaran hak asasi manusia
yang berat yang dilakukan di luar batas
teritorial wilayah negara Republik
Indonesia oleh warga negara Indonesia.
. Yang membedakan dengan Statuta Roma
adalah Pengadilan HAM yang diatur
dalam UU No. 26 Tahun masih
memberlakukan pidana mati (death
penalty). Ketentuan ini sesungguhnya
tidak saja tidak sejalan dengan Statuta
Roma sebagai standar hukum hak asasi
manusia internasional yang mengatur
kejahatan paling serius,
• .melainkan pula bertentangan dengan In-
ternational Covenant on Civil and Political
Rights 1966 (diratifikasi dengan UU No. 12
Tahun 2005), yang memiliki ketentuan
dasar tentang hak hidup sebagai non
derogable rights (hak-hak asasi manusia
yang sama sekali tidak boleh dikurangi),
yang dipertegas dengan Protokol Opsional
I tentang Penghapusan Pidana Mati.
Ketentuan hukum acara proses
peradilan HAM
• Pengaturan secara khusus dalam Bab IV
Pasal 10-33 UU No. 26 Tahun 2000.
Namun, prinsip secara umum, hukum
acara yang berlaku dalam pengadilan
HAM masih dominan bersandarkan pada
KUHAP (vide: Pasal 10 UU No. 26 Tahun
2000).
garis besar sebagai berikut :
(i) Penangkapan;
(ii) Penahanan;
(iii) Penyelidikan;
(iv) Penyidikan;
(v) Penuntutan; dan
(vi) Pemeriksaan di Sidang Pengadilan.
Penangkapan (Pasal 11)

• Jaksa Agung sebagai penyidik berwenang


melakukan penangkapan untuk kepenting-
an penyidikan terhadap seseorang yang
diduga keras melakukan pelanggaran hak
asasi manusia yang berat berdasarkan
bukti permulaan yang cukup (ayat 1). Pe-
nangkapan disertai pula dengan memper-
lihatkan surat tugas dan memberikan ke-
pada tersangka surat perintah penang-
• kapan yang mencantumkan identitas ter-
sangka dengan menyebutkan alasan pe-
nangkapan, tempat dilakukan pemerik-
saan serta uraian singkat perkara pelang-
garan hak asasi manusia yang berat yang
dipersangkakan (ayat 2), kemudian mem-
berikan tembusan surat perintah penang-
kapan kepada keluarganya segera setelah
penangkapan dilakukan (ayat 3).
Penahanan (Pasal 12-17)
• Jaksa Agung sebagai penyidik dan penun-
tut umum berwenang melakukan pena-
hanan atau penahanan lanjutan untuk
kepentingan penyidikan dan penuntutan
(Pasal 12 ayat 1).
• Hakim Pengadilan HAM dengan pene-
tapannya berwenang melakukan penahan-
an untuk kepentingan pemeriksaan di
sidang pengadilan (Pasal 12 ayat 2),
• termasuk perintah penahanan atau pena-
hanan lanjutan dilakukan terhadap ter-
sangka atau terdakwa yang diduga keras
melakukan pelanggaran hak asasi
manusia yang berat berdasarkan bukti
yang cukup, dalam hal terdapat keadaan
yang menim-bulkan kekhawatiran bahwa
tersangka atau terdakwa akan melarikan
diri, meru-sak, atau menghilangkan
barang bukti,
• dan atau mengulangi pelanggaran hak
asasi manusia yang berat (Pasal 12 ayat
3).
• Penahanan untuk kepentingan penyidikan
dapat dilakukan paling lama 90 (sembilan
puluh) hari, dapat diperpanjang untuk
waktu paling lama 90 (sembilan puluh)
hari oleh Ketua Pengadilan HAM sesuai
dengan daerah hukumnya.
• Namun, bila jangka waktu penahanan
tersebut habis dan penyidikan belum
dapat diselesaikan, maka penahanan
dapat diperpanjang paling lama 60 (enam
puluh) hari oleh Ketua Pengadilan HAM
sesuai dengan daerah hukumnya (Pasal
13).
• Penahanan untuk kepentingan penuntutan
dapat dilakukan paling lama 30 (tiga pu-
luh) hari, dapat diperpanjang untuk waktu
paling lama 20 (dua puluh) hari oleh Ke-
tua Pengadilan HAM sesuai dengan
daerah hukumnya.
• Namun, bila jangka waktu penahanan
tersebut habis dan penuntutan belum
dapat diselesaikan, maka penahan-an
dapat diperpanjang paling lama 20 (dua
puluh) hari oleh Ketua Pengadilan HAM
sesuai dengan daerah hukumnya (Pasal
14).
• Penahanan untuk kepentingan pemerik-
saan di sidang Pengadilan HAM dapat
dilakukan paling lama 90 (sembilan puluh)
hari dan dapat diperpanjang untuk waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari oleh Ketua
Pengadilan HAM sesuai dengan daerah
hukumnya (Pasal 15).
• Penahanan untuk kepentingan pemerik-
saan banding di Pengadilan Tinggi dapat
dilakukan paling lama 60 (enam puluh)
hari dan dapat diperpanjang untuk waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari oleh Ketua
Pengadilan Tinggi sesuai dengan daerah
hukumnya (Pasal 16).
• Penahanan untuk kepentingan pemerik-
saan kasasi di Mahkamah Agung dapat
dilakukan paling lama 60 (enam puluh)
hari dan dapat diperpanjang untuk waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari oleh Ketua
Mahkamah Agung (Pasal 17).
• Yang menarik sebagai kekhususan dalam
UU No. 26 Tahun 2000 adalah alasan
penahanan. Alasan penahanan dalam
hukum acara ini didasarkan atas alasan
subyektif dari penyidik atau majelis hakim
atas kondisi yang disyaratkan tersebut.
• Dengan demikian, pertimbangan atas
adanya bukti permulaan yang cukup,
kekhawatiran akan menghilangkan barang
bukti atau akan melakukan pelanggaran
HAM yang berat adalah alasan atas
penilaian dari pihak yang berwenang
untuk melakukan penyidikan atau hakim
yang memeriksa terdakwa.
• Hal ini berbeda dengan ketentuan dalam
KUHAP yang juga mensyaratkan adanya
unsur obyektif untuk dapat dilakukan
penahanan kepada tersangka maupun
terdakwa.
Penyelidikan (Pasal 18-20)
• Dalam hal penyelidikan terhadap pelang-
garan hak asasi manusia yang berat dila-
kukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi
Ma-nusia (Komnas HAM). Komnas HAM
dalam melakukan penyelidikan dapat
membentuk tim ad hoc yang terdiri atas
anggota Kom-nas HAM dan unsur
masyarakat (Pasal 18).
• Kekhususan penyelidikan untuk
pelanggaran HAM yang berat oleh
Komnas HAM ini merupakan penyelidikan
yang sifatnya pro justitia, dimana Komnas
HAM dianggap tidak memiliki kepentingan
terkecuali upaya penghormatan,
perlindungan dan pemenuhan hak asasi
manusia.
Wewenang penyelidik
Pasa; 19
a. melakukan penyelidikan dan pemeriksaan
terhadap peristiwa yang timbul dalam
masyarakat yang berdasarkan sifat atau
lingkupnya patut diduga terdapat pelang-
garan hak asasi manusia yang berat;
b. menerima laporan atau pengaduan dari
seseorang atau kelompok orang tentang
terjadinya pelanggaran hak asasi manusia
yang berat, serta mencari keterangan dan
barang bukti;
c. memanggil pihak pengadu, korban, atau
pihak yang diadukan untuk diminta dan
didengar keterangannya;
d. memanggil saksi untuk diminta dan
didengar kesaksiannya;
e. meninjau dan mengumpulkan keterangan
di tempat kejadian dan tempat lainnya
yang dianggap perlu;
• f. memanggil pihak terkait untuk
memberikan keterangan secara tertulis
atau menyerahkan dokumen yang
diperlukan sesuai dengan aslinya;
• g. atas perintah penyidik dapat melakukan
tindakan berupa:
1) pemeriksaan surat;
2) penggeledahan dan penyitaan;
3) pemeriksaan setempat terhadap rumah,
pekarangan, bangunan, dan tempat-
tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki
pihak tertentu;
4) mendatangkan ahli dalam hubungan
dengan penyelidikan.
• Dalam hal Komnas HAM berpendapat
bahwa terdapat bukti permulaan yang
cukup telah terjadi peristiwa pelanggaran
hak asasi manusia yang berat, maka
kesimpulan hasil penyelidikan
disampaikan kepada penyidik. Kemudian,
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah
kesimpulan hasil penyelidikan
disampaikan,
• Komnas HAM menyerahkan seluruh hasil
penyelidikan kepada penyidik (Pasal 20
ayat 1 dan 2). Bila penyidik berpendapat
bahwa hasil penyelidikan masih kurang
lengkap, penyidik segera mengembalikan
hasil penyelidikan tersebut kepada
penyelidik
• disertai petunjuk untuk dilengkapi dan
dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal diterimanya hasil penyelidikan,
penyelidik wajib melengkapi kekurangan
tersebut (Pasal 20 ayat 3).
Penyidikan (Pasal 21-22)

• Penyidikan perkara pelanggaran hak asasi


manusia yang berat dilakukan oleh Jaksa
Agung (Pasal 21 ayat 1). Dalam pelaksa-
naan tugas penyidikan, Jaksa Agung
dapat mengangkat penyidik ad hoc yang
terdiri atas unsur pemerintah dan atau
masya-rakat (Pasal 21 ayat 3).
• Penyidikan wajib diselesaikan paling
lambat 90 (sembilan puluh) hari terhitung
sejak tanggal hasil penyelidikan diterima
dan dinyatakan lengkap oleh penyidik
(Pasal 22 ayat 1), dan dapat diperpanjang
untuk waktu paling lama 90 (sembilan
puluh) hari oleh Ketua Pengadilan HAM
sesuai dengan daerah hukumnya.
• Bila dalam batas waktu tersebut
penyidikan belum dapat diselesaikan,
penyidikan dapat diperpanjang paling
lama 60 (enam puluh) hari oleh Ketua
Pengadilan HAM sesuai dengan daerah
hukumnya (Pasal 22 ayat 3).
• Bila hasil penyidikan tidak diperoleh bukti
yang cukup, maka wajib dikeluarkan surat
perintah penghentian penyidikan oleh
Jaksa Agung (Pasal 22 ayat 4), sampai
penyidikan dapat dibuka kembali dan
dilanjutkan apabila terdapat alasan dan
bukti lain yang melengkapi hasil
penyidikan untuk dilakukan penuntutan.
• Dalam hal penghentian penyidikan tidak
dapat diterima oleh korban atau
keluarganya, maka korban, keluarga
sedarah atau semenda dalam garis lurus
ke atas atau ke bawah sampai dengan
derajat ketiga,
• berhak mengajukan praperadilan kepada
Ketua Pengadilan HAM sesuai dengan
daerah hukumnya dan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Pasal 22 ayat 6).
Penuntutan (Pasal 23-25)
• Penuntutan perkara pelanggaran HAM
yang berat dilakukan oleh Jaksa Agung
(Pasal 23 ayat 1). Dalam hal penuntutan,
Jaksa Agung dapat mengangkat penuntut
umum ad hoc yang terdiri atas unsur
pemerintah dan atau masyarakat (Pasal
23 ayat 2). Penuntutan wajib dilaksanakan
paling lambat 70 (tujuh puluh) hari
terhitung sejak tanggal hasil penyidikan
diterima (Pasal 24).
• Penuntutan wajib dilaksanakan paling lam-
bat 70 (tujuh puluh) hari terhitung sejak
tanggal hasil penyidikan diterima (Psl.24)
• Komnas HAM sewaktu-waktu dapat me-
minta keterangan secara tertulis kepada
Jaksa Agung mengenai perkembangan
pe-nyidikan dan penuntutan perkara
pelang-garan hak asasi manusia yang
berat (Pasal 25).
Pemeriksaan di Sidang
Pengadilan (Pasal 27-33)
• Perkara pelanggaran hak asasi manusia
yang berat diperiksa dan diputus oleh
Pengadilan HAM, dengan jumlah 5 (lima)
orang anggota majelis hakim Pengadilan
HAM, yang terdiri atas 2 (dua) orang
hakim pada Pengadilan HAM yang
bersangkutan dan 3 (tiga) orang hakim ad
hoc (Pasal 27 ayat 1-2).
• Hakim ad hoc diangkat dan diberhentikan
oleh Presiden selaku Kepala Negara atas
usul Ketua Mahkamah Agung (Pasal 28
ayat 1), dengan jumlah hakim sekurang-
kurangnya 12 (dua belas) orang. Hakim ad
hoc diangkat untuk selama 5 (lima) tahun
dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu)
kali masa jabatan.
• Menyangkut Acara Pemeriksaan, perkara
pelanggaran hak asasi manusia yang
berat, diperiksa dan diputus oleh
Pengadilan HAM dalam waktu paling lama
180 (seratus delapan puluh) hari terhitung
sejak perkara dilimpahkan ke Pengadilan
HAM (Pasal 31).
Pemeriksaan Banding
• Dalam hal perkara pelanggaran hak asasi
manusia yang berat dimohonkan banding
ke Pengadilan Tinggi, maka perkara
tersebut diperiksa dan diputus dalam
waktu paling lama 90 (sembilan puluh)
hari terhitung sejak perkara dilimpahkan
ke Pengadilan Tinggi (Pasal 32 ayat 1).
• Pemeriksaan perkara di Pengadilan Tinggi
dilakukan oleh majelis hakim berjumlah 5
(lima) orang yang terdiri atas 2 (dua)
orang hakim Pengadilan Tinggi yang
bersangkutan dan 3 (tiga) orang hakim ad
hoc.
Pemeriksaan Kasasi
• Sedangkan dalam hal perkara
pelanggaran hak asasi manusia yang
berat dimohonkan kasasi ke Mahkamah
Agung, perkara tersebut diperiksa dan
diputus dalam waktu paling lama 90
(sembilan puluh) hari terhitung sejak
perkara dilimpahkan ke Mahkamah Agung
(Pasal 33 ayat 1).
• Pemeriksaan perkara di Mahkamah Agung
dilakukan oleh majelis hakim yang
berjumlah 5 (lima) orang terdiri atas 2
(dua) orang Hakim Agung dan 3 (tiga)
orang hakim ad hoc (Pasal 33 ayat 2).
Jumlah hakim ad hoc di Mahkamah Agung
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang (Pasal
33 ayat 3).
• Hakim ad hoc di Mahkamah Agung diang-
kat oleh Presiden selaku Kepala Negara
atas usulan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia, dengan satu kali
masa jabatan selama 5 (lima) tahun
(Pasal 33 ayat 4-5).
Perlindungan Saksi dan Korban

• Salah satu hal yang terpenting dalam


proses pemeriksaan tersebut adalah
menyangkut perlindungan korban dan
saksi, yang mana setiap korban dan saksi
dalam pelanggaran hak asasi manusia
yang berat berhak atas perlindungan fisik
dan mental dari ancaman, gangguan,
teror, dan kekerasan dari pihak manapun.
• Perlindungan tersebut wajib dilaksanakan
oleh aparat penegak hukum dan aparat
keamanan secara cuma-cuma (Pasal 34).
Dalam praktek, pengalaman pengadilan
HAM ad hoc untuk kasus pelanggaran
HAM berat di Tim-tim menunjukkan bahwa
ancaman dan tekanan pada saksi bukan
saja terjadi pada saksi korban tapi juga
saksi-saksi yang bukan korban.
• Saksi korban ini terpaksa berhadapan
langsung dengan para pelaku yang meru-
pakan orang yang sangat berkuasa di da-
erahnya dan adanya perasaan trauma
atas perbuatan para terdakwa. Perlakukan
ter-hadap saksi korban selama
memberikan keterangan di pengadilan
juga tidak lepas intimidasi dan teror yang
berakibat terha-dap ancaman psikologis
saksi.
• Sebagai peraturan pelaksana dari UU No.
26 Tahun 2000, pemerintah telah menge-
luarkan Peraturan Pemerintah No. 2 Ta-
hun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan
Terhadap Korban dan Saksi dalam
Pelang-garan Hak Asasi Manusia yang
Berat. Bentuk-bentuk perlindungan,
sebagai ditegaskan dalam pasal 4 PP
tersebut adalah:
• a. Perlindungan atas keamanan pribadi
korban atau saksi dari ancaman fisik dan
mental;
• b. Perahasiaan identitas korban atau
saksi;
• c. Pemberian keterangan pada saat
pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa
bertatap muka dengan tersangka.
Pemeriksaan tanpa kehadiran
terdakwa
• Dengan ketentuan ini, maka salah satu
yang menjadi prosedur pembuktian secara
khusus di pengadilan HAM dalam rangka
melindungi saksi dan korban pelanggaran
HAM yang berat, proses pemeriksaan
saksi dapat dilakukan dengan tanpa
hadirnya terdakwa.
• Dengan ketentuan ini diharapkan tanpa
kehadiran terdakwa akan mengurangi
perasaan tertekan dan trauma bagi saksi
atau korban sebagai saksi untuk
membeberkan fakta dan data.
• Semakin lengkap pengaturannya, sejak
disahkannya UU No. 13 Tahun 2006
tentang Perlindungan Saksi dan Korban,
yang menambah ketentuan normatif
bentuk perlindungan dan hak-hak bagi
saksi dan korban.
Kompensasi, Restitusi dan
Rehabilisasi
• Pasal 35 UU No. 26 Tagun 2000 tentang
kompensasi, restitusi dan rehabilitasi :
(1) Setiap korban pelanggaran hak asasi
manusia yang berat dan atau ahli
warisnya dapat memperoleh kompensasi,
restitusi, dan rehabilitasi;
(2) Kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dicantumkan dalam amar putusan
Pengadilan HAM.
• (3) Ketentuan mengenai kompensasi,
restitusi, dan rehabilitasi diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
• Pasal 1 angka 4-6 PP No. 3 Tahun 2002.
Kompensasi didefinisikan sebagai ganti
kerugian yang diberikan oleh negara
karena pelaku tidak mampu memberikan
ganti kerugian sepenuhnya yang menjadi
tanggung jawabnya.
• Restitusi adalah ganti kerugian yang
diberikan kepada korban atau keluarganya
oleh pelaku atau pihak ketiga, dapat
berupa pengembalian harta milik,
pembayaran ganti kerugian untuk
kehilangan atau penderitaan, atau
penggantian biaya untuk tindakan tertentu.
• Dan definisi rehabilitasi adalah pemulihan
pada kedudukan semula, misalnya
kehormatan, nama baik, jabatan, atau
hak-hak lain.