Anda di halaman 1dari 46

Penyakit Paru Obstruktif

Kronik (PPOK)

Dr. Nurul Isnaini Damanik

Pendamping
dr. Desi Puspa A. Siregar
dr. Etiya Ekayana

RSUD SIPIROK TAPANULI SELATAN


I. IDENTITAS PASIEN

NAMA :Tn. ATR


JENIS KELAMIN : laki-laki
USIA : 83 Tahun
SUKU BANGSA : Batak
AGAMA : Islam
ALAMAT : Tolang Dolok
PEKERJAAN : Petani
TANGGAL MASUK :30 Juni 2015
II. ANAMNESA

Keluhan utama: Sesak nafas


Riwayat penyakit sekarang:
os datang kerumah sakit dengan keluhan sesak ± 2hari
yang lalu. Sesak dirasakan hilang timbul. Batuk berdahak
(+), warna kuning kental yang muncul bersamaan dengan
sesak. Sesak sering dirasakan jika os melakukan aktivitas
yang lumayan berat. Sesak tidak dipengaruhi cuaca,sesak
disertai dengan suara ngik-ngik. Sesak dirasakan pertama
kali 5 tahun yang lalu, dengan keluhan sesak nafas
TELAAH disertain batuk. Awalnya sesak hanya muncul satu kali
dalam sebulan, namun semakin lama semakin sering
kambuh, terutama jika os melakukan aktivitas yang berat
dan menghilang jika os beristirahat. Selama ini os
mengaku pernah berobat ke mantri. Keluhan sesak
menghilang tetapi muncul kembali. Os mempunyai
riwayat merokok sejak usia muda, sampai sekarang. Kira
± 2 bungkus perhari. Mual (+),muntah (-), demam (-),
sakit kepala (-)
BAK: normal
BAB : normal
• Riwayat penyakit terdahulu :
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat OAT : disangkal
• Riwayat pribadi : merokok dari usia muda hingga
sekarang, ± 2 bungkus perhari
• Riwayat keluarga :
- Riwayat penyakit serupa : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat OAT : disangkal
Pemeriksaan Umum

STATUS PRESENT

Anemia : (-)
Sensorium : Compos Mentis Ikterik : (-)
Tekanan Darah : 130/90 mmHg
Nadi : 100x/menit Dyspnoe : (+)
Frekuensi napas: 36 x/ menit Oedem : (-)
Temperatur : 36 °C Sianosis : (-)
A. Pemeriksaan Fisik
A.Status generalisata
 Kepala : Dalam Batas Normal
 Mata : - Refleks Cahaya (+/+)
- Pupil isokor (+/+)
- Konjungtiva anemis (-/-)
- Skelera ikterik (-/-)
 Hidung : Dalam Batas Normal
 Telinga : Dalam Batas Normal
 Mulut : Pursed lips breathing (+)
 Leher : Dalam Batas Normal
Rongga Dada Rongga Abdomen

Inspeksi Simetris fusiformis,tidak ada Simetris


retraksi, tidak nampak
ketinggalan bernafas, IC tidak
terlihat. Barrel chest
Palpasi SF melemah ka=ki Soepel, H/L/R ttb,
nyeri tekan (-)
Perkusi Hipersonor dikedua lapangan Timpani
paru
Auskultasi SP : vesikuler, ekskresi peristaltik (+)
memanjang (+), ST: ronkhi normal
(+/+), wheezing (+/+)
Ekstremitas
• Superior : Akral hangat, oedem (-), sianosis (-)
• Inferior : Akral hangat, oedem (-), sianosis (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Rutin
• Leukosit : 19.24m/mm3
• Hematokrit : 41.8%
• Hemoglobin : 13.2g/dl
BTA : (-)
Foto thorax

Kesan foto : empisema lung


Diagnosa

Diagnosa Banding : PPOK Eksaserbasi Akut


Asma
CHF
TB
Bronkiektasis

Diagnosa Kerja : PPOK Eksaserbasi Akut


PENATALAKSANAAN

• Tirah baring
• Diet MB
• 02 2-4 L/ i
• Ventoline nebule/6 jam
• IVFD RL+ aminophilin 16 gtt/i
• Inj.Dexamethasone 1amp/8jam
• Inj.Cefotaxime 1 gr/ 12 jam
• Inj.Ranitidine 1 amp/12 jam
• Ambroxol syr 3xCI
• Konsul ke dokter spesialis paru
Follow up
1 Juli 2015 2 Juli 2015
S : sesak nafas (+) , batuk berdahak (+) S : sesak berkurang , batuk berdahak (+)
O : TD: 130/80mmHg O : TD: 130/90mmHg
HR : 80x/ i HR : 100x/ i
RR : 32x/ i RR : 28x/ i
Temp : 36,2 C Temp : 36 C
Ronkhi (+/+), ekskresi memanjang, wheezing Ronkhi (+/+), ekskresi memanjang, wheezing
(+/+) (+/+)
A : PPOK eksaserbasi akut A : PPOK eksaserbasi akut
P : O2 2-4 l/ I P : O2 2-4 l/ I
Ventoline nebule/6 jam Ventoline nebule/6 jam
-IVFD RL+ aminophilin 16 gtt/i -IVFD RL+ aminophilin 16 gtt/i
-Inj.Dexamethasone amp/8jam -Inj.Dexamethasone amp/8jam
-Inj.Ceftriaxone amp/ 12 jam -Inj.Ceftriaxone amp/ 12 jam
-Inj.Ranitidine amp/12 jam -Inj.Ranitidine amp/12 jam
-Ambroxol syr 3xCI -Ambroxol syr 3xCI
3 Juli 2015 4 Juli 2015
S : sesak nafas berkurang , batuk berdahak S : sesak berkurang , batuk berdahak (+)
(+) O : TD: 130/90mmHg
O : TD: 130/80mmHg HR : 100x/ i
HR : 86x/ i RR : 24x/ i
RR : 24x/ i Temp : 36 C
Temp : 36,2 C Ronkhi (+/+), ekskresi memanjang, wheezing
Ronkhi (+/+), ekskresi memanjang, wheezing (+/+)
(+/+) A : PPOK eksaserbasi akut
A : PPOK eksaserbasi akut P : O2 2-4 l/ I
P : O2 2-4 l/ I Ventoline nebule/6 jam
Ventoline nebule/6 jam -IVFD RL16 gtt/i
-IVFD RL+ aminophilin 16 gtt/i -Inj.Dexamethasone amp/8jam
-Inj.Dexamethasone amp/8jam -Inj.Ceftriaxone amp/ 12 jam
-Inj.Ceftriaxone amp/ 12 jam -Inj.Ranitidine amp/12 jam
-Inj.Ranitidine amp/12 jam -Ambroxol syr 3xCI
-Ambroxol syr 3xCI
Level kopetensi

Stomach and duodenum Standart


competention
Penyakit Paru Obstruksi Kronik 3B
eksaserbasi akut

Tingkat kemampuan 3 :mendiagnosa, melakukan penatalaksanaan


awal, dan merujuk
3A. Bukan gawat darurat
3B. Gawat darurat
Definisi

Penyakit paru kronik yang ditandai


oleh hambatan aliran udara di saluran
napas yang bersifat progressif
nonreversibel atau reversibel parsial.
Bronkitis kronik

Kelainan yang ditandai oleh batuk


kronik berdahak minimal 3 bulan
PPOK dalam setahun,sekurang-kurangnya
dua tahun berturut - turut, tidak
disebabkan penyakit lainnya.

Emfisema

Suatu kelainan anatomis paru yang


ditandai oleh pelebaran rongga udara
distal bronkiolus terminal,disertai
kerusakan dinding alveoli.
FAKTOR RISIKO

1. Rokok

Riwayat merokok Derajat berat merokok dengan Indeks


-Perokok aktif Brinkman (IB):
-Perokok pasif jumlah rata-rata batang rokok dihisap
- Bekas perokok sehari dikalikan lama merokok dalam
tahun :

Ringan : 0-200
Sedang:200-600
Berat : >600
2. Riwayat terpajan polusi udara

FAKTOR RISIKO 3. Hipereaktiviti bronkus

4. Riwayat infeksi saluran napas


bawah berulang
Konsep patogenesis PPOK
Inhalasi bahan berbahaya

Inflamasi

Mekanisme Mekanisme
perlindungan perbaikan

Kerusakan jaringan paru

Penyempitan saluran Destruksi


napas dan fibrosis parenkim Hipersekresi mukus
PERBEDAAN ASMA DENGAN PPOK

IRREVERSIBEL REVERSIBEL

Hansel T, Barnes P An Atlas of COPD, 2004


DIAGNOSIS

Gambaran klinis Pemeriksaan penunjang

Anamnesis Pemeriksaan fisis


Pemeriksaan khusus

Pemeriksaan rutin
• Keluhan
• Riwayat penyakit
• Faktor predisposisi
Pemeriksaan fisis

Inspeksi Palpasi
-Pursed-lips breathing Pada emfisema fremitus
-Barrel chest melemah, sela iga melebar
-Penggunaan otot bantu napas
- Hipertropi otot bantu napas
- Pelebaran sela iga
-Bila telah terjadi gagal jantung
kanan terlihat denyut vena
jugularis leher dan edema tungkai
-Penampilan pink puffer atau blue
bloater
Perkusi Auskultasi
Pada emfisema hipersonor •Suara napas vesikuler
dan batas jantung normal, atau melemah
mengecil, letak diafragma •Terdapat ronki dan atau
rendah, hepar terdorong mengi pada waktu
ke bawah, pekak jantung bernapas biasa atau pada
<< ekspirasi paksa
•Ekspirasi memanjang
•Bunyi jantung terdengar
jauh
BARREL CHEST KAHEKSIA
PINK PUFFER & PURSED LIP BREATHING

BLUE BLOTTER THREE POINT POSTURE


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan rutin

1. Faal paru

Spirometri (VEP1, VEP1 prediksi, KVP, VEP1/KVP)


VEP1 > 80%
VEP1 /KVP <75%
Uji bronkodilator
Dilakukan dengan menggunakan spirometri atau APE meter. Setelah
pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, 15-20 menit
kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE, yakni< 20% nilai
awal dan< 200 ml. Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil
S
P
I
R
O
M
E
T
R
I
2. Darah rutin (Hb, Ht, leukosit)

3. Radiologi

Emfisema Bronkitis kronik


-Hiperinflasi •Normal
- Hiperlusen •Corakan bronkovaskuler
-Ruang retrosternal bertambah pada 21 %
melebar kasus
- Diafragma mendatar
EMFISEMA BRONKITIS KRONIK
DIAGNOSIS BANDING

•Asma
•SOPT (Sindroma Obstruksi Pasca Tuberculososis)
• Pneumotoraks
•Gagal jantung kronik
•Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lain
misal : bronkiektasis, destroyed lung.
Perbedaan asma, PPOK dan SOPT

Asma PPOK SOPT


Timbul pada usia muda ++ - +
Sakit mendadak ++ - -
Riwayat merokok +/- +++ -
Riwayat atopi ++ + -
Sesak dan mengi berulang +++ + +
Batuk kronik berdahak + ++ +
Hipereaktiviti bronkus +++ + +/-
Reversibiliti obstruksi ++ - -
Variabiliti harian ++ + -
Eosinofil sputum + - ?
Neutrofil sputum - + ?
• Klasifikasi •Gejala Spirometri
•Penyakit

•RINGAN •Tidak ada gejala waktu istirahat atau VEP > 80%
bila eksersais prediksi
•Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi VEP/KVP <
gejala ringan pada latihan sedang (mis : 75%
berjalan cepat, naik tangga)

SEDANG •Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi VEP 30 - 80%


mulai terasa pada latihan / kerja ringan prediksi
(mis : berpakaian) VEP/KVP <
•Gejala ringan pada istirahat 75%

BERAT •Gejala sedang pada waktu istirahat VEP1<30%


•Gejala berat pada saat istirahat prediksi
•Tanda-tanda korpulmonal VEP1/KVP < 75%
TANDA KEPARAHAN KLINIS

Tanda keparahan klinis :


-. pemakaian otot bantu pernafasan,
-. gerakan dinding dada yang paradoksikal,
-. muncul sianosis sentral atau makin bertambah,
-. adanya udem kaki,
-. hemodinamik tidak stabil
-. ada gangguan mental.
INDIKASI RAWAT INAP
Indikasi rawat inap di rumah sakit :
-. Gejala sangat berat seperti sesak waktu istirahat.
-. Penderita PPOK berat.
-. Muncul tanda-tanda fisik baru : sianosis, udem.
-. Tidak respon terhadap pengobatan medis awal.
-. Ada penyakit penyerta : gagal jantung, aritmia.
-. Sering mengalami eksaserbasi.
-. Usia tua.
-. Perawatan dirumah kurang mendukung.
PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan secara umum PPOK


1. Edukasi
2. Obat - obatan
3. Terapi oksigen
4. Ventilasi mekanik
5. Nutrisi
6. Rehabilitasi
OBAT-OBATAN
Golongan antikolinergik
Golongan agonis beta - 2
1. Bronkodilator Kombinasi antikolinergik dan
agonis beta – 2
Golongan xantin

Glukokortikosteroid inhalasi
2. Antiinflamasi Glukokortikosteroid oral atau
sistemik
Lini I :
 amoksisilin
3. Antibiotika  makrolid
Lini II : amoksisilin dan asam klavulanat
 sefalosporin
 kuinolon
 makrolid baru
4. Antioksidan
5. Mukolitik Terapi oksigen jangka pendek
(short term oxygen therapy)
6. Terapi oksigen Terapi oksigen jangka panjang
(long term oxygen therapy / LTOT)

7. Ventilasi mekanik MV dengan intubasi


MV tanpa intubasi NIPPV (CPAP)
Malnutrisi Bertambahnya kebutuhan
5. Nutrisi energiakibat kerja muskulus respirasi yang
meningkat karena hipoksemia kronik dan
hiperkapni terjadi hipermetabolisme

Tujuan meningkatkan toleransi


6. Rehabilitasi PPOK latihan dan memperbaiki kualiti hidup
penderita PPOK
IV. PENATALAKSANAAN PPOK
EKSASERBASI

Terjadi perburukan gejala dibandingkan dengan kondisi


sebelumnya.

Gejala eksaserbasi :
- Sesak bertambah
- Produksi sputum meningkat
- Perubahan warna sputum
EKSASERBASI AKUT AKAN DIBAGI
MENJADI TIGA

A. Tipe 1 (eksaserbasi berat), memiliki 3 gejala di atas


B. Tipe 2 (eksaserbasi sedang), memiliki 2 gejala di atas
C. Tipe 3 (eksaserbasi ringan), memiliki 1 gejala di atas
ditambah infeksi saluran napas atas lebih dari 5 hari,
demam tanpa sebab lain, peningkatan batuk,
peningkatan mengi atau peningkatan frekuensi
pernapasan > 20% baseline, atau frekuensi nadi >
20% baseline
PPOK EKSASERBASI AKUT

•Niilai berat gejala (kesadaran, frek. Nafas, peme. Fisik)


•AGDA
•Foto thoraks

•Terapi O2
•Bronkodilator
•Antibiotik
•Kortiko steroid sistemik
•Diuretik bila ada retensi cairan

Mengancam jiwa ( gagal nafas akut ) Tidak Mengancam jiwa

ICU Ruang rawat


TERIMA KASIH