Anda di halaman 1dari 17

DEFISIENSI BESI DAN

ANEMIA DEFISIENSI BESI


PADA ANAK-ANAK
DENGAN KEJANG DEMAM
Disusun oleh : anggi prasetyo
Pendahuluan

kejang
kejang yang berhubungan
berhubungan
dengan penyakit demam
di mana tidak adanya
infeksi sistem saraf pusat
pusat Klasifikasi
atau
atau abnormalitas Kejang demam sederhana KEJANG DEMAM
elektrolit akut pada anak dan kompleks.
usia 6-60 bulan tanpa
adanya kejang
kejang demam
sebelumnya.
Pendahuluan

Defisiensi Besi
memperlambat visual dan
Pengaruh dari defisiensi
auditori menimbulkan
besi didalam
potensi dan perubahan
perkembangan otak dan
Defisiensi mikronutrien didalam sistem
mekanisme seperti
yang paling sering terjadi neurotransmitter sinaptik
mengubah perkembangan
yang mempengaruhi termasuk norepinefrin,
dari neuron hipokampus,
sedikitnya satu per tiga dopamine, glutamate,
perburukan pada
populasi di dunia. Gamma Amino Butyric
metabolisme energi,
Acid (GABA) dan serotonin
terhambatnya maturasi
dapat bertanggung jawab
myelin,
pada gejala-gejala ini
Tujuan dari penelitian ini
ini ialah
ialah untuk
membandingkan status besi
diantara anak-anak yang mengalami
kejang
kejang demam pertama mereka dan
kelompok kontrol sehat. Penelitian
ini dilakukan di Yazd, satu kota di
daerah pusat Iran. TUJUAN
TUJUAN PENELITIAN
Bahan dan Metode

• Kelompok kasus terdiri dari anak usia 6 hingga 60 bulan


masuk dengan kejang demam pertama ke Rumah Sakit Shahid
Sadoughi Yadz, Iran dari Desember 2011 hingga Agustus 2012
Bahan dan Metode

Kelompok kontrol terdiri dari Kriteria ekslusi ialah


ialah :: menerima
menerima suatu
suatu
kelompok sehat dan jenis kelamin kombinasi
kombinasi besi
besi dalam
dalam waktu
waktu satu
satu bulan
bulan
kebelakang,
kebelakang, adanya
adanya penyakit
penyakit sistemik
sistemik kronik
kronik
yang cocok dengan kelompok apapun
apapun (kardiak,
(kardiak, renal,
renal, metabolic,
anak yang ditunjuk menjalani malginansi,
malginansi, reumatologik, dan
reumatologik, dan lain-lain)
lain-lain) dan
dan
mengalami keterlambatan perkembangan
layanan kesehatan rutin ke pusat neuro, riwayat kejang
kejang demam
demam sebelumnya
pelayanan kesehatan primer atau infeksi akut sistem
sistem saraf
saraf pusat
Azadhar. (meningitis, ensefalitis).
Bahan dan Metode
• Sampel darah vena diambil dari anak-anak pada kelompok kasus
dan kontrol dan level hemoglobin (Hb), hematokrit (Hct), mean
cospuscular volume (MCV), level ferritin serum, level serum besi
dan total kapasitas ikat besi (TIBC) anak-anak diukur di
laboratorium Rumah Sakit Shahis Sadoughi.
Bahan dan Metode
Anemia didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 10.5 g/dl
di dalam usia 6 bulan hingga 2 tahun dan kurang dari 11.5 g/dl pada
pasien usia 2 hingga 6 tahun.
atau kadar serum
serum besi
besi kurang
dari 22µg/dl atau saturasi
Anemia
Anemia didefinisikan
didefinisikan sebagai Defisiensi besi didefinisikan
transferring
transferring (persentase
kadar
kadar hemoglobin kurang
kurang sebagai kadar serum ferritin
dihitung
dihitung sebagai konsentrasi
dari 10.5 g/dl di dalam usia 6 <12 ng/ml jika C-Reaktif
serum
serum besi /TIBCx100)
bulan
bulan hingga 2 tahun dan Protein
Protein (CRP) ialah negatif
negatif kurang dari 16 persen.
kurang dari 11.5
11.5 g/dl pada atau 1+ , kadar ferritin <30
Kriteria mempunyai
pasien usia 2 hingga 6 tahun. ng/ml jika CRP bernilai ≥2+
sensitifitas 75% dan
dan
spesifisitas 76%
Hasil
Variabel demografk Kelompok Kelompok kontrol nilai P
kejangdemam sehat
J enisKelamin
Perempuan 21 (42%) 24 (48%) 0.55
Laki-laki 29 (59%) 26 (52%) 0.52
Usia dalam bulan (rerata ±SD) 22.78 ±11.08 24.64 ±12.28 0.52
Berat dalam kilogram (rerata ± 11.66 ±3.21 12.61 ±4.03 0.26
SD)

Tidak ada perbedaan signifikan secara statistik yang diobservasi pada


bagian distribusi jenis kelamin, rerata usia, dan berat pada kedua
kelompok.
Kelompok KejangDemam Kelompok Kontrol Nilai P
Temuan Laboratorium Rerata ±SD Rerata ±SD
Kadar Hemoglobin (g/dl) 11.46 ±1.18 11.9 ±0.89 0.042
Hematokrit (persen) 34.22 ±3.23 35.08 ±2.83 0.161
3
MCV (µm atau f) 75.51 ±5.11 75.12 ±7.37 0.766
Kadar serum ferritin 38.52 ±11.38 54.32 ±13.46 0.001
(ng/ml)
Kadar serum besi (µg/dl) 48.91 ±22.96 75.13 ±35.57 0.001
TIBC (µg/dl) 343.88 ±72.25 341.62 ±51.51 0.857

Tabel II membandingkan karakteristik laboratorium pada anak-anak


di dalam kedua kelompok yang mengindikasikan bahwa kadar level
hemoglobin dan kadar serum ferritin ialah lebih rendah pada anak-
anak dengan kejang demam.
Perbandingan frekuensi defisiensi besi dan anemia
defisiensi besi di kedua kelompok. Defisiensi besi dan
anemia defisiensi besi ialah
Variabel Kelompok Kejang Kelompok Kontrol Nilai P
Demam Sehat
J umlah Persentase J umlah Persentase
Defsiensi Besi Ya 24 48 14 38 0.03
Tidak 26 52 36 72
Total 50 100 50 100
Anemia Defsiensi Ya 11 22 5 10 0.04
Besi Tidak 39 78 45 90
Total 50 100 50 100

Perbedaan dari frekuensi defisiensi besi dan anemia defisiensi besi di


dalam kedua kelompok ditunjukkan dalam tabel III dimana
mengindikasikan bahwa defisiensi besi dan anemia defisiensi besi
lebih sering terjadi pada anak-anak dengan kejang demam.
Tabel IV. Perbandingan tipe Kejang demam dan durasi kejang pada anak-anak
dengan atau tanpa defisiensi besi. Pada anak-anak dengan defisiensi besi,
kejang demam kompleks ialah yang paling sering terjadi dan kejang lebih
lama terjadi
Variabel Kelompok dengan Kelompok tanpa Nilai P
defsiensi besi defsiensi besi
TipeKejangDemam
Sederhana 12 (37.5%) 20 (62.5%) 0.04
Komplek 12 (66.7%) 6 (3.3%)
Durasi Kejang dalam 7.52 ± 3.77 5.17 ± 2.95 0.01
menit (rerata ±SD)

menunjukkan perbandingan tipe dari kejang demam dan durasi dari kejang
di anak-anak dengan atau tanpa defisiensi besi. Hal ini mengindikasikan
bahwa pada anak-anak dengan defisiensi besi, kejang demam komplek
ialah lebih sering terjadi dan kejang yang terjadi lebih lama.
Diskusi

defisiensi besi (48% vs.28%) dan


Di penelitian ini, diantara anak-
anemia defisiensi besi (22%
anak dengan kejang demam,
vs.10%) ialah lebih sering terjadi
kadar hemoglobin, kadar serum
ada anak-anak dengan kejang
besi, dan kadar serum ferritin
demam yang mana hal ini
ialah lebih rendah dibandingkan
disetujui didalam penelitian
dengan kelompok anak sehat.
lainnya
Defisiensi besi dapat
mengubah neurotransmitter
sinaptik otak, meningkatkan
pengeluaran neurotransmitter
Glutamat, menurunkan
neurotransmitter inhibisi
GABA, menurunkan
monoamine dan hipoksemia
dari anemia defisiensi besi
dapat menjadi tanggung jawab
induksi kejang karena
defisiensi besi
Kesimpulan

• Bersadarkan dari hasil penelitian ini, defisiensi besi


dan anemia defisiensi besi ialah lebih sering terjadi
pada anak-anak dengan kejang demam dan defisiensi
besi terlihat menjadi faktor resiko penting untuk
berkembangnya konvulsi pada waktu demam.
Evaluasi dari status besi mendukung untuk dilakukan
pada anak-anak dengan kejang demam.
TERIMAKASIH