Anda di halaman 1dari 16

1.

Dalam neraca keuangan apotek tertera nilai harga pokok


penjualan, persediaan awal, persediaan akhir berturut-turut
yaitu Rp. 184.500.000, 80.500.000, 47.500.000. Berapakah kali
perputaran persediaan apotek tersebut?
A. 1,88
B. 2,88
C. 3,88
D. 4,88
E. 5,88

Perputaran persediaan = Harga pokok penjualan


persediaan rata-rata
2.Sebuah instalasi RS, akan melakukan pengadaan
produk amoxilin ke PBF. Lead time yang dibutuhkan
adalah 5 hari. Amoxilin yang terjual 10 dust perhari.
Berapakah minimal stock yang diperlukan di IFRS
tersebut.
A. 10
B. 50
C. 70
D. 80
E. 100

• Reorder point = (Lead time x average usage) + safety


stock
• Minimal stock = average use x lead time
3. Instalasi Farmasi RS ingin mengadakan metode
konsumsi, diketahui kebutuhan infus RL 81.000 untuk 6
bulan, tidak ada buffer stok dan lead time 3 bulan.
Berapa stok aman untuk Instalasi tersebut?
A. 40.500
B. 46.500
C. 210.000
D. 243.000
E. 265.000
Safety stock = lead time (hari) x kebutuhan per bulan
jumlah hari dlm 1 bulan

Safety stock = 90 hari x 13500 = 40500


30 hari
Ada 3 metode perencanaan perbekalan farmasi,
yaitu:
1. Metode konsumsi
2. Metode epidemiologi
3. Metode kombinasi
Rumus Metode Konsumsi (yang telah
disederhanakan) :
• CT = (CA x T) + SS – Sisa Stock
• Keterangan :
• CT = Kebutuhan per periode waktu
• CA = Kebutuhan rata-rata waktu (bulan)
• T = Lama kebutuhan (bulan/ tahun)
• SS = Safety Stock
4. Salah satu RS di Kalimantan tengah membeli RL (infus Ringer
Laktat) sebanyak 2000 infus dengan pembelian setiap 2 bulan
sekali. Karena pabrik obat tidak ada di Pulau Kalimantan,
sehingga infus dibeli dari Surabaya dengan lead time (waktu
tunggu) sekitar 3 minggu (21 hari), sedangkan sisa stock di RS.
hanya ada 1000 infus. Harga infus adalah Rp. 12.000/satuan,
maka hitunglah :
A. Berapa infus RL yang harus dibeli?
B. Berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli
sediaan infus tersebut ?
Sebelum memasukkan data ke dalam rumus metode konsumsi,
terlebih dahulu di hitung SS (safety stock) nya dengan :

A. Infus yang harus dibeli adalah :


CT = (CA x T) + SS – Sisa Stock
= (2000 botol x 2 bulan) + 1400 – 1000
= 4400 botol
B. Anggaran yang harus dikeluarkan = 4400 x Rp. 12.000 = Rp.
52.800.000
5. Kebutuhan obat Amoksisilin di RS. X di Bekasi setiap bulannya sebanyak
6000 obat dengan pembelian setiap 1 minggu. Karena PBF tidak ada di Bekasi,
sehingga obat dibeli dari Jakarta dengan lead time (waktu tunggu) hanya 1
hari, sedangkan sisa stock di RS. X hanya ada 500 obat. Harga amoksisilin
adalah Rp. 8.000/satuan, maka hitunglah
A. Berapa obat amoksisilin yang harus dibeli
B. Anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli obat tersebut ?
T = 1 minggu = ¼ bulan
Hitung SS (safety stock) nya terlebih dahulu yaitu dengan :

A. Infus yang harus dibeli adalah :


CT = (CA x T) + SS – Sisa Stock
= (6000 obat x ¼ bulan) + 200 obat – 500 obat
= 1200 obat

B. Anggaran yang harus dikeluarkan = 1200 x Rp. 8.000 = Rp. 9.600.000


6. Apotek XYZ melakukan pengadaan amoxicillin
3000 obat sekali dalam sebulan. Lead time 1
hari. Sisa stock 300 obat. Harga satuan
amoxicillin Rp100. Berapa anggaran yang
diperlukan apotek ?
7. Apotek SCR melaporkan bahwa selama periode januari-desember 2016
penggunaan tablet parasetamol adalah 100.000 tablet dalam periode 10
bulan. Sisa stok per 31 desember 2016 adalah 10.000 tablet. Diketahui nilai
stok minimal 20% dan lead time 3 bulan. Berapa jumlah parasetamol dalam
pengadaan tahun 2017 ?
A. 144000
B. 164000
C. 174000
D 184.000
E. 194 000
8. Suatu apotek ingin melakukan pengadaan infus X. Berdasarkan
data apotek, penggunaan infus X sebanyak 0,5 botol/hari. Stok
infus X di apotek tersebut saat ini 1 botol. Barang akan sampai
setelah 1 hari dari surat pesanan (lead time=1 hari). Berapa
banyak jumlah infus (botol) yang perlu diadakan untuk 1 minggu
ke depan?
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5
9. Instalasi farmasi menggunakan infus RL sejumlah 1200 botol per tahun.
Harga per botol Rp 90.000. Rumah sakit memperkirakan carrying cost interest
rate 20% dan biaya pemesanan = Rp 50.000/order. Berapa banyak infus RL
yang harus dipesan setiap kali pemesanan sehingga dicapai biaya total
minimal?
EOQ = 2𝑆𝐷/𝐻
S= biaya pemesanan setiap kali pesan
D = kebutuhan/permintaan dalam periode
waktu tertentu (misal: unit/tahun)
H= biaya penyimpanan per unit barang per
tahun
Q= jumlah barang setiap kali pesan
EOQ = 2𝑆𝐷/𝐻
2 𝑥 50.000𝑥1200
=
0,2 𝑥 900.000

= 25.8 ~ 26 botol
Total inventory cost = (kebutuhan/permintaan dalam periode tertentu xharga
per unit) + (H.Q/2) + SxD/Q)
Total inventory cost = (1200x900.000) + (0,2x900.000x26/2) +
(50.000x1200/26)
= Rp 1.084.647.692