Anda di halaman 1dari 37

Journal Reading

“Cystic Masses in the Floor of


the Mouth: Value of MR
Imaging in Planning Surgery”

Rizky Amalia (1608437707)


Pembimbing : dr. Yenni Oktavia, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI


Fakultas Kedokteran Universitas Riau
RSUD Arifin Achmad
2017
OUTLINE

1. Anatomi
2. Pendahuluan
3. Laporan Kasus
4. Pembahasan
CRANIUM
MENINGENS
SCALP
Meningens
Pendahuluan
Tujuan

Untuk mengetahui nilai pencitraan MRI preoperatif


untuk merencanakan pendekatan bedah
terbaik untuk mengeluarkan massa kistik di dasar mulut
Pendahuluan
Metode
11 pasien dengan massa kistik di dasar mulut dilakukan
palpasi dan sonografi.

Kemudian dilakukan pemeriksaan MRI.

Penilaian hubungan topografi yang tepat dari kista ke


otot di sekitarnya.
Kista dermoid Pemeriksaan ini
tidak selalu akurat
Anamnesis Kista epidermoid
Kista di untuk menentukan
dasar Pemeriksaan Fisik Kista koloid hubungan kista ke
mulut Sonografi Limfangioma otot sublingual,
yang penting untuk
Hemangioma
menentukan
pembedahan
terbaik.
Gambar 1. Diagram hubungan topografi kista dengan otot pada dasar mulut

Lokasi kista diatas otot geniohyoid dan mylohyoid


Lokasi kista diantara otot geniohyoid dan mylohyoid
Lokasi kista dibawah otot geniohyoid dan mylohyoid
Gambar 2. Wanita berusia 23 tahun dengan kista dermoid sublingual

Gambaran T2-weighted
(3000/90) MRI potongan aksial
menunjukkan lesi kistik (1)
dengan intensitas sinyal yang
tinggi. Otot sekitarnya tidak bisa
dibedakan.
Gambar 2. Wanita berusia 23 tahun dengan kista dermoid sublingual

Gambaran T1-weighted (700/15)


MRI dengan kontras potongan
koronal menunjukkan kista (1)
dengan intensitas sinyal rendah
yang homogen. Mylohyoid (2)
dan digastric (3) tervisualisasi
pada inferior kista, dan otot
geniohyoid (4) dan otot lidah (5)
berubah posisi ke kranial dan
lateral. Kista dieksisi dengan
pendekatan intraoral.
Gambar 2. Wanita berusia 23 tahun dengan kista dermoid sublingual

Gambaran T1-weighted
(700/15) MRI dengan kontras
potongan sagital
menunjukkan lesi kistik yang
besar yang mendorong otot
lidah (1) ke kranial dan otot
mylohyoid (2) ke kaudal.
Orofaring (tanda panah)
menyempit. 3 = lemak pre
epiglotis.
Gambar 3. Wanita berusia 24 tahun dengan kista epidermoid submandibular.

Gambaran T2-weighted
(3000/90) MRI potongan
aksial menunjukkan massa
kistik yang besar, dengan
lokasi di lateral dengan
intensitas sinyal yang tinggi.
Gambar 3. Wanita berusia 24 tahun dengan kista epidermoid submandibular.

Gambaran T1-weighted
(500/17) MRI potongan
koronal menunjukkan
perubahan otot mylohyoid ke
superior (tanda panah). Otot
digastrik (1) berada di inferior
kista; septum lingual (2)
terdorong ke lateral kanan.
Kista dieksisi dengan
pendekatan submandibular
kiri.
Gambar 4. Wanita berusia 75 tahun dengan kista submandibular.

Gambaran T1-weighted
(500/17) MRI potongan aksial
menunjukkan adanya lesi (1)
dengan intensitas sinyal yang
rendah yang tidak dapat
dibedakan dengan glandula
submandibular kiri (2). Faring
tampak normal sejajar
dengan epiglotis (3).
Gambar 4. Wanita berusia 75 tahun dengan kista submandibular.

Gambaran T1-weighted
(500/17) MRI dengan kontras
potongan koronal
menunjukkan adanya kista di
inferior otot mylohyoid (1). Lesi
ini dieksisi dengan pendekatan
submandibular. 2 = otot
genioglosus. Tanda panah =
platysma.
Gambar 5. Wanita berusia 68 tahun dengan kista koloid.

Gambaran T1-weighted (700/15)


MRI potongan sagital
menunjukkan lesi kistik (1)
dengan pusat perdarahan pada
anterior dan inferior terhadap
tulang hyoid dengan sinyal tinggi
(2). Otot pada dasar mulut (otot
mylohyoid,3) pada arah kranial
terhadap kista. 4 = otot ekstrinsik
lidah (otot genioglosus), 5 = otot
intrinsik lidah, tanda panah =
epiglotis.
Hasil
Potongan koronal dan aksial menunjukkan visualisasi terbaik
dari hubungan topografi kista dan otot.

Gambaran koronal dan aksial terbukti sangat berpengaruh


terhadap penentuan lokasi semua kista.

Irisan sagital sangat membantu hanya untuk lesi garis tengah.

Dalam dua kasus, pilihan antara pendekatan bedah intraoral dan


bedah servikal dipilih berdasarkan MRI.
Hasil
Kista yang berada di superior dari otot mylohyoid, dilakukan
pendekatan intraoral.

Sedangkan lesi inferior dieksisi melalui pendekatan


submandibular eksternal.

Dalam penelitian ini, dua kista yang memiliki lokasi yang sama
menurut palpasi dan sonografi, terbukti berada di lokasi yang
relatif berbeda terhadap otot mylohyoid pada gambaran MRI.
Kesimpulan

MRI menunjukkan visualisasi yang tepat dari lokasi dan


jangkauan lesi kistik di dasar mulut.

MRI berguna untuk menentukan hubungan massa kistik


ke otot di sekitarnya.

MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang penting


dalam merencanakan pendekatan bedah terbaik.
Terimakasih