Anda di halaman 1dari 56

“MANUSIA SEBAGAI

MAKHLUK BUDAYA”

NUR AFNI PONSENG, SKM, M.Kes

P R O G R A M S TU D I D -III K E B ID A N A N
S TIK es M E G A R E Z K Y M A K A S S A R
2017
MATERI PEMBELAJARAN
TUJUAN PEMBELAJARAN
• Mahasiswa mampu menganalisa makna manusia
sebagai makhluk budaya
• Mahasiswa mampu menjelaskan hakikat kemanusiaan
dan kebudayaan
• Mahasiswa mampu membedakan antara etika dan
estetika berbudaya
• Mahasiswa mampu menunjukkan sikap hormat dan
menghargai sesama melalui memanusiakan manusia
• Mahasiswa mampu memberikan contoh
problematikan kebudayaan dewasa ini
HAKIKAT MANUSIA SBG
MAKHLUK BUDAYA
Manusia
• Mahluk yang luar biasa kompleks dan sempurna
yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa
• Paduan antara makhluk material (jasad/raga)
dan makhluk spiritual (jiwa)
• Makhluk yang dinamis (selalu berkembang)
Hakikat Manusia
• Upaya manusia untuk mengenal dan mencari tahu
siapa dirinya sesungguhnya.
• Nabi Ibrahim dan Nabi Musa dalam rangka mencari
Tuhan (proses pencarian siapa yang menciptakan
dirinya)
• Plato yang selalu bertanya “siapa diriku?”(proses
pencarian siapa dirinya sesungguhnya
• Manusia  siapa saya sebenarnya?
• Manusia hanya bisa menjadi dirinya sendiri, karena
itulah dirinya dan itulah hakikat dirinya sebagai
manusia yang melekat dalam pribadinya sendiri.
Manusia

Secara tata bahasa, kata manusia berasal


dari bahasa Singkrit, yaitu “Manu”yang
artinya berpikir, makhluk yang berpikir dan
memiliki pemikiran.
Sebagai makhluk yang kompleks,
manusia bisa dipandang secara
segmental/parsial :
• Manusia sbg homo economicus, makhluk ekonomi
yang cenderung tidak pernah puas dengan apa yang
diperolehnya dan selalu berusaha secara terus
menerus dalam memenuhi kebutuhannya, selalu
bertindak rasional (memperhitungkan sebab akibat)
agar tidak merugikan diri sendiri.
• Manusia sbg homo socius, makhluk yang selalu ingin
berinteraksi dengan sesama/bergaul.
• Manusia sbg homo homini lupus, manusia menjadi
serigala bagi manusia lainnya (merugikan/membuat
kelicikan dan kejahatan terhadap manusia lainnya),
dalam hukum dan politik, sifat inilah yang menciptakan
hukum rimba.
Sebagai makhluk yang kompleks,
manusia bisa dipandang secara
segmental/parsial :
• Manusia sbg homo fiber, makhluk bekerja yang
mewujudkan dirinya dengan bekerja (aktivitas untuk
kemajuan hidupnya) untuk memenuhi berbagai
kebutuhan hidup yang semakin lama semakin
meningkat.
• Manusia sbg zoon politicon, makhluk sosial/makhluk
yang selalu ingin bermasyarakat dan tidak bisa hidup
sendiri, membutuhkan keberadaan dan kehadiran
manusia lainnya, dan hal ini menciptakan berbagai
organisasi kemasyarakatan, termasuk negara.
Unsur pembangun manusia yang saling
terkait (Musa Asy’arie, 1992:62) :
• Jasad, badan kasar manusia yang terlihat dari luar
dan dapat diraba
• Hayat, yang mengandung unsur hidup, yang ditandai
dengan adanya daya gerak (bergerak)
• Ruh, daya yang bekerja secara spiritual yang
memahami kebenaran, dan memiliki suatu
kemampuan mencipta yang bersifat konseptual dan
menjadi pusat lahirnya kebudayaan
• Nafs, dalam pengertian diri/ke”aku”an  kesadaran
tentang diri sendiri
Daya indra dan daya rasa
• Manusia memiliki daya indra (panca indra) dan daya rasa.
• Panca indra  alat penghubung manusia dengan
lingkungan sekita/dunia luar. Semua gejala yang ada pada
diri manusia merupakan hasil pengenalannya dengan
lingkungan.

Daya rasa manusia dibedakan menjadi dua :


• Perasaan indrawi  rangsangan yang diterima o/ panca
indra terdapat pada manusia dan hewan (panas, dingin,
sakit, dsb)
• Perasaan rohani  perasaan luhur yang hanya ada pada
manusia
Perasaan Rohani :
• Perasaan intelektual  berkenaan dengan pengetahuan
(seseorang akan puas/senang apabila mengetahui sesuatu)
• Perasaan estetis  berkenaan dengan keindahan (senang
melihat/mendengar sesuatu yang indah)
• Perasaan etis  berkenaan dengan kebaikan (senang
diperlakukan baik atau berbuat suatu kebaikan)
• Perasaan diri  berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan
yang dimiliki jika dibandingkan dengan manusia lain (ego dan
minder)
• Perasaan sosial  berkenaan dengan kehidupan
berkelompok/bermasyarakat, dimana seseorang ikut merasakan
kehidupan atau apa yang dirasakan oleh orang lain
• Perasaan religius  berkenaan dengan agama atau kepercayaan
• Manusia  makhluk alamiah yang terkait
dengan lingkungan (kehidupan sosial dan
tingkah laku etisnya), serta memiliki sifat
alamiah yang tunduk pada hukum alam.

• Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus


bekerja keras, mencipta dan berkreasi dalam
kaitannya dengan lingkungan (mesin traktor
 membajak sawah).
Makhluk ciptaan Tuhan
• Alam : memiliki sifat wujud
• Tumbuhan : memiliki sifat wujud dan hidup
• Binatang : memiliki sifat wujud, hidup, dan dibekali nafsu
• Manusia : memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal
budi

Akal  kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami yang


dimiliki untuk memecahkan masalah-masalah hidup yang dihadapi.

Manusia berpikir  kepentingan memenuhi kebutuhan tubuh/hidup


dan meningkatkan kualitas martabat hidupnya.
Jenis kebutuhan manusia dalam
kehidupan :

• Kebutuhan yang bersifat kebendaan (sarana


dan prasarana) atau badani, ragawi,
jasmani/biologis. Contohnya : makan, minum,
bernafas, istrahat, dsb.

• Kebutuhan yang bersifat rohani, mental, atau


psikologi. Contohnya : kasih sayang, pujian,
perasaan aman, kebebasan, dsb.
Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow
Budi
• Budi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu
“budh”yang artinya “akal”. Dalam KBBI (2008),
budi adalah “bagian dari kata hati yang berupa
panduan akal dan perasaan dan yang dapat
membedakan baik-buruk sesuatu”.

• Budi diartikan dengan “tabiat, perangai, dan


akhlak”. Budi menentukan manusia itu beradab
atau tidak.
• Dengan akal budi, manusia mampu
menciptakan, mengkreasi, memperlakukan,
memperbarui, memperbaiki, mengembangkan
dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk
kepentingan hidup manusia dengan hanya
melihat dan mempelajari sesuatu.

• Misalnya : pesawat terbang, kapal selam,


modifikasi model dan bentuk rumah, dsb.
Manusia dapat mewariskan kepandaiannya tidak hanya pada
keturunannya tetapi juga pada orang lain di sekitarnya 
manusia disebut “zoon politicon”artinya makhluk yang hidup
berkelompok (sosial), karena pada hakikatnya manusia hidup
selalu berkelompok, dimana individu satu dan lainnya saling
membutuhkan.

Manusia tidak sekedar homo, tetapi human (manusia yang


manusiawi) yang memiliki dan mampu mengembangkan sisi
kemanusiaannya (memanusiakan manusia) dengan
menggunakan akal budi yang dimilikinya.
• Dengan akal budi, manusia mampu menciptakan,
memperbaharui, dan mengembangkan kebudayaan.

• Kebudayaan  hasil akal budi manusia dalam


interaksinya, baik interaksi dengan alam maupun
interaksi dengan manusia lainnya.
• Manusia dan kebudayaan dianggap sbg “dwitunggal”
artinya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi
merupakan suatu kesatuan.

• Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah


kebudayaan itu tercipta, maka kebudayaan itulah yang
kemudian “mengatur” hidup manusia agar sesuai
dengannya, sehingga manusia tsb dapat dikatakan
sbg manusia yang berbudaya.
Pada hakikatnya, kebudayaan mempunyai dua
segi yang tidak dapat dilepaskan hubungannya
satu sama lain (Soekmono, 1973) :

• Segi kebendaan, yaitu meliputi segala benda


buatan manusia sebagai perwujudan dari
akalnya, serta bisa diraba.
• Segi kerohanian, terdiri atas alam pikiran dan
kumpulan perasaan yang tersusun secara
teratur dan tidak bisa diraba.
• Manusia disebut sbg makhluk yang berbudaya 
makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal
budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang
membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya
sesuatu yang baik, benar, dan adil yang terkandung
dalam kebudayaan.

• Hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan


kebaikan, kebenaran, dan keadilan sajalah yang
berhak menyandang gelar manusia yang berbudaya.

• Manusia yang berbudaya juga mampu beradaptasi


dengan budaya yang dianut oleh manusia pendukung
budaya lain yang sama sekali berbeda dengan
budayanya.
APRESIASI TERHADAP
KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN
Apa itu kemanusiaan?
• Kemanusiaan  hakikat dan sifat-sifat khas manusia sbg
makhluk yang tinggi martabatnya dan patut untuk diberikan
apresiasi (penghargaan).

• Kemanusiaan menggambarkan sifat yang seharusnya dimiliki


oleh manusia sedangkan prinsip kemanusiaan mengandung arti
adanya penghargaan dan penghargaan terhadap harkat dan
manusia yang luhur, tidak harus dibedakan perlakuannya karena
perbedaan suku, ras, keyakinan, status sosial ekonomi, asal-
usul, dsb.

• Prinsip kemanusiaan yang ada dalam diri manusia menjadi


penggerak manusia untuk berperilaku yang seharusnya sebagai
manusia dengan tidak saling menindas, tetapi saling menghargai
dan menghormati.
Apa itu kebudayaan?
• Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta
“buddhayah”yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi (budi dan akal)  hal-hal yang berkaitan
dengan budi dan akal.
• Dalam bahasa Inggris, kebudayaan bermakna “culture”
• Dalam bahasa latin, kebudayaan  colere yang
artinya mengolah atau mengerjakan.
• Budaya  kemampuan manusia dalam mengelola
sumber-sumber kehidupan dengan menggunakan
budi dan akal.
Definisi kebudayaan :
• Gazalba (dalam Habib Mustopo, 1983), budaya 
cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri
dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia,
yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang
dan waktu.
• Keesing (1989), kebudayaan  himpunan
pengalaman yang dipelajari, mengacu pada pola-pola
perilaku yang ditularkan secara sosial, yang
merupakan kekhususan kelompok sosial tertentu.
Definisi kebudayaan :
• Soerjono Soekanto (2003), budaya terdiri dari
segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola
perilaku yang normatif, yang mencakup segala
cara atau pola-pola berpikir, merasakan, dan
bertindak.
• Koentjaranigrat (1994), kebudayaan 
keseluruhan gagasan dan karya manusia yang
harus dibiasakannya dengan belajar, beserta
keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.
meliputi : ide, masyarakat
Wujudnkermbud,a(ykA
aa
r rnyfak/be
ate (aJ.yJan
.Hndoga
edniantgtmaatan):
gagasan, n ila i, y a n gberdasar
7 Unsur Kebudayaan (C. Kluckholn, 1953):
• Sistem peralatan dan perlengkapan
hidup (teknologi)
• Sistem mata pencaharian hidup dan
sistem ekonomi
• Sistem kemasyarakatan/kekerabatan
atau organisasi sosial
• Bahasa
• Kesenian
• Sistem pengetahuan
• Sistem religi
Sistem peralatan dan perlengkapan hidup
(teknologi)
• Unsur kebudayaan ini merupakan produk manusia sbg
homo faber.
• Pemikiran yang cerdas dibantu oleh tangan, manusia
dapat membuat dan mempergunakan alat sehingga
lebih mampu mencukupi kebutuhannya.
• Hidup berpindah-pindah (nomaden) dan mengenal 8
macam teknologi tradisional (sistem peralatan dan
unsur kebudayaan fisik meliputi : alat-alat produktif,
senjata, wadah, alat-alat menyalakan api, makanan,
pakaian, tempat perlindungan dan perumahan, serta
alat-alat transportasi.
Sistem mata pencaharian hidup dan
sistem ekonomi

• Unsur ini merupakan produk manusia sbg


homo economicus  tingkat kehidupan
manusia secara umum terus meningkat.
• Mata pencaharian tradisional : berburu dan
meramu, beternak, bercocok tanam di ladang,
dan menangkap ikan.
Sistem kemasyarakatan/kekerabatan atau
organisasi sosial
• Unsur ini merupakan produk manusia sbg homo socius.
• Manusia tidak bisa hidup sendiri, maka dengan menggunakan
akal manusia berupaya menyusun organisasi
kemasyarakatan/kekerabatan bekerja sama untuk meningkatkan
kesejahteraan hidupnya.
• Sistem kekerabatan menggambarkan struktur sosial dari
masyarakat yang bersangkutan.
• Kekerabatan  unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa
keluarga yang memiliki hubungan darah/hubungan perkawinan.
• Organisasi sosial  perkumpulan sosial yang dibentuk oleh
masy. baik yang berbadan hukum maupun tidak, yang berfungsi
sbg sarana partisipasi masy. dalam mencapai tujuan tertentu.
Bahasa
• Unsur ini produk manusia sebagai homo longuens.
• Awal mula bahasa manusia dalam bentuk tanda (kode) 
bahasa lisan  bahasa tulisan.
• Bahasa : alat atau perwujudan budaya yang digunakan
manusia untuk saling berkomunikasi, baik lewat tulisan,
lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan
menyampaikan maksud hati/kemauan pada lawan
bicara/orang lain.
• Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan
adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan
sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala
bentuk masyarakat.
Bahasa
• Fungsi bahasa secara umum  sbg alat untuk
berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk
mengadakan integrasi dan adaptasi sosial.
• Fungsi bahasa secara khusus  untuk
mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-
hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari
naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kesenian
• Unsur ini produk manusia sebagai homo
aesteticus.
• Pemenuhan kebutuhan psikis, misalnya
perlu pandangan mata yang indah, suara
yang merdu, yang semuanya dapat
dipenuhi melalui kesenian.
Sistem Pengetahuan
• Unsur ini produk manusia sebagai homo sapiens.
• Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri,
melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir
menurut logika, atau percobaan-percobaan yang
bersifat empiris (trial and error), serta dari orang lain
(melalui proses belajar).
• Kemampuan manusia mengingat apa yang telah
diketahui kemudian disampaikan kepada orang lain
melalui bahasa menyebabkan pengetahuan
menyebar luas dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Sistem Religi
• Unsur ini produk manusia sebagai homo
religious
• Terbatasnya pengetahuan, pemahaman, dan
daya tahan fisik manusia
• Agama dan sistem kepercayaan seringkali
terintegrasi dengan kebudayaan dan biasanya
memiliki suatu prinsip seperti 5 Rukun Islam, 10
Perintah Tuhan, dsb.
• Keindahan kaligrafi, seni musik gambus/nasyid
Sifat hakiki kebudayaan yang berlaku
umum (Soerjono Soekanto, 2003) :
• Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku
manusia
• Kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada
lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati
dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan
• Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan
dalam tingkah lakunya
• Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan
kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima
dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan
diizinkan
Kesimpulan :
• Manusia merupakan pencipta kebudayaan melalui
akal budi yang dimilikinya.
• Terciptanya kebudayaan adalah hasil interaksi
manusia dengan segala isi alam raya.
• Karena manusia adalah pencipta kebudayaan, maka
manusia adalah makhluk yang berbudaya.
• Perbedaan kebudayaan harus diapresiasi, buka
dijadikan sebagai sumber konflik. Perbedaan
kebudayaan adalah kekayaan ide, akal budi, dan
imajinasi manusia sebagai pencipta kebudayaan.
ETIKA DAN ESTETIKA BERBUDAYA
Apa itu etika?
• Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ethos”yang
artinya ajaran tentang baik dan buruk.
• Etika identik dengan moral (mores dalam bahasa Latin)
yang berarti akhlak atau kesusilaan.
• Dalam KBBI (2008), etika :
(a) ilmu tentang apa yang baik dan buruk,
tentang hak dan kewajiban moral;
(b) kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak;
(c) nilai mengenai benar dan salah yang
dianut masyarakat.
Definisi etika :
• Sidi Gazalba (1973), etika sbg teori tingkah laku,
perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan
buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
• Ahmad Amin (1993), etika sbg ilmu pengetahuan yang
menjelaskan arti baik atau buruk, menerangkan apa
yang seharusnya dilakukan oleh manusia,
menyatakan tujuan yang harus dicapai manusia dalam
perbuatan, dan menunjukkan jalan untuk melakukan
apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia.
Menurut Saloman (1988), etika :

• Etika  karakter individu, orang yang beretika =


orang yang baik, dipahami bahwa manusia sbg
individu yang beretika.

• Etika  hukum sosial yang mengatur,


mengendalikan serta membatasi perilaku
manusia.
Nilai etik dan norma etik
• Nilai etik  nilai tentang baik dan buruk kelakuan
manusia
• Norma etik  acuan manusia dalam berperilaku.
• Norma etik berasal dari hati nurani individu yang
bersifat otonom yang ditujuka pada sikap batin
manusia.
• Misalnya : pelanggaran norma etik seperti
mencuri/menipu  timbul dalam hati nurani si
pelanggar itu rasa penyesalan, rasa malu, takut, dan
merasa bersalah.
• Daerah berlakunya norma etik relatif universal dan
dipengaruhi oleh ideologi masyarakat pendukungnya.
Misalnya : perilaku membunuh, perilaku sex bebas
(free sex).

• Dengan norma etik, manusia bisa membedakan mana


perilaku baik dan mana perilaku buruk shg norma etik
menjadi semacam das sollen (kaidah/norma serta
kenyataan normatif seperti apa yang seharusnya
dilakukan) untuk berperilaku baik.

• Manusia yang beretika berarti berperilaku baik sesuai


dengan tuntunan dalam norma-norma etik.
Kaitan etika dan budaya
• Kaitannya dengan kebudayaan, manusia yang
beretika  budaya yang memiliki nilai-nilai etik pula.
• Budaya yang bernilai etika : budaya yang mampu
menjaga, mempertahankan dan mampu
meningkatkan harkat dan martabat manusia itu sendiri
sbg pencipta kebudayaan.
• Penentuan suatu budaya yang dihasilkan memenuhi
nilai etika atau tidak tergantung dari paham/ideologi
yang diyakini masyarakat pendukung kebudayaan.
Misalnya : laki-laki dan perempuan yang bukan suami-
istri berdua di jalan, pandangan anda?
Apa itu estetika?
• Berasal dari bahasa Yunani “aisthetikos atau
aishtanomai”yang berarti mengamati dengan indera.
• Pengertian ini berkaitan pula dengan istilah aestheis
yang berarti pengamatan.
• Jadi, estetika  sbg ilmu pengetahuan berdasarkan
kegiatan pengamatan yangdilakukan dengan
menggunakan panca indera.
• Estetika  teori tentang keindahan atau seni.
• Sesuatu yang estetik berarti memenuhi unsur
keindahan.
Keindahan :
• Secara luas, mengandung ide yang baik yang meliputiwatak
indah, hukum yang indah, ilmu yang indah, dsb.
• Secara sempit, yaitu indah yang terbatas pada lingkup
persepsi penglihatan (bentuk dan warna).
• Secara estetik murni, yaitu menyangkut pengalaman yang
berhubungan dengan penglihatan, pendengaran, dan etik.

• Nilai etik bersifat universal (dapat diterima banyak


orang), namun nilai estetik bersifat subjektif dan
partikular.
• Nilai estetik mengarah pada perasaan yang dirasakan
oleh diri sendiri, bukan pernyataan secara oral/verbal.
Misalnya lukisan abstrak.
Kaitan estetika dan budaya
• Budaya sbg hasil karya manusia sesungguhnya
diupayakan untuk memenuhi unsur estetika.
• Semua kebudayaan dipandang memiliki nilai-nilai
estetik bagi masy. pendukung kebudayaan tsb namun
belum tentu dipandang estetik oleh masy. budaya lain.
• Oleh sebab itu, estetika berbudaya tidak semata-mata
harus memenuhi nilai keindahan (subjektif) sehingga
perlu adanya saling menghargai keindahan budaya
yang dihasilkan manusia lainnya.
MEMANUSIAKAN MANUSIA
• Memanusiakan manusia berarti
perilaku manusia untuk senantiasa
menghargai dan menghormati harkat
dan derajat manusia lainnya, serta
tidak menindas sesamanya.

• Konsep “memanusiakan
manusia” bagian dari
humanisme.
Humanisme
• Humanisme berasal dari kata Latin “humanus”
dan mempunyai akar kata homo yang berarti
manusia.
• Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai
dengan kodrat manusia.
• Humanisme  konsep yang menempatkan
manusia agar mendapat perlakuan yang
manusiawi dimana manusia memiliki harkat dan
martabat yang tinggi (Muzairi, 2001).
Humanisme
• Secara harfiah, humanisme  paham yang
bertujuan rasa perikemanusiaan dan mencita-
citakan pergaulan hidup yang lebih baik, tidak
memandang bangsa, agama, daerah, suku,
maupun warna kulit.
• Misalnya : PMI (Palang Merah Indonesia)
• Menurut KBBI (2008), istilah memanusiakan manusia
merupakan “upaya untuk membuat manusia menjadi
berbudaya”.

• Membuat manusia memiliki etika dan estetika yang


dapat dibiasakan penerapannya dalam tingkah laku
sehari-hari.

• Memanusiakan manusia bukan berarti sebelumnya


kita tidak memperlakukan manusia tidak seperti
manusia, namun memanusiakan manusia merujuk
pada perbuatan yang selalu menghargai dan
menghormati manusia sebagai manusia, kapanpun
dan dimanapun.
• Memanusiakan manusia  menjadi manusia
seutuhnya.
• Sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia, gelar
kemanusiaan benar-benar diperoleh ketika kita
dapat menjadikan sesama manusia lebih terdidik,
lebih bermartabat, lebih sukses, dan lebih baik
kehidupannya.
• Selama kelebihan yang dimiliki hanya untuk
kepentingan dan kepuasan diri, maka belum
menjadi manusia seutuhnya.
• Tidak ada batasan/ukuran pasti apakah kita
telah memanusiakan manusia atau belum,
memanusiakan manusia bersifat abstrak dan
terkait dengan rasa perikemanusiaan yang
dalam diri kita sendiri.
Misalnya : Penggusuran paksa x realokasi
Sanksi hukuman (dlandasi rasa
perikemanusiaan)  efek jera