Anda di halaman 1dari 45

Manajemen Limbah

OLEH:

FINDYA ASHA ASSYIFA (141734013)

FITHRI HIFZHAH M (141734014)

IQBAL MUHAMMAD (141734015)

IQBAL MUWAHID (141734016)

IRA PRAMITHA R (141734017)


PT Bio Farma (Persero)

 PT Bio Farma (Persero) adalah BUMN yang


sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah
 Bio Farma merupakan satu-satunya produsen vaksin
dan anti sera bagi manusia di Indonesia
 Bio Farma berdiri dengan nama “Parc Vaccinogene”
pada tanggal 6 Agustus 1890 berdasarkan Surat
Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14
tahun 1890
PT Bio Farma (Persero)
Produk PT Bio Farma

 Vaksin Virus : Vaksin Oral Polio, Vaksin Campak


Kering, Vaksin Hepatitis B Rekombinan
 Vaksin Baktero : Vaksin TT, Vaksin DT, Vaksin DTP,
Vaksin BCG Kering, Vaksin Td
 Vaksin Kombinasi : Vaksin DTP-HB
 Antisera : Serum Anti Tetanus, serum anti difteri,
serum anti bisa ular
 Diagnostik : serum golongan darah, dls
Proper PT Bio Farma (Persero)

 Pada tahun 2015 PT Bio Farma Persero


mendapatkan penghargaan Proper Emas keduanya
oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
setelah tahun 2014 dan beberapa tahun sebelumnya
mendapatkan Proper Hijau
 Bio Farma mendapat predikat Proper Hijau selama 6
kali
 Predikat Proper Emas diraih yaitu pada periode
2013-2014, 2014-2015, 2015-2016, 2016-2017
APA SAJA YANG DILAKUKAN?

YUK MARI KITA ULAS


BERSAMA-SAMA
Upaya PT Biofarma Untuk Menjadi Green
Industry
Efisiensi Energi
Suplai listrik yang digunakan

1. PLN-1 dengan V=20kV, 3 fasa, f=50hz, kapasitas


daya=3465kVA
2. PLN-2 dengan V=20kV, 3 fasa, f=50hz, kapasitas
daya=3465 kVA
3. 5 Unit Generator:
 Kapasitas daya = 3 x 1000kVA, V=3.3kV, f=50hz
 Kapasitas daya = 2 x 2000kVA, V=3.3kV, f=50 hz

Untuk PLN-1 dan 2 unit generator saling interlock untuk


mengoperasikan mesin dan alat produksi yang sangat
rentan terhadap gangguan listrik yang dapat
mengakibatkan kerugian yang cukup signifikan.
Program Penghematan Energi
Intensitas Energi
PENGENDALIAN EMISI GAS

PEMERINTAH MENETAPKAN KEBIJAKAN


BAHWA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH
KACA SEBESAR 26% DI TAHUN 2030 UNTUK
KESEJAHTERAAN RAKYAT INDONESIA DAN
DUNIA.
Sumber emisi gas rumah kaca langsung berasal dari boiler, genset dan incinerator. Pengukuran parameter
gas rumah kaca pada tiap sumber emisi dilakukan dengan metode grab sampling pada titik pantau tiap
cerobong boiler, genset dan incinerator oleh laboratorium terakreditasi. Sedangkan sumber gas rumah kaca
tidak langsung berasal dari beban Emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas yang menggunakan listrik PLN.

Untuk mereduksi emisi gas rumah kaca, Bio Farma melakukan berbagai kegiatan seperti berikut ini:

*Hasil Absolut Setara dengan Reduksi Co2 (Ton Co2 Eq./Tahun)


Di bawah ini adalah tabel emisi gas rumah kaca tahun 2015 dan 2014 dari kegiatan operasi Bio Farma
Intensitas Emisi Gas Rumah Kaca

Pada tahun 2015 Biofarma berhasil melakukan mitigasi emisi,


mencakup emisi CO2, CH4 dan N2O.

Standar dan metodologi yang


digunakan dalam menghitung
intesitas emisi gas rumah kaca
tersebut adalah :

Sehingga dihasilkan Intensitas emisi


gas pada tahun 2014 dan 2015
masing-masing sebagai berikut .
NOX, SOX dan
Emisi Udara
Lainnya

Untuk mereduksi
emisi bahan pencemar
konvensional seperti
(Partikel, CO, SO2 dan
NO2), Bio Farma
melakukan kegiatan
preventive
maintenance dan
overhaul secara
berkala untuk
mesin-mesin yang
menjadi sumber emisi
tersebut.
Pengendalian Emisi juga dilakukan
untuk sumber emisi bergerak yaitu
kendaraan bermotor dengan cara
mengurangi pemakaian kendaraan
bermotor/ BBM serta mendorong
penggunaan sepeda dengan
mengadakan program Bike to Work
bagi karyawan dan menggalakkan
penggunaan sepeda untuk mobilitas di
area perusahaan. Selain menyediakan
sepeda juga mengakomodir area
penyimpanan sepeda di beberapa
gedung di area perusahaan.
Pengolahan Limbah B3
PT. Bio Farma telah melakukan pengolahan
limbah yang dihasilkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Pengolahan
limbah B3 PT. Bio Farma berdasarkan pada
peraturan utama antara lain UU No. 23 Tahun
2009, PP No. 18 tahun 1999, PP No. 85 Tahun
1999, PP No. 74 Tahun 2002, Perda Kabupaten
Bandung Barat No. 5 Tahun 2012.

Pengelolaan limbah B3 yang telah dilakukan


oleh PT. Bio Farma antara lain identifikasi,
pengemasan, penyimpanan, pemberian simbol
dan label, pengangkutan dan pengolahan
dengan insinerator. Dalam melakukan
pengelolaan, PT. Bio Farma menjalin kerjasama
dalam melakukan proses pengolahan lanjutan,
penimbunan dan pemanfaatan.
Limbah B3 yang dihasilkan PT. Bio Farma yaitu
padat dan cair.

Limbah infeksius dapat


menjadi sumber
penyebaran penyakit
pada petugas, pasien,
pengunjung, maupun
masyarakat sekitar.
Limbah B3 Padat

Pengurangan limbah B3 padat di PT. Bio Farma


dikelola dengan insinerasi di insinerator pada suhu
min. 1000°C sesuai dengan izin pengoprasian dari
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).
Insinerasi didefinisikan sebagai pengolahan termal.
Fungsi dari insinerator adalah mengubah sampah
menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat,
dan panas. Gas yang dihasilkan harus dibersihkan
dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer. Panas yang
dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai energi
pembangkit listrik.
Abu insinerasi yang dihasilkan kemudian diserahkan
pada PT. PPLI, sebagai perusahaan pengumpul LB3 Insinerator
yang telah memiliki izin dari KLH.
Limbah B3 Padat
Sebelumnya pengolahan limbah yang
mengandung mikroorganisme dilakukan
dengan desinfeksi menggunakan uap
panas dari Otoklaf. Prinsip kerjanya
memakai uap dengan tekanan yang
diatur. Temperaturnya sekitar 121oC
dengan tekanan 15 atm.

Otoklaf

Dan untuk alat suntik dilakukan


peleburan jarum menggunakan needle
destroyer. Alat ini berguna untuk
meminimalisir jarum suntik yang sudah
terpakai dengan mengubahnya menjadi
zat cair atau serbuk halus. Cara kerjanya
dengan memasukan jarum ke dalam
needle destroyer kemudian panaskan
dengan suhu tinggi hingga jarum
menjadi leleh dah hancur
Needle Destroyer
Limbah B3 Padat

Penyimpanan LB3 di TPS


Limbah abu hasil insinerator oleh PT. PPLLI
Limbah B3 cair

Pemanfaatan Limbah B3 telah dilakukan


pada limbah B3 cair-pelumas bekas.
Limbah pelumas bekas yang dihasilkan
PT. Bio Farma dikelola oleh PT. WGI
melalui proses refinery.
Proses refinery dilakukan dengan tujuan
untuk memurnikan minyak dengan cara
memisahkan kandungan air,
memisahkan free fatty acid (FFA) dari
CPO, memecahkan zat warna, serta
menghilangkan bau yang nantinya
menjadi base oil yang kemudian diproses
lebih lanjut menjadi oli baru yang dapat
digunakan kembali.
Pengolahan Limbah Padat Non B3

Pengolahan awal limbah padat (sampah) di Bio farma adalah sortasi/pemisahan


limbah ke tempat sampah berdasarkan karakteristiknya.
Pengolahan limbah padat Non B3

secara garis besar dibedakan

berdasarkan limbah organik dan

limbah anorganik.
Limbah organik

Sampah organik dikelola oleh

perusahaan melalui proses

komposting untuk dijadikan

pupuk tanaman di Bio farma.


Pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami
penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang
memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa
yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba
mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat.
Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif
pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang
aktif pada suhu tinggi . Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan
menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi
CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai,
maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada
saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu
pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan
akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan.
Limbah Kertas dan Limbah Anorganik

Jenis Sampah Pengelolaan Pemanfaatan


Kertas Pengelolaan oleh mitra Bahan kertas baru atau
binaan menjadi bubur kerajinan tangan
kertas
Plastik dan Karet Pengelolaan oleh mitra Pelet sebagai bahan dasar
binaan menjadi potongan pembuatan bahan karung,
kecil plastik dan karet tali rapia, sedotan, dll.

Kaleng Logam dan Pengelolaan oleh mitra Leburan bahan gelas atau
Gelas binaan, diolah melalui bahan botol dan biji besi
proses penghancuran bahan
Pengolahan Limbah Cair
Limbah Cair PT Biofarma

 Air bekas pencucian/pembilasan (yang


kemungkinan masih mengandung zat
pencemar)
 Limbah cair yang berasal dari toilet
 Limbah cair yang merupakan sisa produksi
produk berbasis bakteri seperti vaksin anti
tetanus
Manajemen limbah cair

 Pengolahan limbah yang mengandung


mikroorganisme dilakukan dengan desinfeksi
menggunakan uap panas di otoklaf dan killing tank,
kemudian limbah dialirkan ke IPAL :
 IPAL I – produksi vaksin virus : physical – chemical
– biological system (microbiological plat )
 IPAL II – produksi vaksin bakteri : physical –
chemical – biological system (activated sludge)
Pengolahan Limbah Cair
Konservasi Air, Penurunan Beban, dan Pencemaran Air

REUSE
RECYCLE

 Recycle air reject reverse osmosis di Bagian Tetanus ke tangki Raw


Water (program tahun 2008)
 Sirkulasi cooling water otoklaf di Bag. Tetanus (1 Unit), dan Difteri ( 2
unit) (tahun 2008)
 Reycle air buangan outlet IPAL dan saluran drainase sebagai raw water
menggunakan teknologi filtrasi ( Program ini berlangsung pada tahun
2011 dan 2012)
 Pencapaian penghematan per bulan yaitu dapat menghemat air sebesar
2000 m3 / bulan setara dengan 40% kebutuhan air total
 Pencapaian penghematan perbulan :
 Program pertama : dapat mengemat air sebanyak 48 m3 / bulan

 Program kedua : dapat mengemat air sebanyak 240 m3 / bulan


Grafik Presentase Penghematan air dengan
Program Efisiensi (3R)
Terima Kasih