Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS MARKETING MIX

PADA PETROCHEMICAL TRADING PT.


PERTAMINA (PERSERO)
• Muhamad Agung Prasetya 73114151
• Muhammad Shohibur Rida’ 7311415157
Latar belakang
• Pertamina BUMN yang Bergarak di bidang Energi seperti
Pertambangan Minyak, Gas Bumi serta Energi Baru dan Terbarukan
bertugas mengolah Hasil Bumi tersebut agar produk BBM, Non-BBM,
dan Petrokimia
• Khusus produk-produk bersubsidi, Pertamina tidak dapat
menggunakan logika bisnis murni. Logika umum mengatakan bahwa
dengan menjual produk sebanyak-banyaknya, perusahaan akan dapat
meraup laba lebih banyak. Tetapi pertamina tidak
• keputusan penetapan harga berada di luar control Pertamina.
Pertamina hanya sebagai price taker, dan bukannya price maker.
• Pertamina menghadapi tantangan besar dalam hal branding. Untuk
produk bahan bakar kendaraan, Pertamina menghadapi kompetisi
yang ketat dengan merek-merek ternama dari luar seperti Shell, Total,
dan Petronas.
Pembahasan
Pengertian pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain
(Kotler, 2005 : 10)
Bauran Pemasaran
• Carty dalam bukunya Kotler (2005) bauran pemasaran adalah kiat
pemasaran yang digunakan untuk mencapai sasaran pemasarannya
dalam pasar sasaran
Elemen bauran pemasaran menurut Kotler terdiri dari:
• Produk (Product)
• Harga (Price)
• Promosi (Promotion)
• Tempat (Place)
Green marketing
• Green Marketing mengacu pada semua kegiatan pemasaran yang
responsif terhadap melindungi lingkungan.
• Green Marketing merupakan sesuatu yang melibatkan promosi
produk dengan menekankan kepada kontribusi mereka terhadap
lingkungan (Baker, 1999).
Bauran Green marketing
1. Green Product
2. Grenn Price
3. Green Place
4. Green Promotion
Temuan Gap antara Teori dan Praktik
• Menurut penulis prinsip 4P dapat digunakan pada Sistem
Pemasaran PT. Pertamina (Persero). Hal ini dikarenakan PT. Pertamina
(Persero) mengidentifikasi Pasar, Perusahaan BUMN, secara otomatis
menetapkan Place seluruh wilayah Republik Indonesia sebagai
Pasarnya, akan tetapi
• Khusus produk-produk bersubsidi, Pertamina tidak dapat
menggunakan logika bisnis murni. Logika umum mengatakan bahwa
dengan menjual produk sebanyak-banyaknya, perusahaan akan dapat
meraup laba lebih banyak. Tetapi pertamina tidak
• keputusan penetapan harga berada di luar control Pertamina.
Pertamina hanya sebagai price taker, dan bukannya price maker
STUDI KASUS PERTALITE
• Sebelum tahun 2015, penjualan Pertamina masih didominasi oleh Premium (97%).
Sementara Pertamax Series berkontribusi minim (3%). Padahal, profit lebih banyak dari
Pertamax Series.

• Apabila digambarkan seperti diagram, kebutuhan pelanggan akan bahan bakar akan
membentuk sebuah piramida. Semakin ke atas, kebutuhan pelanggan akan BBM menjadi
semakin emosional. Sedangkan semakin kebawah, kebutuhan pelanggan terhadap BBM
akan semakin fungsional. Di segmen ini, ekspektasi pelanggan cenderung kepada
spesifikasi teknis yang memenuhi kebutuhan dasar kendaraan bermotor.
Produk

• Pertamina meluncurkan produk baru yang dapat menjawab kebutuhan


segmen “value for money” menjadi produk alternative bagi Premium yang
tidak profitable. Lahirlah Pertalite, produk dengan kualitas di atas Premium,
namun harga lebih terjangkau dibandingkan Pertamax. Pertalite dihadirkan
dengan nilai oktan yang lebih rendah dari Pertamax. Pertamax memiliki
RON 92, sedangkan Pertalite memiliki RON 90. Namun, Pertalite masih
lebih baik dari Premium yang RON-nya hanya 88.
1 Harga sampai Papua
• Bermula dari keluhan harga BBM di kabupaten nunukan yang mempunyai harga 20.000/liter oleh
Gubernur setempat kepada Presiden Jokowi saat peresmian Bandara Juwata pada 23 Maret 2016
hingga harga BBM yang mencapai 100.000/liter di papua dan mengakibatkan harga kebutuhan
juga tinggi serta menjadi kendala bagi pembangunan infrastruktur.

• Mendapat tantangan dari presiden tersebut, Pertamina berpikir keras untuk mewujudkan harga
BBM yang lebih berkeadilan sehingga dapat membantu masyarakat di daerah terdepan,terluar
dan tertinggal (3T) agar dapat berkembang maju seperti saudara-saudarnya di perkotaan.
Masalah utama mahalnya harga BBM di daerah 3T adalah sulitnya akses distribusi BBM sehingga
tidak ada SPBU atau APMS yang dapat melayani masyarakat disana.
Tempat (place)
• SPBU SEBAGAI CHANNEL RITEL

Ada tiga jenis SPBU dengan konsep kepemilikan dan pengelolaan:

• SPBU COCO (Company Owned Company Operated) SPBU yang murni dimiliki dan
dikelola oleh Pertamina

• SPBU CODO (Company Owned Dealer Operated) SPBU yang dimiliki oleh swasta bekerja
sama dengan Pertamina ,dibangun dengan persyaratan yang ditentukan oleh Petamina

• SPBU DODO (Dealer Owned Dealer Operated) SPBUyang murni dimiliki swasta ataupun
perorangan dan segala sesuatu tentang manajemn dikelola sendiri
Channel Distribusi
• Karena terbatasnya akses transportasi, maka pertamina menggunakan transportasi udara
sebagai solusinya. Pertamina menggunakan pesawat jenis Air Tractor (AT-802) yang lazim
digunakan sebagai pemadam kebakaran dari udara sebagai saluran distribusi

• Konsep ini dilanjutkan pada wilayah papua, dimulai dengan supplay lewat jalur sungai
dan darat didaerah kabupaten Ndoga dari kabupaten Timika contohnya. Sedangkan
untuk daerah Kabupaten Pegunungan Arfak melalui jalur darat meskipun harus dengan
bantuan kendaraan all whell drive yang mampu mengangkut drum pengangkut BBM
(Intermediate Bulk Container). Sedangkan untuk Kabupaten Intan Jaya, Puncak dan
Tolikara harus disuplai menggunakan pesawat.
Pelayanan Prima
• SPBU PASTI PRIMA : BEYOND FUEL

• Diposisikan sebagai touch point yang diharapkan mampu memberikan pelayanan dan
pengalaman yang lebih luas bagi pelanggan.ini juga merupakan salah satu bentuk dari teknik
zooming dimana dengan tagline “beyond fuel” menegaskan bahwa SPBU Pasti Prima hadir
memberikan layanan yang lebih lengkap daripada SPBU lainnya

• Ada tiga kombinasi untuk mewujudakan hal tersebut yaitu pertama adalah layanan energi yang
lebih terpadu,kedua, layanan non-fuel retail yang mencakup restoran, toko ritel, dan
sebagainya.ketiga yaitu pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kepuasaan dan
loyalitas pelanggan
Dari Plus Jadi Turbo
• Untuk meningkatkan image Pertamina ke level yang lebih tinggi, dibutuhkan produk yang
tepat. Pertalite mungkin bisa memeberikan kontribusi penjualan yang cukup signifikan,
namun Pertalite kurang mampu mengangkat image Pertamina karena positioning-nya
sebagai bahan bakar yang terjangkau. Pertamax Plus akhirnya dipilih sebagai image
builder produk-produk Pertamax series.

• Masalahnya, dari hasil riset Pertamina menemukan adanya persepsi konsumen yang
menganggap Pertamax Plus tidak mempunyai kualitas sebaik competitor di luar negeri
walaupun pada kenyataannya Pertamax Plus mempunyai kualitas yang sama dengan
kompetitor.
Promotion
Pertamin melakukan co-branding antara Pertamax Turbo dan Lamborghini dengan menerapkan positioning
baru pada Pertamax Turbo “International Quality Fuel for Top Acceleration”. Positioning ini kemudian diringkas
dalam bentuk tagline “Perfection in Performance”.

Pertamax Turbo secara resmi melakukan launching perdana di Eropa. Peluncuran produk Pertamax Turbo di
Eropa dilakukan melalui beberapa tahapan:

• Produksi di Haltermann, Jerman

• Tes di sirkuit Vallelunga, Italia

• Pemakaian produk Pertamax Turbo di balapan Italia, Inggris, dan Prancis

• Peluncuran Pertamax Turbo sebagai brand Fuel resmi di sirkuit Spa Belgia
Promotion
Di Indonesia, Pertamina melakukan launching Pertamax Turbo di acara Gaikindo
Indonesia International Autoshow (GIIAS) dengan menghadirkan atlet olahraga
otomotif dalam ajang balam motor dan mobil dan mengajak pengunjung untuk
berbincang-bincang dan bertemu dengan para atlet. Tidak hanya itu, dengan telah
dilakukannya co-branding dengan Lamborghini dalam promosi dan merchandising,
Pertamina menawarkan pengalaman (experience) mengendarai Lamborghini
dengan Pertamax Turbo, undian dengan hadiah berupa kunjungan ke pabrik
Lamborghini di Itali serta hal-hal unik lainnya inilah yang menjadi faktor pembeda
dari Pertamax Turbo dengan tagline Perfection in Performance.
Tabel Temuan Gap
No. Teori Kenyataan / Realita

Sebagai perusahaan BUMN, PT. Pertamina tidak hanya berfokus


Prinsip 4P sebagai Strategi kepada profitabilitas, pemerintah juga membebankan kewajiban-
11.
Pemasaran. kewajiban pelayanan publik kepada Pertamina. Salah satunya
tentang penyediaan bahan bakar bersubsidi.

Keputusan penetapan harga berada di luar control Pertamina. Yang


dimaksudkan disini berarti Pertamina hanya sebagai price taker, dan
bukannya price maker. Mekanisme penetapan harga jual untuk
32. Faktor kebijakan pemerintah.
produk bersubsidi memang ditetapkan Bersama-sama antara
Pertamina dan pemerintah namun hasil akhir berada di tangan
pemerintah.
KESIMPULAN
PT. Pertamina sebelum tahun 2015 masih menerapkan strategi pemasaran non-murni

• terkonsep dengan pemerintah yaitu adanya


produk subsidi dan konsep price taker dan bukanya price maker.
• pertamina memiliki banyak keterbatasan dalam hal pemasaran produk
• pada tahun 2014 pertama kalinya membukukan kerugian dikarenakan tingginya
penjualan untuk produk subsidi.
• Namun Pertamina pada tahun 2015 dengan menerapkan
bauran pemasaran baru (product, price, place, dan promotion)
denganmenghadirkan produk-produk terbaru seperti Pertalite, Dexlite, Pertamax
Turbo, Lubricant Halal dan My Pertamina
• Merupakan sebuah inovasi produk dan didukung dengan promosi yang massive dan
unik untuk setiap produk dan dibantu dengan saluran distribusi yang apik sehingga
mampu membuat inovasi harga dengan konsep 1 harga sampai papua.
SARAN
• Lebih meningkatkan kemampuan memproduksi Produk dalam negeri, adanya
pengakuisisian PT. TPPI Tuban oleh pertamina dan Pemerintah yang ingin menjadikan
Tuban sebagai salah satu pusat Petrochemical di Indonesia sehingga mampu
meminimalisir Impor.
• Meningkatkan pengawasan kinerja karyawan agar semua kegiatan operasional dapat
berjalan dengan baik. Sehingga sesuai dengan standar kerja yang diharapkan dengan
menerapkan budaya kerja yang inovatif.
• Selalu melakukan inovasi produk dan strategi pemasaran sehingga Pertamina mampu
menjadi perusahaan yang dapat bersaing dikancah Internasional.
REKOMENDASI
Sebaiknya PT. Pertamina (Persero)
1. meningkatkan aktivitas spreading (penyebaran) informasi
Seperti bulletin, informasi via e-mail, social media, website resmi
perusahaan, dan informasi via meeting harian. Akan dapat memicu ide-ide
segar yang bersifat konstruktif
2. Meningkatkan aktivitas dan informasi yang berada di dalam website
resminya.
Hal ini dapat menstimulasi munculnya relasi bisnis baru atau menjaga relasi
bisnis yang sudah ada dengan ketersediaan laporan atau berita kondisi
terkini dari PT. Pertamina (Persero)