Anda di halaman 1dari 936

PEMBAHASAN

TO 1
FEBRUARI 2016

Satu Tujuan: LULUS!


1. B. Aspilet 325mg 1x1 dan
dipyridamole 200mg 2x1
Keywords:
– Laki, 65 tahun
– Tidak bisa bicara tiba-tiba sejak 12 jam yang lalu.
Tidak ada gangguan pada tangan ataupun kaki,
sebagian penglihatannya menghilang.
– Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan Lesi
hipodens pada hemisfer kiri
– Diagnosis  Stroke Iskemik
– Tatalaksana awal yang tepat:
Stroke iskemik Vs Hemoragik

• Ada tanda peningkatan TIK


• Penurunan kesadaran Pasien sadar, datang dengan defisit
• Muntah proyektil neurologis (bicara pelo, hemiparesis)
• Nyeri kepala
• TD amat tinggi

Untuk memastikan, perlu pemeriksaan penunjang: CT Scan, MRI


Stroke iskemik Vs Stroke hemoragik
• Etiologi: trombus/emboli • Etiologi: perdarahan intraserebral
• Klinis: • Klinis:
– Anamnesis: defisit neurologis akut – Anamnesis: defisit neurologis akut
(seringnya hemiparesis) +penurunan kesadaran+nyeri
– PF: kesadaran umumnya tidak menurun kepala+muntah proyektil
– tanda lesi UMN (hiperrefleks, ada refleks – PF: tanda lesi UMN, hipertensi
patologis) – Penunjang (CT Scan): area
– Penunjang (CT Scan): area hipodens hiperdens di serebrum
serebrum • Tatalaksana:
• Tatalaksana: – Bedah, Medikamentosa
– Trombolitik (r-TPA) • Antihipertensi
 3-4,5 jam setelah onset • Agen diuretik osmotik
– Aspirin 325 mg (misal manitol)
– Clopidogrel 300 mg
– Aspirin 325 mg + dipyridamole 2x200 mg
Updates AHA/ASA Stroke Recommendations
Pilihan Lainnya

• A. Aspilet 85 mg  Harusnya 325 mg


• B. Clopidogrel 150 mg  Harusnya 300 mg
• D. Dipyridamole 200 mg  dipyridamole tidak
diberikan monoterapi
• E. Clopidogrel + Dipyridamole Clopidogrel tidak
dikombinasikan dengan dipyridamole
Updates AHA/ASA Stroke Recommendations
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

D. Aspilet 325mg 1x1 dan


dipyridamole 200mg 2x1
2. C. BPPV
• Keyword
– Laki 60 tahun
– Pusing berputar diperberat dengan gerakan kepala
– tidak ada keluhan telinga berdenging, penurunan
pendengaran, ataupun nyeri
– Riwayat trauma dan obat disangkat
– PF: nistagmus (+) ke kanan.
• Diagnosis yang tepat?
BPPV
• BPPV : vertigo yang • Diagnosis Banding
dicetuskan oleh – Neuritis vestibuler : gejala
perubahan posisi kepala, spt vertigo perifer, ada
ada nistagmus rotatory ke riwayat infeksi virus,
nistagmus horizontal ke
arah telinga yang sakit.
telinga yang sehat. Disertai
• PF yang menunjang nyeri
adalah maneuver Dix- – Labirinitis : Vertigo dan
Hallpike penurunan pendengaran,
tidak ada tinnitus.
Penyakitnya akut, tidak
kronik seperti Meniere’s.
Sumber : Buku Ajar THT FKUI
www.emedicine.medscape.com
www.vestibular.org
• Tatalaksana:
– Vestibulosupresan
– CRP (canalith repositioning procedure) dengan
maneuver Epley  kanalitiasis pada kanal anterior
& posterior, dilakukan setelah Dix-Hallpike
– Perasat Liberatory (Semont)  kupulolitiasis
– Latihan Brandt-Daroff  untuk gejala sisa ringan,
dapat dilakukan mandiri
https://www.youtube.com/watch?v=r
tS2muvjFbM
Brandt-Daroff Liberatory / Semont
Pilihan Lainnya
• A. Meniere Tinnitus, penurunan
pendengaran, pusing berputar
• B. Labirinitis  Vertigo + penurunan
pendengaran
• D. MS  Gangguan disertai keluhan pada otot
dan gangguan otonom lain
• E. Neuritis Vestibularis  Nyeri + Vertigo
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C.BPPV
3. A. Neuralgia Trigeminal
• Keywords:
– Wanita, 32 tahun
– Nyeri seperti diiris di wajah sisi kanan saat
mengunyah, sikat gigi, ataupun tersentuh
– Tidak diketahui riwayat penyakit sebelumnya.
• Diagnosis yang paling mungkin:
Neuralgia Trigeminal
• Penyakit saraf idiopatik pada
N.V.
• Keluhan nyeri wajah unilateral
seperti tertusuk, dapat
dicetuskan dengan
pergerakan ataupun sentuhan
• Tatalaksana umumnya dengan
karbamazepin (1st) atau
gabapentin (2nd)
Sumber : Harrison Manual of Medicine
Pilihan Lainnya
• B. Nyeri post herpetik Tidak ada riwayat
cacar air, tidak ada keluhan lenting
• C,D,E Nyeri kepala primer  Keluhan nyeri
pada wajah, bukan dikeluhkan pada kepala
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

A.Neuralgia Trigeminal
4. D. Migraine
• Keywords:
– Perempuan, 20 tahun
– Nyeri kepala kanan, berdenyut, disertai mual
muntah
– Didahului gejala penglihatan
– Tidak ada defisit neurologis
• Apa kemungkinan diagnosis ?
Migraine

• Migraine = nyeri kepala • Migren tanpa aura = common migraine


paroksismal, unilateral, • Migren dengan aura = classic migraine
berdenyut, 4-72 jam,
• Terapi :
disertai mual-muntah
dan/fotofobia, dapat – Non spesifik : analgetik, OAINS, anti emesis
didahului dengan aura. – Spesifik : sumatriptan,
derivate ergotamin (sudah jarang dipakai)
• Aura = gejala neurologik fokal • Profilaksis :
yang mendahului/menyertai – Amitriptilin, β-bloker, asam valproat, CCB
serangan migren. Bisa
berupa visual (co. kilatan
cahaya), sensorik, motorik.

Sumber : Konsensus nasional penanganan nyeri kepala di Indonesia


Tiga tipe nyeri kepala primer :
– TTH  terikat, tertekan, bilateral, berkaitan dengan stress,
disertai ketegangan otot leher, intensitas ringan-sedang.
– Migrain  berdenyut, biasanya unilateral, disertai mual,
muntah, fotofobia, fonofobia, dapat disertai aura (classic
migrain) ataupun tidak (common migrain), intensitas
sedang-berat.
– Cluster  seperti ditusuk, unilateral, periorbita, dapat
menjalar ke temporal/retroorbita, gejala tambahan:
lakrimasi, diplopia, rinore, kongesti nasal, edema palpebra,
injeksi konjungtiva.
Sumber : Konsensus nasional penanganan nyeri kepala di Indonesia
Tension
Migraine headache Cluster headache
headache
Kualitas Ditekan/diikat Berdenyut Menusuk
Ringan atau
Intensitas Sedang atau berat Berat sekali
sedang
Lokasi Bilateral Unilateral Unilateral
Memberat dengan
Tidak Ya Tidak
aktivitas
Mual Ada/tidak Ada Tidak ada
Muntah Tidak ada Ada Tidak ada
Fotofobia Ada/tidak Ada Tidak ada
Fonofobia Ada/tidak Ada Tidak ada
Ada (classic)/tidak
Aura Tidak ada Tidak ada
(common)
Lakrimasi, injeksi
konjungtiva, rinorea,
Gejala penyerta
dan perspirasi wajah
yang ipsilateral
Tatalaksana nyeri kepala (ringkasan)
• Tension headache
– Akut: NSAID (ibuprofen adalah DOC), aspirin, dan parasetamol
– Preventif: antidepresan trisiklik (amitriptilin atau nortriptilin)
• Migraine headache
– hindari pencetus
– terapi abortif:
• non spesifik: acetaminofen, NSAID
• spesifik: triptan, ergotamine, DHE
– Bila tidak respon  opioid dan analgetik yang mengandung
butalbital
• Cluster headache
– Akut: triptan atau ergot dengan metoclopramide
– Preventif: Calcium channel blockers, amitriptilin
Pilihan Lainnya
• A. Kluster  Tidak ada aura
• B. TTH  Tidak ada aura, kaku di leher
• C. Vertigo  pusing berputar
• E. Trigeminal neuralgia nyeri wajah
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

D.Migraine
5. C. Guillain Barre Syndrome
• Keywords;
– Laki-laki, 17 tahun
– Anamnesis  Demam diikuti ascending paralysis
– PF  Motorik atas 4444/4444, bawah 3333/3333.
refleks fisiologis keseluruhan menurun

• Dugaan diagnosis yang paling sesuai?


GBS
• Penyakit yang menyebabnya demielinisasi
sebagai akibat dari aktivitas sistem imun
setelah terjadinya infeksi.
• Gejala yang muncul meliputi kelemahan yang
ascending disertai penurunan refleks.
• Tatalaksana definitif meliputi IVIG ataupun
plasmapheresis
• Tatalaksana suportif dapat berupa steroid,
analgesik dan dapat diberikan fisioterapi
Harrison Manual of Medicine
Pilihan Lainnya
• A. Myasthenia Gravis  Lelah pada sore hari,
wartenberg (+)
• B. ALS  Terjadi dari tangan dan lengan,
sering pada usia 50an
• D. MS  Kelemahan otot sering disertai
diplopia, dysarthria, urinary retention,
konstipasi, dan vertigo
• E. Poliomielitis  paralisis asimetris
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C.Guillain Barre Syndrome


6. D. Parasetamol
• Keywords:
– Perempuan, 23 tahun
– Nyeri seluruh kepala, diikat, disertai kaku leher
– Sering dirasakam sebelumnya
– Tanda vital dalam batas normal
– Tidak ada defisit neurologis
• Diagnosis TTH
• Tatalaksana awal yang sesuai?
Tiga tipe nyeri kepala primer :
– TTH  terikat, tertekan, bilateral, berkaitan dengan stress,
disertai ketegangan otot leher, intensitas ringan-sedang.
– Migrain  berdenyut, biasanya unilateral, disertai mual,
muntah, fotofobia, fonofobia, dapat disertai aura (classic
migrain) ataupun tidak (common migrain), intensitas
sedang-berat.
– Cluster  seperti ditusuk, unilateral, periorbita, dapat
menjalar ke temporal/retroorbita, gejala tambahan:
lakrimasi, diplopia, rinore, kongesti nasal, edema palpebra,
injeksi konjungtiva.
Sumber : Konsensus nasional penanganan nyeri kepala di Indonesia
Tension
Migraine headache Cluster headache
headache
Kualitas Ditekan/diikat Berdenyut Menusuk
Ringan atau
Intensitas Sedang atau berat Berat sekali
sedang
Lokasi Bilateral Unilateral Unilateral
Memberat dengan
Tidak Ya Tidak
aktivitas
Mual Ada/tidak Ada Tidak ada
Muntah Tidak ada Ada Tidak ada
Fotofobia Ada/tidak Ada Tidak ada
Fonofobia Ada/tidak Ada Tidak ada
Ada (classic)/tidak
Aura Tidak ada Tidak ada
(common)
Lakrimasi, injeksi
konjungtiva, rinorea,
Gejala penyerta
dan perspirasi wajah
yang ipsilateral
Tatalaksana nyeri kepala (ringkasan)
• Tension headache
– Akut: NSAID (ibuprofen adalah DOC), aspirin, dan parasetamol
– Preventif: antidepresan trisiklik (amitriptilin atau nortriptilin)
• Migraine headache
– hindari pencetus
– terapi abortif:
• non spesifik: acetaminofen, NSAID
• spesifik: triptan, ergotamine, DHE
– Bila tidak respon  opioid dan analgetik yang mengandung
butalbital
• Cluster headache
– Akut: triptan atau ergot dengan metoclopramide
– Preventif: Calcium channel blockers, amitriptilin
Pilihan Lainnya
• A&B. Tramadol&MorfinBkn Tx awal
• C&E. Ergotamin&Sumatriptan Abortif
Migraine dan cluster
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

D. Parasetamol
7. A. TIA
Keywords:
– Laki, 53 tahun
– Anggota gerak kanan melemah saat nonton film
porno
– Membaik sendiri dalam 15-30 menit
– Pernah keluhan serupa 1 tahun lalu
Diagnosis yang tepat?
Stroke iskemik Vs Hemoragik

• Ada tanda peningkatan TIK


• Penurunan kesadaran Pasien sadar, datang dengan defisit
• Muntah proyektil neurologis (bicara pelo, hemiparesis)
• Nyeri kepala
• TD amat tinggi

Untuk memastikan, perlu pemeriksaan penunjang: CT Scan, MRI


Stroke iskemik Vs Stroke hemoragik
• Etiologi: trombus/emboli • Etiologi: perdarahan intraserebral
• Klinis: • Klinis:
– Anamnesis: defisit neurologis akut – Anamnesis: defisit neurologis akut
(seringnya hemiparesis) +penurunan kesadaran+nyeri
– PF: kesadaran umumnya tidak menurun kepala+muntah proyektil
– tanda lesi UMN (hiperrefleks, ada refleks – PF: tanda lesi UMN, hipertensi
patologis) – Penunjang (CT Scan): area
– Penunjang (CT Scan): area hipodens hiperdens di serebrum
serebrum • Tatalaksana:
• Tatalaksana: – Bedah, Medikamentosa
– Trombolitik (r-TPA) • Antihipertensi
 3-4,5 jam setelah onset • Agen diuretik osmotik
– Aspirin 325 mg (misal manitol)
– Clopidogrel 300 mg
– Aspirin 325 mg + dipyridamole 2x200 mg
Updates AHA/ASA Stroke Recommendations
TIA dan RIND
– Etiologi : iskemia otak yang tidak menyebabkan infark
– Tampilan klinis :
• TIA: Defisit neurologis akut yang kembali menjadi normal
dalam waktu 24 jam.
• RIND : Gejala lebih dari 24 jam, tapi membaik dalam 72 jam
– Tatalaksana : Aspirin atau clopidogrel
(untuk mencegah terjadinya stroke)
Stroke in evolution
Episode dalam stroke iskemik saat gejala perlahan-lahan
memberat mencapai maksimal (permanen)
Pilihan Lainnya
• B. RIND membaik < 72 jam
• C. Stroke in Evolution  perburukan keluhan
neurologis
• D. On Going Stroke Istilah tidak digunakan
• E. Konversi Kejadian traumatik
menyebabkan gangguan saraf
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

A.TIA
8. B. Autoantibodi yang merusak
reseptor asetilkolin di taut otot-saraf
• Keywords;
– Perempuan, 31 tahun
– Anamnesis  Kelemahan pada tungkai, lengan,
kelopak mata
– Lemah terutama pada sore hari
• Diagnosis  MG
• Patofisiologi penyakit?
Myasthenia Gravis
• Penyakit Autoimun yang jarang, menyerang
reseptor asetilkolin pada Neuromuscular
Junction
• Keluhan awalnya muncul kelemahan otot
pada sekitar mata, tetapi dapat muncul pada
tungkai
• Tatalaksana meliputi pemberian
Asetilkolinesterase inhibitor (piridostigmin),
plasmaferesis, steroid serta timektomi.
Harrison Manual of Medicine
Pilihan Lainnya
• A. Mielin Saraf pusat Multiple Sclerosis
• C & D.  MG hanya menyerang asetilkolin
saja
• E. Demielinisasi saraf perifer GBS
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

B. Autoantibodi yang
merusak reseptor
asetilkolin di taut otot-
saraf
9. C. Tonik Klonik (Grand Mal)
• Keywords:
– Laki-laki, 7 thn
– Teriak diikut kaku seluruh tubuh, diikuti kelojotan
– Demam (-), keluhan lain (-)
• Kemungkinan kejang pada pasien?
Kapita Selekta Kedokteran
Grand Mal / Tonik Klonik
Status Epileptikus (= Status Konvulsivus)

• Bangkitan yang berlangsung >30 menit ATAU


• Dua bangkitan atau lebih di antara bangkitan
tersebut tidak terdapat pemulihan kesadaran
PENTING!!

Istilah epilepsi tidak sama dengan kejang.


Seseorang yang menderita epilepsi  bisa saja saat ini tidak sedang
dalam bangkitan epilepsi.
“Orangnya sedang kejang” = “bangkitan epilepsi”.
Pilihan Lainnya
• A. Mioklonik  Gerakan cepat melempar
barang
• B. Petit mal Bengong beberapa saat
• D. general sekunder dari sebagian tubuh,
menjalar ke seluruh tubuh
• E. Kejang Demam  perlu ada demam
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C.Grand Mal
10. B. Fenitoin
• Keywords:
– Laki, 22 tahun, dibawa ke IGD  kejang > 10 x
– Di sela kejang perbaikan kesadaran (-)
– Epilepsi, tidak minum obat teratur 1 bln terakhir
• Terapi yang tepat adalah Fenitoin
Status Epileptikus (= Status Konvulsivus)

• Bangkitan yang berlangsung >30 menit ATAU


• Dua bangkitan atau lebih di antara bangkitan
tersebut tidak terdapat pemulihan kesadaran
PENTING!!

Istilah epilepsi tidak sama dengan kejang.


Seseorang yang menderita epilepsi  bisa saja saat ini tidak sedang
dalam bangkitan epilepsi.
“Orangnya sedang kejang” = “bangkitan epilepsi”.
Algoritme Penanganan Status Konvulsivus
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

B.Fenitoin
11. B. CTS
• Keywords:
– Perempuan, 40 tahun
– Nyeri pergelangan tangan, menjalar ke siku dan
telapak tangan.
– Kesemutan, sampai terbangun saat tidur
– Phalen test +
• Diagnosis?
Manifestasi Klinis Carpal tunnel syndrome

• Kumpulan tanda dan gejala akibat penekanan nervus


medianus dalam terowongan karpal (carpal tunnel)
• Gejala umum: kesemutan, kebas, nyeri pada lokasi yang
dipersarafi nervus medianus (terutama pada malam hari)

• Gejala lain: kadang pasien


menjatuhkan barang yang
digenggam tanpa terasa, gejala
intermiten.
• Gejala malam hari biasanya cukup
spesifik untuk CTS terutama bila
gejala berkurang jika menggerak-
gerakkan tangan.
• Pemeriksaan dapat dengan EMG
Sumber: emedicine carpal tunnel syndrome
• Terapi:
– Penggunaan splint pada malam hari (3 minggu)
– Medikamentosa: NSAID, injeksi steroid
– Terapi lainnya: Yoga
Tarsal Tunnel Syndrome & Lesi Nervus Perifer

• Tarsal tunnel syndrome


– Akibat kompresi nervus tibialis
– Nyeri yang menjalar dari
pergelangan kaki medial ke arah
distal
– Klinis:
– Tata laksana: injeksi steroid, bedah
kalau tidak mempan
• Lesi nervus…
– …radialis: wrist drop
– …medianus: tidak bisa oposisi,
MCP I-II tidak bisa fleksi, PIP dan
DIP I-II tidak bisa ekstensi
– ..ulnaris: MCP IV-V tidak bisa fleksi,
PIP dan DIP IV-V tidak bisa ekstensi
Pilihan Lainnya
• A. Tarsal Tunnel di kaki
• C. Radialis wrist drop
• D. Medianus  Ape Hand
• E. ALS Disertai gangguan neurologis lainnya
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

B.CTS
12. C. Prednison 1mg/kgbb selama 10
hari
• Keywords:
– Perempuan, 25 tahun
– Mulut mencong ke kiriketika bangun tidur
– Tidak ada defisit neurologis
– TTV dbn
– Paresis N VII perifer dekstra
• Diagnosis Bell’s palsy
• Terapi yang tepat?
Bell’s Palsy
• Etiologi
– Paralisis akut nervus VII perifer unilateral, biasanya
karena terkena angin/udara dingin dalam waktu lama.
• Diagnosis
– Dahi dan pipi tidak bisa digerakkan, kelopak mata
tidak bisa menutup (lagoftalmus), bibir tertarik ke sisi
yang sehat.
• Terapi
– Steroid, plester mata ketika tidur, rehabilitasi fisik.
– Artificial tears untuk mata yang lagoftalmus
Bell’s Palsy

Gejala:
– Dahi tidak bisa
digerakkan
– Lagoftalmus (tidak
bisa menutup mata)
– Tidak bisa
menggembungkan
pipi
– Tidak bisa senyum
atau bersiul
– Mulut mencong ke
sisi sehat

Buku Neurologi Klinik Snell


Pilihan Lainnya
• A. Fisioterapi  dilakukan di akhir setelah
kelemahan otot membaik
• B. masase  tidak digunakan pada Bell’s palsy
• D. Acetaminofen pereda nyeri
• E. Piracetam memperbaiki kognitif
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C.Prednison 1 mg/kgBB
selama 10 hari
13. B. Meningitis Bakterial
• Keywords:
– Laki-laki, 37 tahun
– Penurunan kesadaran sejak 3 hari,Nyeri kepala, demam.
– Keluar cairan dari telinga (OMA / OMSK)
– GCS 10, kaku kuduk +
– Hb 13, Leukosit 15000, Trombosit 250000
• Diagnosis?
– Infeksi telinga memiliki komplikasi tersering berupa
Abses otak, tetapi juga dapat menyebabkan meningitis
/ meningoensefalitis bakterial
Diagnosis Banding Infeksi SSP
Klinis/Lab. Ensefalitis Meningitis Mening.TBC Mening.virus Ensefalopati
bakterial
Onset Akut Akut Kronik Akut Akut/kronik

Demam < 7 hari < 7 hari > 7 hari < 7 hari </> 7 hari/(-)

Kejang Umum/fok Umum Umum Umum Umum


al
Penurunan Somnolen Apatis Variasi, apatis - CM - Apatis Apatis - Somnolen
kesadaran - sopor sopor
Paresis +/- +/- ++/- - -

Perbaikan Lambat Cepat Lambat Cepat Cepat/Lambat


kesadaran
Etiologi Tidak dpt ++/- TBC/riw. kontak - Ekstra SSP
diidentifik
asi
Terapi Simpt/anti Antibiotik Tuberkulostatik Simpt. Atasi penyakit
viral primer
Cairan Serebrospinal pada Infeksi SSP

Bact.men Viral men TBC men Encephalitis Encephalopa


thy
Tekanan ↑↑ Normal/↑ ↑ ↑ ↑

Makros. Keruh Jernih Xantokrom Jernih Jernih


Lekosit > 1000 10-1000 500-1000 10-500 < 10
PMN (%) +++ + + + +
MN (%) + +++ +++ ++ -
Protein ↑↑ Normal/↑ ↑ Normal Normal

Glukosa ↓↓ Normal ↓↓ Normal Normal

Gram /Rapid Positif Negatif Negatif Negatif Negatif


T.

Sumber : www.emedicine.Medscape.com
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

B.Meningitis Bakterial
14. A. Serangan panik dengan agorafobia

• Keywords:
– Perempuan 50 tahun
– Cemas di tempat keramaian
– Nyeri dada dan takut mati, beberapa menit
– Tidak berani keluar rumah sendirian dan takut di
tempat ramai
• Diagnosis: Serangan panik dengan agorafobia.
• Tatalaksana akut: alprazolam, tatalaksana
jangka panjang: SSRI (fluoxetin).
Sumber : www.emedicine.Medscape.com
Pilihan Lainnya
• B. panik tanpa agorafobia Panik muncul
tidak terkait dengan kesendirian di umum
• C&D. Ggnkepribadian tidak muncul keluhan
nyeri dada dan cemas sampai takut mati
• E. Gangguan Somatisasi Muncul banyak
keluhan pada berbagai organ tanpa sebab dan
pemicu yang jelas
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

A. Serangan panik dengan


agorafobia
15. E. Fluoxetine
• Keywords:
– Perempuan, 33 tahun
– Lelah, murung, hilang minat
– Tidak mau bertemu tetangga
– Belum memiliki keturunan
– Merasa tidak berguna dan tidak beruntung

• Diagnosis? Depresi
• Tatalaksana?
Klasifikasi Depresi PPDGJ
GEJALA UTAMA GEJALA TAMBAHAN
0 Mood depresif (selalu murung,
menangis)
0 Lelah, energi menurun, tidak 0 Konsentrasi berkurang
bersemangat beraktivitas 0 Percaya diri berkurang
0 Minat dan kegembiraan hilang 0 Rasa bersalah dan tidak
berguna
0 Pandangan masa depan
0 KASUS suram
0 Depresi sedang ada 0 Ide bunuh diri
gangguan dalam melakukan
kegiatan sosial/pekerjaan 0 Tidur terganggu
0 tanpa gejala psikotik 0 Nafsu makan kurang
Sumber: Panduan pelayanan departemen psikiatri FKUI
Depresi
• Gangguan suasana perasaan berupa mood yang
turun, berlangsung minimal 2 minggu.
• MLM  M-ood turun, L-elah terus, M-inat hilang
• Klasifikasi:
– Ringan: gangguan ringan dalam keseharian
– Sedang: gangguan dalam beberapa aspek kehidupan,
biasanya muncul beberapa gejala somatis seperti
gangguan seksual, keluhan tubuh, sakit kepala, dll.
– Berat: biasanya ada gejala psikotik (waham,
halusinasi) atau upaya bunuh diri
Mekanisme kerja SSRI (fluoxetine)

fluoxetine
Pilihan Lainnya
• A. Asam Valproat Mood Stabilizer
• B. Lorazepam Anti Anxietas
• C&D. Risperidon & Olanzapin Anti psikotik
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

E.Fluoxetine
16 E. Skizofrenia Paranoid

• Keywords:
• Laki 40 tahun
- Diam dan tidak mau makan
- Mencurigai disantet, diracuni, dikendalikan
tubuh dan pikiran
- Tidak mau bertemu orang lain

• Kemungkinan diagnosis ?
Skizofrenia
Diagnosis
• Minimal 2 dari gejala : waham, halusinasi, bicara tidak
teratur, perilaku tidak teratur atau katatonik, gejala
negatif (afek datar, kehilangan gairah)
• Atau satu gejala ini: waham bizarre, halusinasi auditorik
dimana suara mengkomentari perilaku pasien terus, atau
halusinasi auditorik dimana dua atau lebih suara
berbicara satu sama lain
• Gejala lebih dari satu bulan
• Fungsi sosial atau pekerjaan terganggu
Tatalaksana
• Antipsikotik gen. 1: chlorpromazine, haloperidol
• Antipsikotik gen. 2: aripiprazole, clozapine, olanzapine,
risperidone

Sumber: PPDGJ + Medscape


Klasifikasi Skizofrenia
– Paranoid: waham dan halusinasi
– Hebefrenik: perilaku dan bicara tidak teratur
– Katatonik: mengambil posisi tubuh yang aneh, reaksi
terhadap lingkungan berkurang (stupor), mutisme,
menolak untuk bergerak (negativisme)
– Tak terinci: tidak memenuhi paranoid, hebefrenik,
ataupun katatonik
–Residual: ada riwayat diagnosis skizofrenia
di masa lalu, tapi sekarang hanya tinggal
gejala negatifnya saja.
– Simpleks: hanya berupa gejala negatif (penarikan diri
dari lingkungan), tidak ada riwayat skizofrenia di masa
lalu

Sumber: PPDGJ + Medscape


Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C.Skizofrenia Paranoid
17 C. Gangguan Somatisasi
• Keywords:
- Wanita 33 tahun
- Mengeluh lemas, pusing, kembung, diare,
gatal, nyeri dada
- Pemeriksaan fisik tidak ada kelainan
• Kemungkinan diagnosis ?
Gangguan Somatisasi
 banyak keluhan fisik, tapi PF tidak ada kelainan
Gangguan-Gangguan Somatoform
• Malingering
– Pura-pura sakit dengan tujuan eksternal, seperti malas
kerja atau mendapatkan narkoba  bukan penyakit
• Factitious disorder
– Pura-pura sakit karena ingin mendapat perhatian atau
perawatan, bukan karena tujuan eksternal  penyakit
• Penyakit psikosomatik
– Penyakit-penyakit fisik yang memiliki aspek mental (co/
hipertensi dengan stres)  pasiennya beneran sakit

Sumber : Gabbard’s Treatment of Psychiatric Disorder


Pilihan Lainnya
• A. Hipokondriasis Pasien yakin dengan satu
diagnosis tertentu
• B. Konversi Hilangnya fungsi tubuh tertentu
• D. Disosiasi Hilang identitas ataupun ingatan
masa lalu
• E. Psikotik Muncul halusinasi dan waham
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C. Gangguan Somatisasi
18. C. Katalepsi
• Keywords:
– Perempuan 20 tahun
– Terlihat seperti patung. Pasien sering berdiam diri
seperti orang bengong, terkadang mondar-mandir,
kaku saat berjalan, kalau ditanya hanya
mengangguk, tidak mau makan dan minum
kecuali disuapi.
• Gejala yang tampak ? Katalepsi
• Catalepsy: motionlessness maintained over a long period of time.
• Catatonic excitement: agitation and seemingly pointless movement.
• Catatonic stupor: markedly slowed motor activity, often to the point
of immobility and seeming unawareness of the environment.
• Catatonic rigidity: the person assumes a rigid position and holds it
against all efforts to move him or her.
• Catatonic posturing: the person assumes a bizarre or inappropriate
posture and maintains it over a long period of time.
• Waxy flexibility: the limb or other body part of a catatonic person
can be moved into another position that is then maintained.
• Akinesia: absence of physical movement.

http://www.minddisorders.com/Br-Del/Catatonic-
disorders.html#ixzz3eO8hC3Ae
Pilihan Lainnya
• A. Flexibilitas Cerea Kaku tetapi masih dapat
digerakkan
• B. Rigiditas Hilangnya fungsi tubuh tertentu
• D. Disosiasi Hilang identitas ataupun ingatan
masa lalu
• E. Psikotik Muncul halusinasi dan waham
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C. Katalepsi
19. A. Gangguan cemas menyeluruh
• Keywords:
– Perempuan, 43 thn
– Nyeri dada dan berdebar
– Setiap suami dan anak belum pulang, setiap hari
– Lebih dari 6 bulan
• Gangguan yang dialami?
• Gangguan cemas menyeluruh  Objek cemasnya:
menyeluruh & menetap dalam 6 bulan.
• Gangguan penyesuaian  cemas atau depresi
berlebihan terkait suatu stressor < 6 bulan. Bila
stressor hilang, gejala cemas atau depresi turut
menghilang.
Pilihan Lainnya
• B. Hipokondriasis Yakin dirinya menderita
suatu penyakit
• C. Skizofrenia Muncul Gejala Psikotik
• D. Somatoform Pura-pura dirinya memiliki
penyakit, terdiri atas factitious, malingering,
ataupun psikosomatis
• E. Depresi Muncul gangguan Mood
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

A. Gangguan Cemas
Menyeluruh
20. B. Retardasi Mental Ringan
• Keywords:
– Anak 8 tahun
– Lambat belajar, sudah 2x tidak naik kelas, susah
menerima pelajaran
– IQ 54
• Diagnosis? Retardasi Mental Ringan (IQ 50-69)
Retardasi Mental
• Suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau
tidak lengkap, ditandai oleh hendaya ketrampilan
selama masa perkembangan, sehingga mempengaruhi
tingkat kecerdasan secara menyeluruh  dapat terjadi
dengan / tanpa gangguan jiwa/fisik lainnya
• Klasifikasi menurut IQ
– Ringan 50-69
– Sedang 35-49
– Berat 20-34
– Sangat berat < 20

Buku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III


Dengan Demikian Jawabannya Adalah

B. Retardasi Mental Ringan


21 D. Pedofilia
• Keywords:
- Gemar bermain dengan anak-anak
- Malkukan kekerasan seksual pada anak-anak

• Gangguan seksual ?
Pedofilia  preferensi seksual pada anak2
Fetihisme  kepuasan seksual dengan
mengandalkan benda2 tertentu sebagai objek
fantasi  partner seksual yang memakainya.
Bedakan dengan transvestisme  kepuasan seksual
dengan memakai pakaian lawan jenis untuk
menghayatinya (riasan lengkap, rambut palsu).
Masokisme  preferensi seksual untuk menjadi
korban disiksa
Sadisme  preferensi seksual untuk menjadi pelaku
yang menyiksa
Nekrofilia  preferensi seksual pada mayat.
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

A. Pedofilia
22. A. Intoksikasi opioid
• Keywords:
– Laki, 18 tahun  IGD   kesadaran
– PF: TD 70/30 mmHg, FN 44 x/m, FP 12 x/m, T 35°C
– Pinpoint pupil, bibir sianosis,  bising usus, kulit
kering.
• Diagnosis? Intoksikasi  opioid
• Trias penurunan kesadaran + miosis pupil +
depresi napas adalah khas untuk intoksikasi
opioid
• Contoh opioid: heroin, kodein, morfin

7/7/2018 Sumber : Panduan praktis penggunaan klinis obat psikotropik


Tanda Intoksikasi (Toxidromes)
Tekanan Frekuensi Frekuensi Ukuran
Tanda Suhu Bising usus Keringat
darah nadi napas pupil

Antikolinergik ~ Naik ~ Naik Naik Turun Turn

Kolinergik ~ ~ ~ ~ Turun Turun Naik

Halusinogenik Naik Naik Naik ~ Naik Naik ~

Opioid Turun Turun Turun Turn Turun Turun Turun

Simpatomimetik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik

Sedatif-hipnotik Turun Turun Turun Turun ~ Turun Turun


Gejala Intoksikasi
• Antikolinergik
• Sedatif-hipnotik
– Contoh: antipsikotik, antidepresan,
antiparkinson – Contoh: antikonvulsan, barbiturat,
benzodiazepine, GABA, etanol
– Gejala: pandangan kabur, penurunan
kesadaran, halusinasi, flushing, – Gejala: penurunan kesadaran,
demam, kulit kering, ileus, retensi urin, pandangan kabur, ataxia,
takikardia parastesia, halusinasi, nistagmus
• Kolinergik • Simpatomimetik
– Contoh: organofosfat (obat nyamuk, – Contoh: amfetamin, kokain,
obat hama) metamfetamin, efedrin,
fenilpropanolamin
– Gejala: bronkorea, bronkospasme,
salivasi, lakrimasi, urinasi, diare, – Gejala: cemas, waham,
muntah hiperrefleks, piloeereksi, kejang
• Halusinogenik
– Contoh: amfetamin, kokain, fensiklidin
– Gejala: disorientasi, halusinasi, bising
usus meningkat, panik, kejang
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

A. Intoksikasi Opioid
23. D. Perdarahan Subarachnoid
• Keywords:
– Perempuan, 20 tahun  KLL
– Pusing, muntah, nyeri belakang kepala
– Kaku kuduk, refleks patologis, suhu tubuh
meningkat
• Apa yang mungkin terjadi?
Perdarahan SAH
• Perdarahan pada rongga • Gejala dan tanda :
diantara membran – Nyeri kepala hebat
arachnoid dan piamater (Thunderclap headache)
yang melapisi otak, – Muntah
seringnya terjadi pada – Penurunan Kesadaran
ruptur aneurisma atau – Kejang
trauma otak – Rangsang Meningeal (+)
• Pemeriksaan terbaik
menggunakan CT scan
melihat perdarahan pada
otak

7/7/2018 Sumber : Medscape


Jenis Perdarahan Pada CT Scan
Subarachnoid Hemorrhage Intraventricular Hemorrhage
Jenis Perdarahan Pada CT Scan
Perdarahan Epidural Perdarahan Subdural
Pilihan Lainnya
• A. Laserasi Serebri Robeknya antara lapisan
duramater dan Piamater
• B. Commotio  penurunan kesadaran
sementara akibat trauma
• C. Fr Basis Cranii Battle sign +, Racoon Eye +
• E. Perdarahan Intraventrikuler Meningeal
sign (-).
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

D. Perdarahan subarachnoid
24. C. Temperatur
• Keyword
– Anak 18 bulan, kejang selama 10 menit kemudian
menangis 5 jam lalu
– Menderita batuk pilek sejak kemarin
– Keluarga riwayat epilepsi
– Suhu 38,2 C, Faring Hiperemis, tonsil T2/T2
– Kejang berulang di UGD selama 5 menit

– Diagnosis: kejang demam kompleks


– Faktor Resiko?
Kejang Demam
Bangkitan kejang saat kenaikan suhu tubuh (rektal > 38oC),
disebabkan proses ekstrakranial

• Umumnya usia 6 bulan – 5 tahun  di luar usia


ini, pikirkan penyebab lain!
– infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi
bersama demam.

• Sederhana: <15 menit; kejang umum tonik


dan/atau klonik; tanpa gerakan fokal; tidak
berulang dalam 24 jam.
– Kompleks jika ada kriteria sederhana tidak terpenuhi
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam IDAI
Penunjang pada Kejang Demam
• Pemeriksaan laboratorium:
– tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam,
– dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab
demam,
– Darah perifer, elektrolit dan gula darah
• Pungsi lumbal:
– Menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis.
– Dianjurkan pada:
• Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan
• Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
• Bayi > 18 bulan tidak rutin
– Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan
pungsi lumbal.
• Elektroensefalografi
– Tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien
kejang demam  tidak direkomendasikan
– Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang
demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks
pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
• Pencitraan:
– Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti CT-scan atau MRI
jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi
seperti:
• Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
• Paresis nervus VI
• Papiledema
Pilihan Lainnya
• A-B-E  Usia, jenis kelamid, dan durasi kejang
bukan faktor resiko
• E. Riwayat Epilepsi Perlu ada riwayat kejang
tanpa demam
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

C. Temperatur
25.D. Vertigo tipe sentral
• Keywords:
– Perempuan, 18 tahun
– Pusing berputar sejak 3 hari terus menerus
– Penglihatan ganda, nistagmus vertikal
– Limb ataxia (Gangguan koordinasi otot umumnya
akibat lesi serebelum)
– Diagnosis yang paling mungkin?
Sumber : Medscape
Sumber : Medscape
Pilihan Lainnya
• A. Dizziness Keluhan kepala ringan atau
melayang
• B. Giddiness  Perasaan berputar dan ketidak
seimbangan
• C. Vertigo perifer Keluhan diperberat
dengan pergerakan, tidak ada defisit
neurologis lain
• E. Vertigo campuran keluhan diperberat
dengan pergerakan
Dengan Demikian Jawabannya Adalah

D. Vertigo tipe sentral


26 E. Glaukoma sekunder

Keywords:
• Sering tersandung
• TIO 20 mmHg
• Segmen anterior mata: kekeruhan pada lensa
• Segmen posterior : CD rasio 0,8.

Diagnosis ? Glaukoma sekunder


Glaukoma
• Glaukoma dibedakan menjadi:
– Glaukoma Primer
• Dewasa(Simpleks/sudut terbuka dan terutup)
• Kongenital
– Glaukoma Sekunder komplikasi dari kondisi
tertentu (ex. Trauma, katarak, hifema, dll)
–Glaukoma absolut: “end stage” glaukoma
Pilihan Lain
• A. Glaukoma akut  mata merah & nyeri,
melihat halo, mual muntah, pupil midriasis, TIO
>>
• B. Glaukoma kronis  “tunnel vision”, CDR > 0,5
• C. Glaukoma definitif
• D. Glaukoma fakolitik  glaukoma yang timbul
akibat proses pencairan nukleus lensa pada
katarak hipermatur.  bagian dari glaukoma
sekunder.
• Jadi, diagnosis pada pasien ini adalah

E. Glaukoma sekunder
27 D. Keratitis
Keywords:
• Penurunan penglihatan mata kanan
• Mata kanan nyeri, berair, dan silau
• Menggunakan kontak lens kosmetik
• Injeksi kornea, sekret, visus OD 6/15 dan OS 6/6.

Diagnosis ? Keratitis
Keratitis
• Mata Merah Visus turun
• Injeksi silier
• Edema kornea

Keratitis
Etiologi keratitis
ETIOLOGI KARAKTERISTIK TATALAKSANA
Keratitis bakterial Sekret purulen antibiotik topikal
Keratitis herpes simpleks Lesi dendritik antiviral topikal
Keratitis fungal Riwayat trauma dengan antifungal topikal
tumbuhan
Lesi satelit
Keratitis amuba Riwayat berenang dan amebisida
lensa kontak.
Terapi Keratitis

Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: a systematic approach 7th ed. USA: Elsevier. 2011
Pilihan Lain
• A. Iritis  radang/ infeksi iris
• B. Planitis  radang pars plana dari korpus
siliaris.
• C. Skleritis  radang / infeksi sklera
(profundal); tonjolan merah yang nyeri hebat
& injeksi tidak hilang dengan fenilefrin topikal.
• E. Episkeleritis  radang jaringan episklera
(sklera superfisial)
• Jadi, diagnosis pada pasien ini adalah

D. Keratitis
28 C. Ablatio retina
Keywords:
• Pandangan kabur dan sering silau
• Pandangan seperti tertutup tirai yang
bergoyang - goyang.

Diagnosis ? Ablatio retina


Retinal Detachment
ILMU PENYAKIT MATA NANA WIJANA

Ablasio retina
• Ablatio retina adalah lepasnya lapisan sensoris
retina (sel batang dan sel kerucut) dari lapisan
epitel pigmen retina.
• Keluhan khas :
- Ada bintik bintik hitam pada lapangan
penglihatannya (floaters)
- Sensasi kilatan kilatan cahaya (fotopsi)
- Penglihatan seperti tertutup tirai dan bahkan
gelap sama sekali.
Ablasio Retina

• Pemeriksaan untuk memastikan : Funduskopi.

• Pada pemeriksaan oftalmologis dapat ditemukan


adanya: defek relatif pupil aferen (RAPD), tekanan
intraokular yang menurun, iritis ringan, adanya
gambaran tobacco dust atau Schaffer sign,
robekan retina pada funduskopi.
• Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina
yang terangkat berwarna pucat dengan
pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya
robekan retina berwarna merah. Bila bola mata
bergerak akan terlihat retina yang terlepas
bergoyang.
Ablasio retina
• Dikelompokan dalam 3 jenis :
– Ablatio retina regmatogen karena adanya
robekan/lubang pada retina
– Ablatio retina traksional oleh karena tarikan terhadap
retina
– Ablatio retina eksudatif akibat komplikasi penyakit lain
misalnya adanya tumor, hipertensi, peradangan dll.

• Tatalaksana : pneumatic retinopexy, pembedahan


scleral bucling dan vitrektomi
Pilihan Lain
• A. Glaukoma akut  nama lain: glaukoma primer
sudut tertutup.
• B. Katarak  mata tenang visus turun perlahan,
shadow test.
• D. Degenerasi makula karena usia  mata tenang
visus turun mendadak, funduskopi : badan
drusen
• E. Retinitis pigmentosa  degenerasi sel batang
dan kerucut terkait genetik (timbul rabun senja
hingga buta total), funduskopi : pigmentasi
spikula
• Jadi, diagnosis pada pasien ini adalah

C. Ablatio retina
29 C. Anisometropia
Keywords:
• Pemeriksaan koreksi lensa mata kanan
s+2,50 5/15
s+3,00 5/10
s+3,50 5/6
s+4,00 5/5
s+4,25 5/5.
Pada mata kiri s-0,50

Diagnosis ? Anisometropia
ANISOMETROPIA
• Anisometropia adalah suatu keadaan yang terjadi
pada mata yang memiliki kekuatan refraksi yang
berbeda, yakni perbedaan besar miopia,
hipermetropia, atau antimetropia (satu mata
miopia, yang lainnya hipermetropia), serta
silindris (astigmatisma).
•  memicu mata cepat lelah dan diplopia, hingga
ambliopia.
• Tatalaksana: kacamata dengan koreksi iseikonik
(penyesuaian besar gambar yang dihasilkan
kedua mata) atau lensa kontak.
Pilihan Lain
• A. Emetropia  mata normal
• B. Aniseikonia  tidak samanya bentuk dan
ukuran bayangan pada kedua retina.
• D. Astigmatisma  kelainan kurvatura kornea
sehingga bayangan jatuh pada 2 titik fokus di
sumbu retina.
• E. Afakia  tidak adanya lensa mata
• Jadi, diagnosis pada pasien ini adalah

C. Anisometropia
30 B. Kortikosteroid topikal
Keywords:
• Mata kanan terasa mengganjal
• Sekret, gatal
• Sering berin-bersin pada pagi hari
• Visus ODS 20/20, injeksi episklera (+)

Terapi ? Kortikosteroid topikal


Konjungtivitis Vernal
• Gejala dan tanda :
- Mata merah dan gatal
- Sekret berair
- Injeksi konjungtiva
- Giant papil = cobble stone

TATALAKSANA :
1. Menghindari alergen
Cobblestone Appearance
2. Mast cell stabilizer
3. Steroid
4. Antihistamin
http://emedicine.medscape.com/article/1211763-treatment
Konjungtivitis
Inflamasi atau infeksi konjungtiva

Patologi Etiologi Tanda dan gejala Tatalaksana


Bakteri staphylococci Mata merah, terasa berpasir, Antibiotik topikal
streptococci, sensasi terbakar, biasanya bilateral, Air mata buatan
gonocci kelopak mata susah membuka,
Corynebacteri injeksi konjungtiva difus, discharge
um strains mukopurulen, papil (+)

Virus Adenovirus Mata berair unilateral, merah, rasa Memburuk pada hari 3-5,
herpes tidak nyaman, fotofobia, edema sembuh sendiri dalam 7-14
simplex virus kelopak mata, limfadenopati hari
or varicella- preaurikular, konjungtivitis folikular, Air mata buatan: mencegah
zoster virus pseudomembran (+/-) kekeringan dan mengurangi
inflamasi
Antiviral herpes simplex
virus atau varicella-zoster
virus

http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html
Patologi Etiologi Tanda dan Gejala Tatalaksana
Jamur Candida spp. Jarang, biasanya pd pasien Antijamur topikal
can cause imunokompromais, pasien yg
conjunctivitis memakai kortikosteroid, pasien
Blastomyces yang mendapat terapi
dermatitidis antibiotik
Sporothrix
schenckii
Vernal Alergi Peradangan konjungtiva kronis, Hindari alergen
riwayat keluarga atopik, gatal, Antihistamin topikal,
fotofobia, sensasi benda asing, mast cell stabilizer
blefarospasme, cobblestone
pappilae.

Inklusi Chlamydia Mata merah dan nyeri selama Doxycycline 100 mg


trachomatis beberapa minggu/bulan, bid for 21 hari atau
sekret mukopurulen, lengket, Erythromycin 250 mg
sensasi benda asing, mata PO qid 21 days
berair, kelopak mata Antibiotik topikal
bengkak,kemosis,Folikel
Pilihan Lain
• A. Antibiotik Topikal  untuk infeksi bakteri
• C. Miotika Topikal  agen penyebab miosis pupil
(misal pilokarpin)
• D. Sikloplegik Topikal  agen pelumpuh otot iris
(pupil midriasis), misal atropin.
• E. Anestesi Topikal
• Jadi, terapi pada pasien ini adalah

Kortikosteroid topikal
31 A. Blefaritis
Keywords:
• Benjolan mata kanan
• Mata terasa silau dan air mata banyak, kotoran
mata (-).
• Kesulitan menutup mata dengan sempurna.
• Regio margo superior berbentuk seperti S
terbalik.

Diagnosis? Blefaritis
Blefaritis
• Tx: seka dengan air hangat untuk mempermudah
evakuasi pus (kompres hangat)
• Bersihkan tepi palpebra untuk membersihkan
dengan krusta (juga dengan kain hangat)
• Antibiotik

http://emedicine.medscape.com/article/1211763-treatment
Pilihan Lain
• B. Dakriosistitis  radang pada saluran air
mata. Bedakan dengan dakrioadenitis =
radang pada kelenjar air mata.
• C. Dakrioadenosis
• D. Keratitis  radang / infeksi kornea, mata
merah visus turun.
• E. Konjungtivitis  radang / infeksi
konjungtiva, mata merah visus normal
• Jadi, diagnosis yang tepat adalah

A. Blefaritis
32 D. S + 2,0 D
Keywords:
• Laki-laki 50 tahun
• Dokter ingin menambahkan koreksi addisi
lensa sesuai usia

addisi lensa yg dipakai ? S + 2,0 D


PRESBIOPI
Daya akomodasi mata melemah
Ditolong dengan lensa positif
Usia 40 – 44 Usia 45-49 Usia 50 – 54 Usia 55 – 59 Usia 60 tahun
tahun tahun tahun tahun

+1 +1,5 +2 +2,5 +3
Pilihan Lain
• A. S + 0,5 D
• B. S + 1,0 D  usia 40 tahun
• C. S + 1,5 D  usia 45 tahun
• E. S + 2,5 D  usia 55 tahun
• Jadi addisi lensa pada pasien ini adalah

D. S + 2,0 D
33 B. Paresis N. VI dekstra
Keywords:
• Matanya terlihat tidak sejajar
• Tes Hirschberg : esotropia dekstra.

Letak lesinya ? Paresis N. VI dekstra


Tes Hirshberg
• It is performed by shining a
light in the eyes and observing
where the light reflects off the
corneas.
– Normal: light reflex lies slightly
nasal from the center of the
cornea (approximately 11 prism
diopters -- or 0.5mm from the
pupillary axis).
– exotropia (abnormal eye is
turned out),
– esotropia (abnormal eye is
turned in),
– hypertropia (abnormal eye
higher than the normal one)
– hypotropia (abnormal eye is
lower than the normal one).
Otot Gerak Mata & Inervasinya
Pilihan Lain
• A. Paresis N. III dekstra
 eksotropia OD
• C. Paresis N. III sinistra
 eksotropia OS
• D. Paresis N. VI sinistra
 esotropia OS
• E. Paresis N. IV dekstra
 gangguan gerak mata ke inferior nasal
• Jadi, letak lesinya adalah

B. Paresis N VI dekstra
34 C. Pterigium
Keywords:
• Mata kanan berair seperti ada yang
mengganjal
• Selaput kekuningan berbentuk segitiga yang
mencapai tepi limbus kornea.
• Pasien adalah seorang petani.

Diagnosis ? Pterigium
Ilmu Penyakit Mata Nana

Pterigium Wijana

• Membran segitiga dengan puncak di kornea


• Kebanyakan di bagian nasal
• Faktor risiko : iritasi debu, sinar matahari kronik
• Tes sonde : sonde TIDAK bisa lewat (bedakan
dengan pseudopterigium).
• Tatalaksana : suportif (artificial tear, kacamata
hitam), operatif (bila telah mencapai pupil).
Grade I : mencapai limbus
Grade II : mencapai tepi pupil
Grade III : melewati pupil

Eyeworld.org
Pilihan Lain
• A. Hordeolum : papul merah, nyeri
 interna : di balik kelopak mata
 eksterna : di sudut kelopak mata
• B. Kalazion : papul tidak merah, tidak nyeri
• D. Pinguekula
 nodul kekuningan (Bedakan dengan pterigium)
• E. Pseudopterigium
 selaput kekuningan terkait riwayat trauma, tes
sonde : sonde bisa lewat.
Pinguekula
• Nodul kekuningan
• Iritasi kronik
• Penebalan konjungtiva disertai jaringan elastin
dan hialin.
• Tatalaksana : suportif (kaca mata gelap, air
mata buatan)
Pilihan Lain
• Pterigium dan
pseudopterigium
dibedakan dengan tes
sonde. Selaput pada
pterigium tidak dapat
dilewati oleh sonde.
Pilihan Lain
• Jadi, diagnosisnya adalah

C. Pterigium
35 A. Glaukoma akut
Keywords:
• Mata kiri merah, nyeri, seperti melihat
pelangi.
• Mual dan muntah
• Edema kornea, injeksi silier, pupil midriasis,
COA dangkal.

Diagnosis ? Glaukoma akut


Glaukoma
• Glaukoma dibedakan menjadi:
– Glaukoma Primer
• Dewasa(Simpleks/sudut terbuka dan terutup)
• Kongenital
– Glaukoma Sekunder komplikasi dari kondisi
tertentu (ex. Trauma, katarak fakolitik, hifema, dll)
–Glaukoma absolut: “end stage” glaukoma
• Glaukoma sudut terbuka primer:
– keluhan mata buram (penglihatan perifer)
– penurunan tajam penglihatan, cupping (penggaungan papil
> 0,5 diameter papil)
– gonioskopi sudut terbuka
– TIO normotensi
– tidak ditemukan edema atau injeksi konjugtiva/sub-
konjungtiva
Sering disebut sebagai glaukoma kronik.
Tatalaksana : medikamentosa (timolol, latanapros, pilokarpin),
operatif (trabekulektomi)

• Glaukoma sudut tertutup primer :


- peningkatan TIO mendadak
- nyeri mata/sakit kepala dominan
- mual muntah, melihat halo
- pupil midriasis
Sering juga disebut sebagai glaukoma akut.
Tatalaksana awal : asetazolamid, pilokarpin  operatif
(iridektomi)

Ilmu Penyakit Mata Nana


Wijana
Glaukoma akut/sudut tertutup
• Etiologi: obstruksi
trabekula oleh iris
• Anamnesis: mata merah
visus turun mendadak,
nyeri, mual, muntah, halo
• PF: TIO > 21, injeksi,
edema kornea, COA
dangkal
• Tx: Inisial: acetazolamide,
timolol, pilokarpin
• Definitif: iridotomi
(iridektomi)
Glaukoma kronik/sudut terbuka
• Etiologi: disfungsi trabekula  penurunan
ekskresi aquaeus humour  neuropati optik
• Anamnesis: tunnel vision atau asimptomatik
• PF: TIO normal, cup to disc ratio > 0.5. Lapang
pandang menyempit
• Penunjang: perimetri
• Tatalaksana: beta bloker topikal.
Trabekuloplasti
Trabekulektomi vs trabekuloplasti
Pilihan Lain
• B. Glaukoma kronik
 “tunnel vision”, cup disk ratio “menggaung”.
• C. Retinopati hipertensi
 visus turun perlahan, “copper wire”, av
crossing.
• D. Keratitis
 visus turun, injeksi silier
• E. Uveitis
 anterior : nyeri mata, fotofobia, miosis, flare,
keratik presipitat.
• Jadi, diagnosisnya adalah

A. Glaukoma akut
36 C. Kalazion
Keywords:
• Bintitan pada kelopak atas mata kiri.
• Papul di palpebra superior, tidak merah dan
tidak nyeri.

Diagnosis ? Kalazion
Khalazion
• Inflamasi idiopatik, steril, dan kronik dari kelenjar Meibom
• Ditandai oleh pembengkakan yang tidak nyeri, muncul berminggu-minggu.
• Dapat diawali oleh hordeolum, dibedakan dari hordeolum oleh ketiadaan tanda-
tanda inflamasi akut.
• Pada pemeriksaan histologik ditemukan proliferasi endotel asinus dan peradangan
granullomatosa kelenjar Meibom
• Tanda dan gejala:
• Benjolan tidak nyeri pada bagian dalam kelopak mata. Kebanyakan kalazion
menonjol ke arah permukaan konjungtiva, bisa sedikit merah. Jika sangat besar,
dapat menekan bola mata, menyebabkan astigmatisma.
• Tatalaksana: steroid intralesi (untuk lesi kecil), eksisi

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan


and Asbury’s General Ophtalmology 17th ed.
Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Pilihan Lain
• A. Hordeolum interna  papul merah & nyeri
di balik kelopak mata
• B. Hordeolum eksterna  papul merah &
nyeri di sudut mata
• D. Blefaritis  edema palpebra, sekret
• E. Pterigium  selaput kekuningan berbentuk
segitiga, tes sonde tidak bisa lewat.
Hordeolum interna vs Hordeolum
eksterna
• Jadi, diagnosisnya adalah

C. Kalazion
37 D. Astigmat Miop compositus
Keywords:
• Pandangan kabur.
• Visus OD -2,50 OS -2,75 C-1,50 aksis 180.

Diagnosis ? Astigmat Miop compositus


ASTIGMATISME
• Klasifikasi astigmatisma
1) MAS (Miopia Astigmat Simpleks) --> Lensa C(-) as°
2) HAS (Hipermetropia Astigmat Simpleks) --> Lensa C(+) as°
 Hanya ada komponen silindris

3) MAC (Miopia Astigmat Compositus) --> Lensa S(-), Lensa C(-) as°
4) HAC (Hipermetropia Astigmat Compositus) --> Lensa S(+), Lensa C(+) as°
 Ada komponen sferis dan silindris, tanda sama

5) MAM atau HAM


MAM (Miopia Astigmat Mixtus ) --> Lensa S(-), Lensa C(+) as°
HAM (Hipermetrop Astigmat Mixtus) --> Lensa S(+), Lensa C(-) as°
 Ada komponen sferis dan silindris , tanda beda
Pilihan Lain
• A. Astigmat mikstus
 Ada komponen sferis dan silindris , tanda
beda
• B. Astigmat Miop simplex
 Hanya ada komponen silindris negatif
• C. Astigmat Hipermetrop simplex
 Hanya ada komponen silindris positif
• E. Astigmat Hipermetrop composites
 Ada komponen sferis dan silindris, tanda sama
• Jadi, diagnosisnya adalah

D. Astigmat Miop
compositus
38 A. Serumen prop
Keywords:
• Telinga terasa penuh dan pendengaran
berkurang setelah berenang.
• Otoskopi: membran timpani sulit dinilai.

Diagnosis? Serumen prop


Serumen Prop
IMPAKSI SERUMEN: ADANYA SUMBATAN LIANG TELINGA OLEH SERUMEN (KASUS
TERSERING)
• FAKTOR RISIKO: manipulasi mekanik liang telinga kronik
• GEJALA DAN TANDA: gangguan pendengaran tipe konduktif
• DIAGNOSIS: ditemukan serumen dengan otoskop
• TATALAKSANA:
• IRIGASI (EAR TOILET)
• Ekstrasksi manual
• Seruminolitik  untuk melunakan serumen (contoh karbogliserin)
Tatalaksana
• Menghindari membersihkan • Serumen yang lembek,
telinga secara berlebihan dibersihkan dengan kapas yang
• Menghindari memasukkan air dililitkan pada pelilit kapas
atau apapun ke dalam telinga • Serumen yang keras dikeluarkan
• Indikasi mengeluarkan serumen: dengan pengait atau kuret.
– sulit melakukan evaluasi membran – serumen dilunakkan lebih dahulu
timpani, dengan tetes karbogliserin 10%
selama 3 hari.
– otitis eksterna,
– Oklusi serumen • Serumen yang sudah terlalu jauh
– bagian dari terapi tuli konduktif. terdorong kedalam liang teling
dikeluarkan dengan mengalirkan
• Kontraindikasi: perforasi (irigasi) air hangat yang suhunya
membran timpani disesuaikan dengan suhu tubuh.
Buku ajar ilmu THT
Pilihan Lain FKUI

• B. Otomikosis  otitis eksterna karena jamur


• C. Otitis eksterna sirkumskripta  furunkel
pada liang telinga sebelah luar, liang telinga
masih lapang.
• D. OMA supurasi  demam, nyeri telinga,
membran timpani pulsasi/ bulging.
• E. OMA perforasi  demam, nyeri telinga,
keluar cairan.
• SIRKUMSKRIPTA
– 1/3 luar  adnexa kulit (+)  furunkel
– ETIOLOGI: S.aureus
– GEJALA: nyeri (tidak ada jar. Longgar)
saat menekan perikondrium atau
membuka mulut, ggn pendengaran

OE AKUT
• DIFUS
– 2/3 dalam  kulit liang telinga
hiperemis dan edema tidak jelas
batasnya
KLASIFIKASI – ETIOLOGI: Pseudomonas
OTITIS EKSTERNA – GEJALA: nyeri tekan tragus, liang telinga
sempit, sekret bau

OE MALIGNA • Infeksi difus


• Terutama pada orang tua atau
TATALAKSANA UMUM
imunokompromise
• BERSIHKAN LIANG TELINGA
• ETIOLOGI: P. Aeruginosa
• Antibiotik dalam bentuk tampon lebih
• GEJALA: rasa gatal + nyeri,
efektif
pembekakan liang telinga, paralisis
• Topikal antibiotik neomisin facial jika iritasi n.VII
• Topikal antifungal polimiksin B
• Topikal steroid
• Jadi, diagnosisnya adalah

A. Serumen prop
39 A. Klebsiella ozaena
Keywords:
• Keluhan hidung buntu sejak 1 bulan ini.
• Rinoskopi anterior : krusta kehijauan, ingus
berwarna hijau, kental, dan berbau busuk.

Etiologi? Klebsiella ozaena


Ozaena (rinitis atrofi)
Rinitis atrofi
• Infeksi hidung kronik
• Adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka
• Mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan
cepat mengering sehingga terbentuk krusta yang
berbau busuk
• Wanita lebih sering terkena, usia dewasa muda
• Pada pemeriksaan histopatologi tampak metaplasia
epitel torak bersilia menjadi epitel kubik atau epitel
gepeng berlapis, silia menghilang, lapisan submukosa
menjadi lebih tipis, kelenjar berdegenerasi atau atrofi.

BUKU AJAR THT-KL. Edisik ke-6. FKUI


Rinitis atrofi
• Etiologi: infeksi oleh Klebsiella ozaena, defisiensi Fe,
defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan
hormonal, penyakit kolagen.
• Gejala dan tanda klinis: napas berbau, ingus kental
berwarna hijau, ada krusta/kerak hijau, gangguan
penghidu, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
• Pemeriksaan hidung: rongga hidung sangat lapang,
konka inferior dan media menjadi hipotrofi atau atrofi,
ada sekret purulen, dan krusta berwarna hijau.
• Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan histopatologi
dari biopsi konka media, pem.mikrobiologi, uji
resistensi kuman, dan ct scan sinus paranasal.
BUKU AJAR THT-KL. Edisik ke-6. FKUI
• Jadi, etiologinya adalah

A. Klebsiella ozaena
40 E. Otitis media supuratif kronis
Keywords:
• Keluar cairan berwarna kuning kehijauan dari
liang telinga kanan, tidak nyeri, riwayat
demam dan batuk pilek (+).
• Pasien pernah sakit seperti ini sebelumnya.
• Membran timpani perforasi letak sentral.

Diagnosis? Otitis media supuratif kronis


SEKILAS MATERI

STADIUM OTITIS MEDIA AKUT TATALAKSANA

OKLUSI: Retraksi membran timpani Tetes hidung (efedrin hcl 0.5%)

HIPEREMIS: membran timpani hiperemis + Antibiotik + tetes hidung + analgetik +


edema miringotomi

SUPURASI: BULGING + SANGAT NYERI Antibiotik + miringotomi

PERFORASI: membran timpani RUPTUR, pasien


Antibiotik + cuci dengan H2O2 3% (3-5 hari)
merasa ‘sembuh’ karena nyeri berkurang

RESOLUSI: membran timpani menutup. Resolusi


gagal jadi otitis media supuratif kronik (OMSK) > 6 antibiotik
minggu
Otitis Media Supuratif Kronis

• OMSK  OMA yang gagal resolusi (dicetuskan infeksi


pseudomonas)
• Tampilan klinis : Membran timpani perforasi, sekret
keluar terus sampai di atas 6 minggu.
– tipe benigna: kolesteatoma (-). Perforasi sentral
– tipe maligna: kolesteatoma (+). Perforasi marginal/atik
komplikasi ke jaringan sekitar defisit neurologis
• Penunjang : CT-Scan bila dicurigai ada komplikasi
• Tatalaksana :
– Benigna : Tetes telinga antibiotik, ear toilet (H2O2 3% selama 3-
5 hari), dan kauterisasi bila ada jaringan granulasi
– Maligna : Operasi eradikasi kolesteatoma
+timpanoplasti/miringoplasti
Pilihan Lain
• A. OMA  demam, nyeri telinga, tidak
berulang (bisa mengalami resolusi).
• B. Otitis eksterna difusa  nyeri tragus, liang
telinga menyempit.
• C. Otitis media serosa  nama lain: otitis
media efusi
• D. Otitis media pre supuratif  nama lain :
otitis media akut hiperemis.
• Jadi, diagnosisnya adalah

E. Otitis media supuratif kronis


41 A. Rhinitis akut

Keywords:
• Hidung tersumbat sejak 2 hari.
• Demam, bersin berulang dan ingus encer.
• Rhinoskopi anterior : mukosa merah, eritema
dan sekret serous.

Kemungkinan diagnosis? Rhinitis akut


Rhinitis akut = “common cold”
• Hidung tersumbat
• Demam dan bersin berulang-ulang
• Sekret ingus encer
• Rhinoskopi anterior: kavum nasi edema,
merah dan sekret (+).
• Etiologi: viral
Rinitis Medikamentosa
• Gangguan respon normal vasomotor hidung akibat
pemakaian vasokonstriktor topikal lama dan berlebihan
• Gejala
– Hidung tersumbat terus menerus
– Edema / hipertrofi konka, tidak berkurang dengan tampon
adrenalin
• Tatalaksana:
– Hentikan emakaian vasokonstriktor
– Kortikosteroid oral dosis tinggi jangka pendek lalu tapp-off
– Dekongestan oral
Rinitis vasomotor
• Keadaan idiopatik
• Dicetuskan rangsangan non-spesifik
• Pencetus non-alergik. eklusi alergik bisa dengan pemeriksaan
ige total
• Pencetus: bau tertentu (rokok, parfum, paint, ink), makanan
pedas, bahkan cahaya silau
• Gejala klinis
– Hidung tersumbat bergantian sesuai posisi,
– Sekret mukoid / serosa
– Golongan
• Bersin
• Rinore
• Tersumbat
• Terapi:
– Hindari stimulus
– Pengobatan simptomatis
• Golongan bersin  antihistamin, glukokortikosteroid
topikal
• Golongan rinore  antikolinergik topikal
• Golongan tersumbat  glukokortikosteroid topikal,
vasokonstriktor oral
– Operasi
– Neurektomi N.vidianus
Rinitis Alergi
• Terkait atopi  reaksi • PF:
hipersensitivitas tipe I • Stigmata atopi: nasal
• Gejala crease, allergic shiner
• Bersin • Mukosa pucat/livid
• Hidung tersumbat • Pencetus: alergen
• Rhinorea + gatal • Tatalaksana
• Konjungtivitis • Avoidance
• PND • Dekongestan
• Antihistamin
• Steroid intranasal
• Alergic shiner
• Alergic salute
• Alergic crease
• Konjungtivitis alergi
• Dermatitis atopi
• Jadi, diagnosisnya adalah

A. Rhinitis akut
42 A. Otitis media efusi
Keywords:
• Keluhan pendengaran berkurang.
• Nyeri pada telinga (-).
• Sering batuk pilek berulang.
• Membran timpani suram dengan refleks cahaya
menurun, hidung : mukosa dan konka pucat,
tonsil T1-T1, faring hiperemis.

Diagnosis? Otitis media efusi


OTITIS • Anamnesa14
– Telinga terasa penuh, terasa ada
MEDIA EFUSI cairan (grebeg-grebeg
– Pendengaran menurun
– Terdengar suara dalam telinga
• Peradangan non bakterial mukosa sewaktu menelan atau menguap
kavum timpani • Pemeriksaan fisik :
• Ditandai terkumpulnya cairan – imobilitas gendang telinga pada
yang tidak purulen (serous atau penilaian otoskop pneumatik.
mucus) tanpa tanda infeksi – MT terlihat lebih kusam dan keruh.
• Etiologi – Maleus tampak pendek, retraksi
– Kegagalan fungsi tuba eustachius dan berwarna putih kapur.
– Alergi – reflek cahaya berubah atau
menghilang
– Otitis media yang belum sembuh
sempurna – garpu tala : untuk membuktikan
adanya tuli konduksi10
– Infeksi virus
TATALAKSANA
:
DEKONGESTAN, ANTIBIOTIK,
MIRINGOTOMI, PIPA GROMET
• Buku THT FKUI - RSCM
• Terapi farmakologis • Terapi nonfarmakologis
– Antibiotik, – Miringotomi
– Steroid – Tube ventilasi (Grommet
– Antihistamin tube)
– Dekongestan
– Mukolitik.

Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga-Hidung-


Tenggorokan Kepala Leher. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2005
• Jadi, diagnosis yang tepat adalah

A. Otitis media efusi


43 A. Mastoiditis akut
Keywords:
• Nyeri belakang telinga sebelah kiri.
• Keluar cairan dari telinga kiri, sekret sangat
berbau, mastoid kiri merah, dan palpasi
teraba lunak.
• Perforasi atik membrane timpani

Kemungkinan diagnosis ? Mastoiditis akut


Mastoiditis akut
• Mastoiditis akut adalah suat infeksi bakteri
pada prosesus mastoideus hasil dari infeksi
yang lama pada telinga tengah
• bakteri yang didapat pada mastoiditis
biasanya sama dengan bakteri yang didapat
pada infeksi telinga tengah
• Bakteri paling sering: streptococcus aureus
(gram negatif)
Mastoiditis akut
• Pemeriksaan fisik didapatkan
– Kemerahan pada kompleks mastoid
– Keluarnya cairan baik bening maupun berupa
lendir (warna bergantung dari bakteri)
– Matinya jaringan keras (tulang, tulang rawan)
– Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)
– Proses peradangan yang tetap melebar ke bagian
dan organ lainnya.
– Riwayat infeksi pada telinga tengah sebelumnnya
Mastoiditis
Mastoiditis
• Infeksi bakteri pada tulang • Tatalaksana
mastoid. – Anak dirawat di rumah sakit.
• Dapat menyebabkan meningitis – Ampisilin 200 mg/kgBB/hari dibagi
dan abses otak. dalam 3 dosis, paling sedikit
selama 14 hari.
• Biasanya didahului oleh OMA • Jika hipersensitif: eritromisin
yang tidak mendapatkan ditambah sulfa kotrimoksazol
pengobatan adekuat. – Insisi dan drainase abses mastoid
• Diagnosis atau mastoidektomi atau
tatalaksana komplikasi intrakranial
– Demam tinggi otogenik.
– Pembengkakan di mastoid.
Penunjang
• Schuller: menilai mastoid, kanalis akustikus
eksternus, TMJ
Pilihan Lain
• B. Abses bezold  abses leher dalam (otot
sternokleidomastoid), komplikasi jarang dari
mastoiditis.
• C. Abses postaurikuler  massa yang
berfluktuasi di belakang telinga. Bentuk lebih
lanjut dari mastoiditis.
• D. Abses zygomatikus
• E. Abses temporal
• Jadi, diagnosisnya adalah

A. Mastoiditis akut
44 A. Streptokokus B hemoliticus grup A
Keywords:
• Demam dan nyeri telan sejak 1 hari yang lalu.
• Tonsil T3-T3 kripta melebar dengan detritus,
faring hiperemis dengan granulasi.

Etiologi ? Streptokokus B hemoliticus grup A


Tonsilitis Akut Tonsilitis Kronik

Etiologi EBV atau streptococcus β hemolitikus Streptococcus β hemolitikus, dengan risk


factor: perokok berat, higien mulut,
makanan tertentu, pengaruh cuaca,
kelelahan fisik, pengoabtan tonsilitis akut
yang inadekuat

Gejala nyeri tenggorokan, odinofagia, demam, Mengganjal ditenggorokan, rasa kering,


lesu, nyeri sendi, otalgia napas berbau
PF Tonsil bengkak, hiperemis, detritus Tonsil membesar, permukaan tidak rata,
(leukosit PMN): folikel/lakuna, membran kriptus melebar, kripti yang terisi detritus
semu, KGB Submandibula teraba, nyeri
tekan (+)
Terapi Viral: istirahat, minum cukup, analgetik Menjaga higien mulut, tonsilektomi jika:
or antivirus jika berat. infeksi berulang, gejala sumbatan, curiga
Bakteri: penisilin, eritromisin, antipiretik neoplasma
dan obat kumur.
• Jadi, etiologinya adalah

A. Streptokokus B
hemoliticus grup A
45 D. Antibiotik, dekongestan,
parasetamol
Keywords:
• Demam dan nyeri pipi kanan sejak 3 hari yang
lalu.
• Ingus kental, merasa ada lendir di tenggorokan.
• Konka media kanan: edema, sekret(+), konka
media kiri: sekret (-), post nasal drip (+).

Tatalaksana ? Antibiotik, dekongestan, parasetamol


SINUSITIS
SINUSITIS
• KUMAN TERSERING: STREPTOCOCCUS PNEUMONIA,
HAEMOPHILUS INFLUENSA
• SINUSITIS AKUT < 4 MINGGU
• PENUNJANG:
• FOTO POLOS (OPASIFIKASI PADA SINUS)
• WATERS (MAXILA, FRONTALIS)
• CALDWELL (ETMOID)
• LATERAL (SPHENOID)
• CT-SCAN  GOLD STANDAR
• TATALAKSANA:
• TOPIKAL STEROID, DEKONGESTAN ATAUPUN
ORAL DEKONGESTAN, MUKOLITIK
• AMOXICILIN 3X500 MG 10 HARI
Berbagai Posisi X Ray
• Waters: menilai sinus maksila, frontal, etmoid,
sphenoid
• Caldwell: Menilai sinus frontal, etmoid, bola
orbita, dinding orbita medial, os zigoma, os
nasal, septum nasi, mandibula
• Lateral: menilai sinus sphenoid
• Schuller: menilai mastoid, kanalis akustikus
eksternus, TMJ
TATALAKSANA
• SINUSITIS AKUT • SINUSITIS KRONIK
- Antibiotik - Antibiotik
- Dekongestan - Irigasi sinus
- Analgetika - Steroid
- Pembedahan
• Jadi, terapinya adalah

D. Antibiotik, dekongestan,
parasetamol
46 D. Otitis eksterna sirkumskripta
Keywords:
• Keluhan keluar cairan dari kedua telinga.
• Sering dikorek kupingnya dan senang berenang.
• Otoskopi: ditemukan bisul pada liang telinga,
membrana timpani dalam batas normal.

Apa diagnosis anak tersebut? Otitis eksterna


sirkumskripta
• SIRKUMSKRIPTA
– 1/3 luar  adnexa kulit (+)  furunkel
– ETIOLOGI: S.aureus
– GEJALA: nyeri (tidak ada jar. Longgar)
saat menekan perikondrium atau
membuka mulut, ggn pendengaran

OE AKUT
• DIFUS
– 2/3 dalam  kulit liang telinga
hiperemis dan edema tidak jelas
batasnya
KLASIFIKASI – ETIOLOGI: Pseudomonas
OTITIS EKSTERNA – GEJALA: nyeri tekan tragus, liang telinga
sempit, sekret bau

OE MALIGNA • Infeksi difus


• Terutama pada orang tua atau
TATALAKSANA UMUM
imunokompromise
• BERSIHKAN LIANG TELINGA
• ETIOLOGI: P. Aeruginosa
• Antibiotik dalam bentuk tampon lebih
• GEJALA: rasa gatal + nyeri,
efektif
pembekakan liang telinga, paralisis
• Topikal antibiotik neomisin facial jika iritasi n.VII
• Topikal antifungal polimiksin B
• Topikal steroid
Miringitis Bulosa
• miringitis akut yang ditandai oleh adanya
pembentukan bulla pada membran timpani
• penyakit self limiting disease, kadang-kadang
menjadi rumit oleh infeksi sekunder yang purulen
• Gejala: nyeri pada daerah telinga yang onsetnya
2-3 hari terakhir sebab bulla terbentuk pada area
yang kaya akan persarafan pada epitel terluar
membran timpani, cairan yang keluar dari telinga,
gangguan pendengaran,
Miringitis Bulosa
• Terdapat tanda-tanda inflamasi
pada membran impani, seperti
warna membran terlihat lebih
merah, serta tampak mengalami
deformasi, dan refleks cahaya
memendek atau bahkan
menghilang sama sekali
• Karakteristik dari miringitis
bulosa adalah adanya bulla pada
membran timpani.
• nyeri ketika pinna ditarik.
• Jadi, diagnosis yang tepat adalah

D. Otitis eksterna
sirkumskripta
47 B. Mengeluarkan kacang dengan
hook
Keywords:
• Anak Tika usia 7 tahun dibawa ke dokter
setelah memasukkan kacang rebus ke
hidungnya. Apa yang harus dilakukan oleh
dokter?

Tindakan dokter? Mengeluarkan kacang


dengan hook.
Ebmedicine.net
BUKU AJAR ILMU THT
FKUI

Benda Asing di hidung


• Mengeluarkannya dengan pengait yang
dimasukkan ke dalam hidung di bagian atas,
menyusuri atap kavum nasi sampai menyentuh
nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan dan
ditarik ke depan. Dengan ini ini, benda asing akan
ikut terbawa ke luar.
• Tidak bijaksana bila mendorong benda asing dari
hidung ke nasofaring dengan maksud supaya
masuk ke dalam mulut. Dengaan cara itu benda
asing dapat terus masuk ke laring dan
menimbulkan sesak nafas.
• Jadi, tindakan yang tepat adalah
B. Mengeluarkan kacang
dengan hook
48 B. Alergic shiner
Keywords:
• Keluar cairan encer dan bening dari hidung
setiap pagi hari
• Ibu memiliki riwayat asma.
• Konka livid dengan sekret serosa.
• Bayangan gelap di bawah mata.

Tanda ini disebut? Alergic shiner


Rinitis Alergi
• Terkait atopi  reaksi • PF:
hipersensitivitas tipe I • Stigmata atopi: nasal
• Gejala crease, allergic shiner
• Bersin • Mukosa pucat/livid
• Hidung tersumbat • Pencetus: alergen
• Rhinorea + gatal • Tatalaksana
• Konjungtivitis • Avoidance
• PND • Dekongestan
• Antihistamin
• Steroid intranasal
• Alergic shiner
• Alergic salute
• Alergic crease
• Konjungtivitis alergi
• Dermatitis atopi
Pilihan Lain
• A. Alergic salute  kebiasaan menggosok-
gosok hidung yang gatal pada pasien rinitis
alergi.
• C. Alergic crease  lekukan pada dorsum
nasal akibat kebiasaan menggosok hidung
pada pasien rinitis alergi.
• D. Facies adenoid  “muka bodoh”, bernafas
lewat mulut pada pasien hipertrofi adenoid.
• E. Atopi
• Jadi, tanda ini disebut

B. Alergic shiner
49 B. Eritromisin
Keywords:
• Nyeri tenggorokan.
• Faring hiperemis, tonsil T2-T2 hiperemis,
selaput membran warna putih (+) yang mudah
berdarah.
• Riwayat imunisasi tidak lengkap.

Terapi? Tonsilofaringitis difteri


Tonsilitis difteri
• Penyebab: Corynebacterium
diphteriae (gram positif)
• Gejala dan tanda klinis:
- demam
- nyeri menelan
- tonsil membengkak
ditutupi bercak putih kotor.
-Membran akan berdarah
bila diangkat.
-Kelenjar limfa leher akan
membengkak  bull neck

BUKU AJAR THT-KL. Edisik ke-6. FKUI


Tonsilitis difteri
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan
pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil
dari permukaan bawah membran semu dan didapatkan
kuman Corynebacterium diphteriae
• Terapi: ADS (anti difteri serum) diberikan segera tanpa
menunggu hasil kultur, dengan dosis 20.000-100.000
unit tergantung umur dan beratnya penyakit. Antibiotik
penisilin/eritromisin 25-50 mg/kgBB dibagi dalam 3
dosis selama 14 hari. Kortikosteroid 1,2mg/kgBB per
hari. Antipiretik.

BUKU AJAR THT-KL. Edisik ke-6. FKUI


• Jadi, terapinya adalah

B. Eritromisin
50 C. Laringitis akut
Keywords:
• Keluhan nyeri di daerah tenggorok sejak 2 hari
• Suara serak kemudian suaranya hilang.
• Pasien adalah seorang guru di sebuah sekolah.

Diagnosis? Laringitis akut


Laringitis akut
• Batuk, demam, nyeri
menelan, suara serak
• Laringoskopi : laring
hiperemis.
• Etiologi : virus
Pilihan Lain
• A. Tonsilitis akut  radang tonsil
• B. Faringitis akut  radang faring
• D. Epiglotitis akut  sesak , gambaran “thumb
print sign”
• E. Laringotrakeobronkitis akut  “batuk
menggonggong”, sesak, gambaran “steeple
sign / wine bottle” (penyempitan)
• Jadi, diagnosisnya adalah

C. Laringitis akut
51. A. Ligase varises esofagus
Keywords :
• muntah darah
• seorang peminum alkohol sejak lama  risiki fatty liver
 sirosis
• perut membesar  asites
• telapak tangan kemerahan  palmar eritema
• mata menguning  ikterus
Diagnosis : pecah varises esofagus e.c sirosis hepatis
Tatalaksana definitif untuk penanganan perdarahan
pada pasien tersebut ialah.?
Sirosis Hepatis
• Fibrosis dan nodul regeneratif hepar
• Tanda: hipertensi portal, ensefalopati hepatiku,
dan perdarahan varises
• Penyebab:
– Alkohol
– Obat-obatan (seperti asetaminofen)
– Hepatitis kronis (B, C)
– Penyakit hepar lain( Wilson, amiloidosis)
– Penyakit sistemik lain (gagal jantung kongesntif,
tromobsis vena hepatik, dan lain-lain)
http://discourse.apn.af/wp-content/uploads/2012/10/portal.gif
Pecah Varises Esofagus
• Pemeriksaan terbaik: endoskopi
(esofagoduodenoskopi)
• Penatalaksanaan:
– Jika hemodinamik tidak stabil: resusitasi cairan,
transfusi darah, antibiotik, lindungi jalan napas,
pemberian octreotide atau somatostatin
• Ligasi secara endoskopi
• Profilaksis: propanolol (untuk menjaga HR
<55x/menit), tatalaksana sirosis hepatis dengan
adekuat
Pilihan lainnya
• B. Injeksi asam traneksamat  tidak definitif
• C. Injeksi vitamin K  tidak definitif
• D. Miringkan dan lakukan suction  bukan
tatalaksananya
• E. Resusitasi cairan  dilakukan bila syok,
bukan definitif PVO
Dengan demikian jawabannya adalah
A. Ligase varises esofagus
52.E. Shigella disentriae
Keywords :
- kram perut
- diare berdarah, demam dan mual muntah
- sering jajan sembarangan
- Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan di LLQ disertai peningkatan
bising usus dan sedikit distensi abdomen
- Pemeriksaan hematologi rutin: leukositosis dan shift to the left.
- Pemeriksaan feses : bau amis, banyak leukosit dan eritrosit serta
bakteri.
- Pada pemeriksaan mikrobiologi didapatkan bakteri batang gram
negatif dengan KIA Alk/As (–), gas (-), H2S (-), MIU (-/-/-), Citrat (-).
Diagnosis : Disentri basiler
Penyebab dari penyakit ini adalah?
Disentri
• Disentri  diare disertai darah terutama
akibat Shigella sp (disentri basiler)
• Etiologi:
– Sebagian besar karena Shigella
– Yersinia enterocolica, C.jejuni (bayi)
– Salmonella, E.coli enteroinvasive (jarang tetapi
berat)
– E. hystolitica (jarang pada balita)
– Amoeba
Disentri
• BAB cair disertai darah
• Pemeriksaan penunjang: analisis tinja
• Tatalaksana:
– Antibiotik
• Dianggap sebagai Shigella  kotrimoksazol  tidak
membaik Sefiksim dan asam nalidiksat
• Amoeba: metronidazole
– Tatalaksana lain seperti tatalaksana diare akut
Amebiasis
Shigelosis
• Berdasarkan antigen somatik karbohidrat lipopolisakarida, Shigella
dibagi menjadi 4 spesies.
• Empat spesies tersebut adalah S. dysenteriae (Grup A), S.
flexneri (Grup B), S. boydii (Grup C), dan S. sonnei (Grup D).
• S. Dysenteriae menimbulkan penyakit yang paling berat. Sementara
itu, S. sonnei menyebabkan penyakit yang paling ringan. Atau,
dengan kata lain, Shigella menyebabkan spektrum penyakit yang
sangat luas, mulai dari diare encer ringan (mild watery
diarrhea) sampai dengan disentri berat (severe dysentery).
• Paling tidak terdapat 2 mekanisme yang dipunyai Shigella dalam
merusak sel epitel usus. Pertama, proses invasi terkait dengan
perubahan struktural sitoskeleton sel epitel dan dapat berakibat
pada kerusakan mukosa. Kedua, kemampuan Shigellamemproduksi
sitotoksin yang dpaat menimbulkan kematian sel epitel. Contoh
sitotoksin adalah toksin Shiga/Shigella (Shiga berasal dari nama
seorang dokter dari Negeri Sakura, Kiyoshi Shiga) yang diproduksi
oleh S. dysenteriae tipe 1. Seperti diketahui, S dysenteriae terdiri
dari 10 serotipe. Mekanisme toksin ini adalah inaktivasi ribosom
60S.
• Shigella termasuk non-lactose fermenter. Apabila ditanam pada agar miring TSI,
Shigella Grup A, B, C, dan D akan memberikan gambaran Alkalin/Asam Gas (-) H2S
(-).
• Hasil uji biokimiawi Shigella Grup A, B, dan C, antara lain adalah MR (+), VP (-) Ind
(-/+), Cit (-), Ure (-). Mot (-), Orn (-) dan ONPG (-).
• Hasil uji biokimiawi Shigella Grup D adalah MR (+), VP (-) Ind (-), Cit (-), Ure (-).
Mot (-), Orn (+) dan ONPG (+).
• Kode Orn bermakna Ornithine Decarboxylase. Kode ONPG
bermaknaOrthoNitroPhenyl-β-D-Galactopyranoside.
• Untuk membedakan secara lebih terperinci keempat spesies Shigella dapat
dilakukan uji fermentasi.
• Shigella Grup A: laktosa (-), manitol (-), L-ramnosa (-), rafinosa (-), sukrosa (-), dan
xilosa (-).
• Shigella Grup B : laktosa (-), manitol (+), L-ramnosa (-), rafinosa (D), sukrosa (-),
dan xilosa (-).
• Shigella Grup C : laktosa (-), manitol (+), L-ramnosa (-), rafinosa (-), sukrosa (-), dan
xilosa (D)
• Shigella Grup D : laktosa (-), manitol (+), L-ramnosa (+), rafinosa (-), sukrosa (-),
dan xilosa (-).
Interpretasi pemeriksaan mikrobiologi
• pemeriksaan mikrobiologi didapatkan bakteri
batang gram negatif dengan KIA Alk/As (–), gas
(-), H2S (-), MIU (-/-/-), Citrat (-).
• KIA = kliger iron agar
• Alk/as = alkalin
• MIU = motility indole urease
• A. E.coli : motil, indole (+)
• B. Vibrio Cholera : diare profus, air cucian
beras tanpa darah
• C. Klebsiella : citrat (+), urease (+)
• D. Salmonella : demam tifoid : demam, nyeri
ulu hati, awalnya diare lama-lama konstipasi,
coated tongue (+), alkalin +, citrat +, motil
Dengan demikian jawabannya adalah
E. Shigella dysentriae
53. A. INH + pirazinamid

Keywords :
- mata menguning, mual dan muntah sejak 3
hari yang lalu.
- pasien TB paru kasus baru yang rutin berobat..
Diagnosis : drug induced hepatitis
Obat antituberkulosis yang paling sering
menyebabkan kerusakan hepar adalah?
Pedoman tatalaksana TB
Pedoman tatalaksana TB
Sumber : http://health.utah.gov/epi/diseases/TB/resources/treatment/management_common_side.pdf
Dengan demikian jawabannya adalah
A. INH + pirazinamid
54. D. Omeprazole, amoxicillin,
clarithromycin
Keywords :
- nyeri epigastrium sejak 2 bulan terakhir.
- kembung dan merasa mual.
- H.pylori positif.
Regimen apakah yang tepat diberikan untuk
kasus ini?
Infeksi H pylori
• Infeksi H pylori menyebabkan perubahan
metaplasia pada lambung dan diasosiasikan
dengan ulkus peptikum.
• Rute infeksi melalui kontak oral-oral atau
fekal-oral
• Tanda dan gejala:
– Pada umumnya asimtomatik, jika ada biasanya
mual, muntah, nyeri perut, rasa terbakar pada ulu
hati, diare, rasa lapar, halitosis

Buku ajar ipd


Infeksi H pylori
• Diagnosis:
– Tes antigen fekal H pylori
– Carbon-13 urea breath test
– Serologi H pylori
• Tatalaksana:
– Triple therapy
• Omeprazole, amoxicillin, clarithromycin (OAC) selama 10
hari
• Bismuth subsalicylate, metronidazole, tetracycline (BMT)
selama 14 hari
• Lansoprazole, amoxicillin, clarythromycin (LAC) selama 10
atau 14 hari

Buku ajar ipd


Infeksi H pylori
– Quadruple therapy (selama 10-14 hari)
• PPI atau H2RA
• Bismuth subsalicylate
• Metronidazole
• Tetracycline
– Sequential therapy
• PPI+amoxicillin selama 5 hari pertama, dilanjutkan
PPI+clarithromycin+tinidazol selama 5 hari berikutnya
Dengan demikian jawabannya adalah
D. Omeprazole, amoxicillin, clarithromycin
55. A. 6

• nyeri perut bagian kanan.


• mual, muntah
• tidak mau makan.
• suhu tubuh 37.8 C,
• nyeri tekan Mc Burney (+)
• nyeri tekan lepas (+).
• leukosit 9000 dan segmen 86%.
Berapakah skor Alvarado pada kasus diatas?
• Elevated temperatur
= > 37,3
• Leukositosis > 10.000
• Shift to the left,
neutrofil batang >
10%
• nyeri perut bagian kanan  keluhan bukan nyeri
berpindah ke bagian kanan, skor= 0
• mual, muntah  skor = 1
• tidak mau makan  anoreksia  skor = 1
• suhu tubuh 37.8 C  skor =1
• nyeri tekan Mc Burney (+)  skor = 1
• nyeri tekan lepas (+)  skor = 2
• leukosit 9000 dan segmen 86%.  tidak
leukositosis dan tidak shift to the left, skor = 0
• Total skor = 6
Dengan demikian jawabannya adalah
A. 6
56. B. Dokter widi sudah mendapat
vaksinasi hepatitis B

• Keywords :
• Dokter Widi, 25 tahun, cek lab lengkap
• Hasil pemeriksaan HbsAg (-), anti HbS (+).
Arti hasil pemeriksaan ini ?
http://hepatmon.com/567.fulltext
Dengan demikian jawabannya adalah
B. Dokter Widi sudah mendapatkan vaksinasi
hepatitis B
57. A. OAT kategori I

Keywords :
- Ny. Yuki, 22 tahun, hamil 6 minggu
- batuk sejak 3 bulan yang lalu.
- Berat badan pasien selama kehamilan belum
bertambah
- keringat malam
- BTA Sputum SPS +/+/-
Diagnosis : TB pada ibu hamil
Terapi apakah yang sesuai untuk keadaan pasien
ini?
TB Paru pada kehamilan dan menyusui
• Tidak ada indikasi pengguguran pada penderita TB dengan
kehamilan
• OAT tetap dapat diberikan kecuali streptomisin karena efek
samping streptomisin pada gangguan pendengaran janin
• Pada penderita TB dengan menyusui, OAT & ASI tetap
dapat diberikan, walaupun beberapa OAT dapat masuk ke
dalam ASI, akan tetapi konsentrasinya kecil dan tidak
menyebabkan toksik pada bayi
• Wanita menyusui yang mendapat pengobatan OAT dan
bayinya juga mendapat pengobatan OAT dianjurkan tidak
menyusui bayinya, agar bayi tidak mendapat dosis
berlebihan

Pedoman Penatalaksanaan TB – Perhimpunan


Respirologi Indonesia
Pilihan lainnya
• B. OAT kat II  tb gagal, kambuh, default
• C. INH  profilaksis pada anak
• D. Tidak perlu diterapi  harus diterapi
• E. INH dan bisoprolol  bukan terapi TB
Dengan demikian jawabannya adalah
A. OAT kategori 1
58. D. Tonsilofaringitis difteri

Keywords :
• An.Dimas, 5 tahun
• nyeri tenggorokan.
• suhu 38 C, faring hiperemis, tonsil T2-T2
hiperemis
• selaput membran warna putih (+) yang apabila
diangkat mudah berdarah.  pseudomembran
Diagnosis pada anak ini adalah...
Tonsilitis difteri
• Penyebab: Corynebacterium diphteriae (gram positif)
• Sering ditemukan pada anak usia kurang dari 10 tahun
• Gejala dan tanda klinis: demam, nyeri kepala, nyeri
menelan, tonsil membengkak ditutupi bercak putih
kotor. Membran tersebut dapat meluas ke palatum
mole, uvula, nasofaring, laring, trakea, bronkus, dan
dapat menyumbat saluran napas. Membran akan
berdarah bila diangkat. Kelenjar limfa leher akan
membengkak  bull neck (menyerupai leher sapi) atau
disebut juga Burgemeester’s hals.

BUKU AJAR THT-KL. Edisik ke-6. FKUI


Pilihan lainnya
• A. Tonsilitis akut  nyeri menelan, demam,
tonsil hiperemis
• B. Tonsilitis kronik  ada kripta melebar,
detritus
• C. Faringitis akut  nyeri menelan, demam,
tidak ada membran
• E. Laringitis akut  serak, tidak ada membran
• Dengan demikian jawabannya adalah
D. Tonsilofaringitis difteri
59. D. Streptococcus pneumoniae

• An. usia 3 tahun


• sesak nafas, batuk dan panas tinggi.
• RR 54x/menit, nafas cuping hidung
• retraksi intercostal serta subcostal,
• suara dasar vesikuler dan ronkhi basah kasar di
kedua lapangan
• paru.
Diagnosis : Bronkopneumonia
Bakteri yang paling sering menyebabkan keluhan
di atas ialah?
Sumber : PPM IDAI jilid 1
Diagnosis Pneumonia Ringan
• Diagnosis
– Di samping batuk atau kesulitan bernapas, hanya
terdapat napas cepat saja.
– Tidak mempunyai tanda-tanda pneumonia berat
• Tatalaksana
– Rawat jalan
– Antibiotik:
• Kotrimoksasol (4 mg TMP/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3
hari
• Amoksisilin (25 mg/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari.
• Pasien HIV diberikan selama 5 hari.
Diagnosis Pneumonia Berat
• Batuk dan atau kesulitan bernapas – Suara merintih (grunting) pada bayi
ditambah minimal salah satu: muda
– Kepala terangguk-angguk – Pada auskultasi terdengar:
• Crackles (ronki)
– Pernapasan cuping hidung
• Suara pernapasan menurun
– Tarikan dinding dada bagian bawah
• Suara pernapasan bronkial
ke dalam
– Foto dada menunjukkan gambaran
pneumonia (infiltrat luas, konsolidasi, • Dalam keadaan yang sangat berat
dll) dapat dijumpai:
– Tidak dapat menyusu atau
• Selain itu bisa didapatkan pula tanda minum/makan, atau memuntahkan
berikut ini: semuanya
– Napas cepat: – Kejang, letargis atau tidak sadar
• < 2 bulan : ≥ 60 kali/menit – Sianosis
• 2 – 11 bulan : ≥ 50 kali/menit – Distres pernapasan berat.
• 1 – 5 tahun : ≥ 40 kali/menit
• ≥ 5 tahun : ≥ 30 kali/menit
Buku Saku Pedoman Pelayanan Kesehatan
Anak di Rumah Sakit, WHO
Bronkiolitis vs Pneumonia
Terapi Pneumonia Berat
• Anak dirawat di rumah sakit • Terapi Oksigen
• Terapi Antibiotik – Beri oksigen pada semua anak
– Ampisilin/amoksisilin (25-50 dengan pneumonia berat
mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam) – Pulse oximetry: panduan untuk
• Dilanjutkan amoksisilin oral (15 mg/
kgBB/kali tiga kali sehari) untuk 5 hari terapi oksigen
berikutnya. • Saturasi oksigen < 90%
– Klinis berat: oksigen dan pengobatan
– Lanjutkan pemberian oksigen
kombinasi ampilisin-kloramfenikol
atau ampisilin-gentamisin.
sampai tanda hipoksia (seperti
tarikan dinding dada bagian
– Alternati: seftriakson (80-100
mg/kgBB IM atau IV sekali sehari). bawah ke dalam yang berat atau
– Pneumonia stafilokokal
napas > 70/menit) tidak
• Gentamisin (7.5 mg/kgBB IM sekali
ditemukan lagi.
sehari) dan kloksasilin (50 mg/kgBB
IM atau IV setiap 6 jam) atau
klindamisin (15 mg/kgBB/hari –3 kali
pemberian).
Pilihan lainnya
• A. Bordetella pertussis -> pertusis
• B. Eschericia coli  diare
• C. Staphylococcus aureus  SSSS, infeksi kulit
• E. Klebsiella pneumonia  sering pneumonia
nosokomial
Dengan demikian jawabannya adalah
D. Streptococcus pneumoniae
60. D. Attapulgit
Keywords :
• tidak bisa BAB, sering buang gas, perut terasa
penuh, dan mual selama 2 hari.
• 3 hari sebelumnya diberikan obat diare oleh
dokter.
Obat diare penyebab keluhan?
Efek Samping
• Kaolin  konstipasi terutama pada anak dan usia
tua
• Norit  mual, muntah, konstipasi, BAB warna
hitam, hiperNa, hiperMg, dehidrasi, syok
• Loperamid  pusing, mengantuk, mulut kering,
muntah, konstipasi, lemas, nyeri perut
• Attalpugite  konstipasi, dispepsia, flatulens,
mual
• Papaverin  konstipasi, diare, pusing, pingsan,
berdebar-debar, kulit gatal, grogi
Dengan demikian jawabannya adalah
D. Attapulgit
61. A. Peritonitis

Keywords :
- tidak bisa BAB dan perut kembung sejak 3 hari
yang lalu.
- awalnya nyeri di daerah ulu hati.
- perut kembung, BU (+) menurun
- defans muskuler (+).
Diagnosis yang tepat yaitu.?
Peritonitis
• Inflamasi membran serosa pada rongga
abdomen
• Peritonitis sering disebabkan oleh infeksi pada
peritoneal yang steril karena perforasi organ
atau iritan lain seperti benda asing, bilus,
asam lambung
• Klasifikasi infeksi peritoneum:
– Umum (peritonitis)
– Terlokalisasi (abses intraabdomen)
http://emedicine.medscape.com/article/180234
Peritonitis
• Primer: infeksi monomikrobial;
ekstraperitoneal yang menyebar secara
hematogen
– Contoh: sirosis hepatis dgn asites, sindrom
nefrotik, peritoneal dialisis
• Sekunder: infeksi intraabdomen akibat
perforasi organ berongga
• Tersier: kegagalan respon inflamasi;
superinfeksi

Sumber: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34725/4/Chapter%20II.pdf
Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda PF:
• Demam (80% pasien) • Peningkatan suhu
• Nyeri abdomen • Takikardia
• Ensefalopati • Hipovolemia
perburukan intravaskular karena
• Diare anoreksia, muntah
• Asites • Abdomen: defnas
• Perburukan gagal ginjal muskular
• Ileus • RT: peningkatan nyeri
abdomen
http://emedicine.medscape.com/article/18023
4
Tatalaksana
• Perbaikan proses yang mendasari
• Antibiotik sistemik  patologi yang
mendasari, beratnya infeksi, respon pasien
terhadap terapi
• Terapi suportif
• Operasi

http://emedicine.medscape.com/article/180234
Pilihan Lain
• Pankreatitis akut  peradangan pankreas
dengan gejala nyeri hebat abdomen dengan
onset akut menjalar ke punggung, kenaikan
enzim pankreas, gambaran pada CT Scan
dengan kontras
• Volvulus: terpuntir usus, gambaran “coffee
bean”
• Intusepsi: usus distal masuk ke usus proksimal
• Kolesistitis: peradangan kandung empedu
Dengan demikian jawabannya adalah
A. Peritonitis
62. E. Kanker Paru
Keywords :
- 76 tahun,
- Lemas
- batuk berdahak tanpa demam sejak 1 bulan lalu.
- batuk disertai bercak darah sebanyak 3 kali.
- Berat badan dirasakan menurun kurang lebih 5 kg.
- PF : fremitus meningkat pada paru kanan bawah,
redup pada paru kanan, dan suara vesikular menurun
pada paru kanan menurun.
Kecurigaan diagnosis yang paling tepat untuk kasus di
atas ialah?
Tatalaksana Ca paru
• Bedah
– Wedge resection: bagian kecil paru yang mengandung
tumor dengan batas jaringan sehat
– Reseksi segmental
– Lobektomi
– Pneumonektomi
• Kemoterapi
• Radiasi
• Terapi target: bevacizumab, erlotinib, crizotinib
• Terapi paliatif
Sumber: http://www.mayoclinic.org/diseases-
conditions/lung-cancer/basics/treatment/con-
20025531
Pilihan lain
Asma  sesak, suara nafas mengi, riwayat atopi.

PPOK  riwayat merokok, barrel chest, Foto : sela iga


melebar, gambaran jantung pendulum, diafragma
mendatar.

TB paru  batuk kronik dengan atau tanpa darah, foto :


kavitas / infiltrat di apeks paru, periksa sputum SPS

Pneumonia  batuk+demam. PF: ronki basah kasar


Dengan demikian jawabannya adalah
E. Kanker Paru
63. C.Empyema
Keywords :
- batuk berdahak seperti nanah dan berbau
amis.pus
- Riwayat batuk darah disangkal.
- Tidak ada riwayat trauma.
- PF : redup pada lapangan paru bawah.
Kemungkinan diagnosis pasien di atas ialah?
Diagnosis empiema
Anamnesis
- Riwayat pneumonia PF
- Riwayat trauma -Febris
dada/trauma diafragma -Takipneu
- Batuk produktif -Ronki
-Rales
- Demam
-Penurunan suara nafas
- Sesak -Perkusi redup
- Anoreksia -Egofoni
- Penurunan BB -Suara nafas tubular
- Keringat malam Tatalaksana
- Nyeri dada pleuritik - Drainase  WSD
Pilihan lainnya
• A. TB paru : batuk 2 minggu, keringat malam,
demam, sputum BTA +
• B. Pneumonia : demam, batuk, sesak nafas ,
PF : ronki
• D. Kanker paru : penurunan BB, batuk darah,
perokok berat, pf : fremitus meningkat, suara
napas menurun, redup pd perkusi
• E. Bronkiektasis : sputum 3 lapis, honeycomb
appearance
Dengan demikian jawabannya adalah
C. Empyema
64. B. Bordetella pertusis
Keywords :
- batuk keras terus menerus sejak 3 bulan lalu.
- diawali dengan tarikan napas panjang
- setelah batuk pasien muntah –> whooping cough
- PF : gasping inspirasi.
Diagnosis  pertusis/batuk rejan/batuk seratus
hari
Etiologi kasus di atas ialah?
Pertusis
• Etiologi: Bordetella pertusis

http://www.cdc.gov/pertussis/images/pertussis-timeline.jpg
• Diagnosis: klinis!
• Penunjang
• Tatalaksana – Perawatan penunjang
• Hindarkan sejauh mungkin segala
– Antibiotik: eritromisin oral (12.5
tindakan yang dapat merangsang
mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) terjadinya batuk
selama 10 hari atau jenis • Jangan memberi penekan batuk,
makrolid lainnya. obat sedatif, mukolitik atau
antihistamin.
– Oksigen: bila pernah terjadi
• Obat antitusif dapat diberikan bila
sianosis atau berhenti napas atau batuk amat sangat mengganggu.
batuk paroksismal berat. • Jika anak demam (≥ 39º C) yang
– Tatalaksana jalan napas: Selama dianggap dapat menyebabkan
distres, berikan parasetamol.
batuk paroksismal, letakkan anak
• Beri ASI atau cairan per oral. Jika
dengan posisi kepala lebih anak tidak bisa minum, pasang pipa
rendah dalam posisi telungkup, nasogastrik dan berikan makanan
atau miring, untuk mencegah cair porsi kecil tetapi sering untuk
memenuhi kebutuhan harian anak.
aspirasi muntahan dan
membantu pengeluaran sekret.

http://www.ichrc.org/47-pertusis
Pilihan lainnya
• A. Streptococcus pneumonia  pneumonia
• C. Staphylococcus aureus  SSSS, pneumonia
• D. Corynebacterium diphteriae  difteri
• E. Salmonella  demam tifoid
Dengan demikian jawabannya adalah
B. Bordetella pertussis
65. C. Obstruksi reversibel dengan
bronkodilator
Keywords:
• Laki 25 tahun
• Sesak dan mengi
• Pemicu asap dan debu
• PF: wheezing 1/3 tengah kanan paru
• Spirometri
– FEV1 pre 64%, post 83%  reversibilitas 19% (>15%)
– FVC pre 76%, post 81%
– FEV1/FVC 85%
Diagnosis? Obstruksi reversibel dengan bronkodilator
Volume Paru

http://www.clevelandclinicmeded.com/medica
lpubs/diseasemanagement/pulmonary/pulmo
nary-function-testing/
• Obstructive
disorder:
– Airflow limitation
Hasil Spirometri
– Increased lung
volumes with air
trapping
– Normal or
increased
compliance
• Restrictive
disorders
– Reduced lung
volumes
– Increase in
stiffness of the
lungs
• Gangguan obstruktif (emfisema, asma) 
flow berkurang, Residual volume
meningkat (banyak air trapping)
• Gangguan restriktif (fibrosis pulmonal) 
flow berkurang, residual volume juga
berkurang e.c volume total paru
berkurang
Spirometri

• LLN: lower limit of normal FEV: Forced Expiratory Volume


• BD: bronchodilator FVC: Forced Vital Capacity
66. E. Ileus Paralitik
Keywords :
• tidak bisa kentut
• mual, muntah,perut nyeri,kembung
• Riwayat operasi usus buntu
• distensi abdomen, bising usus (-), darm
contour (-)
Apakah diagnosis yang paling mungkin?
Ileus obstruksi Ileus paralitik
Tidak bisa BAB, kembung, Tidak bisa BAB, kembung, nyeri
muntah, nyeri perut perut (-)
Bising usus meningkat, dapat Bising usus menghilang
menghilang jika sudah lama
Dilatasi usus proksimal saja, distal Dilatasi usus proksimal – distal
cenderung tidak ada udara
Gambaran foto khas: step ladder,
herring bone
Dekompresi dengan NGT, Atasi penyebabnya, misal
laparotomi imbalans elektrolit (hipokalemia)
Pilihan Lain
• Gastroenteritis: diare dengan muntah
• Peritonitis: inflamasi pada peritoneum dengan
PF defans muskular
• Gastritis akut: nyeri ulu hati, mual, muntah
Dengan demikian jawabannya adalah
E. Ileus paralitik
67. B. Diare akut dengan dehidrasi
ringan-sedang
Keywords :
• diare cair, warna kuning, lendir (-), darah (-),
• anak tampak kehausan dan mata cowong.
Diagnosis yang tepat pada kasus ini adalah...
Penilaian Derajat dehidrasi diare akut
anak menurut WHO
Lintas Diare:
Lima Langkah Tuntaskan Diare
• Kategori :
– Kat A untuk diare tanpa dehidrasi
– Kat B untuk diare dengan dehidrasi ringan sedang
(tanda dehidrasi > 2)
– Kat C untuk diare dengan dehidrasi berat
• Dosis Zinc menurut usia:
– Di bawah umur 6 bulan: ½ tablet (10 mg) per hari
selama 10 hari
– 6 bulan ke atas: 1 tablet (20 mg) per hari selama
10 hari
• Pemberian Makan
– ASI tetap diberikan
– Meskipun nafsu makan anak belum membaik,
pemberian makan tetap diupayakan pada anak
berumur 6 bulan atau lebih
Dengan demikian jawabannya adalah
B. Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang
68. D. Palmar eritema
• perut membesar sejak 2 bulan yang lalu
• Riwayat minum alkohol 2-3 botol perhari.
Kemungkinan  asites e.c sirosis hepatis e.c
alcoholic fatty liver disease
Apakah tanda klinis khas pada penyakit ini
yang mungkin ditemukan?
Sirosis Hepatis
• Fibrosis dan nodul regeneratif hepar
• Tanda: hipertensi portal, ensefalopati hepatiku,
dan perdarahan varises
• Penyebab:
– Alkohol
– Obat-obatan (seperti asetaminofen)
– Hepatitis kronis (B, C)
– Penyakit hepar lain( Wilson, amiloidosis)
– Penyakit sistemik lain (gagal jantung kongesntif,
tromobsis vena hepatik, dan lain-lain)
Dengan demikian jawabannya adalah
D. Palmar eritema
69. C. Ulkus Peptikum
• keluhan BAB berwarna kehitaman.
• riwayat nyeri sendi, dan sering membeli obat-
obatan penghilang rasa nyeri sendiri.
Apakah diagnosis pasien tersebut?
MELENA = BAB
Kehitaman akibat
perdarahan = tarry
faeces
Melena diasosiasikan
dengan perdarahan
saluran cerna atas
• Sumber : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK411/
Ulkus peptikum
• Ulkus peptikum adalah defek Tanda bahaya/alarm symptom utk segera
pada mukosa lambung / dirujuk :
duodenum yang melebar • Bleeding or anemia
hingga muscularis mucosa. • Early satiety
• Unexplained weight loss
• Anamnesis + PF
• Progressive dysphagia or odynophagia
- riwayat pemakaian NSAID • Recurrent vomiting
- riwayat infeksi H pylori • Family history of GI cancer
- merokok
- nyeri epigastrik/duodenal
- gejala dispepsia
- heart burn
- rasa tidak nyaman didada
- hematemesis /melena
- gejala anemia
Pilihan lainnya
• A. IBS  gangguan pola BAB, pemicu :
stressor psikir
• B. Kolitis : golongan IBD, diare berdarah kronik
• D. Perdarahan divertikulitis : umumnya di
kolon  perdarahan saluran cerna bawah 
hematoschezia / bab darah merah segar
• E. Pecahnya varises esofagus : ada tanda-
tanda peningkatan vena porta, sirosis hepatis
Dengan demikian jawabannya adalah
C. Ulkus Peptikum
70. D. Terapi TB segera , tidak
bergantung jumlah CD4
Keywords :
- batuk lama dan penurunan berat badan
- penurunan nafsu makan
- diare lama
- oral thrush (+)
- HIV (+) dan CD4 = 17.
Diagnosis : TB-HIV
- Terapi yang tepat untuk pasien adalah?
• Sumber : petunjuk teknis tata laksana klinis ko infeksi TB HIV 2012, kemenkes
• http://spiritia.or.id/dokumen/juknis-tbhiv2013.pdf
Dengan demikian jawabannya adalah
D. Terapi TB segera , tidak bergantung jumlah
CD4
71. A.Nistatin
Keywords :
• keluhan adanya bercak keputihan pada
mukosa pipi kanan dan kiri serta lidah.
• bayi masih asi eksklusif.
• oral thrush (+).
Terapi yang tepat untuk kasus di atas adalah...
Candidiasis oral
• = oral thrush
• Penyebab tersering: Candida
albicans
• Pada membran mukosa
• Sering terjadi pada bayi atau
penggunaan kortikosteroid
inhalasi pasien asma
• Gejala:
– Nyeri, rewel makan, tampak plak
putih di mulut dan dapat juga di
bibir, lidah, guzi, dan palatum
– Mengorek lesi menyebabkan
eritem dan perdarahan di dasarnya
• Terapi: Nystatin oral drop

Emedicine Peditric Candidiasis


Pilihan lainnya
• B. Kloramfenikol  antibiotik, bukan untuk
jamur
• C. Amoksisilin  antibiotik, bukan untuk
jamur
• D. Kotrimoksazol  antibiotik, bukan untuk
jamur
• E. Cefadroxil  antibiotik, bukan untuk jamur
Dengan demikian jawabannya adalah
A. Nistatin
72. B. Pneumonia Aspirasi
Keywords :
• sesak napas sejak 1 minggu yang lalu.
• Riwayat stroke (+)
• sebagian besar waktunya di tempat tidur.
• ronki basah kasar di basal paru.
• foto toraks : distribusi infiltrat pada segmen
apikal lobus bawah.
Diagnosis yang tepat untuk kasus di atas adalah?
Pneumonia
• Definisi: peradangan pada parenkim paru, distal
dari bronkiolus terminalis  menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.
• Etiologi:
– ISNBA  mikroorganisme  bakteri
– Berbeda-beda letak berdasarkan negara, lokasi, dan
lainnya.
– CAP di Amerika  S. pneumoniae (60-70%)
– CAP di Indonesia  Klebsiella pneumoniae (45,18%),
S. pneumoniae (14,04%).

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Klasifikasi
• Berdasar klinis dan epidemiologis
– CAP
– Pneumonia nosokomial
– Pneumonia aspirasi
– Pneumonia pada imunokompromais
• Berdasar bakteri penyebab
– Pneumonia bakterial / tipikal
– Pneumonia atipikal
– Pneumonia virus
– Pneumonia jamur
• Berdasar predileksi infeksi
– Pneumonia lobaris
– Bronkopneumonia
– Pneumonia interstisial

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
PNEUMONIA TIPIKAL DAN ATIPIKAL
Tanda dan gejala P. atipik P. tipik
Onset Gradual Akut
Suhu Kurang tinggi Tinggi, menggigil
Batuk Non produktif Produktif
Dahak Mukoid Purulen
Gejala lain Nyeri kepala, mialgia, sakit Jarang
tenggorokan, suara parau,
nyeri telinga

Gejala lain di luar paru Sering Lebih jarang

Pewarnaan gram Flora normal atau spesifik Gram (+) atau (-)

Radiologis “patchy” atau normal Konsolidasi lobar lebih tinggi

Laboratorium Leukosit normal kadang rendah Lebih tinggi

Gangguan fungsi hati sering Jarang

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Gambaran klinis
• Batuk berdahak (hijau kekuningan, batuk berdah)
• Demam
• Menggigil
• Sesak napas, ketika beraktivitas berat
• Kebingungan terutama pada org tua dan lansia
• Keringat yang berlebihan
• Nyeri kepala
• Nyeri dada tajam seperti ditusuk dan memburuk ketika
batuk
• Penurunan nafsu makan dan berujunga pada penurunan
berat badan

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Diagnosis Pneumonia Komunitas
Diagnosis pasti:
• foto toraks  infiltrate baru atau infiltrate
progresif + dengan 2 atau lebih gejala di
bawah:
- Batuk-batuk bertambah
- Perubahan karakteristik dahak/ purulen
- Suhu tubuh ≥ 38°C (aksila)/ riwayat demam
- ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara
nafas bronkial dan ronki
- Leukosit ≥ 10.000 atau < 4500
http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Penatalaksanaan pneumonia komuniti
a.Penderita rawat jalan
• Pengobatan suportif / simptomatik
• istirahat di tempat tidur
• minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
• bila panas tinggi perlu dikompres atau minum
obat penurun panas
• bila perlu dapat diberikan mukolitik dan
ekspektoran
• Pemberian antibiotik harus diberikan kurang
dari 8jam

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
b. Penderita rawat inap di ruang rawat biasa
• pengobatan supportif/ simptomatik
- pemberian terapi oksigen
- pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan
elektrolit
- pemberian obat simptomatik antara lain
antipiretik,mukolitik
• Pengobatan antibiotik harus diberikan kurang dari 8 jam.
c. Penderita rawat inap diruang rawat intensif
• pengobatan suportif/ simptomatik
- pemberian terapi oksigen
- pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan
elektrolit
- pemberian obat simptomatik antara lain
antipiretik,mukolitik
• pengobatan antibiotik,kurang dari 8jam
• bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik
(respiratory distress )

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Petunjuk terapi empiris

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Alur Tatalaksana Penumonia Komuniti

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Pilihan lainnya
• A. Pneumonia komunitas
• C. Hospital acquired pneumonia
• D. Ventilator associated pneumonia
• E. Pneumonia atipikal
Dengan demikian jawabannya
B. Pneumonia aspirasi
73. E. Oralit per oral 1.125 cc dalam 3
jam pertama
Keywords :
• diare.
• tampak kehausan dan selalu ingin minum
• bola mata agak cekung.
• nadi 120 x/menit, napas 36x/menit, akral hangat,
turgor agak lambat, BB 15 kg.
Diagnosis : Diare akut dehidrasi ringan sedang
Berapakah kebutuhan cairan pasien?

• BB pasien: 15kg
• 15 x 75 = 1125
cc oralit dalam
3 jam

Buku Saku Pedoman Pelayanan Kesehatan


Anak di Rumah Sakit, WHO
Dengan demikian jawabannya adalah
E. Oralit per oral 1.125 cc dalam 3 jam pertama
74. C. Labiopalatoschisis

Keywords :
• celah di bibir dan langit-langit
Diagnosis yang tepat untuk kasus diatas
adalah?
Labiopalatoschizis
• Terdapat celah pada bibir dan langit-langit
pasien sehingga terdapat hubungan antara
hidung dan mulut.

• Gnathoschisis = cleft jaw  a congenital facial


anomaly of the jaw resulting from failure of
fusion of the mandibular prominences.
Labioschisis Labio-gnatoschisis

Palatoschisis Labio-gnato-palatoschisis
Dengan demikian jawabannya adalah
C. Labiopalatoschisis
75. D. Atelektasis

Keywords :
• Sesak
• perokok berat
• dada kiri tertinggal dalam hal pergerakan,
perkusi redup, dengan deviasi trakea ke kiri.
• Pada pemeriksaan radiologi : gambaran
segitiga opak di basal paru kiri
• Apa kemungkinan diagnosis pada pasien?
Atelektasis
• Adalah kolapsnya paru • Gejala: sesak napas dan
(atau berkurangnya nyeri dada
volume paru) akibat: • Ro toraks:
– Obstruksi (benda asing, – Opasifikasi
mukus, atau tumor di
– Hilus tertarik ke sisi yang
bronkus atau bronkiolus)
sakit
– Non-obstruksi
• Relaksasi [efusi pleura,
• Tata laksana bisa medis
pneumotoraks] atau bedah, tergantung
• Kompresi [tumor] penyebabnya
• Adesi [defisiensi surfaktan]
• Sikatriks [bekas TB]

PPM ilmu kesehatan paru


Atelektasis
Foto toraks dari kasus

• Segitiga opak putih


di basal paru kiri =
kolaps= atelektasis
Pilihan lainnya
• A. Pneumotoraks : CXR : hiperlusen avaskular
dengan garis pleura
• B. Emboli paru : sesak mendadak,
menggunakan skor Well, predisposisinya DVT
• C. Efusi pleura : cxr : meniscus sign/ ellis
damoseau
• E. Pneumonia : batuk, demam, sesak, cxr :
patchy infiltrat/ lobar infiltrat
Dengan demikian jawabannya adalah
D. Atelektasis
76. D. Tamponade jantung
Keywords:
• Tn. Adam 30 tahun
• Kecelakaan, riwayat trauma di dada
• Pemeriksaan tidak sadarkan diri, tampak sesak
• Hipotensi, distensi vena jugular, suara jantung
menjauh  trias Beck

• Apa yang dialami pasien ini?


Tamponade jantung
• Kegawatdaruratan medik
• Cairan mengisi ruang perikardium  jantung
sulit mengembang  diastolic failure
• Trias beck  hipotensi, distensi JVP, suara
jantung menjauh (muffled heart sound)
• Tatalaksana utama  pericardiocentesis

ATLS
Jadi jawabannya adalah
D. Tamponade jantung
77. E. Edema paru akut
Keywords:
• Ny. Diva 54 tahun
• Sesak nafas memberat sejak 2 jam yang lalu
• Sebelumnya pernah sesak hilang timbul terutama saat
beraktivitas atau tidur terlentang
• Riwayat sakit jantung (+), tidak rutin kontrol
• Pemeriksaan didapatkan murmur pansistolik di apeks dan
ronki basah halus di kedua basal paru
• Radiologi  Batwing appearance

• Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah?


Gagal jantung
Klasifikasi gagal jantung (NYHA dan
AHA)

Pathophysiology of
heart disease Lilly
• Keywords gagal jantung  DOE, PND, OP
• Pasien mengalami gagal jantung kongestif,
namun saat ini pasien sedang sesak nafas 
sedang dalam keadaan akut
• CHF dalam fase akut  ADHF (acute
decompensated heart failure)
• Dalam kasus ini, ADHF menyebabkan edema
paru akut
Batwing appearance
Pilihan lainnya
A. Pneumotoraks  menyerupai tamponade, tapi
tidak ada suara jantung menjauh, ciri khas
tension pneumotoraks, hipotensi, peningkatan
JVP, suara nafas menghilang, perkusi hipersonor,
radiologi area hiperlusen avaskular
B. Bronkiektasis  honeycoomb appearance
C. PPOK  riwayat merokok, barrel chest, jantung
pendulum dan diafragma mendatar
D. Asma  riwayat atopik, suara wheezing
Jadi jawabannya adalah
E. Edema paru akut
78. D. Valsartan
Keywords:
• Tn. Alfa 47 tahun kontrol tekanan darah
• Selama ini meminum kaptopril 25 mg
• Tekanan darah berhasil terkontrol baik
• Pasien mengeluhkan batuk tidak berdahak
selama 1 bulan terakhir

• Obat pengganti apa yang sebaiknya diberikan


dokter?
Hipertensi

• Definisi: Kenaikan tekanan darah > 120/80


mmHg setelah 2 x pengukuran
• Klasifikasi:
– JNC 7
– Hipertensi urgensi  kenaikan tekanan darah
hingga melebihi 180/120 mmHg
– Hipertensi emergensi  hipertensi urgensi +
kerusakan organ target
JNC 7
Algoritma Pengobatan Hipertensi

2014
guidelines
for
hypertensi
on JAMA
• Selama ini dapat dikontrol dengan kaptopril 
efek samping adalah batuk kering
• Pengganti pada pasien dengan intoleransi
ACEI adalah ARB  Valsartan
Jadi jawabannya adalah
D. Valsartan
79. A. Angina Pektoris Stabil
Keywords:
• Ny. Dinda 55 tahun
• Nyeri dada sebelah kiri berulang sejak 2 bulan
lalu seperti ditekan, menjalar ke lengan kiri dan
punggung, berlangsung 5 menit
• Terutama saat beraktivitas dan hilang setelah
istirahat atau obat di bawah lidah

• Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini


adalah?
Nyeri dada tipikal

Angina pektoris Acute coronary


stabil syndrome

Unstable
STEMI NSTEMI
angina
Gejala penyakit jantung iskemik
• Angina pektoris stabil  nyeri terjadi saat aktivitas, berkurang
bila diberi nitrat atau istirahat, nyeri berlangsung < 15 menit,
EKG normal bila istirahat  Stress test / Treadmill test
• Acute coronary syndrome  nyeri bisa terjadi mendadak dan
lama, tidak membaik dengan istirahat
– Unstable angina  ACS tanpa peningkatan enzim jantung,
EKG tidak spesifik
– NSTEMI  No ST elevasi, peningkatan enzim jantung
– STEMI  ST elevasi, peningkatan enzim jantung
Jadi jawabannya adalah
A. Angina pektoris stabil
80. B. Heart failure class B
Keywords:
• Tn. Bambang 50 tahun
• Memiliki riwayat hipertensi
• Tidak pernah ada keluhan nyeri dada atau sesak
• PF dalam batas normal
• EKG ditemukan irama sinus reguler, P wave normal, PR
interval normal, jumlah R di V6 dengan S di V1 37 mm
 LVH, dan ada ST elevasi di lead I, aVL dan V6

• Berdasarkan klasifikasi AHA, diagnosis pasien ini


adalah?
Klasifikasi gagal jantung (NYHA dan
AHA)

Pathophysiology of
heart disease Lilly
Jadi jawabannya adalah
B. Heart Failure Class B
81. C. Defibrilasi
Keywords:
• Tn. Sugih 60 tahun tiba-tiba tidak sadarkan diri
• Riwayat hipertensi dan diabetes 10 tahun
• Nadi tidak teraba, dilakukan RJP
• Setelah RJP, gambaran EKG terlihat VF

• Apa yang berikutnya dilakukan?


Algoritma ACLS

Sumber: AHA
Ventrikular ekstrasistol /
Ventricular Supraventrikular takikardi premature ventricle
fibrillation contraction
Asistol vs PEA
Asistol Pulseless Electrical Activity (PEA)
• Tidak teraba nadi • Gambaran EKG apapun
• Gambaran EKG flat kecuali VT or VF
• Tidak teraba nadi
Jadi jawabannya adalah
C. Defibrilasi
82. D. PDA
Keywords:
• Bayi Nur 1 bulan
• Terlihat cepat lelah, menyusu sebentar
• Riwayat kelahiran prematur dengan BL 1800 gram
• Pasien tidak sianosis, nadi 142 x/menit, nafas 41
x/menit
• Auskultasi terdengar murmur kontinyu 4/6 di sela iga 2
linea sternalis sinistra hingga sepanjang garis sternal

• Apa yang paling mungkin dialami pasien ini?


Patent ductus arteriosus
• Menetapnya duktus arteriosus setelah lahir
• Normalnya akan menutup 10-18 jam setelah lahir
karena oksigen yang dihirup bayi  vasokonstriksi
• Darah dari aorta ikut masuk ke arteri pulmonal menuju
paru  asianotik
• Apabila telah terjadi eisenmenger  aliran berbalik,
pulmonal menuju aorta, dapat menyebabkan
diferensial sianosis (kaki biru, tangan tidak)
• Continous murmur di sela iga 2 linea parasternal kiri

Medscape
Pilihan lainnya
A. ASD  fixed splitting
B. VSD  murmur pansistolik
C. ToF  sering sianosis dari lahir, lebih suka
posisi jongkok, murmur sistolik
E. Koarktasio aorta  differential pulse
Jadi jawabannya adalah
D. PDA
83. B. Penyakit jantung rematik
Keywords:
• An. Andri 7 tahun
• Keluhan sesak nafas sejak 2 hari lalu dan disertai
demam 1 minggu lalu
• Sesak terus menerus dan tidak ada ngik-ngik
• Memiliki riwayat sakit tenggorokan 3 minggu lalu
• PF didapatkan pasien demam, dan terdapat
opening snap di apeks

• Apa kemungkinan diagnosis pasien ini?


Rheumatic heart disease (RHD)
• Komplikasi berat dari demam rematik
• Faktor risiko  riwayat sakit tenggorokan  post
infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A
• Reaksi imun terjadi beberapa minggu setelah
sakit tenggorokan sembuh  demam rematik
• Reaksi imun salah mengira jantung sebagai
patogen  RHD
• Demam rematik  kriteria Jones (2 mayor atau 1
mayor + 2 minor)
Medscape
Kriteria Jones
Mayor Minor
• Karditis • Demam
• Poliartritis • Arhtralgia
• Korea • Pemanjangan interval PR
• Nodul subkutan • Peningkatan LED
• Eritema marginatum • Ada C-reactive protein
• leukositosis
Pilihan lainnya
A. PDA  continous murmur
C. Endokarditis infektif  riwayat cabut gigi atau
penggunaan obat suntik
D. Kardiomiopati  tergantung jenis, terdapat
kelainan struktural pada jantung, biasanya
genetik
E. ASD  Fixed splitting
Jadi jawabannya adalah
B. Penyakit jantung rematik
84. D. Jantung seperti sepatu boot
Keywords:
• An. Sofia 8 tahun
• Bibir dan kuku sering biru terutama bila pasien
olahraga
• Sering berjongkok apabila pasien lelah
• Anak tampak kecil dan kurus
• Murmur sistolik derajat 3/6 di apeks

• Hasil apa yang paling sering tampak di


pemeriksaan foto polos dada pasien seperti ini?
Tetralogi of Fallot
• Stenosis pulmonal • Pathogenesis:
• RVH mikrodelesi
kromosom 22
• VSD (22q11)
• Overriding aorta • Gejala klinis:
• DOE
• Cyanosis spell
• Squatting
• Diagnostic studies
• CXR: boot shape
• ECG: RVH, RAD
Pilihan lainnya
A. Barrel chest  PPOK
B. Area hiperlusen avaskular  tension
pneumotoraks
C. Jantung pendulum dan diafragama mendatar
 PPOK
E. Batwing appearance  edema paru
Jadi jawabannya adalah
D. Jantung seperti sepatu boot
85. C. Miokarditis
Keywords:
• Tn. Tono 24 tahun
• Keluhan berdebar-debar sejak 3 hari
• Tidak ada nyeri dada, riwayat hipertensi dan sakit jantung
disangkal
• Ada demam dan sakit tenggorokan sejak 1 minggu lalu
• Tekaan darah 100/60 mmHg, nadi 100 x/menit ireguler,
nafas 20 x/menit, suhu 380C
• PF  thrilling di apeks dan terdapat selaput membran
putih mudah berdarah di tenggorokan

• Apa kemungkinan diagnosis pasien ini?


Miokarditis difteri
• Komplikasi yang ditakutkan dari difteri
• Inflamasi miokardium  gejala tidak spesifik,
hanya mengarah ke jantung (sesak nafas,
berdebar-debar, keringat dingin)
• Terjadi dalam 1-2 minggu pasca infeksi (60%
pasien terutama yang tidak diimunisasi)
• Toksin menyebabkan proses katalitik perubahan
NAD dalam sel menjadi diphtamide  inaktivasi
eEF2  blok sintesis protein sel  kematian sel
• Menyebar ke organ lain secara limfatik dan
hematogenik
Medscape
Pilihan lainnya
A. Perikarditis  ST elevasi di semua lead,
frictional rub
B. Endokarditis  riwayat cabut gigi atau
penggunaan obat-obatan terlarang
D. VF  biasanya tidak sadar, butuh defibrilasi
E. AF  hilang gelombang P, ireguler pada EKG
Jadi jawabannya adalah
C. Miokarditis
86. B. Pseudohifa dan blastospora
Keywords:
• Ny. Maxim 27 tahun datang dengan keputihan 2
minggu lalu
• Keputihan disertai gatal dan kemerahan
• Putih seperti butiran susu
• Riwayat keluarga DM (+)
• Disarankan melakukan pemeriksaan mikroskopis

• Apa yang diharapkan dari pemeriksaan


tersebut?
Duh tubuh
Kriteria Gonorea BV Candida Trichomonas Klamidia
Duh Tidak spesifik Amis setelah Seperti susu Kuning Tidak spesifik
berhubungan kehijauan
Mikroskopis Diplokokus Clue cell Pseudohifa Parasit Badan inklusi
gram negatif dan berflagel dan
blastospora pergerak
Etiologi Neisseria Gardnerella Candida Trichomonas Chlamidia
gonorrhea vaginalis albicans vaginalis trachomatis
Pedoman IMS 2011
Depkes
Pilihan lainnya
A. Hifa sejati panjang bersekat  tinea
C. Hifa pendek dan spora bergerombol 
malasezia furfur
D. Clue cell  BV
E. Badan inklusi  Klamidia
Jadi jawabannya adalah
B. Pseudohifa dan blastospora
87. D. Varikokel
Keywords:
• Tn. Moscow 30 tahun
• Belum memiliki anak setelah 2 tahun menikah
dan berhubungan rutin tanpa kontrasepsi
• Nyeri hilang timbul tidak berat pada buah pelir
• PF umum normal, PF testis terdapat sensasi
kantung cacing di testis kanan

• Apa kemungkinan diagnosis pada pasien ini?


Varikokel
• Terjadi pada 15-20% laki-laki dan 40% pada
laki-laki infertil
• Keluhan utama  sulit mendapatkan
keturunan
• Biasanya asimptomatik
• Ciri khas  bag of worm pada palpasi testis
(gambaran kantung cacing)
Hidrokel vs Varikokel
Hidrokel Varikokel
• Biasanya asimptomatik, • Asimptomatik, namun
hanya teraba testis berhubungan dengan
membesar dan tidak infertilitas dan terkadang
simetris bisa nyeri skrotal
• Testis teraba • Teraba kantong cacing
• Tes transiluminasi (+) • Tes transiluminasi (-)
Varikokel
Pilihan lainnya
A. Torsio testis  nyeri akut, Phren’s sign (-)
B. Epididimitis  nyeri, hitungan hari, phren’s
sign (+)
C. Hidrokel  transiluminasi (+)
E. Omfalokel  defek dinding abdominal
kongenital
Jadi jawabannya adalah
D. Varikokel
88. B. Sindrom nefritik
89. A. Captopril
Keywords:
• An. Infinite 8 tahun
• Sakit kepala dan penglihatan kabur 2 hari lalu
• Buang air kecil kemerahan
• Riwayat demam dan sakit tenggorokan 2 minggu lalu
• Urinalisis albumin +2, eritrosit penuh
• Pemeriksaan darah, albumin 3.2 g/dL, titer ASTO
meningkat

• Apa yang terjadi pada pasien ini?


GNAPS
• Glomerulonefritis akut atau sindrom nefritik
– Azotemia
– Hipertensi
– Edema
– Hematuria
– Proteinuria
• Paling sering disebabkan oleh reaksi imun pasca infeksi
streptokokus beta hemolitik grup A
• Tatalaksana simptomatik
– Edema  diuretik
– Hipertensi  ACEI atau CCB, lebih diutamakan ACEI karena
renoprotektif
Nefritik vs Nefrotik
Nefritik Nefrotik
• Dominan hematuria • Dominan proteinuria
• Hipertensi • Hipoalbuminemia
• Biasanya post-streptoccal • Gejala yang sering
dikeluhkan  bengkak
Jadi jawabannya adalah
88. B. Sindrom nefritik
89. A. Captopril
90. C. Prazosin
Keywords:
• Tn. Seal 65 tahun
• Sulit buang air kecil sejak 2 minggu
• Kencing keluar sedikit, terkadang perlu mengedan, nyeri
disangkal
• Riwayat tekanan darah tinggi pada keluarga (+)
• PF tekanan darah 140/90 mmHg, lain-lain normal
• RT prostat teraba kenyal, nyeri tekan (-), pool atas tidak
teraba  BPH
• Pasien minta obat sekalian untuk hipertensi

• Obat apa yang sebaiknya diberikan dokter?


BPH (benign prostat hyperplasia)
• Pembesaran prostat jinak • α-blocker (terazosin, doxazosin,
prazosin, tamsulosin, alfulosin,
• Keluhan sulit kencing silodosin) menyebabkan
• RT  lunak, pool atas relaksasi otot polos prostat di
tidak teraba leher buli, kapsul prostat dan
uretra pars prostatika.
• 2 kelas obat yang dapat
diberikan • 5α-reductase inhibitor
(finasteride, dutasteride)
– α-blocker bekerja dengan mengurangi
– 5α-reductase inhibitor ukuran kelenjar prostat.
• α-blocker bisa digunakan untuk
hipertensi, yang paling sering
digunakan  prazosin
Medscape
Gejala retensi urin
Penyakit Demam RT Hematuria
BPH - Prostat teraba -
lunak, Pool atas
tidak teraba, nyeri
tekan (-)
Prostatitis + Prostat teraba -
kenyal, pool atas
teraba, nyeri tekan
(+)
Ca prostat - Prostat teraba +
keras, dapat
berbenjol-benjol,
pool atas bisa
teraba atau tidak,
nyeri tekan (+/-)
Jadi jawabannya adalah
C. Prazosin
91. C. Phren sign
Keywords:
• Tn. Toni 20 tahun
• Nyeri pada buah pelir mendadak saat pasien baru
bangun tidur.
• PF  testis tidak simetris dan nyeri sangat hebat
 kemungkinan besar torsio testis

• Tes sederhana apa yang bisa dilakukan untuk


membantu menegakkan diagnosis?
Torsio testis
• Emergensi dalam bidang urologi
• Torsio dari korda spermatikus  penurunan suplai darah  iskemia
testis ipsilateral
• Gejala utama adalah nyeri dadakan dan akut serta sangat hebat
• Dd/ utama adalah epididimitis
• Pemeriksaan penunjang yang disarankan  USG doppler, dapat
memperlihatkan kekurangan blood supply
• PF sederhana yang bisa membantu membedakan  Phren sign
• Phren sign  (+) apabila ketika testis diangkat, nyeri berkurang atau
menghilang  suggestive epididimitis, bila (-), suggestive torsio
testis
• Tatalaksana utama  bedah detorsio
Diagnosis Banding Scrotal Pain
Pilihan lainnya
A. TenHorn sign  nyeri yang timbul saat traksi
korda spermatikus, suggestive appendisitis
B. Blumberg sign  nyeri lepas pada
pemeriksaan abdomen, suggestive
appendisitis
D. Tes transiluminasi  pada hidrokel
E. Tes phalen  untuk carpal tunnel syndrome
Jadi jawabannya adalah
C. Phren’s sign
92. A. Fimosis
Keywords:
• An. Bayu 3 tahun
• Kemaluan menggembung dan sering
menangis bila buang air kecil
• PF  ujung penis menggembung dan
prepusium sulit ditarik ke belakang

• Apa kemungkinan diagnosis pasien ini?


Fimosis
• Ketidakmampuan kulit prepusium untuk
ditarik ke belakang
• Klasifikasi:
– Fisiologis  newborn
– Patologis  setelah pubertas atau setelah
sebelumya bisa ditarik
Fimosis vs Parafimosis
Fimosis Parafimosis
• Bukan emergensi • Emergensi
• Prepusium yang ditarik ke
• Prepusium tidak bisa ditarik belakang tidak bisa ditarik
ke belakang kembali  terjepit dan edema
• Gejala umum  kulit prepusium
• Gejala umum  ujung edema, terdapat cincin menjepit
penis menggembung penis  bisa iskemia
• Tatalaksana:
• Tatalaksana  sirkumsisi, – Manual reduksi
rujuk ke urologi – Cairan hipertonik kompres
– Pungsi
– Aspirasi
– Insisi vertikal
– Sirkumsisi  urologi
Pilihan lainnya
B. Parafimosis  cincin edema, kulit tidak bisa
ditarik ke depan
C. Torsio testis  nyeri akut di testis, phren sign
(-)
D. Epididimitis  nyeri di testis, phren sign (+)
E. Uretritis  biasanya ISK, ada gejala disuria
atau duh
Jadi jawabannya adalah
A. Fimosis
93. A. Nefrolitiasis
Keywords:
• Tn. Anton 35 tahun
• Nyeri pada pinggang kiri sejak 3 hari lalu
• Kencing terasa lebih sedikit, pasien juga jarang minum
• PF  Nyeri ketok CVA kiri
• Radiologi gambaran tanduk rusa di paravertebra kiri
setinggi L2-L4  staghorn

• Apa diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?


Nefrolitiasis
• Batu berada di ginjal
• Nyeri di pinggang biasanya tidak menjalar
• Gambaran pada foto rontgen bisa didapatkan
tanduk rusa (staghorn)
• Pemeriksaan penunjang sederhana  BNO
IVP
Tatalaksana batu saluran kemih

Clinical surgery 2nd ed


Harrison 18th ed
Staghorn
Jadi jawabannya adalah
A. Nefrolithiasis
94. C. Kandung Kemih
Keywords:
• Ny. Julia 20 tahun
• Kecelakaan lalu lintas 2 jam yang lalu
• Pasien sadar dan mengerang kesakitan
• Tekanan darah 100/60 mmHg, Nadi 120 x/menit,
suhu 370C, nafas 24 x/menit
• PF  nyeri tekan suprapubik dan ada warna
kemerahan di urin saat dipasang kateter

• Organ apa yang bermasalah pada pasien ini?


Ruptur organ
Organ Gejala
Ginjal Nyeri di pinggang, hematuria
Ureter Nyeri dapat menjalar ke selangkangan,
jarang terjadi, hematuria
Buli/kandung kemih Nyeri di suprapubik, hematuria
Uretra anterior Nyeri di selangkangan, paling sering
karena straddle injury, butterfly
hematoma
Uretra posterior Nyeri di selangkangan, biasanya
disebabkan fraktur pelvis, floating
prostate
Jadi jawabannya adalah
C. Kandung kemih
95. B. Ulkus mole
96. D. Hemophillus ducreyi
Keywords:
• Tn. Alinda 30 tahun
• Luka pada kemaluan timbul sejak 5 hari lalu
• Awalnya kecil kemudian membesar dan sangat nyeri
• Riwayat berhubungan dengan PSK 2 minggu lalu
• PF  pada penis terdapat ulkus multipel 2 cm dengan
dasar kotor, bergaung dan tidak ada indurasi

• Apa kemungkinan diagnosis pada pasien ini?


Sifilis vs Ulkus mole
Sifilis (ulkus durum)
• Ulkus genitalis  tidak
sakit
• Etiologi  Treponema
pallidum
Ulkus mole
• Ulkus genitalis  sakit
• Etiologi  Hemophillus
ducreyi
Pedoman IMS 2011
Depkes
Jadi jawabannya adalah
B. Ulkus mole
96. D. Hemophillus ducreyi
97. B. Chlamydia trachomatis
Keywords:
• Tn. Toko 35 tahun
• Nyeri pada area lipat paha 2 hari lalu
• Nyeri mendadak dan disertai dengan benjolan
• Awalnya luka pada kemaluannya 2 minggu lalu namun
sembuh sendiri
• Riwayat berhubungan dengan PSK 3 minggu lalu
• PF  pembesaran KGB inguinal dan ada nyeri tekan

• Apa etiologi penyakit pada pasien?


Bubo inguinalis
• Pembesaran kelenjar getah bening 
termasuk PMS, dapat disebabkan
limfogranuloma venerum (LGV) atau
canchroid
• LGV  sering didahului dengan self-limiting
ulcer, dilanjutkan dengan nyeri pada kelenjar
getah bening femoral  etiologi = Chlamydia
trachomatis
Jadi jawabannya adalah
B. Chlamydia trachomatis
98. E. Ruptur uretra anterior
Keywords:
• Tn. Asam 30 tahun
• Kecelakaan 4 jam lalu jatuh dari motor dengan posisi
duduk
• Pasien compos mentis, mengeluh sulit buang air kecil
• PF  perdarahan keluar dari uretra dan bercak kupu-
kupu di selangkangan disertai nyeri tekan suprasimfisis

• Apa yang terjadi pada pasien ini?


Ruptur organ
Organ Gejala
Ginjal Nyeri di pinggang, hematuria
Ureter Nyeri dapat menjalar ke selangkangan,
jarang terjadi, hematuria
Buli/kandung kemih Nyeri di suprapubik, hematuria
Uretra anterior Nyeri di selangkangan, paling sering
karena straddle injury, butterfly
hematoma
Uretra posterior Nyeri di selangkangan, biasanya
disebabkan fraktur pelvis, floating
prostate
Klasifikasi Goldman untuk ruptur
uretra
Tipe Kriteria
I Uretra intak namun tertarik sehingga ruptur ligamen puboprostatik 
prostat bergerak superior, kontras tidak ekstravasasi
II Kontras ekstravasasi ke rongga ekstraperitoneal namun tidak ada di
perineum, diafragma urogenital inak
III Diafragma urogenital robek, kontras ekstravasasi di rongga
ekstraperitoneal dan perineum
IV Robekan hingga ke leher kandung kemih. Kontras dapat dilihat ekstravasasi
di pelvis ekstraperitoneal dekat uretra proksimal  berpotensi cedera
spinchter uretra internal (inkontinensia urin)
V Klasifikasi ini khusus untuk cedera uretra anterior, distal dari diafragma
urogenital, biasanya terdapat pada straddle injury

Medscape
Tatalaksana ruptur uretra
• Simptomatik
• Atasi retensi urin  lebih baik dengan pungsi
suprapubik
• Bedah  terutama pada ruptur uretra
posterior yang disertai cedera pelvis (koreksi
uretra dilakukan setelah masalah pelvis
ditangani)
Jadi jawabannya adalah
E. Ruptur uretra anterior
99. D. Urin tengah
Keywords:
• Ny. Mei 23 tahun
• Sering buang air kecil sejak 3 hari lalu
• Buang air kecil sedikit dan sering disertai dengan rasa nyeri
• Keputihan disangkan dan mengaku tidak ada merah di
urinnya
• PF normal
• Urinalisis leukosit penuh dan leukosit esterase (+)
• Dokter ingin melakukan kultur urin

• Urin manakah yang digunakan dalam pemeriksaan


tersebut?
ISK
• Infeksi pada saluran kemih, terdiri atas sistisis,
prostatitis, pyelonefritis, asimptomatik
bakteriuria  patofisiologi infeksi ascenden
• Klasifikasi:
– Uncomplicated  tanpa instrumen di saluran kemih,
tanpa abnormalitas struktural, tidak hamil dan rawat
jalan
– Complicated  all other
• Penyebab tersering  E. coli
• Pemeriksaan urinalisis  urin pancar tengah,
pungsi suprapubik atau kateter
Tatalaksana ISK non komplikata
Tatalaksana ISK komplikata
Jadi jawabannya adalah
D. Urin tengah
100. C. Batu asam urat
Keywords:
• Tn. Bilbo 46 tahun
• Pinggang kiri terasa nyeri 5 hari lalu
• Nyeri mendadak dan tidak menjalar
• Senang konsumsi kangkung dan kacang-kacangan
• PF-> nyeri ketok CVA di pinggang kiri pasien
• Foto polos area lumbal  tidak ada radioopak
• Urinalisis  pH urin 5.0

• Apakah yang paling mungkin dialami pasien ini?


Batu asam urat
• Faktor risiko terpenting  pH urin yang asam
• Konsentrasi asam urat > 100 mg/L di urin pada pH
asam akan meningkatkan formasi kristal dan batu
• Penyebab  metabolik sindrom, gout
• Gejala  sama dengan batu lain, nyeri pada pinggang
• Pemeriksaan  pH urin asam, asam urat tinggi, batu
radiolusen
• Tatalaksana  alkali, jaga pH 6-6.5 (jangan lebih dari
itu, meningkatkan risiko batu kalsium fosfat)
• Diet rendah purin + allopurinol
Tatalaksana batu saluran kemih

Clinical surgery 2nd ed


Harrison 18th ed
Pilihan lainnya
A. Batu oksalat  urin oksalat >75 mg /24 jam,
batu merupakan batu kalsium  radioopak
B. Batu sistine  sistinuria hingga 300 mg/hari,
kristal hexagonal, platelike, sediaan urin pagi
D. Batu struvit  biasanya karena infeksi
Proteus, degradasi urea, menaikkan pH urin 
presipitasi pembentukan batu struvit
(magnesium ammonia fosfat
E. Batu ammonia fosfat  struvit
Jadi jawabannya adalah
C. Batu asam urat
101. D.Asupan kalori bertahap guna mencegah
hipokalemia, hipomagnesemia, dan hipofosfatemia
pada pasien
Keywords
• Sangat kurus, tampak wajah seperti orang tua,
iga gambang, perut membuncit, dan edema
tungkai.
• Lemas
• Tidak mau makan ataupun minum susu.
• BB 8kg, TB 83 cm

Pernyataan yang benar mengenai tatalaksana


pada pasien ini adalah?
Gizi Buruk – Diagnosis
• Diagnosis gizi buruk ditegakkan atas dasar klinis dan atau antoprometri
1. Terlihat sangat kurus dan atau edema
2. Antropometri
a. Anak usia <5 tahun (WHO): z-score BB/TB < -3,00 SD
b. Anak dengan organomegali: LLA < 11,5 cm atau LLA/U < 70%
• Klasifikasi
– Kwashiorkor: minimal terdapat edema pada kedua punggung kaki,
rambut kemerahan dan mudah dicabut, kurang aktif, rewel, cengeng,
pengurusan otot, crazy pavement dermatosis
– Marasmus: wajah seperti orang tua, kulit terlihat longgar, iga
gambang, baggy pants, kulit paha berkeriput
– Tipe Campuran
– Perhatikan: edema punggung kaki bilateral; sedangkan ascites dapat
saja merupakan organomegali.

Sumber : http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/BUKU-GIZI-BURUK-I-2011.pdf
Kwashiorkor vs
Marasmus
Refeeding Syndrome :
• Asupan kalori bertahap
untuk mencegah
refeeding syndrome 
benar
– Menggunakan F-75
untuk memberikan
kalori bertahap dimulai
dari 25-75% REE,
selanjutnya ditingkatkan
10-20% perhari atau
selama 4-7 hari untuk
mencapai target asupan
kalori

Buku Ajar Nutrisi dan Penyakit Metabolik IKA


FKUI, 2011 – hal.46-47
Pilihan lain
Pilihan lain
• F-75 diberikan pada fase stabilisasi
Pilihan lain
• F100 diberikan pada fase transisi
Dengan demikian, jawabannya
adalah

D.Asupan kalori bertahap guna


mencegah hipokalemia,
hipomagnesemia, dan
hipofosfatemia pada pasien
102. C. Niasin
Keywords
• Kulitnya meradang bila terpapar sinar
matahari, membentuk lingkaran di bagian
bawah leher dan simetris.
• Mudah lupa dan diare

Defisiensi zat apakah yang dapat menyebabkan


masalah tersebut?
Vitamin B3 : Niasin
Gejala defisiensi niasin:
-Pelagra : ditandai dengan
ruam kulit, gejala
gastrointestinal, dan
gangguan neuropsikiatri
-3D : Dermatitis,
Demensia, Diare

Pelagra
http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/4-1-5.pdf
Pilihan lain
• Defisiensi tiamin (B1)
- Beri-beri yang gejalanya terutama tampak pada
sistem saraf dan kardiovaskuler
- Neuritis
- Insufisiensi jantung
- Konstipasi dan nafsu makan berkurang
• Defisiensi riboflavin (B2)
- Stomatitis angularis, keilosis, glositis, lidah
berwarna merah dan licin.

http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/4-1-5.pdf
Pilihan lain
• Defisiensi asam pantotenat (B5)
- Meningkatnya risiko infeksi
- Jerawat
- Cepat lelah
• Asam folat
- Anemia megaloblastik
- Neural tube defect
- Hiperhomosisteinemia

http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/4-1-5.pdf
Dengan demikian, jawabannya
adalah

C. Niasin
103. E. Ganti kedua obat dengan
insulin
Keywords
• Riwayat DM
• Demam tinggi
• Luka pada kaki
• Angka leukosit 20.000

Bagaimanakah pengontrolan gula darah yang


tepat bila sebelumnya pasien rutin
mengkonsumsi metformin dan glibenclamide?
Prinsip Perawatan Ulkus Kaki DM

Konsensus DM tipe 2, PERKENI


Indikasi Insulin

Konsensus DM tipe 2, PERKENI


Dengan demikian, jawabannya
adalah

E. Ganti kedua obat dengan insulin


104. E. Alergi susu sapi; teruskan ASI
dan minta ibu untuk diet eliminasi
Keywords
• Bayi 1 bulan
• Bercak kemerahan di kedua pipi
• Sangat rewel
• Minum ASI eksklusif

Diagnosis dan tatalaksana apa yang paling tepat?


Pilihan lain
Intoleransi laktosa : kelainan akibat defisiensi laktase. Enzim laktase
jumlahnya cukup banyak saat baru lahir namun semakin menurun
seiring meningkatnya usia. Umum terjadi apa orang-orang yang jarang
minum susu/menghindari makanan minuman yang mengandung susu
kemudian setelah itu mereka kembali mengkonsumsi susu.

Gejala intoleransi laktosa :


• Kembung
• Mual
• Nyeri perut
• Diare
• Flatulens

Tatalaksana : hindari atau kurangi konsumsi makanan atau minuman


yang mengandung susu. Whole milk dan susu coklat lebih baik
dibanding skim milk
Dengan demikian, jawabannya
adalah

E. Alergi susu sapi; teruskan ASI dan


minta ibu untuk diet eliminasi
105. B. Diabetes insipidus e.c defisiensi
hormon ADH
• BAK 25-30 kali/hari
• Haus yang berlebihan
• Keluhan sering lapar dan penurunan berat
badan disangkal

Apakah diagnosis yang paling tepat pada


pasien dan apakah etiologinya?
Diabetes Insipidus

Central Diabetes Insipidus :


http://ocw.tufts.edu/Content/33/lecturenotes/495118/495166
Tatalaksana Diabetes Insipidus
• Minum atau terapi cairan untuk mengganti
kehilangan cairan
• Farmakologi:
- Desmopressin (drug of choice)
- Vasporesin sintetik
Pilihan lain
Dengan demikian, jawabannya
adalah

B. Diabetes insipidus e.c defisiensi


hormon ADH
106. E. Penyakit Addison
• Mudah lelah, tidak nafsu makan
• BB turun
• Kulitnya semakin menghitam
• Riwayat SLE
• Gizi kurang
• Tidak adanya rambut ketiak dan pubis

Apakah diagnosis yang paling mungkin?


Penyakit Addison: hiposupradrenalisme

Penyakit endokrin akibat


kekurangan steroid adrenal,
terutama aldosteron akibat
atrofi idiopatik atau
kerusakan kedua kelenjar
adrenal oleh, gangguan
autoimun atau penyakit lain
Terapi
• Hidrokortison 300-400mg dalam 1000 cc
normal saline/8-10 jam atau
• 100mg IV bolus/6-8 jam,

Setelah 2-3 hari dilakukan tappering off,


diberikan 100-150mg hidrokortison/24 jam

Addison Disease : Medscape


Pilihan Lain
• A. Cushing syndrom : hiperkortisolism oleh
sebab apapun
• B. Cushing disease: hypercortisolism sentral
(adenoma pituitari)
• C. Krisis adrenal : akibat insufisiensi steroid
adrenal, pasien ditemukan dalam keadaan
buruk (syok, ketidakseimbangan elektrolit)
• D. Kretinisme :defisiensi hormon tiroksin
Dengan demikian, jawabannya
adalah

E. Penyakit Addison
107. B. Clostridium botulinum
Keywords
• Kelumpuhan
• Pandangan ganda
• Kesulitan menelan
• Kesulitan bernapas
• Mual dan muntah
• Konsumsi makanan kaleng

Kemungkinan organisme penghasil toksin yang


menyebabkan timbulnya keluhan pada pasien
tersebut adalah?
Botulisme
• Gangguan neurologis
akut  neuroparalisis
akibat
neurotoksin Clostridium
botulinum.
• 3 tipe
– infant botulism (IB) 
madu
– foodborne botulism
(FBB)  makanan kaleng
– wound botulism (WB) 
luka
• > 90% punya 3-5 gejala berikut: • Sistem saraf otonom:
– Nausea – Ileus paralitik
– Vomiting – Dilatasi gaster
– Dysphagia – Distensi kandung kencing
– Diplopia – Hipotensi orthostatik
– Dilated/fixed pupils – Penurunan salivasi
– Mulut kering – Penurunan lakrimasi

• Perjalanan penyakit: • Gejala lain:


– nausea, vomitus, nyeri perut, malaise, – Deep tendon reflexes:
pusing, mulut kering, nyeri tenggorok positif atau berkurang
– Paralisis n.kranial: penglihatan buram, – Inkoordinasi tubuh
diplopia, ptosis, fixed/dilated pupils, – Pemeriksaan sensorik dan
dysarthria, dysphagia, penurunan gag gait normal
reflex
– Mental status examination
– Symmetrical descending paralysis normal
– Respiratory musle weakness: ringan 
berat
http://emedicine.medscape.com/article/213311-overview#a0101
Pilihan lain
A. Clostridium tetanii : penyebab tetanus
C. Clostridium difficille : penyebab kolitis
pseudomembranosa
D. Plasmodium sp : penyebab malaria
E. Trypanosoma sp : penyebab penyakit tidur
‘lalat tse tse’
Dengan demikian, jawabannya
adalah

B. Clostridium botulinum
108. C. Albendazole 400mg dosis
tunggal
• An. Dori, usia 5 tahun
• BB tidak naik-naik
• Pernah keluar cacing saat BAB
• Batuk kering dan demam
• Diare, mual, muntah.

Terapi yang paling tepat untuk pasien adalah?


Ascariasis
• Gejala
– Batuk kering dan sesak napas 
pada awal penyakit
– Kembung, mulas
– Nyeri epigastrium
– BAB cacing
– Kolik abdomen
• Diagnosis
Pemeriksaan tinja  cara
konsentrasi (Kato) atau
kuantitatif (Kato Katz),
ditemukan telur berdinding
tebal
http://www.cdc.gov/parasites/ascariasis/
Ascaris lumbricoides
Tatalaksana Askariasis
• Pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal
• Mebendazol 500 mg dosis tunggal atau 2x100
mg selama tiga hari berturut-turut 
diperbolehkan pada trimester 2 dan 3
• Albendazol 400 mg dosis tunggal 
diperbolehkan pada trimester 2 dan 3
Dengan demikian, jawabannya
adalah

C. Albendazole 400mg dosis tunggal


109. E. Sianida; natrium tiosulfat
Keywords
• Penurunan kesadaran
• Mual, muntah, dan sakit kepala.
• Konsumsi singkong secara berlebihan

Jenis keracunan apa yang terjadi pada pasien


tersebut dan apakah tatalaksana yang sesuai?
Keracunan Singkong : Sianida
Penyebab kematian: intoksikasi sianid

• Asam sianida terkandung dalam singkong


dan merupakan penyebab keracunan
singkong
• Kadar asam sianida berbeda berdasarkan
jenis singkong dan cara pengolahannya 
merendam dahulu dalam air akan
mengurangi kadar asam sianida
Intoksikasi HCN
 Asam sianida (HCN) dapat menyebabkan asfiksia
 Mengganggu oksidasi jaringan karena mengikat enzim sitokrom
oksidase  oksigen tidak dapat digunakan oleh jaringan (anoksia
histotoksik)  organ yang sensitif pada kondisi hipoksia akan
terpengaruh lebih dahulu sehingga gejala awal melibatkan SSP/otak
berupa kejang hingga gagal napas
 HCN bekerja sangat cepat, kematian dapat timbul dalam
beberapa menit, terutama bila dikonsumsi dalam kondisi
lambung kosong (kadar asam lambung tinggi)
 Detoksikasi oleh tubuh melalui hati, yaitu enzim transulfurase,
namun kerjanya lambat  dapat dipercepat dengan
pemberian sulfur
 Itulah sebabnya pada keracunan HCN diberikan natrium tiosulfat

http://www.slideshare.net/HardiSdiq/cyanide-poisoning-2012-11857954
Pilihan Lain
• A. Organofosfat; sulfas atropine  riwayat
paparan insektisida
• B. Jengkol; natrium bikarbonat  riwayat
makan jengkol
• C. Botulisme; tatalaksana supportif  riwayat
pasca makan makanan kaleng
• D. Sianida; natrium bikarbonat  terapi salah
Dengan demikian, jawabannya adalah

E. Sianida; natrium tiosulfat


110. C. Limfadenitis TB; FNAB
• Benjolan di leher kiri sejak 3 bulan yang lalu
• Penurunan berat badan, keringat malam, dan
nafsu makan berkurang
• Benjolan di tempat lain disangkal.
• PF: benjolan berukuran 3x3x3 cm disertai
dengan adanya tanda radang.

Diagnosis dan pemeriksaan yang paling tepat


adalah?
Limfadenitis TB

• Limfadenitis TB: TB
ekstraparu yg sering
terjadi
• Central caseation
surrounded by
epithelioid and
multinucleated giant
cells adalah gambaran
histopatologi pada infeksi
TB

Sumber: Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease


Pilihan Lain
• Limfoma non-Hodgkin  sel-sel besar limfosit
matur, uniform, difus, tidak tampak folikel
limfoid.
• Limfoma Hodgkin  ditemukan sel Reed
Sternberg
Dengan demikian, jawabannya adalah

C. Limfadenitis TB; FNAB


111.C. Intoksikasi metanol
• Rombongan keluhan buta mendadak pada
kedua mata
• Pasca pesta minuman keras oplosan

• Kemungkinan penyebabnya adalah?


Intoksikasi metanol
Metanol  alkohol industri
yang murah harganya, tidak
kena pajak minuman keras,
namun toksik dan bukan
untuk diminum

Pesta minuman keras,


kemungkinan dioplos
dengan metanol
Methanol-Induced Optic Neuropathy
• Diduga metabolit metanol: asam format
bertanggung jawab terhadap kerusakan saraf
optik
• Perubahan funduskopi: edema diskus optikus,
hiperemia
• Metanol dapat menyebabkan asidosis
metabolik

http://emedicine.medscape.com/article/1174890-overview
Methanol-Induced Optic Neuropathy
• Gejala awal intoksikasi terhadap okular:
fotofobia, pandangan kabur, nyeri saat
pergerakan bola mata, pupil tidak reaktif
Right (A) and left (B) optic discs of the patient with
pseudoglaucomatous optic neuropathy secondary to
methanol intoxication (optic disc area both eyes: 2.6
mm2; neuroretinal rim area right eye: 1.1 mm2; left eye:
0.92 mm2). Note intensely pale appearance of the optic
disc with alteration of neuroretinal rim configuration and
(most likely) pre-existing peripapillary atrophy zone. Note
also the “washboard-like” pattern of the internal limiting
membrane (arrow) secondary to acute loss of retinal
nerve fibres.

Br J Ophthalmol 2002;86:1064-1065 doi:10.1136/bjo.86.9.1064


Dengan demikian, jawabannya adalah

C. Intoksikasi metanol
112 B. Polisitemia vera
• Usia 60 tahun
• Lekas lelah, sakit kepala
• Wajah kemerahan, terdapat benjolan pada
jari kaki kedua sebelah kanan, dan
splenomegali S1.
• Hb 22 g/dl, leukosit 9.000 g/dl, trombosit
380.000

• Kemungkinan diagnosis pada kasus diatas


adalah?
Polisitemia Vera
• Kelainan mieloproliferatif
• Tanda dan gejala biasanya
berhubungan dengan
hiperviskositas darah :
- Pandangan kabur, sakit
kepala, mudah lelah
- Muka kemerahan (pletora)
- Gatal (berhubungan dengan
overproduksi histamin)
- Sering disertai splenomegali
http://www.bestonlinemd.com/wp-
content/uploads/2015/07/download.jpg
Pemeriksaan Penunjang
- Peningkatan massa sel darah merah
( > 36 mL/kg pada pria, > 32 mL/kg pada wanita)
- Saturasi oksigen normal (> 92%)
- Trombositosis
- Leukositosis
- Peningkatan leukosit alkalin fosfatase (>100)
- Serum eritropoietin rendah
- Aspirasi sumsum tulang: hiperplasia sel darah
merah.
http://images.netdoctor.co.uk/uka__603910000_treatmentpv_300.gif
Dengan demikian, jawabannya adalah

B. Polisitemia vera
113. E. BT normal, PT normal, aPTT ↑
Keywords:
• Anak 2 thn
• Bengkak d lutut kanan sejak 3 hari lalu,
• menangis saat disentuh
• Anak rewel, tidak pucat, lutut kanan lebih
bengkak dari lutut kiri, lebih hangat dari kulit
sekitarnya.

• Pemeriksaan yang sesuai dengan kasus di atas?


Hemofilia
• Patogenesis: terjadi akibat defek pada Aktifitas
Klinis Perdarahan
secondary hemostasis akibat defisiensi FVIII/FIX
FVIII atau FIX Trauma
Ringan 5-25%
• X-linked resesif berat
• Klasifikasi Sedang 1-5%
Trauma
ringan
– Hemofilia A: ↓ FVIII (1:10.000)
Berat <1% Spontan
– Hemofilia B: ↓ FIX (1:30.000-
50.000)
Dasar diagnosis
•Anamnesis: delayed bleeding, soft tissue bleeding, epistaksis, hematuria
•PF:
•Neonatus: perdarahan umbilikus
•Anak: hemarthrosis
•TRM (+) bila terjadi perdarahan intrakranial
•PP: trombosit (N), BT (N), CT ↑, PT (N), APTT ↑, ↓FVIII/FIX, inhibitor FVIII/FIX
www.nhs.uk/conditions/haemophilia/Pages/Introduction.aspx
Dengan demikian, jawabannya adalah

E. BT normal, PT normal, aPTT ↑


114. B. Limfoma Hodgkin
• Laki-laki, usia 67 tahun
• Benjolan pada sisi leher kiri yang bertambah besar
sejak 2 bulan yll
• Benjolan tersebut terdapat pada daerah rahang
bawah, ukuran 3x2x2 cm, terfiksir, tidak terasa nyeri,
dan tidak teraba hangat pada perabaan.
• sel Reed-Sternberg

Diagnosis yang paling mungkin dari keadaan diatas


adalah?
Limfoma
• Limfoma adalah keganasan sistem
limfatik

• Limfoma digolongkan dalam jenis


Hodgkin jika terdapat sel abnormal
Reed-Sternberg (owl eye) . Limfoma
tanpa sel abnormal tersebut
termasuk dalam kategori limfoma
non-Hodgkin

• Keluhan utama :benjolan tanpa nyeri

• Predileksi : leher, ketiak, dan


selangkangan.
Tatalaksana Limfoma
• Kemoterapi
• Terapi radiasi
• Transplantasi stem sel
• Medikasi:
– Rituximab (tipe antibodi monoklonal yang
menempel pada sel B)
• Radioimunoterapi
– Ibritumomab
– Tositumomab
Pilihan lain
• Limfadenitis TB : gambaran datia Langhans,
kelim limfosit, nekrosis perkijuan
• Limfadenitis kronik nonspesifik : hiperplasia
folikel didominasi sebukan sel radang MN,
struktur kelenjar masih ada.
• Parotitis : ‘Gondongan” e.c Mumps virus
Dengan demikian, jawabannya adalah

B. Limfoma Hodgkin
115. A. Syok sepsis; resusitasi cairan,
vasoaktif dan antibiotik
• Demam tinggi sejak 1 hari yang lalu
• Sesak napas.
• TD 70/40mmHG, nadi 120x/menit, suhu
40oC, dan respirasi 34x/meni
• Leukosit 30.000/uL

• Diagnosis dan tatalaksana yang paling sesuai


adalah? Sepsis: SIRS + bukti infeksi
Sepsis
• SIRS (≥2 kriteria berikut)
– Temperature >38.5ºC or <35ºC
– Heart rate >90 beats/min
– Respiratory rate >20 breaths/min or PaCO2 <32
mmHg
– WBC >12,000 cells/mm3, <4000 cells/mm3, or
>10 percent immature (band) forms
• Sepsis: SIRS + bukti infeksi (kultur atau hasil
lab)
http://ajcc.aacnjournals.org/content/16/2/122/T1.expansion
http://www.survivingsepsis.org/sitecollectiondocuments/implement-pocketguide.pdf
Dengan demikian, jawabannya adalah

A. Syok sepsis; resusitasi cairan,


vasoaktif dan antibiotik
116 C. Organofosfat; sulfas atropin
Keywords
• Pingsan dan tampak berkeringat banyak
• Sekaleng cairan yang tanpa label
• Dari mulut keluar ludah berbuih
• GCS 3-4-5, pin point pupil, tensi 120/80 mm Hg,
N 80x/menit, t : 37 ºC, RR 22/menit.
• Baru mengalami putus cinta

Kemungkinan penyebab dan tatalaksana yang


sesuai adalah?
Organofosfat
Bekerja dengan menghambat
enzim asetilkolinesterase
Gejala Intoksikasi
• Antikolinergik
• Sedatif-hipnotik
– Contoh: antipsikotik,
antidepresan, antiparkinson – Contoh: antikonvulsan,
barbiturat, benzodiazepine,
– Gejala: pandangan kabur, penurunan
kesadaran, halusinasi, flushing, GABA, etanol
demam, kulit kering, ileus, retensi – Gejala: penurunan
urin, takikardia kesadaran, pandangan kabur,
• Kolinergik ataxia, parastesia, halusinasi,
– Contoh: organofosfat (obat nistagmus
nyamuk, obat hama)
– Gejala: bronkorea, bronkospasme,
• Simpatomimetik
salivasi, lakrimasi, urinasi, diare, – Contoh: amfetamin, kokain,
muntah metamfetamin, efedrin,
• Halusinogenik fenilpropanolamin
– Contoh: amfetamin, kokain, – Gejala: cemas, waham,
fensiklidin hiperrefleks, piloeereksi,
– Gejala: disorientasi, halusinasi, bising kejang
usus meningkat, panik, kejang
Tanda Intoksikasi (Toxidromes)
Tekanan Frekuensi Frekuensi Ukuran
Tanda Suhu Bising usus Keringat
darah nadi napas pupil

Antikolinergik ~ Naik ~ Naik Naik Turun Turn

Kolinergik ~ ~ ~ ~ Turun Turun Naik

Halusinogenik Naik Naik Naik ~ Naik Naik ~

Opioid Turun Turun Turun Turn Turun Turun Turun

Simpatomimetik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik

Sedatif-hipnotik Turun Turun Turun Turun ~ Turun Turun


Dengan demikian, jawabannya adalah

C. Organofosfat; sulfas atropine


117 B. Trichuris trichuria; albendazole
Keywords
• An. Ibil, 6 tahun
• Diare disertai dengan bagian menonjol pada
anus
• Perut terasa kembung
• Prolaps rekti
• Telur tempayan

Jenis cacing yang dimaksud dan obat yang paling


sesuai adalah?
Nematoda
Ascaris N.americanus/ A. Trichuris trichiuria
lumbricoides duodenale
Living site Small intestine Small intestine Large intestine
Diagnostic Egg Egg Unembryonated
egg
Infective Egg Larva filariform/ L3 Embryonated egg
Route Ingested Penetrate the skin Ingested
Treatment Albendazole Albendazole Albendazole
Mebendazole Mebendazole Mebendazole
Ivermectin Pirantel Pamoat Ivermectin
Trichuris trichiuria

http://emedicine.medscape.com/article/788570-overview
Gambaran Klinis Khas
Trichuris  prolaps rektum
Ascaris  Muntah dan BAB cacing
Enterobius  pruritus nokturna, autoinfeksi
Taenia  Kejang
Pilihan Lain
Enterobius vermicularis Taenia saginata
Dengan demikian, jawabannya adalah

B. Trichuris trichuria; albendazole


118. A. Cushing syndrome
Keywords
• Tn. Jatmiko, usia 45 tahun
• Peningkatan BB sejak 3 bulan terakhir
• Riwayat pengobatan dengan jamu-jamuan
secara rutin
• Wajah bulat, buffalo hump dan striae

Apakah diagnosis pada pasien?


Hiperkortisol
• Hiperkortisol: keadaan dimana kortisol dalam
darah terlalu tinggi
• Cushing syndrome: hiperkortisolism oleh sebab
apapun.
– Sentral : adenoma pituitari
– Perifer : adrenal hiperseksresi kortisol, ektopik
ACTH, konsumsi prednison/dexamethasone
berlebihan
• Cushing disease: hyperkortisolism sentral
(adenoma pituitari)
Sindrom Cushing
• Masalah psikologis
(depresi, disfungsi kognitif,
labilitas emosi)
• Hipertensi, DM
• Penyembuhan luka lama
• Retardasi pertumbuhan

Sumber: Adler GK. Cushing Syndrome. Available at:


http://emedicine.medscape.com/article/117365-overview
Pemeriksaan
• Pemeriksaan low-dose dexamethasone
suppression test:
– Supresi (+): bukan cushing sindrom
– Supresi (-): cushing sindrom (+)

• High-dose dexamethasone suppression test


(untuk tahu di sentral/perifer):
– Supresi (+): sentral (cushing disease)
– Supresi (-): perifer (ektopik ACTH, primary adrenal
tumor)
Sumber: emedicine/medscape
Dengan demikian, jawabannya adalah

A. Cushing syndrome
119. D. Injeksi adrenalin
Keywords
• Tiba-tiba sesak napas
• Suntikan antibiotik intravena
• Sangat gelisah
• TD 70/50 mmHg, nadi 130x/menit dan teraba
lemah, napas 36x/menit
• Stridor

Tatalaksana yang paling tepat adalah?


Syok
Kumpulan gejala akibat perfusi seluler tidak cukup  asupan O2
tidak cukup untuk metabolisme

• Syok distributif  total cairan tubuh tidak berkurang namun


volume intravaskular relatif tidak seimbang dengan kapasitas
vaskular misalnya pada anafilaksis, sepsis, dan neurogenik
• Syok kardiogenik  masalah pada: fungsi sistolik, diastolik,
preload (volume & tekanan yang dialami ventrikel pada fase
akhir pengisian), afterload (tahanan yg harus dilawan
ventrikel untuk pengosongan), atau irama
• Syok hipovolemik  kekurangan cairan absolut (diare,
muntah, perdarahan) atau ekstravasasi (syok dengue)
• Obstruksi aliran  emboli paru, tamponade, stenosis katup
Syok Anafilaktik
• Reaksi hipersensitivitas tipe I
(IgE)
• Terjadi sistemik di seluruh
tubuh
- Sistem sal. napas: hiperaktivitas
bronkus, edema laring
- Sistem KV: perubahan vaskuler,
vasodilatasi sistemik
- Sistem sal. cerna: mual, muntah,
diare
- Mata: angioedema, konjungtivitis
- Kulit : urtikaria, angioedema
http://science.unctv.org/content/peanut-solution-0
Dengan demikian, jawabannya adalah

D. Injeksi adrenalin
120. E. Idiopatic Trombositopenia
Purpura
Keywords
• An. Rafatar, usia 5 tahun
• Timbul bercak merah pada tubuh sejak 2 hari
yang lalu
• Riwayat demam disertai batuk pilek
• Petekie pada trunkus dan ekstremitas;
splenomegali (-)
• Kadar trombosit 15.000/uL
Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah?
ITP
• ITP akut sering mengikuti infeksi akut dan akan
mengalami resolusi spontan dalam dua bulan walau
pada 5-10% kasus menjadi kronik (>6 bulan).
• Pada 75% kasus terjadi sesudah vaksinasi atau infeksi
• PF:
– Nonpalpable petechiae
– Purpura
– Perdarahan
– Limpa tidak teraba
ITP
Pemeriksaan Lab:
• Trombositopenia
• Hitung leukosit dan hemoglobin biasanya normal
• Sumsum tulang: megakariosit normal atau meningkat.
• Uji koagulasi normal, bleeding time bertambah, PT dan
PTT normal.
• Tes u/ autoantibodi tidak tersedia secara luas 
Diagnosis ITP hanya dilakukan sesudah penyebab
defisiensi trombosit lainnya telah dieksklusi.
Terapi
• Transfusi trombosit konsentrat
– Pada dewasa diberikan pada pasien dengan
trombosit < 50000
• Steroid
• IVIg
• Splenektomi

http://emedicine.medscape.com/article/779545-medication
ITP
Pilihan lain
A. Von Willebrand Disease : kondisi medis yang ditandai dengan
memanjangnya waktu pembekuan darah atau perdarahan
berlebihan akibat kekurangan faktor von Willebrand
B. Anemia aplastik : kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel-
sel darah
C. DIC : suatu keadaan dimana bekuan-bekuan darah kecil tersebar di
seluruh aliran darah, menyebabkan penyumbatan pada pembuluh
darah kecil dan berkurangnya faktor pembekuan yang diperlukan
untuk mengendalikan perdarahan
D. Hemofilia: kelainan pada sistem pembekuan darah dan termasuk
penyakit genetik yang diturunkan melalui kromosom X. Karena itu,
ketika penderita hemofilia mengalami luka, pendarahannya akan
lebih lama dibandingkan pendarahan dialami anak normal
Dengan demikian, jawabannya adalah

E. Idiopatic Trombositopenia
Purpura
121. A. Hipoparatiroid
Keywords
• Kejang berulang
• Pasca operasi tiroidektomi beberapa hari yang
lalu

Kemungkinan penyebab terjadinya kejang pada


pasien tersebut adalah?
Hipoparatiroid
• Definisi : keadaan dimana
terjadi defisiensi hormon
PTH e.c gangguan pada
kelenjar paratiroid
• Etiologi :
1. Kelenjar paratiroid
terangkat saat
tiroidektomi
2. Paratiroidektomi
3. Diseksi radikal leher
4. Atrofi kelenjar paratiroid

http://emedicine.medscape.com/article/12220
7-overview
Hormon PTH
Pilihan lain
• B. Hiperkortisol : Cushing syndrome
• C. Hiperparatiroid : batu kalsium
• D. Hipotiroid : kretinisme, tidak kuat dingin
• E. Hipertiroid: Grave’s disease, tidak kuat
panas, BB turun
Dengan demikian, jawabannya adalah

A. Hipoparatiroid
122. A. C-peptide
Keywords
• An. Apes, usia 4 tahun
• Keluhan 3P
• Curiga diabetes mellitus tipe I

Pemeriksaan apakah yang sebaiknya dilakukan


oleh dokter untuk membedakan diagnosis DM tipe
I dengan DM tipe II?
• DM tipe I • DM tipe II
– ketidakmampuan tubuh – Resistensi insulin perifer
untuk menghasilkan insulin (defisiensi insulin relatif)
karena destruksi autoimun – Onset umumnya di atas 30
sel-sel beta pankreas. tahun
– paling sering terjadi pada – Jarang terjadi KAD
masa kanak-kanak, namun
dapat juga baru muncul
pada dewasa (30-40 tahun) • DM gestasional
– Onset gejala bisa tiba-tiba. – Hiperglikemia pertama kali
Tidak jarang pasien dengan terdiagnosis saat hamil
DM tipe 1 datang pertama
kali dalam keadaan
ketoasidosis diabetik (KAD)

Sumber: Khardori R. Diabetes Mellitus type 1. Available at:


http://emedicine.medscape.com/article/117739-overview
Diagnosis
• Klinis:
– Gejala klasik 3P
– Penurunan BB
– Pasien datang dengan KAD
• Penunjang
– GDS ≥ 200mg/dL
– GDP ≥ 126 mg/dL
– GD 2jPP ≥ 200 mg/dL
– C-peptide: melihat fungsi sel beta pankreas
• Dapat membedakan DM tipe I dan II
– HbA1c
– Glukosuria
– Autoantibodi (ICA, IAA)

PPM IDAI 2009


C-Peptida
• C-peptida : Rantai pendek asam amino yang
dihasilkan ketika proinsulin pecah untuk
membentuk dua molekul yaitu C-peptida dan
insulin. C-peptida diproduksi pada tingkat
yang sama dengan insulin sehingga berguna
sebagai penanda produksi insulin.
Menurun: Diabetes tipe 1
Meningkat: Diabetes tipe 2, insulin resisten,
insulinomas
Dengan demikian, jawabannya adalah

A. C-peptide
123. B. Anti thyroid peroxidase
Keywords
• Ny.Cantik, 55 tahun
• Keluhan mudah lelah dan badan terasa lemah
• Tidak tahan dingin. Sebelumnya pasien sempat memiliki
gejala yang berkebalikan dengan keadaan saat ini, seperti
tidak tahan panas, banyak berkeringat, dan berat badan
naik.
• Teraba pembesaran kelenjar tiroid difus, edema pretibial,
puffy face, dan rambut kering

Yang berperan pada kasus tersebut adalah?


Tiroiditis Hashimoto
• Awalnya bisa hipertiroid karena kerusakan tiroid akibat
inflamasi, namun kemudian hormon tiroid akan habis,
sehingga terjadi hipotiroid
• Antibodi yang berperan: anti-TPO (anti-tiroid peroksidase)
• Akibat feedback inhibition: TSH akan naik, memaksa
kelenjar tiroid mensekresi hormon tiroid, namun FT4 tetap
rendah, karena sudah terjadi kerusakan kelenjar
• Akibat feedback inhibition ke-2: TRH akan naik. TRH juga
menstimulasi prolaktin, sehingga terjadi
hiperprolaktinemia. Pada wanita: amenorrea. Pada laki-laki:
infertilitas dan ginekomastia
http://www.nature.com/nri/journal/v2/n3/images/nri750-f1.gif
Dengan demikian, jawabannya adalah

B. Anti thyroid peroxidase


124. C. Rapid test
Keywords
• Nn. Tita, 28 tahun
• Wanita tunasusila
• Diare yang tidak kunjung sembuh sejak 1 bulan yang
lalu
• Demam dan batuk sejak 2 bulan terakhir
• Pasien sudah pernah berobat namun gejala tidak
membaik

Pemeriksaan yang pertama kali perlu dilakukan pada


Nn.Tita adalah?
• Diagnosis mengarahkan pada infeksi HIV
– Pemeriksaan pertama kali: Rapid test
(uji cepat untuk mengetahui antibodi terhadap HIV)
 lebih superior dibanding ELISA u/ pemeriksaan
pertama karena lebih feasible di berbagai layanan
kesehatan
– Pemeriksaan CD4 dilakukan saat sudah terdiagnosis
HIV dan persiapan terapi ART untuk mengetahui
respons pengobatan dan gagal terapi
– Immunoassay merujuk pada prinsip umum
pemeriksaan yang menggunakan uji biokimia untuk
memeriksa keberadaan makromolekul dalam suatu
larutan melalui prinsip antibodi/Ig.
Contoh: ELISA, radioimmunoassay (RIA), RTqPCR, dll
Strategi diagnostik HIV oleh UNAIDS dan WHO 2001
Sumber: Guideline for Using HIV Testing WHO/UNAIDS

Indonesia menggunakan strategi III


• Bagan di samping kiri adalah
alur tes antibodi HIV
(Strategi III) yang dipakai
Kemenkes untuk standar
nasional
• Tes antibodi yang dipakai
sebanyak 3 kali tes untuk
diagnosis pasti (apablagi
sudah disertai gejala AIDS)
• Western Blot tidak
diwajibkan pada pedoman
nasional sebagai standar
diagnostik karena secara
teknis sulit dilakukan secara
rutin

Sumber: Pedoman Nasional


Tatalaksana HIV Kemenkes 2011
http://applications.emro.
who.int/aiecf/web28.pdf
Kalau pada soalnya mendiagnosis anak usia <18 bulan, diagnosisnya
hanya dari Viral Load HIV-RNA, tidak bisa diagnosis pakai antibodi HIV
karena dapat masih merupakan antibodi dari ibunya

Sumber: Pedoman Nasional


Tatalaksana HIV pada Anak
Kemenkes 2008
Dengan demikian, jawabannya adalah

C. Rapid test
125. D. Methotrexate
• Keywords
• Ny. Liliana Natsir, usia 44 tahun
• Keluhan nyeri sendi
• Kaku-kaku terutama pada bangun tidur malam
• MT 20 kg/m2 dan tanda vital normal. Dari
pemeriksaan fisik sendi bahu dan siku terdapat nyeri
sendi MCP dan IP proximal, nyeri tekan serta hangat
pada kedua ibu jari dan sendi pergelangan tangan.
• Pemeriksaan penunjang LED meningkat

Terapi definitif apa yang dapat diberikan pada pasien ini



Rheumatoid Artritis
Kriteria diagnostik :
- Kaku pagi hari 1 jam
- Poliartritis (> 3 sendi)
- Artritis pada sendi tangan
- Artritis simetris
- Nodul rheumatoid
- Rheumatoid faktor (+)
- Gamb. radiologi  kerusakan kartilago o/ panus
KRITERIA 1-4 minimal 6 minggu.

Sumber:http://www.medicinenet.com/rheumatoid_arthritis/article.htm
Rheumatoid Arthritis
• Terapi awal: NSAID (misal Na d-iklofenak)
• Terapi untuk mencegah progresi penyakit :
DMARD (misal metotrexate)
Dengan demikian, jawabannya adalah

D. Methotrexate
126. C. Eritroderma
Keywords
• Tn.Nyoman, 67 tahun, kulit bersisik pada seluruh
badan dan kepala
• kemerahan dan dirasakan sangat gatal
• Keluhan serupa dirasakan 2 tahun yang lalu
• Pasien memiliki riwayat sakit ginjal
• UKK: makula eritem, difusa dengan skuama halus
pada region generalisata

• Apakah diagnosis pasien ini?


Eritroderma
• Eritroderma: kelainan kulit yang ditandai
dengan adanya eritema di seluruh tubuh atau
hampir seluruh tubuh, biasanya disertai
skuama
• Penyebab yang umum adalah faktor-faktor
genetik, akibat pengobatan dengan
medikamentosa tertentu, perluasan penyakit
kulit, penyakit sistemik termasuk keganasan.
• Terapi: kortikosteroid

Buku Kulit dan Kelamin FKUI


Pilihan lain
• Erupsi obat : kemerahan pada kulit, riwayat
konsumsi obat sebelum muncul keluhan
• Morbili: bercak merah ditubuh, awalnya dari
belakang telinga, demam, ditemukan bercak
koplik
• Psoriasis: eritema disertai skuama putih
berlapis-lapis seperti mika, hilang timbul
• Dermatitis seboroid: eritema dengan skuama
yang berminyak dan agak kekuningan

Buku Kulit dan Kelamin FKUI


• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

C. Eritroderma
127. B. VZV
Keywords
• Anak Haikal, 5 tahun, bintil berisi air melepuh di
seluruh tubuh sejak 2 hari
• Demam
• kulit tampak lesi polimorfik, vesikel di atas kulit
yang eritematous tersebar generalisata

• Apakah etiologi yang tepat pada kasus di atas?


Pilihan lain
• Herpes zoster (cacar ular)
– Etiologi: Varicella zoster virus (VZV)
– Vesikel berkelompok dengan dasar kulit eritematosa dan edema.
Lokalisasi unilateral dan dermatomal. Sangat nyeri.
– Dx: tes Tzanck  ditemukan sel datia berinti banyak
– Obat antiviral untuk herpes zoster oftalmikus dan pasien
imunodefisiensi: asiklovir 5x800 mg (7 hari) atau valasiklovir
3x1000 mg (1 hari)
• Varisela (cacar air, chicken pox)
• Etiologi: varicella zoster virus (VZV)
– Demam diikuti papul, vesikel tear drops, eritematosa. Penyebaran
di badan kemudian menyebar ke muka dan ekstremitas
(sentrifugal). Terasa gatal.
– Dx: tes Tzanck  ditemukan sel datia berinti banyak
– Tx: simptomatik
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
• Variola (cacar, small pox)
– Demam tinggi  makula dan papul, suhu turun  vesikel dan
pustul, suhu naik  krusta-krusta, suhu turun
– Keadaan umum pasien buruk, efloresensi bersifat monomorfik
dan terdapat di perifer
– Tx: karantina, antiviral
– Etiologi: variola – saat ini penyakit sudah “punah”
• Herpes simpleks
• Etiologi: HSV (herpes simplex virus)
– Vesikel berkelompok di atas kulit yang eritematosa. Lokalisasi di
sekitar mulut dan hidung atau pada genitalia eksterna.
– Dx: tes Tzanck  sel datia berinti banyak dan badan inklusi
intranuklear
– Tx: asiklovir 5x200 mg (5 hari)
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
Diagnosis banding varicella
• Rubeola (campak) 3C (cough, coryza,
conjuntivitis), bercak koplik
• Rubella  demam 3 hari, bercak kemerahan,
pembesaran KGB retroaurikuler
• HFMD  lesi pada mulut (sariawan), telapak
tangan dan kaki awalnya eritema kemudian
menjadi vesikel / bula. Umumnya menerang
kelompok
• Roseola (eksantema subitum)  demam
menghilang, muncul bercak
• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien adalah

A. Varicella
128. C. Stratum korneum
Keywords
• Anak Imam, 10 tahun
• koreng di sekitar mulut dan hidung sejak 3 hari lalu.
• lesi eritem lentikuler dengan krusta 'honey colored'
dan bersifat 'stuck on crust’
• Anak tidak demam, keadaan umum baik.

• Diagnosis: impetigo krustosa


• Di lapisan kulit manakah letak kelainan pada infeksi
tersebut ?
Impetigo krustosa
• Penyebab: Streptococcus
B hemolyticus
• Predileksi: muka, sekitar
lubang hidung dan mulut
• Eritema, vesikel, krusta
tebal berwarna kuning
seperti madu. Jika
dilepaskan, tampak erosi
dibawahnya.
• Diagnosis banding: ektima
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
• Berdasarkan pembahasan diatas, lapisan kulit
yang mengalami kelainan pada impetigo
krustosa adalah

C. Stratum korneum
129. B. Permetrin
Keywords
• Ny.Desi, 28 tahun, hamil 16 minggu, bersama
bayinya berusia 8 bulan berobat ke puskesmas
• gatal pada seluruh tubuh, lengan dan tangan
• didiagnosis skabies

• Pengobatan apa yang paling aman untuk


kedua pasien tersebut ?
Skabies
• Gudik, budukan, gatal agogo
• Infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei
• Gejala klinis  2 dari 4 tanda kardinal:
– Pruritus nocturna
– Menyerang kelompok
– Ditemukan terowongan
– Ditemukan tungau
• Pemeriksaan penunjang:
– Congkel papul di ujung terowongan  taruh di kaca objek
 lihat dengan mikroskop
– Menyikat kulit  tamping di kertas putih  lihat dengan kaca pembesar
– Biopsi irisan  lihat dengan mikroskop
– Biopsi eksisional  periksa dengan pewarnaan HE

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


Tatalaksana Skabies
– Sulfur presipitatum 10%: dioleskan 3x24 jam; tidak efektif
untuk stadium telur sehingga harus digunakan >3 hari
– Emulsi benzil benzoas 20%: efektif untuk semua stadium,
diberikan malam hari selama 3 hari; sulit ditemukan
– Gameksan 1%: efektif untuk semua stadium, dihindari
untuk anak <6 tahun dan wanita hamil, efek neurotoksik
dan teratogenik
– Permetrin 5% (dapat membunuh seluruh stadium
tungau), dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam
kemudian dicuci bersih. Bila belum sembuh, diulang 1
minggu kemudian. Kontraindikasi: anak kurang dr 2 bulan
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
Edukasi
• Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
• Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya
dilakukan pada malam hari sebelum tidur.
• Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
• Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci
dengan teratur dan bila perlu direndam dengan air panas
• Jangan ulangi penggunaan skabisd yang berlebihan dalam
seminggu walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul
selama beberapa hari.
• Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan
pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Berdasarkan pembahasan diatas, terapi yang
aman untuk skabies pada ibu hamil dan bayi 8
bulan adalah

B. Permetrin
130. E. Staphylococcal scalded skin
syndrome
• Bayi Lolita, 3 bulan
• Keluhan kulit mengelupas di hampir seluruh
tubuh sejak 2 hari
• Sebelumnya demam (suhu 39 C)
• Pemeriksaan dermatologi : bula kendur, skuama
dan erosi, serta kulit tampak mengelupas di
hampir seluruh tubuh

• Apakah diagnosis yang paling mungkin untuk


kasus tersebut?
Staphylococcal scalded skin syndrome
• Infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus
• Terutama pada anak dibawah 5 tahun
• Gejala klinis: demam yang tinggi, disertai
infeksi saluran napas.
• Kelainan yang pertama timbul adalah eritema,
kemudian muncul bula besar berdinding
kendur bila ditekan dan digeser kan terkelupas
(tanda Nikolsky positif).
• Komplikasi: selulitis, pneumonia, septikemia.
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
SSJ dan TENS
• Sindrom Stevens- • Beda SSJ dengan TEN (Toxic Epidermal Necrolysis)
Johnson merupakan – SSJ: epidermolisis (-)
sindrom yang mengenai – TEN: epidermolisis (+)
kulit, mukosa di
orifisium, dan mata, • Tatalaksana
biasanya akibat reaksi – Resusitasi cairan
hipersensitivitas – perawatan luka
dengan obat tertentu – dexametason 4-6x5mg iv
• Efloresensi: makula – siprofloksasin 2x400 mg iv
eritema yang dengan – diet tinggi protein rendah garam
cepat menjadi vesikel
dan bula, lalu pecah – bila belum membaik dalam 2 hari dapat
dan melepuh diberikan transfusi darah sebanyak 300cc
selama 2 hari berturut-turut untuk
imunorestorasi
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
Impetigo bulosa
• Pioderma yang disebabkan oleh
Staphylococcus aureus
• Ruam pada impetigo bulosa
berupa eritema, bula
superfisial, dan bula hipopion
• lebih sering disertai gejala
sistemik seperti demam atau
malaise
• Tatalaksana: antibiotic topical
atau cairan antiseptic. Bila
banyak diberi AB sistemik

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


Pemphigus Vulgaris

– Diagnosis: Pemphigus Vulgaris


– Autoimun, penyakit lepuh yang mengenai kulit dan
mukosa
– Biasanya diawali dengan lesi pada mukosa oral
yang persisten; hampir pada semua pasien PV
– Lesi primernya adalah bula dengan dinding kendur
yang rapuh dan mudah pecah dan menghasilkan
erosi yang nyeri

Sumber : emedicine pemphigus vulgaris


• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

E. Staphylococcal scalded skin syndrome


131. E. Acyclovir 5x800mg
132. D. Neuralgia (post-herpetic neuralgia)
Keywords
• Tn. Rahmawan, 45 tahun
• Muncul gelembung-gelembung kecil berisi cairan di sekitar dada kiri
sejak 2 hari
• Gejala pilek dan demam 5 hari yll
• Keluhan disertai dengan rasa panas dan nyeri
• Pemeriksaan dermatologi: vesikel-vesikel dengan dasar eritem di
sepanjang dada kiri

• Diagnosis: herpes zooster


• Apa terapi yang paling tepat diberikan?
• Apa komplikasi tersering dari keluhan pasien untuk kasus di atas?
Herpes Zoster
• Infeksi virus varicela zoster yang
menyerang kulit dan mukosa
• Reaktivasi virus yang terjadi
setelah penderita mendapat
varisela
• Sebelum timbul gejala kulit,
timbul gejala prodormal.
• Lokasi unilateral dan dermatomal
• Penunjang: Tzanck test  sel datia berinti banyak
• Tatalaksana: asiklovir 5 x 800 mg selama 7 hari atau valasiklovir
3x1000 mg
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
Neuralgia post herpetik
• Virus Varicella Zoster
Virus Kerusakan saraf
postherpetik neuralgia
• Tatalaksana:
– Anti depresan trisiklik
(amitriptilin)
– Anti-konvulsan (gabapentin)
– Analgesik (capsaicin topikal)
– Kortikosteroid (prednison,
dexamethason)
– Antiviral

Sumber: emedicine neuralgia postherpetic


• Berdasarkan pembahasan diatas, terapi yang
tepat untuk pasien ini adalah

E. Acyclovir 5x800mg

• Komplikasi tersering dari herpes zooster


adalah

D. Neuralgia
133. B. Hemophilus ducreyi
Keywords
• Tn. Robert, 37 tahun
• nyeri pada kemaluan
• 1 minggu yang lalu berhubungan dengan PSK
• Didapatkan ulkus dengan dasar kotor

• Apa mikroorganisme penyebab keluhan


tersebut?
Ulkus Mole
• Penyebab : Haemophilus ducreyi
• Penularan : kontak seksual
• Masa inkubasi : 1-14 hari
• Lesi daerah genital multipel (papul vesiko-pustul  ulkus)
– luka pada genital, demam, malese
– ulkus kecil, lunak, tidak ada indurasi, berbentuk cawan,
pingggir tidak rata, bergaung, dikelilingi halo eritema,
sering tertutup jaringan nekrotik, mudah berdarah, nyeri

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Pemeriksaan penunjang
– Pewarnaan gram akan ditemukan basil berkelompok atau
membentuk rantai
• Terapi (pilih salah satu)
– Kotrimoksazol 2x960 mg selama 10 hari
– Tetrasiklin 4x500mg/hari selama 10-20 hari
– Eritromisin 4x500mg selama 1 minggu
– Ofloksasin 400mg dosis tunggal
– Streptomisin 1gr IM selama 7-14 hari
– Kanamisin 2x500mg IM 6-14 hari
• Berdasarkan pembahasan diatas,
mikroorganisme penyebab ulkus mole adalah

B. Hemophilus ducreyi
134. D. Bedak salisil, PCT, cetirizin
Keywords
• An. Rudi, 8 tahun
• 4 hari demam, di hari ke 3 muncul bintil- bintil dari wajah
ke seluruh tubuh
• Riwayat serupa pada adik pasien
• Dari pemeriksaan di dapatkan makula, papul, vesikel, krusta
berkumpul dan multiformis
• Pola persebaran lesi sentrifugal

• Diagnosis: varicella
• Tatalaksana apa yang paling tepat?
• Simtomatik : Bedak salisil dan cetirizine  gatal
PCT  demam
• Varisela (cacar air)
– Demam diikuti papul,
vesikel tear drops,
eritematosa.
Penyebaran di badan
kemudian menyebar ke
muka dan ekstremitas
(sentrifugal). Terasa
gatal.
– Dx: tes Tzanck 
ditemukan sel datia
berinti banyak
– Tx: simptomatik
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
• Berdasarkan pembahasan diatas, terapi yang
tepat adalah

D. bedak salisil, PCT, cetirizin


135. A. Tinea kruris
Keywords
• Tn. Alex, 33 tahun
• bercak merah gatal di selangkangan yang meluas
sejak 3 bulan lalu
• Pada pemeriksaan di regio inguinal bilateral
ditemukan plak eritematosa batas tegas dengan
skuama kasar bentuk poliskiklik dengan bagian
tengah hiperpigmentasi

• Apa diagnosis yang mungkin untuk kasus ini?


• Lesi perifer lebih aktif = central
healing.
• Penunjang : KOH dari kerokan
kulit
• Gambaran KOH : hifa panjang
• Gambaran lampu wood : hijau
kekuningan.

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Lesi satelit (korimbiformis / hen
and chicken) pada pasien
dengan faktor risiko di atas,
perlu dicurigai sebagai
kandidiasis kutis.
• Penunjang : pemeriksaan KOH
dari kerokan kulit yg
mengandung lesi aktif.

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Makula hipopigmentasi yang gatal perlu
dicurigai sebagai tinea versicolor
• Penunjang : gambaran meatball and spageti
pada pemeriksaan KOH
• Gambaran lampu wood : keemasan
• Tatalaksana topikal : selenium sulfida,
klotrimazol

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

A. Tinea kruris
136. E. VDRL dan TPHA
Keywords
• Nn. Wati, 20 tahun
• keluhan muncul sebuah luka di daerah
kelamin dengan dasar bersih
• Riwayat promiskuitas (+)

• Apa pemeriksaan penunjang yang dapat


disarankan bagi pasien?
Sifilis
• Penyebab : Treponema pallidum
• Penularan : kontak seksual, infeksi jalan lahir
• Sifilis primer (S1) ulkus durum (bulat, soliter,
dasarnya jaringan granulasi kemerahan, bersih, tidak
bergaung, berindurasi). Pada pria di sulkus koronarius,
pada wanita di labia minor dan mayor
• sembuh sendiri sekitar 3-10 minggu
• Sifilis sekunder (S2)
– anoreksia, penurunan berat badan, malaise, nyeri kepala,
demam yang tidak tinggi, arthralgia. Kelainan kulit tidak
spesifik dan umumnya tidak gatal. Dapat terjadi kelainan
pada KGB, mukosa, mata, hepar, tulang, dan saraf.
– Kelainan kulit menyerupai berbagai penyakit (the great
imitator: roseola, papul, pustul, dll).

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Sifilis lanjut • Pemeriksaan penunjang
– Sifilis tersier (S3) – Pemeriksaan T. pallidum:
• Lesi pertama muncul berwarna putih pada
setalah 3-10 tahun S1 latar gelap di bawah
• kelainan kulit seluruh mikroskop
tubuh, nyeri pada tulang, – Tes serologik sifilis
gangguan gastrointestinal
• (non-treponema) 
• guma soliter atau VDRL (nonspesifik)
multipel (infiltrat
• treponemal  TPHA
sirkumskripkronis,
(spesifik), FTA abs
biasany melunak, dan
destruktif).

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Berdasarkan pembahasan diatas, pemeriksaan
penunjang yang dapat disarankan bagi pasien
adalah

E. VDRL dan TPHA


137. E. Neurodermatitis sirkumkripta
Keywords
• Nn. Aprilia, 23 tahun
• keluhan ruam kulit di tengkuk dan punggung kaki
• Lesi kulit biasanya muncul saat mau ujian  stres
• Lesi kulit berbentuk plakat, eritem, bersisik,
dengan tepi menebal, tampak relief kulit

• Kemungkinan diagnosis pada pasien ini?


Neurodermatitis =
Liken simpleks kronik
• Predileksi : tengkuk,
punggung kaki, tungkai
bawah
• Gatal terutama saat tidak
sibuk
• Plak eritematosa +
likenifikasi
• Tatalaksana :
- Antihistamin
- Steroid potensi tinggi dalam
bentuk salep maupun
suntikan intralesi.
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

E. Neurodermatitis
sirkumkripta
138. A. histopatologi
Keywords
• Tn. Mahmud, 48 tahun
• bercak kemerahan di siku sedikit gatal dengan
sisik berlapis-lapis
• Bila sisik tersebut dikerok, tampak bintik-bintik
perdarahan papilomatosis

• Diagnosis: psoriasis
• Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan
untuk kasus ini?
Psoriasis
• Disebabkan oleh autoimun, kronik – residif
• Bercak-bercak eritema berbatas tegas, dengan skuama kasar berlapis-lapis
dan transparan, gatal ringan, piting nail, kelainan sendi
• 3 tanda:
– Fenomena tetesan lilin (khas) Skuama berubah jadi putih dengan
goresan
– Fenomena auspitz (khas) Bila skuama dikerok maka akan
memperlihatkan gambaran bintik-bintik perdarahan
– Fenomena kobner trauma pada lokasi tubuh lain dapat
menimbulkan kelainan sama

• PENUNJANG : BIOPSI histopatologi  gambaran hiperkeratosis dan


papilomatosis
• (meskipun secara klinis diagnosis bisa ditegakkan)
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI
• Terapi Psoriasis
– Sistemik, pilihan obat:
• Kortikosteroid (prednisone 30 mg per hari)
• Metotreksat
• DDS
• Etretinat 1 mg/KgBB (dapat ditingkatkan)
– Topikal
• Preparat ter
• Kortikosteroid
• Dtranol
• Emolien
• Berdasarkan pembahasan diatas, pemeriksaan
penunjang yang diperlukan adalah

A. histopatologi
139. D. Impetigo krustosa
Keywords
• Anak Kenji, 2,5 tahun
• keluhan timbul koreng sejak 3 hari yang lalu,
awalnya berbentuk lenting berisi air
• Tidak ada panas dan nyeri
• Pada pemeriksaan fisik tampak adanya erosi
dengan krusta tebal di atasnya berwarna kuning
madu

• Apakah diagnosis paling tepat?


Impetigo Krustosa
• suatu penyakit infeksi kulit yang
disebabkan oleh infeksi S.β-
hemolitikus
• Anamnesis: keropeng di daerah
mulut dan hidung
• PF: krusta madu dikelilingi makula
eritematosa
• Terapi: antibiotik topical
• Antibiotik sistemik diberikan bila
lesi banyak
• Terapi: antibiotik topikal misal:
Salep neomisin

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


Impetigo bulosa

• Penyebab : S. aureus
• bula hipopion
• Bula pecah menyisakan
skuama melingkar (koleret)
• Tatalaksana : bula
dipecahkan + antibiotik

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


Ektima
• Predileksi : ekstremitas
• Ulkus dangkal multipel
punch out, tertutup krusta
• Terapi: wound
toilet+antibiotik

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI


• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

D. Impetigo krustosa
140. D. Bedak salisil, cetirizin
Keywords
• An.Aulia, 4 tahun
• kulit di dadanya bruntusan dan terasa gatal
• jarang mengganti pakaian
• didapatkan vesikel kecil, milier, ukuran 1-2 mm pada
area dada yang tertutup pakaian

• Diagnosis: miliaria
• Tatalaksana yang tepat pada pasien adalah
• Simtomatik, pakaian menyerap keringat
• Bedak salisil (+ mentol), cetirizin  mengurangi gatal
Miliaria Kristalina  di stratum korneum

• Lesi vesikel bergerombol ukuran 1-2mm. Tanda radang (-)


• Tempat predileksi: terutama tempat tertutup pakaian
• Muncul terutama saat setelah banyak berkeringat
• Umumnya keluhan (-), sembuh dengan sisik yang halus

Miliaria crystallina. Note the


water-drop appearance of the
lesions. Courtesy of K.E. Greer,
MD.
Miliaria Rubra  di epidermis

– Lebih berat dari miliaria kristalina


– Terdapat di badan yang sering terkena tekanan/ gesekan
– Lesi papul merah atau papul vesikular ekstrafolikular
– Terasa sangat gatal dan pedih

Miliaria rubra in an adult. Courtesy of K.E. Greer, MD.


• Berdasarkan pembahasan diatas, tatalaksana
pada pasien ini adalah

D. Bedak salisil, cetirizin


141. A. Fraktur mandibula
Keywords
• Tn.Bagaskara, 20 tahun
• setelah KLL
• rahang bawah bengkak dan tidak dapat membuka
mulut
• kesan rahang bawah unstable dan maloklusi

• Kemungkinan kelainan pada pasien ini adalah?


Fraktur mandibula
• Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yg menyebabkan
maloklusi atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang
atas
• Pergerakan rahang yang abnormal
• Rasa sakit pada saat rahang digerakkan
• Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan
lokasi fraktur
• Krepitasi
• Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan
daerah sekitar fraktur.
• Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan
pembukaan mulut
• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

A. Fraktur mandibula
142. E. Korteks tipis dan sumsum
tulang luas
Keywords
• Ny.Sutiyem, 68 tahun
• sudah menopouse sejak 10 tahun yang lalu
• Pasien tergelicir di kamar mandi dan didapatkan
dari hasil rontgen adanya fraktur kaput femoris

• Diagnosis: osteoporosis
• Gambaran foto rontgen yang lain adalah
Osteoporosis
• Pada osteoporosis, kepadatan tulang mulai menurun.
• Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis
adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang
lebih lusen.
• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

E. Korteks tipis dan sumsum


tulang luas
143. E.Radiologi survey tulang dan
pengukuran densitas tulang
Keywords
• Tn.Paino, 77 tahun
• keluhan tubuhnya semakin pendek
• PF: tinggi badan berkurang dan miring ke kiri
• riwayat fraktur pada lengannya karena terbentur
tembok yang tidak terlalu keras

• Pemeriksaan yang tepat dan kemungkinan hasil


yang akan didapat adalah
Osteoporosis

• Penurunan kekuatan dan kepadatan tulang.


• Faktor risiko : perempuan postmenopause
yang kurang aktif.
• Sering asimtomatik. Gejala tersering : fraktur
panggul, fraktur kompresi vertebra, fraktur
radius distal.
• Penunjang : bone densitometri (DEXA)
• Berdasarkan pembahasan diatas, pemeriksaan
penunjang yang diperlukan adalah

E. Radiologi survey tulang dan


pengukuran densitas tulang
144. B. Osteoartritis
Keywords
• Ny.Sri Rahayu, 76 tahun
• Nyeri pada lutut sebelah kiri yang dirasakan hilang timbul
sejak 6 bulan terakhir
• Keluhan memberat ketika berjalan dengan menaiki tangga
• Pemeriksaan vital genue sinistra didapatkan bengkak,
kemerahan, dan nyeri tekan
• Foto Rontgen genue sinistra didapatkan celah sendi
menyempit dan didapatkan osteofit

• Diagnosis penyakit tersebut adalah


Osteoartritis
Gejala:
• nyeri pada sendi, terutama sendi yang
menyangga berat tubuh (seperti sendi lutut
atau pinggang).
• timbul rasa kaku di sendi pada pagi hari
sesudah bangun tidur, berlangsung kurang
dari 30 menit
• Bila digerakkan bisa terdengar krepitus
• Gerak sendi terbatas karena nyeri

Faktor risiko
• Usia tua, riwayat keluarga dengan OA, berat
badan berlebih
• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

B. Osteoartritis
145. B. RF
Keywords
• Ny.Musdalifah, 40 tahun, nyeri pada persendian,
saat pagi hari bangun tidur terasa kaku
• terdapat nyeri dan pembengkakan pada
metacarpofalangeal dan interfalang proximal
serta kedua ibu jari dan pergelangan tangan
bengkak

• Kemungkinan diagnosis: reumatoid artritis


• Konfirmasi dengan… RF
Rheumatoid Artritis
• Kriteria diagnostik :
- Kaku pagi hari 1 jam
- Poliartritis (> 3 sendi)
- Artritis pada sendi tangan
- Artritis simetris
- Nodul rheumatoid
- Rheumatoid faktor (+)
- Gambaran radiologi  kerusakan kartilage oleh panus

KRITERIA 1-4 minimal 6 minggu.


Diagnosis Banding
OA RA Gout
Awitan Perlahan Perlahan Akut
Peradangan - + +
Patologi Degenerasi Pannus Tofus
Jumlah sendi Poli Poli Mono, kdg2 poli
Tipe sendi Kecil atau besar Kecil Kecil atau besar
Lokasi Pinggang, lutut, MCP, PIP, pergelangan MTP, kaki,
vertebra, CMC 1, DIP, tangan, kaki, pergelangan kaki, lutut
PIP pergelangan kaki

Temuan sendi khusus Nodus Bouchard, Deviasi ulnar, swan Kristal urat
nodus Heberden neck, boutonniere
Perubahan tulang Osteofit Osteopenia, erosi Erosi
Fitur ekstra-artikular Nodul SC, pulmonal, Tofus, bursitis
kardiak, splenomegali olecranon, batu ginjal

Lab Normal RF (+) Asam urat ↑


Tatalaksana RA, OA dan Gout
TATA LAKSANA Gout
Artritis rematoid •Akut: NSAID atau kolkisin. Kalau
•Inisial: NSAID dan/atau tidak berhasil, berikan kortikosteroid.
glukokortikoid – Pada keadaaan akut tidak boleh
diberikan alopurinol karena dapat
•DMARD diberikan dalam tiga bulan menyebabkan eksaserbasi
bila peradangan terus menerus •Kronik:
– Diet rendah purin
Osteoartritis – Hindari dehidrasi
NSAID atau tramadol – Profilaksis: kolkisin dosis rendah
– Antihiperurisemia (harus bersama
profilaksis dan min. 1 bulan setelah
serangan terakhir): allopurinol atau
probenecid
• Berdasarkan pembahasan diatas, pemeriksaan
penunjang yang tepat adalah…

B. RF (Rheumatoid Factor)
146. B. Menghambat xanthin oksidase
Keywords
• Tn.Supomo, 47 tahun
• bengkak pada ibu jari kaki kanan sejak 1 minggu lalu
• PF: bengkak di MTP 1 hiperemi
• sendi tidak terasa sakit
• Dokter di puskesmas memberikan obat allopurinol
kepada pasien

• Diagnosis: artritis gout
• Bagaimana mekanisme kerja obat tersebut?
• Berdasarkan pembahasan diatas, mekanisme
allopurinol adalah

B. Menghambat xanthin oksidase


147. C. Artritis reumatoid
Keywords
• Ny.Grace, 44 tahun
• mengeluh nyeri pada sendi-sendi.
• Pemeriksaan bahu dan siku didapatkan nyeri
tekan, pada metacarpophalang dan interdigiti
proksimal nyeri tekan dan panas
• LED meningkat
• Gambaran tangan seperti leher angsa

• Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah


Rheumatoid Artritis
• Kriteria diagnostik :
- Kaku pagi hari 1 jam
- Poliartritis (> 3 sendi)
- Artritis pada sendi tangan
- Artritis simetris
- Nodul rheumatoid
- Rheumatoid faktor (+)
- Gambaran radiologi  kerusakan kartilage oleh panus

KRITERIA 1-4 minimal 6 minggu.


• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

C. Artritis reumatoid
148. A. Jaw Thrust
Keywords
• Tn.Ahmad, 38 tahun
• tidak sadarkan diri setelah kecelakaan motor 30
menit lalu
• Pasien terdengar mengorok
• TTV: TD:130/70 RR: 35 x/m N: 62x/m ada jejas
di kepala dan leher

• Untuk bebaskan jalan napas, yang dilakukan


adalah
Pasien dengan kecurigaan cedera leher/cedera spinal,
pembebasan jalan napas menggunakan teknik jaw thrust
• Berdasarkan pembahasan diatas, yang
dilakukan untuk membebaskan jalan napas
adalah

A. Jaw Thrust
149. A. Fraktur tulang rusuk
Keywords
• Ny.Kusmini, 51 tahun mengalami kecelakaan
motor 1 jam yang lalu
• Dada terkena stang motor
• Pasien mengeluh nyeri pada dada saat menarik
nafas
• TTV normal
• Perkusi dan auskultasi paru dalam batas normal

• Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah?


Gejala frakur tulang rusuk:
• Nyeri di tulang rusuk atau dada bagian atas;
• Nyeri saat batuk;
• Pembengkakan dan memar di daerah fraktur;
• Nyeri daerah fraktur;
• Perdarahan di dalam;
• Nyeri saat bernapas.

• Apabila, terjadi fraktur iga multiple dapat


menyebabkan flail chest yang ditandai dengan ”napas
paradoksal”
• Berdasarkan pembahasan diatas, diagnosis
pasien ini adalah

A. Fraktur tulang rusuk


150. A. Fraktur femur distal
Keywords
• Tn.Pardi, 52 tahun
• nyeri pada lutut kiri setelah tertabrak mobil 2 jam
lalu
• Didapatkan krepitasi (+) pada femur sinistra
distal. Edem (+), hiperemi (+)
• Nadi distal tidak teraba
• Kedua panjang kaki tidak simetris

• Apa diagnosis pasien tersebut?


• krepitasi (+) pada femur sinistra distal. Edem
(+), hiperemi (+), panjang kedua kaki tidak
simetris  fraktur femur distal
• Diagnosis pasien ini adalah

A. Fraktur femur distal


151. A. Atonia uteri
Keywords:
• P1A0 postpartum 10 jam
• Pemanjangan kala I fase aktif
• PF: TD 90/60
• Bayi dan plasenta lahir lengkap
• Tidak ada robekan jalan lahir
Kemungkinan? Atonia uteri
Perdarahan Post Partum

Atonia
uteri
Robekan jalan
lahir
Retensio
placenta

Sisa
Placenta
Inversio
uteri
Ruptur
uteri
Sumber : Paket Pelatihan PONED (Depkes RI) 2008
Atonia Uteri
• Penyebab tersering perdarahan pascasalin
(50%)
• Faktor risiko
– Persalinan cepat
– Korioamnionitis
– Obat-obatan (MgSO4, agonis β-adrenergik, uterus
yang sangat besar)
• Tanda: uterus lembek di atas umbiikus

Kaplan Medical USMLE Step 2


Tatalaksana
• Berikan 20-40 IU oksitosin dlm 1000 ml NaCl
0,9%/ RL kecepatan 60 tpm dan 10 IU IM  infus
20 IU oksitosin dalam 1000 ml NaCl 0,9%
kecepatan 40 tpm hingga perdarahan berhenti
• Tidak ada oksitosin  ergometrin 0,2 mg IM/IV
maks 1 mg
• Perdarahan berlanjut  1 g asam transeksamat
IV
• Pasang kondom kateter/ kompresi bimanual
interna 5 menit  siapkan ruang operasi

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Pilihan Jawaban Lain
B. Retensio plasenta: perdarahan karena
plasenta tidak keluar/ keluar namun tidak
lengkap  cek kotiledon
C. Plasenta previa: perdarahan pada kehamilan
tua, darah warna merah segar
D. Solusio plasenta: perdarahan pada kehamilan
tua dengan darah merah hitam, perut tegang
E. Laserasi jalan lahir: terlihat ada robekan pada
vagina saat eksplorasi
152. A. Asam folat
Keywords:
• Wanita G2P1A0 u.k 8 minggu
• Riwayat melahirkan anencephalus
Suplementasi? Asam folat

Asam folat 400 µg 1x/hari  ideal diberikan 2 bulan


sebelum hamil
Asam folat u/ mencegah neural tube defect
Riwayat NTD  asam folat ditingkatkan menjadi 4
mg 1x/hari
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
153. B. Memberi sulfas ferosus dan vit
C
Keywords:
• G2P1A0 hamil 8 bulan
• Pusing dan mual
• Hb 10 g/dL
Tindakan yang sebaiknya diberikan? Memberi
sulfas ferosus dan vitamin C
Anemia
• Kadar Hb <11 g/dL pada trimester pertama
dan ketiga, Hb<10,5 g/dL pada trimester
kedua
• Etiologi:
– Diet rendah zat besi, B12, asam folat
– Kelainan GI
– Penyakit kronis
– Riwayat keluarga

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Anemia
• Anemia mikrositik hipokrom
– ADB: feritin<15 ng//mL  terapi besi dosis setara
180 mg/hari
– Thalasemia
• Anemia normositik normokrom
– Perdarahan
– Infeksi kronik
• Anemia makrositik
– Defisiensi asam folat dan vit B12

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Tatalaksana Anemia
• Tidak ada pemeriksaan apus darah tepi 
suplementasi besi (60 mg besi elemental) dan
asam folat (250 µg)  dapat diberikan 3x/hari
 jika ada perbaikan dalam 90 hari, lanjutkan
hingga 42 hari postpartum
• Transfusi PRC
– Hb<7 g/dL atau hematokrit <20%
– Hb>7 g/dL dgn gejala pusing, pandangan
berkunang, atau takikardia

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Kandungan Besi Elemental

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
154. B. Bokong sempurna+gawat
janin
Keywords:
• G7P4A2 keluhan mulas-mulas
• DJJ 180 x/menit
• VT: portio tidak teraba, pembukaan lengkap,
ketuban (-), teraba bokong dan 1 tumit
Diagnosis? Bokong sempurna+gawat janin
Complete breech 
Kedua kaki terlipat
sempurna, pada
presentasi bokong.

Frank breech  kedua


kaki terjulur ke atas
pada presentasi
bokong.
155. C. Prolaps uteri
Keywords:
• Wanita 75 tahun
• Benjolan muncul pada vagina
• Tidak nyeri
• Riwayat 7 anak
Diagnosis? Prolaps uteri
Prolaps Uteri
• Pergeseran letak uterus ke bawah sehingga
serviks berada di dalam orifisium vagina
• Faktor risiko
– Kehamilan  persalinan melalui vagina (terutama
partus multipel)
– Menopause
– Penuaan
– Peningkatan tekanan intraabdomen kronis
– Trauma dasar panggul

Kapita Selekta Kedokteran edisi IV tahun 2014


Prolaps Uteri
• Manifestasi klinis
– Perasaan seperti ada yang menonjol pada genitalia eksterna
– Nyeri pada pangul dan pinggang  menghilang saat berbaring
– Gesekan porsio uteri pada celana dapat menyebabkan luka
– Leukorea
• Diagnosis: anamnesis, pemeriksaan ginekologis (teknik
Friedman dan Little)
• Tatalaksana:
– Latihan otot dasar panggul
– Stimulasi otot dengan alat listrik
– Pesarium
– Operasi: ventrofiksasi, operasi Manchester, histerektomi vaginal,
kolpokleisis

Kapita Selekta Kedokteran edisi IV tahun 2014


Pilihan Jawaban Lain
A. Inversio uteri  perdarahan pascasalin dimana
fundus uteri tidak teraba dengan massa pada
vagina
B. Ruptur uteri  perdarahan pascasalin dengan
nyeri perut hebat dan kontraksi hilang
D. Mioma uteri  sering menimbulkan gejala nyeri
dan perdarahan lebih banyak saat menstruasi
E. Kista bartolin  kista yang tumbuh arah jam 5
atau 7 dari labium minora
156. B. Otot polos
Leimyoma  jaringan? Otot polos
157. C. Ca serviks
Keywords:
• Wanita usia 45 tahun
• Sering keputihan
• Berdarah pasca sengama
• Riwayat menikah usia 16 tahun  3 x menikah
• Inspekulo: keputihan (+), portio berdarah (+),
rapuh
Diagnosis? Ca cervix
Kanker Serviks
• Definisi : keganansan pada leher rahim
• Etiologi : HPV
• Faktor Risiko :
• Menikah/ memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang dari
20 tahun).
• Berganti-ganti pasangan seksual
• Berhubungan seks dengan laki-laki yang sering berganti
pasangan
• Riwayat infeksi di daerah kelamin atau radang panggul.
• Perempuan yang melahirkan banyak anak.
• Merokok aktif/pasif
• Pemeriksaan Penunjang
• IVA dan Pap Smear : untuk deteksi dini lesi pra kanker
• Biopsi

Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Leher Rahim (Depkes RI) 2013
158. C. Gestasional sac
Keywords:
• Tes kehamilan (+)
• Tidak tahu HPHT
• Menstruasi sekitar 2 bulan lalu
• Pemeriksaan USG
• Paling akurat? Gestasional sac
Femur can be used to determine gestational age, but it is more useful in
length helping evaluate fetal weight. It is also useful as a marker for fetal
malformation and genetic abnormality.

Gestationa The first element to be measurable is the gestation sac of the early
l sac pregnancy. The gestational sac is measured in three dimensions, and
the average, the Mean Sac Diameter (MSD) used for estimating
gestational age. It is useful between 5 and 8 menstrual weeks with
accuracy of +/- 3 days. As a rough rule of thumb, the MSD + 30 =
Menstrual Age in days.
Crown The length of the embryo on the longest axis (excluding the yolk sac)
rump constitutes the crown-rump length. This is among the best documented
length parameters to date the embryo, with accuracy of +/- 3-5 days. As a
rough rule of thumb, the CRL + 6.5 = Menstrual Age in Weeks; A
pregnancy ultrasound measurement that measures the length in
centimeters from the top of the baby's head to the bottom of the
buttocks; Can be measured by around seven weeks of pregnancy
Biparietal among the most accurate 2nd trimester measures of gestational age.
diameter Measured from the beginning of the fetal skull to the inside aspect of
the distal fetal skull ("outer to inner") at the level of the cavum septum
pelucidum, this is one of the basic fetal measurements. Using this same
image, the frontal occipital diameter (FOD) is obtained and the fetal
head circumference (HC) is either obtained directly, or by formula from
the BPD and FOD.

Humerus Useful as a marker for fetal malformation and genetic abnormality,


length together with femur length.
Pilihan jawaban lainnya
A. FL (Femur Length)  lebih akurat untuk
mengukur berat janin
B. HL (Humerus Length)  untuk melihat
malformasi dan kelainan kongenital
C. GS (Gestational Sac)
D. BPD (Biparietal Diameter)  mengukur usia
kehamilan pada trimester 2
E. CRL (Crown Rump Length)  bisa digunakan
pada minggu ketujuh kehamilan
159. D. Observasi kemajuan
persalinan
Keywords:
• Wanita G4P3A0 hamil 40 minggu
• Kenceng2 dan keluar cairan dar jalan lahir
• Status obstetri: TFU 32 cm, his tiap 2 menit,
pembukaan 6 cm, DJJ 146 x/menit, presentasi
wajah mentum menghadap simfisis
Tatalaksana selanjutnya? Observasi kemajuan
persalinan
Presentasi Muka
• Kepala hiperekstensi sehingga oksiput tertekan pada
punggung janin dan muka menjadi bagian terendah
• Klasifikasi:
– Mento anterior terhadap simfisis pubis  dapat lahir
pervaginam
– Mento posterior terhadap simfisis pubis  SC
• Faktor risiko:
– Panggul platipelloid
– Bayi besar
– Anensefalus
– Hidrosefalus
– Riwayat operasi sesar
– Multipara
Kapita Selekta Kedokteran edisi IV tahun 2014
160. C. Vitamin B6
Keywords:
• Wanita 27 tahun
• Muntah 1 minggu, lemas, pucat
• Hamil usia 12 minggu
Mikronutrien untuk mengurangi keluhan?
Vitamin B6
Mual Muntah pada Kehamilan
• Terjadi hingga usia 16 minggu; keadaan yang
berat dapat membuat dehidrasi, gangguan asam
basa dan elektrolit, ketosis  hiperemis
gravidarum
• Diagnosis hiperemesis gravidarum
– Mual dan muntah hebat
– BB turun >5% dari BB sebelum hamil
– Ketonuria
– Dehidrasi
– Ketidakseimbangan elektrolit

Buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. Kemenkes RI.
http://www.medscape.com/viewarticle/712662_8
Williams Obstetrics 24th ed
161. C.IUD
Keywords:
• Wanita P1A0
• KB membuat gemuk
• Tidak ada riwyat KET
• Suami menolak menggunakan kondom atau
pantang berkala
• Anak terkecil 1 tahun, belum berniat memiliki
anak
KB yang paling tepat? IUD
IUD
Mekanisme Kerja Efektivitas Keuntunga Risiko Efek Alasan Alasan Beberapa
n Samping Beberapa Orang Tidak
Orang Menyukai
Menyukai

AKDR dimasukkan ke Kurang dari 1 Mengurang Menyebabkan Perubahan Efektif Prosedur pemasangan
dalam uterus. Tujuan diantara 100 ibu i risiko anemia bila pola haid mencegah dilakukan oleh
untuk menghambat dalam 1 tahun. kanker cadangan besi pada 3-6 kehamilan, tenaga kesehatan
kemampuan sperma Efektivitas dapat endometriu rendah bulan dapat digunakan terlatih
memasuki tuba falopi, bertahan lama hingga m sebelum pertama untuk waktu
mempengaruhi fertilisasi 12 tahun. pemasangan (haid lama, tidak
sebelum ovum mencapai dan AKDR memanjang memengaruhi
kavum uteri, mencegah menyebabkan , banyak, menyususi,
sperma bertemu ovum, haid lebih tidak dapat langsung
mencegah implantasi banyak. Dapat teratur, dan dipasang setelah
telur dalam uterus menyebabkan nyeri haid) melahirkan
penyakit
radang
panggul.

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Pilihan Lain
A. Pil progestin: minipil, efektif hingga 6 bulan
pascasalin
B. Pil kombinasi: mengandung hormon 
meningkatkan BB
D. Implan: mengandung hormon
E. Tubektomi: kontrasepsi mantap jika pasien
tidak ingin memiliki anak lagi
162. B. Gemeli
Keywords:
• Wanita 27 tahun
• G3P2A0 hamil 7 bulan
• Uterus lebih besar dari kehamilan, anak sulit
teraba, teraba 3 bagian besar dari ballotement
Kemungkinan diagnosis? Gemeli

Kesimpulan  uterus lebih besar dari usia kehamilan curiga


mola (keluhan perdarahan pervaginam usia kehamilan
muda), gemeli, hidramnion, giant baby
Gemeli/Kehamilan Ganda
 Definisi
 Kehamilan ganda ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih
 Diagnosis
 Besar uterus melebihi usia kehamilan atau lamanya amenorea
 Hasil palpasi abdomen mengarah ke kehamilan ganda:
 Kepala janin relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran uterus
 Teraba 2 balotemen atau lebih
 Terdengar lebih dari satu denyut jantung bayi dengan
menggunakan stetoskop fetal
 Faktor Predisposisi
 Usia ibu > 30 tahun
 Konsumsi obat untuk kesuburan
 Fertilisasi in vitro
 Faktor keturunan

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Giant Baby
• Giant baby / Big baby syndrome / Makrosomia
• Didiagnosis apabila bayi lahir dengan berat
badan lebih dari 4000 gram, tanpa melihat
usia gestasional
Hidramnion

• Hidramnion atau poli hidramnion  jumlah


air ketuban melebihi dari batas normal
• Volume ketuban normal: 1-2 liter
• Oligohidramnion  kekurangan air ketuban
• Gejala hidramnion:
• Pembesaran uterus dengan kesulitan
meraba bagian kecil janin / mendengar
denyut janin
• Akibat overdistensi  dispnea, edema
ekstremitas bawah, vulva
Hidrosefalus

• Hidrosefalus  penumpukan
cairan serebrospinal (CSS)
secara aktif yang
menyebabkan dilatasi sistem
ventrikel otak, dimana terjadi
akumulasi CSS yang
berlebihan pada satu atau
lebih ventrikel atau ruang
subarachnoid
• Disebabkan oleh karena
terdapat ketidak seimbangan
antara produksi dan absorpsi
dari CSS
Hidrops fetalis

• Adalah suatu kondisi edema pada janin


• Gambaran klinis: abnormalitas akumulasi
cairan dalam rongga tubuh (pleural,
percardial dan peritoneal) dan jaringan
lunak tubuh dengan ketebalan dinding lebih
dari 5 mm
• Sering berhubungan dengan hidramnion
dan penebalan plasenta ( > 6 mm) pada 30 –
75% kasus • Dengan USG tampak gambaran:
• Terjadi akibat gangguan keseimbangan • Edema anasarka
cairan  akumulasi cairan lebih banyak • Penumpukan cairan dalam rongga tubuh seperti
dibandingkan dengan yang diabsorbsi pleura – perikardium dan rongga peritoneal
• Hidramnion
• Plasenta yang tebal
163. A. Superimposed preklampsia
Keywords:
• Wanita G3P2A0 u.k 32 minggu
• Kaki bengkak 1 minggu
• Pusing, pandangan kabur, riwayat HT
• TD 180/100 mmHg, proteinuria +3
Diagnosis? Superimposed eklamsia
Hipertensi Dalam Kehamilan
• Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-
kurangnya 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg
diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 4-6
jam pada wanita yang sebelumnya normotensi.

• Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai


dengan proteinuria pada umur kehamilan lebih
dari 20 minggu atau seger setelah persalinan

• Eklamsia adalah preeklamsia yang disertai kejang


tonik klonik disusul dengan koma

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Hipertensi dalam Kehamilan
• Hipertensi kronik
– Tekanan darah ≥140/90 mmHg
– Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau
diketahui adanya hipertensi pada usia kehamilan
<20 minggu
– Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup
urin)
– Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti
mata, jantung, dan ginjal

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Hipertensi dalam Kehamilan
• Preeklampsia Ringan
– Tekanan darah ≥140/90 mmHg pada usia kehamilan >
20 minggu
– Tes celup urin menunjukkan proteinuria 1+ atau
pemeriksaan protein kuantitatif menunjukkan hasil
>300 mg/24 jam

• Preeklampsia Berat
– Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan
>20 minggu
– Tes celup urin menunjukkan proteinuria ≥2+ atau
pemeriksaan protein kuantitatif menunjukkan hasil >5
g/24 jam
– Atau disertai keterlibatan organ lain:
– Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis
mikroangiopati
– Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran
kanan atas
– Sakit kepala , skotoma penglihatan
– Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
– Edema paru dan/atau gagal jantung kongestif
– Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2 mg/dl
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Hipertensi dalam Kehamilan
• Superimposed preeklampsia pada
hipertensi kronik
• Pasien dengan riwayat hipertensi kronik
• Tes celup urin menunjukkan proteinuria
>+1 atau trombosit <100.000 sel/uL
pada usia kehamilan > 20 minggu

• Eklampsia
• Kejang umum dan/atau koma
• Tanda dan gejala preeklampsia
• Tidak ada kemungkinan penyebab lain
(misalnya epilepsi, perdarahan
subarakhnoid, dan meningitis)
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
DOSIS PEMBERIAN
Dosis • Ambil 4 g larutan MgSO4 (10 ml larutan
awal MgSO4 40%) dan larutkan dengan 10 ml
4g akuades
MgSO4 • Berikan larutan tersebut secara
perlahan IV selama 5-10 menit
• Jika akses intravena sulit, memberikan
masing-masing 5 g MgSO4 (12,5 ml
larutan MgSO4 40%) IM di bokong kiri
dan kanan

Dosis • Ambil 6 g MgSO4 (15 ml larutan MgSO4


rumatan 40%) dan larutkan dalam 500 ml larutan
6g Ringer Laktat/ Ringer Asetat, lalu
MgSO4 berikan secara IV dengan kecepatan 28
tetes/menit selama 6 jam, dan diulang
hingga 24 jam setelah persalinan atau
kejang berakhir (bila eklampsia)
164. E. Abortus kompletus
Keywords:
• Wanita perdarahan pervaginam
• Darah keluar bergumpal-gumpal
• Terlambat mens 3 bulan
• Pemeriksaan dalam: portio tertutup
• Β-HCG (+), tidak tampak gestastional sac
Diagnosis? Abortus kompletus
Abortus
• Definisi : Ancaman atau pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan (kehamilan < 20 minggu atau berat
janin < 500 gram)
• Etiologi : Faktor genetik, kelainan kongenital
uterus, autoimun, defek fase luteal, infeksi,
kelainan hematologi, lingkungan
• Gejala klinis : amenorea, perdarahan
pervaginan, nyeri perut,

Sumber : Buku Ilmu Kebidanan (Sarwono Prawirohardjo)


Jenis – Jenis Abortus
Jenis Abortus Portio Jaringan Tatalaksana
Iminens Tertutup (-) Tirah baring
Insipiens Terbuka (-) Evakuasi jaringan + kuretase
Inkomplit Terbuka (+) Evakuasi jaringan + kuretase
Komplit Tertutup (+) Tidak ada tindakan khusus
Abortus lainnya
Abortus habitualis: telah terjadi abortus selama min 3 kali berturut-turut
Abortus septik: abortus yang diikuti dengan komplikasi dan tanda-tanda infeksi
Missed abortion : fetus telah meninggal sebelum usia kehamilan 20 minggu
dan hasil konsepsi masih berada di dalam uterus. Penderita tidak merasakan
keluhan apa – apa (perdarahan, nyeri perut)
165. D. Sisa plasenta
Keywords:
• Wanita G3P2A0 perdarahan pervaginam
• Plasenta tidak beraturan dan kotiledon tidak
lengkap
• TD 90/60 mmHg, nadi 140 x/menit,
konjungtiva anemis
Etiologi? Sisa plasenta
Perdarahan Post Partum

Atonia
uteri
Robekan jalan
lahir
Retensio
placenta

Sisa
Placenta
Inversio
uteri
Ruptur
uteri
Sumber : Paket Pelatihan PONED (Depkes RI) 2008
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
166. D. Koamoksiklav

Keywords:
• G3P2A0 hamil 42 minggu
• KP sejak 10 jam
• Tidak ada rasa mulas
• Inspekulo: Valsava (+)
Diagnosis: G3P2A0 hamil serotinus dengan KPD
Antibiotik yang dilarang? Koamoksiklav
Ketuban Pecah Dini (KPD)
• Pecah selaput ketuban sebelum persalinan/
tanda in partu
• Pemeriksaan dalam tdk dilakukan kecuali akan
dilakukan penanganan aktif
• Memastikan cairan amnion:
– Bau cairan ketuban khas
– Tes nitrazin: lakmus merah  biru
– Gambaran pakis pada mikroskop

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Rekomendasi Tatalaksana – ACOG 2013
Usia Gestasi Tatalakasana
34 minggu atau lebih Dukung untuk melahirkan, biasanya melalui induksi persalinan
Profilaksis Streptococcal grup B direkomendasikan
32 hingga 33 minggu Manajemen hamil jika maturitas paru fetus tidak diketahui
Profilaksis Streptococcal grup B direkomendasikan
Kortikosteroid – tidak ada dalam consensus, namun direkomendasikan pakar
Antimikroba untuk memperpanjang periode laten jika tidak ada kontraindikasi
24 hingga 31 minggu Manajemen hamil
Profilaksis Streptococcal grup B direkomendasikan
Penggunaan tunggal kortikosteroid direkomendasikan
Tokolitik – tidak ada dalam consensus
Antimikroba untuk memperpanjang periode laten jika tidak ada kontraindikasi
Sebelum 24 minggu Konseling pasien
Manajemen hamil atau induksi persalinan
Profilaksis Streptococcal grup B tidak direkomendasikan
Kortikosteroid tidak direkomendasikan
Tokolitik – tidak ada dalam konsensus
Antimikroba – tidak ada data yang tersedia untuk memperpanjang periode laten

American College of Obstetrics and Gynecology. ACOG practice bulletin no. 80: Premature
rupture of membranes. Clinical management guidelines for obstetrician-gynecologists. Obstet
Gynecol. 2007; 109(4): 1007-19.
Antibiotik Profilaksis
• Ampisilin IV + eritromisin IV (48 jam) 
amoksisilin PO + eritromisin PO (selama 5 hari)
• Alergi ringan penisilin:
– Cefazolin IV + eritromisin IV (48 jam)  cefalexin PO +
eritromisin PO (selama 5 hari)
• Alergi berat penisilin:
– Vancomycin IV + eritromisin IV (48 jam)  klindamisin
PO (selama 5 hari)
• Seluruh penisilin kecuali koamoksiklav dapat
diberikan  pemberian pada prenatal dapat
menyebabkan neonatal necrotizing enterocolitis
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. The Prevention of Early-Onset Neonatal
Group B Streptococcal Disease. Green-top Guideline no 36 2nd ed. 2012.
167. C. 24-28 minggu
Keywords:
• Wanita 23 tahun G3P1A1
• Hamil 4 bulan dengan keluhan 3P
• GDS 180 mg/dL
Waktu terbaik TTGO? 24-28 minggu
DM Gestasional
• DM gestasional  intoleransi karbohidrat
yang pertama kali ditemukan saat hamil
• Faktor risiko: obesitas, riwayat DMG
sebelumnya, glukosuria, riwayat keluarga DM,
abortus berulang, riwayat lahir bayi cacat/
>4000 g, riw preeklamsia
• Diagnosis:
– Gejala klasik + GDS >200 mg/dL atau GDP >126
mg/dL atau GDS 2 jam TTGO >200 mg/dL
– TTGO  24-28 minggu
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
168. C. Pada stadium lanjut, sifilis
kongenital menular lebih hebat
Keywords:
• Perempuan 24 tahun
• G2P1 hamil 32 minggu
• Menanyakan tentang masalah sifilis kongenital
• Pernyataan yang salah?
Congenital Syphillis
Sifilis Kongenital
• Sifilis kongenital adalah keadaan di mana
seorang neonatus “tertular” sifilis akibat
kontak sifilis intrauterin dengan ibu yang
positif sifilis.
• Meningkatkan mortalitas dan morbiditas
neonatus
• Sifilis kongenital dapat bermanifestasi dini
atau lanjut
Manifestasi Stadium
• Dini - <3 bulan pertama kehidupan
– Ruam makulopapular
– Failure to thrive
– Limfadenopati dan splenomegali
• Lanjut (> 2 tahun kehidupan)
– Ulkus guma yang umumnya mengenai septum nasal
dan palatum durum
– Neurosifilis, tabes doraslis
– Gigi Hutchinson, fisura perioral, dan mulbery molar
mungkin mucnul
Penularan
• Semakin lama ibu terkena sifilis (misal: 3 tahun
sebelum hamil – dibandingkan dengan 3 bulan
sebelum hamil), semakin rendah kemungkinan
penularan sifilis
• Uji serologi diperlukan untuk diagnosis sifilis dan
sifilis kongenital.
• Neonatus dan anak yang dicurigai sifilis
kongenital perlu pemeriksaan lebih lanjut, seperti
VDRL dan pungsi lubamlBuku Ajar Nutrisi dan
Penyakit Metabolik IKA FKUI, 2011 – hal.46-47
Tatalaksana Sifilis Kongenital
• Ibu hamil: dapat ditatalaksana sebagaimana
sifilis seperti umumnya (benzatin penisilin)
• Penisillin tetap pilihan utama untuk
neonatus/anak dengan sifilis kongenital

http://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/infections-in-
neonates/congenital-syphilis
169. B. Kontrasepsi oral + metformin
Keywords:
• Wanita 36 tahun
• Infertil
• Mens tdk teratur, hirsutisme, akne, alopesia
Diagnosis: PCOS
Tatalaksana: Kontrasepsi oral + metformin
Polycyclic ovarian syndrome (PCOS)
Gambaran umum:
• Pertumbuhan polikistik ovarium
kedua ovarium, amenorea
sekunder, oligomenorea, dan
infertilitas
• Sekitar 50% pasien mengalami
hirsutisme dan obesitas.
• Usia 15-30 tahun
PCOS
• Penunjang:
– USG ovarium
– CT Scan/ MRI pelvis  adrenal dan ovarium
• Tatalaksana:
– Diet
– Aktivitas fisik
– Turunkan BB
– Medikamentosa
• Agen kontrasepsi oral (co: etinilestradiol)
• Antiandrogen (co: spironolakton)
• Agen hipoglikemik (co: metformin, insulin)
• Selective estrogen receptor modulator (co: klomifen sitrat)
– Bedah
170. B. Nistatin
Keywords:
• Wanita hamil 8 bulan
• Keputihan dan gatal
• PF; fluor warna putih seperti pecahan susu
Diagnosis: susp kandidosis vaginal
Tatalaksana: nistatin
Kandidiasis
vulvovagina
• Etiologi:
– Penurunan pH: berkaitan dgn lingkungan, kontrasepsi,
penggunaan Ab berlebihan, kortikosteroid, DM tdk
terkontrol
– Peningkatan glikogen vagina
• Diagnosis:
– Gambaran klinis (duh tubuh putih keju, gatal, nyeri dan
panas pascasenggama, disuria eksterna)
– Pemeriksaan mikroskopik langsung (KOH)
• Tatalaksana:
– Flukonazol 150 mg singledose intravagina
– Nistatin intravagina
– Ketokonazol  kategori C (tidak boleh pada ibu hamil)
Pilihan lain
A. Metronidazole  u/ BV atau trikomoniasis
C. Amoksisilin  antibiotik
D. Gentamisin  antibiotik
E. Triamsinolon  kortikosteroid
171. E. Mioma geburt
Keywords:
• Wanita 30 tahun
• Haid memanjang dan banyak
• PF: benjolan keluar dari rahim hingga vagina
Diagnosis: mioma geburt
• Mioma uteri merupakan tumor jinak yang struktur
utamanya adalah otot polos rahim
• Penyebab pasti tidak diketahui. Mioma jarang
ditemukan sebelum usia pubertas, sangat
dipengaruhi hormon reproduksi
• Seringkali asimtomatik
• Gejala yang mungkin ditimbulkan sangat bervariasi
seperti metroragia, nyeri, menoragia, hingga
infertilitas.
Klasifikasi mioma(berdasarkan lokasi)
• Mioma submukosa: berada di lapisan di
bawah endometrium dan menonjol ke
dalam (kavum uteri). Mioma jenis ini sering
bertangkai panjang sehingga menonjol
melalui serviks atau vagina disebut mioma
geburt
• Mioma intramural: berkembang diantara
miometrium
• Mioma subserosa: tumbuh dibawah lapisan
serosa uterus dan dapat tumbuh ke arah
luar dan juga bertangkai
172. C. Kista nabothi
Keywords:
• Tidak ada keluhan
• Inspekulo: serviks terlihat benjolan 1 cm,
permukaan rata dan licin, warna lebih muda
Diagnosis: kista nabothi
Kista Nabothi/ Retensi
• Epitel kel endoserviks sangat
rentan thdp infeksi  metaplasia
skuamosa  kel endoserviks
tertutup  sekret tertahan dan
menajdi kantong kista
• Gambaran klinis
– Tidak ada gangguan
– Inspekulo: penonjolan kistik di
daerah endoserviks dgn arna lebih
muda
• Terapi: tidak ada terapi khusus
Ilmu kandungan edisi ketiga. 2011.
Pilihan Lain
A. Kista bartholin  tumor kistik pada vulva
B. Kista gartner  tumor kistik pada vagina
D. Kista pilosebasea  tumor kistik pada vulva
E. Kista inklusi  tumor kistik pada vagina
173. B. Distosia ec CPD
Keywords:
• G2P1A0 hamil 39 minggu
• Kenceng2 1 hari
• Keluar air2 1 jam lalu
• DJJ 150 x/menit, his baik
• Pembukaan 8 cm, pendataran 75%, serviks lunak,
anterior, hodge -1
• Tidak ada kemajuan  moulase maksimal dan
caput (+)
Diagnosis: distosia ec CPD
Persalinan dipengaruhi oleh tiga Tanda-tanda CPD
aspek (3P) :
Pemeriksaan abdominal
• Power yaitu kekuatan his dan
kekuatan mengedan • Ukuran anak besar.
• Kepala anak menonjol di simphisis
• Pelvis yaitu keadaan jalan lahir. pubis.
• Passenger yaitu keadaan janin Pemeriksaan pelvis
yang dikandung • Servik mengecil setelah pemecahan
ketuban
• Arrest of descent: Failure of the • Edema servik
presenting fetal part to • Penempatan kepala tidak baik lagi di
servik
continue to descend during the
• Kepala belum dipegang pintu atas
second stage of labor despite panggul
uterine contraction and • Ditemukan kaput
maternal effort (pushing) • Ditemukan molage
• Cephalopelvic Disproportion • Ditemukan kepala defleksi
(CPD) merupakan 50% • Ditemukan asinklitismus
penyebab Arrest of descent
pada nulipara dan pada
multipara hanya 29,7%
174. A. Ampula
Keywords:
• G1P0A0 nyeri mendadak perut bawah
• Flek kemerahan
• PF: nyeri goyang portio (+), kavum Douglas
menonjol
Diagnosis: KET
Lokasi tersering:
• Tuba (95%)  ampula (55%), ismus (25%),
fimbria (17%), interstitialis (2%)
• Ektopik lain (5%)  serviks, abdomen, ovarium

Ilmu kebidanan. 2010.


175. B. Epitel pipih berlapis banyak
Keywords:
• Keputihan banyak terasa bau amis
• PF: sekret homogen tipis
• pH 5
• Whiff test (+)
Diagnosis: BV
Epitel vagina? Pipih berlapis banyak
Jenis Epitel
Epitel pipih selapis Epitel kubus berlapis banyak
• Lokasi jaringan epitel: pembuluh limfe, endotel, • Lokasi jaringan epitel: kelenjar keringat, kelenjar
kapsula glomerulus, alveoli, peritonium, pleura, minyak, kelenjar tiroid, ovarium, zakar.
perikardium.
• Fungsi jaringan epitel: sekresi dan ekskresi
• Fungsi jaringan epitel: difusi, filtrasi
Epitel silindris berlapis banyak
Epitel kubus selapis
• Lokasi jaringan epitel: saluran kelenjar ludah,
• Lokasi jaringan epitel: tubula ginjal, saluran saluran kelenjar susu, uretra, laring, faring,
kelenjar ludah, kelenjar keringat, permukaan langit-langit mulut.
ovari, permukaan dalam lensa mata, sel-sel
berpigmen dari retina. • Fungsi jaringan epitel: sekresi dan pergerakan.
• Fungsi jaringan epitel: sekresi dan absorbs
Epitel silindris berlapis banyak
Epitel silindris selapis • Lokasi jaringan epitel: saluran reproduksi, rongga
hidung, saluran pernapasan, saluran ekskresi
• Lokasi jaringan epitel: lambung, usus, kelenjar yang besar.
pencernaan, kantong empedu, uterus, rongga
hidung. • Fungsi jaringan epitel: sekresi, proteksi dan
gerakan zat
• Fungsi jaringan epitel: sekresi dan absorpsi

Epitel pipih berlapis banyak Epitel transisional


• Lokasi jaringan epitel: epidermis, vagina, mulut, • Lokasi jaringan epitel: saluran kencing, kandung
esofagus, saluran anus, ujung uretra. kemih, ureter, ginjal.
• Fungsi jaringan epitel: proteksi • Fungsi jaringan epitel: memungkinkan
perubahan dalam bentuk.
176. A. Pendidikan kepada pengawas
minum obat
Keywords:
• Pasien TB Paru, setelah diterapi 2 bulan, dievaluasi ternyata masih
positif
• Evidence  minum obat menentukan keberhasilan terapi TB

Sebagai dokter puskesmas, apa yang harus dilakukan? Memberikan


pendidikan pada PMO
• Keterangan mengenai evidence yang terdapat di soal mengarahkan
kita untuk mengevaluasi proses minum OAT sebagai penyebab
kegagalan pengobatan fase intensif.
• Dalam pengobatan TB, selain pasien, peran PMO mempengaruhi
keberhasilan terapi TB. Sehingga pilihan A merupakan pilihan paling
tepat dan spesifik dalam tatalaksana pasien selanjutnya
• Selain itu, yang harus dilakukan dokter adalah memberikan fase
sisipan
Jadi, jawabannya adalah:
A. Pendidikan kepada pengawas
minum obat
177. E. Menjelaskan dengan lebih jelas mengenai
pentingnya dirawat inap dan akibat yang mungkin
dialami oleh pasien jika tidak mau dirawat
Keywords:
• Perempuan, 18 tahun, demam tinggi sejak 4 hari
yang lalu.
• PF: suhu 38,10 C, ptekiae (+), epistaksis (+).
• Hasil pemeriksaan lab: trombosit 60.000, Hb 14
g/dL, Ht 47%
• Ibu pasien meminta supaya pasien dirawat jalan
dan minum jus jambu.
Bagaimana sikap dokter yang paling tepat?
Analisa Kasus
• Kasus demam berdarah dengue grade II,
trombosit < 100.000  indikasi untuk rawat
inap!
• Informed consent, menjelaskan indikasi
rawat inap kembali dan hal yang mungkin
terjadi jika pasien tidak dirawat
• Jika pasien tetap menolak turuti, karena
merupakan autonomi pasien, karena dokter
terlah menjelaskan dengan jelas
Jadi, jawabannya adalah:
E. Menjelaskan dengan lebih jelas
mengenai pentingnya dirawat inap
dan akibat yang mungkin dialami oleh
pasien jika tidak mau dirawat
178. A. Open defecation
Kasus:
• Suatu puskesmas memiliki angka kesakitan
yang tinggi yang berkaitan dengan keadaan
lingkungan  karena rendahnya pelaksanaan
PHBS

Alasan paling tepat sebagai penyebab masalah?


Jadi, jawabannya adalah:
A. Open Defecation
179. C. Case finding aktif
Keywords:
• Terjadi KLB diare pada 7 desa (jumlah penduduk
sebesar 5400 orang)
• Sebanyak 190 orang berobat ke puskesmas, 77
orang di rawat inap dan 3 orang meninggal dunia.
• Petugas puskesmas ingin melihat langsung
penyebab pasien yang berobat maupun yang
tidak berobat.
Metode yang digunakan adalah?
Surveilans Epidemiologi
Petugas ingin melihat langsung penyebab pasien
yang berobat maupun yang tidak berobat
SURVEILANS PASIF
• Laporan rutin kasus penyakit yang datang ke
provider kesehatan
• Tidak ada usaha khusus untuk menemukan
unsuspected disease

• Door to door surveys  untuk menemukan


SURVEILANS AKTIF
suatu kasus dalam komunitas
• AKTIF MENEMUKAN KASUS TERUTAMA
YANG TIDAK DATANG BEROBAT

SURVEILANS SENTINEL • Mengambil data TIDAK dari semua pekerja medis,


tapi ditetapkan random ataupun bertujuan
• Investigasi intensif kepada suatu kasus
Jadi, jawabannya adalah:
C. Case finding aktif
180. C. Penerimaan
Kasus:
• Seorang pasien didiagnosis kanker gaster dan
disarankan untuk segera di operasi
• Pasien berkata, “Baiklah dokter, saya
bersedia di operasi. Saya yakin ini yang
terbaik dan saya siap.”
Pasien tersebut ada dalam fase ?
5 Stages of Grief

PENYANGKALAN
DENIAL “I FEEL “NOT TO THIS CAN’T BE
FINE” ME” HAPPENING
MARAH
ANGER “KENAPA
SAYA?!”
TAWAR-MENAWAR
BARGAINING “JIKA Apapun diberikan jika
SEMBUH,…!” sembuh
DEPRESI
• Pasien menyadari kondisinya
DEPRESSION “I’M SO “sekarat”
SAD!” • Cenderung menangis, tidak suka
PENERIMAAN dijenguk
ACCEPTANCE “I’M GOING TO BE
OK!”
Jadi, jawabannya adalah:
C. Penerimaan
181. A. > 10 M
• Dokter puskesmas ingin membangun rumah di
daerah dengan tanah datar
• Ia berniat menggali sumur untuk sumber mata
air, akan tetapi dekat rumahnya terdapat
septic tank tetangga
Berapa jarak minimal yang paling tepat antara
kedua struktur tersebut?
Jarak Minimal Tangki Septik dengan
Struktur Lain
• Pada umumnya dapat
dikatakan jarak yang aman
tidak kurang dari 10 meter
dan diusahakan agar
letaknya tidak berada di
bawah tempat-tempat
sumber pengotoran .
• Jarak tangki septik dan
bidang resapan ke bangunan
= 1,5 m, ke sumur air bersih
= 10 m dan sumur resapan
air hujan 5 m.
Kriteria Jamban Sehat
(Depkes RI 1985)
Jadi, jawabannya adalah:
A. > 10 M
182. C. Menggiatkan penyuluhan tentang
deteksi dini kanker payudara dan SADARI
• Di suatu area  angka kejadian ca mammae pada
wanita cukup tinggi
• Mayoritas yang datang berobat ke puskesmas setempat
sudah stadium IV
• Prognosis ca mammae cukup baik bila terdeteksi dini
(upaya deteksi dini ca mammae berarti masih kurang
pada area puskesmas tersebut)
Apa yang sebaiknya dilakukan oleh dokter puskesmas
setempat?
• Pendekatan pencegahan lebih baik dibandingkan terapi
• Termasuk dalam pencegahan sekunder  diagnosis
dini /early diagnosis
Jadi, jawabannya adalah:
C. Menggiatkan penyuluhan tentang
deteksi dini kanker payudara dan
SADARI
183. B. Tetap memberitahukan orang tua, dan
pengobatan dan rehabilitasi diserahkan kepada
keputusan orang tua
Kasus:
• Anak, 16 tahun, ketahuan menggunakan heroin
saat dilakukan pemeriksaan kesehatan 
memohon kepada dokter untuk tidak
diberitahukan kepada keluarganya.
Apa yang harus dilakukan oleh dokter tersebut?
• Pasien berusia < 18 tahun  Belum kompeten
untuk melakukan informed consent sendiri
• Anak masih tanggung jawab orangtua, sehingga
informed consent dilakukan ke orangtua
Jadi, jawabannya adalah:
B. Tetap memberitahukan orang tua,
dan pengobatan dan rehabilitasi
diserahkan kepada keputusan orang
tua
184. C. Menolak melakukan aborsi
tanpa indikasi medis
185. D. Justice
• Perempuan, 19 tahun, G1P0A0 usia kehamilan 8
minggu  ingin dilakukan aborsi karena mengaku
dihamili oleh pacarnya.
• Pasien mengaku hubungan terjadi atas dasar suka
sama suka, unsur paksaan (-)
Apa yang sebaiknya dilakukan oleh dokter?
Tindakan aborsi tanpa indikasi medis  melanggar
hukum dan kode etik
Aspek bioetika manakah yang terefleksi pada
tindakan dokter diatas? Justice
• UU 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 75
ayat 1: pada dasarnya semua dilarang aborsi
• UU Kesehatan 75 (2): pengecualian pada
kasus:
– Indikasi medis
– Korban perkosaan  harus dibuktikan sesuai
dengan PP 61 tahun 2014 pasal 34 (2)
• Usia kehamilan sesuai
• Keterangan penyidik / psikolog / ahli lain
Justice  Berkaitan dengan penerapan
hukum (kepentingan orang banyak)

https://www.nwabr.org/sites/default/files/Prin
ciples.pdf
Jadi, jawabannya adalah:
C. Menolak melakukan aborsi tanpa
indikasi medis, dan
D. Justice
186. E. Menolaknya karena
bertentangan dengan etika
kedokteran Indonesia
• Seorang dokter, baru saja lulus UKDI, ditawari
menjadi menjadi bintang iklan sebuah produk
kesehatan dari suatu pabrik terkenal.
Apakah hal yang secara etis harus di lakukan?
Menolaknya  tawaran tersebut merupakan bentuk
berkurang/hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi
KODEKI Pasal 3, Perbuatan yang
Bertentangan dengan Etik
Jadi, jawabannya adalah:
E. Menolaknya karena bertentangan
dengan etika kedokteran Indonesia
187. D. Mengatakan ke pasien bahwa
dapatkah ia menceritakan apa yang
dipikirkannya
Keywords:
• Perempuan, 18 tahun, keluhan mual muntah
sejak 2 minggu yang lalu.
• Sejak 1 bulan yang lalu ia haid (-), baru saia
menikah 2 bulan yang lalu.
• Ketika dianamnesis seringkali diam dan tidak
menjawab, hampir selalu menundukkan
kepalanya.
Bagaimanakah pendekatan komunikasi yang paling
tepat
Komunikasi Efektif
• Dokter harus mencari cara komunikasi efektif  pendekatan
empati

Komunikasi Efektif Dokter-Pasien, KKI


• Illness centered communication style atau
patient centered communication style
– Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan
pasien tentang penyakitnya yang secara individu
merupakan pengalaman unik.
– Di sini termasuk pendapat pasien,
kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadi
kepentingannya serta apa yang dipikirkannya.

Komunikasi Efektif Dokter-Pasien, KKI


Jadi, jawabannya adalah:
187. D. Mengatakan ke pasien bahwa
dapatkah ia menceritakan apa yang
dipikirkannya
188. B. Ajun Inspektur Polisi Dua
• Kasus: Penyidik yang berhak meminta VeR

• KUHAP pasal 6 ayat (1) mengenai penyidik


yang berhak untuk meminta visum:
“Pejabat Polisi Negara RI yang diberi wewenang
khusus oleh undang-undang dengan pangkat
serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua.
Penyidik pembantu berpangkat serendah-
rendahnya Sersan Dua.”
Jadi, jawabannya adalah:
B. Ajun Inspektur Polisi Dua
189. B. Luka sedang
Keywords:
• Perempuan, 25 tahun, luka terbuka berukuran 8
cm di lengan atas kiri bagian dalam, terletak 3
cm dari ketiak.
• Sebagian dari luka sudah tertutup, sebagian
terdapat nanah (+) permukaan kulit sekitar luka
berwarna kuning kehijauan
• Memar kebiruan di pergelangan tangan dan pipi.
• Suspek korban KDRT
Berdasarkan KUHP, luka ini termasuk?
Penentuan Derajat Luka
Hukum PidanaIndonesia terkait penganiayaan:
• Penganiayaan ringan (Pasal 352 (1) KUHP) 
Penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan.
• Penganiayaan sedang (Pasal 351 (1) KUHP) 
penganiayaan yang menyebabkan ‘penyakit’ akibat
kekerasan tersebut pada penderita
• Penganiayaan yang menimbulkan luka berat (Pasal
351 (2) KUHP)  penganiayaan yang menimbulkan
luka berat. Batasan “luka berat” dideskripsikan dalam
Pasal 90 KUHP
Sumber:
Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan Penentuan Derajat Luka (Maj Kedokt Indon, Vol 60, 2010)
Luka Berat Menurut Pasal 90 KUHP
Luka berat adalah luka yang memenuhi satu atau lebih kriteria
berikut:
• Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi
harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan
bahaya maut;
• Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas
jabatan atau pekerjaan pencariaan;
• Kehilangan salah satu panca indera;
• Mendapat cacat berat;
• Menderita sakit lumpuh;
• Terganggunya daya pikir selamat empat minggu lebih; atau
• Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

Sumber:
Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan Penentuan Derajat Luka (Maj Kedokt Indon, Vol 60, 2010)
Analisis soal

Pasien mengalami luka:


1. Luka terbuka 8x3 cm
2. Memar kebiruan di
pergelangan tangan dan pipi Luka sedang
3. Korban diduga mengalami
kekerasan dalam rumah tangga
 pelaku: keluarga

• Deskripsi luka pada kasus tidak dapat digolongkan pada luka ringan,
karena telah menimbulkan penyakit pada pasien akibat kekerasan yang
dialami.
• Luka pada kasus tidak memenuhi kriteria luka berat berdasarkan Pasal
90 KUHP
Jadi, jawabannya adalah:
B. Luka Sedang
190. C. Tenggelam
Keywords:
• Mayat di pinggir sungai  tangan terikat dan
luka di bagian kepala
• Pada hidung mayat  gelembung-gelembung
udara yang mudah pecah
• Lumpur (+) dan air (+) pada saluran napas

Penyebab kematian pada mayat tersebut?


Tanda-Tanda Tenggelam
• Busa yang berasal dari hidung dan mulut dan distensi paru
hebat merupakan salah satu tanda klasik kasus tenggelam
• Bila sternum diangkat saat otopsi, paru-paru akan terlihat
memenuhi rongga mediastinum, sehingga “rongga kosong” di
atas jantung hilang
• Paru-paru menjadi pucat, spongiosa, dan dapat tertekan pada
bagian dalam thorax dengan sangat kuat sehingga tampak
indentasi costa pada permukaan paru
• Adanya air dalam mulut, saluran pernapasan, paru-paru,
esofagus dan perut bukan petunjuk tenggelam, karena dapat
timbul setelah kematian

Sumber : Ilmu Kedokteran Forensik FKUI


Jadi, jawabannya adalah:
C. Tenggelam
191. D. Data medis
Keywords:
• Laki-laki, ditemukan di pantai, sudah tidak bernyawa
• Pembusukan lanjut, sudah terurai
• Tidak ada yang mengenali korban

Pemeriksaan yang tepat untuk mengetahui identitas


korban?
Untuk mengetahui identitas korban dalam kondisi sudah
terjadi pembusukan lanjut dan penguraian sudah terjadi
adalah data medik
Identifikasi Forensik
Merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan menentukan identitas
seseorang  dipastikan bila paling sedikit 2 metode yang digunakan
memberikan hasil positif (tidak meragukan).

Metode Identifikasi:
• Metode visual  memperlihatkan wajah jenazah pada orang yang mungkin
mengenalnya
• Pakaian dan perhiasan
• Pemeriksaan dokumen
• Data Medik / identifikasi medik  bernilai tinggi: data umum dan data
khusus; bahkan tengkorak bisa diidentifikasi
• Pemeriksaa gigi
• Pemeriksaan sidik jari  membandingkan sidik jari jenazah dan antemortem
• Pemeriksaan serologi
• Metode eksklusi

Sumber: Ilmu Kedokteran Forensik, FKUI


Dalam kasus ini..
• Data Medik / identifikasi medik  memiliki tingkat
ketepatan tinggi; bahkan tengkorak bisa diidentifikasi.
Data yang dapat diperoleh: jenis kelamin, ras, perkiraan
umur, tinggi badan, kelainan pada tulang, dsb.
• Sidik jari  sulit dilakukan karena sudah terurai
• Sidik gigi  seharusnya pemeriksaan gigi,
tidak ada kata sidik
• Pakaian  bobot lebih rendah daripada data medik
• Superimposisi wajah  tidak tercantum dalam metode
identifikasi
• Keterangan keluarga  bukan data primer
Jadi, jawabannya adalah:
D. Data Medik
192. C. Forniks Posterior
Kasus:
• Ditemukan mayat seorang wanita  polisi
suspek wanita ini diperkosa sebelum dibunuh.

Darimana dokter harus mengambil sampel


untuk pemeriksaan persetubuhan?
Pemeriksaan Persetubuhan
• Sperma dalam vagina  post-koitus
– Masih bergerak dalam waktu 4 – 5 jam
– Masih bisa ditemukan tidak bergerak sampai 24-36 jam
– Bila korban perempuan meninggal  masih bisa ditemukan 7-8 hari

• Pemeriksaan persetubuhan:
– Penentuan ada cairan mani dalam labia minor/ vagina diambil dari forniks
posterior
– Adanya ejakulasi pada persetubuhan atau perbuatan cabul melalui
penentuan adanya cairan mani pada pakaian, seprai, kertas tissue, dsb.

• Teknik pengambilan lendir vagina  swab atau pipet pasteur


• Spekulum -> forniks posterior
• Anak-anak/ selaput darah masih utuh  dibatasi dari vestibulum saja.

Sumber: Ilmu Kedokteran Forensik, FKUI


Jadi, jawabannya adalah:
C. Forniks Posterior
193. B. Luka robek dengan
persentuhan benda tumpul
Keyword:
• Laki-laki, 23 tahun, luka terbuka di tangan kanan 
membawa surat permintaan VER.
• Hasil pemeriksaan: luka terbuka dengan tepi luka
tidak rata, sudut luka tumpul, sekitar luka memar.
• Jika dirapatkan, p = 9 cm, dalam luka = 3 cm.
Bagaimana penulisan diagnosis dan penyebab luka
dalam kesimpulan VER ?
Vulnus
• Vulnus Laceratum (Laserasi/Robek)
– Benda tumpul  tepi luka tidak rata
• Vulnus punctum (Tusuk)
– Runcing/taham  luka terbuka
• Vulnus Scissum (Sayat)
– Benda tajam/ jarum  tepi luka tajam, licin
• Vulnus Schlopetorum (Tembak)
– Tembakan, granat  pinggiran kehitaman, bisa tidak teratur, kadan
ketemu corpus alienum
• Vulnus Morsum (Gigitan)
– Gigitan binatang/manusia  tergantung bentuk gigi
• Vulnua Contussum (Kontusio)
– Benturan benda keras  luka tertutup; kerusakan soft tissue dan
ruptur PD (hematoma)
• Vulnus Ekskoriasi (Lecet)
– Kecelakaan/jatuh  luka terbuka; lecet  terbatas kulit saja
Sumber: Ilmu Kedokteran Forensik, FKUI
Jadi, jawabannya adalah:
B. Luka robek dengan persentuhan
benda tumpul
194. E. Cohort
• Seorang dokter ingin meneliti apakah
perkembangan motorik anak-anak di daerah
perkotaan lebih lambat daripada di daerah
pedesaan
• Waktu dan dana yang dimiliki cukup untuk
melakukan penelitian untuk subyek dalam
jumlah besar
Apakah desain penelitian yang paling tepat
digunakan?
Cohort
• Jenis penelitian observasional-analitik (non-eksperimental)
yang sering digunakan untuk mempelajari hubungan antara
faktor risiko dengan efek/penyakit
Prinsip studi:
• Kausa/faktor risiko diidentifikasi lebih dahulu,
• 2 kelompok subjek penelitian  1 kelompok dengan faktor
risiko/kausa; 1 kelompok tanpa faktor risiko/kaus
• Setiap subjek diikuti sampai periode waktu tertentu 
untuk melihat terjadinya efek/penyakit pada setiap
kelompok

(-) Mahal, membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding


desain studi observasional lainnya

Sumber: Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis


Analisa Soal
• Peneliti ingin membandingkan perkembangan
motorik (efek/penyakit) antara dua kelompok:
1) kelompok anak di perkotaan; dan 2)
kelompok anak di pedesaan (2 kelompok
dengan dan tanpa faktor risiko)
• Waktu dan dana yang dimiliki cukup untuk
melakukan penelitian untuk subyek dalam
jumlah besar  feasible untuk melakukan
cohort
Pilihan Lain
A. Cross-sectional  Tidak melihat hubungan
kausalitas. Dilakukan sewaktu  bila dana dan
waktu terbatas
B. Case control  membandingkan dua kelompok
pasien dengan penyakit dan tanpa penyakit
(Contoh: kelompok pasien dengan ca paru VS
kelompok pasien normal)  Tidak sesuai dengan
deskripsi desain studi pada soal
C. Case study  membahas suatu kasus spesifik
D. Case series  membahas beberapa kasus serupa
untuk menjawab satu pertanyaan klinis tertentu
Jadi, jawabannya adalah:
E. Cohort
195. B. 10/50
Keywords:
• Dari 1000 anak lahir hidup  25 terkena
infeksi sepsis neonatorum, 15 diantaranya
meninggal dunia.
• Sebelum usia 1 tahun  50 anak tersebut
yang terkena diare dan meninggal 10 anak.

Berapakah case fatality rate kasus diare?


Case Fatality Rate
JUMLAH KEMATIAN SUATU PENYAKIT TERTENTU
CASE FATALITY
RATE = JUMLAH TOTAL PENDERITA PENYAKIT TERSEBUT

• 50 anak terkena diare  TOTAL PENDERITA


DIARE
• 10 anak meninggal karena diare  JUMLAH
KEMATIAN DIARE
Jadi, jawabannya adalah:
B. 10/50
196. B. Peneliti melakukan kesalahan
maksimal 5% dan menolak H0
• Penelitian dengan hipotesis nol (H0) berupa
tidak ada hubungan antara pemberian ekstrak
kulit manggis terhadapt pertumbuhan kanker.
• Kemaknaan dipakai 5%.
• Dilakukan uji statistik untuk menerima atau
menolak hipotesis nol
Hal yang mungkin terjadi adalah ?
Jadi, jawabannya adalah:
B. Peneliti melakukan kesalahan
maksimal 5% dan menolak H0
197. D. Uji T Tidak berpasangan
• Variabel Bebas  asupan lemak (dikotom) =
skala kategorik nominal 2 kelompok
• Variabel terikat  kadar kolesterol (mg/dL) =
skala numerik rasio
2
KELOMPOK

NUMER T
VARIABEL IK UNPAIR
BEBAS

KATEGORIK
Jadi, jawabannya adalah:
D. Uji T Tidak berpasangan
198. B. Quota Sampling
• Sebuah kelompok mahasiswa kesehatan masyarakat
yang terdiri dari 60% mahasiswa pria dan 40%
mahasiswa perempuan
• Ingin diteliti dengan mengambil sampel dari mahasiswa
tersebut sebanyak 10 orang dengan pembagian 8 orang
perempuan dan 2 orang laki-laki.
• Sampel diambil tidak secara acak namun dengan
menggenapkan hingga jumlah sampel cukup.

Metode sampling yang digunakan dokter ini disebut?


TEKNIK PENGUMPULAN SAMPEL
(SAMPLING)

PROBABILITY NON-PROBABILITY
SAMPLING SAMPLING

CONVENIENT/ACCIDE
Memilih siapa sajah yang kebetulan ada
NTAL SAMPLING
(accesible)
CONSECUTIVE First come first chosen subject
SAMPLING
NON-PROBABILITY PURPOSIVE/
Subjek dipilih karena memenuhi karakteristik
SAMPLING JUDGMENTAL
SAMPLING yang diinginkan
• Subjek dipilih secara berantai
SNOWBALL
SAMPLING • Subjek terpilih selanjutnya memilih
subjek berikut
Jumlah subjek ditentukan sejak awal
QUOTA
(quota-based) mis: 50 orang dewasa
SAMPLING
Jadi, jawabannya adalah:
B. Quota Sampling
199. B. Uji T tidak berpasangan
Keywords:
• Penelitian  membandingkan efektifitas
kelambu dengan obat nyamuk oles terhadap
pencegahan penyakit DBD di empat kecamatan.
• Pencegahan penyakit DBD dinilai dengan tingkat
kejadian DBD kasus baru (insidens dalam
persen) selama 3 bulan.
• Hasil  kelambu lebih efektif dari pada obat
nyamuk oles.
Uji penelitian yang digunakan pada ilustrasi diatas
adalah…
Analisa Soal
VARIABEL TERGANTUNG
TIDAK
BERPASANG
AN

2
KELOMPOK

NUMERIK T unpair
VARIABEL
BEBAS

KATEGORIK/
NUMERIK

• Variabel independen: proteksi gigitan nyamuk (kelambu vs obat nyamuk


oles)  kategorik
• Variabel dependen: pencegahan penyakit DBD (berupa insidens dalam %)
 numerik
• Tidak berpasangan
• Uji statistik yang paling tepat: Uji T tidak berpasangan
Jadi, jawabannya adalah:
B. Uji T Tidak Berpasangan
200. A. 674/733
Baku Emas Total
(+) (-)
(+) 674
49 (b) 723
Uji Baru

(a)
(-) 59 1292
1351
(c) (d)
Total 733 1341 2074

Gold standar (+) dengan test


diagnostik baru (+)  kolom (a)
Gold standard (-) dengan test
diagnostik baru (+)  kolom (b)
Gold standard (+) dengan test • Sensitivitas: Formulasi:
diagnostik baru (-)  kolom (c) a/(a+c) = 132/211
Gold standard (-) dengan test • Jawaban: A. 674/733
diagnostik baru (-)  kolom (d)
Jadi, jawabannya adalah:
A. 674/733