Anda di halaman 1dari 18

TOKSIKOLOGI

Disusun Oleh:
Kelompok VII

Ade Ulfa Wulandari


Cut Riska Balqis
Deni Margunas
Jefriansyah
Ilham Amin
Ryan Firnanda
Sarah Nidia
Ryan Firnanda
Sarah Nidia
Susfarida
Via Ultima Fhonna
1. Pengertian Toksikologi

Studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia


terhadap organisme hidup.

Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan


dengan situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia
tertentu adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan
frekuensi pemaparan.

Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan


biasanya dibagi dalam empat kategori: akut, subakut, subkronik,
dan kronik.
2. Klasifikasi Bahan Toksikan
Bahan toksik dapat diklasifikasikan berdasarkan :

Organ tujuan : ginjal, hati, system hematopoitik, dll


Penggunaan : peptisida, pelarut, food additive, dll
Sumber : tumbuhan dan hewan
Efek yang ditimbulkan : kanker, mutasi, dll
Bentuk fisik : gas, cair, debu, dll
Label kegunaan : bahan peledak, oksidator, dll
Susunan kimia : amino aromatis, halogen, hidrokarbon
Potensi racun : organofosfat
3. Karakteristik Toksikologi
Respon terhadap bahan toksik tersebut antara lain tergantung
kepada sifat fisik dan kimia, situasi paparan, kerentanan sistem
biologis, sehingga bila ingin mengklasifiksikan toksisitas suatu bahan
harus mengetahui macam efek yang timbul dan dosis yang
dibutuhkan serta keterangan mengenai paparan dan sasarannya.

a. Efek Toksik didalam tubuh tergantung pada:


a) Reaksi Alergi : reaksi yang merugikan yang disebabkan oleh
bahan kimia atau toksikan karena peka terhadap bahan tersebut.
Reaksi alergi timbul pada dosis yang rendah sehingga kurve dosis
responnya jarang ditemukan.
b) Reaksi Ideosinkrasi : Merupakan reaksi abnormal secara genetis
akibat adanya bahan kimia atau bahan polutan.
c) Toksisitas cepat dan lambat: Toksisitas cepat merupakan
manifestasi yang segera timbul setelah pemberian bahan kimia
atau polutan. Sedangkan toksisitas lambat merupakan
manifestasi yang timbul akibat bahan kimia atau toksikan selang
beberapa waktu dari waktu timbul pemberian.
d) Toksisitas setempat dan sistemik

b. Respon Toksik tergantung pada:


a) Sifat kimia dan fisik dari bahan tersebut
b) Situasi pemaparan
c) Kerentanan sistem biologis dari subyek
c. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas :
a) Jalur masuk ke dalam tubuh : saluran pencernaan makanan,
saluran pernafasan, kulit, intra muskuler, intra dermal, dan sub
kutan
b) Jangka waktu dan frekuensi paparan : akut, sub akut, sub kronik,
kronik

4. Jalur waktu dan frekuensi pemaparan


Paparan akut apabila suatu paparan terjadi kurang dari 24 jam dan
jalan masuknya dapat melalui intravena dan injeksi subkutan.
Paparan sub akut terjadi apabila paparan terulang untuk waktu satu
bulan atau kurang, paparan sub kronis bila paparan terulang antara 1
sampai 3 bulan, dan paparan kronis apabila terulang lebih dari 3
bulan.
5. Ditribusi dan Ekresi Toksikan

1) Distribusi Toksikan
Setelah toksikan memasuki darah didistribusi dengan cepat
keseluruh tubuh maka laju distribusi diteruskan menuju ke setiap
organ tubuh. Mudah tidaknya zat kimia melewati dinding kapiler dan
membrane sel dari suatu jaringan ditentukan oleh aliran darah ke
organ tersebut. Bagian tubuh yang berhubungan dengan distribusi
toksikan :
a. Hati dan ginjal
b. Lemak
c. Tulang
2) Ekskresi Toksikan
Toksikan dapat dieliminasi dari tubuh melalui beberapa rute.
 Ginjal merupakan organ penting untuk mengeluarkan racun.
Beberap xenobiotik diubah terlebih dahulu menjadi bahan yang
larut dalam air sebelum dikeluarkan dalam tubuh.
 Hati dan sistem empedu, penting dalam ekskresi seperti Pb ;
 Paru dalam ekskresi gas seperti CO2.
 Toksikan yang dikeluarkan dari tubuh dapat ditemukan pada
keringat, air mata, air susu ibu (ASI), saluran pencernaan, cairan
serebrospinal, dan air liur
6. Pembagian Toksikologi Berdasarkan Jenis dan
Keadaan Saat Toksik Terjadi

a. Toksikologi Obat:
 Uji obat yang potensial terhadap toksisitas atau keamanannya
dalam fase pra-klinik
 Efek samping (yang tak diingini) dari obat, kombinasi obat dan
kosmetika pada penggunaan sesuai petunjuk
 Keracunan akut dan kronis pada penggunaan obat berlebih

b. Menguji bahan makanan (termasuk air minum) terhadap


kemungkinan adanya kandungan zat berbahaya. Misal, zat
warna, zat pengawet, zat pengikat, korigensia rasa, sisa
antibiotika, ion logam berat, zat pelindung tanaman.
c. Toksikologi Peptisida
Kebutuhan akan bahan makanan merupakan penyebab
penggunaan pestisida, yaitu senyawa anti gulma, nematosida,
rodentisida dan insektisida (pupuk buatan).

d. Toksikologi Industri
Semua jenis keracunan di industri yang berakibat antara lain
pada: penyakit kulit (eksim), saluran napas (pneumokoniosis).

e. Toksikologi Industri
pencemaran lingkungan menyebabkan bahaya toksik bagi
manusia. Pencemaran lingkungan terbagi menjadi :
 secara fisik : Peningkatan suhu air permukaan
 Secara kimia: bungkus plastik, merokok, kosmetik berlebihan,
pengharum ruangan, detergen
f. Toksikologi kecelakaan
Berhubungan dengan kecelakaan akibat racun atau
penyalanggunaan zat beracun, misal : keracunan bunuh diri

g. Toksikologi Perang
• senjata atom (nuklir) misal bom di Hiroshima dan Nagasaki
• biologi, misal pemakaian racun tanaman (zat perontok daun) untuk
keperluan militer
• kimia, misal penggunaan senyawa untuk menghentikan
demonstrasi (gas air mata)
• Toksikologi Penyinaran
7. Penanganan Keracunan (Umum)
Pertolongan pertama:
 menjaga agar fungsi vital seperti pernapasan dan sirkulasi tetap ada
 menghindari absorpsi racun lebih lanjut. Jika penyebab keracunan
diketahui dan mungkin dilakukan penanganan dengan antidot
tertentu (jika zat tersebut tersedia) harus segera diberikan
 mempercepat eliminasi racun yang sudah masuk ke dalam
organisme
 menormalkan kembali fungsi tubuh yang terganggu dengan
penanganan simptomatik
8. Metode Kontak Dengan Racun
 Tertelan
 Topikal (melalui kulit)
 Topikal (melalui mata)
 Inhalasi
 Injeksi

9. Efek Toksik
Sebelum suatu obat dapat digunakan untuk indikasi tertentu,
harus diketahui dulu efek apa yang akan terjadi terhadap semua
organ tubuh yang sehat. Jarang obat yang hanya mempunyai satu
jenis efek, hampir semua obat mempunyai efek tambahan dan
mampu mempengaruhi berbagai macam organ dan fungsi fital. Efek
yang menonjol, biasanya merupakan pegangan dalam menentukan
penggunaan, sedangkan perubahan lain merupakan efek samping
yang bahkan bisa menyebabkan toksik. Biasanya reaksi toksik
merupakan kelanjutan dari efek farmakodinamik. Karena itu, gejala
toksik merupakan efek farmakodinamik yang berlebihan.
10. Indek Terapeutik
Indek terapeutik adalah rasio antara dosis toksik dan dosis
efektif. Indek ini menggambarkan keamanan relatif sebuah obat pada
pengunaan biasa. Indeks terapeutik suatu dosis diperlukan, karena
terapi yang dijalankan dapat menimbulkan efek.

Obat yang mempunyai indek terapeutik lebar biasanya tidak


memerlukan pemantauan obat terapeutik. Pemantauan obat terapeutik
biasanya dilakukan pada obat yang mempunyai indek terapeutik
sempit. Tujuan dari pemantauan obat terapeutik adalah:
o Mengevaluasi kepatuhan klien terhadap terapi yang diberikan
o Untuk mengetahui apakah obat lain sudah mengubah konsentrasi
obat
o Untuk menentukan respon tidak efektif terhadap obat tertentu
o Untuk menentukan kadar obat dalam serum apabila dosis obat
diubah.
11. Penatalaksanaan Dan Implikasi Keperawatan

Seorang perawat dalam menangani kasus keracunan ini bisa


berperan dalam proses pengkajian, perencanaan, implementasi
sampai evaluasi. Pada pengelolaan pasien keracunan yang paling
penting adalah penilaian klinis, meskipun sebab keracunan belum
diketahui.
Rencana tindakan untuk pasien keracunan meliputi:
1) Stabilisasi
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan singkat, dengan penekanan
pada wilayah-wilayah yang mungkin memberi petunjuk ke arah
diagnosis toksikologi, meliputi: tanda-tanda vital, mata, mulut, kulit,
abdomen sistem saraf
2) Riwayat Umum
3) Identifikasi keberadaan sindrom toksik
Penatalaksanaan

1. Penatanlaksanaan Umum
 Pemajanan okuler
 Pemajanan dermal
 Pemajanan inhalasi
 Ingesti

2. Penatalaksanaan Tingkat Lanjut


 Emetik
 Lavage lambung
 Adsorben
 Katartik
 Peningkatan Eliminasi
Pemantauan Pasien Keracunan
1. Elektrokardiografi ( EKG )
2. Radiologi
3. Analisa gas darah, elektrolit dan pemeriksaan labolaturium lain
4. Tes fungsi ginjal
5. Skrin toksikologi
Thanks for your attentions
any questions?