Anda di halaman 1dari 106

Anatomi dan Fisiologi

Tenggorokan

ERINA NUR MAHMUDAH


2017-094
F-29
Rongga Mulut
ANATOMI FARING
Faring

Superior • Rongga hidung

Inferior • Esofagus

Anterior • Rongga mulut

Posterior • Vertebra
Servikalis
FARING

Faring berjalan dari dasar tengkorak ke bawah


setinggi C6.
Terdiri dari 3 bagian :

1. Nasofaring (Esofaring)

2. Orofaring (Mesofaring)

3. Hipofaring (Laringofaring)
Batas-batas
- NASOFARING (EPIFARING)
atas : basis kranii
bawah : palatum mole
belakang : vertebra servikalis
depan : koana(batas dengan cavum nasi)
• Nasofaring orofaring : dibatasi oleh
bidang horizontal melalui arkus faring

• Orofaring Hipofaring : dibatasi oleh


bidang horizontal melalui tepi atas epiglotis
- OROFARING (MESOFARING)
dasar : radiks lingua
belakang : vertebra servikalis
depan : istmus faucium

batas faring dan cavum oris (rongga mulut)

Pada istmus faucium


▫ arkus palatoglosus/anterior ~ m. palatoglosus
▫ arkus palatofaring/posterior ~ m. palatofaring

di antara kedua arkus fossa tonsilaris tempat tonsil palatina


Bangunan pada Orofaring
Ar
k
m us
pa an
lat ter
og ior
los d
su ibe
s nt
uk
ol
eh

Ar
ol kus
eh p
m ost
p a e ri
la or
to
ph terb
a r en
Tonsila Palatina yn tu
ge k
us
- HIPOFARING (LARINGOFARING)
atas : tepi atas epiglotis
bawah : introitus esofagus
belakang : vertebra servikalis
depan : laring
Bangunan Pada Laringofaring
Cont
• Arteri
 Cabang a. karotis eksterna (cabang a. pharyngea
ascendens dan a. facialis)
 Cabang a. maksila interna (cabang a. palatina superior)

• Vena
superior  plexus pterigoid, inferior  vena jugularis interna

• Inervasi
Pleksus Faring yg berasal dari :
- n. vagus (N. X)
- n. glosofaringeus (N.IX)
- Serabut simpatis
TONSIL

- Tonsil termasuk sistema retikulo endotelial


- Ada 3 masam tonsil :

• Tonsil faring di nasofaring (adenoid)


• Tonsil palatina di kanan dan kiri orofaring
(pada fosa tonsil)
• Tonsil lingua ada 2 biji yang letaknya
berdekatan satu sama lain
dipangkal lidah
- Tonsila Palatina (Amandel)
 Terletak pada fosa tonsil, yang terletak antara plika anterior dan plika
posterior
 Tonsil mempunyai lekukan yang disebut kripta dan trabekula
 Pada kripte sering terisi detritus, yang berisi epitil, limfosit, bakteri dan
sisa makanan
- Tonsil Faring / Adenoid
 Terletak di nasofaring, melekat pada dasar tengkorak.
 Dibandingkan tonsil palatina kripte adenois lebih sedikit. Permukaan
adenoid terdiri dari epitel yang mengikat.
- Tonsil Lingua

Tonsila
Lingualis
Ketiga macam tonsil ini satu sama lain dihubungkan oleh jaringan
limfe, sehingga membentuk suatu lingkaran mengelilingi lumen
yang disebut
Waldeyer’s ring

• Pertahanan terhadap
kuman patogen
• Penghasil antibodi
spesifik (Ig)
• Penghasil limfosit
• Berperan terhadap
proses imunologis
FISIOLOGI FARING
Faring merupakan persimpangan jalan proses menelan & pernafasan.
Dimana dilalui udara dari hidung ke laring dan makanan dari rongga
mulut ke esofagus.

Fungsi faring terutama untuk pernafasan, menelan, resonansi suara


dan artikulasi.

Proses menelan :
1. Fase oral volunter (sadar / disengaja)
2. Fase faringeal involunter / reflek
3. Fase esofageal
Dalam keadaan istirahat sfingter esofagus bagian
bawah akan tertutup dg tekanan rata-rata 8 mmHg
> tekanan di dlm lambung.

Pada akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka


secara refleks ketika dimulainya peristaltik esofagus
servikal u/ mendorong bolus makanan ke distal

Selanjutnya setelah bolus makanan lewat,


makasfingter akan menutup kembali
1. Fase oral
• Terjadi secara sadar
Makanan yg telah dikunyah dan
bercampur dengan liur makanan akan
membentuk bolus makanan

Bolus bergerak dari rongga mulut melalui


dorsum lidah, terletak di tengah lidah akibat
kontraki otot instriksik lidah
Kontraksi m. levator veli palatini mengakibatkan rongga
pada lekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole
terangkat dan bagian atas dinding posterior faring
(Passavant’s ridge) terangkat pula

Karena lidah terangakat ke atas, sehingga bolus akan


terdorong ke posterior

Bersamaan dengan ini terjadi penutupan nasofaring


sebagai akibat kontraksi m. levator veli palatini

Selanjutnya terjadi kontraksi m. palatoglosus yang


menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti oleh
kontraksi m. palatofaring, sehingga bolus makanan tidak
akan berbalik ke rongga mulut
2. Fase faringal
Terjadi secara refleks pada fase oral, yaitu
perpindahan bolus makanan dari faring ke esofagus.

Faring dan laring bergerak ke atas oleh kontraksi m.


stilofaring, m. salfingofaring, m. tirohioid, dan m.
palatofaring

Aditus laring tertutup oleh epiglotis, sedangkan


ketiga sfingter laring, yaitu plika ariepiglotika, plika
ventirkularis dan plika vokalis tertutup karena
kontraksi m. ariepiglotika dan m. aritenoid obliqus
Bersamaan dengan ini terjadi juga penghentian
aliran udara ke laring karena refleks yang
menghambat pernapasan

Sehingga bolus makanan tidak akan masuk ke


dalam saluran napas

Selanjutnya bolus makanan akan meluncur ke arah


esofagus, karena valekula dan sinus piriformis
sudah dalam keadaan lurus
3. Fase esofageal
fase perpindahan bolus makanan dari esofagus ke
lambung.

Dalam keadaan istirahat introitus esofagus selalu


tertutup

Karena ada rangsangan bolus makanan pada akhir fase


faringeal, maka akan terjadi relaksasi m. krikofaring

Sehingga introitus esofagus terbuka dan bolus


makanan masuk ke dalam esofagus.
Setelah bolus makanan lewat, maka sfingter akan
berkontraksi lebih kuat, melebihi tonus introitus
esofagus pada waktu istirahat

Sehingga makanan tidak akan kembali ke faring.


Refluks dapat dihindari

Adanya kontraksi dari m.konstriktor faring inferior


pada akhir fase faringeal, mempengaruhi gerakan
bolus di bagian esofagus atas

Selanjutnya bolus makanan akan didorong ke distal


oelh gerakan peristaltik esofagus
ANATOMI LARING
Laring
BAGIAN-BAGIAN LARING
• korda vokalis
• plika ventrikularis
• epiglotis
• komisura anterior
• komisura posterior
• plika ariepiglotika
• fosa piriformis
• kartilago aritenoid
• dinding belakang faring
• radiks linguae
• sinus Morgagni
• konus elastikus
Batas-batas Laring
Laring mempunyai bentuk sebagai piramid segitiga dengan puncak
dibawah yaitu kartilago krikoid

Dibentuk oleh kerangka yang terdiri dari tulang rawan (kartilago)


dan jaringan lunak sebagai pembungkus

Kerangka tulang rawan 9 biji, 4 biji sebagai kerangka pokok dan 5


biji merupakan kerangka tambahan atau penyokong, jaringan lunak
pembungkus terdiri atas mukosa, otot-otot, pembuluh darah, saraf
dan lain-lain.
KARTILAGO

LARING LIGAMENTUM

OTOT-OTOT
Kartilago
- Kartilago epiglotis

- TR elastis yang berbentuk seperti sendok. Tepi bebas epiglotis mencapai setinggi
pertengahan pangkal lidah.
- Kartilago tiroid
- 2 lembar TR hialin, dibagian depan membentuk sudut (dari luar kelihatan
menonjol) disebut Eminentia laring atau Adam’s Apple atau Jakun.
- Antara os hioid dan kartilago tiroid bagian atas terdapat membran tirohioid
- Sedangkan tepi bawa kartilago tiroid dan kartilago krikoid terdapat membran
krikotiroid atau ligamnetum konikum
- Kartilago krikoid
 Berbentuk cincin dengan bagian belakang sedikit datar
 Kartilago aritenoid
 Suatu kartilago kecil yang berbentuk seperti piramid duduk pada kartilago krikoid
sebagai sendi berputar.
PERSENDIAN
Ligamentum
Faring

Ligamentum
ekstrinsik :

• Membran tirohioid
• Ligamentum tirohioid
• Ligamentum
tiroepiglotis
• Ligamentum
hioepiglotis
• Ligamentum
kriotrakeal
Ligamentum intrinsik :
• Membran quadrangularis
• Ligamentum vestibular
• Konus elastikus
• Ligamentum krikotiroid media
• Ligamentum vokalis
Otot – Otot Laring
* Otot Ekstrinsik
1. Otot-otot suprahioid
- M. Stilohioideus
- M. Geniohioideus
- M. Genioglosus
- M. Miohioideus
- M. Digastrikus
- M. Hioglosus

2. Otot-otot infrahioid
- M. Omohioideus
- M. Sternohioideus
- M. Tirohioideus
* Otot Intrinsik
1. Otot-otot adduktor :
– Mm. Interaritenoideus transversal dan oblik
– M. Krikotiroideus
– M. Krikotiroideus lateral
Berfungsi untuk menutup pita suara.

2. Otot-otot abduktor :
– M. Krikoaritenoideus posterior
Berfungsi untuk membuka pita suara.

3. Otot-otot tensor :
 Tensor Internus : M. Tiroaritenoideus dan M. Vokalis
Tensor Eksternus : M. Krikotiroideus
Mempunyai fungsi untuk menegangkan pita suara.
OTOT-OTOT LARING
Otot laring dikelompokkan menjadi 2 :
1. Otot Ektrinsik untuk menaik-turunkan laring waktu menelan
2. Otot Intrinsik untuk fonasi atau untuk bersuara

Otot Ektrinsik

 Suprahioid
 Diatas os hioid, berfungsi menarik laring kebawah

 Infrahioid
 Dibwh os hioid, berfungsi menarik laring keatas
Otot Intrinsik

 Gol. adduktor (5 pasang)  menggerakkan KV ke media

 Gol. abduktor (sepasang)  menggerakkan KV ke lateral


Muskulus ekstrinsik
• Suprahioid (diatas os hioid, berfungsi menarik laring kebawah)

1. m. digastrikus
2. m. geniohioid
3. m. stilohioid
4. m. milohioid
• Infrahioid (dibwh os hioid, berfungsi menarik laring keatas)

1. m. sternohioid
2. m. omohiod
3. m. tirohioid
Muskulus Intrinsik
Berfungsi untuk menggerakkan pita suara :
 gol. adduktor (5 pasang)  menggerakkan KV ke medial

1. m. krikoaritenoid lateral (d/s)

2. m. tireoaritenoid (d/s) = m. vokalis

3. m. krikotiroid

4. m. interaritenoid oblikus (2 bersilang)

5. m. interaritenoid transversus (tunggal)


 gol. abduktor (sepasang)  menggerakkan KV ke lateral
1. m krikoaritenoid posterior
PERSARAFAN

Laring dipersarafi oleh


cabang N. Vagus yaitu
- Nn. Laringeus
Superior (Cabang
interna dan eksterna)
- Nn. Laringeus
Inferior (Nn.
Laringeus Rekuren)
kiri dan kanan.
INERVASI LARING
1. N. Laringis superior
Merupakan cabang N. Vagus (X), mempunyai sifat :
- motoris untuk menginervasi m. krikotiroid
- sensibel memelihara mukosa laring bagian atas
2. N. Laring inferior atau n. Rekuren laring inferior
- merupakan cabang N. Vagus (X) di leher bagian bawah
- kanan kiri dipercabangkan setinggi a. subklavia
- sebelah kanan terus naik ke atas berjalan dibelakang trakea sebelah lateral dan di
depan esofagus (antara takea dan esofagus)
- sebelah kiri dari percabangan setinggi a. subklavia berjalan ke bawah menyilang di
sebelah lateral depan arkus aorta, kemudian di lateral kiri jantung membelok ke atas
berjalan antara trakea dan esofagus
- setinggi kavum lateral masuk ke dalam laring pecah menjadi 2 yaitu ramus anterior
dan ramus posterior
VASKULARISASI
Sistem Arteri
Laring
• Laring mendapat
perdarahan dari cabang
A. Tiroidea Superior dan
Inferior

A. Laringeus Superior
dan Inferior.
Sistem Vena Laring
Darah vena dialirkan
melalui V.Laringeus
Superior & Inferior

V. Tiroidea Superior &
Inferior

V.Jugularis Interna
Kelenjar limfe
FISIOLOGI LARING
Laring mempunyai 3 fungsi utama :
1. Proteksi jalan nafas
2. Respirasi
3. Fonasi
1. Proteksi Jalan Nafas
Aditus laringis sendiri tertutup oleh kerja sfingter dari otot
tiroaritenoideus dalam plika ariepiglotika dan korda vokalis
palsu, di samping aduksi korda vokalis sejati dan aritenoid yang
ditimbulkan oleh otot intrinsik laring lainnya. Elevasi laring di
bawah pangkal lidah melindungi laring lebih lanjut dengan
mendorong epiglotis dan plika ariepiglotika ke bawah aditus.
Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral, menjauhi aditus
laringis dan masuk ke sinus piriformiss, selanjutnya ke introitus
esofagus.
Proteksi
• Untuk mencegah makanan dan benda asing masuk ke
dalam trakea
• Caranya: dengan jalan menutup aditus laring dan rima
glotis secara bersamaan
Kontraksi otot-otot ekstrinsik laring  pengangkatan
laring keatas

Penutupan aditus laring

Kartilago aritenoid bergerak ke depan (kontraksi
m.tiroaritenoid & m.aritenoid) & m. ariepiglotika
berfungsi sebagai sfingter.
Penutupan rima glotis

Karena aduksi plika vokalis

Kartilago aritenoid kiri dan kanan mendekat


karena aduksi otot- otot intrinsik
2. Alat Fonasi
Membentuk suara, dan untuk mendapatkan suara yang baik
selain udara cukup, perlu juga ketegangan plika vokalis, fibrasi
plika vokalis dan pendekatan plika vokalis

Korda vokalis bergetar akibat udara yang


dipaksa antara korda vokalis sebagai
akibat dari kontraksi otot ekspirasi. Otot
intrinsik laring dan krikotiroideus
berperan dalam pengaturan nada.
Fonasi
• f/ laring sbg fonasi : dengan membuat suara serta
menentukan tinggi rendahnya nada

Ketegangan plika vokalis

Plika vokalis aduksi


( m.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke
bawah & ke depan, menjauhi kartilago aritenoid)
bersamaan ( m. krikoaritenoid posterior akan
menahan atau menarik kartilago aritenoid ke
belakang)
Sebaliknya kontraksi m. krioaritenoid akan
mendorong kartilago arotenoid ke depan sehingga
plika vokalis akan mengendor

Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan


menentukan tinggi rendahnya nada
TEKNIK PEMERIKSAAN TENGGOROKAN

PEMERIKSAAN TENGGOROKAN
FARINGOSKOPI
Alat yang digunakan :
-Lampu kepala

Inspeksi, perhatikan:
- Ptialismus, trismus
- Gerakan bibir dan sudut mulut (N.VII)
- Mukosa dan ginggiva atau geraham rusak  sinusitis
maksilaris (caries gigi P2, P1, M1, M2, M3)
- Lidah  paresa N. XII, atrofi, tumor malignant
- Palatum durum (torus palatinus), prosesus alveolaris
bengkak  radang atau tumor sinus maksilari
Palpasi :
- Bila ditemukan ulkus di lidah  karsinoma
Perkusi :
- Gigi dan geraham rasa sakit  radang
Alat-alat pemeriksaan tonsil dan faring
• spatel

• Lampu kepala
Tonsil dan Faring
Teknik pemeriksaan:

1. Atur tempat duduk

2. Mulut dibuka lebar-lebar, lidah tarik ke dalam,


dilunakkan, lidah ditekan ke bawah,dibagian medial.
 Penderita disuruh bernapas:
- tidak boleh menahan napas
- tidak boleh napas keras-keras
- tidak boleh ekspirasi atau mengucap “ch”
 Lidah ditekan dengan spatel anterior tonsil
a. Memeriksa besar tonsil
Penentuan besar tonsil:
T0 : tonsil dalam fosa tonsil atau telah
diangkat
T1 : besarnya ¼ arkus anterior – uvula
T2 : besarnya ½ arkus anterior – uvula
T3 : besarnya ¾ arkus anterior – uvula
T4 : besarnya mencapai uvula atau
lebih
b. Memeriksa mobilitas tonsil
Digunakan 2 spatula
Spatula 1: letakkan diatas lidah anterior tonsil
(paramedian)
Spatula 2: posisi ujungnya vertikal
menekan jaringan peritonsil,
sedikit lateral dari arkus anterior

fiksasi  tumor tonsil


Mobile, nyeri  tonsilitis kronik
c. Memeriksa patologi tonsil dan palatum
mole
Perhatikan patologinya:
• semua merah, titik putih pada tonsil  tonsilitis akut
• arkus anterior merah  tonsilitis kronik
• nyeri penekanan  aftae
• isthmus faucium kecil, tonsil terdesak ke medial,
sekitar tonsil oedem dan hiperemi, uvula terdesak heterolateral,
oedem  abses peritonsil
• pseudomembran warna kotor, bila diangkat mudah berdarah,
bull neck  difteri
• tonsil keras, terfiksasi  tumor tonsil
• duri, tulang  korpus alienum
• Tonsil normal

• Tonsilitis kronis

• Peritonsiler abses
Tonsilitis difteri
Ca tonsil
d. Memeriksa patologi faring

 Faringitis akut  mukosa faring oedem, hiperemis


 Faringtis kronik  granulae hiperemi
 Aftae  nyeri penekanan
 Difteri  sakit tenggorokan, demam tinggi dan
kesulitan bernapas dengan selaput berwarna abu-abu
yang melapisi bagian belakang dari tenggorokan
sehingga menutup saluran nafas
 ulkus sifilis  penyakit menular seksual disebabkan oleh
troponema pallidum
 Sikatriks  penonjolan kulit akibat penumpukan jaringan
fibrosa
 korpus alienum  benda asing
e. Memeriksa Paresis Palatum Mole
• Normal
saat istirahat : uvula menunjuk ke bawah, konkavitas
palatum mole simetris ucapkan “aa, ee” : bergerak-gerak,
dan tetap simetris

• Paresis bilateral
istirahat : seperti normal ucapkan “aaa, eee” : mungkin
uvula sedikit bergerak
• Paresis unilateral
istirahat : seperti normal
ucapkan “aaa, eee” : palatum mole terangkat ke sisi sehat,
uvula miring, menunjuk ke sisi sehat, konkavitas asimetris
 tumor nasofaring, paresa N. X
f. Memeriksa Paresis Faring

• Normal
saat faring disentuh spatula  refleks muntah (+)

• Paresis bilateral
tumpukan air ludah saat faring disentuh spatula 
refleks muntah (- )

• Paresis unilateral
saat faring disentuh spatula  gerakan coulisse
Pemeriksaan Laring
Pemeriksaan laring terdiri dari:
- Pemeriksaan luar : inspeksi, palpasi
- Laringoskopi indirek : cermin laring
- Laringoskopi direk : laringoskop rigid/ fiber optik
- Pemeriksaan kelenjar leher
- Pemeriksaan X – foto rontgen
Pemeriksaan luar
Inspeksi : warna dan keutuhan kulit, benjolan
daerah leher sekitar laring

Palpasi : - mengenal bagian kerangka laring dan


cincin trakea
- adakah oedem, struma, kista, metastase
- laring normal  mudah digerakkan
kanan kiri oleh pemeriksa
Laringoskopi direkta
Maksud : melihat laring secara langsung tanpa
bantuan
cermin tetapi dngan prantara alat yaitu
laringoskop
Macam-macam laringoskop :
1. Laringoskop kaku
- Penderita di tidurkan di atas meja pemeriksaan
- Pemeriksaan baru dapat dimulai kira-kira 10 menit
setelah kedalam faring dan laring di teteskan
tetralkain 1% (masing-ming 10 tetes)
- Pipa di masukkan sampai kedalam introitus laringis.
2. Laringoskop fiber
3. Mikrolaringoskop dengan memakai mikroskop
- Penderita berbaring, posisi kepala di depan pemeriksa
- Bagian kanan penderita adalah bagian kanan penderita
Laringoskopi indirek
Maksud : melihat laring tidak langsung dengan bantuan
cermin yang disinari dengan cahaya
Syarat :
- terdapat jalan lebar untuk cahaya yang dipantulkan cermin dari
faring ke laring
 lidah dikeluarkan  radiks lingua ke ventral
- tempat yang luas buat cermin, tidak tertutup uvula.
 penderita bernapas lewat mulut  uvula bergerak
ke atas menutup jalan nasofaring
Alat yang dipergunakan:
- Sumber cahaya : Lampu kepala

- Cermin laringoskop

- Kasa

- Lampu spiritus
Bahan:
- Tetrakain 1 % (untuk anastesi biar tidak merasa mual )
Cara pemeriksaan laringoskopi indirect

• Penderita duduk tegak, pinggang membungkuk ke


depan, kepala sedikit tengadah
• Penderita membuka mulut dan menjulurkan lidah
• Lidah dipegang optimal dan dipertahankan dengan
jari tengah kiri menggunakan kasa
• Cermin dihangatkan diatas lampu spiritus atau alat lainnya,
suhu diperiksa pada punggung tangan pemeriksa sebelum
digunakan
• Pasien bernafas melalui mulut agar uvula menutup nasofaring
• Cermin laring ditempatkan di depan palatum mole dan
diangkat ke atas sehingga tidak menyentuh lidah dan faring
posterior maka akan tampak pandangan hipofaring dan laring
• Penderita diminta untuk mengucap e e e, tindakan ini diulang
beberapa kali untuk melihat gerakan pita suara.
7/9/18
Perhatikan patologi laring :
- radang : semua merah  laringitis akut
- ulkus : pada komisura posterior, korda vokalis
 laringitis TBC
- oedem : radang, alergi, tumor
- cairan : sputum hemoragis  TBC, keganasan
- tumor : benigna  papiloma, polip, nodul, kista
maligna  karsinoma

Perhatikan pergerakan korda vokalis:


- normal  simetris, gerakan abduksi dan adduksi
- tidak bergerak  paresa unilateral/ bilateral
X-Foto Rontgen

Indikasi untuk membuat x-foto:


• Fraktur laring
• Karsinoma laring:
- untuk melihat pasage yang masih ada
- untuk melihat luasnya tumor
Macam-macam pemeriksaan:
- foto leher PA / lateral soft tissue
- laringogram dengan menggunakan kontras
- tomogram