Anda di halaman 1dari 29

DISKUSI TOPIK

PSIKOFARMAKA
ANTIPSIKOTIK dan
MOOD STABILIZER
PEMBIMBING :
dr. lollytha C. Simanjuntak, Sp.KJ

DISUSUN OLEH :
Putri Anggana Dewi
I11111078
• Penggunaan psikofarmaka bertujuan untuk mengubah
dan mengendalikan proses abnormal yang terjadi di
susunan saraf pusat seperti gangguan dalam proses
pikir, perasaan, fungsi motorik, dan perilaku.
Berdasarkan sasarannya, psikofarmaka dibedakan atas
empat kelompok utama, yaitu
– Antipsikotik
– Antianxietas
– Antidepresan
– Antimanik (mood stabilizer)
OBAT ANTIPSIKOTIK
Antipsikotik

Adalah antagonis dopamin dan menyekat reseptor


dopamin dalam berbagai jaras di otak

Antipsikotik diberikan pada gangguan psikotik dangan


berbagai etiologi, misalnya skizofrenia, skizoafektif,
gangguan otak organik dangan gejala psikotik, gangguan
bipolar dan depresi mayor dengan gejala psikotik, serta
sindrome tourette.

Penggunaan obat ini mempunyai beberapa tujuan yaitu


Menangani gejala akut
Mempercepat timbulnya remisi dari gejala eksaserbasi akut
Mejaga efek klinis obat dalam satu periode waktu (pemeliharaan)
Mencegah terjadinya kekambuhan
Obat-obat anti psikotik ini terbagi atas dua
golongan besar, yaitu :

Obat antipsikotik tipikal / generasi I


Adalah inhibitor kompetitif pada berbagai
reseptor, efek anti psikotiknya  penghambatan
kompetitif dari reseptor dopamin.

Obat antipsikotik atipikal / generasi II


lebih baru, disamping berafinitas terhadap
‘Dopamine D2 Receptors’ juga terhadap
‘Serotonin 5 HT2 Receptors’.
Obat anti psikotik tipikal

1. Phenothiazine
Rantai aliphatic : CHLORPROMAZINE
LEVOMEPROMAZINE
Rantai piperazine : PERPHENAZINE
TRIFLUOPERAZINE
FLUPHENAZINE
Rantai piperidine THIORIDAZINE
2. Butyrophenone : HALOPERIDOL

3. Diphenyl-butyl-piperidine : PIMOZIDE
Obat anti psikotik atipikal

1. Benzamide : SULPIRIDE

2. Dibenzodiazepine : CLOZAPINE
: OLANZAPINE
: QUETIAPINE

3. Benzisoxazole :RISPERIDON
MEKANISME KERJA ANTIPSIKOTIK TIPIKAL

Sistem limbik
Memblokade
dopamin

Sistem ekstrapiramidal

mengurangi produksi dopamine yang berlebihan


dengan cara menghambat atau mencegah
dopamine endogen untuk mengaktivasi reseptor.
MEKANISME KERJA ANTI PSIKOTIK ATIPIKAL

Mengikat reseptor dopamin secara


bervariasi

Menghambat reseptor serotonin


Efek samping
Antipsikotik generasi I

Tardive Neuroleptic
Distonia akut : dyskinesia : malignant
merupakan spasme Berupa gejala syndrome :
otot yang dapat parkinsonisme
gerakan Berupa hipertermi,
bersifat sementara :
motorik rigiditas otot,
ataupun permanen, Berupa rigiditas,
Akatisia : abnormal yang abnormalitas sistem
gejalanya berupa bradikinesia,
Pasien tidak saraf otonom,
epistotonus, rigiditas tremor, muka
cenderung ingin terkoordinasi, penurunan
oto punggung, krisis topeng, gerakan
bergerak dan seperti gerakan kesadaran,
okulogirik, spasme seperti robot,
tampak gelisah mengecap, peningkatan enzim
otot muka, refleks glabella
mengerutkan transaminase hati,
makroglosia, protrusi positif
wajah, kreatin fosfokinase,
lidah, dan distonia meringis, leukosistosis,
laring menggeliatkan mioglobinemia,
badan mioglobinuria, dan
gagal ginjal akut
Antipsikotik
generasi II
Efek ekstrapiramidal lebih rendah karena blokade reseptor dopamin yang
minim

Aripiprazol Klozapin
Gejala ekstrapiramidal Granulositopenia, kejang,
(terutama akatisia), pingsan, hipertensi,
sakit kepala, agitasi, aritmia, miokarditis, retensi
ansietas, mual, urin priapismus, NMS,
Risperidon rigiditas, tremor, akatisia
insomnia
Peningkatan BB,
EPS, hipotensi
Quetiapine
Olanzapin
Peningkatan BB,
Gejala ekstrapiramidal
sedasi, hipotensi
(minim), penambahan
ortostatik, takikardi,
berat badan, sedasi,
risiko efek samping
peningkatan enzim
ekstra piramidal
hati
minimal
MOOD STABILIZER
• Mood stabilizer
 adalah obat yang berfungsi untuk
memepertahankan stabilitas suasana perasaan,
terutama mencegah munculnya kondisi manik
pada gangguan bipolar.
• Bipolar disorder
suatu kelainan di mana munculnya episode
peningkatan mood (mania/hipomania), fungsi kognitif
dan enerjik dengan atau tanpa suatu atau lebih episode
depresi.
• Antara episode mania dan depresi dapat diselingi
mood normal, walau pada keadaan tertentu antara
mania dan depresi dapat berubah-ubah (alternating)
dengan cepat.
Jenis jenis mood stabilizer
• Lithium
• Anticonvulsan
– Asam valproat
– carbamazepin
• Antipsikotik
– Klasik (haloperidol)
– Novel (clozapine, olanzapine)
Lithium
• Litium terdiri dari litium karbonat dan litium
sitrat.
• Litium karbonat adalah jenis garam litium
yang paling sering digunakan untuk
mengatasi gangguan bipolar, menyusul
kemudian litium sitrat.
Mekanisme kerja
Efek pada neurotransmitter, diperkirakan
litium menurunkan pengeluaran
norepinefrin dan dopamin,

menghambat supersensitivitas
dopamin, juga meningkatkan sintesis
asetilkolin

Efek pada second messengers, yakni


litium menghambat konversi IP2
menjadi IP1 (inositol monofosfat) dan
konversi IP menjadi inositol
Efek samping
Efek samping
 Efek samping yang terjadi terutama pada
saraf yaitu tremor, koreatetosis,
hiperaktivitas motorik, ataksia, disartria,
dan afasia.
 Litium juga dapat menurunkan fungsi
tiroid, tetapi biasanya efek ini bersifat
reversibel. Di anjurkan pemeriksaan TSH
tiap 6-12 bulan selama penggunaan.
 Pada ginjal, litium dapat menyebabkan
nefrogenik diabetes insipidus yang
menyebabkan polidipsi dan poliuria, selain
itu juga dapat menyebabkan nefritis
interstisial kronik dan glumerulopati
minimal.
 Pasien yang mendapat litium harus
menghindari keadaan dehidrasi karena
dapat meningkatkan nefrotoksisitasnya.
Asam valproat
Farmakodinamik
 Asam valproat selain sebagai antiepilepsi juga
menunjukkan efek antimania.
 Efikasinya pada minggu pertama pengobatan
seperti litium, tetapi asam valproat ternyata efektif
untuk pasien yang gagal dengan terapi litium.
Farmakokinetik
 Pemberian valproat peroral cepat
diabsorpsi dan kadar maksimal serum
tercapai setelah 1-3 jam.
 Bersifat asam dan masa paruh 8-10 jam,
kadar darah stabil setelah 48 jam terapi,
70% dari dosis asam valproat diekskresi di
urin dalam 24 jam.
Efek samping :
 Efek samping tersering adalah: mual.
 Efek pada SSP berupa kantuk, ataksia,
tremor.
 Toksisitas valproat berupa ganggan
saluran cerna, sistem saraf, hati, ruam
kulit, dan alopesia.
Karbamazepin

Farmakodinamik
Karbamazepin selain sebagai
antiepilepsi juga menunjukkan efek
nyata pada perbaikan psikis yaitu
perbaikan kewaspadaan dan perasaan,
sehingga dipakai juga untuk mengobati
kelainan psikiatri seperti mania/bipolar.
Karbamazepin diduga bekerja
dengan menstabilisasi kanal
sodium pada neuron sehingga
menjadi kurang dapat tereksitasi.
Karbamazepin juga mempotensiasi
reseptor GABA pada subunit α1, β2
dan γ2.
Farmakokinetik

•Karbamazepin memiliki bioavailabilitas


80% dengan ikatan protein 76%.

•Karbamazepin dimetabolisme oleh enzim


CYP3A4 hati menghasilkan metabolit aktif
epoxide (karbamazepine 10,11 epoxide).
Waktu paruh 25-65 jam dan
ekskresi melalui urine.
Karbamazepin menurunkan kadar
asam valproat, fenobarbital, dan
fenitoin.
Pusing Vertigo Ataksia

penglihatan
diplopia
kabur
 Efek samping lainnya berupa mual, muntah,
anemia aplastik, agranulositosis, dan reaksi alergi
berupa dermatitis, eosinofilia, limfadenopati, dan
splenomegali.
 Gejala intoksikasi akut dapat berupa stupor/koma,
iritabel, kejang dan depresi napas.