Anda di halaman 1dari 67

ADAPTASI SELULER,

CEDERA SEL & KEMATIAN


SEL

dr. Hj. Lismawati.R,


M.Biomed, SpPA
• Disiplin ilmu menjembatani klinisi &
ilmu dasar
Patolog • Mencakup penelitian ttg :
i perubahan struktural & fungsional
pada sel, jaringan & organ yang
menyebabkan munculnya penyakit

• Etiologi
4 aspek • Patogenesis
proses • Perubahan morfologi
penyakit • Manifestasi klinis
RESPON SELULER TERHADAP STRES
DAN RANGSANGAN YANG BERBAHAYA

• Stres fisiologi & rangsangan patologi → menyebabkan


proses adaptasi sel secara fisiologi dan morfologi
• Respon adaptasi :
• Hiperplasia (peningkatan jumlah sel)
• Hipertropi (peningkatan ukuran sel)
• atropi (penyusutan ukuran dan fungsi sel)
• gejala abnormal tertentu / penyakit merupakan “penyebab" riwayat yang
direkam pada masa lampau
Etiologi
• Pada Arcadians (2500 bc) : punya dosa
• Pada era modern : intrinsik (genetik) & acquired ( infeksi, nutrisi, kimia, fisik)

• urutan peristiwa terhadap respon sel / jaringan pada agen penyebab dari
awal -akhir
Patogenesis • memahami cystic fibrosis tidak hanya cacat gen dan produk gen, tapi juga
biokimia, immunologi & morfologi yang menyebabkan cysts & fibrosis pada
paru-paru, pankreas, dan organ lain

Perubahan • Perubahan struktur sel /jaringan dari penyakit atau diagnostik dari proses
morfologi penyebab

• Sifat alami perubahan morfologi & distribusi pada organ/ jaringan berbeda
mempengaruhi fungsi normal & menentukan gambaran klinis (gejala & tanda),
Manifestasi penyebab dan prognosa penyakit
klinis
• konsep pertama pada abad ke-19 oleh Rudolf Virchow : Bapak Patologi modern
Figure 1-1  Stages in the cellular response to stress and
injurious stimuli
Jika respon adaptasi suatu stimulus ditambah, atau ketika sel
terekspos agen berbahaya satu urutan peristiwa
mengikutinya secara bebas  cedera sel

Cedera sel bersifat reversibel sampai satu titik tertentu, tapi kalau
stimulus persistent atau cukup berat dari awal, sel mencapai satu
"point of no return" & bersifat irreversibel → kematian sel.
Adaptasi cedera yang reversibel & kematian sel → tahapan
kerusakan progresif fungsi & struktur sel yang normal (gbr.1-1 )

Contoh : respon hemodinamik ↑, otot jantung pertama


kali membesar. Jika suplai darah ke myocardium tidak
cukup → cedera reversibel → kematian sel (gbr.1-2)
Figure 1-2  The relationships between normal, adapted, reversibly injured, and dead myocardial cells. The
cellular adaptation depicted here is hypertrophy, and the type of cell death is ischemic necrosis. In
reversibly injured myocardium, generally effects are only functional, without any readily apparent gross or
even microscopic changes. In the example of myocardial hypertrophy, the left ventricular wall is more than
2 cm in thickness (normal is 1 to 1.5 cm). In the specimen showing necrosis, the transmural light area in the
posterolateral left ventricle represents an acute myocardial infarction. All three transverse sections have
been stained with triphenyltetrazolium chloride, an enzyme substrate that colors viable myocardium
magenta. Failure to stain is due to enzyme leakage after cell death.
• Kematian sel → akibat dari penyebab yang berbeda, meliputi
ischemia (kekurangan aliran darah), infeksi, toksin, dan reaksi imun.
• Sebagai tambahan, kematian sel adalah normal dan bagian penting
dari embryogenesis, perkembangan dari organ, dan pemeliharaan
homeostasis, dan ini adalah tujuan dari pengobatan kanker.
• Ada 2 dua pola prinsipal dari kematian sel :
• Nekrosis
• apoptosis
• Nekrosis : jenis kematian sel yang terjadi setelah stres yang
abnormal seperti ischemia dan cedera kimia, dan ini selalu patologi
• Apoptosis : terjadi ketika satu sel mati melalui aktivasi program
suicide yang dikontrol secara interna
ADAPTASI SELULER TERHADAP PERTUMBUHAN &
DIFERENSIASI

• Respon sel terhadap pe↑ kebutuhan & rangsangan eksterna :


• Hiperplasia
• Hipertropi
• Atropi
• Metaplasia
• Terdapat sejumlah mekanisme molekuler untuk adaptasi
seluler :
• merespon dirinya sendiri atau dengan sel lain terhadap
lingkungan
• sehubungan dengan aktivasi dari berbagai reseptor
permukaan sel dan downstream signaling pathway
• Sel yang dicederai secara irreversibel mengalami berbagai perubahan
morfologi → kematian sel.
• Ada 2 jenis kematian sel : nekrosis dan apoptosis, yang berbeda secara
morfologi, mekanisme, dan perannya pada penyakit dan fisiologi .

Figure 1-7  Stages in the evolution of cell injury and death


PENYEBAB CEDERA SEL
1. Kehabisan oksigen
– Hipoksia → kekurangan oksigen yang menyebabkan cedera sel dgn
berkurangnya respirasi oxidatif aerob
– Iskemia → hilangnya suplai darah dari aliran arteri yang dihalangi atau drainase
vena yang berkurang pada suatu jaringan.
– Iskemia tidak hanya mempengaruhi suplai oksigen tapi juga substrat metabolik,
termasuk glukosa.
2. Agen fisik (trauma mekanis, suhu yang ekstrim : luka bakar dan sangat
dingin, perubahan tekanan atmosfer yang tiba-tiba, radiasi dan shock
elektris)
3. Bahan kimia & obat-obatan
4. Agen fisik
5. Reaksi immunologik
6. Gangguan genetik
7. Ketidakseimbangan nutrisi
Mekanisme cedera sel :
• Respon seluler thd rangsangan cedera bergantung pada tipe cedera, jangka
waktun & keparahannya
• Konsekwensi cedera sel bergantung pada jenis, status & kemampuan adaptasi
dari cedera sel.
• Cedera sel akibat kelainan fungsional dan biokimia pada satu atau beberapa
komponen selular penting (gbr 1-10).
• Sasaran paling penting dari rangsangan berbahaya :
1. pernapasan aerobik yang melibatkan phosphorilasi oxidatif
mitochondria dan produksi ATP;
2. integritas dari membran sel, yang bersifat ionik dan homeostatik
osmotik sel dan ini tergantung organellanya
3. sintese protein
4. Sitoskeleton
5. integritas dari apparatus genetik sel.
Fungsi sel normal seimbang dengan
- kebutuhan fisiologi
- kapasitas metabolisme
- struktur yg tetap
Perubahan fungsi terjadi sebagai respon terhadap “stress” untuk mempertahankan keseimbangan tersebut

13
Yang termasuk adaptasi:
- hipertrofi (jumlah sel bertambah)
- hiperplasia (besar sel bertambah)
- atrofi (besar sel berkurang)
- metaplasia (perubahan tipe sel matur dari satu bentuk ke bentuk yang lain)

14
Adaptasi
Terjadi bila stress fisiologi / patologis menimbulkan keadaan baru yg
mengubah sel tetapi tetap mempertahankan kemampuan
menghadapi rangsangan luar

15
ADAPTASI
I. Perubahan besar sel
1. Atrofi
2. Hipertrofi
II. Perubahan jumlah sel
3. Involusi
4. Hiperplasia
5. Hipoplasia
III. Perubahan tipe sel
6. Metaplasia
7. Displasia

16
involusi

I II III

atrofi hipertrofi hiperplasia hipoplasia metaplasia displasia

17
Proliferasi (pertambahan) sel fisiologis:
1. Pertumbuhan bayi
2. Sumsum tulang, kulit, usus
3. Hepar
Proliferasi patologis:
1. Jumlah sel bertambah 
hiperplasia (sel labil dan stabil)
2. Besar & kapasitas sel bertambah
 hipertrof (sel permanen)

18
HIPERPLASIA

Pertambahan jumlah sel  volume (+)


Bila penyebab dihilangkan  normal
Berbeda dengan neoplasma (koloni sel berasal dari satu sel - kondisi monoklonal)
penyebab dihilangkan  tetap

19
Hiperplasia Fisiologis
Rangsangan beberapa hormon (aktifitas)
- estrogen, progesteron, prolaktin, hormon perumbuhan dan laktogen plasenta mammae – pubertas,
kehamilan
uterus – kehamilan

20
Hiperplasia thiroid : pubertas dan kehamilan (metabolisme meningkat)

Hiperplasia kompensasi (aktifitas ) Satu ginjal diangkat  yang tinggal


membesar

21
Hiperplasia sumsum tulang:
memproduksi eritrosit pada individu yang hidup ditempat tinggi
(dirangsang oleh meningkatnya produksi faktor tumbuh erithropoetin)

22
H. Patologis
Stimulasi hormon yg berlebihan
- hiperplasia endometrium

23
Nodular hiperplasia (prostat, throid, adrenalis, payu dara)
- pengaruh hormon  gangguan
respon  nodul

a. normal

urethra

b. hiperplasia

24
Faktor pertumbuhan
- jaringan penyambung 
proliferasi fibroblas
(penyembuhan luka)
- infeksi virus  verruka

25
Psoriasis : hiperplasia epidermis
Penyakit Paget tulang : hiperplasia osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang menjadi tebal
Fibromatosis: proliferasi miofibroblas, kadang2 seperti tumor (kontraktur Dupuytren,
desmoid tumor, fibromatosis retroperitoneal)

26
HIPERTROFI

Besar sel bertambah  organ tambah besar (tidak ada sel baru) -
otot jantung, otot polos

27
Hipertrof fsiologis
Uterus – kehamilan (hipertrofi dan hiperplasia)
Hormon estrogen 
DNA inti 
sintese protein
otot polos  
besar bertambah

28
Hipertrof Patologis
Beban hemodinamik yg khronis:
- Penyempitan katup Aorta,
hipertensi  pekerjaan jantung (+)

normal

29
Beban mekanik:
Otot atlet dg eksersais 
hipertrofi

normal hipertrofi 30
ATROFI

Jaringan / organ mengecil (besar dan jumlah sel < )


→ merupakan respon penyesuaian (diperantarai oleh
apoptosis)

31
A. ATROFI FISIOLOGIS

♥ Kelenjer thymus
Anak-anak kelenjar thymus besar tambah umur
kelenjar mengecil

♥ Ovarium & payudara wanita


Masa pubertas bertambah besar sampai dewasa
 menopause mengecil

♥ Mengecilnya alat-alat tubuh pada


usia lanjut disebut atrofi senilis
Sel-sel otak  pikun
B. ATROFI PATOLOGIS

1. Atrofi kelaparan ( Starvation atrophy )


 kekurangan makan
a. Bersifat umum
- orang yg terus menerus berpuasa
- orang yg terdampar di pulau
- malnutrisi lama
b. Bersifat lokal
Disebabkan ok terganggunya aliran
darah ke organ tubuh
- Striktura osefagus  makanan tidak
terus ke saluran pencernaan lainnya
- Corpus alienum/tumor menyumbat
esopagus
2. Atrofi Desakan Terus Menerus
a. Atrofi sternum pd penyakit sifilis
Menyerang aorta Torakalis
dinding aorta menipis dan lemah
melebar (Aneurisma)
b. Atrofi parenkim ginjal pada
hidronefrosis
c. Atrofi tulang karena desakan tumor-
tumor pd tulang shg mdh timbul
fraktur spontan
d. Atrofi tulang tengkorak
Karena desakan tumor otak atau
cairan cerebrospinal ( hidrosefalus )

e. Atrofi jaringan pd punggung


Terjadi akibat berbaring/telentang
lama menimbulkan tukak disebut
ulkus dekubitus pd daerah
lumbosakral
3. Atrofi Inactivity
Terjadi pd organ tubuh yg jarang
berfungsi spt : otot-otot pd penderita
stroke, patah tulang

4. Atrofi Hiperactivity
Akibat terlalu sering digunakan
Seperti :
- Atlit angkat besi  otot dinding perut
- Tukang ketik  otot jari
5. Atrofi Neurotika
Terjadi bila saraf yg mengurus satu otot
terpotong atau rusak
seperti :
- Hipertensi maligna  rusaknya saraf
otot
- Trauma pd tangan  ikut terpotong
sarafnya
- Poliomielitis
6. Atrofi Endokrin
Gangguan hormon seperti atrofi
kelenjar gondok
Atrofi Dapat Disertai :
1. Lipomatosis ( perlemakan )
Jaringan atrofi diserbu oleh jar.lemak
2. Fibrosis
Sel-sel yang mengecil diisi oleh jaringan
ikat
3. Degenerasi pigmen lipofuchsin
Pd otot jantung yg atrofi timbul bintik-
bintik kuning tengguli. Disebut Atrofi
Fuska/Brown Atrophy
KELAINAN YG MENYERUPAI ATROFI

1. Hipoplasia
Kegagalan perkembangan organ 
Organ tubuh tetap kecil/tidak pernah
tumbuh normal
Hipoplasia segmental ginjal
2. Aplasia
Tidak tumbuh sama sekali, hanya
rudimenter/benihnya saja
Duktus Mulleri pd pria

3. Agenesis
Tidak ada sama sekali/tidak terbentuk
Anencephal, agenesis ginjal
Atrof fsiologis
Pada waktu permulaan pertumbuhan:
- duktus thiroglossus  hilang
sebelum lahir (regresi)
- uterus < waktu menopause
- thimus mengecil waktu dewasa

43
Atrof patologis
A. Menyeluruh
- kelaparan, senilis, endokrin
(hipopituitarisme)  atrofi
thiroid, adrenalis dan gonad
dan organ genital, tulang
(osteoporosis)

44
Kekurangan makanan
Atrofi pada jaringan lemak, usus, pankreas dan (pada keadaan ekstrim) otot.
"Cachexia" (atrofi sistemik ekstrim) : pada stadium lanjut penyakit berat
seperti kanker. Bila kondisi buruk terjadi nekrosis (faktor nekrosis tumor - TNF)

46
B. Lokal
Beban kerja < (“disused
atrophy”)
- Patah tulang harus imobilisasi
total  otot2 atrofi (reversibel)
- Ankilosis sendi  otot atrofi
- Pergerakam tertahan o.k.
nyeri

47
Proses penuaan – atrofi senilis
Atrofi semua sel dan jaringan
“Brown atrophy” – Berkumpulnya pigmen bewarna kuning (menunjukkan lipid yg berasal dari
metabolisme sel dan tidak dapat dicerna), biasanya pada sel2 jantung, hepar dan limpa.
Juga karena gangguan suplai darah

48
Stimulasi hormon hilang
Menopause  atrofi endometrium, epitel vagina dan kelenjar payu dara
Kerusakan pada pituitaris anterior karena tumor/infark, pengobatan
kortikosteroid dosis tinggi  atrofi adrenal (sekresi ACTH <)

49
Stimulasi syaraf hilang (“denervation atrophy”)
Poliomielitis – aktifitas metabolisme dan reflek  
atrofi otot karena kerusakan syaraf

50
Suplai darah <
Miokardium – penyempitan arteri koronaria  suplai darah menurun
 oksigen dan nutrisi < (akumulasi pigmen lipofukhsin)

51
L

Penyakit auto-imun
Penyakit Hashimoto thiroid  epitel
rusak  atrofi / hipofungsi kelenjar
thiroid

A - asini yg rusak dan atrofi


L - jaeingan limfoid
F - folikel limfoid

52
Tekanan
Neoplasma menekan jaringan sekitarnya  menyebabkan suplai darah < dan mengganggu fungsi  atrofi desakan
Batu ureter  stasis urine  hidronephrosis  atrofi parenkhim ginjal

53
Atrofi dapat berlanjut  nekrosis sel (bila suplai darah tidak cukup untuk mempertahankan hidup)
Jaringan nekrotik diganti dengan pertumbuhan lemak (fat metamorfosis)  keadaan ini dapat
mempertahankan besar ukuran organ.
Dapat pula terjadi fibrosis  mikroskopik tampak sebagai massa eosinofilik terang  disebut hialin.

54
Gangguan perkembangan yang menyebabkan massa sel <
Agenesis: organ tidak terbentuk sama sekali
Aplasia: organ tidak terbentuk karena gagal berkembang, biasanya berupa tonjolan kecil yg mengandung pembuluh darah
Atresia: organ terbentuk tanpa lumen, biasanya berupa garis/seperti tali

55
Hipoplasia: terbentuk organ dg diferensiasi normal hanya kecil
Disgenesis: diferensiasi sel normal tidak terjadi, hingga struktur
embrio primitif menetap

56
Degenerasi hialin
Hialin adalah massa terang seperti kaca (hyelos (Latin) = kaca), homogen, eosinofilik, amorf
dengan pewarnaan Hematoksilin, dalam sel dan ekstraselular
Penyebab bermacam-macam
Dalam sel berupa akumulasi protein

57
Ekstraselular:
Jaringan ikat yang mengganti parenkhim yg hilang  radang khronik, jaringan parut (mekanisme tidak jelas)
Dalam bentuk kolagen padat
leiomioma  otot diganti kolagen padat  hialin

58
Pembuluh darah penderita arterioskleroris (diabetes melitus
dengan hipertensi lama)

59
Degenerasi mukoid
Perubahan yg menghasilkan musin: - tumor epitel, sel2 epitel mengalami degenerasi dan
menghasilkan musin yang berlebihan (adenokarsinoma lambung, mammae, kolon, rektum)

sel ganas
akuole

ukleus

Jaringan ikat

60
Adeokarsinoma kolon Adenokarsinoma mammae
- jaringan penyambung  jaringan miksomatosa
(degenerasi otot tunika media aneurisma Aorta)

61
METAPLASIA

Perubahan sel dari bentuk diferensiasi matang ke bentuk


diferensiasi matang yang lain (pertumbuhan reversibel)

62
Transformasi ini non neoplastik
Contoh: transformasi epitel kubis / kolumnar  epitel berlapis gepeng
(metaplasia skwamosa), kebanyakan berhubungan dengan peradangan /
iritasi jaringan

63
- Epitel bronkhus dari kolumnar berlapis semu bersilia  skwamosa (berhubungan dengan
merokok dan bronkhitis khronis)
- Epitel kolumnar kelenjar servik  skwamosa (berhubungan dengan servisitis khronis)

64
- Epitel transisional pelvis renalis  skwamosa
- Epitel traktus respiratorius dan kelenjar liur, tr. Urinarius ok
defisiensi vitamin A

65
- epitel skwamosa
esofagus
(S) epitel
kolumnar (sel
intestinum) - (Barret esofagus), dapat  ganas
Metaplasia osseous
Pembentukan tulang / tulang rawan baru di daerah jaringan jejas
Penyakit miositis ossifikans  tulang dalam otot

66
Figure 1-6  Metaplasia. A, Schematic diagram of columnar to squamous
metaplasia. B, Metaplastic transformation of esophageal stratified squamous
epithelium (left) to mature columnar epithelium (so-called Barrett metaplasia).