Anda di halaman 1dari 20

LOKAKARYA MINI MANAJEMEN KEPERAWATAN

DIRUANG STROKE UNIT RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA

KELOMPOK :
Ayu Sagita
Istarina J. Belatama
Alifia Citra
Tresnawati
Oktaviani Wulandari
Fuzi Azyyati
Inka Tri Astuti
Agus Wahyudin
Maimunah
Anis Rusli
LATAR BELAKANG

Manajemen keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan


fungsi-fungsi keperawatan yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian,
ketenagaan, pengarahan dan pengendalian.
Dari hasil pengamatan kelompok di Ruang Rawat Stroke Unit Lantai 3B Rumah Sakit
Pusat Pertamina, Ruang Rawat Stroke Unit sudah memiliki manajen keperawatan yang
sangat bagus. Namun ada beberapa hal yang belum optimal seperti, didapatkan bahwa
pada saat timbang terima berlangsung hanya dilakukan oleh kepala shift dan perawat
pelaksana tidak dengan kepala ruangan pada shift siang dan malam serta teknik SBAR
yang belum diterapkan secara menyeluruh. Selain itu, pendokumentasian belum
komputerisasi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mahasiswa, perawat dalam
pemberian obat injeksi tidak dilakukan dengan menggunakan stiker dengan
menuliskan identitas pasien, nama dan dosis obat serta jam pemberian dan rutenya.
Maka dari hasil pengamatan kelompok tersebut, kami merasa perlu mengadakan
pertemuan dalam bentuk lokakarya mini dengan mengundang Kepala Ruangan beserta
staf, pembimbing klinik dan pembimbing akademik untuk memecahkan masalah
tersebut.
TUJUAN UMUM TUJUAN KHUSUS

Meningkatkan mutu
pelayanan manajemen 1. Mengidentifikasi masalah keperawatan yang ada
keperawatan dan asuhan di Ruang Rawat Stroke Unit Lantai 3B Rumah
keperawatan pada pasien di Sakit Pusat Pertamina.
Ruang Rawat Stroke Unit 2. Menentukan alternative pemecahan masalah
Lantai 3B Rumah Sakit yang ada di Ruang Rawat Stroke Unit Lantai 3B
Pusat Pertamina. Rumah Sakit Pusat Pertamina.
3. Melakukan implementasi alternatif pemecahan
masalah yang ada di Ruang Rawat Stroke Unit
Lantai 3B Satelit Rumah Sakit Pusat Pertamina.
4. Melakukan evaluasi terhadap keefektifan
penyelesaian masalah yang telah dilaksanakan di
Ruang Rawat Stroke Unit Lantai 3B Satelit Rumah
Sakit Pusat Pertamina.
Manajemen keperawatan merupakan suatu bentuk
koordinasi dan integrasi sumber-sumber
keperawatan dengan menerapkan proses
TINJAUAN TEORI manajemen untuk mencapai tujuan dan obyektifitas
asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan.
Menurut Suyanto (2009) menyatakan bahwa
lingkup manajemen keperawatan adalah
manajemen pelayanan kesehatan dan manajemen
asuhan keperawatan

Konsep Timbang Terima :


Timbang terima adalah tekhnik atau cara untuk menyampaikan dan
menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien.
Operan pasien harus dilakukan seefektif mungkin dengan
menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tenntang tindakan
mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudan dan yang belum
dilakukan, serta perkembangan pasien saat itu
Menyampaikan hal
Menyampaikan yang sudah atau belum
kondisi dan keadaan dilakukan dalam hal
pasien asuhan keperawatan
pada pasien

Menyampaikan hal
yang penting yang Menyusun rencana
harus ditindak lanjuti kerja
oleh perawat
1. Dilaksanakannya tepat pada saat pergantian shift.
2. Dipimpin oleh kepala ruangan .
3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas.
4. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis dan
menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan
pasien.
5. Operan harus berorientasi pada permasalahan pasien.
6. Pada saat operan dikamar pasien, menggunakan volume suara yang
cukup sehingga pasien disebelahnya tidak mendengar sesuatu yang
rahasia bagi pasien, sesuatu yang dianggap rahasia sebagiknya tidak
dibicarakan secara langsung didekat pasien.
7. Sesuatu yang mungkin membuat klien terkejut dan shock
sebaiknya dibicarakan di nurse station.
• Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah
sakit adalah komunikasi SBAR (Situation, Background,
Assessment, Recommendation), metode komunikasi ini
digunakan pada saat perawat melakukan handover ke
pasien. Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik
komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan
dalam menyampaikan kondisi pasien

• SBAR adalah metode terstruktur untuk


mengkomunikasikan informasi penting yang
membutuhkan perhatian segera dan
tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektifdan
meningkatkan keselamatan pasien. SBAR juga dapat
digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah
terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang
sama atau berbeda
KEUNTUNGAN
SBAR

Dokter percaya pada


Kekuatan perawat analisa perawat karena
berkomunikasi secara menunjukkan perawat
efektif. paham akan kondisi
pasien.

Memperbaiki komunikasi
sama dengan
memperbaiki keamanan
pasien.
Background : Apa latar belakang informasi
klinis yang berhubungan dengan situasi?
Situation : Bagaimana situasi yang akan
dibicarakan/ dilaporkan? 1. Obat saat ini dan alergi
1. Mengidentifikasi nama diri petugas 2. Tanda-tanda vital terbaru
dan pasien.
2. Diagnosa medis, yang sudah atau 3. Hasil laboratorium : tanggal dan waktu tes
belum teratasi dilakukan dan hasil tes sebelumnya untuk
3. Apa yang terjadi dengan pasien yang perbandingan
memprihatinkan 4. Riwayat medis
5. Temuan klinis terbaru

Recommendation : apa yang perawat inginkan


Assessment : berbagai hasil penilaian terjadi dan kapan?
klinis perawat 1. Apa tindakan / rekomendasi yang diperlukan
1. Apa temuan klin untuk memperbaiki masalah?
2. Apa analisis dan pertimbangan 2. Apa solusi yang bisa perawat tawarkan dokter?
perawat 3. Apa yang perawat butuhkan dari dokter untuk
memperbaiki kondisi pasien?
3. Apakah masalah ini parah atau
mengancam kehidupan? 4. Kapan waktu yang perawat harapkan tindakan
ini terjadi?
PROFIL RUMAH SAKIT
Rumah Sakit Pusat Pertamina merupakan salah satu rumah
sakit tipe B yang terletak di Jalan Jl. Kyai Maja No.43,
RT.4/RW.8 Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan Daerah
Khusus Ibukota Jakarta 12120.

Rumah Sakit Pusat Pertamina terdapat 7 lantai yang terdiri


dari 1 lantai untuk poliklinik, IGD, Radiologi, Laboratorium,
MCU, 1 lantai untuk ICU, Unit Luka Bakar (Burn Unit),
Ruang Operasi/Bedah dan poliklinik serta 5 lantai untuk ruang
perawatan atau ruang rawat inap.
OPERAN SHIFT
Operan dilakukan tiga kali dalam sehari, yaitu pada shift pagi (07.15-14.00),
shift sore (14.00-20.00) dan shift malam (20.00-07.00). Operan didampingi
oleh kepala ruangan, yang dipimpin oleh ketua tim dan diikuti oleh seluruh
perawat pelaksana. Ketika operan berlangsung, perawat pelaksana mencatat
setiap perkembangan kondisi klien menggunakan buku operan. Penyampaian
operan disampaikan cukup jelas.

Namun berdasarkan observasi yang telah dilakukan, karu hanya


mendampingi operan pada pagi hari, dan pada saat shift siang,
karu hanya mendampingi operan jika ada keadaan yang darurat
dan teknik SBAR yang dilakukan belum secara menyeluruh.
• Perawat di Ruang Rawat Stroke Unit Lantai 3B berjumlah 17 orang yang
terdiri dari 1 kepala ruangan, 4 kepala shift dan 4 regu shift yang masing-
masing terdiri dari 3-4 perawat. Tingkat pendidikan perawat di ruangan ini
paling banyak berpendidikan D3 (16) orang dan berpendidikan S1 (1) orang
Ketenagaan

• Pendokumentasian pengkajian menggunakan format yang telah tersedia dan


telah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pengisian pengkajian
keperawatan secara umum sudah lengkap. Untuk pencatatan rencana
keperawatan sudah dilakukan menggunakan SIM RSPP, sedangkan untuk
catatan implementasi dan evaluasi keperawatan dilakukan manual pada catatan
keperawatan dan catatan perkembangan pasien terintegrasi
• Sistem pendokumentasian (khususnya pada perencanaan keperawatan)
Dokumentasi masih menulis di status pasien, belum menggunakan komputerisasi.
Pemberian obat

Pelaksanaan pemberian obat 1. Implementasi pemberian obat injeksi tidak


dibagi dalam dua katagori dilakukan dengan menggunakan stiker dengan
yaitu parenteral dan enteral. menuliskan identitas pasien, nama dan dosis obat
Rencana pemberian obat serta jam pemberian dan rutenya. Penulisan stiker
ditulis oleh DPJP/team medis dilakukan pada saat akan memberikan obat dan
dalam Catatan Pengobatan. ditempelkan pada syringe obat yang telah dioplos,
Penyediaan kebutuhan obat dan pengoplosan obat ini dilakukan di Nurse
pasien dilakukan oleh petugas Station. Pada pengamatan yang kelompok
farmasi
kami lakukan, perawat belum optimal dalam
melakukan verifikasi nama pasien dengan
meminta pasien untuk menyebutkan nama dan
tanggal lahir pasien secara aktif, sambil
mencocokkan dengan gelang identitas pasien.
Perawat biasanya hanya memanggil nama
pasien.
2. Implementasi pemberian obat oral. Pada hasil
observasi yang telah dilakukan kelompok, saat
pemberian obat ke kamar pasien tidak dibawa
catatan pengobatan yang di status pasien dan
belum optimal melakukan verifikasi nama
pasien dengan mencocokkan dengan nama
yang ada di gelang identitas.
Strenght (Kekuatan)
 RSPP sudah terakreditasi Manajemen Mutu : Akreditasi KARS
versi 2012 dengan predikat Paripurna, Pelaksanaan
implementasi ISO 9001;2008, dan Standar Pertamina Quality
Award (PQA).
 Kualitas sumber daya manusia cukup baik yang terdiri dari
S.Kep.,Ners (1 orang), D3 keperawatan (16) orang.
 Adanya SAK dan SOP (Standar Operasional Prosedur).

Weakness (Kelemahan)
 Belum optimalnya timbang terima.
 Kurang optimalnya proses pendokumentasian asuhan
keperawatan.
 Belum optimalnya identifikasi pasien saat pemberian obat.
Opportunity (Peluang)
 Sering diadakannya acara seminar di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
 Kesempatan untuk studi lanjut dalam kualifikasi ketenagaan.
 Kesempatan untuk pelatihan mengenai masalah-masalah yang
dihadapi di ruangan , pelatihan – pelatihan yang mendukung untuk
pelayanan di ruang RawatStroke Unit Lantai 3B.

Threat (Ancaman)
 Banyaknya berdiri klinik di dekat wilayah Rumah Sakit Pusat
Pertamina.
 Tindakan yang kurang optimal karena belum sesuai dengan SOP.
 Berdirinya rumah sakit lain di dekat wilayah Rumah Sakit Pusat
Pertamina.
 Ancaman persaingan perawat dalam negeri karena masuknya perawat
asing (AFTA 2003).
 Tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang profesional.
 Semakin tinggi/kritis pola pikir masyarakat terhadap aspek legal.
DATA PENUNJANG DATA MASALAH
PENGHAMBAT
Implementasi pemberian obat Belum optimalnya
injeksi tidak dilakukan dengan identifikasi pasien saat
menggunakan stiker dengan pemberian obat
menuliskan identitas pasien,
nama dan dosis obat serta jam
pemberian dan rutenya. Penulisan
stiker dilakukan pada saat akan
memberikan obat dan
ditempelkan pada syringe obat
yang telah dioplos, dan
pengoplosan obat ini dilakukan di
Nurse Station
Data wawancara : perawat sudah
terbiasa melakukan pemberian
obat tanpa menggunakan stiker
obat karna pasien di ruang SU
hanya sedikit sehingga perawat
mudah mengingat untuk
melakukan pemberian obat
kepada pasien
Berdasarkan hasil observasi timbang Beberapa Belum optimalnya
terima berlangsung hanya dilakukan perawat timbang terima
Saat operan shift terlihat hanya antar yang perawat dengan teknik
perawat penanggungjawab saja tidak terkadang SBAR
secara global dengan kepala ruangan. datang
Saat operan, teknik SBAR sudah tidak tepat
digunakan namun belum secara waktu
menyeluruh.

Dari hasil wawancara perawat


mengatakan operan bersama kepala
ruangan hanya shift pagi.
Berdasarkan hasil observasi beberapa
perawat hanya mencatat bagian
penting tentang kondisi klien, tidak
menyebutkan diagnosa keperawatan
klien saat operan, tidak selalu
mengecek ulang informasi yang
didapatkan dari perawat sebelumnya.
Pendokumentasian Kurang optimalnya
masih menggunakan proses
status pasien sehingga pendokumentasian
banyak waktu perawat asuhan keperawatan.
yang digunakan untuk
menulis asuhan
keperawatan di status
pasien. Dokumentasi
belum menggunakan
komputerisasi yang
memungkinkan perawat
untuk lenih banyak
waktu fokus pada pasien.
Data wawancara :
Perawat mengatakan
menuliskan diagnosa
keperawatan di lembar
evaluasi (SOAP).
Perawat mengatakan
komputer belum
digunakan untuk menulis
proses keperawatan
SKORING

No Masalah M S M N A Skor
G V N c F

1 3 3 4 3 4 432
Kurang optimalnya
identifikasi pasien saat
pemberian obat
2 4 3 3 5 4 720
Kurang optimalnya
timbang terima
perawat dengan
teknik SBAR
3 3 4 3 4 4 576
Kurang optimalnya
proses
pendokumentasian
asuhan keperawatan.