Anda di halaman 1dari 36

Cost- Profit- Volume

Analysis
OLEH

LUH UTAMI
HANDIA FAHRUROZI
Break even
Analisis titik impas (break Even Point) adalah suatu cara
atau teknik yang digunakan oleh seorang manajer
perusahaan untuk mengetahui pada volume (jumlah)
penjualan dan volume produksi berapakah suatu
perusahaan yang bersangkutan tidak menderita
kerugian atau tidak pula memperoleh laba. Dengan arti
kata bahwa titik impas adalah suatu keadaan di mana
perusahaan yang pendapatan penjualannya sama
dengan jumlah total biayanya, atau besar kontribusi
marjin sama dengan total biaya tetap. Dengan kata lain
perusahaan tersebut tidak untung dan tidak rugi.
Break even

BREAK EVEN

BEP PRODUK BEP


TUNGGAL MULTIPRODUK

1. PENDEKATAN PERSAMAAN
2. PENDEKATAN MARGIN KONTERIBUSI
3. PENDEKATAN GRAFIK
PENDEKATAN PERSAMAAN

Pendapatan = Biaya Variabel + Biaya Tetap

Untuk menentukan tingkat break even,


diberikan ilustrasi perusahaan “ Eka Jaya & Co
yang memproduksi barang barang “X” yang
mempunyai kapasitas produksi 240.000 unit
dan data budget ( anggaran pendapatan dan
biaya) untuk tahun 1999 sbb:
Firma “ Eka Jaya & Co”
Budget Laba- Rugi
Tahun 1999

Budget penjualan 200 @ Rp250,- Rp 50.000.000,-


Budget Biaya: Tetap Variabel
Bahan langsung - Rp. 9.000.000,-
Tenaga langsung - Rp.10.000.000,-
Overhead pabrik Rp.7.000.000,- Rp. 3.000.000,-
Biaya administrasi Rp.6.000.000,- Rp. 1.000.000,-
Biaya distribusi Rp.5.000.000,- Rp. 3.000.000,-
Jumlah Rp.18.000.000,- Rp.26.000.000,- Rp.44.000.000,-
Laba yang dibudgetkan Rp. 6.000.000,-
=============
Pendapatan = Biaya Variabel + Biaya Tetap

250X = 130X + Rp.18.000.000,-


120X = 18.000.000
X = 150.000
BEP = 150.000 unit
Pendekatan Margin Kontribusi

Contribution Margin (CM) merupakan selisih antara


penjualan dengan biaya variabel pada tingkat kegiatan
tertentu. Selisih tersebut dapat digunakan untuk
menutup biaya tetap atau Fixed Cost (CF) secara
keseluruhan dan sisanya adalah laba. Ada 3 kategori
yang muncul disini antara lain:
• Jika CM > FC maka perusahaan akan mendapatkan
laba.
• Jika CM< FC maka perusahaan akan rugi
• Dan jika CM = FC maka perusahaan dalam posisi impas
(tidal laba tidak rugi).
Biaya Tetap
Break Even ( dalam unit) = -------------------------------
Marginal income per unit

Biaya Tetap
Break Even ( dalam Rupiah Penjualan) = ---------------------------------
Marginal Income Ratio
CONTOH
Dengan menggunakan data perusahaan “ Eka Jaya &Co” maka
jumlah barang yang harus dijual agar perusahaan mencapai break
even adalah:

BEP = BIAYA TETAP (FC)


----------------------------------------

MARGINAL INCOME PER UNIT

Rp.18.000.000,-
= -----------------------
Rp.250 - Rp.130
= 150.000 unit
Penjualan(200.000 unit @Rp.250,-) =Rp.50.000.000,- = 100%
Jumlah biaya variabel =Rp.26.000.000,- = 52%
Contribution margin =Rp.24.000.000,- = 48%
Total biaya tetap =Rp.18.000.000,- =36%
Laba =Rp. 6.000.000,- =12%
=====================
Break Even ( dalam Rupiah Penjualan)
Biaya Tetap

Break Even ( dalam Rupiah Penjualan) = ---------------------------------


Marginal Income Ratio

= Rp.18.000.000 atau Rp.18.000.000


48 % 1 – 52%
= Rp.37.500.000,-
Marginal income ratio
Marginal income ratio adalah ratio antara
marginal income atau marginal contribution
dengan hasil penjualannya.

MIR atau MCR = Hasil penjualan – Biaya Variabel


Hasil Penjualan

= 1 - Biaya Variabel
Hasil Penjualan
Dari data perusahaan Eka Jaya & Co tersebut, maka tingkat penjualan
yang harus dicapai agar perusahaan tidak menderita rugi maupun
memperoleh laba adalah:

= Rp.18.000.000
1 = Rp.26.000.000
Rp.50.000.000
= Rp.37.500.000,00

Per unit = Rp.37.500.000,00


Rp.250,00
= 1.500 unit
Target laba dan pendapatan penjualan

Misalnya dalam tahun 1999 direncanakan laba sebesar Rp.1.800.000,00 maka


penjualan yang harus dilakukan untuk mencapai laba tersebut dapat
ditentukan dengan formula:
Pendapatan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba Yang Diinginkan
250 X = 130 X + Rp.18.000.000,00 + Rp.1.800.000,00
X = 19.800.000
X = 165.000
Penjualan = 165.000 unit
= Rp.41.250.000,-
Perhitungan dengan formula
contribution
= Rp.18.000.000,00 + Rp.1.800.000,00
0,48
= Rp.41.250.000,00
= 165.000 unit
PENDEKATAN GRAFIK
Pendekatan grafik adalah perhitungan biaya, volume dan
laba dengan menggunaan grafik. Pada pendekatan
grafik, titik impas digambarkan sebagai titik
perpotongan antara garis penjualan dengan garis biaya
total ( biaya total = Total biaya variabel + biaya tetap).
Dengan grafik break even management dapat
mengetahui dasarnya biaya yang tergolong biaya tetap
dan biaya variabel , dan dengan grafik break even
dapat mengetahui tingkat tingkat penjualan yang
masih menimbulkan kerugian dan tingkat- tingkat
penjualan yang sudah menimbulkan laba atau besarnya
rugi atau laba pada suatu tingkat penjualan tertentu.
Kurva BEP
Rupiah
Income (I)

Variabel Cost
Profit

Harga BEP

Total Cost

Fix Cost

0 N1 N2 Quantity
• Break even total = Rp.30.000.000
• 1 – Rp.54.000.000
• Rp.90.000.000
• = Rp.75.000.000,00
• =================
• Break Even A = Rp.10.000.000
• 1 – Rp.29.000.000
• Rp.40.000.000
• = Rp.36.363.363,36
• ==================
• Break Even B = Rp.20.000.000
• 1- Rp.25.000.000
• Rp.50.000.000
• ` = Rp.40.000.000,00
• =================
Analisis CVP dalam suatu pengaturan
multiproduk
• Barang A Barang B Total

• Unit yang Terjual 100.000 200.000 340.000


• Hasil Penjualan 40.000.000 50.000.000 100.000.000
• Biaya Tetap 10.000.000 20.000.000 30.000.000
• Biaya Variabel 29.000.000 30.000.000 59.000.000
• Laba 1.000.000 10.000.000 11.000.000

• Dari data tersebut dapat diketahui bahwa:


• Komposisi produksi A : B = 1 : 2 yaitu 100.000 : 200.000
• Komposisi penjualan A : B = 4 : 5 yaitu Rp.40.000.000 : Rp.50.000.000
KOMPOSISI PENJUALAN = 4 :5
Kuantitas barang A = 4/9 x Rp.75.000.000 = Rp.33.333.333,33
Kuantitas barang B = 5/9 x Rp.75.000.000 = Rp.41.666.666,67

KOMPOSISI PRODUKSI = 1:2


Kuantitas barang A = Rp.33.333.333,33 : 400 = 83.333,33 UNIT
Kuantitas barang B = Rp.41.666.666,67 : 250 =166..666,67 UNIT
PEMBUKTIAN
PENJUALAN Rp.75.000.000
Biaya tetap:
Barang A Rp.10.000.000
Barang B Rp.20.000.000
Rp.30.000.000

Biaya Variabel:
Barang A Rp.24.166.666.67
Barang B Rp.20.833.333,33
Rp.45.000.000
Jumlah biaya Rp.75.000.000

Laba Rp. 0
Margin of Safety

Adalah batas penurunan penjualan yang bisa ditolerir agar


perusahaan tidak menderita kerugian
• Merupakan batas kemanan penjualan sebagai analisis
sensitivitasnya terhadap rencana penjualan.
• Misalnya margin of safety ditemukan 30%, artinya realisasi
penjualan dipertahankan jangan sampai turun lebih dari 30%.
Apabila realisasi penjualan turun lebih dari 30%, maka
perusahaan akan menderita kerugian, sedang bila penurunan
sampai 30% perusahaan dalam kondisi Break even
Rumus :
Mos = Anggaran penjualan – Penjualan Titik impas X 100%
Anggaran penjualan
Contoh : misalkan Rencana penjualan Rp.8.000.000. Titik impas yang sudah
diperhitungkan sebesar Rp.6.000.000. Rasio margin kontribusi 30%
Maka :
MoS = Rp.8.000.000 – Rp.6.000.000 X 100%
Rp.8.000.000
= 20%
Perubahan Titik BEP

• 1. Perubahan harga jual per unit


• 2. Perubahan biaya variabel
• 3. Perubahan biaya tetap
• 4. Perubahan komposisi sales mix
Perubahan biaya tetap dan volume
penjualan
• PT. Ecco Pratama bahwa penjualan saat ini sudah mencapai
500 unit tiap bulan (Rp.500.000). Manajer pemasaran
percaya bahwa jika biaya promosi ditingkatkan Rp.15.000
perbulan maka penjualan akan naik dengan tingkat
kenaikan total sebesar Rp.25.000. Dengan prediksi tersebut
apakah rencana peningkatan biaya promosi dapat diterima?
• CM yang diharpkan Rp.525.000 X 40% = Rp.210.000,-
• CM sekarang Rp.500.000 X 40% =(Rp.200.000,-)
• Kenaikan Kontribusi = Rp. 10.000,-
• Kenaikan biaya tetap promosi =Rp. 15.000,-
• Penurunan Laba Bersih =(Rp. 5.000,-)

Atau dengan perhitungan sbb:
Kenaikan kontribusi Rp.25.000 X40% = Rp.10.000
Kenaikan biaya tetap promosi =Rp.15.000
Penurunan Laba bersih = Rp.5.000
Perubahan biaya varaibel dan volume
penjualan
• Adanya persaingan bisnis menyebabkan Pt Ecco
Pratama memutuskan untuk menaikkan mutu
tikar yang menyebabkan biaya variabel naik
Rp.50,-per lembar tikar. Tetapi manajer
memprediksi bahwa tingkat penjualan dapat
dinaikkan 575 lembar per bulan. Apakah rencana
akan diteruskan?
CM yang diharapkan 575 lembar X Rp.350= Rp.201.250
CM sebelumnya 500 lembar X Rp.400 = Rp. 200.000
Kenaikan = Rp. 1.250
Perubahan biaya tetap , harga jual dan
volume penjualan
• Dalam rangka menaikkan volume penjualan, manajer PT Ecco
Pratama akan menurunkan harga jual Rp100 per lembar tikar dilain
pihak akan menaikkan biaya promosi Rp25.000 perbulan. Manajer
yakin kebijakan tersebut dapat mendongkrak tingkat penjualan
sebesar 50% dari sekarang.
CM yang diharapkan 500 lembar X 150% X Rp.300 = Rp.225.000
CM sekarang 500 lembar X Rp. 400 = Rp.200.000
• Kenaikan kontribusi margin = Rp 25.000
• Kenaikan biaya tetap = Rp 25.000
Kenaikan Laba bersih =Rp.0
Perubahan biaya variabel, biaya tetap,
volume penjualan dan harga jual
• Untuk memperbaiki mutu tikar, PT Ecco Pratama juga
menaikkan upah tenaga kerja lepas sehingga biaya variabel
per lembar naik Rp.25 dan diharapkan tingkat penjualan
meningkat sebesar 70%
• CM yg diharapkan 500 lembar X 70% X Rp.275 = Rp.233.750
• CM sekarang 500 lembar X Rp400 = Rp.200.000
• Kenaikan kontibusi margin = Rp. 33.750
• Kenaikan biaya tetap = Rp. 25.000
• Kenaikan laba bersih = Rp. 0
Operating Leverage
Operating laverage adalah kondisi dimana
manajer dapat memperoleh laba stinggi-
tingginya hanya dengan menaikkan sedikit
penjualan dan atau menambah sumber daya
perusahaan atau aktiva.
Titik Tutup Pabrik (shut down point)

• Perusahaan yang beroperasi pada kondisi BEP


berarti perusahaan secara akuntansi mengalami
kerugian, namun secara cash flow perusahaan
masih mendapatkan sisa kas, selama penerimaan
penghasilan masih bisa menutupi biaya variabel
dan biaya tetap tunai.
• • Biaya tetap tunai adalah biaya tetap yang
dikeluarkan secara tunai seperti pembayaran gaji,
biaya promosi, sewa gedung, dan biaya tetap
tunai lainnya
Titik Tutup Pabrik

• Apabila penerimaan perusahaan tidak dapat


menutupi biaya variabel dan biaya tetap tunai,
maka perusahaan sudah harus ditutup

• SDP = Biaya tetap tunai/rasio kontribusi


margin
BEP dan ABC
Perbedaan analisi BEP konvensional dan ABC
terletak pada pemisahan unsur biaya variabel
dan tetap yangdigunakan dalam Perhitungan
CVP. Perhitungan biaya variabel dalam
pendekatan konvensional hanya berdasarkan
pada unit level yang diproduksi sedangkan
pendekatan ABC dipengaruhi juga oleh
perubahan non unit level activities ( unit,
batch dan product)
Dalam Pendekatan konvensional, Product dan
Batch cost tidak berubah secara proporsional
dengan adanya perubahan unit digolongkan
sebagai biaya tetap. Sedangkan metode ABC
product dan batch digolongkan sebagai biaya
variabel yang berubah sebanding dengan
perubahan aktivitas yang berkaitan dengan
biaya tersebut.
Non unit related cost Unit related
cost

Fasility Product Bath


sustaining sustaining Related Unit
cost cost cost level
activity

Biaya tetap ABC Biaya Variabel


ABC

Biaya tetap
tradisional Biaya variabel
tradisional