Anda di halaman 1dari 14

KEPERAWATAN MATERNITAS

PANUM
OLEH:NS NURLIAH M.KEP
PEMERIKSAAN FISIK IBU DENGAN MASALAH
GENEKOLOGI
• Abdomen :
Inspeksi abdomen :
• Pembesaran perut kearah depan yang berbatas jelas umumnya disebabkan oleh kehamilan atau tumor.
• Pembesaran perut kearah samping umumnya terjadi pada asites.
• Striae, jaringan parut, peristaltik.
• Palpasi abdomen :
• Pasien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan atau rectum terlebih dahulu.
• Pasien diminta untuk berada pada posisi dorsal dan dalam keadaan santai.
• Palpasi dilakukan dengan menggunakan seluruh telapak tangan berikut jari-jari dalam keadaan rapat yang dimulai dari bagian
hipochondrium secara perlahan-lahan dan kemudian diteruskan kesemua bagian abdomen dengan tekanan yang meningkat
secara bertahap.
• Melalui pemeriksaan ini ditentukan apakah :
• Terdapat “defance muscular” akibat peritonitis atau rangsangan peritoneum yang lain.
• Apakah ada rasa nyeri tekan atau nyeri lepas.
• Dengan tekanan yang agak kuat serta menggunakan sisi ulnar telapak tangan kanan dilakukan pemeriksaan untuk mencari
kelainan lain dalam cavum abdomen.

• Bila dijumpai adanya masa tumor dalam cavum abdomen, tentukan lebih lanjut mengenai :
• Perkusi abdomen :
• Bila dijumpai adanya pembesaran perut, dengan perkusi dapat ditentukan apakah pembesaran perut tersebut disebabkan oleh
cairan bebas, udara (meteorismus) atau tumor.
• Auskultasi abdomen

• Penting untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan (dengan


mencari denyut jantung janin).
• Diagnosa ileus (paralitik atau hiperdinamik).
• Menentukan pulihnya bising usus pasca pembedahan.
MEMPERSIAKAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR
• Dalam membuat sediaan apusan Pap Smear diperlukan bahan dan
alat sebagai berikut:
• a. Spekulum vagina cocor bebek.
• b. Spatula Ayre dari kayu model standar dan model modifikasi.
• c. Kapas lidi atau cytobrush
• d. Bahan fiksasi basah berupa cairan fiksasi alkohol 95% dalam
tabung atau bahan fiksasi kering berupa hair spray.
• e. Kaca objek.
• f. Lampu sorot yang dapat digerakkan.
• g. Formulir permintaan pemeriksaan sitologi apusan Pap.
• h. Meja pemeriksaan (lestadi, J.209)
Cara mengambil bahan sediaan apusan Pap dari berbagai sumber:
a. Sekret vaginal
• Sekret vaginal diambil dengan mengapus dinding lateral vagina sepertiga bagian atas, dengan spatula ayre. Caranya:
• 1) Pasang Spekulum steril tanpa memakai bahan pelicin.
• 2) Apus sekret dari dinding lateral vagina sepertiga bagian atas dengan ujung spatula ayre yang berbentuk bulat lonjong
seperti lidah.
• 3) Pulaskan sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
• 4) Setelah selesai difiksasi minimal selama 30 menit, sediaan siap untuk dikirim ke laboratorium sitologi.
b. Sekret Servikal (Eksoserviks)
• Sekret yang diambil dengan mengapus seluruh permukaan porsio serviks sekitar orifisium uteri eksternum dengan
spatula ayre. Caranya:
• 1) Pasang spekulum steril tanpa memakai bahan pelicin.
• 2) Dengan ujung spatula Ayre yang berbentuk bulat lonjong seperti lidah, apus sekret dari seluruh permukaan porsio
serviks dengan sedikit tekanan tanpa melukainya. Gerakan searah jarum jam, diputar melingkar 360°.
• 3) Ulaskan sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
• 4) Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95% atau hair spray.
• 5) Setelah selesai difiksasi minimal selama 30 menit, sediaan siap dikirim ke laboratorium sitologi.
c. Sekret endoserviks
• Diambil dengan mengapus permukaan mukosa kanalis endoserviks dan daerah squomo-
columnar junction, dengan bantuan alat pengambil bahan sediaan endoserviks, yaitu
kapas lidi atau cytobrush. Kapas lidi adalah alat pengambil sediaan endoserviks yang
paling tua dan paling banyak dipakai, tetapi saat ini sudah tidak direkomendasikan
lagi. Cytobrushadalah alat berbentuk sonde dari plastik yang ujungnya mempunyai sikat
halus seperti sikat gigi, yang berfungsi untuk menampung sekret endoserviks. Caranya:
• a. Lekatkan sedikit kapas lidi pada ujung alat ecouvillon rigide jika hendak menggunakan
alat tersebut. Jika menggunakan cytobrush tidak perlu tambahan kapas.
• b. Masukkan ecouvillon rigid atau cytobrush kedalam kanalis endoserviks sedalam satu
atau dua sentimeter dari orifisium uteri eksternum.
• c.Putar alat tersebut 360° untuk mengapus seluruh permukaan mukosa endoserviks dan
daerah squomo-columnar junction.
• d. Pulaskan sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan
jangan terlalu tipis.
• e. Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95% atau hair
spray.
• f. Setelah selesai difiksasi, minimal selama 30 menit, sediaan siap dikirim ke
laboratorium sitologi.
Melakukan perawatan bayi dalam inkubator
• Merupakan cara memberikan perawatan pada bayi dengan dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu lingkungan yang
cukup dengan suhu yang normal. Dalam pelaksanaan perawatan di dalam inkubator terdapat dua cara yaitu dengan cara tertutup dan terbuka.
1. Inkubator tertutup:
• a. Inkubator harus selalu tertutup dan hanya dibuka dalam keadaan tertentu seperti apnea, dan apabila membuka incubator usahakan suhu bayi tetap
hangat dan oksigen harus selalu disediakan.
• b. Tindakan perawatan dan pengobatan diberikan melalui hidung.
• c. Bayi harus keadaan telanjang (tidak memakai pakaian) untuk memudahkan observasi
• d. Pengaturan panas disesuaikan dengan berat badan dan kondisi tubuh.
• e. Pengaturan oksigen selalu diobservasi.
• f. Inkubator harus ditempatkan pada ruangan yang hangat kira-kira dengan suhu 27 derajat celcius.
2. Inkubator terbuka:
• a. Pemberian inkubator dilakukan dalam keadaan terbuka saat pemberian perawatan pada bayi.
• b. Menggunakan lampu pemanas untuk memberikan keseimbangan suhu normal dan kehangatan.
• c. Membungkus dengan selimut hangat.
• d. Dinding keranjang ditutup dengan kain atau yang lain untuk mencegah aliran udara.
• e. Kepala bayi harus ditutup karena banyak panas yang hilang melalui kepala.
• f. Pengaturan suhu inkubator disesuaikan dengan berat badan sesuai dengan ketentuan di bawah ini.
Perawatan payudara bengkak,putting susu
lecet,putting susu tenggelam
• Untuk mengatasinya, cobalah cara berikut ini :
• Menyusuilah sesering mungkin.
• Jika payudara sangat penuh dank eras hingga putting tidak
mencuat, pijat ASI keluar sebelum mnyusui. Letakkan kain
hangat pada payudara atau mandilah dengan air hangat dan
pijat perlahan payudara untuk mengeluarkan sedikit air susu.
• Letakkan kain dingin pada payudara di antara waktu menyusui.
Suhu dingin akan membuat pembuluh darah berkontraksi.
• Gantilah bra dengan ukuran yang lebih besar, namun pas dan
bisa menyokong payudara dengan baik.
• Di hari pertama saat Ibu menemukan puting lecet, istirahatkan untuk tidak disusui selama
12-24 jam agar memungkinkan proses penyembuhan.
• Terlebih dahulu gunakan puting sebelahnya yang tidak lecet, jika ASI terasa penuh pada
puting yang lecet maka pemijatan atau pemerahan dapat dilakukan. Jaga selalu agar bayi
tetap mendapatkan ASI.
• Pada saat pertama kali menyusui gunakan terlebih dahulu sisi puting yang sehat, baru
kemudian yang lecet secara bertahap dan dalam waktu singkat, karena bayi sering
menyusu lebih lembut pada ronde kedua karena mereka sudah tidak begitu lapar.
• Perhatikan perlekatan mulut bayi pada payudara, mulut harus meliputi sebagian besar
areola (bagian payudara berwarna gelap di sekeliling puting), jadi jangan hanya sampai di
ujung atau puting saja.
• Setelah selesai menyusui bersihkan puting susu dengan lembut. Gunakan kassa steril
yang dicelupkan ke dalam air hangat yang bersih.
• Jangan menyentuh langsung puting yang lecet, apalagi ketika Ibu belum cuci tangan
karena di khawatirkan akan membawa bakteri penyebab infeksi.
• Jika perlu gunakan salep laonilin khusus untuk puting yang lecet bagi Ibu menyusui
• Jika tidak tahan rasa sakitnya, minum obat penghilang rasa sakit. Obat ibuprofen atau
acetaminophen (parasetamol) yang diminum sekitar 30 menit sebelum menyusui dapat
membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.
• Jika menyusui terlalu menyakitkan, apalagi yang lecet kedua puting, maka Ibu mungkin
perlu menghentikan menyusui dan memompa untuk satu atau dua hari agar memberi
kesempatan untuk menyembuh.
Perawatan payudara postnatal
• Tujuan
1. Memelihara kebersihan payudara.
2. Melancarkan keluarnya ASI.
3. Mencegah bendungan pada payudara/ mencegah payudara bengkak
• Kapan perawatan payudara dilakukan
Perawatan Payudara dilakukan pada hari ke-2 setelah melahirkan minimal 2 kali dalam sehari.
• Persyaratan untuk mencapai hasil yang baik adalah :
a. Pengurutan harus dikerjakan secara sistematis dan teratur
b. Memperhatikan makanan dengan menu seimbang
c. Memperhatikan kebersihan sehari-hari
d. Memakai bra yang bersih dan bentuknya menyokong payudara
e. Istirahat yang cukup dan pikiran yang tenang
f. Menghindari rokok dan minuman yang beralkohol
• Persyaratan untuk mencapai hasil yang baik adalah :
a. Pengurutan harus dikerjakan secara sistematis dan teratur
b. Memperhatikan makanan dengan menu seimbang
c. Memperhatikan kebersihan sehari-hari
d. Memakai bra yang bersih dan bentuknya menyokong payudara
e. Istirahat yang cukup dan pikiran yang tenang
f. Menghindari rokok dan minuman yang beralkohol
• Alat yang harus disiapkan adalah
1. Waslap 2 buah
2. Handuk kecil
3. Baby oil
4. 2 buah baskom yang berisi air hangat dan air dingin
5. Kapas
• Langkah –langkah perawatan payudara antara lain:
1. Membersihkan puting susu
• 1. Cuci bersih kedua tangan ibu dengan benar dan
menggunakan sabun
• 2. Ibu duduk bersandar
• 3. Pakaian atas dibuka
• 4. Handuk diletakkan dibawah payudara
5. Kapas dibasahi dengan baby oil
6. Kedua putting susu dikompres dengan kapas yang sudah
dibasahi dengan minyak selama 3-5 menit
7. Kapas digosok-gosok di sekitar putting susu untuk
mengangkat kotoran
2. Melakukan pemijatan
1. Tuangkan baby oil secukupnya
2. Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, payudara kanan
dengan tangan kanan, 2 atau 3 jari dari tangan yang berlawanan
membuat gerakan memutar sambil menekan, dari pangkal
payudara dan berakhir pada putting susu, setiap payudara 2 kali
gerakan.
3. Kedua telapak tangan berada diantara kedua belahan payudara
lalu diurat mulai dari atas, ke samping, ke bawah dan menuju ke
puting susu dengan mengangkat payudara perlahan-lahan dan
dilepaskan perlahan-lahan. Pemijatan dilakukan sebanyak 30 kali
4. Telapak tangan kiri menyokong payudara sebelah kiri dan
tangan kanan dengan sisi kelingking mengurut payudara mulai dari
pangkal dada ke arah putting susu. Demikian dengan payudara
sebelah kanan. Dilakukan sebanyak 30 kali.
3. Melakukan Pengompresan
• Kompres kedua payudara dengan waslap hangat selama 2
menit, kemudian ganti dengan kompres waslap dingin selama 1
menit. Kompres bergantian selama 2x berturut-turut akhiri
dengan kompres air hangat.
Pengawasan puerperium
• Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang
berlangsung kira-kira 6 minggu (Abdul Bari,2000). Masa nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan sampai alat-alat
kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu : 6 – 8 minggu minggu (Mochtar, 2001).
•  Masa nifas (puerperium) adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes,
2003). Wanita yang melalui periode puerperium disebut puerpura.
•  Puerperium (masa nifas) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu.
Kejadian yang terpenting dalam nifas adalah involusi dan laktasi ( Saifuddin, 2006 ).
•  Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali pada keadaan tidak hamil, serta penyesuaian terhadap
hadirnya anggota keluarga baru (Mitayani, 2009)
•  Batasan waktu nifas yang paling singkat (minimum) tidak ada batas waktunya, bahkan bisa jadi dalam waktu yang relative pendek darah
sudah tidak keluar, sedangkan batasan maksimumnya adalah 40 hari. Jadi masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya plasenta
sampai alat alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.

• B. ASUHAN MASA NIFAS


• Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60% kematian ibu
akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Masa neonatus merupakan masa
kritis bagi kehidupan bayi, 2/3 kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bbl terjadi dalam waktu 7 hari
setelah lahir. Dengan pemantauan dan asuhan pada ibu dan bayi pada masa nifas dapat mencegah kematian dini.

• Asuhan keperawatan pada masa postpartum dibagi atas tiga periode, yaitu: (Mitayani, 2009)
• 1. Immediate postpartum, adalah masa 24 jam postpartum
• 2. Early postpartum, adalah masa pada minggu pertama postpartum
• 3. Late Postpartum, adalah masa pada minggu kedua sampai dengan minggu keenam postpartum