Anda di halaman 1dari 12

JURNAL

Nyeri Persisten Setelah


Persalinan Cesar Dan Per-
Vaginam: Penelitian
Kohort Prospektif

FERNIZHA MENTARI
10542038012
PEMBIMBING: dr. Zulfikar Djafar, M.Kes, Sp.An
Menurut Asosiasi Internasional untuk Studi
Nyeri
 Nyeri dianggap kronis atau terus-menerus
bila sudah berlangsung lebih dari 3 bulan
 nyeri persisten sebagai nyeri yang
berkembang setelah intervensi bedah dan
berlangsung paling tidak 2 bulan, dan
penyebab lain nyeri harus dikecualikan

PENDAHULUAN
 Terdapat hampir 130 juta persalinan dan 20
juta persalinan cesar per tahun di seluruh
dunia (WHO, 2008). Persalinan cesar
mewakili sampai 8% prosedur pembedahan
(WHO, 2004). Insiden nyeri persisten setelah
persalinan cesar dilaporkan bervariasi dari
1% sampai 18% dan insiden setelah
persalinan per vaginam dari 1% sampai 10%
pada 1 tahun. Namun, sebagian besar
penelitian bersifat retrospektif.

PENDAHULUAN
Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji
fenomena nyeri persisten yang lebih tinggi
setelah persalinan cesar dibandingkan
dengan persalinan per vaginaam dan juga
mengevaluasi intensitas dan karakteristik
nyeri persisten dan hubungannya dengan
nyeri sebelumnya dan faktor obstetrik
lainnya.

PENDAHULUAN
 Faktor risiko yang terkait dengan
perkembangan nyeri pasca persisten
meliputi intensitas pra-operasi - atau
nyeri pascaoperasi, jenis pembedahan,
kerentanan genetik, dan profil psikososial
pasien.
 Kuesioner dibagikan kepada para peserta
pada hari kedua postpartum di bangsal
Kuesioner pertama menyangkut status
kesehatan umum, riwayat kebidanan, operasi
perut sebelumnya, masalah nyeri di tempat
lain, dan rincian persalinan cesar atau
persalinan per vaginam.
 Dalam kuesioner kedua, kami menanyakan
apakah rasa sakit masih ada di tempat bedah
atau di jalan lahir (ya atau tidak). Jawaban
"iya" dianggap sebagai nyeri terus menerus
pada 1 tahun.

METODE
 Hipotesis utamanya adalah bahwa
kejadian nyeri persisten pada 1 tahun
lebih besar setelah persalinan cesar
daripada persalinan per vaginam.
 Ada 502 persalinan cesar dan 1052 kasus
persalinan per vaginam yang termasuk
dalam penelitian ini. Tanggapan terhadap
kuesioner kedua diterima 377 (75%) dan
711 (68).

HASIL
 Insiden nyeri persisten sedang atau yang
lebih parah pada 1 tahun juga lebih sering
terjadi setelah persalian cesar daripada
setelah persalinan per vaginam
 Di antara mereka yang masih menderita sakit
pada 1 tahun, hubungan seksual
memperparah rasa nyeri kurang pada
persalinan cesar daripada kelompok
persalinan per vaginam. Rasa nyeri pasca
melahirkan juga berlangsung lebih lama
setelah persalinan cesar daripada persalinan
per vaginam. Rasa sakit telah diatasi dengan
2 bulan pada masing-masing 69% dan 81%
wanita setelah persalinan cesar dan
persalinan per vaginam
HASIL
 Wanita dengan nyeri terus-menerus pada
1 tahun melaporkan lebih banyak rasa
nyeri saat persalinan per vaginam, dan
mereka yang berada dalam kelompok
persalinan cesar dengan nyeri persisten
lebih sering melaporkan rasa nyeri sehari
setelah persalinan cesar.

DISKUSI
 Disimpulkan bahwa kejadian nyeri persisten
pada 1 tahun lebih besar setelah persalinan
cesar daripada setelah persalinan per
vaginam. Nyeri sedang atau lebih parah juga
dilaporkan terjadi lebih sering setelah
persalinan cesar daripada setelah persalinan
per vaginam. Nyeri yang terus-menerus
paling sering ringan dan berhubungan
dengan situasi khusus pada kedua kelompok.
Wanita dengan nyeri persisten lebih sering
mengalami riwayat masalah nyeri
sebelumnya dan mereka mengalami lebih
banyak rasa sakit saat persalinan per
vaginam dan nyeri setelah persalinan cesar.

DISKUSI
 TERIMA KASIH