Anda di halaman 1dari 10

Screening

Riwayat
Kesehatan dan
Pemeriksaan
Fisik Pada
Kehamilan
Screening

 Pengertian Screening
Skrining (screening) adalah deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk
mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis belum jelas dengan
menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan
secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat tetapi
sesunguhnya menderita suatu kelainan.
 Tujuan skrining dan deteksi dini
Skrining bertujuan untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit
dengan pengobatan dini terhadap kasus yang ditemukan. Program diagnosis dan
pengobatan dini hampir selalu diarahkan kepada penyakit yang tidak menular
seperti kanker, diabetes mellitus, glaucoma, dan lain-lain.
Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang sedang ia derita sekarang. Tanyakan bagaiaman urutan
kronologis dari tanda-tanda dan klasifikasi dari setiap tanda penyakit tersebut. Hal ini diperlukan untuk
menentukan bagaimana asuhan berikutnya. Misalnya klien mengatakan bahwa sedang menderita
penyakit DM, maka bidan harus terlatih memberikan asuhan kehamilan klien dengan DM.
Tanyakan kepada pasien apakah pernah dirawat. Kalau klien menjawab pernah, tanyakan dengan
penyakit apa ia di rawat. Hal ini diperlukan karena apabila klien pernah dirawat dengan penyakit itu dan
dalam waktu yang lama hal itu menunjukkan bahwa klien saat itu mengalami penyakit yang sangat
serius.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang pernah diderita. Apakah dulu pasien pernah menderita
penyakit seperti TBC, DM, Jantung, Hipertensi, Asma, Tifus, Penyakit menular dan menurun. Apabila
klien pernah menderita penyakit keturunan, maka ada kemungkinan janin yang ada dalam
kandungannya tersebut beresiko menderita penyakit yang sama.
3. Riwayat kesehatan keluarga
a. Riwayat Penyakir Menular
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang menderita penyakit menular.
Apabila klien mempunyai keluarga yang sedang menderita penyakit menular, sebaiknya bidan
menyarankan kepada kliennya untuk menghindari secara langsung atau tidak langsung bersentuhan
fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk smentara waktu agar tidak menular pada ibu hamil dan
janinnya. Berikan pengertian terhadap keluarga yang sedang sakit tersebut agar tidak terjadi
kesalahpahaman.
b. Riwayat Penyakit Menurun
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini diperlukan untuk mendiagnosa
apakah si janin berkemungkinan akan menderita penyakit tersebut atau tidak, hal ini bisa dilakukan
dengan cara membuat daftar penyakit apa saja yang pernah diderita oleh keluarga klien yang dapat
diturunkan (penyakit genetik, misalnya hemofili, TD tinggi, dsb). Biasanya dibuat dalam silsilah
keluarga atau pohon keluarga.
Pemeriksaan Fisik

1. Pengukuran BB dan TB
Pengukuran tinggi badan dilakukan untuk mendeteksi adanya resiko apabila
pengukuran > 145 cm dan sering berhubungan dengan keadaan rongga panggul.
Pengukuran berat badan dilakukan untuk mengetahui kenaikan atau penurunan
berat badan. Kenaikan BB normal ibu dari sebelum hamil dihitung dari TM I sampai
TM III yang berkisar anatar 6,8-16 kg dan setiap minggu yang tergolong normal
adalah 0,4 - 0,5 kg tiap minggu mulai TM II.
2. Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah sangat penting untuk mengetahui standart normal,
tinggi atau rendah. Tekanan darah yang normal 110/80 - 120/90 mmHg, bila
melebihi 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya Preeklampsi.
3. Nadi
Denyut nadi maternal sedikit meningkat selama masa hamil, etapi jarang melebihi
100 denyut per menit (dpm). Curigai hipotiroidisme jika denyut nadi lebih dari 100
dpm. Periksa adanya eksoftalmia dan hiperrefleksia yang menyertai. Apabila
denyut nadi lebih dari 100 dpm, instrusikan melakukan T3 dan T4 bebas.
Hipertiroidisme tidak terjadi jika terdapat takikardia.
4. Pemeriksaan Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid sedikit membesar selama masa hamil akibat hiperplasia kelenjar
dan peningkatan vaskularitas. Namun, perubahan anatomi ini tidak menyebabkan
tiromegali yang signifikan dan setiap pembesaran yang signifikan perlu diteliti.
Hipotiroidisme suit dideteksi selama masa kehamilan karena banyak gejala
hipotiroidisme yakni keletihan, penambahan berat, dan konstipasi yang
menyerupai gejala-gejala kehamilan.
5. Inspeksi
Inspeksi dilakukan untuk menilai keadaan ada tidaknya cloasma gravidarum pada
muka atau wajah, pucat atau tidak pada selaput mata, dan ada tidaknya edema.
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan pada leher untuk menilai ada tidaknya
pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar limfe. Pemeriksaan dada untuk menilai
apakah perut membesar kedepan atau kesamping, keadaan pusat, pigmentasi linea
alba, serta ada tidaknya striae gravidarum. Pemeriksaan vulva untuk menilai keadan
perineum, ada tidaknya tanda chadwick, dan adanya fluor. Kemudian pemeriksaan
ektremitas untuk menilai ada tidaknya varises.
6. Palpasi
Palpasi dilakukan utnuk menentukan besarnya rahim dengan menentukan usia
kehamilan serta menentukan letak anak dalam rahim. Pemeriksaan secara palpasi
dilakukan dengan menggunakan metode Leopold yakni:
a. Leopold I: digunakan untuk menentukan bagian apa yang ada dalam fundus (bagian
kepala atau bokong). Bila kepala sifatnya keras, bundar dan melenting. Sedangkan akan
lunak, kurang bundar dan kurang melenting. Selain itu, juga digunakan untuk
mengetahui TFU yang bertujuan untuk menentukan umur kehamilan berdasarkan
minggu dan hasilnya bisa di bandingkan dengan hasil anamnesis hari pertama haid
terakhir (HPHT). Selain itu, bisa mengetahui kapan gerakan janin mulai dirasakan. TFU
yang normal harus sama dengan UK dalam minggu yang dicantumkan dalam HPHT.
b. Leopold II: digunakan untuk menentukan letak punggung dan letak bagian kecil janin.
c. Leopold III: digunakan untuk menentukan bagian yang terdapat di bagian bawah dan
apakah bagian bawah anak sudah atau belum terpegang oleh pintu atas panggul.
d. Leopold IV: digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan
seberapa masuknya bagian bawah tersebut ke dalam rongga panggul. Pemerisaan ini
tidak dilakukan bila kepala masih tinggi. Pemeriksaan Leopold lengkap dapat dilakukan
bila janin cukup besar, kira-kira bulan 6 ke atas.
7. Auskultasi
Auskultasi, dilalukan umumnya dengan stetoskop monoaural untuk mendengarkan bunyi
jantung janin, bising tali pusat, gerakan janin, bising rahim, bunyi aorta, serta bising usus.
Bunyi jantung janin dapat didengar pada akhir bulan ke-5, walaupun dengan
ultrasonografi dapat diketahui pada akhir bulan ke-3. Bunyi jantung janin dapat terdengar
dikiri dan kanan di bawah tali pusar bila presentasi kepala. Bila terdengar setinggi tali
pusat, maka presentasi di daerah bokong. Bila terdenga pada pihak berlawanan dengan
bagian kecil, maka janin fleksi dan bila sepihak maka defleksi.
Dalam keadaan sehat, bunyi jantung antara 120-160 kali permenit. Bunyi jantung dihitung
dengan mendengarkannya selama 1 menit penuh. Bila kurang dari 120 kali permenit atau
lebih dari 160 per menit, kemungkinan janin dalam keadaan gawat janin. Selain bunyi
jantung janin, dapat didengarkan bising tali pusat seperti meniup. Kemudian bising rahim
seperti bising yang frekuensinya sama seperti denyut nadi ibu, bunyi aorta frekuensinya
sama seperti denyut nadi dan bising usus yang sifatnya tidak teratur.
8. Pemeriksaan Ekstremitas
Pemeriksaan ekstremitas harus mencakup pengkajian refleks tendon dalam,
pemeriksaan adanya edema tungkai dan vena verikosa, dan pemeriksaan ukuran
tangan dan kaki, bentuk, serta letak jari tangan dan jari kaki. Kelainan menunjukkan
gangguan genetic.
9. Pemeriksaan Genetalia Eksterna
Pemeriksaan genetalia eksterna dilakukan dengan mencari adanya lesi, eritama,
perubahan warna, pembengkakan, ekskoriasi, dan memar. Catat adanya rabas dan bau.
Pemeriksaan menyeluruh biasanya dilakukan dengan memisah labia mayora dari
minora dan dengan perlahan menarik ujung klitoris, kemudian periksa dengan cermat
adanya lesi yang kemungkinan menunjukkan sifilis atau herpes. Pastikan bahwa setiap
gerakan jari diarahkan dengan tujuan yang sesuai. Hindari “memainkan jari” pada
jaringan karena dapat diinterpretasi sebagai seksual.