Anda di halaman 1dari 25

Pendekatan Kedokteran Keluarga pada

Penatalaksanaan Gout Artritis, Hipertensi, dan


Hiperkolesterolemia pada Tn.D Lansia 78 tahun di
PKM Rappokalling

Annisa Nur Illah HS

Pembimbing :
dr. Gusti Gunawan

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
Pendahuluan

 Lansia :
- WHO ≥ 60 tahun
- Tahapan akhir dari fase kehidupan
- Aging Process atau proses penuaan → berbagai aspek kehidupan baik
sosial, ekonomi, maupun kesehatan
- Segi kesehatan → lebih rentan terhadap berbagai keluhan fisik baik
karena faktor alamiah maupun penyakit.
Pendahuluan
Riset Kesehatan Dasar tahun 2013

10 Penyakit tersering pada lansia


(didominasi oleh penyakit tidak menular, penyakit kronik dan degeneratif)

No. Penyakit Hiper


Gout HT
1. Hipertensi kolesterolemia

2. Artritis GA di Indonesia
Prevalensi
hipertensi di Salah satu faktor
tercatat 8,1% dari
Indonesia sebesar risiko mayor PJK
total penduduk
26,5 %.
3. Stroke
4. PPOK 29% diantaranya (WHO) berkaitan
dengan lebih dari
melakukan Komplikasi :stroke,
pemeriksaan infark miokard, separuh kejadian
5. Diabetes Melitus dokter, dan
sisanya atau 71%
gagal ginjal, dan
ensefalopati
PJK dan > 4 jt
kematian/thn
mengonsumsi (kerusakan otak).
obat bebas pereda
6. Kanker nyeri
Di Indonesia,
prevalensi 15,5%
7. PJK pada kelompok
usia 55-64 tahun
66,7% lansia di
kecamatan
8. Batu Ginjal Tamalanrea, Kota
Makassar.

9. Gagal jantung
10. Gagal ginjal
Tujuan …
 Menerapkan pelayanan dokter keluarga berbasis evidence
based medicine pada pasien dengan mengidentifikasi faktor
risiko, masalah klinis, serta penatalaksanaan pasien
berdasarkan kerangka penyelesaian masalah pasien dengan
pendekatan patient centred dan family approach.

 Studi ini merupakan studi deskriptif dengan rancangan laporan


kasus. Studi dilakukan pada seorang pria lansia di Puskesmas
Rappokalling pada tanggal 2 Juli hingga 14 Juli 2018. Data
yang ada diperoleh melalui autoanamnesis, alloanamnesis,
pemeriksaan fisik dan kunjungan rumah untuk melengkapi data
keluarga, psikososial, dan lingkungan.
Kasus
Anamnesis
Tn. D, 78 tahun datang ke Puskesmas Rappokalling diantar oleh
anaknya dengan keluhan nyeri dan bengkak pada sendi lutut dan kaki
seperti tertusuk sejak 2 hari. Keluhan yang sama sudah dirasakan yaitu
sekitar 3 tahun terakhir dan sering kambuh. Pasien mengaku jika pasien
mengkonsumsi sayuran seperti kangkung, kacang-kacangan keluhan
pasien muncul, sedangkan pasien tidak bisa menahan makan kacang
karena sangat suka makan kacang-kacangan.
Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri kepala
dibagianbelakang sejak 3 tahun terakhir, nyeri terasa menjalar ke leher
bagian belakang hingga menimbulkan rasa berat pada bagian tersebut.
Nyeri tersebut dirasakan hilang timbul. Rasa nyeri kepala mengganggu
istirahat pasien sehingga pasien merasakan sulit tidur. Selain itu pasien
mengeluhkan lutu dan telapak kaki sering pegal dan kesemutan. Pasien
merasakan telapak kaki terasa tebal saat berjalan. Pasien masih dapat
melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya Satu minggu yang lalu
pasien merasakan badan terasa lemas, dengan intensitas nyeri kepala
yang semakin memberat. Sehingga memutuskan untuk memeriksakan
diri ke Puskesmas.
Kasus
Anamnesis
Pasien memiliki kebiasaan sejak masih muda yaitu
mengkonsumsi makanan berlemak dan berminyak seperti gorengan dan
jeroan. Pasien juga sering menggunakan garam pada masakannya.
pasien sering mengkonsusmsi sayuran berwarna hijau tua seperti daun
singkong, bayam dan juga mengkonsumsi kacang‐kacangan. Pasien
masih mengerjakan aktivitas dirumah seperti menjual sayur. Pasien
mengatakan jarang berolahraga, tidak mengkonsumsi alkohol ataupun
merokok.
Pasien adalah anak ke 3 dari 8 bersaudara, pasien juga telah
berkeluarga dan memiliki 6 orang anak dan 2 cucu. Pasien tinggal di
rumah dengan ukuran 5 m x 6 m, dengan penghuni sekitar 4 orang.
kebersihan dan kerapihan rumah sedang, kamar mandi dan jamban yang
digunakan adalah milik pribadi, fasilitas dapur sedang, semua makanan
dan minuman yang di konsumsi di cuci terlebih dahulu kemudian di
masak, saluran air dialirkan ke got dibelakang rumah, tempat sampah di
dalam dan diluar rumah digunakan dengan baik sehingga tidak ada
sampah berserakan baik di dalam maupun diluar rumah.
Kasus
Anamnesis
Pasien bekerja sebagai pedagang sayuran dan bahan sembako
di halaman rumahnya dan dan istri bekerja mengurus rumah tangga.
Keuangan sehari‐hari yang digunakan berasal dari pasien berjualan.
Gaji kepala keluarga (KK) ± Rp. 1.500.000/ bulan yang didapatkan dari
mata pencaharian utama sebagai pedagang, keluarga pasien juga tidak
memiliki dana kesehatan sendiri, namun memiliki kartu KIS (Kartu
Indonesia Sehat) dan terdaftar sebagai anggota penerima bantuan
iuran (PBI) dari BPJS sehingga pasien dan keluarganya termasuk
keluarga yang memperhatikan kesehatan diri.
Setelah dilakukan, pemeriksaan, ternyata istri Tn.D yakni Ny.K
juga mengalami hipertensi. Pola pengobatan pasien ini bersifat kuratif,
apabila mengalami keluhan, pasien baru pergi untuk berobat. Sama
saja dengan pola pengobatan anggota keluarga lainnya merupakan
kuratif, dimana anggota keluarga mencari pelayanan kesehatan jika
sakit saja. Ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.yaitu
hipertensi yang dialami kakak serta istri pasien.
Kasus
Anamnesis

Tn. D yang tergolong lansia dan menderita artritis gout,


hipertensi, dan hiperkolesterolemia merupakan masalah kompleks
pada pasien dan keluarganya. Hal ini tentu didukung oleh masalah
internal dan eksternal dari pasien dan keluarganya. Oleh karena itu,
dibutuhkan partisipasi dan dukungan pelaku rawat keluarga yang
optimal dalam memotivasi, mengingatkan, serta memperhatikan pasien
dalam penatalaksanaan penyakitnya.
Kasus
Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang

 KU: tampak sakit ringan  Tanggal 2 Juli 2018


 Tanda Vital: S 36,6 0C, TD 160/110 Asam urat 12,0 mg/dl (3-7 mg/dl)
mmHg, N 78 x/mnt,P 20 x/mnt
 BB: 58 kg; TB: 153 cm; Kolesterol 238 mg/dl (<200 mg/dl)
 IMT: 24,7 WHO→overweight
Nasional →normal.
 Mata, telinga, hidung, kesan dalam
batas normal.
 Paru, gerak dada dan fremitus taktil
simetris, tidak didapatkan rhonki dan
wheezing, kesan dalam batas normal.
 Batas jantung tidak terdapat
pelebaran, kesan batas jantung
normal. Abdomen, datar dan supel,
tidak didapatkan organomegali
ataupun ascites, kesan dalam batas
normal.
 Ekstremitas tidak didapatkan edema,
kesan dalam batas normal.
 Muskuloskeletal dan status neurologis
kesan dalam batas normal.
Kasus
Masalah Tatalaksana

1. Mengeluhkan nyeri sendi,kepala hingga  Edukasi pada pasien dan anggota


tengkuk disertai pegal-pegal seluruh keluarga yang lain yaitu istri dan anak
badan, dan juga rasa kesemutan pada pasien yang tinggal serumah pasien
kaki, kekhawatiran keluhan makin berat
dan tidak dapat sembuh. Harapan asam
mengenai penyakit yang diderita pasien
urat,tekanan darah dan kadar kolesterol dan perubahan gaya hidup yang harus
terkontrol dilakukan pasien untuk mencegah
2. Diagnosis kerja adalah gout artritis, penyakit menjadi semakin berat dan
hipertensi grade II dengan komplikasi penyakit
hiperkolesterolemia  Medikamentosa berupa allopurinol 2x100
3. Perilaku pola makan yang tidak sehat, mg, amlodipine 1x10 mg, piroxicam 2x50
suka makan kacang-kacangan, mg, simvastatin 1x10 mg dan vitamin B
makanan berlemak, gorengan dan
kompleks 2x150 mg.
bersantan, pola hidup tidak baik dan
jarang olahraga
4. Masalah psikososial terkadang pasien
merasa stress dan kurangnya Pada pasien ini ditatalaksana secara holistik
pengetahuan keluarga tentang penyakit dengan konsep Mandala of Health, berdasarkan
pasien permasalahan pasien seperti skema dibawah ini.
Dan hasil pembinaan yang telah dilakukan
dievaluasi dengan menggunakan indekx koping,
dengan hasil peningkatan skor dari 2,3 menjadi 4.
Skoring kemampuan
penyelesaian masalah
dalam keluarga

Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan


masalah :
 Skor 1 Tidak dilakukan, keluarga menolak,
tidak ada partisipasi.
 Skor 2 Keluarga mau melakukan tapi tidak
mampu, tidak ada sumber (hanya
keinginan); penyelesaian masalah
dilakukan sepenuhnya oleh provider.
 Skor 3 Keluarga mau melakukan namun
perlu penggalian sumber yang belum
dimanfaatkan, penyelesaian masalah
dilakukan sebagian besar oleh provider
 Skor 4 Keluarga mau melakukan namun
tak sepenuhnya, masih tergantung pada
upaya provider
 Skor 5 Dapat dilakukan sepenuhnya oleh
keluarga
Pembahasan
GOUT ARTRITIS

The American Rheumatism Association, kriteria diagnostik :


- Didapatkan kristal Monosodium Urat di dalam cairan sendi
- Didapatkan tofus yang mengandung kristal MSU
- Didapatkan 6 dari 12 kriteria :
1. > 1x serangan artritis akut,
2. Inflamasi maksimal terjadi dalam waktu 1 hari,
3. Artritis monoartikuler,
4. Kemerahan pada sendi,
5. Bengkak dan nyeri pada MTP-I,
6. Artiris unilateral pada MTP-,
7. Serangan unilateral sendi-sendi tarsal
8. Kecurigaan terhadap adanya tofus,
9. Hiperuricemia
10. Pembengkakan sendi yang asimetris (radiologik),
11. Kista subkortikal tanpa erosi (radiologik), dan
12. Kultur mikroorganisme negatif pada cairan sendi.
Pembahasan
KLASIFIKASI HIPERTENSI JNC VIII

KATEGORI TDS (mmHg) TDD (mmHg)


Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Normal Tinggi 130-139 85-89
Hipertensi Grade I 140-159 90-99
Hipertensi Grade II 160-179 100-109
Hipertensi Grade III ≥ 180 ≥ 110

HIPERKOLESTEROLEMIA
Hal ini berdasarkan keluhan pasien pegal-pegal diseluruh
badan, serta hasil pemeriksaan laboratorium kadar kolesterol
yang tinggi yaitu 286 mg/dl (>200 mg/dl).
Pembahasan

Hasil :
Sesuai konsep Mandala of Health :
Kunjungan I :
Masalah : -Perilaku masih mengutamakan kuratif
pendekatan dan perkenalan terhadap pasien daripada preventif,
- lansia laki-laki berusia 78 thn serta menerangkan maksud dan tujuan
- menderita GA dan hipertensi sejak 3 tahun kedatangan diikuti dengan anamnesis tentang -pengetahuan yang kurang tentang
keluarga dan perihal penyakit yang telah penyakit‐penyakit yang ia derita
- hiperkolesterolemia sejak 1 tahun yang lalu
diderita - kurangnya dukungan dan pengetahuan
keluarga tentang penyakit yang diderita
pasien.

hampir setiap hari pasien mengkonsumsi


tumisan, gorengan, kerupuk, makanan
bersantan, dan makanan berlemak lainnya.
Intervensi terhadap pasien dengan
menggunakan media brosur bergambar Pasien selama ini tidak mengetahui pola
tentang gout artritis dan diet yang sesuai makan yang sesuai dengan gizi seimbang.
untuk pasien. Namun, pasien mengetahui contoh bahan
makanan dari zat gizi yang diperlukan.
Tujuan untuk merubah pola makan pasien
yang tidak teratur meskipun untuk merubah Pasien mengkonsumsi nasi 3 piring sehari,
hal tersebut bukanlah hal yang dapat dilihat ditambah gorengan atau kerupuk di sore hari.
hasilnya dalam kurun waktu yang singkat. Lauk pauk yang dimakan sebanyak ± 3 porsi,
berupa ikan, telur, atau tahu tempe yang
digoreng, jarang dipepes atau direbus.
Pasien jarang makan buah.
Pembahasan
GOUT ARTRITIS

Kriteria untuk mendapatkan terapi :


- Ditemukannya tofus baik melalui pemeriksaan klinis ataupun
radiologi,
- Serangan gout akut berulang (≥2 serangan/tahun),
- Gagal ginjal kronik derajat 2‐5, dan riwayat urolitiasis.

Pada pasien ini diberikan terapi farmakologis karena sudah terdapat seragan gout berulang
dan edukasi berupa perubahan pola makan. Pemberian allopurinol pada pasien ini sudah tepat
karena termasuk dalam lini pertama pengobatan artirits gout selain obat lainnya yaitu
probenecid.

 Pemberian obat antiinflamasi non steroid (OAINS) berupa piroxicam sudah tepat pada
pasien ini yaitu sebagai analgetik yang direkomendasikan oleh American Rheumatism
Association, obat analgetik lainnya yang dapat diberikan yaitu kortikosteroid sistemik
ataupun probenecid.
Pembahasan
GOUT ARTRITIS

 Diet rendah protein karena protein dapat meningkatkan asam


urat, terutama protein hewani.
 Dianjurkan protein nabati dan protein yang berasal dari susu,
keju dan telur.
 Batasi konsumsi lemak. Lemak dapat menghambat ekskresi
asam urat melalui urin.
 Batasi makanan yang digoreng, penggunaan margarin, mentega
dan santan.
 Banyak minum air putih, minimal 2.5 liter/hari. Konsumsi cairan
yang tinggi dapat membantu mengeluarkan asam urat melalui
urin.
 Alkohol, tape dan brem harus dijauhi. Bahan pangan
mengandung alkohol ini dapat meningkatkan asam laktat
plasma, asam yang dapat menghambat pengeluaran asam urat
dari dalam tubuh melalui urin.
Pembahasan
HIPERTENSI

 Penatalaksanaan hipertensi ≥60 tahun tidak memiliki diabetes


atau penyakit ginjal kronik, maka target terapi tekanan darah
adalah <150/90 mmHg.
 Target ini untuk mengurangi risiko terjadinya stroke, gagal
jantung dan penyakit jantung koroner (PJK).
 R/ terdiri dari terapi non medikamentosa (edukasi, menurunkan
asupan garam, menurunkan asupan lemak,terapi fisik dan lain-
lain), dan terapi obat.

Sesuai dengan faktor pemilihan jenis obat hipertensi dan melihat kondisi klinis
pasien dengan hipertensi tanpa di sertai komplikasi, harga relatif terjangkau,
mudah didapatkan, dengan efek samping yang bisa diatasi, maka pemilihan obat
antihipertensi pada pasien dengan golongan Calsium Channal Blocker
(Amplodipine) dengan dosis 10 mg diberikan satu kali sehari pada malam hari.
Pembahasan
HIPERKOLESTEROLEMIA

 Asupan kolesterol harus dibatasi yaitu <200 mg/hari.


 R/ Terapi medikamentosa dengan HMG Co-A Reductase
Inhibitor simvastatin 10 mg diminum stau kali setiap malam.
Obat ini dikonsumsi terus menerus, sampai kadar kolesterol pasien mencapai
target <200 mg/dl, dan pasien telah dapat mengatur diet

 Tujuan pemberian simvastatin adalah menurunkan jumlah


kolesterol dengan cara menurunkan sintesis kolesterol di hati.
Terdapat beberapa macam obat yang bekerja dengan
mekanisme yang sama dengan simvastatin, misalnya
lofastatatin dan atrovastatin. Dibandingkan kedua obat ini
simvastatin memiliki kelebihan yaitu absorpsinya tidak
dipengaruhi oleh intake makanan.
Pembahasan

Penyakit yang diderita pasien ini merupakan penyakit kronis.


Penyakit kronis seperti artirits gout, hipertensi, hiperkolesterolemia
memiliki perjalanan penyakit yang cukup lama dan umumnya
penyembuhannya tidak dapat dilakukan. Penyakit tersebut hanya
bisa dikontrol untuk menjaga agar tidak terjadi komplikasi. Untuk
itu pasien diharuskan untuk rutin mengunjungi sarana kesehatan
untuk mengontrol penyakitnya.
Pembahasan
5 Hari setelah intervensi

 Dari hasil anamnesis lanjut didapatkan bahwa keluhan nyeri sendi


dan nyeri kepala sudah berkurang dan pasien sudah minum obat
secara teratur.
 Anak pasien yang tinggal serumah dengan pasien lebih
memperhatikan makanan yang dimakan pasien seperti melarang
pasien untuk mengkonsumsi makanan kaya garam dalam
masakan, melarang untuk mengkonsumsi kacang‐kacangan.
 Olahraga rutin setiap pagi masih tetap dilakukan di lingkungan
sekitar rumah.
 Dalam masalah psikososial, keluarga sudah memahami penyakit
pasien sebagai partner. Faktor pendukung dalam penyelesaian
masalah pasien adalah adanya niat, dukungan dan perhatian dari
anaknya yang tinggal serumah dengan pasien yang harus
menerapkan pola hidup sehat. Sedangkan faktor penghambatnya
adalah perilaku pasien yang terkadang sangat sensitif jika dilarang
makan makanan yang tidak boleh, mengingat usia dan pasien juga
sangat mudah tersinggung.
Pembahasan
5 Hari setelah intervensi

 Pengukuran tekanan darah dan kadar asam urat pasien pada


saat evaluasi didapatkan asam urat 11,6 mg/dl dan tekanan
darah 140/90 mmHg.
 Kadar asam urat tersebut telah turun dari awal pasien datang ke
puskesmas yaitu 11,6 mg/dl meskipun nilai tersebut belum
mencapai nilai normal.
 Tekanan darah juga telah turun dari awal pasien datang ke
puskesmas yaitu 160/100 mmHg dan sudah mencapai target
terapi.
Kesimpulan
 Pasien lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami
penyakit‐penyakit kronis, salah satunya akibat gaya hidup yang
salah. Pasien dalam kasus adalah lansia pria 78 tahun dengan
artritis gout, hipertensi derajat II, dan hiperkolesterolemia.
Penanganan dan upaya pencegahan komplikasi berupa
perubahan perilaku untuk mengontrol asam urat, tekanan darah,
kolesterol serta mengubah gaya hidupnya dengan mengurangi
makan makanan yang tinggi natrium (garam), lemak jenuh dan
purin. Adanya dukungan dari keluarga dalam hal pengobatan
pasien menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dan perbaikan
klinis pasien. Pelayanan dokter keluarga tidak hanya
menyelesaikan masalah klinis pasien tetapi juga mencari dan
memberi solusi atas permasalahan permasalahan yang ada dalam
aspek biopsikososial yang mempengaruhi kesehatan pasien
maupun keluarga.
TERIMAKASIH