Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN

POST PARTUM BLUES

Disusun Oleh :
Karunia Wati Susanti (10215015)
Definisi
• Postpartum blues merupakan gangguan mood/afek ringan sementara yang
terjadi pada hari pertama sampai hari ke 10 setelah persalinan ditandai
dengan tangisan singkat, perasaan kesepian atau ditolak, cemas, bingung,

IIK BW Kediri
gelisah, letih, pelupa dan tidak dapat tidur (Pillitteri, 2003 dikutip dari
Machmudah, 2015).

1
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
Data Demografi
• Prevalensi kejadian postpartum blues dari berbagai negara, berkisar antara
10- 34 % dari seluruh persalinan, diperkirakan 20% wanita melahirkan
menderita postpartum blues (Munawaroh, 2008 dikutip dari Fitriana dkk,

IIK BW Kediri
2015).

• Di Indonesia, satu dari 10 wanita memiliki kecenderungan post partum blues


(Depkes RI, 2008). Di Indonesia sekitar 30% sampai 80% wanita mengalami
post partum blues yang ringan dan bersifat sementara (Anonym, 2008 dikutip
dari Hidaayah, 2015).

2
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
Etiologi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Setyowati dan Uke
(2006) dikutip dari Fitriana dkk (2015) partum blues yang disebabkan :

 Pengalaman yang tidak menyenangkan pada periode kehamilan dan

IIK BW Kediri
persalinan

 Faktor psikososial (dukungan sosial), serta faktor spiritual

 Kualitas dan kondisi bayi baru lahir

3
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
Manifestasi Klinis
• Reaksi depresi/sedih/disforia, cemas, nyeri kepala (headache)

• Mudah menangis (tearfulness), mudah tersinggung (irritable), Labilitas

• Cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa tidak mampu,

IIK BW Kediri
• Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan (appetite)

(Freudenthal, 1999; Olds, 1999; Lowdermilk, Perry & Bobak, 2000 dikutip
dari Machmudah, 2015).

4
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
PENATALAKSANAAN
• Pemberian konseling, pemberian konseling efektif dalam membantu
pembentukan mekanisme koping positif pada ibu (Budihastuti dkk,
2012 dikutip dari Kenwa dkk, 2015).

IIK BW Kediri
• Dukungan sosial, terutama suami dan keluarga. Perhatian dari
lingkungan terdekat dapat berpengaruh terhadap terjadinya syndrome
post partum blues (Sylvia, 2006 dikutip dari Oktaputrining dkk, 2017).

5
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
PEMERIKSAAN
• Pengukuran postpartum blues dengan Edinburgh Postpartum
Depression Scale (EPDS).

EPDS merupakan alat ukur yang sudah diteliti dan dikembangkan

IIK BW Kediri
untuk mendeteksi intensitas perubahan perasaan depresi selama tujuh
(7) hari postpartum (Machmudah, 2015).

6
IIK BW Kediri
IIK BW Kediri
Pathway

Resiko Bunuh Diri Resiko menciderai diri sendiri,


E
orang lain dan lingkungan

IIK BW Kediri
Post Partum Blues
CP

Koping Individu tidak


C efektif 7
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b.d.
postpartum blues

2. Resiko bunuh diri b.d. postpartum blues

IIK BW Kediri
8
Intervensi Keperawatan
Perencanaan
Dx Keperawatan Rencana Tindakan Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi
Resiko menciderai diri  TUM : Klien dapat
sendiri, orang lain dan mengontrol perilaku - Bina hubungan saling percaya dengan :
lingkungan b.d. kekerasannya a. Beri salam setiap berinteraksi
postpartum blues  TUK 1 : Klien dapat b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat

IIK BW Kediri
membina hubungan dan tujuan perawat berinteraksi
saling percaya Setelah 3 x pertemuan klien c. Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
menunjukkan tanda-tanda d. Ciptakan lingkungan yang tenang
percaya kepada perawat : e. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang
a. Wajah cerah, tersenyum dihadapi klien
b. Mau berkenalan f. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan
c. Ada kontak mata jengkel/kesal
d. Bersedia menceritakan g. Dengarkan dengan penuh perhatian
9
perasaannya ungkapan perasaan klien.
Lanjutan...
 TUK 2 : Klien dapat Setelah 3 x pertemuan klien - Bantu mengungkapkan perasaan marahnya :
mengidentifikasi penyebab menceritakan penyebab perilaku a. Beri kesempatan pada klien untuk menceritakan
perilaku kekerasan yang kekerasan yang dilakukannya : penyebab rasa kesal atau jengkelnya
dilakukan b. Dengarkan tanpa menyela atau memberi penilaian setiap
a. Menceritakan penyebab perasaan
ungkapan perasaan klien
jengkel/kesal baik dari diri sendiri
maupun lingkungannya

IIK BW Kediri
 TUK 3 : klien dapat Setelah 3 x pertemuan klien - Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan
mengidentifikasi tanda- menceritakan tanda-tanda saat terjadi dirasakan saat jengkel/kesal.
tanda perilaku kekerasan perilaku kekerasan : - Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku
kekerasan yang dialaminya:
a. Tanda fisik : mata merah, tangan
- Observasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien
mengepal, ekspresi tegang, dan
- Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesel yang
lain-lain.
dialami klien.
b. Tanda emosional : perasaan marah,
jengkel, bicara kasar
c. Tanda sosial : bermusuan yang
dialami saat terjadi perilaku
kekerasan.
Lanjutan...
 TUK 4 : Klien dapat Setelah 2 x pertemuan klien - Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang
mengidantifikasi perilaku menjelaskan : dilakukannya selama ini :
kekerasan yang pernah
a. Ekspresi kemerahan yang
dilakukannya
selama ini telah
dilaakukannya
b. Perasaannya saat melakukan
kekerasan

IIK BW Kediri
c. Efektivitasnya cara yang
dipakai dalam menyelesaikan
masalah
 TUK 5 Setelah 2 x pertemuan klien - Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian) cara
Klien dapat menjelaskan akibat tindakan yang dilakukan pada :
mengidentifikasi akibat kekerasan yang dilakukannya - Bersama dengan klien akibat cara yang digunakan klien.
perilaku kekerasan - Tanyakan pada klien “Apakah ia ingin mempelajari cara
a. Diri sendiri : luka, dijauhi teman,
baru yang sehat”. Untuk mengontrol rasa marah/jengkel
dll
b. Orang lain/keluarga : luka,
tersinggung, kekuatan, dll
c. Lingkungan : barang atau benda
rusak dll.
Lanjutan...
 TUK 6 Setelah 2 x pertemuan klien dapat : - Diskusikan dengan klien
Klien dapat a. Apakah klien mau mempelajari cara baru
a. Menjelaskan cara yang sehat
mengidentifikasi cara mengungkapkan marah yang sehat
mengungkapkan marah (cara fisik,
konstruktif dalam b. Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk
verbal, sosial, spiritual)
mengungkapkan mengungkapkan marah selain perilaku kekerasan yang
b. Mempraktekan cara marah yang
kemarahan diketahui klien .

IIK BW Kediri
sehat secara fisik, verbal, sosial,
b. Jelaskan cara mengungkapkan marah
sspiritual

 TUK 7 Setelah 3 x pertemuan klien - Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan anjurkan klien
Klien dapat memperagakan cara mengontrol memilih cara yang mungkin untuk mengungkapkan
mendemonstrasikan cara perilaku kekerasan dengan cara : kemarahan
mengontrol perilaku - Latih klien memperagakan cara yang dipilih
a. Fisik
kekerasan - Anjurkan klien menggunakan cara yang sudah dilatih saat
b. Verbal
marah/jengkel
c. Sosial
- Susun jadwal untuk melakukan cara yang telah dipelajari.
d. spiritual
- Berikan pujian jika klien mampu melakukan cara marah
yang sehat.
Daftar Pustaka
Anonym. 2008. Post Partum Blues. www.indocina.com artikel diakses
tanggal 19 April 2012.
Budihastuti, S.F.,Hakimi,M.,Sunartini,Soejono, S.K. 2012. Konseling
dan Mekanisme Koping Ibu Bersalin. Yogyakarta:Journal of
Educational, Health and Community Psychologi 2012 Vol.1 No.1

IIK BW Kediri
Chasanah, N. I., Kurniasari Pratiwi, & Sri Martuti. 2016. Jurnal
Psikologi Undip : 15 (2), 117-123
Fitriana, Lisna A., & Siti Nurbaeti. 2015. Gambaran Kejadian
Postpartum Blues pada Ibu Nifas Berdasarkan Karakteristik di
Rumah Sakit Umum Tingkat IV Sariningsih Kota Bandung. A
study conducted at Sariningsih General Hospital Level IV
Bandung)
Freudenthal., Crost., M., & Kaminski., M. 1999. Severe Post-delivery
10
Blues: Associated Factors. Arch Womens Ment Health, No2, 37-
44
Lanjutan...
Hidaayah, Nur. 2015. Hubungan Kesiapan Kehamilan dengan
Kejadian Post Partum Blues pada Ibu Nifas di Rsia Prima
Husada Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Kesehatan : 8 (2), hal 200-205
Kenwa, P., Made Kornia Karkata & I Gusti Ayu Triyani. 2015.
Pengaruh Pemberian Konseling Terhadap Depresi Post Partum

IIK BW Kediri
di Puskesmas II Dan IV Denpasar Selatan. COPING Ners
Journal: 3 (2), 1-6 ISSN: 2303-1298
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., & Bobak, I.M. (2000). Maternity
Women’s Health Care. 7th ed. St. Louis: Mosby.Inc
Machmudah, 2015. Gangguan Psikologis pada Ibu Postpartum;
Postpartum Blues. Jurnal Keperawatan Maternitas : 3 (2), 118-
125
Munawaroh, Y. 2008. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Post
Partum Blues pada Ibu Pasca Persalinan di Wilayah Kerja
Puskesmas Kajhu Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh
Besar. Skripsi. Diploma IV Kebidanan (STIKes) U’Budiyah
Banda Aceh. Diperoleh tanggal 21 Maret 2015 dari daa.uui.ac.id/
Oktaputrining, D., Susandi C., & Suroso Suroso. 2017. Post Partum
Blues: Pentingnya Dukungan Sosial dan Kepuasan Pernikahan

IIK BW Kediri
pada Ibu Primipara. Psikodimensia : 16 (2), 151-157
Olds, S.B., London, M.L., & Ladewig, P.A.W. 2000. Maternal –
Newborn Nursing a Family and Community- Based Approach. 6th
ed. New Jersey: Prentice Hall Health
Pilliteri. 2003. Maternal and child Health Nursing. Care of
Childbearing and Childrearing Family. 3rd edition. Lippincott
Setyowati & Uke, R. 2006. Studi Faktor Kejadian Post Patum Blues
Pada Ibu Pasca Salin di Ruang Bersalin II RSU DR. Soetomo
Surabaya. Universitas Airlangga Surabaya. http://dppm.uii.ac.id
Sylvia, De. 2006. Depresi Pasca Persalinan. Jakarta: Fk UI.
TERIMAKASIH

IIK BW Kediri