Anda di halaman 1dari 45

ARDI YOGA

DHARMA PATI
MERRIZA FIRLY BERLIANTY
NITA MARDIANA
NISSA NUR SEWASTIKA
RAGA ABDURAHMAN
ABSORBSI
Obat  Oral

Tidak terionisasi atau Terionisasi atau Hidrofilik:


lipofilik terabsorbsi dan berikatan dengan protein plasma
terdistribusi dalam seluruh dalam sistem vaskular:
kompartemen cairan kesetimbangan O-P dengan O
tubuh

Memberikan efek O-P Tidak memberikan efek


farmakologis farmakologis
Jalur pemberian obat:
 Oral: kecuali yang dirusak oleh enzim GI
 Suntikan iv: efek cepat (furosemid: udema paru),
pemberian kontinyu (larutan infus), volume besar,
merusak jaringan lokal (sitotoksik).
 Suntikan im dan sc: obat dalam aquaeous cepat
diabsorbsi, ester lambat.
 Jalur lain: inhalasi, topikal, transdermal, sublingual,
bukal, rektal, dll
DISTRIBUSI
Sirkulasi Jaringan
Obat Sistemik

Efek
Farmakologis
Waktu Paro (t1/2 )
 t1/2 = waktu yang dibutuhkan sehingga konsentrasi obat
dalam darah berubah menjadi setengahnya.
 t1/2 memungkinkan untuk mengukur konstanta
kecepatan eliminasi (Kel)
Kel = 0,693/ t1/2
 Kel = fraksi obat yang terdapat dalam suatu waktu yang
tereliminasi dalam suatu satuan waktu.
Misal Kel = 0,05/menit artinya 5% dari obat dieliminasi
dalam waktu 1 menit.
 Kurva eksponensial
Kurva Eksponensial konsentrasi plasma
(Cp) terhadap waktu
(t):
Cp = Cp0 e-Kt
 Kurva eksponensial
dapat dibuat menjadi
garis lurus
menggunakan
logaritma, sehingga
Cp0 dan t1/2 dapat
ditentukan
Volume Distribusi (Vd)
 Volume yang menunjukkan distribusi obat.
Vd = dosis/Cp0
 Jika O-P besar atau obat dalam kompartemen
vaskular: Cp0 tinggi dan Vd rendah
 Tiap obat Vd-nya konstan. Kecuali patologis: udema:
cairan ekstravaskuler meningkat: Vd obat hidrofilik
akan meningkat
 Vd digunakan untuk menghitung klirens
Klirens (Cl)
 Klirens/bersihan adalah volume darah atau plasma
yang dibersihkan dari obat dalam suatu satuan waktu.
Cl = Vd . Kel  klirens total
 Klirens menunjukkan kemampuan hati dan ginjal
untuk mengeliminasi obat.
Clt= Clm + Clr
 Klirens bisa individual: dikalikan dengan BB pasien
 Nilai klirens dapat digunakan untuk menentukan
regimen dosis.
Dosis Obat (X0)
 Konsntrasi plasma stabil (steady-state plasma
concentration = Cpss)  pemberian obat ideal.
 steady-state artinya kecepatan obat memasuki
sirkulasi = kecepatan obat keluar tubuh.
Multiple Dosing:
 Dosis ganda  memperpanjang aksi terapetik
 Cp dipertahankan dalam batas sempit 
mencapai efektivitas klinik dan tidak toksik
 Antibiotika  kadar efektif minimum  IMC
 Obat2 indeks terapi sempit  kardiotonik,
antikonvulsan, hormon.
 Kadar plasma  menentukan efek terapetika
 Parameter pengembangan aturan dosis  ukuran
dosis obat dan frekuensi pemberian obat (jarak
waktu antar dosis)
Akumulasi Obat
 Apakah dosis obat sebelumnya berpengaruh pada
dosis sebelumnya.
 Prinsip superposisi  dosis obat seblumnya tidak
mempengaruhi farmakokinetika dosis berikutnya
 Cp setelah dosis ke-2, ke-3, ke-n akan overlay pada Cp
setelah dosis ke-n
 Prinsip superposisi  memperhitungkan kurva Cp-
waktu suatu obat setelah pemberian suatu dosis
tunggal  obat tereliminasi dengan kinetika order
pertama  farmakokinetika setelah pemberian dosis
tunggal tidak berubah setelah pemakaian dosis ganda
Akumulasi Obat
 Prinsip superposisi  memperkirakan konsentrasi
obat setelah pemberian dosis ganda.
 Prinsip superposisi  tidak digunakan jika terjadi
perubhan farmakokinetika akibat perubahan
fisiologis, penjenuhan sistem pembawa, dan
induksi/inhibisi enzim
 Pemberian obat: dosis dan interval dosis yg tetap
 Cp dalam tubuh akan menaik lalu menetap
pada Cp rata-rata yang lebih tinggi daripada Cp
pada dosis awalnya.
Multiple Dosing
 Bila dosis yang sama diberikan berulang dengan
frekuensi konstan  kurva kadar Cp-t yang plateu dan
tunak.
 Keadaan tunak  Cp fluktiatif C∞maks dan C∞min
Akumulasi Obat
 Jika dosis ke-2 diberikan dalam jarak waktu yang lebih
pendek daripada waktu yg dibutuhkan untuk
mengeliminasi dosis ke-1  obat terakumulasi.
 Jika dosis ke-2 diberikan dalam jarak waktu yang lebih
panjang daripada waktu yg dibutuhkan untuk untuk
mengeliminasi dosis ke-1  obat tidak terakumulasi.
 Menurut Leon Shargel : Waktu yang diperlukan untuk
mencapai 90% keadaan tunak  3,3 kali t1/2
 Sedangkan 99% konsentrasi tunak  6,6 kali t1/2
 Jarak pemberian obat yang pendek  memperbaiki
keadaan tunak.
Injeksi Intravena Berulang
 Jumlah maksimum obat dalam tubuh = Dosis obat 
D = D0 e-Kt
 τ = interval waktu pemberian (waktu antara dosis
pertama dengan dosis selanjutnya)
 Jumlah obat yang tertinggal di dalam tubuh D = D0
e-Kτ
 Fraksi (f) dosis yang tertinggal di dalam tubuh  f =
D/D0 = e-Kτ
Contoh: Inveksi IV berulang
 Seorang pasien diberikan injeksi iv setiap 6 jam
sejumlah 1.000 mg antibiotik, yang diketahui t1/2 = 3
jam. Vd = 20 L.
1. Tentukan jumlah obat maksimum dan minimum
2. Tentukan konsentrasi plasma obat maksimum dan
minimum
Penyelesaian
 f = e-Kτ
 K = 0,693/t1/2 = 0,693/3 = 0.231 jam-1
 f = e-(0.231)(6) = 0,25
1.000 mg diberikan sebagai D0. Pada akhir jarak
pemberian (sebelum dosis ke-2 diberikan) jumlah
obat tertinggal adalah 25% dari jumlah obat yang
diberikan
 Maka dilihat dari tabel jumlah minimum adalah 333 mg dan
jumlah maksimum 1.333 mg.
D0 = Dmaks – Dmin
 Dmaks = D0/1-f
 Cp pada 3 jm setelah dosis ke-2:
 Cp∞ pada 3 jam setelah dosis terakhir
 Tujuan pemberian dosis ganda
adalah :
Mencapai respon farmakologi yang tetap dan lebih
lama dibandingkan durasi pemberian dosis tunggal.
 Akumulasi obat dalam tubuh berdasarkan dosis dan
interval pemberian tetap
 Pencapaian kondisi tunak pada kisaran terapi obat
 Prinsip : Mempertahankan kondisi tunak
In put = out put
Dosis yang diberikan = jumlah obat yang dieliminasi
selama interval dosis
 Kinetika iv Bolus Dosis Ganda Pada pemberian
pertama
Kinetika iv bolus dosis ganda
 Jika dosis kedua diberikan pada waktu τ jumlah
obat di dalam tubuh (A2 (maks) = jumlah obat
sebelumnya+ dosis kedua

 Pada akhir interval τ jumlah obat yang tertinggal


didalam tubuh (A2(min)
Akumulasi Obat Pada Pemberian
Obat Dosis Ganda
 Pada pemberian dosis dan interval ke-n
Persamaan Konsentrasi Maksimum
dan Minimum
 Konsentrasi obat dalam plasma pada
pemberian dosis pertama
 Pada pemberian dosis ke-n
Persamaan Konsentrasi Maksimum
dan Minimum
 Pada Kondisi Tunak
Persamaan Konsentrasi Maksimum
dan Minimum

Gambar konsentrasi obat dalam plasma seiring waktu


pada pemberian dosis ganda iv yang diberikan pada
dosis sama dan interval yang tetap
Waktu yang Dibutuhkan Untuk
Mencapai Kondisi Tunak
 Pada kinetika dosis ganda waktu
terdiri dari beberapa interval maka
waktu dinyatakan dalam nτ
Dosis Muatan dan Dosis
Pemeliharaan
 Untuk mempersingkat waktu pencapaian kondisi
tunak dosis muatan

 Dosis pemeliharaan bagian dari dosis muatan


yang dieliminasi dari dalam tubuh selama kondisi
tunak pada interval pemberian pertama
 Dosis pemeliharaan fluktuasi konsentrasi maks
dan minimum pada kondisi tunak
Tingkat Akumulasi
R berapa tingkat akumulasi obat di dalam tubuh
diantara konsentrasi maks dan min pada kondisi
tunak sejak pemberian dosis pertama
Kinetika Pemberian Oral Dosis
Ganda
 Memperhatikan proses absorpsi terhadap konsentrasi
obat di dalam plasma

Profil kinetika konsentrasi obat dalam plasma seiring


waktu pada pemberian oral dosis ganda
Konsentrasi maks, min pada pemberian
oral sebelum dan sesudah kondisi tunak
Waktu untuk mencapai konsentrasi
maksimum
Konsentrasi rata-rata obat dalam
plasma
Konsentrasi maks, min pada pemebrian
oral sebelum dan sesudah kondisi tunak
 Jika proses absorpsi cepat dan interval
diset 7 (t1/2)ka konsentrasi
mimumum merupakan fungsi dari
eliminasi
Efek perubahan dosis, interval dan t1/2
terhadap akumulasi oabt dan fluktuasi
konsentrasi obat dalam plasma
 Interval dosis tetap, dosis naik :
◦ peningkatan Cmaks dan Cmin sebelum dan
sesudah kondisi tunak
◦ Peningkatan konsentrasi rata-rata pada kondisi
tunak
◦ Peningkatan fluktuasi konsentrasi obat dalam
plasma
◦ Peningkatan akumulasi obat dalam tubuh
Interval dosis tetap, dosis naik
Efek perubahan dosis, interval dan t1/2
terhadap akumulasi oabt dan fluktuasi
konsentrasi obat dalam plasma
 Penurunan dosis :
◦ Penurunan kondisi tunak, fluktuasi obat dalam plasma
dan akum
 Jika dosis tetap, interval diperpanjang peningkatan
fluktuasi, penurunan kondisi tunak dan penurunan
akumulasi obat dalam tubuhulasi obat dalam tubuh
 Jika interval diperpendek peningkatan akumulasi,
penurunan fluktuasi dan peningkatan kondisi tunak
Kesimpulan
 Akumulasi obat pada pemberian dosis ganda
tergantung pada dosis dan frekuensi pemberian obat
 Kecepatan akumulasi tergantung pada konstanta
kecepatan eliminasi dan tidak tergantung pada dosis
dan frekuensi pemberian obat
 Tmaks tercapai lebih cepat pada pemberian dosis
ganda dibandingkan dengan dosis tunggal
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai