Anda di halaman 1dari 13

Pemberdayaan kaum perempuan, termasuk di dalamnya

organisasi perempuan sangat penting dan selalu relevan untuk


diperjuangkan secara serius melalui upaya-upaya yang
comprehensif, sistematis, dan berkesinambungan.

Organisasi dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan


wacana gender termasuk partisipasi politik perempuan, melalui
kegiatan organisasi , kaum perempuan diharapkan dapat
menghimpun kesadaran kolektif akan pentingnya perjuangan
hak-hak yang selama ini terabaikan.

Aisyiyah adalah organisasi perempuan persyarikatan


Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1917 berusaha untuk
“membenahi” pandangan yang merendahkan / kurang
menghargai sumbangan perempuan dalam pengembangan
masyarakat dan pembangunan belum dipahami secara tepat dan
mengakibatkan belum diterima sepenuhnya oleh para pengambil
keputusan , perumus kebijaksanaan dan perencanaan
pembangunan.
Cara KH Ahmad Dahlan dalam
Memberdayakan Perempuan

KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah mengadakan kelompok


pengajian wanita dengan nama “Sopo Tresno”

Pengajian Sopo Tresno belum merupakan suatu nama organisasi


hanya sebuah perkumpulan pengajian biasa, untuk memberi suatu
nama yang konkrit suatu perkumpulan, beberapa tokoh
Muhammadiyah seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Mokhtar, KH.
Fachruddin dan Ki Bagus Hadi Kusuma serta pengurus
Muhammadiyah yang lain mengadakan pertemuan dirumah Nyai
Ahmad Dahlan. Waktu itu diusulkan nama Fatimah, namun tidak
disetujui. Oleh KH. Fachruddin dicetuskan nama Aisyiyah, yang
kemudian dipandang tepat dengan harapan perjuangan perkumpulan
itu meniru perjuangan Aisyah, Istri Nabi Muhammad SAW yang selalu
membantu berdakwah.
Lanjutan….

Peresmian Aisyiyah dilaksanakan bersamaan peringatan Isra' Mi'raj


Nabi Muhammad pada tanggal 27 rajab 1335 H, bertepatan 19 Mei
1917 M dan diketuai oleh Siti Bariyah.

Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang cukup mapan


menempatkan perempuan setara dengan laki-laki. Kiai Ahmad Dahlan
dibantu Nyai Walidah menggerakkan perempuan untuk memperoleh
ilmu, melakukan aksi sosial di luar rumah yang bisa disebut radikal dan
revolusioner saat itu. Kaum perempuan didorong meningkatkan
kecerdasan melalui pendidikan informal dan nonformal seperti
pengajian dan kursus-kursus, serta didirikannya organisasi Aisyiyah.
Lanjutan….

Setelah organisasi ini sudah terbentuk maka KH Ahmad Dahlan


memberikan suatu pesan untuk para pengurus yang memperjuangkan
Islam, pesan itu berbunyi:
1) Dengan keikhlasan hati menunaikan tugasnya sebagai wanita Islam
sesuai dengan bakat dan percakapannya, tidak menghendaki sanjung
puji dan tidak mundur selangkah karena dicela.
2) Penuh keinsyafan, bahwa beramal itu harus berilmu.
3) Jangan mengadakan alasan yang tidak dianggap sah oleh Tuhan
Allah hanya untuk menghindari suatu tugas yang diserahkan.
4) Membulatkan tekad untuk membela kesucian agama Islam.
5) Menjaga persaudaraan dan kesatuan kawan sekerja dan
seperjuangan.
Lanjutan….

Aisyiyah dalam
• Dari usia pra TK sampai Sekolah
bidang Menengah Umum dan Keguruan
pendidikan
Aisyiyah dalam • Rumah Sakit
• Rumah Bersalin
bidang • Badan Kesehatan Ibu dan Anak
kesehatan • Balai Pengobatan dan Posyandu

Aisyiyah dalam • Aisyiyah mempunyai program majelis-majelis tablig,


dengan visi untuk menjadi organisasi dakwah yang
bidang mampu memberi pencerahan kehidupan
keagamaan keagamaan untuk mencapai masyarakat madani
Kesetaraan Gender dalam
Muhammadiyah

Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah selagi


tidak muncul suatu ketidakadilan dan diskriminasi, baik laki-laki dan
perempuan, ketidakadilan gender termanisfestasi dalam berbagai
bentuk ketidakadilan, yakni marjinalisasi subordinasi (anggapan tidak
penting), stereotype (pelabelan negative), violesence (kekerasan),
beban kerja ganda atau lebih, dan sosialisasi ideologi nilai peran
gender, perbedaan gender yang menimbulkan ketidakadilan ini
menyebabkan kerugian bagi laki-laki maupun perempuan.
Lanjutan….

Dengan pendirian KH.Ahmad Dahlan yang keras terhadap


taqlid dan keterbukaannya terhadap perubahan menjadikan
Muhammadiyah sebagai organisasi yang dinamis dan bisa
menyesuaikan diri dengan perubahan. Dengan semboyan
kembali kepada Al-Qur‟an dan Sunnah, KH. Ahmad Dahlan
bersikap keras terhadap aspek-aspek kultural yang disebut
bid‟ah dan sikap taqlid yang membelenggu umat pada hal-hal
yang tidak bermanfaat.
Lanjutan….

Di sisi yang lain ini juga membuat Muhammadiyah untuk


terbuka dan fleksibel terhadap unsur-unsur inovasi baru yang
membawa mashlahat, walau dari manapun asalnya inovasi
itu asalkan tidak bertentangan dengan kedua prinsip di atas
yaitu Qur‟an dan Sunnah, ini seperti keterbukaan KH. Ahmad
Dahlan yang beradaptasi terhadap pemikiran dan institusi
yang berasal dari kolonial barat dan kristen seperti sistem
pendidikan, kurikulum, pakaian, panti asuhan dll.
Peran Perempuan
Muhammadiyah dalam
Kehidupan Bangsa dan Negara

Peran dan Kontribusi Nasyiatul Aisyiyah (NA), bergerak dalam


bidang dan organisasi gerakan putri islam, bidang
keagamaan, kemasyarakatan dan keputrian. Nasyiatul
Aisyiyah memberikan terobosan baru yang inovatif yaitu
mengadakan kegiatan SP (Siswa Praja) Wanita.
Mendomestifikasi wanita dalam kegiatan-kegiatan rumah
tangga. Membekali wanita dan putri-putri Muhammadiyah
dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Lanjutan….

Dalam organisasi Nasyiatul Aisyiyah (NA) mengadakan


tablig ke luar kota dan kampung-kampung, mengadakan
kursus administrasi, dan ikut memasyarakatkan organisasi
Muhammadiyah. Kegiatan SP (Siswa Praja) Wanita
merupakan terobosan yang inovatif dalam metakukan
emansipasi wanita di tengah kultur masyarakat feodal saat
itu.
Lanjutan….

Prinsip Gerakan Nasyiatul Aisyiyah (NA), sering juga disebut


Nasyiah, adalah organisasi otonom dan kader Muhammadiyah
yang merupakan gerakan putri islam yang bergerak di bidang
keagamaan, kemasyarakatan dan keputrian. Tujuan organisasi
ini ialah membentuk pribadi putri islam yang berarti bagi
agama, keluarga dan bangsa menuju terwujudnya masyarakat
utama, adil, dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.
Hubungan STIKes ‘Aisyiyah
dan Muhammadiyah