Anda di halaman 1dari 12
Konsep-konsep yang mendasari:
Konsep-konsep yang mendasari:
Bank Syariah sebagai salah satu instrumen dalam tata kelola Ekonomi Islam
Bank Syariah sebagai
salah satu instrumen
dalam tata kelola
Ekonomi Islam

Adaptasi :

Padlah Riyadi., SE., MM., Ak., CA., ACPA

Syariah Islam

Syariah Islam • Aturan atau ketetapan yang Alloh perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, seperti: puasa, shalat, haji, zakat

Aturan atau ketetapan yang Alloh perintahkan kepada

hamba-hamba-Nya, seperti: puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh kebajikan lainnya.

Dibangun dengan tiga pilar, pertama: aqidah secara akal (aqidah aqliyyah), kedua: spirit ibadah (ibadah ruhiyah) dan ketiga: peraturan, hukum dan UU (nizhom qonuni qodhoi).

Memiliki enam karakteristik utama: robbaniyah (theistic), insaniyah (humanistic), syumul

(comprehensive), akhlaqiyah (ethics), waqi’iyah

(realistic), tanasuq (regularity).

Syariah Islam - karakteristik :

Syariah Islam - karakteristik : • Robbaniyah (Theistic) , bersifat religius, diyakini sebagai hukum yang paling

Robbaniyah (Theistic), bersifat religius, diyakini sebagai hukum yang paling adil dan sempurna serta selaras dengan kebaikan serta dapat mencegah segala kerusakan.

Insaniyah (Humanistic), diciptakan agar manusia derajatnya terangkat, jasmani dan rohani terjaga dan terpelihara.

Syumul (Comprehensive), mengatur seluruh aspek dan bidang kehidupan. Baik aspek ibadah, aspek keluarga, perdagangan dan ekonomi, hukum dan peradilan, politik dan hubungan antar negara.

Akhlaqiyah (Ethics), menegakkan tatanan sosial dan mewujudkan keteladanan dalam kehidupan manusia, memelihara nilai-nilai rohani dan etika.

Waqi’iyah (Realistic), perhatian terhadap moral tidak menghalangi untuk memperhatikan realitas yang terjadi dan menetapkan syariat yang menyelesaikan masalah, sesuai dengan perubahan zaman, tempat, kebiasaan dan kondisi.

Tanasuq (Regularity), bekerjanya semua individu dengan teratur dan saling bersinergi untuk mencapai tujuan bersama dalam keseimbangan.

Ekonomi Syariah - motif :

Ekonomi Syariah - motif : • Mashlahah (Public Interest) , merupakan motif yang dominan diantara ketiga

Mashlahah (Public Interest), merupakan motif yang dominan diantara ketiga motif yang ada, mashlahah adalah parameter perilaku yang bernuansa altruisme (kepentingan bersama).

Kebutuhan (Needs), merupakan sebuah motif dasar (fitrah), dimana manusia memang memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Kewajiban (Obligation), merupakan representasi entitas utama motif ekonomi yaitu ibadah. Ketiga motif ini saling

menguatkan dan memantapkan peran motif ibadah dalam

perekonomian.

Ekonomi Syariah prinsip utama :

Ekonomi Syariah – prinsip utama : • Menjalankan usaha-usaha yang halal. Mulai dari produksi, manajemen, hingga

Menjalankan usaha-usaha yang halal. Mulai dari

produksi, manajemen, hingga proses sirkulasi atau distribusi

haruslah dalam kerangka halal, tidak bersentuhan dengan judi dan spekulasi atau tindakan-tindakan lainnya yang dilarang secara syariah.

Hidup hemat dan tidak bermewah-mewah. Tindakan-

tindakan ekonomi hanyalah sekedar untuk memenuhi kebutuhan (needs) bukan memuaskan keinginan (wants).

Pelaksanaan Zakat. Mekanisme zakat yang diharapkan adalah obligatory system bukan voluntary system. Disamping itu ada juga instrumen sejenis yang bersifat sukarela yaitu infak, shadaqah, dan wakaf.

Larangan bagi Riba, Maisir dan Gharar. Untuk itu perlu

menjadikan sistem bagi hasil (profit-loss sharing) dengan instrumen mudharabah dan musyarakah sebagai pengganti sistem kredit berikut instrumen bunganya.

Riba, Maisir, Gharar definisi umum :

Riba, Maisir, Gharar – definisi umum : • Riba , berarti ‘tambahan’, ada dua macam, pertama:

Riba, berarti ‘tambahan’, ada dua macam, pertama: riba nasiah adalah tambahan yang sudah ditentukan di awal transaksi, yang diambil oleh si pemberi pinjaman dari orang yang menerima pinjaman sebagai imbalan dari pelunasan bertempo dan kedua: riba fadhl adalah tukar menukar barang yang sejenis dengan ada tambahan.

Maisir, pengertian sempitnya adalah judi, usaha spekulatif atau perjanjian yang memberi kemungkinan menang atau kalah, mungkin untung dan mungkin rugi.

Gharar, merupakan kondisi ketidakpastian (uncertainty) dan ketidakjelasan; segala keadaan yang akibat akhirnya tidak diketahui dan tidak terukur.

Perbankan Syariah definisi hukum :

Perbankan Syariah – definisi hukum : • Prinsip perbankan syariah (pasal 1 butir 13 UU No.

Prinsip perbankan syariah (pasal 1 butir 13 UU No. 10 tahun 1998) adalah suatu aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana atau pembiayaan kegiatan

usaha, atau keinginan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank bank atau pihak lain (ijarah wa iqtina).

Perbankan Syariah konsep transaksi :

Perbankan Syariah – konsep transaksi : • Murabahah adalah pembiayaan dengan prinsip jual beli barang pada

Murabahah adalah pembiayaan dengan prinsip jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati, dengan pihak bank selaku penjual,

dan nasabah selaku pembeli. Pembayaran dilakukan dengan cara diangsur.

Mudharabah adalah pembiayaan dengan prinsip bagi hasil antara bank dan nasabah pembiayaan dimana pemilik modal (bank) menyediakan sebagian besar modal pada suatu usaha yang disepakati.

Nisbah. Dalam hal produk penghimpunan dana/tabungan, maka pihak penabung bertindak sebagai investor (shahibul maal) sedangkan bank bertindak sebagai

pengelola keuangan (mudharib) yang akan menginvestasikan dana ke sektor -

sektor riil yang sesuai syariah. Antara investor dan pihak bank sebelumnya dilakukan akad terhadap nisbah keuntungan yang akan dibagi. Jadi penabung tidak mendapatkan bunga namun akan mendapatkan bagi hasil sesuai dengan nisbah yang telah disepakati.

Musyarakah adalah pembiayaan yang dilakukan melalui kerjasama usaha antara bank dengan nasabah di mana modal usaha berasal dari kedua belah pihak. Dalam pembiayaan musyarakah ini, keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan porsi sharing modal masing-masing.

Ijarah adalah akad sewa menyewa untuk mendapatkan imbalan atas barang/jasa yang disewakan. Pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, namun objek transaksinya berbeda, jika jual beli objek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah objek transaksinya adalah jasa.

Perbankan Syariah bagi hasil :

Perbankan Syariah – bagi hasil : • Berdasarkan konsep berbagi risiko sebagai metode utama, dan meniadakan

Berdasarkan konsep berbagi risiko sebagai metode utama, dan meniadakan keuntungan yang ditentukan sebelumnya.

Tidak memberikan bunga (dikategorisasikan sebagai riba

dan diharamkan), namun dalam bentuk pembagian

keuantungan atau bagi hasil.

Nasabah akan mendapatkan bagi hasil yang besar (persentase/rasio)-nya berdasarkan nisbah yang telah sepakati di awal pembukaan rekening. Jumlah bagi hasil

yang diterima tergantung dengan besar pendapatan

bank.

Bank Syariah vs Bank Konvensional :

Bank Syariah vs Bank Konvensional : Segi Bank Syariah Bank Konvensional Sistem Sistem Bagi Hasil: Sistem

Segi

Bank Syariah

 

Bank Konvensional

Sistem

Sistem Bagi Hasil:

Sistem Bunga:

Penentuan dibuat dengan

Rasio atas jumlah untung

Penentuan bunga dibuat dengan

kemungkinan untung dan rugi

asumsi selalu untung Besarnya persentase bunga

berdasarkan modal yang

yang diperoleh

Tergantung pada kinerja usaha Tidak airagukan oleh agama

dipinjamkan Tidak tergantung pada kinerja usaha

Eksistensi bunga diragukan semua agama

Pendanaan/

  • 1. Bagi hasil atau bonus

 
  • 1. Bunga

Tabungan

  • 2. Dana dianggap sebagai titipan nasabah

  • 2. Dana dianggap sebagai kewajiban bank pada nasabah

  • 3. Tidak mengenal negative spread

  • 3. Mengenal negative spread

Pembiayaan/

  • 1. Berdasarkan jual beli yang

  • 1. Pinjaman berdasarkan imbalan

Kredit

mengambil keuntungan,

 

bunga, pola hubungan debitur -

penyertaan modal dengan prinsip bagi hasil, pola

kreditur

hubungan kemitraan

 
  • 2. Pembiayaan bagi usaha yang halal

  • 2. Pinjaman bebas nilai

Bank Syariah vs Bank Konvensional :

Bank Syariah vs Bank Konvensional : • Akad dan legalitas , merupakan kunci utama yang membedakan,

Akad dan legalitas, merupakan kunci utama yang

membedakan, pada Bank Syariah ini hanya akad yang halal, seperti bagi hasil, jual beli atau sewa menyewa. Tidak ada unsur bunga dan riba namun

dalam bentuk bagi hasil.

Pada Bank Syariah ada keharusan untuk memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam struktur organisasinya, ditempatkan pada posisi setingkat

dengan dewan komisaris. DPS ini bertugas untuk

mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah.

Bank Syariah kekuatan dan tantangan ke depan :

Bank Syariah – kekuatan dan tantangan ke depan : • Sistem bagi hasil terbukti lebih menguntungkan

Sistem bagi hasil terbukti lebih menguntungkan dibandingkan

dengan sistem bunga yang dianut bank konvensional (review pada waktu krisis ekonomi-moneter),

Return yang diberikan kepada nasabah pemilik dana bank syariah lebih besar daripada bunga deposito bank konvesional,

Bank syariah tidak memberikan pinjaman dalam bentuk uang tunai,

tetapi bekerja sama atas dasar kemitraan,

Prinsip laba bagi Bank Syariah bukan satu-satunya tujuan karena Bank Syariah lebih mengupayakan bagaimana memanfaatkan sumber dana yang ada untuk membangun kesejahteraan masyarakat,

Luasnya pasar yang dianggap belum digarap secara maksimal,

Sosialisasi prinsip dan konsep yang masih kurang,

Profesionalisme layanan yang masih belum memadai.