Anda di halaman 1dari 70

PRESENTASI KASUS

Congenital Talipes
EquinoVarus (CTEV)
Pembimbing:
Letkol CKM dr. Basuki Widodo, Sp. OT

Disusun Oleh:
Nurvitriana Galuh Puspita
30101206688
Laporan Kasus
o No RM : 148417
o Jenis Kelamin : Laki-laki
o Nama : An. AF
o Umur : 6 bulan
o Alamat : Keplekan Rt.001/012, Rejowinangun Selatan
o Bangsal : Edelwaiss
o Tgl Masuk RS : 27 Juli 2017
o Tgl Operasi : 28 Juli 2017
o Tgl Keluar RS : 29 Juli 2017
Anamnesis

 Keluhan Utama
Bentuk kaki kanan tidak normal / bengkok

 Riwayat Penyakit Sekarang


Bentuk kaki tidak normal pada pasien diketahui orang tua sejak
pasien baru lahir. Pasien lahir di RSI Magelang pada bulan Januari
2017. Pasien langsung mendapatkan penanganan oleh dokter
spesialis ortopedi sejak diketahui ada kelainan di kaki pasien
kemudian dianjurkan untuk menggunakan gips. Pasien rutin kontrol
ke rumah sakit setiap 2 minggu sekali.
Anamnesis
 Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit yang
sama dengan yang dialami pasien.

 Riwayat Kehamilan
Kehamilan selama 9 bulan, selama pasien dalam kandungan ibu
pasien rajin memeriksakan kandungannya ke bidan setiap bulan,
selama kehamilan ibu menjaga asupan makanan dan konsumsi susu,
ibu tidak merokok atau mengkonsumsi alkohol. Riwayat penyakit ibu
saat hamil tidak ada, kelainan selama kehamilan tidak ada. Ibu
pasien mengaku tidak pernah terjatuh ataupun mengalami benturan
di daerah perut selama masa kehamilan.
Anamnesis
 Riwayat Persalinan
✘ Cara lahir : Sectio Saecaria (SC)
✘ Ditolong oleh : Dokter
✘ BB/PB lahir : 3,2 Kg / 50 cm
✘ Pasien anak ke 2 dari 2 bersaudara.

 Riwayat Tumbuh Kembang


✘Gerakan kasar/motorik kasar : duduk tanpa berpegangan
✘Gerakan halus/motorik halus : meraih/menggapai
✘Komunikasi/berbicara : menoleh ke suara
✘Sosial/Kemandirian : memasukkan benda ke mulut
✘Gangguan Tumbuh Kembang : tidak ada
Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Sakit ringan


Kesadaran : Composmentis (GCS 15)
Tanda Vital Status Gizi
•Frekuensi nadi : 120 x/menit
•Frekuensi napas : 28 x/menit BB : 7,8 Kg
•Suhu : 36,8 °C PB : 65 cm
Kesan : Gizi Cukup
Status Generalis

Normocephal,
Bentuk normal,
distribusi rambut
deformitas (-), discharge
merata, tidak mudah
(-/-), ottorhea (-)
dicabut

Conjunctiva anemis (- Bentuk normal, nafas cuping


/-), sklera ikterik (-/-), (-), sekret (-), septum deviasi
pupil isokor  3mm (-)

Simetris, trakhea Bibir kering (-), sianosis


ditengah, pembesaran (-)
KGB (-)
Pulmo
Palpasi :
Inspeksi : Auskultasi : Perkusi : Supel, hepar
Cembung, Bising usus (+) Timpani, dan lien tidak
simetris normal pekak alih (-) teraba, defans
muskuler (-)

COR
Perkusi : Auskultasi :
Inspeksi : Palpasi : Konfigurasi Suara jantung
Ictus cordis Ictus cordis jantung I-II regular,
tak tampak tak teraba dalam batas bising (-),
normal gallop (-)
Abdomen
Perkusi : Auskultasi :
Inspeksi : Palpasi :
Sonor Suara dasar
Simetris Stem vesikuler,
seluruh
statis dan fremitus sulit
lapangan ronki -/-,
dinamis dinilai
paru wheezing -/-

Superior Inferior

Akral dingin -/- -/-

Ekstremitas Oedem -/- -/-

Sianosis -/- -/-

Gerak +/+ +/+

CRT <2”/<2” <2”/<2”


Status Generalis (Ekstremitas Bawah)
Dextra Sinistra
LOOK
Perubahan warna kulit Sama seperti warna Sama seperti warna
kulit sekitar, hematom kulit sekitar, hematom
(-) (-)
Deformitas Tampak deformitas Tidak tampak
equinus (+), varus (+), deformitas
shortening (+), angulasi
medial (+)
Edema (-) (-)
Luka (-) (-)
Perdarahan (-) (-)
Status Generalis (Ekstremitas Bawah)

FEEL
Dextra Sinistra
Nyeri tekan (-) (-)
Pulsasi A. dorsalis pedis (+) A. dorsalis pedis (+)
reguler, isi dan tegangan reguler, isi dan tegangan
cukup cukup
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Krepitasi (-) (-)
Suhu Suhu sama dengan suhu Suhu sama dengan suhu
tubuh tubuh
Status Generalis (Ekstremitas Bawah)

MOVE

Dextra Sinistra
Gerak aktif-pasif (+) (+)
Kekuatan 5 5
Diagnosa Kerja
Congenital Talipes Equino Varus (CTEV)

Planning
Cek Laboratorium (darah lengkap)
Rencana Operasi :
Release CTEV, Lengthening tendo Achilles dan pemasangan gips
Hasil Laboratorium (27 Juli 2017)
Parameter Hasil Normal Range
WBC 12.5 H 4.0-10.0 103/ul
LYM # 9.6 H 1.0 – 5.0 %
MID # 0.9 0.1-1.0%
GRA # 1.9 2.0 – 8.0%
LYM % 77.1 H 25.0-50.0 103/ul
MID% 7.6 2.0-10.0 103/ul
GRAN% 15.3 L 50.0-80.0 103/ul
RBC 4.85 3.00-6.00 106/ul
HGB 11.2 L 12.0-16.0 g/dl
HCT 32.6 35.0-45.0 %
MCV 67.2 L 81.0-101.0 fL
MCH 23.1 L 27.0-33.0 pg
MCHC 34.4 31.0-35.0 g/dl
RDW-CV 14.6 10.0-16.0 %
PLT 332 150-400 103/ul
MPV 8.0 7.0-11.0 Fl
PDW 15.0 10.0-18.0 %
PCT 0.27 0.20-0.50 %
FOLLOW UP
Pre Operasi (27 Juli 2017)
Subyektif Obyektif Assesment Planning
Bentuk kaki kanan ◦ KU baik CTEV - Rencana operasi :
tidak normal / ◦ Vital sign: release CTEV,
bengkok  Nadi: 100x/mnt lenghtening tendo
 RR: 24x/mnt achilles dan
 Suhu: 36 ºC pemasangan gips
◦ Status Lokalis (pedis dextra) - Puasa 4 jam
 Look : Tampak deformitas
equinus (+), varus (+),
shortening (+), angulasi medial
(+)
 Feel : dbn
 Move: Gerakan aktif (+)
FOLLOW UP
Post Operasi (28 Juli 2017)
Subyektif Obyektif Assesment Planning
Bentuk kaki kanan ◦ KU baik Post operasi - Inf. D5 ½ NS 20-30
tidak normal / ◦ Vital sign: release CTEV, tpm
bengkok  Nadi: 100 x/mnt lenghtening - Inj. Ceftriaxon
 RR : 24 x/menit tendo 2x300mg
 Suhu: 36,2 ºC achilles dan - Sadar baik mulai
◦ Status Lokalis (pedis dextra) pemasangan diberi ASI
 Look : terpasang gips pada gips - Syrup proris 3x
regio cruris, ankle hingga 1/3cth
pedis - Syrup elkana
 Feel : dbn 2x1/2cth
 Move: Gerakan aktif (+)
FOLLOW UP
Post Operasi (29 Juli 2017)
Subyektif Obyektif Assesment Planning
Bentuk kaki kanan ◦ KU baik Post operasi - Inf. D5 ½ NS 20-30
tidak normal / ◦ Vital sign: release CTEV, tpm
bengkok  Nadi: 100 x/mnt lenghtening - Inj. Ceftriaxon
 RR : 28 x/menit tendo 2x300mg
 Suhu: 36,2 ºC achilles dan - Syrup proris 3x
◦ Status Lokalis (pedis dextra) pemasangan 1/3cth
 Look : terpasang gips pada gips - Syrup elkana
regio cruris, ankle hingga 2x1/2cth
pedis - blpl
 Feel : dbn
 Move: Gerakan aktif (+)
LAPORAN OPERASI

o Pasien supine dalam general anestesi


o Desinfeksi
o Insisi posteromedial lapis demi lapis sampai tampak tendo
achilles
o Dilakukan release dan lenghtening tendo achilles sampai bisa
terkoreksi plantigrade position
o Jahit lapis demi lapis
o Kulit dijahit subkutikuler
o Pasang gips long leg cast
o Operasi selesai

Tinjauan Pustaka
Anatomi Pedis
Struktur-Struktur pada regio pedis
Struktur-Struktur pada regio pedis

Struktur yang berjalan melalui retinaculum


extensorum (selaput pembungkus) dari
medial kelateral adalah :
o Tendon m. tibialis anterior
o Tendon m. ekstensor hallucis longus
o a. tibialis anterior
o n. peroneus profundus
o Tendon m. ekstensor digitorum longus
o m. peroneus tertius
o Tendon- tendon diatas dikelilingi oleh
selubung synovial.
DEFINISI

CTEV atau Congenital Talipes Equino Varus disebut juga


“clubfoot” karena bentuknya seperti kaki club adalah suatu
kelainan kongenital pada kaki, menggambarkan
deformitas umum dimana kaki berubah/bengkok dari
keadaan atau posisi normal.

Talipes berasal dari kata talus (ankle) dan


pes (foot), menunjukkan suatu kelainan pada
kaki (foot) yang menyebabkan penderitanya
berjalan pada ankle-nya.
Sedang Equinovarus berasal dari kata
equino (mengkuda) dan varus (bengkok ke
arah dalam/medial).
Deformitas kaki dan ankle dipilah tergantung
dari posisi kelainan ankle dan kaki. Deformitas
talipes diantaranya :
o Talipes Varus : inversi atau membengkok ke
dalam.
o Talipes Valgus : eversi atau membengkok ke
luar.
o Talipes Equinus : plantar fleksi dimana jari-
jari lebih rendah daripada tumit.
o Talipes Calcaneus : dorsofleksi dimana jari-
jari lebih tinggi daripada tumit.
EPIDEMIOLOGI
o Frekuensi clubfoot dari populasi umum adalah 1:700 sampai 1:1000 kelahiran
hidup.
o Di Amerika kelainan ini terjadi pada 1 bayi diantara 1000 kelahiran hidup, di
skotlandia 2 diantara 1000 kelahiran hidup (ISD data), di Tonga 75 bayi diantara
1000 kelahiran hidup, hal ini mengindikasikan adanya faktor etnik dalam
kelainan ini.
o Berdasarkan data, 35% terjadi pada kembar monozigot dan hanya 3% pada
kembar dizigot. Ini menunjukkan adanya peranan faktor genetika.
o Insidensi pada anak laki-laki dua kali lebih sering daripada perempuan 65%
kasus, sedangkan pada perempuan 30-40% kasus.
o Clubfoot dapat bersifat unilateral dan bilateral dengan presentasi unilateral
sebanyak 29% pada kaki kanan, 22% pada kaki kiri dan bilateral sebanyak 49%.
ETIOLOGI
Faktor Genetik
Gangguan Kelainan Vaskular
perkembangan fetus

Congenital Talipes
Equinovarus Lingkungan
Defek germinal primer

Faktor mekanik in
utero
Faktor Intra uterin
Defek neuromuskuler
ETIOLOGI  bagian dari abnormalitas lainnya antara lain:

Neurogenik Mekanik

Kelainan Abnormalitas
Jar. Lunak lain

Congenital
Arthtrogryposis
Constriction Bands
Spina Bifida

Dwarfism Hemimelia Tibia


Larsen’s Syndrom Pierre-Robin Syndrome
Spina Bifida
Dwarfism Larsen’s Syndrom
Arthtrogryposis
KLASIFIKASI
Tipe yang mudah ditangani dan memberi respon
terhadap terapi konservatif.
Tipe ini merupakan tipe postural yang dihubungkan
dengan postur intrauterin. Kelainan pada tulang tidak
Tipe ekstrinsik/ menyeluruh, tidak terdapat pemendekan jaringan lunak
yang berat. Tampak tumit yang normal dan terdapat
Fleksibel lipatan kulit pada sisi luar pergelangan kaki.

Tipe yang kurang memberi respon terhadap terapi


konservatif dan kambuh lagi dengan cepat.
Tipe intrinsik/ Jenis ini ditandai dengan betis yang kurus, tumit kecil
rigid dan tinggi, kaki lebih kaku dan deformitas yang hanya
dapat dikoreksi sebagian atau sedikit dengan tekanan
manual dan tulang abnormal tampak waktu dilahirkan.
Tampak lipatan kulit di sisi medial kaki.
MANIFESTASI KLINIS

Deformitas bentuk kaki dikarakterisasi dengan


komponen-komponen anatomis sebagai berikut:
o Adduksi midtarsal
o Inversi pada sendi subtalar (varus)
o Plantarfleksi sendi talocruralis (equinus)
o Kontraksi jaringan di sisi medial kaki
o Tendon Achilles memendek
o Gastrocnemius kontraktur dan kurang berkembang
o Otot-otot evertor sisi lateral tungkai bawah kurang
berkembang
Jadi dapat disimpulkan pada CTEV terjadi kelainan berupa :
o Fore Foot Adduction (kaki depan mengalami adduksi dan supinasi)
o Hind Foot Varus (tumit terinversi)
o Equinus ankle (pergelangan kaki dalam keadaan plantar fleksi)
DIAGNOSIS

o Kelainan ini mudah didiagnosis, dan biasanya terlihat nyata pada waktu
lahir (early diagnosis after birth).

Pada bayi yang normal dengan equinovarus postural, kaki dapat


mengalami dorsofleksi dan eversi hingga jari-jari kaki menyentuh bagian
depan tibia. "Passive manipulation dorsoflexion → Toe touching tibia →
normal“
DIAGNOSIS

Bentuk dari kaki sangat khas.


o Kaki bagian depan dan tengah inversi dan
adduksi. Ibu jari kaki terlihat relatif memendek.
o Bagian lateral kaki cembung, bagian medial kaki
cekung dengan alur atau cekungan pada bagian
medial plantar kaki. Kaki bagian belakang
equinus. Tumit tertarik dan mengalami inversi,
terdapat lipatan kulit transversal yang dalam
pada bagian atas belakang sendi pergelangan
kaki. Atrofi otot betis, betis terlihat tipis, tumit
terlihat kecil dan sulit dipalpasi.
DIAGNOSIS

o Pada manipulasi akan terasa kaki kaku, kaki depan tidak dapat
diabduksikan dan dieversikan, kaki belakang tidak dapat dieversikan dari
posisi varus.
o Kaki yang kaku ini yang membedakan dengan kaki equinovarus paralisis
dan postural atau positional karena posisi intra uterin yang dapat dengan
mudah dikembalikan ke posisi normal.
o Luas gerak sendi pergelangan kaki terbatas. Kaki tidak dapat
didorsofleksikan ke posisi netral, bila disorsofleksikan akan menyebabkan
terjadinya deformitas rocker-bottom dengan posisi tumit equinus dan
dorsofleksi pada sendi tarsometatarsal. Maleolus lateralis akan terlambat
pada kalkaneus, pada plantar fleksi dan dorsofleksi pergelangan kaki tidak
terjadi pergerakan maleoulus lateralis terlihat tipis dan terdapat
penonjolan korpus talus pada bagian bawahnya.
DIAGNOSIS

o Terdapat ketidakseimbangan otot-otot tungkai bawah yaitu otot-otot tibialis


anterior dan posterior lebih kuat serta mengalami kontraktur sedangkan otot-
otot peroneal lemah dan memanjang. Otot-otot ekstensor jari kaki normal
kekuatannya tetapi otot-otot fleksor jari kaki memendek. Otot triceps surae
mempunyai kekuatan yang normal.
o Tulang belakang harus diperiksa untuk melihat kemungkinan adanya spina
bifida. Sendi lain seperti sendi panggul, lutut, siku dan bahu harus diperiksa
untuk melihat adanya subluksasi atau dislokasi.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI

o Pemeriksaan radiologi pada pasien CTEV yang baru lahir


biasanya tidak bermanfaat karena tulang tarsal belum
terossifikasi sempurna. Radiografi mungkin baru dapat
berguna pada usia 3 bulan untuk perencanaan atau penilaian
hasil operasi.
o Pada usia 3-6 bulan, radiologi digunakan untuk menilai
keberhasilan serial platering menentukan apa perlu tindakan
operasi untuk memperoleh koreki yang maksimal,
menentukan berat ringannya CTEV.
o Gambaran yang paling bermanfaat adalah foto AP dan Lateral
dengan kaki dalam posisi dorsofleksi maksimal. Kite Angle
adalah sudut yang dibentuk oleh panjang axis calcaneus dan
Talus pada foto Lateral. Normalnya sudut ini adalah 20 – 400.
Pada CTEV sudut ini hanya kurang dari 200 .
PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Hal lain yang dapat dinilai pada gambaran radiologis CTEV antara
lain:
✘Anteroposterior View
• Talocalcaneal angle (Kite’s angle) : < 200 pada CTEV (N: 20 – 40)
• Talar - 1st metatarsal angle: N 0 – 20; in CTEV (-)
• Medial displacement of cuboid
✘Lateral View
• Talocalcaneal angle: < 20 in CTEV (N: 20-40)
• Talar - 1st metatarsal angle : N 0 – 20
Gambaran radiologis
Fleksi plantar anterior kalkaneus sedemikian rupa sehingga sudut
antara sumbu panjang tibia dan sumbu panjang kalkaneus (sudut
tibiocalcaneal) lebih dari 90 °
Gambaran radiologis

Talus diasumsikan tetap fix terhadap tibia. Kalkaneus


dianggap yang berputar menjadi ke arah garis tengah
(varus). Pada tampilan lateral, sudut antara sumbu
panjang sumbu panjang kalkaneus (sudut talocalcaneal)
adalah kurang dari 20°, dan 2 tulang hampir sejajar.
Gambaran radiologis
Sudut talocalcaneal kurang dari 20°, dan 2 tulang tampak
tumpang tindih lebih dari biasanya. Selain itu, sumbu
longitudinal yang melalui pertengahan talus (midtalar line)
lewat lateral terhadap pangkal metatarsal pertama, karena
bagian forefoot terdeviasi ke medial
Gambaran radiologis
Letak varus dan supinasi kaki depan meningkatkan
konvergensi pangkal –pangkal metatarsal, dibandingkan
dengan konvergensi pada kaki normal. Pada foto lateral,
tampak gambaran seperti tangga (ladder-like configuration)
dari tulang metatarsal.
CTEV Scoring
DIAGNOSA BANDING
 Postural clubfoot – terjadi karena
posisi fetus dalam uterus. Jenis
abnormalitas kaki ini dapat dikoreksi
secara manual. Postural clubfoot
memberi respons baik pada
pemasangan gips serial dan jarang
relaps.
 Metatarsus adductus (atau varus) –
suatu deformitas tulang metatarsal
saja. Forefoot mengarah ke garis
tengah tubuh, atau berada pada
aposisi adduksi. Abnormalitas ini
dapat dikoreksi dengan manipulasi
dan pemasangan gips serial.
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan harus dimulai sedini mungkin, lebih baik segera


sesudah lahir.

Tiga minggu pertama setelah lahir  periode emas/golden period,


sebab jaringan ligamentosa bayi baru lahir masih kendor karena
pengaruh hormon maternal.

Fase ini adalah fase kritis dimana jaringan lunak yang kontraktur dapat
dielongasi dengan manipulasi berulang setiap hari. Jika mengharapkan
metoda reduksi tertutup akan mencapai keberhasilan, inilah waktu
yang tepat.
Penatalaksanaan

Konservatif Operatif
KONSERVATIF

Dengan penatalaksanaan terapi non operatif, maka pemasangan


splint dimulai pada bayi berusia 2-3 hari. Urutan dari koreksi yang
akan dilakukan adalah sebagai berikut :
o Adduksi forefoot
o Supinasi forefoot
o Equinus
Tidak boleh dilakukan pemaksaan saat melakukan koreksi
✘ Metode terapi yang sering dilakukan adalah
Ponsetti method
Ponsetti Method

Bandingkan posisi normal tulang tarsal dengan clubfoot.


Perhatikan talus berubah bentuk dan navicular bergeser ke
medial. Kaki memuntir (rotasi) mengelilingi caput talus. Koreksi
Ponseti dicapai dengan membalikkan arah rotasi ini. Koreksi
dicapai secara bertahap dengan gips serial.
Ponsetti Method

Koreksi dari CTEV adalah dengan manipulasi dan aplikasi dari


serial "cast" yang dimulai dari sejak lahir dan dilanjutkan sampai
tujuan koreksi tercapai. Koreksi ini ditunjang juga dengan latihan
stretching dari struktur sisi medial kaki dan latihan kontraksi dari
struktur yang lemah pada sisi lateral.
Langkah-langkah metode ponsetti

Menentukan
Mengurangi Long leg
letak kaput
talus
cavus cast
Langkah-Langkah metode ponsetti

Tumit tidak disentuh sedikitpun agar


calcaneus bisa abduksi bersama-sama
dengan kaki

Manipulasi Awal

Pasang padding yang tipis untuk memudahkan


molding.
Pertahankan kaki dalam posisi koreksi yang maksimal
dengan cara memegang jari-jari dan counter
pressure pada caput talus selama pemasangan gips.

Pemasangan Padding
Langkah-Langkah metode ponsetti

Pasang gips di bawah lutut lebih dulu kemudian


lanjutkan gips sampai paha atas. Mulai dengan tiga
atau empat putaran disekeliling jari-jari kaki kemudian
Pemasangan Gips
ke proksimal sampai lutut

Saat memasang gips diatas tumit, gips dikencangkan


sedikit. Kaki harus dipegang pada jari-jari, gips
”dilingkarkan” di atas jari-jari pemegang agar tersedia
ruang yang cukup untuk pergerakan jari-jari.
MOLDING GIPS

Gunakanlah penekanan yang ringan saja. Jangan menekan


caput talus dengan ibu jari terus menerus, tapi ”tekan-lepas-
tekan” berulangkali untuk mencegah pressure sore. Molding
gips di atas caput talus sambil mempertahankan kaki pada
posisi koreksi [1].

Perhatikan ibu jari tangan kiri melakukan molding gips di atas caput talus sedangkan tangan kanan molding
forefoot (dalam posisi supinasi). Arcus plantaris dimolding dengan baik untuk mencegah terjadinya flatfoot
atau rocker-bottom deformity. Tumit dimolding dengan baik dengan ”membentuk” gips di atas tuberositas
posterior calcaneus. Malleolus dimolding dengan baik. Proses molding ini hendaknya merupakan proses yang
dinamik, sehingga jari-jari harus sering digerakkan untuk menghindari tekanan yang berlebihan pada satu
tempat. Molding dilanjutkan sambil menunggu gips keras.
MOLDING GIPS

Lanjutankan gips sampai paha Gunakan padding yang


tebal pada proksimal paha untuk mencegah iritasi kulit [2].

Gips dapat dipasang berulang bolak-balik pada sisi anterior lutut


untuk memperkuat gips disisi anterior [3]
dan untuk mencegah terlalu tebalnya gips di fossa poplitea, yang
akan mempersulit pelepasan gips.
MOLDING GIPS

Potong gips Biarkan gips pada sisi plantar pedis untuk menahan jari-jari [4]
potong gips dibagian dorsal sampai mencapai sendi metatarsophalangeal.
Potong gips dibagian tengah dulu kemudian dilanjutkan kemedial dan
lateral dengan menggunakan pisau gips.

Biarkan bagian dorsal semua jari-jari bebas


sehingga dapat ekstensi penuh. Perhatikan
bentuk gips yang pertama [5].
Kaki equinus, dan forefoot dalam keadaan
supinasi.
Ciri dari abduksi yang adekuat

Pastikan abduksi kaki cukup adekuat terlebih dulu agar kita dapat melakukan
dorsofleksi kaki 0-5° dengan aman sebelum melakukan tenotomi.

Tanda terbaik abduksi yang adekuat adalah kita dapat meraba processus anterior
calcaneus yang terabduksi keluar dari bawah talus.

Kaki dapat diabduksi sekitar 60 derajat terhadap bidang frontal tibia.

Calcaneus neutral atau sedikit valgus. Hal ini ditentukan dengan meraba bagian
posterior dari calcaneus
OPERATIF
✘Indikasi dilakukan operasi adalah sebagai berikut :
✘Jika terapi dengan gips gagal (If palstering fail)
✘Pada kasus Rigid club foot pada umur 3-9 bulan.
✘ Operasi dilakukan dengan melepasakan jaringan lunak yang
mengalami kontraktur maupun dengan osteotomy. Osteotomy
biasanya dilakukan pada kasus club foot yang neglected/ tidak
ditangani dengan tepat.
✘ Kasus yang resisten paling baik dioperasi pada umur 8 minggu,
tindakan ini dimulai dengan pemanjangan tendon Achiles, kalau masih
ada equinus, dilakukan posterior release dengan memisahkan seluruh
lebar kapsul pergelangan kaki posterior, dan kalau perlu, kapsul
talokalkaneus. Varus kemudian diperbaiki dengan melakukan release
talonavikularis medial dan pemanjangan tendon tibialis posterior.
✘Ada beberapa macam prosedur operatif untuk koreksi CTEV.
Pemilihan prosedur dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:
✘Usia anak
✘Derajat rigiditas
✘Deformitas yang ditemukan
✘Komplikasi yang didapat dari penanganan sebelumnya
✘Diatas umur 10 tahun atau kalau tulang kaki sudah mature, dilakukan tindakan
✘Penatalaksanaan dengan operasi harus mempertimbangkan usia pasien :
Pada anak kurang dari 5 tahun, koreksi dapat dilakukan hanya melalui prosedur jaringan
lunak.
Untuk anak lebih dari 5 tahun, membutuhkan pembentukan ulang tulang/bony reshaping
(misal, eksisi dorsolateral dari persendian kalkaneokuboid [prosedur Dillwyn Evans] atau
bone procedure osteotomy/osteotomi tulang kalkaneus untuk mengoreksi varus).
✘Apabila anak berusia lebih dari 10 tahun, dapat dilakukan tarsektomi lateralis atau
arthrodesis triple yang terdiri atas reseksi dan koreksi letak pada tiga persendian, yaitu :
art. talokalkaneus, art. talonavikularis, dan art. kalkaneokuboid.
✘ Harus diperhatikan keadaan luka pascaoperasi. Jika penutupan kulit sulit dilakukan,
lebih baik dibiarkan terbuka agar dapat terjadi reaksi granulasi, untuk kemudian
memungkinkan terjadinya penyembuhan primer atau sekunder. Dapat juga dilakukan
pencangkokan kulit untuk menutupi defek luka operasi. Perban hanya boleh dipasang
longgar dan harus diperiksa secara reguler.
✘Prosedur terapi operatif adalah:
✘Koreksi jaringan lunak
✘ Koreksi jaringan lunak dilakukan pada bayi dan anak dibawah 5 tahun. Pada usia ini, biasanya belum ada deformitas
pada tulang-tulang kaki, bila dilakukan operasi pada tulang dikhawatirkan malah merusak tulang dan sendi kartilago anak yang
masih rentan.
✘Koreksi dilakukan pada:
✘otot dan tendon
✘Achilles : tehnik pemanjangan tendo (Z-lengthening)
✘Tibia posterior: tehnik pemanjangan tendo atau transfer
✘Abduktor hallucis longus: tehnik reseksi atai eksisi
✘Fleksor hallucis longus dan fleksor digitorum longus: tehnik pemanjangan atau reseksi muskulotendineus
✘Fleksor digitorum brevis
✘Kapsul dan ligamen
✘Talonavicular
✘Subtalar
✘Koreksi jaringan keras
✘ Operasi pada tulang atau osteotomi dilakukan setelah usia
anak 5-10 tahun. Karena pada usia ini biasanya telah terjadi deformitas
struktur tulang dan koreksi yang diharapkan tidak mungkin berhasil
tanpa pembenahan tulang. Tindakan berupa:
✘Osteotomi calcaneus untuk koreksi inversi
✘Wedge reseksi sendi calcaneocuboid
✘Osteotomi cuboid
✘Osteotomi cuneiformis untuk koreksi adduksi yang berlebihan
✘Osteotomi tibia dan fibula, jika torsi tibia berlebihan (jarang terjadi)
Tenotomi

o Setelah dapat dicapai abduksi kaki maksimal, kebanyakan kasus


membutukan dilakukannya tenotomi perkutaneus pada tendon
Achilles.
o Tenotomi dilakukan untuk mengoreksi equinus setelah cavus, adduksi,
dan varus sudah terkoreksi baik akan tetapi dorsofleksi ankle masih
kurang dari 10 derajat.
o Pemasangan gips terakhir dilakukan dengan kaki yang berada pada
posisi dorsofleksi maksimum, kemudian gips dipertahankan hingga 2-3
minggu.
Bracing

✘Setelah tenotomi, gips terakhir dipakai selama 3 minggu. Protokol


Ponseti selanjutnya adalah memakai brace (bracing) untuk
mempertahankan kaki dalam posisi abduksi dan dorsofleksi.
✘Brace berupa bar logam direkatkan pada sepatu yang bertelapak kaki
lurus dengan ujung terbuka (straight-last open-toe shoes).
✘Abduksi kaki dengan sudut 60-70 derajat ini diperlukan untuk
mempertahankan abduksi calcaneus dan forefoot serta mencegah
kekambuhan (relaps). Jaringan lunak pada sisi medial akan tetap
teregang hanya jika dilakukan bracing setelah pemasangan gips.
PROGNOSIS

• Kurang lebih 50% kasus CTEV bayi baru lahir dapat dikoreksi tanpa tindakan operatif. Teknik
Ponseti (termasuk tenotomi tendon Achilles) dilaporkan memiliki tingkat kesuksesan sebesar 89%.
Peneliti lain melaporkan rerata tingkat kesuksesan sebesar 10-35%.
• Sebagian besar kasus melaporkan tingkat kepuasan 75-90%, baik dari segi penampilan maupun
fungsi kaki. Hasil memuaskan didapatkan pada kurang lebih 81% kasus. Faktor utama yang
mempengaruhi hasil fungsional adalah rentang gerakan pergerakan kaki, yang dipengaruhi oleh
derajat pendataran kubah dari tulang talus.
• Tiga puluh delapan persen pasien CTEV membutuhkan tindakan operatif lebih lanjut (hampir dua
pertiganya adalah prosedur pembentukan ulang tulang). Rerata tingkat kekambuhan deformitas
mencapai 25%, dengan rentang 10-50%. Hasil terbaik didapatkan pada anak-anak yang dioperasi
pada usia lebih dari 3 bulan (biasanya dengan ukuran lebih dari 8 cm)
• Asalkan terapi dimulai sejak lahir, deformitas sebagian besar dapat diperbaiki; walupun demikian,
keadaan ini sering tidak sembuh sempurna dan sering kambuh, terutama pada bayi dengan
kelumpuhan otot yang nyata atau disertai penyakit neuromuskuler.
TERIMAKASIH