Anda di halaman 1dari 87

Manajemen APOTEK

Hasan Ismail, S. Far., MM., Apt


MANAJEMEN
• tindakan atau seni yang didalamnya terdapat tanggung
jawab untuk melakukan atau mengawasai sesuatu
kegiatan (misalnya apotek, pusat kesehatan, bisnis, usaha
publik) dengan tingkat keterampilan tertentu.

MANAJEMEN OBAT
• suatu kemampuan atau keterampilan untuk menyediakan
obat tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, tepat sasaran
serta tepat penggunaan secara efisien dengan
melaksanakan serangkaian kegiatan yang meliputi
perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pengendalian
persediaan, pendistribusian dan penggunaan obat.
WHY DRUG NEED
MANAGEMENT?
Obat mampu menyelamatkan jiwa dan meningkatkan
kesehatan

Obat merupakan bagian penghubung antara pasien dan


pelayanan kesehatan.

Keberadaan obat dapat meningkatkan tingkat


kepercayaan pasien terhadap suatu unit pelayanan
kesehatan

Obat memiliki nilai ekonomi yang tinggi atau harga yang


relatif mahal
SIKLUS MANAJEMN OBAT
Selection

Management Support
Use
Organization Procuretmen
Financing
Information Management
Human Resources

FINANCING
Distribution

Policy and Legal Framework


Empat fungsi dalam siklus
manajemen obat yaitu
Fungsi seleksi merupakan kegiatan pemilihan obat-obat mana
yang akan diadakan.

Fungsi pengadaan mencakup kegiatan perhitungan


perencanaan kebutuhan obat, pemilihan metode pengadaan,
pengelolaan pelelangan, melakukan ikatan kontrak sekaligus
mengawasi ketaatan terhadap pengadaan obat, pengendalian
persediaan obat dan pengawasan mutu.

Fungsi distribusi meliputi kegiatan pengelolaan fasilitas


penyimpanan obat, pengendalian persediaan, pengelolaan
distribusi, dan pengelolaan transportasi

Fungsi penggunaan obat meliputi kegiatan diagnose,


penulisan resep, pelayanan resep dan memastikan obat
digunakan oleh pasien secara benar.
APOTEK

PP 51 Tahun 2009: sarana pelayanan kefarmasian tempat


dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker (Tenaga
Kefarmasian)

Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu


sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi
atau penyaluranan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional
sedangkan yang dimaksud dengan tenaga kefarmasian adalah tenaga yang
terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
APOTEKER
• sarjana farmasi yang telah lulus sebagai
apoteker dan telah mengucapkan sumpah
jabatan Apoteker

TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN


• tenaga yang membantu Apoteker dalam
menjalani Pekerjaan kefarmasian, yang terdiri
atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi,
Analis Farmasi dan Tenaga Menengah farmasi/
Asisten Apoteker
Fungsi Apotek
• apotek tidak lepas dari unsur
Fungsi untuk mendapatkan laba

Ekonomi
• apotek tidak lepas dari upaya
Fungsi pengabdian apoteker serta
tenaga teknis kefarmasian dan
Sosial pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat luas.
Struktural Apotek
Apotek dikelola oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang
bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan kefarmasian baik dalam
kegiatan pelayanan kesehatan maupun dalam institusi bisnis apotek
Apoteker dalam pekerjaan kefarmasiannya di apotek dibantu oleh
Tenaga Teknis Kefarmasian
Contoh Struktur Organisasi
Apotek
Studi kelayakan apotek
Studi kelayakan (Feasibility Study) adalah penelitian
tentang dapat tidaknya suatu usaha dilaksanakan
dengan berhasil. Keberhasilan yang dimaksud
adalah manfaat dari usaha yang akan didirikan,
yaitu usaha apotek yang dapat diartikan sebagai
manfaat finansial, manfaat bagi perekonomian, dan
manfaat sosial. Studi kelayakan dimaksudkan untuk
mempelajari apakah pendirian Apotek di lokasi yang
telah ditentukan tersebut sudah layak atau belum
untuk berdiri.
Tujuan diadakan studi kelayakan adalah untuk
menghindari kerugian, memaksimalkan
keuntungan, mengevaluasi aspek-aspek yang
mempengaruhi, mengidentifikasi faktor-faktor yang
menjadi kunci keberhasilan, mengidentifikasi sarana
dan prasarana yang dibutuhkan, mengetahui
dampak-dampak yang akan terjadi, serta
mengetahui biaya yang harus disediakan.
Prinsip studi kelayakan yaitu sebagai bahan
pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan,
apakah menerima atau menolak suatu gagasan
usaha yang direncanakan. Sebelum Apotek
didirikan, diperlukan perencanaan dan studi untuk
melihat kelayakan calon Apotek dari segi bisnis
maupun tempat pengabdian profesi. Studi
kelayakan apotek mencakup beberapa aspek yaitu
lokasi, analisis pasar, modal, keuangan, secara
teknis dan manajerial.
Aspek Lokasi
Lokasi yang akan didirikan Apotek harus strategis, penentuannya harus
mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan
kesehatan, jumlah penduduk, jumlah dokter yang berpraktek, sarana
pelayanan kesehatan, hygiene lingkungan dan faktor lainnya
seperti jarak dengan apotek lain dan jumlah apotek yang ada pada lokasi
yang sama
Analisis pasar
Dalam analisis pasar, yang harus diperhatikan adalah perkiraan jumlah
resep yang dapat diserap dari masing-masing dokter, poliklinik atau
rumah sakit di sekitar apotek, keadaan penduduk disekitar lokasi yang
meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan penduduk, tingkat sosial
atau ekonomi dan perilaku penduduk untuk berobat, serta tingkat
persaingan antar apotek.
Aspek Modal
Aspek modal meliputi apa saja yang harus diperhatikan dalam hal
permodalan, berapa jumlah modal yang dibutuhkan untuk mendirikan
Apotek dan berapa lama investasi yang akan ditanamkan akan kembali,
dari mana mendapatkan dana untuk mendirikan Apotek, bagaimana
mengalokasikan modal, serta bagaimana proses perputaran uang.
Beberapa sumber dana yang dapat digunakan yaitu modal pemilik
perusahaan (modal disetor), bank (kreditor), investor, dan lembaga non
bank atau leasing (dana pensiun).
Aspek keuangan
Analisis keuangan terhadap kelayakan suatu usaha dapat dilakukan
dengan beberapa metode analisis :
1. Metode Analisis Pay Back Periode (PBP)
Pay Back Periode adalah pengukuran periode yang diperlukan dalam
menutup kembali biaya investasi (initial cash investment) dengan
menggunakan aliran kas (laba bersih yang akan diterima).
2. Metode analisis return of invesment (ROI)
Analisis Return on Investmen adalah pengukuran besaran
tingkat return (%) yang akan diperoleh selama periode investasi dengan
cara membandingkan jumlah nilai laba bersih per tahun dengan nilai
investasi.
3. Metode analisis break event point (BEP)
Analisis Break Event Point merupakan alat untuk menetapkan titik
dimana hasil penjualan akan menutup biaya-biaya pengeluaran. Analisis
ini adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara
biaya tetap, biaya variabel, dan laba. Apotek dikatakanBreak Even
Point (BEP) apabila di dalam laporan perhitungan laba ruginya pada
periode tertentu, apotek tersebut tidak memperoleh laba namun juga
tidak menderita kerugian.
Aspek bisnis
Aspek ini meliputi proses perijinan, software untuk menunjang kegiatan
apotek (perlengkapan yang harus dimiliki Apotek, bangunan Apotek dan
perbekalan farmasi), seleksi awal supplier, jumlah komoditas, serta
rencana kerja.
Aspek manajerial
Aspek ini meliputi visi misi dan struktur organisasi, sumber daya
manusia, job description, dan menyusun Standard Operating
Procedure (SOP) dalam pelayanan apotek.
Hasil studi kelayakan ini kemudian dituangkan dalam
bentuk proposal, yang meliputi:

1. Pendahuluan, latar belakang pendirian Apotek, visi,


misi, dan tujuan pendirian Apotek.
2. Nama dan lokasi Apotek, sarana kesehatan di sekitar
Apotek, alat dan perbekalan farmasi yang diperlukan, tenaga
kerja.
3. Peluang dan prospek pemasaran.
4. Analisis keuangan meliputi: modal, pendapatan,
pengeluaran, perkiraan rugi-laba, perhitungan Break Event
Point (BEP), Pay Back Periode (PBP), dan Return on
Invesment(ROI).
5. Denah lokasi Apotek dan Lay Out Apotek.
6. Struktur organisasi, analisis pesaing.
7. Penutup.
KEUNTUNGAN & MANFAAT
ITEMS OBAT & LOGISTIK MEDIS (OLM)
YANG TERBATAS

SUPLAI : - pengadaan, penyimpanan, distribusi lebih mudah


- stok tidak perlu banyak
- lebih mudah dalam kendali mutu
- penyampaian obat ke pasien lebih baik

BIAYA : - harga lebih dapat ditekan dan lebih kompetitif

PRESCRIBING : - penguasaan obat lebih dalam & terfokus


- memungkinkan penulisan resep lebih rasional
- informasi kepasien lebih terfokus
- lebih waspada dan mengenal  ESO / ADR.

PASIEN : - informasi, edukasi lebih fokus


- mengurangi kebingungan dan meningkatkan ketaatan
minum obat
- ketersediaan obat lebih terjamin.
Medical aspect

KEAMANAN MANFAAT
OBAT
YANG BEREDAR
DI INDONESIA:
> 15.000 JENIS
PERLU DILAKUKAN
SELEKSI / PEMILIHAN
DANA
TERSEDIA
TERBATAS
KETERSEDIAAN
Managerial aspect
MEDICAL LOGISTIC
MANAGEMENT
MANAJEMEN LOGISTIK MEDIS / BARANG FARMASI
(included Medicines)

PEMILIHAN /
SELEKSI OBAT - BF

PENGGUNAAN / PENYEDIAAN /
DRUG USE PENGADAAN

PENYIMPANAN &
DISTRIBUSI MANAJEMEN
SUPPORT:
-organisasi & mekanisme
-sumber daya manusia
-SIM
-financing
24
Siklus Persediaan/ Tingkat Stok

T
I
N
G
SK
K
SOp A
T
SO SO
S
T
O
SP K
LT

DT
SIKLUS PERIODE

Keterangan:
SOp = stok optimum SO = stok order
SK = stok kerja LT = waktu tunggu
SP = stok pengamanan DT = saat penyerahan obat
PERENCANAAN OBAT DI APOTEK

HAL-HAL YANG PERLU


DIPERHATIKAN

POLA PENYAKIT BUDAYA MASYARAKAT

KEMAMPUAN MASYARAKAT
METODE PERENCANAAN PENGADAAN

1) Metode Epidemiologi

2) Metode Konsumsi

3) Metode Kombinasi

4) Metode just in time


METODE V-E-N

1. V (Vital)
Golongan obat yang harus ada

2. E (Esensial)
Golongan obat yang penting untuk diadakan

3. N (non esensial)
Golongan obat yang kurang penting diadakan
Analisa VEN
VEN adalah pengelompokan obat kedalam kategori Vital,Esensial dan
Non Esensial
Kelompok obat Vital adalah kelompok obat yang digunakan untuk
menanggulangi 10 penyakit penyebab kematian terbanyak atau obat-obat
yang dapat mengurangi bahaya kematian yang relatif terjadi dalam waktu
pendek /Akut misalnya keracunan,diare hebat , penyakit yang
menyebabkan kematian Juga seperti vaksin, serum, obat gawat-darurat,
dan obat untuk penyakit yang menyebabkan kecacatan
Beberapa informasi yang diperlukan dalam analisa VEN :
◦ Daftar penyakit penyebab kematian terbanyak termasuk 1o penyakit penyakit penyebab
kematian
◦ Pedoman pengobatan setempat
◦ Daftar Obat
◦ Program Depkes/Dinkes
Analisa ABC
Analisa ABC dimaksudkan untuk mengidentifikasi obat-obat yang
menyerap anggaran terbesar untuk dikendalikan penggunaan dan
ditingkatkan pengawasannya
Analisa ABC mengelompokan obat kedalam 3 kelompok besar ;
◦ Kelompok A yang menyerap anggaran 80 %
◦ Kelompok B 15 %
◦ Kelompok C 5 %
Pemilihan Obat Menurut WHO
1) Dipilih obat yang secara ilmiah menunjukkan efek terapetik lebih
besar dibanding resiko resiko ESO
2) Jangan terlalu banyak jenis obat yang diseleksi, hindari duplikasi.
3) Untuk obat baru, harus berdasarkan bukti ilmiah bahwa lebih baik
dibanding obat pendahulu
4) Sediaan kombinasi hanya dipilih jika potensinya lebih baik dari
sediaan tunggal
5) Jika alternatif pilihan obat banyak, dipilih DOC dari penyakitnya
6) Pertimbangan administrasi dan biaya yang dibutuhkan
7) Kontraindikasi, peringatan, ESO harus dipertimbangkan
8) Dipilih obat yang standar mutunya tinggi
Metode Pengadaan
 Tender terbuka : untuk semua rekanan yg terdaftar,
menguntungkan, perlu staf kuat, waktu dan perhatian
lama.
 Tender terbatas (lelang tertutup) : rekanan tertentu yg
punya riwayat baik, harga dpt dikendalikan, tenaga
dan beban lebih hemat.
 Pembelian dengan tawar-menawar : item sedikit dan
tdk urgent, pendekatan langsung.
 Pengadaan langsung : pembelian jumlah kecil, perlu
segera tersedia, harga tertentu, agak mahal
METODE PENGADAAN

1) Pengadaan Jumlah terbatas

◦ Order barang terbatas


◦ Modal terbatas
◦ Kecepatan aliran barang
◦ Stock obat
◦ Keberadaan PBF dalam kota (Lead time cepat)
2) Pengadaan secara berencana

◦ Order berdasarkan waktu tertentu


◦ Order berdasarkan periode musim tertentu
◦ Keberadaan PBF di luar kota (Lead time lama)
3) Pengadaan secara spekulatif

◦ Kemungkinan kenaikan harga


◦ Bonus yang ditawarkan

Harus diperhatikan:
◦ Modal yang dimiliki
◦ Kecepatan aliran barang
4) Konsinyasi

◦ Produk yang masih dalam tahap promosi


◦ Bentuk pembayaran
Syarat-syarat dalam
Fungsi Pengadaan
1. Doelmatig
Sesuai tujuan dan rencana

2. Rechmatig
Sesuai hak dan kemampuan

3. Wetmatig
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Kriteria Pemilihan PBF
1. Legalitas PBF
2. Kecepatan dan ketepatan pengiriman barang
3. Penawaran diskon/bonus
4. Kualitas barang
5. Kemungkinan pengembalian barang yang rusak dan ED
Surat Pesanan

Ada 4 macam SP :
1) SP Narkotika

2) SP Psikotropika

3) SP Prekursor

4) SP Non Narkotika-Psikotropika-prekursor ( SP Biasa)


Surat Pesanan Psikotropika
SP prekursor
Lanjutan

Bagi Apotek yang dalam tahap pendirian (belum mempunyai SP), mengajukan
ke Dinkes kota/kab untuk mendapatkan surat rekomendasi (SP Sementara)
Cara Pembayaran ke PBF
1. COD (Cash On Delivery), terutama untuk sediaan narkotika
2. Kredit
3. Konsinyasi
Penerimaan Barang
Hal-hal yang perlu dicek saat penerimaan barang:
1. Kesesuaian jenis dan jumlah antara barang dan SP
2. Keadaan fisik barang
3. Catat No.batch dan ED-nya
Distribusi Obat
meliputi kegiatan pengendalian persediaan barang, penyimpanan transportasi
serta penyelesaian ke pabeanan.
Tujuan Distribusi
a) Menjamin ketersediaan obat
b) Memelihara mutu obat
c) Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
d) Menjaga kelangsungan persediaan
e) Memperpendek waktu tunggu
f) Pengendaliaan persediaan
g) Memudahkan pencarian dan pengawasan waktu tunggu
h) Memudahkan pencarian dan pengawasan
Penyimpanan Obat
secara umum
Display penyimpanan obat di Apotek:
a. Alfabetis
b. FIFO dan FEFO
c. Farmakologi
d. Bentuk sediaan
e. Kombinasi
f. Penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika
Pencatatan Barang
1. Kartu Stock
2. Kartu Stelling
Penggunaan
Bentuk pelayanan obat di Apotek

1. Penjualan bebas/HV

2. Penjualan OWA

3. Penjualan berdasarkan resep dokter


Bentuk-bentuk Ketidakrasionalan
Pemakaian Obat
Peresepan boros (Extravagant), yaitu peresepan obat yang lebih
mahal padahal ada alternatif yang lebih murah dengan manfaat
dan keamanan yang sama. Termasuk peresepan yang terlalu
berorientasi pada pengobatan simptomatik sehingga mengurangi
alokasi obat-obat yang lebih vital.
Peresepan berlebih (Over prescribing), yaitu terjadi bila dosis
obat, lama pemberian atau jumlah obat yang diresepkan
melebihi ketentuan dan obat yang sebenarnya tidak diperlukan.
Peresepan yang salah (Incorrect prescribing), yaitu mencakup
pemakaian obat untuk indikasi yang keliru, pemberian obat ke
pasien salah dan pemakaian obat tanpa memperhitungkan
kondisi lain yang diderita bersamaan.

lanjutan
Peresepan majemuk (Multiple prescribing), yaitu pemakaian dua atau lebih
kombinasi obat padahal sebenarnya cukup diberikan obat tunggal saja. Termasuk
pengobatan terhadap semua gejala yang muncul tanpa mengarah ke penyakit
utama.

◦ Peresepan kurang (Under prescribing), yaitu terjadi kalau obat yang diperlukan tidak
diresepkan, dosis tidak cukup atau lama pemberian terlalu pendek (Santoso, 1989).
Pemusnahan Obat
Obat/bahan padat, dengan cara ditanam
Obat/bahan cair, dengan cara diencerkan terlebih dahulu
Atau dititipkan ke RS, Dinkes
Macam-macam
Laporan Obat di Apotek
Laporan obat narkotika dan psikotropika dilakukan secara online di
sipnap.kemkes.go.id
Laporan prekursor
Laporan Narkotika dan Psikotropika
LAPORAN PEMAKAIAN NARKOTIKA

Nama Apotek : Bulan :


No. Izin Apotek : Tahun
Alamat :
No. telpon :

Nama Sediaan Jumlah Jumlah Persediaan Ket


Penambahan Pengurangan
No Sediaan Awal (3+4+5) (7+8) Akhir Bulan
bulan Pembelian Pembuatan Pembuatan R/ Lain-lain (6-9)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Tempat, tanggal, bulan, tahun


Apoteker Pengelola Apotek

Laporan Pemakaian Narkotika


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

•Beberapa pencatatan yang dilakukan di apotek seperti di bawah ini:

1. Buku Penjualan Harian Obat Bebas


Digunakan untuk mencatat semua transaksi harian
meliputi penjualan obat bebas alkes, PKRT maupun barang-
barang lain selain resep. Tujuan dari buku penjualan ini
adalah untuk mengetahui jumlah penjualan setiap harinya.

Tgl. Jumlah Nama Barang Total Uang

Contoh Format Buku Penjualan Obat Bebas


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

2. Buku Penjualan Resep


Digunakan untuk mencatat semua resep yang masuk setiap harinya, agar apotek
mempunyai dokumentasi yang lengkap mengenai resep yang sering masuk

No Tgl Nama obat Jumlah Nama Dokter Rupiah


obat pasien

Contoh Format Buku Pencatatan Resep


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

3. Buku Pembelian
Buku pembelian digunakan untuk mencatat semua pembelian
obat yang dilakukan di apotek melalui PBF. Pencatatan semua
pembelian obat dilakukan setiap harinya.

Tgl No PBF No. No. Nama Jml Harga Disc Total Jumlah
faktur Bacth Obat satuan % total

Contoh Format Buku Pembelian


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT
4. Buku Pembayaran
Buku pembayaran mempunyai fungsi untuk mencatat semua
pembayaran faktur-faktur dari Pedagang Besar Farmasi (PBF).
Sebelum dilakukan inkaso/pembayaran obat kredit dilakukan:

1. Pengumpulan faktur-faktur berdasarkan tanggal jatuh tempo


2. Pencatatan dilakukan di buku inkaso/pembayaran, lalu ditotal berapa jumlah
pembayaran yang harus dilakukan.

No. PBF No. Faktur Tanggal jatuh Jumlah


tempo

Contoh Format Buku Pembayaran


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

5. Buku Setoran Harian


Buku setoran ini dibuat dengan tujuan untuk mencatat semua
jumlah pendapatan yang diperoleh setiap harinya

Tgl. Jam kerja Jumlah Pendapatan

Contoh Format Buku Setoran Harian


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

6. Buku Stok Obat


Buku stok obat memuat tentang obat-obatan yang ada di
apotek dan memuat jumlah barang yang masih ada dalam
persediaan. Buku stok obat ini dapat digunakan untuk :
a. mengetahui obat-obat apa saja yang paling sering terjual
b. obat-obat apa saja yang tidak laku
c. mengetahui jumlah obat yang tersisa sebagai data untuk
pengadaan barang
No. Nama Obat Jumlah

Contoh Format Buku Stok Obat


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

Contoh Bentuk Kartu Stok di Apotek


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

7. Buku Defecta
Buku defecta digunakan untuk mencatat persediaan yang akan dipesan pada
PBF. Berisi tentang nama barang dan jumlah yang akan dipesan

No. Nama barang Sisa stok Kebutuhan

Contoh Format Buku Defecta


Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alkes, dan PKRT

8. Buku Pengeluaran Narkotika dan Psikotropika

Buku pengeluaran obat narkotika/psikotropika dibuat untuk mencatat


pengeluaran obat psikotropika dan obat narkotika agar dapat diketahui jumlah
obat yang sering keluar dan mempunyai dokumentasi yang lengkap mengenai
pasien tersebut.

Tgl Nama dan Nama Jumlah Dokter dan


alamat Obat alamat
pasien

Contoh Format Buku Pengeluaran Narkotika/ Psikotropika


Peraturan terkait apotek
1. Ordonansi Obat Keras (Sterkwerkende Geneesmiddelen Ordonanntie,
Staatsblad 1949:419);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
5. UndangUndang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang
Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
6. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan
7. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
8. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian
9. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor
10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2013 tentang
Pelaksanaan UndangUndang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika
11. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2016 tentang Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
12. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2015 tentang Kementerian Kesehatan
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 tentang
Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 Tahun 2016 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 889/MENKES/PER/V/2011
tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek
15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran,
Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekusor
Farmasi
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
17. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9
TAHUN 2017 TENTANG APOTEK
STRATEGI MANAJEMEN
UNTUK PENGEMBANGAN APOTEK
Manajemen strategi
1. Apa yang dimaksud strategi?
2. Apa tugas manajemen strategi?
3. Bagaimana level strategi dalam perusahaan?
4. Bagaimana merumuskan strategi menajemen?
5. Bagaimana strategi manajemen untuk mengembangkan apotek?
STRATEGI MANAJEMEN
Pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan, kebijakan dan
tindakan organisasi ke dalam suatu keseluruhan yang menyatu
(Mintzberg and Quinn,1991)

 Rencana menyeluruh dengan menggunakan sumber-


sumber untuk menentukan posisi yang
menguntungkan (Grant,1995)

 Cara untuk mencapai tujuan jangka panjang


(David,2001)
Strategi manajemen adalah proses pemenajemenan untuk
mewujudkan visi dan misi organisasi, menjaga hubungan
lingkungan terutama “stakehokder”, pemilihan strategi,
pelaksanaan stategi dan pengendalian strategi untuk memastikan
bahwa misi dan tujuan dapat tercapai.
Tugas manajemen strategi:
1. Mengembangkan misi stategic dan misi bisnis
2. Menentukan tujuan
3. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan
4. Mengimplementasikan dan melaksanakan strategi
5. Mengevaluasi kinerja, mengkaji perkembangan baru dan
mengupayakan pembetulan
Tiga jenjang strategi
Kita STRATEGI
Berada
Pada bisnis apa KORPORATE

Bagaimana
Kita bersaing?
BISNIS
Bagiamana kita mendukung
Strategi jenjang bisnis?

Peamasaran SDMR&D dll


FUNGSIONAL
MODEL MANAJEMEN STRATEGIS
PERUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI STRATEGI EVALUASI &
PENGAMA PENGENDAL
TAN IAN
LINGKUNG MIS
AN I
EKSTERNAL TUJUA
LINGKUNG N
AN SOSIAL

STRATEGI

PROGRAM
LINGKUNG
AN TUGAS

LINGKUNG ANGGARAN
AN
INTERNAL
PROSEDU
STRUKTU
R
R BUDAYA
SUMBER
DAYA
KINERJ
A

FEEDBACK
Diskusi kelompok
Apotek X mempunyai aset perbekalan farmasi: obat, alat kesehatan,
obat alami, dan kosmetik serta mempunyai tenaga farmasis 2, tenaga
teknis kefarmasian 3 dan tenaga non farmasi 3. resep perhari 20 lembar
dan self medication 50 pasien. APA X merasakan pelayanannya sudah
jenuh. Bagaimana strategi pengembangan apotek X tsb?
Apa yg dimaksud strategi korporate
Adalah cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan nilai
melalui konfigurasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas pasar
gandanya <Cavens and Pierce, 2003>
Komponen:
1. Visi korporat
2. Tujuan
3. Aset, ketrampilan dan kapabilitas lain
4. Komposisi bisnis, bisnis dimana perusahaan bersaing
5. Struktur, sistem dan proses
6. Keunggulan kompetitif: penciptaan melalui pasar ganda
Lingkup strategi korporat: Berbagai industri dan pasar <tidak tunggal>
Fokus pada isu:
1.Bisnis-bisnis apa saja yang menjadi tempat bersaing berdasar
daya tarik industri?
2. Bagaimana bisnis-bisnis <portofolio bisnis> dapat dikelola
untuk mencapai sinergi yaitu menciptakan nilai lebih dengan
bekerja bersama dibanding jika beroperasi sebagai bisnis-
bisnis yang berdiri sendiri.

Pertanyaan: Bagaimana perusahaan meghasilkan uang?

Contoh Strategi korporat:


1. Investasi dalam diversifikasi
2. Integral vertikal ke belakang, kedepan
3. Akuisi dan merger
4. Aliansi strategik: Bekerja sama dengan perusahaan lain
5. Pendirian perusahaan baru
6. Alokasi sumber atas bisnis yang berbeda dalam korporasi
7. Diversifikasi
8. Lisensi ke dalam, ke luar

Apa yang dimaksud strategi bisnis?


Strategi bisnis adalah cara yang dilakukan oleh perusahaan
untuk bersaing dalam satu industri atau satu pasar tertentu
atau cara untuk mencapai keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan dalam jangka panjang <Grant, 1995>
Strategi bisnis disebut juga strategi kompetitif.
Fokus pada isu: Bagaimana bersaing dalam lingkungan
bisnis untuk mendapatkan keunggulan bersaing
<COMPETITIVE ADVANTAGE>

Pertanyaan:
Bisnis-bisnis apa yang seharusnya ditangani?
Contoh strategi bisnis:
1. Kepemimpinan biaya menyeluruh:
Menciptakan posisi-biaya-rendah diantara pesaing,
mengelola keterhubungan seluruh rantai nilai yang ada
dan mencurahkan upaya pada pengurangan biaya.
(overall low cost/cost leadership)
2. Diferensiasi:
Perusahaan <SBU> menciptakan produk yang unik dan
bernilai menurut pelanggan, memfokuskan pada atribut
non harga dimana pelanggan bersedia melanggar pada
harga premium.
3. Fokus
Perusahaan memfokuskan lini produk yang sempit,
kelompok kecil pembeli atau pasar geografis yang dituju
kecil.
Daya tarik
Counsel patient
Industri
Strategi
Industri manakah korporasi
Tingkat laba Kita berada
Diatas seluruh
Pesaing

Bgmn kita Keunggulan


Menghasilkan uang? Kompetitif
Strategi bisnis
Bagaimana
Kita bersaing?

Review prescriptions Dispense drugs


STRATEGI GENERIK PORTER

TERFOKUS

OVERALL LOW COST

DIFERENSIASI

Produk Pelayanan
CARA PENGEMBANGAN
APOTEK

PERTUMBUHAN INTENSIF
(perkembangan kinerja
usaha)

PERTUMBUHAN INTEGRAL
(membangun usaha yang
berkaitan)

PERTUMBUHAN
DIVERSIFIKASI
Patient care
A. PERTUMBUHAN INTENSIF
Produk yang ada Produk baru

3. Strategi
Pasar ada 1. Strategi
pengembangan
penetrasi pasar
produk

2. Strategi
(strategi diversifikasi)
Pasar baru pengembangan
pasar
B. PERTUMBUHAN INTEGRATIF
BACKWARD VERTICAL STRATEGY

INDUSTRI BAHAN BAKU

INDUSTRI FARMASI

PBF

DRUG STORE
APOTEK LAIN APOTEK
APOTEK LAB. KLINIK
PRAKT.DOKTER
INTEGRAL ; akuisisi, merger, chain pharmacy

HORISONTAL

STRATEGY

KONSUMEN
: Aliansi strategik

FORWARD VERTICAL STRATEGY


C. PERTUMBUHAN DIVERSIFIKASI

Strategi diversifikasi konsentris


(menyediakan produk yang berkaitan dengan apotek)

 Strategi diversifikasi horisontal


(menyediakan produk yang tidak berkaitan dengan apotek)

 Strategi diversifikasi konglomerasi


(membuka usaha baru yang tidak berkaitan dengan apotek)